kosong

berfikir untuk hidup yang lebih baik , dan beriman untuk tuhan yang benar

yesus dalam AQ

Posted by kosongan pada | 13 |Desember| 2008 |

sumber : http://www.oyr79.com/magen/yesus-dalam-al-quran/

Yesus telah menjadi sosok sentral dalam pemahaman iman Kristen. Para pemimpin gereja mula-mula dan para teolog Kristen perdana memfokuskan teologi mereka kepada Yesus, yang dianggap sebagai pionner Gereja dan sekaligus Kepala Gereja. Ada begitu banyak interpretasi atas tokoh Yesus dan ada begitu banyak respon atas kesiapaan Yesus pada masa gereja awal dan pada masa perkembangannya kemudian. Ada yang melihatnya secara pribadi sebagai seorang “Kawan Sejati”, ada yang melihatnya sebagai seorang manusia biasa, “Orang Nazaret”, ada yang melihatnya dalam nuansa teo-politikal sebagai seorang “Pembebas”, dan bahkan ada yang lebih jauh melihatnya secara ontologis sebagai “Sabda Allah” yang berinkarnasi dalam waktu.

Banyaknya interpretasi dan respon atas kesiapaan Yesus pada masa-masa awal dan masa perkembangan gereja mengakibatkan munculnya begitu banyak perdebatan seputar Yesus di kalangan para teolog kala itu atau yang kemudian kita sebut “Bapa-bapa Gereja”. Perdebatan pada waktu itu tampaknya dilihat sebagai perdebatan yang serius oleh kaisar, sehingga untuk mencegah perpecahan dalam kerajaan Romawi, digelarlah Konsili Gereja yang khusus berbicara soal Kristologi.

Interpretasi dan respon atas kesiapaan Yesus juga muncul di kalangan Muslim. Muhammad, yang menjadi tokoh sentral berdirinya Islam, mengenal Yesus dari para rahib gereja abad ke-7. Bagi Muhammad, Yesus merupakan sosok yang tidak bisa diabaikan dalam upayanya menyebarkan Islam. Mau tidak mau, ia pun harus berbicara tentang Yesus dalam interpretasinya terhadap apa yang ia ketahui dari para rahib gereja. Interpretasinya itu kemudian oleh gereja dinilai sebagai interpretasi yang keliru, sebab Muhammad lebih melihat sisi humanisnya Yesus dan tidak mengakui sisi ilahiyah-nya.

Terlepas dari semuanya itu, ada baiknya kita mencermati apa dan bagaimana Muhammad melihat Yesus. Kita tidak punya bahan literatur karya Muhammad yang dapat dijadikan kajian, selain Al Qur’an, Sunnah dan Hadits. Dalam kesempatan ini, ada baiknya kita melihat dulu apa kata Al Qur’an tentang Yesus. Namun sebelumnya perlu dipahami, bahwa interpretasi terhadap Al Qur’an sangatlah kaya dan beragam. Setiap orang yang berupaya membaca Al Qur’an akan memiliki interpretasi tersendiri atas apa yang ia baca itu. Oleh karena itu, apa yang saya sajikan ini, janganlah kemudian dilegitimasi sebagai satu-satunya interpretasi yang benar terhadap Al Qur’an.

I. Nama Yesus dalam Al Qur’an

Ada dua nama yang digunakan bagi Yesus dalam Al Qur’an, yaitu ‘Isâ dan Ibnu Maryam [Qs. Ali ‘Imran/3:45]. ‘Isa menjadi semacam personal name bagi Yesus dalam masyarakat Arab. Persoalannya adalah, mengapa ia disebut ‘Isa? Jika kita membaca Alkitab berbahasa Arab, maka nama yang digunakan bukanlah ‘Isa, melainkan Yasu’a.

Untuk memahami hal ini, maka penting sekali jika pertama-tama kita mengetahui latar belakang pengenalan Muhammad akan Yesus. Muhammad adalah seorang warga Makkah yang awalnya berprofesi sebagai pedagang, mengikuti pamannya, yang membesarkannya. Perdagangan Muhammad termasuk sukses. Ia berhasil mencapai negeri Syam (Syria) untuk menjual barang dagangannya. Pada masa itu, Syam merupakan kota sentra-niaga atau bisa dikatakan sebagai kota metropolitan di negeri Arab.

Mayoritas penduduk Syam pada masa itu beragama Kristen. Kekristenan di Syam didominasi oleh kelompok Yakobit, di samping Melkit dan beberapa kelompok Kristen lainnya. Selain menggunakan bahasa Arab, penduduk Syam menggunakan bahasa Aramik sebagai lingua franca-nya. Gereja-gereja di Syam juga menggunakan bahasa Aramik sebagai salah satu bahasa liturginya, termasuk dalam menyampaikan pengajarannya.

Penduduk Syam pada waktu itu, menyebut Yesus sebagai Yasu atau ‘Ishō. Jika ‘Isō dirubah ke dalam bahasa Arab, maka akan menjadi ‘Isâ, sebab biasanya huruf “o” panjang dalam bahasa Aramik dan Ibrani akan berubah menjadi huruf “a” dalam bahasa Arab. Misalnya kata shalōm dalam bahasa Ibrani sama pengertiannya dengan kata salâm dalam bahasa Arab. Jadi, penggunaan nama ‘Isa oleh Muhammad dan dalam Al Qur’an dapat diterima dan dibenarkan. Kita tidak usah memperpanjang perdebatan tentang penggunaan nama ini.

Ibnu Maryam bisa dikatakan sebagai marga bagi Yesus. Secara harafiah, Ibnu Maryam dapat diartikan “Putra Maryam”[1] Bagi beberapa kalangan Kristen, penyebutan Ibnu Maryam bagi Yesus merupakan salah satu bentuk pengakuan Muhammad atas virginitas Maria, sebab dalam tradisi Arab, biasanya nama yang disertakan kepada nama seorang anak adalah nama bapaknya, bukan ibunya (Mestinya Yesus disebut Ibnu Yusuf). Selain itu, beberapa ahli mengatakan bahwa penyebutan ini juga lebih menunjukkan pada pengakuan Muhammad atas keistimewaan Maria sebagai seorang perempuan suci.

Al Qur’an sendiri sangat menghormati sosok Maria (Maryam). Dengan jelas Al Qur’an menceritakan bagaimana Maria dilindungi oleh Tuhan dari hinaan orang-orang Yahudi karena dituduh melakukan hubungan seks di luar nikah. Peristiwa kelahiran Yesus sendiri diset sedemikian rupa untuk menghormati Maria, ibu Yesus. Kemungkinan besar, Muhammad mendapat pengaruh dari tradisi gereja ortodoks yang begitu mengagungkan Maria.[2]

Bagi kebanyakan orang Kristen, Yesus lebih dikenal dengan sebutan ‘Isa Al Masih, namun, dalam Al Qur’an, sebutan yang justru lebih dikenal adalah ‘Isa Ibnu Maryam. Masing-masing sebutan ini memiliki makna tersendiri jika diinterpretasikan lebih jauh.

II. Gelar-gelar Yesus dalam Al Qur’an

Ada empat gelar utama yang diberikan kepada Yesus di dalam Al Qur’an, yaitu: ‘Abdullahu (hamba Allah) [Qs. An Nisa/4:172, Maryam/19:30], Nabīun [Qs. Maryam/19:30] Rasūlullahu (utusan Allah) [Qs. Ali ‘Imran/3:49, An Nisa/4:157,171, Al Ma’idah/5:75, Ash Shaff/61:6], dan Al Masīhu [Qs. Ali ‘Imran/3:45]. Keempat gelar ini, jika dikaji secara teologi Islam, memiliki makna dan nilai teologis yang berbeda. Misalnya gelar ‘Abdullahu yang secara harafiah dapat berarti “abdi Allah” atau “hamba Allah”. Gelar ini dalam wacana teologi Islam merupakan gelar yang umum dan bisa disandang oleh siapa saja yang mengabdikan dirinya untuk pekerjaan agama. Seorang pengajar di sebuah sekolah Islam dapat disebut sebagai abdi atau hamba Allah. Diberikannya gelar ini kepada Yesus menunjukkan suatu bentuk pengabdian Yesus atas pekerjaan atau amanat Allah. Ia adalah seorang hamba Allah, yang bekerja atas petunjuk Allah.

Gelar Nabi merupakan gelar yang lebih spesifik dibanding gelar ‘Abdullahu. Tidak semua ‘Abdullahu dapat disebut sebagai Nabiun, tapi semua Nabiun pastilah seorang ‘Abdullahu. Dalam kepercayaan Islam, diakui ada 25.000 Nabiun yang diutus oleh Allah, mulai dari Adam hingga Muhammad. Yang penting untuk dicatat di sini bahwa ada definisi yang berbeda akan pemahaman Nabiun dalam Islam dengan Nabiun (Nabi) dalam Kristen, meskipun keduanya menggunakan kata yang sama. Nabiun dalam pemahaman Kristen mengikuti pemikiran Yahudi, di mana seorang Nabiun haruslah berasal dari keturunan Yakub (Israel). Ia harus menyampaikan pesan Tuhan kepada umat dan merupakan seorang yang menyampaikan nubuat Ilahi. Dalam pemahaman Islam, seorang Nabiun adalah seorang utusan Tuhan yang menjalankan amanat Tuhan. Ia dibekali dengan pengajaran-pengajaran dari Tuhan yang harus ia sampaikan.

Di antara gelar-gelar tersebut, Rasūlullahu adalah gelar yang paling spesifik. Tidak semua ‘Abdullahu dan Nabiun adalah Rasulūllahu, tapi semua Rasulūllahu adalah ‘Abdullahu dan juga Nabiun. Menurut definisi beberapa mufassir Islam, Rasulūllahu memiliki pengajaran yang lebih universal. Karena itu, ia diberi sebuah kitab pegangan oleh Allah yang harus ia sampaikan kepada umat Allah. Begitu spesifiknya gelar ini, sehingga hanya ada 5 orang Rasulūllahu yang diakui dalam Islam, yaitu: Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa (Yesus), dan Muhammad.

Meskipun menggunakan istilah yang sama dengan Kristen, namun Rasul dalam pemahaman Islam jelas berbeda dengan Rasul dalam pemahaman Kristen. Rasul dalam pandangan Kristen lebih menunjuk kepada ke-12 murid Yesus ditambah Matias (pengganti Yudas Iskhariot) dan Paulus. Rasul dalam pandangan Islam lebih menunjuk kepada mereka yang menerima wahyu dari Tuhan dan mendapat amanat secara langsung dari Tuhan.

Gelar Al Masīhu adalah gelar yang kontroversial. Gelar ini dalam Al Qur’an hanya diberikan kepada Yesus, karena itu ada beberapa kalangan Islam yang menganggap bahwa Al Masīhu adalah nama diri bagi Yesus. Kata Al Masīhu berasal dari kata Masīhun, yang dalam bahasa Arab memiliki dua pengertian, yaitu: (1) orang yang diurapi dengan minyak atau orang yang diminyaki, dan (2) orang yang bepergian. Maulana M. Ali, seorang penerjemah dan penafsir Al Qur’an dalam terjemahan yang dilengkapi tafsir Al Qur’an ke dalam bahasa Inggris mengatakan bahwa Yesus diberi gelar Al Masīhu karena ia adalah seorang yang gemar melakukan perjalanan jauh. Konon, ia dikatakan pernah berjalan hingga ke sepuluh suku Israel yang hilang dan menetap di negeri Timur, yaitu Afghanistan dan Kasymir.[3]

Beberapa kalangan Islam liberal justru melihat kesamaan akar katanya dengan kata “Meshikha” dalam bahasa Aram (Syria). Dalam bahasa Ibrani, kata ini berasal dari kata Mashiakh yang artinya “Mesias”. Dalam bahasa Yunani, kata ini diterjemahkan dengan kata Χριστος (Khristos) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “Kristus”, yang artinya sama dengan “Mesias” yaitu “Yang Diurapi”. Gagasan ini paling sulit diterima oleh umat Islam pada umumnya, apalagi dalam teologi Kristen, Mesias atau Kristus memiliki makna yang luar biasa, khususnya dalam pandangan Mesianik penulis Injil Yohanes. Mesias bukan saja seorang nabi yang dijanjikan Tuhan sejak zaman para nabi sebelumnya, namun ia adalah juga Sang Pembebas (bukan dalam makna politik, namun teo-politikal) manusia dan bahkan Juru Selamat (Salvator; Savior).

III. Keistimewaan Lainnya

1. Kalimatullah

Yesus memiliki banyak keistimewaan dalam Al Qur’an. Dalam surat Ali ‘Imran/3:45 [terjemahan Depag RI tahun 1998], berbunyi, “(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masīh ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” Makna yang dapat kita tangkap dari terjemahan ini adalah bahwa Yesus adalah seorang putera Maria yang diciptakan dengan ‘kalimat’ dari Tuhan.

Secara harafiah mestinya ayat ini berarti, “Ketika Malaikat berkata: ‘Hai, Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan (yaitu) kalimat (Firman) dari Dia yang namanya Al Masīh putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk al muqarrabīn[4]

Memang tidak semua mufassir Islam menafsirkan ayat tersebut sebagaimana penafsiran Departemen Agama RI. Terdapat juga di antara para mufassir itu yang mengakui bahwa Yesus diakui sebagai kalimatullah dalam Al Qur’an. Mereka berpendapat bahwa Yesus adalah benar-benar kalimatullah (Firman Allah) dan itu tidak bisa disangkal. Namun, Firman Allah bukanlah sebagaimana pemahaman Kristen. Dalam pemahaman Kristen, Yesus adalah Firman yang nuzul menjadi daging (manusia). Firman itu adalah yang kekal bersama-sama dengan Allah atau apa yang dibahasakan oleh kaum Asy’ariah sebagai “Sifat Allah”.

Olaf Schumann mengatakan —dalam suatu kesempatan di Studium Generale yang diadakan oleh STT Apostolos— bahwa kita harus membedakan pemahaman akan Al Kalamu dengan Al Kalimatu. Al Qur’an menyebut Firman yang adalah Sifat Tuhan itu dengan Al Kalamu, sedangkan Al Kalimatu menunjuk pada karya-karya Tuhan, seperti gunung, lautan, dan sebagainya. Jadi, pemberian gelar Kalimatullah bagi Yesus tidak kemudian dipahami bahwa Yesus adalah Kalamullah. Jadi, keliru juga penafsiran yang mengatakan bahwa Yesus diciptakan dengan kalimat dari Tuhan, sebab ia adalah kalimat itu sendiri, namun bukan juga kemudian ditafsirkan sebagai kalamullah.

2. Rūhullah

Yesus dalam surat An Nisa/4:171 disebut sebagai “Rūh yang dari Allah” sedangkan dalam surat At Tahrim/66:12 dikatakan bahwa Yesus adalah “Rūh Allah yang ditiupkan ke dalam rahim Maria.” Mengenai hal ini juga terdapat perbedaan opini di antara para mufassir Islam. Mereka menghubungkan hal ini dengan Ruhul quddus (Roh Kudus).[5]

Pemikiran Islam umumnya didominasi oleh pemahaman bahwa yang dimaksud dengan Ruhul quddus itu adalah Malaikat Jibril. Malaikat Jibril dianggap sebagai Malaikat yang menyampaikan kabar kepada Maria tentang kelahiran Yesus dan juga dikatakan turut membantu kelahiran Yesus. Karena itu, penafsiran yang berkembang kemudian mengatakan bahwa yang dimaksud oleh kedua ayat di atas adalah bahwa Yesus lahir dengan bantuan Malaikat Jibril.

Rūhullah sebetulnya berbicara tentang Roh Allah itu sendiri. Dalam pemahaman Kristen, Roh Allah atau yang kemudian disebut dengan Roh Kudus, adalah salah satu hupostasis Tuhan atau bisa dikatakan sebagai Sifat Tuhan. Roh Allah melekat sehakekat dengan Esensi Tuhan (Ouisa). Namun, tentunya harus kita ingat bahwa kita tidak sedang berbicara tentang teologi Kristen, melainkan Islam. Dalam penafsiran kebanyakn mufassir Islam, Yesus tidak disebut sebagai Rūhullah. Ia hanya diciptakan dengan Rūhullah dengan bantuan Malaikat Jibril (Rūhul quddus).

3. Al Muqarrabīn

Dalam Qs. Ali ‘Imran/3:45 disebutkan bahwa Yesus adalah termasuk dalam al muqarrabīn. Kata ini secara harafiah berarti “yang didekatkan”. Departemen Agama RI menerjemahkannya dengan kalimat “orang-orang yang didekatkan kepada Allah”, namun pengertian ini pun masih sulit untuk dipahami.

Dalam surat Al Waqi’ah/56:8-10 disebutkan adanya tiga golongan manusia pada hari kiamat nanti, yaitu: (1) golongan kiri, (2) golongan kanan, dan golongan yang paling dahulu beriman [menurut terjemahan Depag RI]. Menurut Al Qur’an, dalam ayat-ayat selanjutnya, dikatakan bahwa golongan yang ketiga ini adalah golongan yang didekatkan (kepada Allah). Merekalah yang terlebih dulu masuk surga [menurut penafsiran Depag RI]. Sedangkan, golongan kanan adalah juga orang-orang yang berhak atas surga. Jika golongan ketiga ditafsirkan sebagai golongan yang lebih dulu masuk surga, maka berarti golongan kanan adalah yang kemudian. Golongan kiri digambarkan sebagai golongan yang akan mengalami penderitaan dan siksaan. Bisa dikatakan bahwa tempat mereka adalah di neraka.

Yang dimaksud dengan golongan al muqarrabīn adalah mereka yang masuk golongan ketiga. Pada ayat 10 dan 11 jelas sekali disebutkan siapa yang masuk golongan ketiga. Ayat tersebut berbunyi “dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang terdahulu. Mereka itulah al muqarrabūn

Al Qur’an menyebut Yesus sebagai salah seorang yang termasuk dalam golongan ini. Artinya, bahwa Yesus adalah yang terdahulu masuk surga bersama-sama dengan orang-orang lainnya yang masuk dalam golongan yang ketiga ini. Memang masih kurang jelas penafsiran kita akan golongan ini, kemungkinan mereka adalah orang-orang yang diutus Tuhan dan kemudian diangkat ke surga, seperti Henokh dan Elia misalnya. Kemungkinan lain bahwa ada suatu kelompok manusia tersendiri yang dipilih Tuhan untuk masuk lebih dulu ke dalam surga pada hari kiamat. Kelompok ini, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, disebut sebagai as sâbiqūn (yang terdepan).

4. Jīhan, Ash Shālihīn, dan Mubārakan

Dalam surat Ali ‘Imran/3:45 terdapat janji Malaikat [Jibril] kepada Maria ketika Malaikat itu diutus untuk menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Yesus kepada Maria. Dalam Al Qur’an terjemahan Depag RI diterjemahkan “orang yang terkemuka di dunia dan di akhirat”. “Orang yang terkemuka” merupakan terjemahan untuk kata jīhan. Kata ini juga sebetulnya dapat diartikan sebagai “orang yang dihormati”.

Tafsiran terhadap ayat ini sepertinya kurang mendapat perhatian dari para mufassir Islam. Sedikit sekali bahkan mungkin tidak ada seorang pun mufassir yang mencoba menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud Al Qur’an dengan pernyataan tersebut. Mestinya, harus ada alasan kenapa Yesus disebut sebagai orang yang terkemuka (dihormati) di dunia dan di akhirat.

Kalangan Kristen “fundamentalis” tentu akan memanfaatkan ayat ini dalam upaya mencari kelemahan pandangan Islam tentang Yesus. Jika Yesus memang adalah yang terkemuka di dunia dan di akhirat, kenapa kemudian bukan Yesus yang dijadikan tokoh sentral dari ajaran Islam? Namun, barangkali ayat ini mau dikaitkan dengan pernyataan berikutnya yang mengatakan bahwa Yesus adalah yang didekatkan kepada Allah atau al muqarrabīn tadi. Tapi, apakah “terkemuka” (jīhan) yang dimaksud di situ identik dengan “terdahulu” (al muqarrabīn)? Hal ini masih bisa dikaji lebih jauh.

Selain dikatakan sebagai jīhan, Yesus juga dikatakan sebagai orang yang termasuk dalam kelompok orang-orang saleh (ash shālihīn).

Pernyataan lainnya tentang Yesus yaitu bahwa Yesus adalah seorang yang diberkati di mana saja ia berada. Untuk hal ini harus dipahami apa yang dimaksud dengan “berkat” dalam pemahaman Islam. Berkat tentunya tidak saja berbicara tentang pemberian materi atau harta oleh Tuhan. Berkat mengandung makna teologis yang luas, di mana rasa aman termasuk di dalamnya. Artinya, berkat tidak hanya berbicara phisically semata, melainkan seluruh aspek dari kehidupan manusia, yaitu jasmani dan rohani.

IV. Penutup

Masih ada begitu banyak kesaksian Al Qur’an tentang Yesus. Namun, semuanya itu harus dipahami dalam pemahaman teologi Islam. Banyak kalangan berupaya mencari kesaksian Al Qur’an tentang Yesus yang adalah ilahi, namun pada akhirnya kesan yang muncul adalah terlalu dipaksakan. Al Qur’an menyorot Yesus yang historis, bukan Yesus yang dogmatis. Setiap gelar yang dikenakan kepada Yesus lebih dipahami dalam makna humanis, misalnya al masīhun (Mesias), kalimatullah (Firman Allah), Rūhullah (Roh Allah) ataupun gelar-gelar lainnya.

Namun demikian, Al Qur’an, sama halnya dengan Injil, masih memasukkan unsur mitologi dalam penjelasannya tentang Yesus. Untuk itu, historisitas Yesus yang murni tanpa percampuran mitologi tidak akan pernah kita temukan dalam teks-teks yang ada dan diakui sekarang ini. Untuk memahami historisitas Yesus tersebut, tawaran Rudolf Bultman tetap menjadi alternatif terbaik, yaitu demitologisasi.

Penulis: Yosi Rorimpandei


[1] Maryam merupakan sebutan Arab untuk Maria, ibu Yesus
[2] Dalam liturgi gereja ortodoks, Maria disebut sebagai “orang yang penuh rahmat”. Tradisi pengagungan Maria juga dilanjutkan oleh gereja Katolik. Tradisi ini baru mendapat kritikan pada zaman reformasi gereja, terutama setelah Luther mengkritik pemujaan terhadap icon-icon gereja
[3] Maulana M. Ali. The Holy Qur’an: Arabic Text, English Translation and Commentary, diterjemahkan oleh H.M. Bachrun (Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah)
[4] al muqqarabin secara harafiah artinya “yang didekatkan”
[5] Ada perbedaan antara Rūhul quddus dengan Rūhul quddūs. Rūhul quddus adalah rūh yang berada di luar dzat Allah dalam bentuk ciptaan, seperti malaikat, dsb.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: