kosong

berfikir untuk hidup yang lebih baik , dan beriman untuk tuhan yang benar

BIDADARI DI BULAN SABIT

Posted by kosongan pada | 23 |Desember| 2008 |

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2008/04/24/bidadari-di-bulan-sabit/

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (Al-Hujarat ) QS 49:6

Salah satu kelemahan pandangan umat Kristen atau lainnya terhadap Islam adalah bahwa mereka tidak bisa membedakan mana yang merupakan Firman Allah dan mana yang bukan. Dalam Islam firman Allah berada dalam Al-Qur’an. Dan Al-Quran adalah sumber utama Islam. Segala sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Al-Quran bukanlah ajaran Islam. Sedangkan dalam Kitab Injil sekarang (Bible) susah dibedakan mana yang merupakan Firman Allah, Sabda Yesus (Isa), perkataan para ahli agama, perkataan sejarahwan, perkataan orang biasa dll.

Dalam Islam dengan tegas ditandaskan bahwa Firman Allah berada dalam Al-Quran, Sabda Nabi Muhammad ada dalam Hadits, perkataan ulama ada pada kitab2 tersendiri, dll. Al-Quran adalah kalam Allah yang susah untuk dipalsukan, sehingga segala sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, moral agama, akal dll dengan sendirinya akan tertolak.

Sedangkan Hadits atau perkataan para ulama, orang biasa dll adalah sesuatu yang bisa dipalsukan. Salah satu alat untuk menyaring Hadits agar dapat diketahui mana yang palsu dan mana yang asli adalah Al-Quran. Segala sesuatu yang bertentangan dengan Al-Quran akan tertolak kebenarannya. Cara berfikirnya adalah sangat sederhana.

Misalnya : Ada hadits dari seseorang yang mengatakan bahwa : Nabi Muhammad pada masa hijrah memerintahkan seseorang untuk berzina. Jelas hadits ini palsu karena Al-Quran melarang berzina.

Di beberapa daerah di Indonesia ada beberapa kasus orang tua menikahkan anak-anaknya saat kecil (semacam dipinang) karena sebelum mereka punya anak, masing-masing pihak berencana menjodohkan anak-anaknya. Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan (takut anak mereka kelain hati) maka saat kecil sudah dinikahkan (dipinang). Tentu pernikahan tersebut hanyalah pengikat janji agar perjodohan yang dilakukan masing-masing orang tua sebelumnya benar-benar terlaksana tanpa pemenuhan hak & kewajiban sebagai suami istri (nafkah lahir & bathin). Dalam arti setelah pertunangan diadakan saat kecil, anak- anak kembali ke orang tua mereka dan setelah dewasa akan dipertemukan kembali. Karena dalam Islam setelah kedua orang menikah, maka syarat-syarat, hal-hak dan kewajiban dalam pernikahan harus segera dilaksanakan. Seperti memberi nafkah lahir dan bathin.

PERNIKAHAN NABI MUHAMMAD

Sebenarnya berapa jumlah pasti istri Nabi Muhammad menurut riwayat masih simpang siur. Ada yang mengatakan 10, 11 atau 12. Selama Nabi menikah dengan Khadijah selama hampir 25 tahun, Nabi Muhammad belum pernah melirik wanita lain untuk dijadikan istri. Nabi Muhammad sangat sayang dan setia kepada istri pertama beliau “Khadijah”. Baru setelah Khadijaf wafat dimana usia nabi Muhammad sekitar 50 tahun, beliau menikahi beberapa wanita. Dan dari semua isteri-istri beliau Aisyah-lah yang dinikahi dalam keadaan gadis (perawan). Bahwa kurang lebih dalam waktu 10 tahun nabi Muhammad menikahi wanita sekitar 10 orang. Jadi rata-rata 1 orang 1 tahun, karena tahun-tahun itu penuh peristiwa yang mengharuskan nabi Muhammad mengambil langkah ini. Beberapa pakar Muslim dan non-Muslim yang obyektif mengakui bahwa perkawinan-perkawinan sepeninggal Khadijah dilakukan dengan motif politik dan sosial.

John L. Esposito, Professor Religion and Director of Center for International Studies at the College of the holly cross, mengatakan bahwa hampir keseluruhan perkawinan Nabi Muhammad saw. adalah mempunyai misi sosial dan politik (political and social motives) (Islam The straight Path, Oxford University Press, 1988).

KLIK DISINI :    MUHAMMAD DALAM PANDANGAN BARAT

1. Motif politik politis (seperti pada Juariyah, Safiyah, Maimunah) dilakukan untuk menguatkan kedudukan Islam dengan perkawinan antar pemuka suku. Seperti kita ketahui jaman dulu kerajaan-kerajaan di Indonesia mengadakan perkawinan bangsawan antar suku baik dari dalam dan luar negeri untuk menguatkan kedudukan dan pengaruh.

2. Motif Sosial dilakukan dalam rangka merawat anak, rumah tangga (seperti pada Sawda, Maria) pendidikan (seperti pada Aisyah), penegasan hukum (pada kasus Zainab), mengkader da’iyah (Safiyah), dan yang terbanyak adalah perlindungan terhadap para janda mukmin yang ditinggal mati oleh suaminya dalam perang, para janda yang terlantar atau yang menyerahkan diri pada Nabi, dll.

FITNAH TERHADAP PERNIKAHAN NABI MUHAMMAD

Kaum Kafir selalu berusaha menghancurkan akidah Islam dengan berbagai cara. Setelah mereka berhasil menghancurkan ajaran Yesus (Isa), maka mereka berusaha menghancurkan Islam. Adapun salah satu yang mereka bidik adalah pernikahan-pernikahan yang dilakukan oleh nabi Muhammad saw. Dari sekian banyak istri nabi Muhammad, setidaknya ada 2 orang yang sering dijadikan oleh kaum Kafir sebagai fitnah keji. Yaitu pada istri Nabi Muhammad yang bernama “Zaenab binti Jahesy” dan “Aisyah”.

  • FITNAH TERHADAP ZAENAB BINTI JAHESY

Kaum Kafirin seperti para Misionaris dan Orentialis sering menggunakan pernikahan Nabi dengan “Zaenab” sebagai lahan fitnah. Dan anehnya ada sebagian orang yang mengaku sebagai Muslim ikut-ikutan mengamini terhadap apa yang diucapkan oleh para Orentialis. Tentang pernikahan ini tertuang dalam surat Al-Ahzab (33) : 37. Tentang bantahan terhadap Fitnah ini dapat dibaca di sini SURAT  KEPADA SI KAFIR

  • FITNAH TERHADAP AISYAH

Sebenarnya tidak ada yang tahu pasti berapa usia Aisyah saat menikah dengan Rasulullah. Banyak riwayat saling bertentangan. Ada yang bilang 9 tahun, 14-15 tahun, 18 tahun dll, dan kita sebagai Muslim tentu cenderung memilih yang positif dan lebih masuk akal karena itu sesuai dengan akhlak Nabi Muhammad yang agung yaitu Aisyah berumur sekitar 18 tahun.. Untuk itu mari kita menganalisis sejenak untuk mengetahui yang sebenarnya.

  • <= 610 M: Masa Jahiliyah (Masa keburukan Akhlak)
  • 610 M: turun wahyu pertama
  • 610 M AbuBakr menerima Islam
  • 613 M: Nabi Muhammad mulai menyebarkan Islam
  • 615 M: Hijrah ke Abyssinia.
  • 616 M: Umar bin Khattab menerima Islam
  • 620 M: disepakati Nabi meminang Aisyah
  • 622 M= 1 Hijriyah Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Madinah
  • 623/624 M: disepakati tahun Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah
  • 625 M: Perang Uhud

KEMUNGKINAN UMUR 9 TAHUN

Berita mengenai pernikahan Rasulullah Muhammad dengan Aisyah di umur 9 tahun sebenarnya hanya diriwayatkan oleh Hisyam ibn Urwah, setelah Hisyam ibn Urwah pindah dari Madinah ke Iraq pada umur diatas 70 Tahun. Sebelum itu (di Madinah), yaitu sebelum kepindahan Hisyam ke Iraq, tidak ada selentingan mengenai Pernikahan Rasulullah dan Aisyah. Bahkan para sahabat utama tidak juga mempergunjingkan. Karena secara Islam tentu tidak akan ada yang mau menyerahkan putrinya untuk dinikahkan pada usia 7 atau 9 tahun karena syarat-syarat pernikahan dalam Islam antara lain : Sudah dewasa, sehat jasmani rohani, beriman dan berakhlak bagus, dan yang terakhir jika semuanya sudah siap yaitu harus segera memberi nafkah lahir dan bathin. Kalau belum dirasa dewasa, ada baiknya ditunggu sampai dewasa. Jika anda meminang dengan seorang gadis yang belum dewasa padahal anda sudah matang secara lahir bathin tentu anda tidak sabar untuk melakukan hubungan suami istri, sehingga anda harus menunggunya dewasa, tetapi jika anda berpoligami tentu hasrat itu bisa disalurkan lewat istri lain yang sah. Dan itulah teladan Nabi Muhammad.

Hadits itu berdasarkan riwayat, dan riwayat tentang pernikahan Nabi Muhammad dengan Aisyah ketika berumur 9 tahun hanya bersumber dari Hisyam ibn Urwah. Padahal hadits itu dianggap sah minimal jika ada 2 atau 3 orang yang meriwayatkan hal serupa dan tidak bertentangan dengan Al-Quran.

Menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : “Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

“Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

“Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

Mungkin usia tua menjadikan Hisyam sudah tidak relevan lagi dalam memberikan informasi terutama berita tentang pernikahan Rasulullah dengan Aisyah. Tentu menjadi sebuah pertanyaan bahwa dari sekian banyak hadits mengapa hanya ada satu hadits yang menyinggung pernikahan Rasulullah dengan Aisyah saat berumur 9 tahun. Bahkan hadits shahih pun tidak membicarakan. Sedikitnya hadits yang membahas pernikahan Rasulullah dengan Aisyah saat berumur 9 tahun membuktikan bahwa hal berita ini tidak kuat.

Setelah meninggalnya Khadijah, Khaulah menyarankan kepada Nabi untuk menikah lagi. Kahulah berkata: “Anda dapat meminang perawan (bigir atau bikr) atau wanita janda (thayyib)”. Disaat Rasullah saw menanyakan siapakah kira-kira perawan itu (Bigir),Khaulah mengajukan nama Aisyah. (Ahmad ibn Hanbal : Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol 6, halaman 210, Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut)

Dalam bahasa Arab makna kata “Bigir” tidak digunakan untuk anak kecil yang baru berusia 9 tahun ,kata yang tepat untuk anak seusia itu (9 tahun) adalah “Jariyah ,Bigir di gunakan untuk perempuan yang belum menikah (masih perawan) dan barang tentu anak usia 9 tahun bukanlah seorang Bigir.

KEMUNGKINAN UMUR 18 TAHUN

Aisyah adalah anak Abu Bakar dan Menurut Tabari: Keempat anak Abu Bakar RA dilahirkan oleh isterinya pada zaman Jahiliyah, jadi sebelum 610 M. (Tarikh alMamluk, alTabari, Jilid 4, hal.50).

Jadi menurut data diatas kalau Aisyah dilahirkan sebelum 610 M dan dipinang tahun 620 M, maka kemungkinan umur beliau diatas 10 tahun dan hidup serumah sebagai suami istri diatas 13 tahun. Untuk mengetahui usia Aisyah dengan tepat maka bisa kita perbandingkan dengan umur kakak Aisyah “Asmah”.

Menurut Abd alRahman ibnu abi Zannad: “Asmah 10 tahun lebih tua dari Aisyah RA (alZ ahabi, Muassasah alRisalah, Jilid 2, hal.289). Menurut Ibnu Hajar alAsqalani: Asmah hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal tahun 73 atau 74 Hijriyah (Taqrib al Tahzib, Al-Asqalani, hal.654). Menurut Ibn Kathir: Asma menyaksikan anaknya terbunuh saat tahun 73 setelah Hijrah, 5 hari kemudian dia meninggal dan banyak pula yang meriwayatkan beliau meninggal setelah 10 hari ada pula yang mengatakan beliau meninggal setelah 20 hari bahkan ada yg berpendapat 100 hari setelahnya, dan saat meninggalnya beliau berusia 100 tahun (Al-Bidaayah wa al-Nihaayah,Ibn Kathir,Vol 8,Halamn 372,Arabik,Dar al-fikri al-arabiy,Al-jizah,1993)

Kita ambil saja usia Asmah saat meninggal tahun 73H. Berarti saat Hijrah ke Madinah (Tahun 622 M=1H), Asmah berusia 100-73 =27. Berarti tahun 622 M, Asmah berusia 27 tahun. Sehingga usia Aisyah saat itu yaitu 27-10 = 17 tahun. Berarti saat dipinang (620 M) Aisyah berumur 15 tahun, dan hidup sebagai suami istri (623 M) Aisyah berumur 15+3= 18 tahun

Aisyah ra berkata : Aku masih gadis ,ketika ayat 46 dari Surah Al-Qamar di turunkan (Sahih Bukhari, Kitab Al-Tafsir,Arabik,Bab Qaulihi Bal al-saa’atu Maw’iduhum wa al-sa’atu adhaa wa amarr).

Surah Al-Qamar di turunkan 9 tahun sebelum peristiwa Hijrah (622 M) dan Aisyah dipinang 2 tahun sebelum Hijrah (620 M) , dan menurut pengakuan Aisyah bahwa dia bukan saja sudah lahir sebelum turunnya Surah Al-Qamar namun pula Aisyah juga adalah seorang gadis. Jadi ketika 9 tahun sebelum Surah 46 Al-Qamar turun Aisyah sudah gadis. Hijrah tahun 622 M, dan Aisyah dipinang tahun 620 M, sehingga selisih 9 – 2 = 7. Seorang anak dikatakan sudah gadis biasanya dilihat mulai dari pertama kali dia Haid. Dan tentu tiap wanita tidak sama waktu pertama haidnya. Biasanya antara usia 11-14 tahun. Jika kita ambil mulai berumur 11 tahun-an berarti umur Aisyah saat menikah 7 + 11 = 18

“Fatimah ra terlahir di saat renovasi Kaa’bah ,disaat Nabi Muhammad saw berusia 35 tahun…Fatimah berusia 5 tahun dari Aisyah”. (Al-Isabah fi Tamyeez al-Sahaabah, Ibn Hajar al-Asqalaniy, Vol. 4, Halaman. 377, Arabik, Maktabah al-Riyadh al-Haditha, al-Riyadh, 197)

Wahyu pertama turun saat Nabi usia 40 tahun (610 M). Aisyah dipinang oleh Rasulullah tahun 620 M. Jadi selisihnya 620-610 = 10 tahun. Fatimah lahir saat Nabi umur 35 tahun. Jadi saat Nabi berumur 35 tahun, Aysiah berumur 5 tahun. Jadi saat dipinang Aisyah berumur 10+5=15 tahun dan menikah (serumah sebagai suami istri) berumur sekitar 10 +5+3 = 18 tahun

KEMUNGKINAN UMUR 15-AN TAHUN

Dan Anas ra menceritakan bahwa di hari dalam perang Uhud (625 M),orang-orang tidak dapat berdiri di sekeliling Nabi saw dan aku melihat Aisyah ra dan Ummu Salaim ra menarik keatas pakainnya supaya tidak menghambat geraknya. (Bukhari,Kitab al-Jihad wa al-siyar,Arabik,Bab Ghazwi al-nisaa wa gitalihinna ma’a al-rijaal)

Ibn Umar ra mengatakan” bahwa Nabi Muhammad saw tidak mengizinkan aku ikut serta dalam perang Uhud (625 M) karena saat itu aku baru berusia 14 tahun. Tapi saat dalam perang Khandaq ketika aku berusia 15 tahun sang Nabi mengizinkan aku turut serta”. (Bukhari al-maghaazi, Baab ghazwah al-khandaq wa hiya al-ahzaab)

Dari data diatas dapat dilihat bahwa Umur Aisyah diatas 15 tahun saat perang Uhud. Jadi saat berumah tangga (624 M) umurnya sekitar 14-15 tahun

ISTRI-ISTRI NABI

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:50)

1. KHADIJAH (Tahun 595 M-619M) : Selama Khadijah hidup menjadi istri nabi Muhammad (25 th), Nabi tidak mempunyai istri yang lain. Nabi menikahi Khadijah pada saat berumur +/- 25 th dan Khadijah sudah berumur sekitar 40 tahun. Khadijah adalah seorang janda, yang mana sebelumnya sudah menikah 2 kali sebelum menikah dengan Nabi SAW. Suami pertama Khadijah adalah Aby Haleh Al Tamimy dan suami keduanya adalah Oteaq Almakzomy. Lima belas tahun setelah menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad SAW pun diangkat menjadi Nabi, yaitu pada umur 40 tahun.

2. SAUDAH BINTI ZAM’A IBNU QOIS (619 M): Saat itu umur nabi sekitar 50-an th. Suami pertamanya adalah Al Sakran Ibn Omro Ibn Abed Shamz (salah seorang muslim pertama) yang meninggal beberapa hari setelah kembali dari Ethiophia/Abysinia. Saat itu Nabi mengawininya agar dapat menjaga anak beliau “Fatimah” yang baru berusia +/- 5 tahun. Juga karena saudah sangat membutuhlan pertolongan. Setelah suaminya meninggal, Saudah tidak berani kembali ke kabilahnya karena akan dipaksa keluar dari Islam dan mendapat berbagai siksaan untuk itulah Rasulullah menikahinya. Umur saudah sudah 65 tahun, tua, miskin dan tidak ada yang mengurusinya. Inilah sebabnya kenapa Nabi SAW menikahinya.

3. AISYAH BINTI ABUBAKAR (620 M): Usia nabi 50-an tahun saat itu. Seorang perempuan bernama Khaulah Binti Hakeem menyarankan agar Nabi SAW mengawini Aisyah, putri dari Abu Bakar, dengan tujuan agar mendekatkan hubungan dengan keluarga Abu Bakar. Selain itu sebagi sarana pendidikan kepada Aisyah. Rasulullah menikahi Aisyah ketika masih di Mekkah. Pernikahan ini menurut riwayat berdasarkan mimpi beliau. Rasulullah bersabda kepada Aisyah.ra “bahwasannya aku melihatmu dalam mimpi selama 3 hari, dimana malaikat datang kepadaku bersamamu dalam kain sutera seraya berkata “inilah istrimu”, maka aku singkapkan kain itu dari wajahmu dan aku dapati bahwa ternyata engkau (Aisyah), lalu aku berkata pada diri sendiri, jika memang ini petunjuk dari ALLAH maka aku akan segera melaksanakannya”(shahih Muslim,kitab Fadlail Al-Shahabu. Bab Fadl Aisyah. 44:2438). Dari Al-Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa “Jibril membawa gambar dirinya yang terbungkus dengan kain sutera hijau dan berkata “inilah istrimu didunia dan akhirat”. Dari riwayat ini maka ALLAH sesungguhnya telah memilih Aisyah ra untuk menjadi istri Rasulullah dan mengutus Jibril untuk memberitahukannya

4. HAFSAH BINTI U’MAR (625 M): Hafsah adalah putri dari Umar bin Khatab, khalifah ke dua. Pada mulanya, Umar meminta Usman mengawini anaknya, Hafsah. Tapi Usman menolak karena istrinya “Ruqayah” baru saja meninggal dan dia belum mau kawin lagi. Umar pun pergi menemui Abu Bakar yang juga menolak untuk mengawini Hafsah. Akhirnya Umar pun mengadu kepada nabi bahwa Usman dan Abu Bakar tidak mau menikahi anaknya. Nabi SAW pun berkata pada Umar bahwa anaknya akan menikah dan mendapatkan yang lebih baik dari usman, demikian juga Usman akan kawin lagi. Akhirnya, Usman mengawini putri Nabi SAW yiatu Umi Kaltsum, dan Hafsah sendiri kawin dengan Nabi SAW. Hal ini membuat Usman dan Umar gembira.

5. ZAINAB BINTI KHUZAMAH (625 M): Suaminya “Abdullah Ibnu Jahsy” meninggal pada perang UHUD, meninggalkan dia yang miskin dengan beberapa orang anak. Zainab terkenal dengan kebaikan dan kelembutan hatinya terhadap fakir miskin sehingga dijuluki “Ummul Masakin” (ibunya fakir miskin) ia sudah tua ketika nabi Muhammad mengawininya. Dia meninggal 2-3 bulan setelah perkawinan yaitu pada tahun 625 M.

6. SALAMAH BINTI UMAYYAH (626 M): Suaminya, Abud Allah Abud Al Assad Ibn Al Mogherab, meninggal dunia, sehingga meninggalkan dia dengan 4 anaknya dalam keadaan miskin. Dia saat itu berumur 65 tahun. Abu Bakar dan beberapa sahabat lainnya meminta dia agar mau dinikahi, tapi karena sangat cintanya dia pada suaminya, dia menolak. Baru setelah Nabi Muhammad SAW merawat anak-anaknya, dia bersedia dinikahi.

7. ZAENAB BINTI JAHESY (626 M): Dia adalah putri Bibinya Nabi Muhammad SAW, Umamah binti Abdul Muthalib. Dinikahi Nabi setelah bercerai dengan Zaid

8. JUARIYAH BINTI AL-HARITH (627 M): Suami pertamanya adalah Musafi’ Ibnu Safwan. Nabi Muhammad SAW menghendaki agar kelompok dari Juariyah (Bani Al Mostalaq) masuk Islam. Juariyah menjadi tahanan ketika Islam menang pada perang Al-Mustalaq (Battle of Al-Mustalaq). Bapak Juariyah datang pada Nabi SAW dan memberikan uang sebagai penebus anaknya, Juariyah. Nabi SAW pun meminta sang Bapak agar membiarkan Juariyah untuk memilih. Ketika diberi hak untuk memilih, Juariyah menyatakan ingin masuk islam dan menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir. Akhirnya Nabi pun mengawininya, dan Bani Almustalaq pun masuk islam. Aisyah ra. Berkata :”saya tidak pernah tahu ada seorang wanita yang membawa berkah besar kepada kaumnya selain dia (Juwairiyah)”. Sikap inilah yang kelak berperan besar dalam melunakkan hari Bani Mustaliq untuk masuk Islam.

9. SAFIYYA BINTI HUYAYY (628 M): Dia berasal dari kelompok Yahudi Bani Nadir. Dia sudah menikah dua kali sebelumnya, dan kemudian menikahi Nabi SAW. Adalah putri Huyai ibn Akhtab, seorang panglima Yahudi,. Merupakan janda dari Kinanah ibn Abi al-Haqiq, yang terbunuh dalam perang Khaibar tahun 7 H, dan menjadi tawanan perang Khaibar. Nabi SAW memperlakukannya dengan baik dan memberi 2 pilihan yaitu :dibebaskan sebagai tawanan dan kembali ke kabilahnya, atau jika mau masuk Islam ia akan dijadikan istri Beliau.Sofiyah lalu berkata “aku lebih memilih ALLAH dan Rasul-Nya”. Dalam buku Shifat al-Shofwah dikisahkan bahwa pada suatu hari Sofiyah bermimpi bahwa ada bulan yang jatuh ke kamarnya. Ketika diceritakan kepada ayahnya,. maka ayahnya sangat marah dan menampar wajah Sofiyah ra. hingga membekas sampai ia menjadi istri Nabi SAW. Safiyah dinikahi nabi untuk dijadikan Dai’yah bagi kaumnya tempat dia berasal.

10. UMMU HABIBAH BINTI SUFYAN (628 M): Suami pertamanya adalah Aubed Allah Jahish. Dia adalah anak dari Bibi Rasulullah SAW. Aubed Allah meninggal di Ethiopia. Raja Ethiopia pun mengatur perkawinan dengan Nabi SAW. Dia sebenarnya menikah dengan nabi SAW pada 1 AH, tapi baru pada 7 A.H pindah dan tinggal bersama Nabi SAW di Madina, ketika nabi 60 tahun dan dia 35 tahun.

11. MAIMUNAH BINTI AL-HARITH (629 M): Yaitu putri dari Harist al-Hilaliyah, dari kabilah Bani Hilah. Dia masih berumur 36 tahun ketika menikah dengan Nabi Muhammad SAW yang sudah 60 tahun. Rasulullah menikahinya pada akhir tahun 7 H, dalam perjalanan Beliau untuk menunaikan umroh Qadha. Suami pertamanya adalah Abu Rahma Ibn Abed Alzey. Ketika Nabi Muhammad membuka Makkah di tahun 630 M, dia datang menemui Nabi Muhammad, masuk Islam dan meminta agar Rasullullah mengawininya. Akibatnya, banyaklah orang Makkah merasa terdorong untuk merima Islam dan nabi Muhammad. Menurut Qatadah dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa yang dimaksud dalam ayat 50 Surat Al-Ahzab adalah Maimunah binti Harist (Tafsir Ibnu Katsir, 5/483). “Dan perempuan mikmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya”. (QS.Al-Ahzab.33:50).

12. MARIA AL-QIBTIYYA (629 M): Dia awalnya adalah orang yang membantu menangani permasalahan dirumah Rasullullah yang dikirim oleh Raja Mesir. Dia sempat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Ibrahim akhirnya meninggal pada umur 18 bulan. Tiga tahun setelah menikah, Nabi SAW meninggal dunia, dan akhirnya meninggal 5 tahun kemudian, tahun 16 A.H. Waktu itu, Umar bin Khatab yang menjadi Iman sholat Jenazahnya, dan kemudian dimakamkan di Al-Baqi.

(dari berbagai sumber)

BY MAGE

ARTIKEL LAINNYA

Iklan

5 Tanggapan to “BIDADARI DI BULAN SABIT”

  1. hack://metal.co.re said

    Kok cuma kopi paste dari blog suaka hati, paling nggak judulnya diganti atawa di tambahi komentar dan analisis loe kosongan.

  2. kosongan said

    heheh aku kasih sumber tuh ^^ masak gak lihat ^^ diawal malah … beserta tuh nik om wedul kan ^^ gak ada analisis ku masih ^^, murni dari dia ^^

  3. Hei orang-orang beriman jangan kamu menyembah Allah DEWA bangsa Arab..LAT, UZZA dan MANAT.
    (AL QURAN, SURAH 53;19)

    Jika kamu menyembah Allah bangsa Arab dan Muhammad adalah DEWA bulan kaum Arab pemuja perhala (Surah 56:32)

    Dan akhir hidupmu dalam siksaan kuburan.,,lihat aja sekarang nabi Muhammad sekarang berada dalam siksaan kuburan…apakah anda mau masik kedalam siksaan kuburan seperti nabi Muhammad…?

  4. otong said

    knp Al-Quran tdk bsa di tulis dlm bhs lain,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  5. kosongan said

    secara logika mengapa tidak di terjemahkan dalam bahasa lain , karena ada beberapa penyebab
    – kepentingan politik
    – kepemilikan dan arogan suatu negara, dan superioritas negara tersebut
    – budaya yang di usung
    – tidak terlalu banyak perdebatan untuk menyerang agama bersangkutan
    – tidak mengharapkan negara lain untuk menjadi pengikutnya
    – menjadikan identitas bagi agama bersangkutan
    – membuat kitab lebih exklusif untuk negara bersangkutan
    – menjadikan negara lain yang mengikuti agama bersangkutan mengikuti budaya , dokrin , ajarn, ikatan persaudaraan
    – dianggap sebagai penjaga orisinilitas
    hal ini bisa berkembang lebih jauh tapi saya kurang terlalu paham pendapat lainnya tentang penerjemahan ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: