kosong

berfikir untuk hidup yang lebih baik , dan beriman untuk tuhan yang benar

injil yudas

Posted by kosongan pada | 29 |Desember| 2008 |

sumber : http://republikbabi.com/injil-yudas/

Kakak saya memberikan saya kado kelulusan, dan saya memilih untuk dibelikan buku Injill Yudas. Buku ini sangat menarik untuk dibaca bagi mereka yang berpikiran terbuka dan sudah muak dengan pandangan dogmatis Vatican.

Bagi yang malas beli bukunya karena terlalu mahal atau malas membaca walau sudah punya mungkin mau membaca review ini.

Kenapa Injil Yudas ini menimbulkan kontroversi? Cukup simpel, Yudas Iskariot yang selama ini kita kenal sebagai sosok “murid terjahat” dari murid Yesus ternyata digambarkan sebagai murid yang paling mengerti ajaran Yesus sendiri.

Hal ini juga menjungkirbalikkan makna dibalik kematian Yesus. Selama ini Kristen dan Katolik mengatakan bahwa:

1. Yesus adalah anak Tuhan (huruf T besar, pencipta dunia ini, digambarkan sebagai Bapa yang baik dan berbelas kasih)
2. Yesus mati untuk menanggung dosa manusia karena Tuhan sudah murka dengan dosa-dosa manusia.

Nah, dua premis tadi sebetulnya memiliki keanehan yang luar biasa. Sebagai orang yang 15 tahun hidup di katolik dan 3 tahun hidup di kristen, saya mempertanyakan mengenai premis tersebut semenjak dulu. Mungkin beberapa dari anda juga. Misalnya, doktrin trinitas yang mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa dan juga Roh Kudus, tapi dia merupakan orang yang berbeda. Hal ini sampai sekarang tidak bisa saya mengerti. Tapi intinya ada konsep “membunuh diri sendiri” (anak – Yesus) agar “bisa dimaafkan diri sendiri” (Bapa).

Dan yang kedua. Pertanyaan yang selalu membuat orang Kristen menjadi atheis: “Kalau Tuhan maha pengasih, kenapa di dunia ini ada kesedihan? Ada ketidakadilan?”. Biasanya hal ini bisa ditangkis dengan mudah bahwa “Tuhan selain berbelas kasih, juga adil.”

Tapi semua itu terjungkirbalik jika anda membaca injil Yudas. Dalam injil Yudas, Yesus secara eksplisit mengatakan bahwa Bapa-Nya bukan pencipta dunia ini. Tuhan pencipta dunia ini adalah produk gagal, dan dia juga jahat, itu sebabnya di dunia ini banyak kesedihan dan malapetaka. Yesus sendiri adalah wujud manusia dari Kristus, dan merupakan makhluk yang lebih tinggi dari pencipta dunia ini

Menarik bukan? Disini ada pesan kuat bahwa Pencipta dunia kita bukan “Tuhan” yang maha ini itu, apalagi berbelas kasih, tapi malah… produk gagal. Tuhan pencipta dunia ini memiliki sifat ambivalen. Dia digambarkan bukan sebagai 100% baik, tapi mungkin 100% jahat.

Apa makna kematian Yesus di kayu salib? Yesus mengatakan bahwa kematiannya bukan untuk menebus dosa manusia, tapi untuk memberitahukan kebenaran pada manusia, bahwa pada saat mati, kita akan kembali ke tempat asal dunia ini tercipta, bukan “surga” yang diciptakan oleh sang pencipta dunia ini. Yesus mengatakan bahwa pada tiap manusia memiliki kesebelumpengetahuanan (foreknowledge) akan hal ini, bahwa tiap manusia juga bisa kembali ke tempat-Nya setelah mengetahui kebenaran tersebut. Tapi kebenaran ini dibuat tumpul oleh sang pencipta dunia ini.

Nah ini juga satu hal yang menarik untuk digarisbawahi. Mari kita kembali ke beberapa dekade, dan kembali ke kejatuhan manusia di taman eden. Selama ini kita hanya tahu satu interpretasi, bahwa kita manusia, tadinya adalah sesuci “Tuhan” dan “diusir” dari taman Eden karena melanggar perintahnya, karena nenek moyang kita, Adam dan Hawa memakan buah pengetahuan terlarang.

Sekarang mari kita kaji ulang cerita ini, ada poin-poin yang selama ini luput dari pemikiran kita: “Kenapa ‘Tuhan’ tidak mau manusia membedakan yang baik dan yang benar?”.

Kata “kepolosan”, “murni”, sangat tipis bedanya dengan “dungu”, atau “tidak bisa berpikir”.

Sekarang jika kita mengambil sudut pandang ini, ular yang jahat itu malah menjadi pembela kebenaran. Dia justru memberikan pengetahuan pada Adam dan Hawa yang bodoh agar tidak dibodohi “Tuhan”. Kalau selama ini anda berpikir bahwa sang ular adalah Lucifer atau iblis lainnya, pikir ulang. Bagaimana kalau ular itu adalah Kristus?

Jika kita mau berpikir objektif, semua agama pada dasarnya adalah mitologi. Tapi karena sejarahlah mereka jadi agama dan dipercaya sebagai satu kebenaran absolut. Orang Yahudi mengatakan bahwa “Tuhan” yang benar di dunia ini cuma satu, yakni “Tuhan” mereka, sang YHVH. Tapi hal ini menjadi kontradiksi pada saat agama mereka belum jadi mainstream, di berbagai belahan dunia lain juga ada tuhan-tuhan yang disembah bangsa lain.

Jika kita berpikir tuhan pun berpolitik, maka kita bisa melihat keadaan ini lebih menarik: manusia tidak tahu seluruh kebenaran, mari kita hapus kebenaran lain, dan kita ganti dengan satu kebenaran absolut. Andaikan Kekaisaran Romawi tidak menaklukan Eropa, tapi justru kekaisaran China atau Hindu yang menjadi agama mainstream, sejarah agama dunia ini, persepsi pada sang kebenaran absolut mungkin berubah.

Ini adalah salah satu kebenaran relatif yang selama ini luput dari perhatian kita. Ada banyak sekali lapisan kebenaran yang tertutup, tapi saya akan berhenti disini agar otak anda terganggu dan menjadi penasaran untuk membaca buku ini

Situs Resmi National Geographic (bisa download PDF-nya gratis)
Gospel of Judas (PDF)

sumber : http://vilaputih.wordpress.com/2010/01/16/semua-kristen-pengikut-yudas/

Orang Kristen percaya bahwa Yesus disalib untuk  menebus dosa mereka. Yang menjadi pertanyaan apakah Yesus merencanakan semua ini?.  Dalam kepercayaan umum Kristen dikatakan bahwa Yudas menghianati Yesus. Dari semua 4 Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes menyebut Yudas sebagai Penghianat.

  1. Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.(Matius 10:4)
  2. dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.(Markus 3:19)
  3. Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. (Lukas 6:16)
  4. Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu.(Yohanes 6:71)

Hampir semua 4 Injil mengatakan Yudas adalah penghianat yang menyebabkan Yesus ditangkap dan disalib untuk dibunuh. Jika memang demikian, mengapa Yudas disebut penghianat?. Bukankah tanpa dia Yesus tidak akan tersalib dan tidak ada konsep penebusan dosa?.

Terkadang hal ini menjadi sebuah bahan tertawa, karena lucu. Lucunya adalah orang-orang Kristen menganggap Yudas penghianat tetapi mereka menikmati hasil kerja Yudas. Apakah ini bukan hal yang memalukan.  Seharusnya mereka menganggap Yudas seorang pahlawan karena telah mengantarkan Yesus ke tempat Salib. Jika memang demikian pemikirannya maka tidak salah jika orang Kristen di dunia ini adalah pengikut Yudas. Jika menjadi pengikut Yudas berarti menjadi pengikut Iblis. Jadi penyaliban Yesus merupakan rencana Iblis.

  1. Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.(Yohanes 13:2)
  2. Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu.(Lukas 22:3)

Beberapa waktu yang lalu sempat beredar di toko buku mengenai Injil Yudas, meski tidak sempat membeli (gak ada duit), anda bisa mencari di Google tentang Injil Yudas. Intinya bahwa Yudas melakukan hal itu atas perintah Yesus agar Yesus disalib. Jadi dari sisi Injil Yudas, Yudas bukanlah seorang penghianat tetapi seorang pahlawan.

Itulah mengapa jika orang Kristen menggunakan moment tersalibnya Yesus untuk membentuk doktrin penebusan dosa, mereka seharusnya menggunakan Injil Yudas dalam keseharian mereka dan membuang 4 Injil (Matius, Markus, Lukas & Yohanes).

Dari sisi Islam dengan tegas dikatakan bahwa penyaliban Yesus akibat ulah murid-muridnya sendiri yang tidak setia. Yesus terlepas dari semua rencana jahat itu. Jadi Yesus tidak merencanakan apapun soal penyaliban dia.

Klaim Islam bahwa Yesus terlepas dari semua rencana jahat itu dapat diperkuat dengan beberapa ayat dalam Injil, antara lain sebagai berikut :

Dan ketika mereka sedang makan, Ia (Yesus) berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” (Matius 26:21).

Dari contoh ayat diatatas kita bisa memahami  Yesus tidak merencanakan apapun, dalam Matius 26:21 Yesus mengatakan bahwa diantara muridnya  ada yang akan menyerahkan dia. Ini bukan suatu perkataan rencana tentunya. Hal ini dapat kita lihat dari ayat selanjutnya :

  1. Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya: “Engkau telah mengatakannya.” (Matius 26:25)
  2. Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuan?” (Matius 26:25)

Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa semua murid-murid Yesus menolak dituduh akan menyerahkan Yesus. Bukankah hal ini bukti bahwa tiada rencana dari Yesus?. Apalagi jika kita membaca ayat selanjutnya.

Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Matius 26:24)

Lihatlah ayat ini (Matius 26:24) Anak mausia memang akan pergi maksudnya bahwa semua manusia pasti akan mati, tetapi  Yesus mengatakan “Celakalah orang yang menyerahkan dirinya untuk disalib?”. Itulah mengapa saat disalib Yesus berteriak  seolah tidak terima:

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46 – Markus 15:34)

Artikel Sebelumnya :

Kejahatan Murid-murid Yesus

BY WEDUL SHERENIAN

sumber : http://portal.sarapanpagi.org/info-buku/mengapa-kristen-tidak-peduli-the-gospel-of-judas.html

Dusta berkepanjangan

Buku The Gospel Of Judas ini dimaksudkan sebagai buku intelektual yang memperkenalkan naskah-naskah kuno yang telah lama hilang kepada masyarakat pada mas a ini. Para penulisnya adalah orang-orang yang sangat terpelajar, dan ahli di bidang ilmu papirologi dan paleography. Mereka telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam menentukan tahun penulisan naskah-naskah dan menerjemahkannya, tetapi sayang, nampaknya mereka kurang berhasil dalam hal sejarah.

Mereka menyatakan bahwa “injil” Yudas yang ditemukan di NagHamadi dapat dipercaya sama seperti Injil-injil Perjanjian Baru, tetapi melalui perkataan mereka yang diambil langsung dari buku The Gospel of Judas menunjukkan bahwa mereka sendiri tidak terlalu meyakini akan apa yang mereka hendak katakan.

Nampaknya mereka tidak tertarik pada kebenaran sesungguhnya. Untuk itulah saya menulis buku ini. Buku ini.

DAFTAR ISI :

I. LATAR BELAKANG “INJIL” YUDAS

II. PENGAJARAN GNOSTIK SETHIANISME “INJIL” YUDAS

III. REAKSI DARI KAUM SEKULARIS DAN UMAT KRISTEN

IV. YUDAS BUKANLAH PENULIS “INJIL” YUDAS

V. DUSTA YANG BERKEPANJANGAN

VI. MENGAPA ORANG KRISTEN TIDAK PEDULI “INJIL” YUDAS?

VII. KITAB SUCI TIDAK PERNAH DIPILIH, KITAB SUCI MEMILIH DIRINYA SENDIRI

VIII. KAPAN INJIL-INJIL GNOSTIK PERNAH DIANGGAP SEBAGAI KITAB SUCI?

IX. NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU

X. FRAGMEN-FRAGMEN PERJANJIAN BARU

XI. KESIMPULAN

—————

I. LATAR BELAKANG “INJIL” YUDAS

Umat Kristen telah mengetahui sejak lama tentang keberadaan “injil-injil lain”; ini bukanlah hal baru yang mengejutkan. Pada tahun 180 M, Iraneus telah menulis argumentasi untuk menentang injil-injil tersebut. Tetapi sampai tahun 1945, ketika naskah NagHamadi ditemukan, kita yang hidup pada zaman ini baru mendengamya karena sebelumnya naskah-naskah itu telah menghilang untuk waktu yang cukup lama. Di tahun 1945, beberapa orang lokal dari Nag Hamadi, di Mesir, menemukan 13 kodeks tua (buku kuno) yang berisi tentang 50 teks dari agama kuno yang disebut sebagai “Gnostik” diantaranya ada beberapa “Injil-injil” yang telah ditentang oleh Iraneus dan umat Kristen pada tahun 180 M.

“Injil” Yudas (seharusnya saya sebut sebagai injil-pseudo/ injil palsu) tidak ditemukan diantara ‘injil-injil’ yang ditemukan di NagHamadi. Herbert Krosney, dalam bukunya yang berjudul “The Lost Gospel” mengatakan bahwa “injil” Yudas ditemukan sekitar tahun 1970-an, oleh beberapa penduduk asli Mesir yang tinggal di dekat sungai Nil di dalam gua yang terkubur. Kemudian naskah muncul di perdagangan barang antik. Sebagian telah diperbaiki, dipelihara dan diterjemahkan. Naskah ini bersama sebagian besar teks Naghamadi lainnya, merupakan bagian dari kitab-kitab yang disebut sebagai injil Gnostik. Tulisan dari naskah-naskah kuno ini dianalisa. Dari kertas dan tintanya para ahli mencoba mencari tahu usia dari naskah-naskah itu. Para ahli yakin bahwa salinan naskah-naskah itu berasal dari tahun 300 M. Tetapi karena Iraneus telah menulis sesuatu untuk menentang ini, maka kita dapat mengetahui bahwa naskah aslinya ditulis sebelum tahun 180 M, mung kin sekitar tahun 150 M.

Kata “Gnostik” berasal dari bahasa Yunani, gnosis yang artinya pengetahuan [1]. Secara umum kaum Gnostik, sebutan yang biasa mereka pakai, percaya bahwa jawaban untuk masalah manusia dapat ditemukan secara khusus. Ini merupakan rahasia pengetahuan dimana hanya orang-orang khusus saja yang dapat meraihnya. Ada banyak jenis pengajaran Gnostik, tetapi pada dasarnya itu merupakan pengajaran yang menggabungkan filsafat Yunani dengan mistik Barat.

Gnostik mengajarkan bahwa dunia telah diciptakan oleh dewa yang jahat, dewa yang lebih rendah, seorang malaikat atau setengah dewa. Dewa yang lebih tinggi itu tinggal di dalam suatu pribadi yang disebut Barbello, yang nampaknya merupakan “Ibu dari surga”. Dewa yang lebih tinggi itu adalah dewa yang baik, yang menghasilkan dirinya sendiri. “Autogenes” dia adalah allah dari roh-roh. Jadi, pada inti pengajarannya adalah roh itu baik, materi itu jahat. Mereka juga mempunyai beberapa dewa kecil lain yang disebut sebagai aeons.

Karena mereka percaya bahwa roh itu baik dan materi itu jahat, maka mereka berpikir bahwa semua manusia jahat adanya, sehingga terkadang mereka menentang adanya perkawinan dan melahirkan anak. Mereka berpendapat bahwa tujuan kita seharusnya untuk menyatukan kembali diri kita dengan keberadaan terang, atau roh, atau energi. Seseorang seharusnya mencoba untuk membebaskan roh mereka dari tubuh jasmani melalui perenungan yang dalam, refleksi, atau meditasi.

Kapan dimulainya injil Gnostik masih merupakan pertanyaan. T api satu hal yang kita tahu pasti adalah selama abad ke – 2, ketika umat Kristen mulai menyebarkan Injil ten tang Yesus di daerah Romawi, Gnostik menjadi salah satu pesaing terberat Kekristenan. Beberapa orang Yahudi, Roma, dan Yunani menjadi orang Kristen, yang lainnya menjadi Gnostik. Ada juga kelompok yang ingin menggabungkan Gnostik dan Kekristenan dan hasilnya adalah injil-injil Gnostik. T etapi masalah terbesarnya adalah injil-injil Gnostik yang ditemukan di NagHamadi, dan juga “injil” yudas’ memakai nama-nama para Rasul, dan berbicara mengenai tokoh-tokoh di dalam Alkitab. Jadi, jika mereka tidak ada hubungan dengan Kekristenan, seperti yang kita katakan, lalu bagaimana mereka dapat menggunakan thema-thema Kristen?

Alasannya adalah pada abad pertama, tidak ada seorangpun yang dengan mudah dapat menulis sebuah buku mengenai Yesus dan menaruh nama seorang Rasul di dalamnya. Pad a mas a itu para Rasul masih hidup dan akan menentang buku tersebut. Sehingga setiap pemalsu seperti itu tidak akan dapat menjaga kredibilitasnya untuk waktu yang lama, khususnya jika mereka menulis sesuatu yang bertentangan dengan semua buku dan surat yang telah ditulis oleh para Rasul. Sedangkan pada abad ke-2, ketika para Rasul sudah tiada, ada kesempatan besar bagi mereka yang ingin menggabungkan pengajaran Kristen dengan Gnostik, dan beberapa orang memang melakukannya. Pada saat itulah injil-injil Gnostik ini mulai muncul.

Setelah kita melihat latarbelakangnya, sekarang marilah kita menyelam lebih dalam dan lebih mendetail. Pertama-pertama kita lihat perbedaan yang ada di antara kedua pengajaran ini.

————————

Catatan :

[1] Lihat artikel GNOSTIK, di http://www.sarapanpagi.org/gnostik-vt332.html#p721

GNOSTIK

Gnostik (Yunani. gnosis, harfiah : pengetahuan). Secara tradisional mengacu pada ajaran sesat yang aktif bergerak pada abad 2 sM, yang tegas ditolak oleh gereja. Tapi sejak abad 20 ini istilah Gnostik digunakan secara luas terhadap bentuk-bentuk kepercayaan agama apa saja, dimana dualisme dan penguasaan pengetahuan adalah penting; sebab itu agama Soroaster, ajaran Mandae, sastra Hermes, Gulungan Laut Mati dan PB pun dicap sebagai ‘gnostis’.

Penggunaan istilah itu sedemikian rupa menyebabkab cakupannya terlalu luas dan terlalu berubah-ubah sehingga sukar dinalar. Tetapi karena istilah gnostik – oleh persetujuan bersama – dapat digunakan bagi bidat-bidat Kristen tertentu, penggunaannya itu dapat dijadikan patokan dalam menentukan segi-seginya yang khas. Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan besar dalam isi intelektual dan moral, dan dalam hal dekatnya dengan pusat Kekristenan, adalah mungkin menemukan di dalam ajaran bidat ini beberapa gagasan yang umum. Bapa-bapa gereja, lawan-lawan Gnostik itu, dengan leluasa mengutip tulisan-tulisan Gnostik, dan penemuan-penemuan yang baru misalnya di Chenoboskion memberi kesan bahwa bapa-bapa Gereja itu, disamping tajam terhadap ajaran-ajaran Gnostik, mereka juga memahami ajaran tentang Gnostik itu.

I. SIFAT-SIFATNYA

Dasar pikiran Gnostik adalah pengetahuan; yaitu memiliki rahasia-rahasia yang akhirnya dapat menjamin kesatuan jiwa dengan Tuhan. Jadi, tujuan pengetahuan adalah keselamatan, meliputi penyucian dan kekekalan, dan dibuat dalam kerangka yang bertalian dengan konsepsi filsafat, mitologi, atau astrologi yang kontemporer; Unsur-unsur yang berbeda itu berlaku dalam sistem-sistem yang berbeda. Dalam hal ini pemisahal Allah mutlak dari zat (menurut dogma Yunani, zat mempunyai pembawaan anasir jahat) diterima, dan drama penyelamatan diperankan oleh banyak makhluk perantara.
Jiwa dari manusia yang dapat diselamatkan adalah suatu percikan dari keilahian yang terkurung dalam tubuh; penyelamatan berarti kelepasan jiwa dari kecemaran badaniah, dan penyerapannya ke dalam Sumbernya.

Hampir setiap doktrin utama Kristen menentang pemikiran seperti itu. Pandangan mitologis tentang penyelamatan tidak mempunyai kaitan hubungan dengan PL (yang ditolak atau diabaikan), dan mengurangi pengertian dari fakta-fakta historis tentang jabatan pelayanan, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Dan pandangan tentang Allah dan manusia yang dinyatakan Gnostik sering menuntun pada penyangkalan terhadap kenyataan penderitaan kristus, dan kadang-kadang juga terhadap inkarnasi. Penciptaan adalah sesuatu yang kebetulan, suatu kesalahan, bahkan suatu tindakan kedengkian dari sesuatu yang anti-allah.

Kebangkitan dan pengadilan diartikan kembali untuk memperhalus ‘kekasaran’ mereka. Dosa menjadi suatu pencemaran yang dapat ditanggalkan; Gereja diganti dengan suatu perkumpulan orang-orang yang memiliki kelimpahan intelektual dan spiritual khusus (illuminati) yang memiliki rahasia-rahasia yang tersembunyi dari orang-orang yang belum ‘diterangi’ yang menyatakan mengakui Penyelamat yang sama. Etika dipusatkan pada ihwal mempertahankan kesucian atau kemurnian; hal itu sering berarti penolakan nafsu seksual dan keinginan-keinginan badaniah lainnya, tetapi sering juga berarti (atas alasan yang sama) kegemaran yang tidak terkendalikan.

II. PERKEMBANGANNYA

Sinkretisme dan penyesuaian diri adalah ini Gnostik. Utang – sangat tidak langsung – kepada filsafat Yunani adalah nyata, namun Gnostik adalah lebih daripada ’pen-yunani-an (helenisasi) penuh dari Kekristenan’. Sebelum kedatangan Kristus, kebatinan dari Timur, asketisme, dan astrologi telah masuk ke dalam dunia Yunani-Romawi yang dirasuki oleh ketakutan terhadap kematian. Dan pada waktu itu terjadilah ‘Kegagalan Semangat’ (‘The failure of nerve’, Reff : Gilbert Murray, Five Stages of Greek Raligion, c. 4) .
Rasionalisme yang begitu berani menyerah pada usaha mencari keselamatan. Bentuk-bentuk pemikiran yang memberi ciri kepada banyak bidat Kristen dapat dilihat dalam beberapa agama Yunani (helenistik) sebelum Kristen.

Dikemukakanbahwa pemikiran keagamaan Gnostik timbul dan dipengaruhi oleh unsur-unsur Yunani dan Timur, sebagai perangsang atau pemancar, dari diaspora (penyebaran Yudaisme). Dukungan terhadap gagasan ini telah diambil dari dokumen-dokumen Chenoboskion. Walaupun hal ini tidak pasti, namun perlu diperhatikan bahwa bagian terbesar ajaran-ajaran berbentuk Gnostik yang disebut dalam PB (lihat dibawah ini) mempunyai unsur-unsur Yudaisme, bahwa jemaat-jemaat Kristen purba seringkali adalah orang-orang yang mewarisi rumah ibadah (sinagoge) Penyebaran, dan bahwa para Bapa Gereja melihat bidat-bidat itu hampir sebagai turunan dari Simon Magus.

Ada pula ahli yang memandang Kekristenan sebagai sudah menafsirkan kembali suatu bualan Penyelamatan Gnostik (misalnya R Bultmann, dalam bukunya : Primitive Christianity in its Contemporary Setting, p 167 ), tapi belum diperlihatkan bualan sedemikian itu adalah bagian yang integral dari pemandangan Gnostik sebelum Kristus; juga dokumen Mandean (anggota sekte Gnostik purba) atau sekte-sekte ’babtis’ Palestina yang primitif, karena mereka telah memperoleh pengaruh-pengaruh kemudian yang lebih kuat.

III. GNOSTIK DALAM PERJANJIAN BARU (PB)

“Bidat Kolose” menggabungkan spekulasi-spekulasi filosofis, kuasa perbintangan, ketakutan pada malaikat-malaikat perantara, tabu terhadap makanan, dan praktik-praktik bertapa, dengan unsur-unsur yang dipinjam dari Yudaisme (Kolose 2:8-23). Surat-surat penggembalaan mencela pengajaran yang dicampurkan dengan mitologi dan silsilah ,1 Timotius 4:3 dab ; ’Dongeng-dongeng Yahudi’ Titus 1:14; Spiritualisasi dari kebangkitan, 2 Timotius 2:18; dan disertai dengan moral yang rusak, 2 Timotius 3:5-; 7.Semuanya apa yang disebut pengetahuan (Gnosis) dalam 1 Timotius 6:20.

Bidat yang berbahaya yang ditentang dalam surat-surat Yohanes ( 1 Yohanes 4:3; 2 Yohanes 1:7), mengenai guru-guru palsu di Asia, ungkapan yang berbunyi Gnostik ‘seluk beluk Iblis’ digunakan dalam Wahyu 2:24.

Beberapa diantara ciri kehidupan gereja di Korintus yang kurang memuaskan, memantulkan istilah-istilah dan gagasan yang lain mempersoalkan pernikahan (1 Korintus 6:13 dst sampai pasal 7) dan menyangkal kenyataan kebangkitan ( 1 Korintus 15:12).
Hal hal ini hanyalah berupa gejala-gejala; tidak merupakan suatu sistem; tapi memperlihatkan sarata tempat sistem-sistem Gnostik bertumbuh subur. Dan Paulus dalam menjawab mereka memakai perbendaharaan kata yang digunakan dalam Gnostik dan ‘membersihkan’-nya ( 1 Korintus 2:6 dst); Demikian juga Paulus merombak gagasan Gnostik tentang suatu pleroma (penuh/kepenuhan) makhluk-makhluk perantara dengan menyatakan bahwa seluruh pleroma adalah dalam Kristus (Kolose 1:19).

Hal memakai istilah-istilah keagamaan saman itu, yanga dalah khas dalam PB, terkait dengan mereka yang mengertinya tanpa menyerahkan sesuatu apapun kepada pemikiran yang non-alkitabiah. Kerangka pemikiran PB nbaik tentang hal pemilihan, atau pengetahuan tentang Allah, atau tentang Firman, atau tentang penyelamat – diberikan oleh pernyataan PL, darimana istilah-istilah itu berasal.

Gnostik dengan unsur-unsur Yunani, unsur-unsur Timur, dan unsur-unsur Yahudi, apakah itu dilihat sebagai agama dunia ataupun hanya kecenderungan terhadapnya, adalah tetap agama kafir. Ia melekat bagaikan parasit terhadap kekristenan, dan mengambil bentuk-bentuk tertentu dengan menyedot makanan daripadanya. Ia ingin mencapai sasaran Kristen dengan cara kafir. Dan pada akhirnya Kekristenan harus memilih antara Injil atau terpengaruh Gnosis dan menjadi Gnostik.

Kepustakaan,

W Foerster, Gnosis, a selection of Genostic TextI, Patristis Evidence, 1972; II, Coptic and Mandaic Source, 1974.
JM Robinson, The Nag Hammadi Library in English, 1977
DM Scholer, Nag Hammady Bibliography, 1971, etc.
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid I, p. 333-335.

sumber : http://www.sarapanpagi.org/injil-yudas-khasanah-gnostik-yang-menggemparkan-vt334.html

INJIL YUDAS
& Khasanah Gnostik yang Menggemparkan

PENDAHULUAN

Ditengah-tengah ramainya kontroversi soal buku The Da Vinci Code sejak terbitnya di tahun 2003, dan di ketika buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan terbit pada medio tahun 2004 dan kemudian ramai lagi dengan dirilisnya film itu pada bulan Mei 2006, dunia diramaikan lagi dengan dilontarkannya isu Injil Yudas oleh National Geographic, maka tidak disangkal bahwa novel The Da Vinci Code telah berhasil mendongkrak perhatian orang pada Injil-Injil Gnostik.

Injil Yudas mulai dikenal khalayak ramai ketika situs web National Geographic memuat liputan panjang soal Injil Yudas. Liputan mana juga difilmkan dan diputar melalui media TV, dan kemudian pada bulan berikutnya dimuat dalam versi cetak dan menjadi cover story majalah National Geographic – May 2006 dan versi laporan Indonesianya dimuat dalam edisi National Geographic – Juni 2006. Akhirnya Injil Yudas diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris (April 2006) dan terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia dan dirilis pada tanggal 29 Juni 2006 bersama dengan buku ‘The Lost Gospel’ (Injil yang Terhilang) yang bercerita sekitar Injil Yudas.

Sekalipun isi Injil Yudas cukup kontroversial, kepopulerannya kalah oleh promosi buku novel The Da Vinci Code yang sudah lebih dahulu populer dan yang filmnya dirilis bersamaan dengan dirilisnya berita tentang Injil Yudas, sehingga Injil ini tidak mendapat sambutan sehebat The Da Vinci Code. Namun dengan terbitnya terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, tidak dapat dihindari buku ‘Injil’ ini akan menimbulkan pertanyaan juga ditujukan kepada umat Kristen. Dalam hal inilah gereja yang sadar akan tanggung jawabnya dalam membina umatnya dituntut untuk memberi pengertian kepada jemaatnya agar mampu memberi jawab kepada mereka yang tertarik isi buku Injil Yudas.

DARI NAG HAMADI KE EL-MINYA

Khasanah Gnostik adalah kumpulan tulisan yang dijilid (kodeks) dalam bahasa koptik yang ditemukan di Mesir di perpustakaan Chenoboskion yang lebih dikenal di lokasi Nag Hamadi di tepi sungai Nil di Mesir. Penemuan itu terjadi pada tahun 1945 dan kemudian baru pada tahun 1957 dikenal luas setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Perpustakaan itu berasal dari abad-3-4M dan berisi tulisan-tulisan berfaham Gnostik, sedangkan kita mengetahui bahwa faham Gnostik baru berkembang sekitar abad-2-3M di sekitar Palestina.

Dalam khasanah Gnostik di Nag Hamadi terkumpul sebanyak 13 kodeks papirus yang dijilid dengan sampul kulit (perkamen) dan seluruhnya terdiri dari 52 traktat Gnostik, termasuk 3 karya Corpus Hermeticum dan terjemahan karya Plato ‘Republik.’ Setelah melalui berbagai tangan di pasar gelap barang antik, sebagian besar khasanah Gnostik itu akhirnya terkumpul dan disimpan di Museum Koptik di Kairo, Mesir.

Dari khasanah Gnostik itu, 5 diantaranya disebut Injil, yang memuat percakapan-percakapan tentang Yesus yaitu Injil Thomas, Injil Filipus, Injil Maria, Injil Mesir, dan Injil Kebenaran. Dari kelima Injil itu, Injil Thomas-lah yang paling terkenal karena ditemukan dalam naskah lengkap, dan Injil inilah yang paling diminati para penganut Jesus Seminar dan dianggap sebagai Injil Kelima.

Injil Gnostik lainnya yang ditemukan kemudian di El-Minya, kira-kira 300 KM disebelah utara Nag Hamadi, pada tahun 1970-an adalah Injil Yudas.

Injil-Injil ini tidak ada satu pun yang sesuai dengan Injil Perjanjian Baru dari abad-1M. Ciri khas dari Injil gnostik adalah percakapan antara Yesus ilahi yang bangkit dengan murid-murid-Nya dimana ajaran gnostik diajarkan di dalamnya.

FAHAM GNOSTIK

Khasanah atau pustaka Gnostik dimiliki komunitas Gnostik di Mesir waktu itu yang mungkin karena adanya tentangan karya-karya tulis mereka disembunyikan. Ajaran Gnostik adalah ajaran mistik esoterik yang kemudian dipercayai secara sinkretis dengan kekristenan oleh para pengikutnya. Gnostik berasal dari bahasa yunani ‘Gnosis’ yang artinya ‘pengetahuan rahasia’ yang diungkapkan kepada manusia. Aliran gnostik menawarkan pengetahuan rahasia mengenai realita ilahi. Percikan atau benih ilahi yang baik itu jatuh dari realitas yang transenden ke dua materi yang jahat, dan terpenjara dalam tubuh manusia. Dibangunkan oleh pengetahuan rahasia, percikan api ilahi itu dapat kembali ke dunia dimana dia sebenarnya berasal yaitu dunia spiritual yang transenden.

Bagi para pengikut gnostik, ada sumber kebaikan tertinggi yang disebut pikiran Ilahi yang esa yang berada dialam spiritual diluar alam materi ini yang pada dasarnya baik. Pikiran ilahi yang lebih rendah dipancarkan keluar dari sumber itu secara bertingkat. Yang terakhir dari seri pancaran itu adalah ‘Sophia’ (hikmat) yang mengandung keinginan untuk mengetahui sumber kebaikan yang tidak diketahui itu. Keinginan ini menghasilkan bayangan ilahi yang cacat dan jahat atau ‘Demiurge’ yang diyakini sebagai yang menciptakan alam semesta. Percikan ilahi yang mendiami manusia jatuh ke alam materi untuk membebaskan kemanusiaan. Orang-orang Gnostik menganggap demiurge sebagai Allah Perjanjian Lama yang menciptakan langit dan bumi untuk memelihara kemanusiaan dari keinginan mereka kembali kepada sumbernya.

Graham Stanton, ahli Perjanjian Baru Inggeris merumuskan keyakinan Gnostik Kristen secara sederhana sebagai:
“dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Yahweh), dan yang berbalikan dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar.” (Gospel Truth? hlm.87).

Manusia sebagai keturunan Ilahi yang esa itu memiliki percikan kekuatan Ilahi itu, namun ia terkurung dalam penjara tubuh materi. Berbeda dengan kepercayaan Kristen, gnostik mengajarkan bahwa setiap orang bisa berhubungan dengan pikiran Ilahi itu dan keselamatan terletak dalam membangunkan percikan api Ilahi itu dan kembali menyatu kedalam pikiran Ilahi (pandangan mistik/kebatinan). Untuk mencapainya dibutuhkan seorang pembimbing rohani yang dikalangan gnostik-kristen disebut Kristus.

Bagi Gnostik, Kristus mengajarkan ucapan-ucapan rahasia sehingga mereka yang mengerti bisa mencapai ke’Ilahi’annya sama seperti Kristus. Bagi mereka, Kristus, roh Yesus yang ilahi mendiami tubuh manusia Yesus, dan Yesus yang ilahi tidak mati disalib tetapi dinaikkan ke realita ilahi dimana Ia semula berasal. Karena itu pengikut Gnostik menolak penderitaan dan kematian Yesus yang menebus manusia dan kebangkitan tubuh.

INJIL YUDAS

Injil Yudas ditemukan dalam bentuk papirus diantara tahun 1950-60 dilokasi Muhafazat El Minya, 300 Km disebelah utara ‘Nag Hamadi’ (yang pada tahun 1945 ditemukan pustaka Gnostik koptik termasuk Injil Thomas). Menurut perhitungan waktu radiokarbon, papirus itu ditaksir berasal dari tahun 220-340, dan ada yang menyimpulkan sebagai terjemahan dari naskah asli bahasa Yunani dari tahun 130-180. Yang jelas, sekalipun disebut berjudul Injil Yudas, Injil itu tidak mengklaim diri sebagai ditulis oleh Yudas (Iskariot).

Injil Yudas mulai menarik perhatian pada tahun 1970 ketika dicuri keluar Mesir dan kemudian muncul ke pasar antik Jenewa pada tahun 1983, dan mulai diperkenalkan pada konperensi Koptik di Paris pada 2004. Setahun kemudian diberitakan bahwa naskah itu akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Perancis dan Jerman. Pada tahun 1999 baru diketahui sebanyak 26 halaman, kemudian berangsur-angsur dapat dikumpulkan dua-pertiga dari naskah lengkap 62 halaman itu pada awal tahun 2006. Pada bulan April 2006, National Geographic mengumumkan selesainya terjemahan Injil Yudas ke dalam bahasa Inggeris.

Memang, dalam catatan sejarah gereja, Irenius dari Lyons pernah menyebut mengenai Injil Yudas sebagai sejarah fiktif dalam tulisannya ‘Adversus Haereses’ (180) yang kemudian dikutip oleh Origenes dalam tulisannya ‘De Stromateis’ (230). Pada tahun 375, Epiphanes, uskup Salamis, juga menolak Injil Yudas. Apakah Injil Yudas yang disebutkan oleh Irenius, Origenes dan Epiphanes sama dengan Injil Yudas yang baru ditemukan itu memang tidak pasti, yang jelas Irenius menyebut Injil Yudas yang disebutnya sebagai sesat karena tidak merupakan fakta sejarah dan mengandung ajaran Gnostik ini dikuatkan oleh Origenes dan Epiphanes. Bila perkiraan perhitungan waktu penulisan Injil Yudas baru itu benar, mungkin Injil Yudas itulah yang dimaksudkan oleh Irenius.

Isi dari Injil Yudas memang bersifat gnostik sama halnya dengan tulisan-tulisan yang ditemukan dalam pustaka Gnostik di Nag Hamadi. Bagi Gnostik memang kematian Yesus diatas salib sebagai penebus tidak ada artinya, itulah sebabnya dalam Injil Yudas kesan Yesus sebagai korban yang disalibkan menjadi kabur dan Yudas dijadikan pahlawan. Injil Yudas diawali kalimat berbunyi: “Isi Rahasia Wahyu yang dikatakan Yesus dalam percakapannya dengan Yudas,” dan rahasia itu juga mengungkapkan bahwa yang dimengerti para murid Yesus selama ini salah arah.

Kita akan segera mengetahui bahwa isi Injil Yudas bertentangan dengan yang selama ini diketahui umat Kristen melalui data ke-4 Injil. Dimana disebutkan bahwa:

“Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas rasul itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang diantara kamu akan menyerahkan Aku”.” (Matius 26:20-21)

Ucapan Yesus dalam ayat diatas pada waktu Perjamuan Malam merupakan sub-tema yang digunakan Leonardo Da Vinci untuk melukis lukisan yang terkenal bertema ‘Last Supper.’ Sikap dan posisi para murid dalam lukisan itu memang merupakan reaksi atas ucapan Yesus di atas. Dalam lukisan itu digambarkan dengan jelas reaksi tiga murid terdekat dikiri Yesus dan tiga murid di kanan Yesus. Di sebelah kiri Yesus, Thomas digambarkan mengacungkan tangan meragukan ucapan Yesus itu, Yakobus merentangkan tangan menolak ucapan itu, dan Filipus meletakkan kedua tangan didadanya menunjukkan devosinya. Di sebelah kanan Yesus, Yohanes tersentak mendengar ucapan Yesus itu dan mendengarkan reaksi keras Petrus yang marah dan ingin membela Yesus, dan terlihat Yudas dengan wajah dalam kegelapan terperanjat dan badannya condong ke belakang sambil menyekap pundi-pundi uang suap yang telah diterimanya.

Sejak itu Yudas memang menjadi tokoh antagonis yang dianggap penghianat dan yang menyerahkan Yesus untuk disalib, apalagi mengenainya Yesus pernah berkata “celakah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Markus 14:21). Semua label negatip ini melekat dalam diri Yudas dan menjadi anggapan umum tradisi gereja selama dua milenium. Maka, kalau sekarang ada yang melontarkan data bahwa sebenanya situasinya berbeda dengan itu, maka ramailah mass-media mengakomodasi gossip baru itu.

National Geographic dalam edisi situsnya diinternet April 2006 mencuatkan tema ‘The Judas Gospel’ kemudian tema ini dijadikan cover-story edisi majalah National Geographic, May 2006, maka ramailah mass-media mengelu-elukan gosip baru setelah selama beberapa tahun terakhir dunia diresapi gosip dengan terbitnya buku dan film ‘The Da Vinci Code.’ Apakah ‘The Judas Gospel’ itu?

Yang jelas, isi Injil Yudas berbalikkan dengan berita Injil yang selama ini dipercayai gereja, misalnya ucapan Yesus yang mengingatkan para muridnya bahwa “mereka selama ini salah jalan.” Dalam injil ini, Yudas digambarkan secara positif sebagai murid yang paling disukai Yesus, setia dan taat akan perintah Yesus dan bukan sebagai seseorang yang menyerahkan Yesus. Yesuslah yang menyuruh Yudas untuk menyerahkan diri-Nya. Injil ini tidak mengklaim bahwa para murid lainnya setuju dengan pemikirannya, tetapi inti Injil ini menyebutkan bahwa para murid Yesus lainnya belum mengerti Injil yang benar yang hanya diajarkan oleh Yesus secara rahasia kepada Yudas. Itulah sebabnya ada gambaran dalam ‘Injil Yudas’ bahwa ia mati karena dilempari batu oleh murid-murid lainnya. Dalam beberapa kesempatan Yesus disebutkan mengkritik para muridnya akan ketidak acuhan mereka.

Akhir Kata
Injil Yudas menyebut bahwa hanya pada Yudas diceritakan rahasia yang benar sedangkan pada murid lainnya tidak. Ini tentu berlawanan dengan Injil-Injil dan naskah Gnostik lainnya (a.l. Injil Thomas, Filipus, Yakobus, Yohanes, dan Petrus) yang dianggap ditulis para rasul lainnya yang semuanya menceritakan rahasia Yesus juga.

Oleh para penerjemahnya Injil Yudas diharapkan menjadi kejutan baru yang melawan ajaran gereja tradisional, namun rupanya sejak awalnya kehadiran Injil ini memang kurang dipandang berarti, apalagi kehadirannya bertepatan dengan kembali populernya kejutan buku dan terutama film ‘The Da Vinci Code’ yang dirilis di festival film Cannes pada tanggal 19 Mei 2006 sehingga kehadiran berita mengenai Injil Yudas meredup. Entah apa yang akan terjadi kalau ‘Injil Yudas’ terjemahan Indonesianya terbit. Namun, dibalik semua itu, umat Kristen juga tidak perlu terkejut dengan kehadiran Injil Yudas yang berkembang dalam jemaat Gnostik itu.

Disalin dari : Yabina Ministry/ Herlianto


INJIL YUDAS Menggugat Yesus Injil Kanonik

PENDAHULUAN

Ditengah-tengah ramainya kontroversi soal buku The Da Vinci Code sejak terbitnya di tahun 2003, dan di ketika buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan terbit pada medio tahun 2004 dan kemudian ramai lagi dengan dirilisnya film itu pada bulan Mei 2006, dunia diramaikan lagi dengan dilontarkannya isu Injil Yudas oleh National Geographic Society, maka tidak disangkal bahwa novel The Da Vinci Code telah berhasil mendongkrak perhatian orang pada Injil-Injil Gnostik.

Injil Yudas mulai dikenal khalayak ramai ketika situs web National Geographic Society memuat liputan panjang soal Injil Yudas. Liputan mana juga difilmkan dan diputar melalui media TV, dan kemudian pada bulan berikutnya dimuat dalam versi cetak dan menjadi cover story majalah National Geographic – May 2006 dan versi laporan Indonesianya dimuat dalam edisi National Geographic – Juni 2006. Akhirnya Injil Yudas diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris (April 2006) dan terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia dan dirilis pada tanggal 29 Juni 2006.

Dari Nag Hamadi ke El-Minya

Khasanah Gnostik adalah kumpulan tulisan yang dijilid (kodeks) dalam bahasa koptik yang ditemukan di Mesir di lokasi Nag Hamadi di tepi sungai Nil di Mesir. Penemuan itu terjadi pada tahun 1945 dan kemudian baru pada tahun 1957 dikenal luas setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Perpustakaan itu berasal dari abad-3-4M dan berisi tulisan-tulisan berfaham Gnostik, faham Gnostik baru berkembang sekitar abad-2-3M di sekitar Palestina.

Dalam khasanah Gnostik di Nag Hamadi terkumpul sebanyak 13 kodeks papirus yang dijilid dengan sampul kulit (perkamen) dan seluruhnya terdiri dari 52 traktat Gnostik, termasuk 3 karya Corpus Hermeticum dan terjemahan karya Plato ‘Republik.’ Setelah melalui berbagai tangan di pasar gelap barang antik, sebagian besar khasanah Gnostik itu akhirnya terkumpul dan disimpan di Museum Koptik di Kairo, Mesir.

Dari khasanah Gnostik itu, 5 diantaranya disebut Injil, yang memuat percakapan-percakapan tentang Yesus yaitu Injil Thomas, Injil Filipus, Injil Mesir, dan Injil Kebenaran. Dari kelima Injil itu, Injil Thomas-lah yang paling terkenal karena ditemukan dalam naskah lengkap, dan Injil inilah yang paling diminati para penganut Jesus Seminar dan dianggap sebagai Injil Kelima. Tiga fragmen Injil Maria Magdalena semula ditemukan di tahun 1898 yang kemudian dipublikasikan pada tahun 1938 dan disusul dua lainnya pada tahun 1955 31n 1983. Injil Gnostik lainnya yang ditemukan kemudian di El-Minya, kira-kira 300 KM disebelah utara Nag Hamadi, pada tahun 1970-an adalah Injil Yudas.

Injil-Injil ini tidak ada satu pun yang sesuai dengan Injil Perjanjian Baru dari abad-1M. Ciri khas dari Injil gnostik adalah percakapan antara Yesus ilahi yang bangkit dengan murid-murid-Nya dimana ajaran gnostik diajarkan di dalamnya.

Faham Gnostik

Khasanah Gnostik dimiliki komunitas Gnostik di Mesir waktu itu yang mungkin karena adanya tentangan disembunyikan. Ajaran Gnostik adalah ajaran mistik esoterik yang kemudian dipercayai secara sinkretis dengan kekristenan oleh para pengikutnya. Gnostik berasal dari bahasa yunani ‘Gnosis’ yang artinya ‘pengetahuan rahasia’ yang diungkapkan kepada manusia. Aliran gnostik menawarkan pengetahuan rahasia mengenai realita ilahi. Percikan atau benih ilahi yang baik itu jatuh dari realitas yang transenden ke dunia materi yang jahat, dan terpenjara dalam tubuh manusia. Dibangunkan oleh pengetahuan rahasia, percikan api ilahi itu dapat kembali ke dunia dimana dia sebenarnya berasal yaitu dunia spiritual yang transenden.

Bagi para pengikut gnostik, ada sumber kebaikan tertinggi yang disebut pikiran Ilahi yang esa yang berada dialam spiritual diluar alam materi ini yang pada dasarnya baik. Pikiran ilahi yang lebih rendah dipancarkan keluar dari sumber itu secara bertingkat. Yang terakhir dari seri pancaran itu adalah ‘Sophia’ (hikmat) yang mengandung keinginan untuk mengetahui sumber kebaikan yang tidak diketahui itu. Keinginan ini menghasilkan bayangan ilahi yang cacat dan jahat atau ‘Demiurge’ yang diyakini sebagai yang menciptakan alam semesta. Percikan ilahi yang mendiami manusia jatuh ke alam materi untuk membebaskan kemanusiaan. Graham Stanton, ahli Perjanjian Baru Inggeris merumuskan keyakinan Gnostik Kristen secara sederhana sebagai:

“dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Yahweh), dan yang berbalikan dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar.” (Gospel Truth? hlm.87).

Manusia sebagai keturunan Ilahi yang esa itu memiliki percikan Ilahi itu, namun ia terkurung dalam penjara tubuh materi. Berbeda dengan kepercayaan Kristen, gnostik mengajarkan bahwa setiap orang bisa berhubungan dengan pikiran Ilahi itu dan keselamatan terletak dalam membangunkan percikan api Ilahi itu dan kembali menyatu kedalam pikiran Ilahi (pandangan mistik/kebatinan). Untuk mencapainya dibutuhkan seorang pembimbing rohani yang dikalangan gnostik-kristen disebut Kristus.

Bagi Gnostik, Kristus mengajarkan ucapan rahasia agar yang mengerti mencapai ke’Ilahi’ annya sama seperti Kristus. Bagi mereka, Kristus, roh yang ilahi mendiami tubuh manusia Yesus, dan Yesus yang ilahi tidak mati disalib tetapi dinaikkan ke realita ilahi dimana Ia semula berasal. Pengikut Gnostik menolak penderitaan dan kematian Yesus yang menebus manusia dan kebangkitan tubuh.

Bagaimana Dengan Injil Yudas?

Injil Yudas ditemukan diantara tahun 1950-60 dilokasi El Minya, 300 Km di utara ‘Nag Hamadi’ (yang pada tahun 1945 ditemukan pustaka Gnostik koptik termasuk Injil Thomas). Menurut perhitungan waktu radiokarbon, kodeks itu berasal dari tahun 220-340, dan ada yang menyimpulkan sebagai terjemahan dari naskah asli bahasa Yunani dari tahun 130-180. Yang jelas, sekalipun disebut berjudul Injil Yudas, Injil itu tidak mengklaim diri sebagai ditulis oleh Yudas (Iskariot).

Kodeks El Minya kemudian disebut sebagai kodeks Tschacos karena dimiliki secara bertanggung jawab sampai diterjemahkan dan diserahkan ke museum koptik di Kairo, Mesir, oleh Frieda Tschacos Nussberger, seorang pedagang antik asal Mesir. Kodeks Tschacos terdiri dari empat tulisan sebagai berikut:

1. Surat Petrus kepada Filipus, yang juga ditemukan di Nag Hamadi (kodeks VIII);
2. Naskah Yakobus, versi lain dari Wahyu Pertama Yakobus dalam khazanah Nag Hamadi (kodeks V);
3. Injil Yudas;
4. Kitab Allogenes (si orang Asing), judul sementara yang merupakan julukan untuk Set, anak Adam dan Hawa.

Injil Yudas menarik perhatian ditahun 1970 ketika dicuri keluar Mesir dan muncul di pasar antik Jenewa (1983), dan mulai diperkenalkan pada konperensi Koptik di Paris pada 2004. Setahun kemudian diberitakan bahwa naskah itu akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Perancis dan Jerman. Pada tahun 2006 dapat dikumpulkan dua-pertiga dari naskah lengkap 66 halaman itu. Pada bulan April 2006, National Geographic mengumumkan selesainya terjemahan Injil Yudas ke dalam bahasa Inggeris dan terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia pada tanggal 29 Juni 2006.

Memang, dalam catatan sejarah gereja, Irenius dari Lyons pernah menyebut mengenai Injil Yudas sebagai sejarah fiktif dalam tulisannya ‘Adversus Haereses’ (180) yang kemudian dikutip oleh Origenes dalam tulisannya ‘De Stromateis’ (230). Pada tahun 375, Epiphanes, uskup Salamis, juga menolak Injil Yudas. Apakah Injil Yudas yang disebutkan oleh Irenius, Origenes dan Epiphanes sama dengan Injil Yudas yang baru ditemukan itu memang tidak pasti, yang jelas Irenius menyebut Injil Yudas yang disebutnya sebagai sesat karena tidak merupakan fakta sejarah dan mengandung ajaran Gnostik ini dikuatkan oleh Origenes dan Epiphanes. Bila perkiraan perhitungan waktu penulisan Injil Yudas baru itu benar, mungkin Injil Yudas itulah yang dimaksudkan oleh Irenius.

Isi dari Injil Yudas memang bersifat gnostik sama halnya dengan tulisan-tulisan yang ditemukan dalam pustaka Gnostik di Nag Hamadi. Bagi Gnostik memang kematian Yesus diatas salib sebagai penebus tidak ada artinya, itulah sebabnya dalam Injil Yudas kesan Yesus sebagai korban yang disalibkan menjadi kabur dan Yudas dijadikan pahlawan. Injil Yudas diawali kalimat berbunyi: “Isi Rahasia Wahyu yang dikatakan Yesus dalam percakapannya dengan Yudas,” dan rahasia itu juga mengungkapkan bahwa yang dimengerti para murid Yesus selama ini salah arah.

Kita akan segera mengetahui bahwa isi Injil Yudas bertentangan dengan yang selama ini diketahui umat Kristen melalui data ke-4 Injil. Dimana disebutkan bahwa:

“Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas rasul itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang diantara kamu akan menyerahkan Aku”.” (Matius 26:20-21)

Ucapan Yesus dalam ayat diatas pada waktu Perjamuan Malam merupakan tema yang digunakan Leonardo Da Vinci untuk melukis lukisan yang terkenal ‘Last Supper.’ Sikap dan posisi para murid dalam lukisan itu memang merupakan reaksi atas ucapan Yesus di atas. Dalam lukisan itu digambarkan dengan jelas reaksi tiga murid terdekat dikiri Yesus dan tiga murid di kanan Yesus. Di sebelah kiri Yesus, Thomas digambarkan mengacungkan tangan meragukan ucapan Yesus itu, Yakobus merentangkan tangan menolak ucapan itu, dan Filipus meletakkan kedua tangan didadanya menunjukkan devosinya. Di kanan Yesus, Yohanes tersentak mendengar ucapan itu dan mendengar reaksi keras Petrus yang marah dan ingin membela Yesus. Terlihat Yudas dengan wajah gelap terperanjat dan condong ke belakang sambil menyekap pundi-pundi uang suap yang telah diterimanya.

Sejak itu Yudas memang menjadi tokoh antagonis yang dianggap penghianat dan yang menyerahkan Yesus untuk disalib, apalagi mengenainya Yesus pernah berkata “celakah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Markus 14:21). Semua label negatip ini melekat dalam diri Yudas dan menjadi anggapan umum tradisi gereja selama dua milenium. Maka, kalau sekarang ada yang melontarkan data bahwa sebenanya situasinya berbeda dengan itu, maka ramailah mass-media mengakomodasi gossip baru itu.

National Geographic dalam edisi situsnya diinternet April 2006 mencuatkan tema ‘The Judas Gospel’ kemudian tema ini dijadikan cover-story edisi majalah National Geographic, May 2006, maka ramailah mass-media mengelu-elukan gosip baru setelah selama beberapa tahun terakhir dunia diresapi gosip dengan terbitnya buku dan film ‘The Da Vinci Code.’ Apakah ‘The Judas Gospel’ itu?
Yang jelas, isi Injil Yudas berbalikkan dengan berita Injil yang selama ini dipercayai gereja, misalnya ucapan Yesus yang mengingatkan para muridnya bahwa “mereka selama ini salah jalan.“ Dalam injil ini, Yudas digambarkan secara positif sebagai murid yang paling disukai Yesus, setia dan taat akan perintah Yesus dan bukan sebagai seseorang yang menyerahkan Yesus. Yesuslah yang menyuruh Yudas untuk menyerahkan diri-Nya. Injil ini tidak mengklaim bahwa para murid lainnya setuju dengan pemikirannya, tetapi inti Injil ini menyebutkan bahwa para murid Yesus lainnya belum mengerti Injil yang benar yang hanya diajarkan oleh Yesus secara rahasia kepada Yudas. Itulah sebabnya ada gambaran dalam ‘Injil Yudas’ bahwa ia mati karena dilempari batu oleh murid-murid lainnya. Dalam beberapa kesempatan Yesus disebutkan mengkritik para muridnya akan ketidak acuhan mereka tetapi memuji Yudas yang memiliki roh ilahi dalam dirinya.

Teologi Injil Yudas

Injil Yudas menekankan pentingnya gnosis, atau pengetahuan esoteris yang eksklusif yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu, yaitu pengetahuan mistik rahasia, gaib, pengetahuan mengenai sumber hidup dan kesatuan esensial antara diri manusia dengan sumbernya.

(Inilah) kisah rahasia mengenai pewahyuan yang diucapkan oleh Yesus dalam pembicaraannya dengan Yudas Iskariot selama seminggu, tiga hari sebelum dia merayakan Paskah.

Pendekatan keselamatan bukan disebabkan oleh penebusan yang dilakukan oleh orang lain (seperti diberitakan Injil Kanonik) tetapi ditemukan dalam spiritualitas gnostik yang tidak membutuhkan perantara, karena manusia sudah berhubungan secara langsung dengan Roh dan Cahaya yang ada dalam diri mereka.

Mereka yang terbilang bagian dari iman esoteris ini disebut sebagai termasuk generasi Set, karena mereka menganggap Set sebagai lambang kelahiran generasi baru setelah saudaranya Kain membunuh Habel. Karena itu, aliran ini disebut aliran kaum Set (Sethian gnostic). Menurut gnostik, masalah azasi kehidupan manusia adalah ketidak-acuhan dan ketidak-tahuan dan bukan dosa, dan mengatasinya adalah dengan mengerti pengetahuan itu.

Gnostik pada umumnya, berpendapat bahwa dunia materi adalah jahat dan bukan merupakan tempat tinggal yang tetap dan merupakan penjara bagi jiwa kita. Manusia hanya dapat melepaskan diri melalui pengetahuan rahasia yang diwahyukan Yesus. Bagi penganut gnostik Kristen, Yesus adalah guru pembimbing yang dapat membantu manusia mengalami kelepasan dan pencerahan.
Dia mulai bicara kepada mereka mengenai berbagai misteri yang melampaui dunia ini, dan yang akhirnya akan terjadi.

Dalam Injil Yudas diberitahukan bahwa Yesus menyampaikan rahasia kepada Yudas bahwa permulaannya hanya ada satu keberadaan yang benar, baik, dan tak terbatas yang tidak terjangkau, dan melalui proses pancaran terciptalah isi seluruh semesta dengan percikan api ilahi. Setiap generasi dibawah yang terpancar, lebih rendah dari yang diatas dan pencipta dunia atau demiurge ini (Allah PL) adalah ilah yang lebih rendah dari yang memancarkannya. Ajaran eksklusif ini hanya diberikan oleh Yesus kepada Yudas saja karena ia istimewa:
Karena tahu bahwa Yudas memantulkan dalam dirinya sesuatu yang mulia, Yesus berkata kepadanya, “Jauhilah yang lain, dan aku akan memberitahukan kepadamu misteri-misteri kerajaan”.

Diresapi nafas Platonic (dalam karya Timaeus) dipercaya bahwa setiap pribadi memiliki bintangnya sendiri dan kehidupan mereka terkait dengan bintang-bintang itu. Dalam Injil Yudas juga disebutkan bahwa pada akhirnya Yudas kembali kepada bintangnya sendiri.
Bintang yang mengarahkan jalan adalah bintangmu. Yudas mengangkat matanya dan melihat awan bercahaya cemerlang, dan dia masuk ke dalamnya.

Yesus memiliki pancaran api/cahaya ilahi dalam dirinya maka manusiapun demikian, hanya berbeda dengan konsep mistik timur dimana semua manusia dianggap memiliki percikan api ilahi itu, dalam gnostik Set disebut bahwa hanya mereka yang berpengetahuan rahasia itulah yang memilikinya yang lain tidak. Mereka yang memiliki itulah yang layak kembali dalam alam kekekalan sedangkan yang tidak memiliki akan binasa

Sumber kebaikan yang agung itu memancarkan api/cahayanya kepada generasi yang lebih rendah yaitu ilah-ilah yang biasa disebut sebagai demiurge dalam istilah Gnostik, dan dalam Injil Yudas disebut sebagai El/Allah dengan pembantunya Nebro (atau Yaldabaoth), dan Saklas. Dalam konsep ini generasi ini disebut jahat dan bodoh. Ilah itu menciptakan alam semesta merupakan Ilah Perjanjian Lama (Yahweh) yang jahat, haus darah, dan bodoh.
Kemudian Saklas berkata kepada para malaekatnya, ‘Marilah kita menciptakan umat manusia seturut dengan kemiripan dan citra[nya]. Mereka membentuk Adam dan isterinya, Hawa, yang didalam awan disebut Zoe.

Dalam Injil Yudas disebutkan bahwa Yudas berkata tentang Yesus:

Saya tahu siapa engkau sesungguhnya dan dari mana asalmu. Engkau berasal dari alam yang tak mengenal kematian, tempat kediaman Barbelo. Dan saya tak pantas mengucapkan nama Dia yang telah mengutusmu (Injil Yudas 35).

Barbelo merupakan tokoh mencolok dalam naskah gnostik aliran Set. Ada konsep tritunggal dalam Injil Yudas, dan sekalipun tidak sama dengan ketritunggalan yang disebutkan dalam kekristenan, Injil Yudas menyebutkan mengenai trio Bapa – Barbelo – Autogenes. Bapa disebut sebagai Roh Agung yang tidak dapat dilihat:

Dia adalah Allah dan Orangtua, Bapa Segala Sesuatu, Dia Yang Tak Dapat Dilihat yang mengatasi semua, yang tidak bisa cacat atau cela, yaitu cahaya murni yang tak dapat ditatap oleh mata.

Barbelo ditampilkan dalam peran Ibu surgawi dalam umumnya karya gnostik, sedangkan Autogenes (terjadi dengan sendirinya) biasa dianggap sebagai ilah independen tetapi merupakan generasi yang lebih rendah dari Barbelo atau keturunan Barbelo. Pada akhir Injil Yudas, Autogenes menampakkan diri dalam rupa Yesus.

Yang Maha Agung (Yang Satu) itu memancarkan cahayanya ke bawah ke aeon-aeon memenuhi semesta sampai kedunia bawah tempat dunia yang didiami manusia dimana cahayanya dirasakan. Karena ada kesalahan maka pencipta dunia ini dan ciptaannya menjadi rusak, cacat dan tidak lagi mencerminkan pancaran kebaikan dan kebenaran itu. Kebaikan dan kebenaran masih bisa dicapai percikan ilahi yang tersisa dalam manusia.

Pencerahan diri merupakan keselamatan yang dicapai setiap manusia. Pencerahan bisa dicapai pada saat hidup, namun kesempurnaannya hanya bisa dicapai pada saat tubuh ragawi kita mati. Percikan api ilahi atau jiwa atau roh dalam keturunan Set akan terus bersinar kembali kepada kemuliaannya sedangkan kepada yang tidak termasuk kaum Set akan mengalami kematian kekal atau musnah baik tubuh maupun jiwa mereka.

Akhir Kata

Injil Yudas menyebut bahwa hanya pada Yudas diceritakan rahasia yang benar sedangkan pada murid lainnya tidak. Ini tentu berlawanan dengan Injil-Injil dan naskah Gnostik lainnya (a.l. Injil Thomas, Filipus, Yakobus, Yohanes, dan Petrus) yang dianggap ditulis para rasul lainnya yang semuanya menceritakan rahasia Yesus juga sebagai hak eksklusif mereka masing-masing.

Oleh para penerjemahnya Injil Yudas diharapkan menjadi kejutan baru yang melawan ajaran gereja tradisional, namun rupanya sejak awalnya kehadiran Injil ini memang kurang dipandang berarti, apalagi kehadirannya bertepatan dengan kembali populernya kejutan buku dan terutama film ‘The Da Vinci Code’ yang dirilis di festival film Cannes pada tanggal 19 Mei 2006 sehingga kehadiran berita mengenai Injil Yudas meredup. Namun, dibalik semua itu, umat Kristen juga tidak perlu terkejut dengan kehadiran Injil Yudas yang berkembang dalam jemaat Gnostik dua puluh abad yang lalu itu.

Amin!

Disalin dari tulisan : bP. Herlianto
herlianto@yabina.org

—-

1.Ayat Pembuka, The Gospel of Judas, hlm.3-4.
2. The Gospel of Judas, hlm.4.
3. The Gospel of Judas, hlm.9.
4. Secara harfiah, dalam naskah ini Yudas adalah bintangnya. (Catatan kaki dalam The Gospel of Judas, hlm.37-38 ).
5. The Gospel of Judas, hlm.31
6. The Gospel of Judas, hlm.152.
7. The Gospel of Judas, hlm.156-157.
8. Konsep ini kelihatannya mengilhami doktrin keselamatan Saksi-Saksi Yehuwa yang memang diturunkan oleh Arius dari Alexandria, Mesir pada abad-4 dimana aliran gnostik sedang produktif menghasilkan karya-karya mereka di Mesir

*) Makalah ini disampaikan pada Seminar Pembinaan yang diselenggarakan oleh Gereja Kristen Indonesia, Jl. Nurdin Raya, Jakarta, pada tanggal 3 Agustus 2006. Penulis adalah ketua YABINA ministry (http://www.yabina.org) dan 13 tahun mengajar di STT-Bandung, dan telah menulis 30 buku dalam berbagai bidang a.l. yang berkenaan dengan topik ini adalah: Yesus Sejarah, Siapakah Aku Ini? (Yabina, 1997), Kode Da Vinci, Fakta Disela-sela Fiksi (Mitra Pustaka, 2005); Yesus Digugat (Mitra Pustaka & Yabina, 2006); dan Injil Yudas, Menggugat Yesus Injil Kanonik (Mitra Pustaka & Yabina), 2006.

Iklan

2 Tanggapan to “injil yudas”

  1. salman_farizzi said

    Injil Judas??
    eskariot… yg bkin siapa nih?? hha hha

  2. kosongan said

    dari sudut pandangku menarik juga nih buku karena sudut pandang republikbabi yang menarik kesimpulan hanya dengan melihat isi buku dan komentar perorangan, sedangkan pernyataan lain yang mennyanggah buku tersebut memberikan analisa dari perkiraan umur hingga sejarah buku tersebut

    ada 1 pertanyaan simple …. mengapa rahasia yesus hanya diberikan pada yudas, bila memang se ekslusif itu mungkinkah yudas memberikannya pada manusia lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: