kosong

berfikir untuk hidup yang lebih baik , dan beriman untuk tuhan yang benar

KITAB-KITAB APOKRIFA DAN PSEUDEPIGRAFA

Posted by kosongan pada | 23 |Desember| 2008 |

sumber : http://sarapanpagi.6.forumer.com/viewtopic.php?p=852#852

KITAB-KITAB APOKRIFA

Latin apocryphus “apocryphal”, from Greek ἀπόκρυφος (apocryphus) “hidden, obscure” from ἀποκρύπτειν (apocryptīn) “to hide”; from ἀπό (apo) “from” + κρύπτειν (cryptīn) “to hide” … secara garis besar Kata ‘apocrypha’ berarti “tersembunyi”. Ketika digunakan untuk kumpulan tulisan-tulisan Yahudi dari masa intertestamental kata tersebut mempunyai dua konotasi:

1. Kitab-kitab yang “disembunyikan” karena sifatnya yang esoteric (hanya dipahami dan diketahui oleh beberapa orang tertentu saja), atau

2. Kitab-kitab yang “disembunyikan” karena memang harus demikian – karena kitab-kitab tersebut tidak pernah diakui sebagai kanon oleh orang-orang Ibrani.

Apokrifa adalah kumpulan empat belas (atau lima belas, bergantung pada penghitungannya) kitab yang ditulis oleh penulis-penulis saleh Ibrani
antara tahun 200 sebelum Masehi dan tahun 100 Masehi. Kitab-kitab ini semula ditulis dalam bahasa Yunani dan Aram dan telah dipelihara dalam bahasa Yunani, Latin, Etiopia, Kupti, Arab, Siria, dan Armenia. Apokrifa berisi enam gaya atau jenis sastra yang berbeda-beda, termasuk sastra yang bersifat mendidik (didaktik) agama, romantis, sejarah, nubuat(menyangkut surat dan wahyu), dan legenda.

Berikut adalah nama-nama kitab Apokrifa:

1. Kebijaksanaan Salomo (kira-kira tahun 30 sM)
2. Eklesiastikus (Sirakh) (132 sM)
3. Tobit (kira-kira tahun 200 sM)
4. Yudit (kira-kira tahun 150 sM)
5. 1 Esdras (kira-kira 150-100 sM)
6. 1 Makabe (kira-kira tahun 110 sM)
7. 2 Makabe (kira-kira 110-70 sM)
8. Barukh (kira-kira 150-50 sM)
9. Surat Nabi Yeremia (300-100 sM)
10. 2 Esdras (kira-kira tahun 100)
11. Tambahan pada Ester (140-130 sM)
12. Doa Azaria (abad kedua atau pertama sM) (Kidung Tiga Pemuda)
13. Susana (abad kedua atau pertama sM)
14. Dewa Bel dan Naga (kira-kira 100 sM)
15. Doa Manasye (abad kedua atau pertama sM)

Pada mulanya kitab-kitab Apokrifa itu ditambahkan satu demi satu pada edisi Septuaginta yang belakangan, terjemahan dalam bahasa Yunani dari Perjanjian Lama Ibrani yang diselesaikan sekitar tahun 250 sM karena dianggap perlu sebab dampak Helenisme terhadap Yudaisme. Kitab-kitab ini jelas terpisah dari Alkitab Ibrani dan tidak dianggap oleh orang Ibrani sebagai bagian dari kanon Perjanjian Lama. Namun, para ahli kitab Ibrani tidak membuat catatan apa pun mengenai hal ini, sehingga menimbulkan sedikit kebingungan di antara orang-orang Kristen yang berbahasa Yunani yang menerima Septuaginta sebagai Alkitab mereka. Hal ini terutama terjadi sesudah tahun 100, semenjak beberapa salinan Septuaginta diterjemahkan oleh para juru tulis Kristen.

Selama abad-abad awal dari kekristenan terjadi silang pendapat sehubungan dengan kanonitas kitab-kitab Apokrifa. Misalnya, bapa-bapa gereja Yunani dan Latin seperti Ireneus, Tertulianus, dan Klemes dari

Aleksandria mengutip Apokrifa dalam tulisan mereka sebagai “Kitab Suci”, dan Sinode di Hippo (tahun 393) mengesahkan penggunakan Apokrifa sebagai kanon. Akan tetapi, orang lain seperti Eusebius dan Athanasius membedakan Apokrifa dari Perjanjian Lama.

Pertentangan mengenai Apokrifa sebagai kanon Perjanjian Lama memuncak dengan penerbitan Vulgata, Perjanjian Lama dalam bahasa Latin oleh Hieronimus (tahun 405). Ditugaskan oleh Paus Damasus, terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Latin ini dimaksudkan sebagai edisi “populer” Alkitab untuk Gereja Roma yang kudus. Hieronimus menentang pengakuan Apokrifa sebagai kanon Perjanjian Lama dan membuat catatan-catatan yang cermat dalam edisi Vulgatanya dengan tujuan itu.

Akan tetapi, beberapa revisi yang belakangan dari Vulgata Hieronimus ini lalai untuk mencantumkan perbedaan-perbedaan yang jelas ini, dan segera saja kebanyakan pembaca Latin tidak mengetahui adanya perbedaan antara Perjanjian Lama dan Apokrifa.

Reformasi sekali lagi memunculkan masalah Apokrifa sebagai kanon dalam diskusi-diskusi utama gereja. Sementara para tokoh reformasi menerjemahkan Perjanjian Lama ke dalam bahasa umat mereka, mereka mendapatkan bahwa Alkitab Ibrani tidak memuat kitab-kitab Apokrifa.

Jadi, penilaian mereka “kitab-kitab yang kurang penting” ini tidak dicantumkan dalam kanon Perjanjian Lama atau dilampirkan sebagai kumpulan kitab yang terpisah dan lebih rendah mutunya. Hal membedakan antara kanon dan Apokrifa ini diantisipasi oleh Wycliffe dalam terjemahan bahasa Inggris yang dilakukannya pada tahun 1382. Kaum puritan diakui sebagai kelompok yang telah mengeluarkan seluruh Apokrifa dari Alkitab bahasa Inggris. Tradisi tidak mencantumkan Apokrifa ini masih tetap merupakan ciri khas dari mayoritas versi bahasa Inggris yang diterbitkan oleh golongan protestan.

Gereja Roma Kudus menanggapi para tokoh reformasi pada konsili di Trente (1545-1564). Di konsili tersebut pada pemimpin menegaskan kembali Vulgata sebagai Alkitab gereja yang benar dan mengumumkan bahwa Apokrifa adalah sama dengan materi kanonik (teristimewa kitab Tobit, Sirakh, Kebijaksanaan, Yudit, 1-2 Makabe, Barukh, dan Tambahan-tambahan pada kitab Ester dan kitab Daniel). Sekarang kumpulan tersebut biasanya disebut Deuterokanonika, dan hal ini dibenarkan oleh konsili Vatikan pada tahun 1870. Gereja Katolik Roma mengutip Deuterokanonika untuk menguatkan doktrin, termasuk konsep Api Penyucian, manfaat melakukan perbuatan-perbuatan baik, dan praktek mendoakan orang mati.

* Tobit 12:9, “The same night also I returned from the burial, and slept by the wall of my courtyard, being polluted and my face was uncovered.”

* 2 Makabe 12:43-45, “43 And when he had made a gathering throughout the company to the sum of two thousand drachms of silver, he sent it to Jerusalem to offer a sin offering, doing therein very well and honestly, in that he was mindful of the resurrection: For if he had not hoped that they that were slain should have risen again, it had been superfluous and vain to pray for the dead. And also in that he perceived that there was great favour laid up for those that died godly, it was an holy and good thought. Whereupon he made a reconciliation for the dead, that they might be delivered from sin.”

* 2 Esdras 8:33, “For the just, which have many good works laid up with thee, shall out of their own deeds receive reward.”

* 2 Esdras 13:46, “Then dwelt they there until the latter time; and now when they shall begin to come,”

* Sirakh 3:30, “Water will quench a flaming fire; and alms maketh an atonement for sins.”

Pengakuan Westminster pada tahun 1647 menolak pengilhaman dan otoritas Apokrifa dan tidak bersedia menerima kumpulan kitab tersebut sebagai bagian dari kanon Alkitab. Gereja-gereja Protestan pada umumnya menganut pendapat ini sehubungan dengan Apokrifa. Kendatipun tidak diakui ataupun dipraktekkan secara luas dewasa ini, penilaian Martin Luther terhadap Apokrifa masih tetap bermanfaat. Ia berpendapat bahwa kitab-kitab Apokrifa tidak sepadan dengan Alkitab, tetapi berguna untuk dibaca dan bernilai untuk membangun diri sendiri.

Salah satu alasan tidak diterimanya kitab-kitab Apokrifa adalah karena kitab-kitab itu mengandung kesalahan dan bertentangan dengan kitab-kitab yang resmi dalam Alkitab sebagai contoh:

* 2 Makabe 2:23, “All these things, I say, being declared by Jason of Cyrene in five books, we will assay to abridge in one volume.” – “Semuanya itu telah diuraikan oleh Yason dari Kirene dalam lima buku lima buah. Kami ini hendak berusaha mengikhtisarkan semuanya dalam satu jilid saja.”

* 2 Makabe 15:37b-38, “And here will I make an end. And if I have done well, and as is fitting the story, it is that which I desired: but if slenderly and meanly, it is that which I could attain unto.” – “Maka aku sendiripun mau mengakhiri kisah ini. Jika susunannya baik lagi tepat, maka itulah yang kukehendaki. Tetapi jika susunannya hanya sedang-sedang dan setengah-setengah saja, maka hanya itulah yang mungkin bagiku.”

Kutipan di atas menentang kebenaran bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah, bukan oleh manusia serta tidak ada nubuat atau kitab yang dihasilkan oleh pikiran manusia, dalam ayat-ayat berikut:

* 2 Timotius 3:16, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

* 2 Petrus 1:20-21, “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”

Kesalahan-kesalahan lain dalam kitab Apokrifa adalah kesalahan sejarah, kesalahan doktrin, misalnya membenarkan bunuh diri, menyetujui doa untuk orang mati, membenarkan kekejaman terhadap budak-budak, mengajarkan praeksistensi jiwa, membenarkan penipuan dan pengutukan.

KITAB-KITAB PSEUDEPIGRAFA

Yudaisme intertestamental menghasilkan kumpulan kedua dari karya-karya sastra yang tidak diterima dalam kanon Alkitab dan berbeda dari Apokrifa.
Kumpulan kitab ini dikenal sebagai Psedepigrafa Perjanjian Lama (atau “kitab-kitab yang ditulis dengan nama samaran”). Delapan belas kitab ini ditulis oleh para penulis Yahudi yang saleh antara tahun 200 sebelum Masehi dan tahun 200 Masehi. Kitab-kitab tersebut mula-mula ditulis dalam bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani, dan sudah dipelihara dalam bahasa Yunani, Siria, Etiophia, Kupti, dan Armenia.

Berikut daftar kumpulan standar dari Pseudepigrafa

1. Kitab Yobel
2. Surat Aristeas
3. Kitab Adam dan Hawa
4. Yesaya Mati Syahid
5. 1 Henokh
6. Wasiat Dua Belas Patriarkh
7. Orakel dari Sibyl
8. Pengangkatan Musa ke Surga
9. 2 Henokh, atau Kitab Rahasia Henokh
10. 2 Barukh, atau Apokalips Siria dari Barukh
11. 3 Barukh, atau Apokalips Yunani dari Barukh
12. 3 Makabe
13. 4 Makabe
14. Aboth Pirke
15. Kisah Ahikar
16. Mazmur-mazmur Salomo
17. Mazmur 131
18. Fragmen Sebuah Karya Tulisan Orang Zadok

Kendatipun kumpulan kitab tersebut tetap berada di luar kanon yang diakui baik dalam Yudaisme maupun dalam kekristenan, kitab-kitab itu tetap diedarkan dan dibaca di mana-mana dalam gereja Kristen. Bahkan, surat Yudas dalam Perjanjian Baru diduga mengutip 1 Henokh dan menyinggung hal Musa diangkat ke surga, namun kebenarannya masih menjadi perdebatan, karena ada kemungkinan Kitab Henokh justru ditulis setelah Kitab Yudas Perjanjian Baru ditulis.
Sumber:
– “A Survey of the Old Testament”, Andrew E. Hill, Michigan, USA: 1991
– “Oxford Apocrypha 1769,” October 1995
– “Anda Bertanya? Alkitab Menjawab”, Dr. Caprili Guanga, Departemen Literatur Saat, Malang: 1998.

Pseudepigrafa

Pseudepigrafa atau tulisan samar-samar. Istilah ini dipakai bagi karya tulis Yahudi yang tidak termasuk Kanon PL dan tidak mendapat tempat dalam Apokrifa. Karya-karya tulis ini juga tidak meliputi Gulungan Laut Mati.

Kitab-kitab Apokrifa dimasukkan ke dalam Alkitab Yunani, tapi Pseudepigrafa tidak pernah dianggap kanonik. Kendati demikian Pseudepigrafa penting selama kurun waktu antar perjanjian, dan berharga demi kejelasan latar belakang Yahudi dalam PB. Sebagian besar, walaupun tidak semua tulisan yang termasuk kelompok ini diterbitkan dibawah nama alias, dan oleh karena itu nama samaran pada umumnya cocok.

Tulisan itu dapat dibagi menjadi kelompok Palestina dan kelompok Yahudi-Helenistis, sebab tempat asalnya sangat mempengaruhi bentuk dan tujuannya. Karena ada suatu tema yang begitu berperan pada jumlah terbesar tulisan itu, maka tepat bila digambarkan sebagai kepustakaan gerakan apokaliptik.

1.Kelompok Palestina

Kelompok Palestina memuat tiga jenis pustaka yang berbeda yaitu puisi, legenda dan apokaliptik. Psalms of Salomons hampir pasti termasuk kepada paroan kedua abad 1 SM dan menjadi contoh polemik anti-Saduki dari Farisi pada kurun waktu itu. Dalam sebagian besar dari 18 mazmur ini, yang meniru Mazmur Daud, tiada hunjukan (pernyataan yang merujuk-red) pada Mesias (kecuali Psalms of Solomons 17) tapi bicara banyak tentang kerajaan mesianis.

Penggulingan wangsa (keturunan raja-red) Hasmon oleh Pompius dari Roma dipandang sebagai tindakan ilahi, sekalipun Pompius sendiri dikutuk karena mencemarkan Bait Suci. Ada upaya pengumpulan mazmur lainnya selama kurun waktu antar perjanjian, misalnya Psalms of Joshua, dapat ditemukan di perpustakan Qumran.

Ada banyak kitab berwujud perluasan legendaris dari sejarah alkitabiah yang didasarkan terutama pada hukum Taurat, sekalipun memasukkan beberapa legenda tentang nabi-nabi. Yang tertua diantaranya adalah Testaments of the Twelve Patriachs, didasarkan pada Kejadian 49. Masing-masing putra Yakub memberikan petuah kepada keturunannya, dan banyak dari ajaran ini yang bermoral tinggi. Mereka ditampilkan sebagai tinjauan kegagalan mereka sendiri dalam berperan sebagai beringatan bagi orang lain.

Buku lain didasarkan atas Kitab Kejadian adalah Book of Jubilees disebut demikian karena sistem penanggalannya. Penulisnya menyokong tahun yang terdiri 364 hari, guna membantu orang Yahudi dapat melaksanakan perayaan pada hari yang tepat. Seluruh isi kitab itu cenderung sebagai pernyataan Musa di gunung Sinai dan jelas bermaksud untuk menegakkan nilai kekal hukum Taurat.

Penulisnya seorang farisi, bermaksud memberantas pengaruh Helenisme yang merajalela selama bagian terakhir dari abad kedua SM. Di sepanjang ‘pernyataan’ itu ada banyak tambahan kepada sejarah alkitabiah, seperti pendapat yang mengatakan bahwa yang mendorong Abraham mengurbankan Ishak (17:16; 18:9; 12) bukanlah Allah melainkan iblis. Penulis menuntut dengan keras supaya orang-orang melaksanakan upacara-upacara Yahudi khususnya sunat dan pensucian sabat (15:33; 2:23-31; 50:6-13). Kitab ini dikenal di Qumran dan ada kemiripannya dengan naskah Damsyik.

Dalam nada yang sama dengan kitab Testaments of the Twelve Patriarchs ialah Testaments of Job, dimana Ayub memberikan kata-kata perpisahan kepada anak-anak dari sitri keduanya. Ayub digambarkan menilik kembali hidupnya yang lampau.

Kitab itu diakhiri dengan uraian tentang percakapan khusus yang diberikan kepada tiga putrinya untuk menyanyikan nyanyian sorgawi, dan sementara itu jiwanya diangkat dengan kereta ke surga. nampaknya penulis kitab itu adalah salah satu anggota dari salah satu bidat Yahudi yang paling keras(mungkin aliran Khasidim) dan dapat diberi penanggalan kurang dari 100 SM.

Tulisan Pseudepigrafa lainnya yaitu Life of Adam and Eve yang beberapa bagiannya sejajar dengan Apocalypse of Moses (bahasa Yunani),berisi sebuah rekonstruksi khayali tentang sejarah setelah kejatuhan ke dalam dosa. Dan sepanjang sejarah itu Adam mendapat penglihatan tentang perkembangan sejarah Yahudi hingga zaman setelah pembuangan. Pada umumnya diberi penanggalan antara tahun 20 dan 70 M, karena tulisan itu mengandaikan Bait Suci bangunan Herodes masih ada (29:6).

Martyrdom of Isaiah adalah sebuah buku sebagian Yahudi dan sebagian Kristen dalam bahasa Etiopia. Buku ini menceritakan bagaimana yesaya dibunuh dengan digergaji kayu (bab1-5;bnd Ibr 11:37). Vision of Isaiah yang telah disisipkan ke dalam tulisan asli, jelas mencirikan tambahan Kristen, karena menceritakan tentang kemarahan iblis tentang nubuat Yesaya mengenai penyelamatan melalui Kristus, dan menyebutkan sejarah kristiani sampai zaman penghambatan Nero (3:13 ; 4:18).

Bagian buku yang dikenal sebagai Ascension of Isaiah juga bersifat Yahudi-Kristen, sebab Yesaya tidak hanya diberitahu oleh Allah tentang kedatangan Yesus, tapi juga bersaksi akan kelahiran, kematian dan kebangkitan Yesus, tapi juga bersaksi akan kelahiran, kematian dan kebangkitan Mesias yang akan datang. Penanggalannya mungkin abad 2 SM.

Tambahan lagi ada beberapa buku Yeremia palsu dan Daniel palsu dari zaman pra Kristen, yang baru saja muncul dari perpustakaan Qumran dan belum diteliti secara cermat. Tapi karya yang telah dikenal sebagai Paralipomena of Jeremiah The Prophet, jelas pengaruh Kristen. Dalam buku ini menyajikan catatan mengenai lingkungan Yeremia yang agak lebih dini. Tujuannya khusus menentang perkawinan campuran.

Kelompok Pseudepigrafa Yahudi yang jauh lebih penting ialah apokaliptik-apokaliptik, diantaranya Book of Enoch. Kitab ini adalah karya tulis gabungan, beberapa bagiannya ditulis pada kurun waktu yang berbeda-beda selama dua abad terakhir SM. bagian-bagiannya yang tertua ditulis pada zaman Makabe. Ada 5 bagian pokok dalam kitab.

Yang pertama mengenai penglihatan Henokh tentang penghakiman di masa depan, khususnya penghakiman kepada malaikat yang telah jatuh ke dalam dosa. Kedua, dikenal sebagai The Similitudes of Enoch, terdiri dari 3 perumpamaan yang pokoknya membicarakan tema tentang penghakiman atas dunia, tapi orang benar melalui harapan mesianis mempunyai jaminan keselamatan.

Ketiga, sebuah buku astronomi. Keempat, terdiri dari dua penglihatan ; satu tentang air bah dan yang satu lagi menceritakan sejarah dunia hingga zaman mesianis. Yang terakhir adalah bunga rampai dari peringatan-peringatan dan bahan-bahan lain, diantaranya yang paling penting ialah Apocalypse of Weeks, yang membagi sejarah dunia dalam 10 minggu, dimana 3 minggu terakhir bersifat apokaliptik.

Karya tulis lainnya termasuk pada kurun waktu Kristen ialah Apocalypse of Ezra (2 atau 4 Esdras). Dalam buku ini ada beberapa penglihatan yang ditunjukkan kepada Ezra di Babel, yang berkaitan dengan soal penderitaan Israel, dan ihwal itu diteruskan hingga zaman penulis sendiri (hingga kurun waktu setelah tahun 70 M, ketika persoalan itu menjadi hangat).

Rasa tidak berpengharapan yang meliputi buku ini akhirnya diringankan hanya oleh kepercayaan yang samar-samar kepada suatu zaman emas yang akan datang. Buku ini adalah hasil jerih payah yang sungguh-sungguh, tapi tak berhasil memecahkan persoalan yang mendesak. Penanggalannya kira-kira pada akhir abad pertama SM.

Pada waktu yang kira-kira sama, muncullah Apocalypse of Baruch (atau Barukh Siria), yang memiliki banyak pemikiran yang sama dengan buku yang diatas. Buku ini oleh beberapa ahli dipandang sebagai tiruan dari buku yang lebih hebat yaitu 2 Esdras. Di tengah pesimisme yang diakibatkan keruntuhan Yerusalem, bersemi harapan tipis hingga mulainya pemerintahan damai Mesianis. Zaman sekarang adalah zaman keputusasaan tanpa keringanan, ditandai oleh air laut yang amat jorok, tapi kedatangan Mesias, yang ditandai oleh petir, membawa penghiburan.

2.Kelompok Yahudi-Helenisme

Pseudepigrafa Yahudi-Helenisme yang lebih menonjol adalah tulisan-tulisan propaganda (Letter of Aristeas dan bagian-bagian dari Sibyline Oracles), sejarah legendaris (3 Makabe), filsafat (4 Makabe) dan apokaliptik (sebagian dari Slavonic Enoch, dan sebagian Greek Baruch).

Letter of Aristeas, gayanya berasal dari zaman penulisan LXX seperti diusulkan Ptolemeus II, Filadelfos, dari Mesir (285-245 SM). Ceritanya sendiri bersifat legendaris dan dalam kenyataannya ditulis oleh seorang Yahudi (kira-kira 100 SM), yang ingin memuji dan mempropagandakan hukum Taurat dan agama Yahudi kepada kaum Helenisme yang sezaman dengan dia. Buku ini adalah sebuah pembelaan agama Yahudi terhadap pencela-pencelanya dari golongan non-Yahudi.

Sekitar tahun 140 Sm seorang yahudi dari Aleksandria menghasilkan beberapa Sybiline Oracles, meniru firman-firman dewi Yunani kuno yang dianggap berasal dari Sibil, seorang nabiah kafir yang sangat dihormati oleh orang Yunani yang sezaman, juga oleh banyak orang Yahudi bahkan orang Kristen dari kurun waktu yang lebih kemudian. Tak terbilang banyaknya tambahan yang dimasukkan kepada firman dewi ini.

Dari 12 buku yang ada sebagian besar nampaknya berasal dari orang Kristen, tapi buku 3-5 pada umumnya dipandang bersifat Yahudi. Buku-buku ini khususnya adalah propaganda, memuat terutama ihwal penghakiman-penghakiman atas bangsa-bangsa non Yahudi. Dalam buku 3 muncul tinjauan ulang atas sejarah Israel zaman Salomo hingga Antiokhus Epifanes dan pengganti-penggantinya, tapi masyarakat yahudi diuntungkan oleh kedatangan mesias.

Ada himbauan khusus kepada Yunani supaya menghentikan kebaktian kafirnya, dan tujuan apologetik yang kuat ini selanjutnya nampak dalam anggapan bahwa Sibil sebenarnya adalah keturunan Nuh.

3 Makabe adalah hiasan legendaris, dirancang bagi pemuliaan orang Yahudi di Mesir pada masa pemerintahan Ptomeleus Fiskon. 4 Makabe adalah khotbah filsafati, penulisnya seorang Yahudi Helenistis yang jelas bersifat legalistis, membicarakan pengawasan nafsu-nafsu oleh akal, dan dengan ini ia memperlihatkan kecenderungannya kepada Stoa. Namun yang benar-benar dikaguminya ialah hukum Taurat Musa. Kendati tak berhasil ia telah berusaha mencari suatu sintese antara keduanya.

Secara keseluruhan, pustaka Pseudepigrafa menyinarkan terang yang menarik pada kurun waktu persiapan Injil. Kepustakaan ini ditunjuk pada zaman nabi tidak lagi berperan menyampaikan pengumuman, dan ketika penghormatan kepada hukum Taurat makin bertambah-tambah.

Zaman itu adalah zaman kebingungan dan sastra apokaliptik muncul guna mendamaikan janjinubuat dengan perjanjian sejarah mutakhir yang membawa malapetaka, dan untuk memproyeksikan pemenuhan janji-janji ini ke dalam suatu zaman yang masih harus datang. Buku-buku itu beredar luas diantara bangsa Yahudi. Beberapa penulis PB mungkin mengenal tulisan ini.

Mengenai pemakaian nama orang dari zaman-zaman lampau memang asing bagi gagasan-gagasan modern. Tapi karya tulis yang jumlahnya amat besar memakai nama orang lain membuktikan kemanfaatannya bagi zamannya, mungkin hal itu demikian demi keamanan dan guna menjamin otoritas tulisan itu semaksimal mungkin.

Banyak perbedaan dan perkembangan teologis dalam kepustakaan ini dibandingkan kurun waktu nubuat yang mendahuluinya. Secara hakiki zaman yang akan datang berbeda dari zaman sekarang. Zaman yang akan datang mempunyai asalnya sendiri yang adikodrati yang akan mengganti zaman ini, yang dipandang berada di bawah kekuasaan pengaruh-pengaruh jahat.

Ajaran tentang dua zaman ini menjadi ciri khas dari kurun waktu antar perjanjian dan mengema disana-sini di dalam PB. Perlu diperhatikan bahwa kendati ini adalah pendekatan apokaliptik kepada sejarah masa akan datang, harapan Mesianis selama kurun waktu itu tidak begitu ditonjolkan seperti sebelumnya.

Gambaran yang paling jelas terdapat dalam Book of Enoch. Disitu gagasan Mesianis lebih transedental, sejajar dengan transendentalisme yang makin bertambah-tambah dalam gagasan tentang Allah. Anan Manusia sebagai tokoh surgawi yang telah ada sebelum dilahirkan, digambarkan menghakimi bersama Allah.

Ciri lain yang mencolok dari kepustakaan ini adalah perhatian yang surut dalam hal kebangsaan yang murni dan dalam perkembangan perseorangan, disatu pihak, dan universalisme di lain pihak. Tapi barangkali sumbangan kepustakaan ini yang paling besar, ialah menentang upaya legalisme agama Yahudi yang makin bertambah-tambah, khususnya antara Farisi, sekalipun legalisme ini tidak tuntas terhapus dari banyak buku itu.

Sumber :
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid 2, p 275-277

Iklan

2 Tanggapan to “KITAB-KITAB APOKRIFA DAN PSEUDEPIGRAFA”

  1. Cierra said

    Thank you for writing “KITAB-KITAB APOKRIFA DAN PSEUDEPIGRAFA kosong” Sun Shades
    . I reallywill undoubtedly be coming back for much
    more reading through and commenting soon. Thank you, Forrest

  2. kosongan said

    ^^ sorry i am not the writer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: