kosong

berfikir untuk hidup yang lebih baik , dan beriman untuk tuhan yang benar

Hukum Karma dan Tumimbal – Lahir

Posted by kosongan pada | 23 |April| 2013 |

Hukum Karma & Tumimbal Lahir: bagaimana memahaminya?

by Hudoyo Hupudio » Sun Jun 20, 2010 4:43 am

MEGAH DETRA:Selamat malam Romo…
Dlm salah satu sutta dikatakan oleh Sang Buddha, bahwa kelima KHANDA itu tdk terpisah dari kekosongan, sesungguhnya kelimanya adalah kosong atau SUNNA.
Badan jasmani tanpa AKU…
Perasaan tanpa AKU…
Pencerapan tanpa AKU…
…Bentuk pikiran tanpa AKU…
Kesadaran tanpa AKU…
Kita hanya dpt memegangnya sementara waktu kemudian setelah itu kita pasti akan melepaskan.
Dlm Paticca Sammupada dikatakan bahwa hidup adalah proses yg terus berubah dari bentuk bathin dan jasmani…
Muncul pertanyaan :
Kalau di dlm diri manusia tdk ada suatu inti atau jiwa yg kekal, lalu kpd siapakah yg akan menerima suatu akibat perbuatan baik dan buruk?
Siapa pula yg melanjutkan kehidupan yg baru?
Anumodana…HUDOYO HUPUDIO:

@Megah: Di dalam meditasi yg sangat mendalam, kita akan melihat bahwa yg disebut ‘kelangsungan’ (continuity) ini sebetulnya tidak ada. Jadi, di dalam batin si Megah, si Hudoyo, ini tidak ada kelangsungan yg kita sadari mulai dari sejak lahir, sampai sekarang, sampai nanti meninggal.

Apa yg ada? Yg ada adalah proses jasmani & batin yg TIMBUL dan LENYAP dengan cepat dari saat ke saat. Setiap sel-sel tubuh kita tidak sama; setiap pikiran & perasaan kita tidak sama dari saat ke saat. Badan & batin kita SAAT INI bukanlah/tidak sama dengan badan & batin kita sedetik yg lalu; bukan pula / tidak sama pula dengan badan & batin kita sedetik yg akan datang. Memang ada kemiripan antara badan & jasmani yg sedetik lalu, yg sekarang, dan yg sedetik akan datang, tetapi ada pula perbedaannya. Nah, perbedaan yg sedikit-sedikit (di antara kemiripan yg banyak) inilah yg menimbulkan kesan tentang “PERUBAHAN”; tetapi sebetulnya “perubahan” itu tidak ada, karena tidak ada yang berubah’. Yang ada adalah perbedaan antara apa yg sedetik lalu timbul & lenyap, dengan apa yg saat kini timbul & lenyap, dan apa yg sedetik mendatang timbul & lenyap; begitu seterusnya. Yang penting TIDAK ADA YG BERLANJUT (sementara berubah) dari sedetik lalu, sekarang dan sedetik akan datang (yg biasanya disebut “roh”, “jiwa” dsb).

Yang menciptakan kesadaran adanya ‘kelangsungan’ itu adalah PIKIRAN. Lalu dari situ muncullah kesadaran-aku. Lalu dari situ muncullah kesadaran sebab-akibat (hukum karma), dan iman kepada tumimbal lahir. Semua itu dilihat oleh PIKIRAN, bukan kenyataan yg sesungguhnya, yg akan terlihat ketika pikiran berhenti.

Kalau orang sudah menyadari/melihat bahwa ‘kelangsungan’ itu sebenarnya tidak ada, ia akan menyadari pula bahwa si aku, paticca-samuppada, hukum karma & tumimbal lahir itu semuanya hanyalah delusi (waham), sesungguhnya tidak ada. Di situ terdapat kebebasan dari pikiran, dari si aku, dari hukum karma, dari tumimbal lahir, dari paticca-samuppada.

Orang yg memahami ini dengan sempurna disebut arahat. Tapi sebelum mencapai kearahatan, kita bisa memahami itu secara tidak tuntas, tidak sempurna; yaitu di dalam meditasi vipassana yg mendalam, di mana pikiran & aku ini tinggal satu-satu dan akhirnya masuk ke dalam keheningan (sekalipun belum tuntas). Ini yg dinamakan ‘mencicipi nibbana’.

Mengapa pikiran menciptakan kesadaran aku, kesadaran hukum karma, kesadaran paticca-samuppada dan kepercayaan kepada tumimbal lahir? Pikiran ini ber-evolusi dalam batin seorang bayi sejak ia belajar kata-kata & bahasa. Tujuannya adalah demi survival si individu. (Seorang bayi di bawah umur 1 tahun tidak berpikir; ia survive dengan instinknya: menangis dsb.)

***

Nah, jadi apa jawaban saya atas pertanyaan Anda? Jawaban saya: jangan memikir-mikir tentang hukum karma, tentang tumimbal lahir dsb. Pikiran kita tidak akan pernah bisa memahaminya dengan tuntas. Malah Buddha sendiri bilang, kalau orang memikir-mikir itu bisa jadi gila! (lihat: Acinteyya-sutta)

Menurut Buddha, ada empat hal yg seharusnya tidak dipikir-pikir:
(1) asal mula alam semesta/eksistensi ini;
(2) hakikat batin orang yg sudah bebas (buddha/arahat);
(3) hukum karma;
(4) hakikat jhana.
[Acinteyya-sutta]

Alih-alih, bermeditasi vipassana-lah. Kalau Anda berhasil mencapai berhentinya pikiran & aku, Anda akan memahami sendiri hakikat dari hukum karma, paticca-samuppada & tumimbal lahir: semua itu tidak kekal, semua itu waham (delusi), yg ada hanyalah perbedaan di dalam timbul & lenyap, bukan kelangsungan sebuah jiwa atau roh.

Mula-mula Anda akan melihatnya sekilas, untuk sementara, sebelum pikiran & aku muncul lagi. Tapi kelak, pada akhirnya, keadaan itu akan menjadi tuntas, permanen; itu yg disebut kearahatan, bebas sempurna dari aku, dari hukum karma, dari paticca-samuppada, dari tumimbal lahir.

Ada orang bilang bahwa begitu bayi lahir nasibnya sudah digariskan. Maka peramal bisa mengatakan nasib seseorang dari tanggal dan jam lahirnya. Manusia di dunia ada yang kaya, yang miskin, yang enak, yang sengsara. Apakah hal ini dewa yang menentukan nasib kita tidak adil?
Orang yang nasibnya buruk sering memandang langit dan bertanya, Kenapa orang lain bisa bertambah makmur sedangkan saya bernasib begitu buruk?Orang yang perkawinannya hancur sering bertannya, Kenapa orang lain rumah tangganya bisa begitu harmonis, sedangkan saya berantakan?

Sering kita membaca koran mengenai peristiwa tabrakan. Kita lalu berfikir kenapa orang itu bisa mempunyai nasib yang begitu buruk?

Para peramal biasanya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa hal itu karena disebabkan tanggal dan jam lahirnya yang kurang bagus.

Tetapi kenapa tidak ada orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan :

  • Kenapa manusia lahir ada yang tanggal dan jam lahirnya bagus, ada yang jelek.

Apakah Tuhan begitu tidak adil?

Mau menyelidiki dan mendalami tentang sumber dari nasib, kita harus mengerti dulu mengenai “sebab-akibat tiga jaman” dari pelajaran agama Budha. Sebab-akibat tiga jaman dan nasib mempunyai hubungan apa? Ternyata dasar daripada nasib seseorang ditentukan oleh “sebab dan akibat”. Sebab-akibat tiga jaman mempunyai makna bahwa karena perbuatan kita pada kehidupan yang lampau maka kita menerima akibat dari perbuatan tersebut pada kehidupan sekarang demikian juga kehidupan kita yang akan datang akan ditentukan oleh perbuatan kita yang sekarang. Demikianlah lingkaran sebab-akibat akan menciptakan hubungan dari kehidupan masa lampau, masa kini dan masa mendatang. Dalam ajaran agama Budha ada istilah yang terkenal :
“Ingin mengetahui perbuatan kita di masa lampau, lihatlah kehidupan yang sekarang. Ingin mengetahui kehidupan kita di masa datang, lihatlah perbuatan kita sekarang”
artinya :
Pada kehidupan lampau anda menanamkan suatu perbuatan maka pada kehidupan yang sekarang anda akan memetik hasilnya. Demikian juga pada masa sekarang anda melakukan suatu perbuatan maka anda akan memetik hasilnya pada masa mendatang.
Prinsip sebab-akibat kebajikan dan kejahatan, yaitu : Menanam biji semangka berbuah semangka, menanam biji kacang berbuah kacang. Prinsip sebab-akibat sangatlah adil dan siapa yang berbuat dia yang akan menanggung akibatnya.

sumber : http://yotta-steel.blogspot.com/2012/11/hukum-karma-dan-tumimbal-lahir.html

apa itu jhana?

Jhana secara harfiah berarti api, atau cemerlang. Jadi jhana bisa diterjemahkan sebagai keadaan mental yang cemerlang.

Sungguh waspada dan terpusat. Ketika seseorang mencapai jhana, pikirannya tertumpu pada satu objek saja, tidak terpencar sebagaimana biasanya, dan benar-benar penuh kewaspadaan dan terpusat.

Sebagai contoh, dari penjelasan jhana keempat di atas kita lihat bahwa kewaspadaan adalah sepenuhnya murni disini. Dimana pikiran tidak terpencar tetapi terpusat, berada pada keadaan yang murni cemerlang,20 dan dipenuhi oleh kebahagiaan.

Jadi makhluk yang mencapai jhana bisa terlahirkan di alam brahma berbentuk (rupaloka) dengan tubuh yang bersinar dan mengalami kebahagiaan yang sangat, untuk jangka waktu yang lama. Bagi banyak orang, tahap ini tidak mudah dicapai karena harus mampu melepaskan keterikatan-keterikatan.

Untuk alasan inilah, maka ia disebutkan sebagai pencapaian manusia yang luar biasa (uttari manussa dhamma) di dalam berbagai sutta. Empat jhana ini didefinisikan di berbagai sutta seperti berikut:

Jhana pertama
* Berhentinya persepsi terhadap kenikmatan duniawi
* Persepsi yang halus tapi nyata terhadap kegirangan dan kesenangan yang terlahir dari kesendirian (DN 9)
* Tidak terlihat oleh mara (MN 25)
* Lima penghalang ditinggalkan dan lima faktor jhana diraih (MN 43)
* Yang masih belum ditenangkan ke tingkat yang lebih tinggi (MN 66)
* Pikiran yang tertuju pada hal-hal yang tak bajik lenyap tanpa sisa (MN 78)
* Berhentinya batin yang masih berbicara (SN 36.11)
* Lenyapnya kesakitan tubuh (SN 48.4.10)
* Berada dalam kediaman yang bahagia (AN 6.29)
* Melampaui jangkauan mara (AN 9.39)

Jhana kedua
* Persepsi yang halus tapi nyata terhadap kegirangan dan kesenangan yang terlahir dari kesendirian (DN 9)
* Yang masih belum ditenangkan ke tingkat yang lebih tinggi (MN 66)
* Pikiran yang tertuju pada hal-hal yang bajik lenyap (MN 78)
* Tahap kesunyian Ariya (SN 21.1)
* Berhentinya pemikiran pemicu dan pemikiran yang bertahan (SN 36.11)
* Kegirangan yang lahir bukan dari hal-hal duniawi (SN 36.29)
* Kesedihan mental lenyap (SN 48.4.10)

Jhana ketiga
* Persepsi yang halus tapi nyata terhadap kesenangan dan keseimbangan batin (DN 9)
* Yang masih belum ditenangkan ke tingkat yang lebih tinggi (MN 66)
* Lenyapnya kegirangan (SN 36.11)
* Kesenangan yang lahir bukan dari hal-hal duniawi (SN 36.29)
* Kesenangan tubuh lenyap (SN 48.4.10)

Jhana keempat
* Persepsi yang halus tapi nyata terhadap yang bukan derita maupun senang (DN 9)
* Kewaspadaan (sati) yang murni dan keseimbangan batin yang sepenuhnya (MN 39)
* Seluruh tubuh dirembesi oleh pikiran yang terang dan murni (MN 39)
* Yang sudah tak dapat ditenangkan ke tingkat yang lebih tinggi (MN 66)
* Bisa berbicara dengan makhluk sorga dan keseluruhan dunia yang menyenangkan telah direalisasikan (MN 79)
* Keseimbangan batin yang bukan bersifat duniawi (SN 36.29)
* Berhentinya pernafasan (SN 36.11)
* Kesenangan mental lenyap (SN 48.4.10)
* Keluar dari tahap ini, dia berjalan, berdiri dan seterusnya dengan kebahagiaan yang terlahir dari ketenangan (AN 3.63)
* Menuntun pada penembusan yang sepenuhnya dari elemen yang tak terhitung (AN 6.29)

DN = Digha Nikaya
MN = Majjhima Nikaya
AN = Anguttara Nikaya
SN = Samyutta Nikaya

sumber : http://www.wihara.com/forum/meditasi/4846-apa-itu-jhana.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: