kosong

berfikir untuk hidup yang lebih baik , dan beriman untuk tuhan yang benar

kisah Natal

Posted by kosongan pada | 15 |Desember| 2008 |

sumber : beberapa sumber dan belum sempet aku rapikan… masih kacau

Natal (dari bahasa Portugis yang berarti “kelahiran”) adalah hari raya bagi umat Kristen. Dalam hari ini yang jatuh pada tanggal 25 Desember, kelahiran Yesus Kristus diperingati. Meski para pakar dewasa ini sepakat bahwa Yesus kemungkinan besar sebenarnya tidak lahir pada hari ini, hari kelahirannya tetap dirayakan pada tanggal 25 Desember. Hal ini dibuktikan dengan cerita adanya para gembala yang sedang menggembalakan hewan peliharaan mereka. Pada bulan Desember – Januari, di daerah Timur Tengah, justru mengalami musim dingin, sehingga sangat tidak masuk akal untuk menggembalakan hewan pada waktu-waktu tersebut.

Dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Sebagian besar tradisi Natal berasal dari tradisi pra-Kristen barat yang diadopsi ke dalam tradisi Kristiani. Selain itu, peringatan Natal dalam tradisi barat (yang kian mendunia) ditandai dengan bertukar hadiah antara teman dan anggota keluarga serta datangnya Santa Claus atau Sinterklas

Kelahiran Yesus menurut Alkitab Kristen

Sebenarnya, fakta-fakta seperti yang dinyatakan oleh Alkitab, bahwa gembala-gembala dan kawan dombanya di padang rumput pada malam hari, dan juga faktor-faktor lain menunjukkan bahwa kelahiran Kristus lebih sesuai pada bulan September atau permulaan Oktober.
Orang Majus mengunjungi Yesus, diperingati pada Malam Kedua Belas setelah kelahirannya pada hari Natal.

Cerita kelahiran Yesus dalam Injil Perjanjian Baru ditulis dalam kitab Matius (1:18-25) dan Lukas (2:1-21).

Cerita kelahiran Yesus telah diturunkan selama beberapa abad, berdasarkan kisah dalam Injil: Injil Matius dan Injil Lukas. Walau kedua Injil tersebut menekankan kejadian yang berbeda. Injil Markus dan Injil Yohanes tidak mencatat tentang masa kecil Yesus.

Menurut Lukas, Maria mengetahui dari seorang malaikat bahwa dia telah mengandung dari Roh Kudus tanpa persetubuhan. Setelah itu dia dan suaminya Yusuf meninggalkan rumah mereka di Nazaret untuk berjalan ke rumah leluhur Yusuf, Betlehem, untuk mendaftar dalam sensus yang diperintahkan oleh Kaisar Romawi, Agustus. Karena tidak menemukan tempat menginap di kota itu, mereka membenahi sebuah tempat di sebuah kandang. Di sana Maria melahirkan dan meletakkan Yesus di palungan. Kelahiran Kristus di Betlehem Efrata, Yudea, di kampung halaman Daud, leluhur Yusuf, memenuhi nubuat Yesaya. Di Israel purba mereka mengenal ada dua kota Betlehem, kota Betlehem satunya lagi berada di tanah Zebulon.

Matius mencatat silsilah dan kelahiran Yesus dari seorang perawan, dan kemudian beralih ke kedatangan Tiga orang Bijak dari Timur — yang diduga adalah Arabia atau Persia — untuk melihat Yesus yang baru dilahirkan. Ketiga orang bijak tersebut, yang disebut juga orang Majus atau raja, mula-mula tiba di Yerusalem dan melaporkan kepada raja Yudea, Herodes Agung, bahwa mereka telah melihat sebuah bintang, yang sekarang disebut Bintang Betlehem, menyambut kelahiran seorang raja. Penelitian lebih lanjut memandu mereka ke Betlehem Yudea dan rumah Maria dan Yusuf. Mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur kepada bayi Yesus. Ketika bermalam, ketiga orang majus itu mendapatkan mimpi yang berisi peringatan bahwa Raja Herodes merencanakan pembunuhan terhadap anak tersebut. Karena itu mereka memutuskan untuk langsung pulang tanpa memberitahu Herodes suksesnya misi mereka. Matius kemudian melaporkan bahwa keluarga Yesus kabur ke Mesir untuk menghindari pembunuhan oleh Raja Herodes yang memutuskan untuk membunuh semua anak di bawah dua tahun di Betlehem untuk menghilangkan saingan terhadap kekuasaannya. Setelah kematian Herodes, Yesus dan keluarga kembali dari Mesir, tetapi untuk menghindari rasa benci dari raja Yudea baru (anak Herodes Arkhelaus) mereka pergi ke Galilea dan tinggal di Nazaret.

Sisi lain dari cerita kelahiran Yesus yang disampaikan oleh kitab Injil adalah penyampaian berita itu oleh para malaikat kepada para gembala. Beberapa nyanyian Natal menyebutkan bahwa para gembala itu melihat sebuah bintang yang besar bersinar di atas kota Betlehem. Mereka mengikuti bintang itu hingga ke tempat kelahiran Yesus. Beberapa astronom dan sejarawan telah berusaha menjelaskan gabungan sejumlah peristiwa angkasa yang dapat ditelusuri yang mungkin dapat menerangkan penampakan bintang raksasa yang tidak pernah dilihat sebelumnya itu, namun mereka tidak mencapai kesepakatan tentang hal ini [1]. Penampakan bintang itu sebenarnya menurut Alkitab untuk membantu para orang Majus mengetahui letak di mana Yesus dilahirkan agar kemudian dapat melaporkan kepada Herodes. Tetapi karena niat Herodes yang jahat, para orang Majus tidak kembali melaporkan kepada Herodes.
Tanggal

Sudah bisa dipastikan tanggal 25 Desember bukanlah tanggal hari kelahiran Yesus. Pendapat ini diperkuat berdasarkan kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala masih menjaga dombanya dipadang rumput. (Lukas 2:8). Pada bulan Desember tidak mungkin para gembala masih bisa menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab musim dingin pada saat tersebut telah tiba jadi sudah tidak ada rumput yang tumbuh lagi.

Dalam tradisi Romawi pra-Kristen, peringatan bagi dewa pertanian Saturnus jatuh pada suatu pekan di bulan Desember dengan puncak peringatannya pada hari titik balik musim dingin (winter solstice) yang jatuh pada tanggal 25 Desember dalam kalender Julian. Peringatan yang disebut Saturnalia tersebut merupakan tradisi sosial utama bagi bangsa Romawi. Agar orang-orang Romawi dapat menganut agama Kristen tanpa meninggalkan tradisi mereka sendiri, Paus Julius I memutuskan pada tahun 350 bahwa kelahiran Yesus diperingati pada tanggal yang sama.

Pendapat lain mengatakan bahwa hari Natal ditetapkan jatuh pada tanggal 25 Desember pada abad ke 4 oleh kaisar Kristen pertama Romawi, Konstantin I. Tanggal 25 Desember tersebut dipilih sebagai Natal karena bertepatan dengan kelahiran Dewa Matahari (Natalis Solis Invicti atau Sol Invictus atau Saturnalia) yang disembah oleh bangsa Romawi. Perayaan Saturnalia sendiri dilakukan oleh orang Romawi kuno untuk memohon agar Matahari kembali kepada terangnya yang hangat(Posisi bumi pada bulan Desember menjauh dari matahari, seolah-olah mataharilah yang menjauh dari bumi).

Oleh karena itu, ada dua aliran Kristen yang tidak merayakan tradisi Natal, yaitu aliran Advent dan Saksi-Saksi Yehuwa. Berkenaan Saksi-Saksi Yehuwa, mereka mulai tidak merayakan Natal sejak tahun 1926 ketika mereka mengetahui bahwa Natal mempunyai asal-usul Kafir, menurut buku Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah, 1993, halaman 198-200.

asal mula pohon natal

Kisah Pohon Natal merupakan bagian dari riwayat hidup St. Bonifasius, yang nama aslinya adalah Winfrid. St. Bonifasius dilahirkan sekitar tahun 680 di Devonshire, Inggris. Pada usia lima tahun, ia ingin menjadi seorang biarawan; ia masuk sekolah biara dekat Exeter dua tahun kemudian. Pada usia empatbelas tahun, ia masuk biara di Nursling dalam wilayah Keuskupan Winchester. St. Bonifasius seorang yang giat belajar, murid abas biara yang berpengetahuan luas, Winbert. Kelak, Bonifasius menjadi pimpinan sekolah tersebut.
Pada waktu itu, sebagian besar penduduk Eropa utara dan tengah masih belum mendengar tentang Kabar Gembira. St. Bonifasius memutuskan untuk menjadi seorang misionaris bagi mereka. Setelah satu perjuangan singkat, ia mohon persetujuan resmi dari Paus St. Gregorius II. Bapa Suci menugaskannya untuk mewartakan Injil kepada orang-orang Jerman. (Juga pada waktu itu St. Bonifasius mengubah namanya dari Winfrid menjadi Bonifasius). St. Bonifasius menjelajah Jerman melalui pegunungan Alpen hingga ke Bavaria dan kemudian ke Hesse dan Thuringia. Pada tahun 722, paus mentahbiskan St. Bonifasius sebagai uskup dengan wewenang meliputi seluruh Jerman. Ia tahu bahwa tantangannya yang terbesar adalah melenyapkan takhayul kafir yang menghambat diterimanya Injil dan bertobatnya penduduk. Dikenal sebagai “Rasul Jerman”, St. Bonifasius terus mewartakan Injil hingga ia wafat sebagai martir pada tahun 754. Marilah kita memulai cerita kita tentang Pohon Natal.
Dengan rombongan pengikutnya yang setia, St. Bonifasius sedang melintasi hutan dengan menyusuri suatu jalan setapak Romawi kuno pada suatu Malam Natal. Salju menyelimuti permukaan tanah dan menghapus jejak-jejak kaki mereka. Mereka dapat melihat napas mereka dalam udara yang dingin menggigit. Meskipun beberapa di antara mereka mengusulkan agar mereka segera berkemah malam itu, St. Bonifasius mendorong mereka untuk terus maju dengan berkata, “Ayo, saudara-saudara, majulah sedikit lagi. Sinar rembulan menerangi kita sekarang ini dan jalan setapak enak dilalui. Aku tahu bahwa kalian capai; dan hatiku sendiri pun rindu akan kampung halaman di Inggris, di mana orang-orang yang aku kasihi sedang merayakan Malam Natal. Oh, andai saja aku dapat melarikan diri dari lautan Jerman yang liar dan berbadai ganas ini ke dalam pelukan tanah airku yang aman dan damai! Tetapi, kita punya tugas yang harus kita lakukan sebelum kita berpesta malam ini. Sebab sekarang inilah Malam Natal, dan orang-orang kafir di hutan ini sedang berkumpul dekat pohon Oak Geismar untuk memuja dewa mereka, Thor; hal-hal serta perbuatan-perbuatan aneh akan terjadi di sana, yang menjadikan jiwa mereka hitam. Tetapi, kita diutus untuk menerangi kegelapan mereka; kita akan mengajarkan kepada saudara-saudara kita itu untuk merayakan Natal bersama kita karena mereka belum mengenalnya. Ayo, maju terus, dalam nama Tuhan!”
Mereka pun terus melangkah maju dengan dikobarkan kata-kata semangat St. Bonifasius. Sejenak kemudian, jalan mengarah ke daerah terbuka. Mereka melihat rumah-rumah, namun tampak gelap dan kosong. Tak seorang pun kelihatan. Hanya suara gonggongan anjing dan ringkikan kuda sesekali memecah keheningan. Mereka berjalan terus dan tiba di suatu tanah lapang di tengah hutan, dan di sana tampaklah pohon Oak Kilat Geismar yang keramat. “Di sini,” St. Bonifasius berseru sembari mengacungkan tongkat uskup berlambang salib di atasnya, “di sinilah pohon oak Kilat; dan di sinilah salib Kistus akan mematahkan palu sang dewa kafir Thor.”
Di depan pohon oak itu ada api unggun yang sangat besar. Percikan-percikan apinya menari-nari di udara. Warga desa mengelilingi api unggun menghadap ke pohon keramat. St. Bonifasius menyela pertemuan mereka, “Salam, wahai putera-putera hutan! Seorang asing mohon kehangatan api unggunmu di malam yang dingin.” Sementara St. Bonifasius dan para pengikutnya mendekati api unggun, mata orang-orang desa menatap orang-orang asing ini. St. Bonifasius melanjutkan, “Aku saudaramu, saudara bangsa German, berasal dari Wessex, di seberang laut. Aku datang untuk menyampaikan salam dari negeriku, dan menyampaikan pesan dari Bapa-Semua, yang aku layani.”
Hunrad, pendeta tua dewa Thor, menyambut St. Bonifasius beserta para pengikutnya. Hunrad kemudian berkata kepada mereka, “Berdirilah di sini, saudara-saudara, dan lihatlah apa yang membuat dewa-dewa mengumpulkan kita di sini! Malam ini adalah malam kematian dewa matahari, Baldur yang Menawan, yang dikasihi para dewa dan manusia. Malam ini adalah malam kegelapan dan kekuasaan musim dingin, malam kurban dan kengerian besar. Malam ini Thor yang agung, dewa kilat dan perang, kepada siapa pohon oak ini dikeramatkan, sedang berduka karena kematian Baldur, dan ia marah kepada orang-orang ini sebab mereka telah melalaikan pemujaan kepadanya. Telah lama berlalu sejak sesaji dipersembahkan di atas altarnya, telah lama sejak akar-akar pohonnya yang keramat disiram dengan darah. Sebab itu daun-daunnya layu sebelum waktunya dan dahan-dahannya meranggas hingga hampir mati. Sebab itu, bangsa-bangsa Slav dan Saxon telah mengalahkan kita dalam pertempuran. Sebab itu, panenan telah gagal, dan gerombolan serigala memporak-porandakan kawanan ternak, kekuatan telah menjauhi busur panah, gagang-gagang tombak menjadi patah, dan babi hutan membinasakan pemburu. Sebab itu, wabah telah menyebar di rumah-rumah tinggal kalian, dan jumlah mereka yang tewas jauh lebih banyak daripada mereka yang hidup di seluruh dusun-dusunmu. Jawablah aku, hai kalian, tidakkah apa yang kukatakan ini benar?” Orang banyak menggumamkan persetujuan mereka dan mereka mulai memanjatkan puji-pujian kepada Thor.
Ketika suara-suara itu telah reda, Hunrad mengumumkan, “Tak satu pun dari hal-hal ini yang menyenangkan dewa. Semakin berharga persembahan yang akan menghapuskan dosa-dosa kalian, semakin berharga embun merah yang akan memberi hidup baru bagi pohon darah yang keramat ini. Thor menghendaki persembahan kalian yang paling berharga dan mulia.”
Dengan itu, Hunrad menghampiri anak-anak, yang dikelompokkan tersendiri di sekeliling api unggun. Ia memilih seorang anak laki-laki yang paling elok, Asulf, putera Duke Alvold dan isterinya, Thekla, lalu memaklumkan bahwa anak itu akan dikurbankan untuk pergi ke Valhalla guna menyampaikan pesan rakyat kepada Thor. Orang tua Asulf terguncang hebat. Tetapi, tak seorang pun berani berbicara.
Hunrad menggiring anak itu ke sebuah altar batu yang besar antara pohon oak dan api unggun. Ia mengenakan penutup mata pada anak itu dan menyuruhnya berlutut dan meletakkan kepalanya di atas altar batu. Orang-orang bergerak mendekat, dan St. Bonifasius menempatkan dirinya dekat sang pendeta. Hunrad kemudian mengangkat tinggi-tinggi palu dewa Thor keramat miliknya yang terbuat dari batu hitam, siap meremukkan batok kepala Asulf yang kecil dengannya. Sementara palu dihujamkan, St. Bonifasius menangkis palu itu dengan tongkat uskupnya sehingga palu terlepas dari tangan Hunrad dan patah menjadi dua saat menghantam altar batu. Suara decak kagum dan sukacita membahana di udara. Thekla lari menjemput puteranya yang telah diselamatkan dari kurban berdarah itu lalu memeluknya erat-erat.
St. Bonifasius, dengan wajahnya bersinar, berbicara kepada orang banyak, “Dengarlah, wahai putera-putera hutan! Tidak akan ada darah mengalir malam ini. Sebab, malam ini adalah malam kelahiran Kristus, Putera Bapa Semua, Juruselamat umat manusia. Ia lebih elok dari Baldur yang Menawan, lebih agung dari Odin yang Bijaksana, lebih berbelas kasihan dari Freya yang Baik. Sebab Ia datang, kurban disudahi. Thor, si Gelap, yang kepadanya kalian berseru dengan sia-sia, sudah mati. Jauh dalam bayang-bayang Niffelheim ia telah hilang untuk selama-lamanya. Dan sekarang, pada malam Kristus ini, kalian akan memulai hidup baru. Pohon darah ini tidak akan menghantui tanah kalian lagi. Dalam nama Tuhan, aku akan memusnahkannya.” St. Bonifasius kemudian mengeluarkan kapaknya yang lebar dan mulai menebas pohon. Tiba-tiba terasa suatu hembusan angin yang dahsyat dan pohon itu tumbang dengan akar-akarnya tercabut dari tanah dan terbelah menjadi empat bagian.
Di balik pohon oak raksasa itu, berdirilah sebatang pohon cemara muda, bagaikan puncak menara gereja yang menunjuk ke surga. St. Bonifasius kembali berbicara kepada warga desa, “Pohon kecil ini, pohon muda hutan, akan menjadi pohon kudus kalian mulai malam ini. Pohon ini adalah pohon damai, sebab rumah-rumah kalian dibangun dari kayu cemara. Pohon ini adalah lambang kehidupan abadi, sebab daun-daunnya senantiasa hijau. Lihatlah, bagaimana daun-daun itu menunjuk ke langit, ke surga. Biarlah pohon ini dinamakan pohon kanak-kanak Yesus; berkumpullah di sekelilingnya, bukan di tengah hutan yang liar, melainkan dalam rumah kalian sendiri; di sana ia akan dibanjiri, bukan oleh persembahan darah yang tercurah, melainkan persembahan-persembahan cinta dan kasih.”
Maka, mereka mengambil pohon cemara itu dan membawanya ke desa. Duke Alvold menempatkan pohon di tengah-tengah rumahnya yang besar. Mereka memasang lilin-lilin di dahan-dahannya, dan pohon itu tampak bagaikan dipenuhi bintang-bintang. Lalu, St. Bonifasius, dengan Hundrad duduk di bawah kakinya, menceritakan kisah Betlehem, Bayi Yesus di palungan, para gembala, dan para malaikat. Semuanya mendengarkan dengan takjub. Si kecil Asulf, duduk di pangkuan ibunya, berkata, “Mama, dengarlah, aku mendengar para malaikat itu bernyanyi dari balik pohon.” Sebagian orang percaya apa yang dikatakannya benar; sebagian lainnya mengatakan bahwa itulah suara nyanyian yang dimadahkan oleh para pengikut St. Bonifasius, “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai di bumi; rahmat dan berkat mengalir dari surga kepada manusia mulai dari sekarang sampai selama-lamanya.”
Pada abad ke 8, Santo Boniface, seorang misionari Devonshire yang datang ke Jerman, adalah orang yang pertama kali menghiasi sebuah pohon fir (sanobar) untuk menghormati bayi Kristus, dengan demikian ia mengganti pohon oak keramat dari orang Druid. Sejak abad 15 dan seterusnya, pohon-pohon Natal muncul di Jerman Selatan, dan kembali berasal dari penyembahan berhala pohon.

Mulai sejak itu, pohon Natal diperkenalkan ke negeri Eropah lainnya, sebagaimana itu menyebar pertama sekali melalui seluruh Jerman. Tetapi hanya sejak abad ke 17 dan seterusnya, pohon Natal menjadi tersebar luas dan muncul untuk pertama kali sebagai pohon terang dan sebagai pohon dari hadiah-hadiah. Ini diperkenalkan ke Britania Raya pada tahun 1841

.
Pada abad ke 19 hal itu dapat diterima di Swedia. Kebanyakan gereja-gereja Protestan menerima pohon Natal sebagai bagian dari perayaan-perayaan Natal, walaupun orang-orang Puritan pada abad 17 menolak sama sekali untuk mengakui perayaan Natal, dan gereja Presbyterian di Skotlandia tidak mengakui perayaan Natal.

Gereja Roma Katholik sejak lama sekali, bahkan sampai belum lama berselang, menolak pohon Natal sebagaimana mereka tetap setia pada palungan Natal, yang menggambarkan kelahiran Kristus, yaitu suatu kebiasaan yang di perkenalkan oleh Santo Francis dari Asisi, seperti dikatakan bahwa ia yang membuat palungan yang pertama.

Sejak abad ke 4 gereja telah memiliki segalanya tetapi berusaha keras untuk menggunakan kebiasaan-kebiasan kafir, dan menggantinya dengan pesta-pesta Kristen, tetapi juga menggunakan tanggal yang sama dan memelihara paling sedikit sebahagian kebiasaan kafir.

Adalah sungguh amat mudah untuk menjangkau orang supaya menerima Kekristenan dengan cara itu, dari pada menghentikan atau melarang tradisi-tradisi penyembahan berhala ini. Tujuan pengudusan dari hal-hal kafir ini telah sering digunakan oleh para pemuka agama dari segala abad.

Gereja Roma Katholik sangat toleransi dalam hal ini, dan orang-orang Budha dengan mudah menerima Kekristenan bila mereka tetap dapat memelihara patung-patung Budha, Kwam In, dan dewa-dewi Cina, dan hanya menerima Kristus sebagai tambahan.

Yang harus paling disalahkan karena praktek-praktek kompromi atau interpelasi ini, adalah raja Constantine yang secara resmi melembagakan Kekristenan dan begitu banyak orang menjadi “Kristen” yang tidak benar-benar bertobat atau tidak menguduskan dirinya dari kebiasaan-kebiasaan dan tradisi kafir mereka.

Mereka bukan lagi orang yang dipisahkan bagi Tuhan, dan kita melihat dalam abad-abad setelah itu pola yang sama terulang kembali, sewaktu Kekristenan menerima dan menggunakan tradisi kekafiran untuk tujuan mereka.

Bersamaan dengan itu kita melihat gereja menjadi lebih tidak setia (murtad), dan kehilangan kuasanya di dunia. Alkitab jelas sekali memperingatkan kita untuk keluar dari antara kekafiran, dan tidak mengambil alih sesuatu apapun dari praktek-praktek mereka agar tidak terjerat oleh mereka.

Menarik sekali untuk dicatat bagaimana siapnya pohon Natal diterima oleh dunia bila kita lihat di dalam klub-klub malam (night club), hotel-hotel, restoran-restoran dan bahkan di negara-negara seperti Jepang, dimana kebanyakan orang Jepang memiliki pohon Natal di rumah mereka walaupun mereka tidak akan mau menerima, andai kata kita tawarkan Kristus kepada mereka.

Mereka hanya menyukai pohon dan ornamennya (perhiasan) yang berkilau sebagaimana kita semua tahu bahwa perhiasan-perhiasan Natal adalah hasil utama dari produksi export Jepang. Di Jerman, 15 juta pohon sanobar (fir) tumbang dalam setahun untuk merayakan Natal.

Dua hari setelah dunia merayakannya dengan segala macam hiasan seperti itu, pohon-pohon yang ditebang ini tersebar di tepi-tepi jalan, sehingga pemungut sampah harus bekerja lembur untuk membersihkan jalan-jalan dan sampah-sampah kaleng dari semua serakan sampah-sampah Natal. Seperti pagi hari sehabis pesta, Natal adalah saat dimana semua orang mabuk dengan keharusan untuk memberi dan menerima hadiah-hadiah.

Ini adalah suatu demam yang menangkap dan menjerat banyak orang Kristen dan orang dunia, terutama dunia bisnis mengambil keuntungan dari itu, sebagaimana bisnis itu menghasilkan uang berjuta-juta yang dibelanjakan untuk hadiah-hadiah, hanya untuk memenuhi suatu kebiasaan yang didasarkan pada tradisi kafir. Dimana Yesus ditonjolkan ? Apakah InjilNya dinyatakan melalui pengeluaran uang ini ?

Apakah orang-orang kafir terjangkau, apakah jiwa-jiwa yang terhilang diselamatkan oleh jutaan uang yang dibelanjakan untuk Natal yang tidak jelas itu ? Hanya Allah sajalah yang tahu berapa banyak uang yang telah diboroskan oleh orang-orang Kristen yang seyogianya dapat digunakan dan diberikan bagi perkembangan dan kemajuan Injil.

Berapa banyak gereja yang seharusnya dapat dibangun dari dana yang dibelanjakan untuk hadiah-hadiah sekarang ini, sebaliknya berapa banyak orang miskin yang seharusnya dapat ditolong ? Raja Mamon, atau bisnis besar, dengan kata lain, dunia telah mengambil alih Natal seutuhnya dan menggunakannya bagi kepentingan mereka. Secara rata-rata 30 % atau lebih dari penjualan tahunan dalam perdagangan eceran dilaksanakan di sekitar hari Natal.

Orang-orang dalam lingkungan keluarga dan teman-temannya dibawah ikatan yang kuat/berkewajiban untuk memberi satu sama lain hadiah-hadiah Natal, sering kali barang-barang yang hampir tidak ada gunanya bagi si penerima.

Kesimpulannya, adalah mengejutkan bila melihat jumlah uang yang sangat besar yang disia-siakan (diboroskan) untuk pohon Natal, dekorasinya, hadiah-hadiah, makanan dan minuman, dsb., dan bila kita perkirakan bahwa setiap orang Kristen hanya membelanjakan untuk semuanya ini rata-rata US$ 100 setiap tahun.

Maka lebih dari satu milyard orang Kristen akan mem-belanjakan lebih dari 100 milyard US Dollar untuk ini, tetapi mungkin sekali angkanya akan lebih besar dari pada itu, pada beberapa hari di sekitar Natal;

Dan jika di lain pihak kita menimbang apa yang oleh semua gereja di dunia disatukan dalam pengeluaran uang bagi pelayanan misi, jumlah itu tidak akan lebih banyak dari pecahan sangat kecil dari jumlah ini, yang oleh sumber-sumber yang dapat dipercaya menaksir kira-kira 3 – 3,5 milyard US Dollar.

Jadi hanya sekitar 3 – 3,5 %. Apakah iblis tidak mendapat keuntungan dengan taktiknya, jika ia tak dapat melawannya, ia akan ikut bersamanya dan menggunakan itu bagi kepentingannya.

Barangkali sebaiknya kita tidak mendengar hal-hal ini, mungkin kita sebaiknya menutup telinga dan hati kita untuk membicarakan itu, tetapi sudah waktunya bagi orang Kristen di saat Natal dan melawan kebiasaan-kebiasaan dan perayaan-perayaan mereka. Sudah waktunya bagi kita untuk bertanya pada Allah apa yang Ia inginkan pada kita untuk menghabiskan Natal-Natal kita.

Inilah waktunya bagi kita untuk berani menolak kebiasaan-kebiasaan dan yang tidak memuliakan Kristus, dan yang tidak membawa jiwa kepadaNya, tetapi malah melayani dunia bisnis dan pada dunia yang penuk dosa yang tidak mengenalNya.

Bila kita meneliti pertanyan-pertanyaan ini dan kita dipererhadapkan dengan Natal, baiklah kita bertanya pada diri kita apa yang dikatakan oleh Firman Allh tentang hal itu.

2 Kor. 6:15-17 berkata: “Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang yang tidak percaya? Apakah hubungan antara bait Allah dengan berhala?

Sebab itu : Keluarlah kamu dari antara mereka dan pisahkanlah dirimu dari mereka, demikianlah Firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.”

Bila dunia dengan mudah menerima sesuatu dari Kekristenan, baiklah kita berhati-hati, sebab dengan hal ini kita akan membedakan apa yang dari Allah dan apa yang dari manusia. Karena dunia membenci hal-hal yang berasal dari Allah.

Yoh. 15:19 “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu”

Yoh 15:18 “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.”

Biarlah kita tetap sebagai umat yang terpisah, yang membenci hal-hal yang tidak meninggikan Allah. Baiklah kita berhenti menggunakan sesuatu apapun yang telah dipakai oleh Belial. Tidak lama lagi kita dapati diri kita menggunakan boneka-boneka wayang untuk mengabarkan Injil, atau menggunakan dewa-dewi ramayana untuk menggambarkan cerita-cerita Alkitab.

Itu dapat dimulai dimana saja, dan dengan apa saja dan setelah itu kita tidak mengetahui lagi bahwa kita sedang menggunakan alat-alat Setan, semuanya sudah menjadi tradisi dan dengan demikian telah diterima oleh semua orang.

Pertimbangkanlah dalam doa, tidak ada kewajiban, tidak ada keharusan, tetapi mintalah saja pada Yesus untuk menunjukkan pada kita apa yang Ia ingin kita lakukan dan bagaimana yang Ia kehendaki dari kita Untuk merayakan kelahiranNya.

Baiklah kita kembali pada palungan di Bethlehem dan bukan saja untuk melihat Bayi dalam tempat tidur bayi, tetapi untuk melihat janji Allah yang digenapi, melihat Keselamatan yang dibuat bagi kita, mulai dari palungan kita melihat pada salib di Kalvari dan tidak juga berhenti disana, kita tahu bahwa Dia telah bangkit dan sekarang kita dapat melihat akan kedatanganNya kembali

Itu adalah cerita Natal, hanya pada saat itulah kita dapat sungguh-sungguh bergembira dalam Roh, sebagaimana Roh dan pengantinNya berkata : “Marilah, Tuhan Yesus, datanglah segera”.

Iklan

Satu Tanggapan to “kisah Natal”

  1. salman_farizzi said

    @kosongan
    Itu adalah cerita Natal, hanya pada saat itulah kita dapat sungguh-sungguh bergembira dalam Roh, sebagaimana Roh dan pengantinNya berkata : “Marilah, Tuhan Yesus, datanglah segera”.

    Saya ingi tahu Roh dan pengantinnya itu apa/siapa, bisa dijelasin dikit?? hehe, maklum saya kan Muslim gak tau apa itu Roh dan Pengantin yang nungguin Tuhan Yesus?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: