kosong

berfikir untuk hidup yang lebih baik , dan beriman untuk tuhan yang benar

Archive for the ‘buddha’ Category

Hukum Karma dan Tumimbal – Lahir

Posted by kosongan pada | 23 |April| 2013 |

Hukum Karma & Tumimbal Lahir: bagaimana memahaminya?

by Hudoyo Hupudio » Sun Jun 20, 2010 4:43 am

MEGAH DETRA:Selamat malam Romo…
Dlm salah satu sutta dikatakan oleh Sang Buddha, bahwa kelima KHANDA itu tdk terpisah dari kekosongan, sesungguhnya kelimanya adalah kosong atau SUNNA.
Badan jasmani tanpa AKU…
Perasaan tanpa AKU…
Pencerapan tanpa AKU…
…Bentuk pikiran tanpa AKU…
Kesadaran tanpa AKU…
Kita hanya dpt memegangnya sementara waktu kemudian setelah itu kita pasti akan melepaskan.
Dlm Paticca Sammupada dikatakan bahwa hidup adalah proses yg terus berubah dari bentuk bathin dan jasmani…
Muncul pertanyaan :
Kalau di dlm diri manusia tdk ada suatu inti atau jiwa yg kekal, lalu kpd siapakah yg akan menerima suatu akibat perbuatan baik dan buruk?
Siapa pula yg melanjutkan kehidupan yg baru?
Anumodana…HUDOYO HUPUDIO:

@Megah: Di dalam meditasi yg sangat mendalam, kita akan melihat bahwa yg disebut ‘kelangsungan’ (continuity) ini sebetulnya tidak ada. Jadi, di dalam batin si Megah, si Hudoyo, ini tidak ada kelangsungan yg kita sadari mulai dari sejak lahir, sampai sekarang, sampai nanti meninggal.

Apa yg ada? Yg ada adalah proses jasmani & batin yg TIMBUL dan LENYAP dengan cepat dari saat ke saat. Setiap sel-sel tubuh kita tidak sama; setiap pikiran & perasaan kita tidak sama dari saat ke saat. Badan & batin kita SAAT INI bukanlah/tidak sama dengan badan & batin kita sedetik yg lalu; bukan pula / tidak sama pula dengan badan & batin kita sedetik yg akan datang. Memang ada kemiripan antara badan & jasmani yg sedetik lalu, yg sekarang, dan yg sedetik akan datang, tetapi ada pula perbedaannya. Nah, perbedaan yg sedikit-sedikit (di antara kemiripan yg banyak) inilah yg menimbulkan kesan tentang “PERUBAHAN”; tetapi sebetulnya “perubahan” itu tidak ada, karena tidak ada yang berubah’. Yang ada adalah perbedaan antara apa yg sedetik lalu timbul & lenyap, dengan apa yg saat kini timbul & lenyap, dan apa yg sedetik mendatang timbul & lenyap; begitu seterusnya. Yang penting TIDAK ADA YG BERLANJUT (sementara berubah) dari sedetik lalu, sekarang dan sedetik akan datang (yg biasanya disebut “roh”, “jiwa” dsb).

Yang menciptakan kesadaran adanya ‘kelangsungan’ itu adalah PIKIRAN. Lalu dari situ muncullah kesadaran-aku. Lalu dari situ muncullah kesadaran sebab-akibat (hukum karma), dan iman kepada tumimbal lahir. Semua itu dilihat oleh PIKIRAN, bukan kenyataan yg sesungguhnya, yg akan terlihat ketika pikiran berhenti.

Kalau orang sudah menyadari/melihat bahwa ‘kelangsungan’ itu sebenarnya tidak ada, ia akan menyadari pula bahwa si aku, paticca-samuppada, hukum karma & tumimbal lahir itu semuanya hanyalah delusi (waham), sesungguhnya tidak ada. Di situ terdapat kebebasan dari pikiran, dari si aku, dari hukum karma, dari tumimbal lahir, dari paticca-samuppada.

Orang yg memahami ini dengan sempurna disebut arahat. Tapi sebelum mencapai kearahatan, kita bisa memahami itu secara tidak tuntas, tidak sempurna; yaitu di dalam meditasi vipassana yg mendalam, di mana pikiran & aku ini tinggal satu-satu dan akhirnya masuk ke dalam keheningan (sekalipun belum tuntas). Ini yg dinamakan ‘mencicipi nibbana’.

Mengapa pikiran menciptakan kesadaran aku, kesadaran hukum karma, kesadaran paticca-samuppada dan kepercayaan kepada tumimbal lahir? Pikiran ini ber-evolusi dalam batin seorang bayi sejak ia belajar kata-kata & bahasa. Tujuannya adalah demi survival si individu. (Seorang bayi di bawah umur 1 tahun tidak berpikir; ia survive dengan instinknya: menangis dsb.)

***

Nah, jadi apa jawaban saya atas pertanyaan Anda? Jawaban saya: jangan memikir-mikir tentang hukum karma, tentang tumimbal lahir dsb. Pikiran kita tidak akan pernah bisa memahaminya dengan tuntas. Malah Buddha sendiri bilang, kalau orang memikir-mikir itu bisa jadi gila! (lihat: Acinteyya-sutta)

Menurut Buddha, ada empat hal yg seharusnya tidak dipikir-pikir:
(1) asal mula alam semesta/eksistensi ini;
(2) hakikat batin orang yg sudah bebas (buddha/arahat);
(3) hukum karma;
(4) hakikat jhana.
[Acinteyya-sutta]

Alih-alih, bermeditasi vipassana-lah. Kalau Anda berhasil mencapai berhentinya pikiran & aku, Anda akan memahami sendiri hakikat dari hukum karma, paticca-samuppada & tumimbal lahir: semua itu tidak kekal, semua itu waham (delusi), yg ada hanyalah perbedaan di dalam timbul & lenyap, bukan kelangsungan sebuah jiwa atau roh.

Mula-mula Anda akan melihatnya sekilas, untuk sementara, sebelum pikiran & aku muncul lagi. Tapi kelak, pada akhirnya, keadaan itu akan menjadi tuntas, permanen; itu yg disebut kearahatan, bebas sempurna dari aku, dari hukum karma, dari paticca-samuppada, dari tumimbal lahir.

Ada orang bilang bahwa begitu bayi lahir nasibnya sudah digariskan. Maka peramal bisa mengatakan nasib seseorang dari tanggal dan jam lahirnya. Manusia di dunia ada yang kaya, yang miskin, yang enak, yang sengsara. Apakah hal ini dewa yang menentukan nasib kita tidak adil?
Orang yang nasibnya buruk sering memandang langit dan bertanya, Kenapa orang lain bisa bertambah makmur sedangkan saya bernasib begitu buruk?Orang yang perkawinannya hancur sering bertannya, Kenapa orang lain rumah tangganya bisa begitu harmonis, sedangkan saya berantakan?

Sering kita membaca koran mengenai peristiwa tabrakan. Kita lalu berfikir kenapa orang itu bisa mempunyai nasib yang begitu buruk?

Para peramal biasanya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa hal itu karena disebabkan tanggal dan jam lahirnya yang kurang bagus.

Tetapi kenapa tidak ada orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan :

  • Kenapa manusia lahir ada yang tanggal dan jam lahirnya bagus, ada yang jelek.

Apakah Tuhan begitu tidak adil?

Mau menyelidiki dan mendalami tentang sumber dari nasib, kita harus mengerti dulu mengenai “sebab-akibat tiga jaman” dari pelajaran agama Budha. Sebab-akibat tiga jaman dan nasib mempunyai hubungan apa? Ternyata dasar daripada nasib seseorang ditentukan oleh “sebab dan akibat”. Sebab-akibat tiga jaman mempunyai makna bahwa karena perbuatan kita pada kehidupan yang lampau maka kita menerima akibat dari perbuatan tersebut pada kehidupan sekarang demikian juga kehidupan kita yang akan datang akan ditentukan oleh perbuatan kita yang sekarang. Demikianlah lingkaran sebab-akibat akan menciptakan hubungan dari kehidupan masa lampau, masa kini dan masa mendatang. Dalam ajaran agama Budha ada istilah yang terkenal :
“Ingin mengetahui perbuatan kita di masa lampau, lihatlah kehidupan yang sekarang. Ingin mengetahui kehidupan kita di masa datang, lihatlah perbuatan kita sekarang”
artinya :
Pada kehidupan lampau anda menanamkan suatu perbuatan maka pada kehidupan yang sekarang anda akan memetik hasilnya. Demikian juga pada masa sekarang anda melakukan suatu perbuatan maka anda akan memetik hasilnya pada masa mendatang.
Prinsip sebab-akibat kebajikan dan kejahatan, yaitu : Menanam biji semangka berbuah semangka, menanam biji kacang berbuah kacang. Prinsip sebab-akibat sangatlah adil dan siapa yang berbuat dia yang akan menanggung akibatnya.

sumber : http://yotta-steel.blogspot.com/2012/11/hukum-karma-dan-tumimbal-lahir.html

apa itu jhana?

Jhana secara harfiah berarti api, atau cemerlang. Jadi jhana bisa diterjemahkan sebagai keadaan mental yang cemerlang.

Sungguh waspada dan terpusat. Ketika seseorang mencapai jhana, pikirannya tertumpu pada satu objek saja, tidak terpencar sebagaimana biasanya, dan benar-benar penuh kewaspadaan dan terpusat.

Sebagai contoh, dari penjelasan jhana keempat di atas kita lihat bahwa kewaspadaan adalah sepenuhnya murni disini. Dimana pikiran tidak terpencar tetapi terpusat, berada pada keadaan yang murni cemerlang,20 dan dipenuhi oleh kebahagiaan.

Jadi makhluk yang mencapai jhana bisa terlahirkan di alam brahma berbentuk (rupaloka) dengan tubuh yang bersinar dan mengalami kebahagiaan yang sangat, untuk jangka waktu yang lama. Bagi banyak orang, tahap ini tidak mudah dicapai karena harus mampu melepaskan keterikatan-keterikatan.

Untuk alasan inilah, maka ia disebutkan sebagai pencapaian manusia yang luar biasa (uttari manussa dhamma) di dalam berbagai sutta. Empat jhana ini didefinisikan di berbagai sutta seperti berikut:

Jhana pertama
* Berhentinya persepsi terhadap kenikmatan duniawi
* Persepsi yang halus tapi nyata terhadap kegirangan dan kesenangan yang terlahir dari kesendirian (DN 9)
* Tidak terlihat oleh mara (MN 25)
* Lima penghalang ditinggalkan dan lima faktor jhana diraih (MN 43)
* Yang masih belum ditenangkan ke tingkat yang lebih tinggi (MN 66)
* Pikiran yang tertuju pada hal-hal yang tak bajik lenyap tanpa sisa (MN 78)
* Berhentinya batin yang masih berbicara (SN 36.11)
* Lenyapnya kesakitan tubuh (SN 48.4.10)
* Berada dalam kediaman yang bahagia (AN 6.29)
* Melampaui jangkauan mara (AN 9.39)

Jhana kedua
* Persepsi yang halus tapi nyata terhadap kegirangan dan kesenangan yang terlahir dari kesendirian (DN 9)
* Yang masih belum ditenangkan ke tingkat yang lebih tinggi (MN 66)
* Pikiran yang tertuju pada hal-hal yang bajik lenyap (MN 78)
* Tahap kesunyian Ariya (SN 21.1)
* Berhentinya pemikiran pemicu dan pemikiran yang bertahan (SN 36.11)
* Kegirangan yang lahir bukan dari hal-hal duniawi (SN 36.29)
* Kesedihan mental lenyap (SN 48.4.10)

Jhana ketiga
* Persepsi yang halus tapi nyata terhadap kesenangan dan keseimbangan batin (DN 9)
* Yang masih belum ditenangkan ke tingkat yang lebih tinggi (MN 66)
* Lenyapnya kegirangan (SN 36.11)
* Kesenangan yang lahir bukan dari hal-hal duniawi (SN 36.29)
* Kesenangan tubuh lenyap (SN 48.4.10)

Jhana keempat
* Persepsi yang halus tapi nyata terhadap yang bukan derita maupun senang (DN 9)
* Kewaspadaan (sati) yang murni dan keseimbangan batin yang sepenuhnya (MN 39)
* Seluruh tubuh dirembesi oleh pikiran yang terang dan murni (MN 39)
* Yang sudah tak dapat ditenangkan ke tingkat yang lebih tinggi (MN 66)
* Bisa berbicara dengan makhluk sorga dan keseluruhan dunia yang menyenangkan telah direalisasikan (MN 79)
* Keseimbangan batin yang bukan bersifat duniawi (SN 36.29)
* Berhentinya pernafasan (SN 36.11)
* Kesenangan mental lenyap (SN 48.4.10)
* Keluar dari tahap ini, dia berjalan, berdiri dan seterusnya dengan kebahagiaan yang terlahir dari ketenangan (AN 3.63)
* Menuntun pada penembusan yang sepenuhnya dari elemen yang tak terhitung (AN 6.29)

DN = Digha Nikaya
MN = Majjhima Nikaya
AN = Anguttara Nikaya
SN = Samyutta Nikaya

sumber : http://www.wihara.com/forum/meditasi/4846-apa-itu-jhana.html

Iklan

Posted in buddha | Leave a Comment »

MUHAMMAD DALAM AGAMA ZOROASTER & BUDHA

Posted by kosongan pada | 20 |Januari| 2009 |

sumber :http://suakahati.wordpress.com/2008/01/02/agama-zoroaster-budha-meramalkan-muhammad

Utusan yang paling akhir dan paling baru adalah Nabi Muhammad. Demikian pula ajaran beliau adalah ajaran yang termuda dari semua ajaran dalam agama-agama besar di dunia. Ajaran Ibrahim sekitar tahun 3000 SM, Musa 2000 SM, Budha 2200-an SM, Yesus 1 M, baik TAO dan Konfusius diperkirakan sejaman dengan Musa/Budha bahkan lebih tua lagi. Islam ada sejak Nabi adam dan Ajaran terlengkap dan sempurna adalah ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Boleh dibilang ajaran Muhammad adalah yang terlengkap, tersempurna dan termuda.

Sebelum menulis artikel ini, saya mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama atau ejaan. Karena artikel ini saya tulis berdsarkan apa yang saya dengar (ada yang kurang jelas saya dengar) dari VCD tentang “Muhammad dalam berbagai agama” oleh Dr. Zakir Naik.

MUHAMMAD DALAM AGAMA ZOROASTER

Nabi Zoroaster, Nabi dalam agama Zoroaster atau Persi-isme,  merupakan pendiri agama yang dikenal dengan agama “Zoroaster” yang juga dikenal sebagai agama yang menjadikan api sebagai focus penyembahan (paganisme) yang entah api tersebut digunakan untuk alat konsentrasi dalam menyembah Tuhan yang sebenarnya atau memang mereka menganggap api adalah Tuhan Pencipta Alam. Keyakinan ini lahir sekitar 2.500 tahun yang lalu di Persia.

Mereka memiliki 2 kitab suci yaitu “Dasatir” dan “Avesta”. Dasatir dibagi dua menjadi “Khurda-dasatir” dan Kalan-dasatir”. Sedangkan Avesta dibagi menjadi “Khurda-avesta” dan “Kalan-awesta” serta “Zend avesta (Maha Zen)”. Kitab mereka ditulis dalam “pahlawi” dan “Zendi” yang mana sedikit dari mereka yang memiliki kesamaan bahasa. Dalam Zen-Avesta Farvardin Yasht  Bab 28 ayat 129, Buku Keramat Timur  volume 23, Zen-Awesta bagian 2 Hal. 220 mengatakan : “ Ia adalah pemenang, ia adalah Soeshyant, namanya “Astvat-ereta”. Soeshyant berarti sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Dalam Al-Quran Surat 21 (Al-Anbya) : 107 Allah Berfirman : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin)”. Soeshyant juga berarti ia yang berdoa (Muhammad dalam bahasa Arab berarti yang berdoa).  Astvad-ereta adalah sebuah makhluk yang berperang melawan Iblis dalam kehidupan manusia dan ia akan melawan terhadap pemujaan benda-benda”. Nabi Muhammad adalah pemenang dalam perebutan kota Mekah.

Astvad ereta berasal dari kata Astu yang berarti orang yang berdoa (seorang pemimpin agama), sesuai dengan kata “Ahmad” (nama lain Muhammad) yang berarti seseorang yang berdoa”. Dalam Zend-Avesta jika dibaca lebih jauh dalam “Zamyad Yasht” Bab 16 ayat 95 Buku Keramat Timur  Volume 23 bagian 2 Hal. 308  dikatakan bahwa Teman dari Astaved-eresta, mereka akan bertempur melawan Iblis, mereka akan memiliki pemikiran, pendengaran dan penglihatan yang bagus serta berbudi tinggi. Mereka tidak akan tergoyahkan keyakinannya karena hal-hal tersebut. Jika kita telaah Umat terbaik adalah yang sejaman dengan Nabi Muhammad beserta sahabat-sahabat beliau (para Khalifah & Tabi’in).

Dalam Dasatir dikatakan bahwa saat “Zoroastir” (pengikut Zoroaster) ketika mereka melakukan perjalanan untuk melakukan pelajaran kemudian menjadi banyak, ada seseorang yang muncul bersama kawan-kawannya yang akan menaklukkan dan mengalahkan kesombongan Persia dan para pengikutnya, dan mereka tidak menyembah api namun mereka berkiblat ke Ka’bah yang dibangun oleh Ibrahim, yang akan membersihkan pulau itu dan mereka ini akan menjadi rahmat bagi seluruh manusia, mereka akan memerintah daratan rahasia di Persia kecuali Antalkan dan orang-orang ini akan memilih raja yang murah hati. Dalam Kitab Bundanish  ayat 6 sampai 27 dikatakan bahwa Sosiath akan menjadi nabi yang terakhir. Dalam Al-Quran Surat 33:40 Allah berfirman : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

LINK TERKAIT :

Muhammad_prophesised-Parsis

MUHAMMAD DALAM AGAMA BUDHA

Dalam Cakrawati, Senasutana D.III, 76 yang menyampaikan ramalan tentang Mitri dan ramalan ini di ulang kembali dalam sebagian kitab Agama Budha yang mengatakan bahwa akan datang Budha yang bernama “Mitri” yang berarti yang suci, yang terutama, yang bersinar dan penuh dengan pengetahuan, bijaksana, kecerdikan pengetahuan yang menyeluruh  akan menerima wahyu, pengetahuan yanag utama dan ia akan mengajarkan permulaan untuk mencapai tujuannya dan ia akan mengajarkan agama kebenaran. Hal ini berarti akan sama dengan apa yang dikatakan oleh Budha. Namun sang Mitri ini akan memiliki ribuan pengikut sementara sang Budha hanya memiliki ratusan pengikut. Dalam “Buku Buddha oleh Carus-dari sumber Ceylon” Halaman 217 & 218 dikatakan, jika Mitri ini dianalisa berarti sesuatu yang bermanfaat yang memberikan rahmat yang memiliki rasa cinta kasih dalam dirinya. Jadi Mitri berarti “Rahmat” dalam bahasa Arab. Dalam Al-Quran Surat 21 (Al-Anbya) : 107 Allah Berfirman : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta  alam (rahmatan lil alamin)”.

Dalam “Buku Keramat Timur, Volume 11 Hal 36 Mahaparinabana Sutta” Bab 2, Ayat 32, menyatakan bahwa Sang Budha tidak akan membedakan pengajarannya kedalam Isoterik dan Esoterik. Budha akan selalu menyatakan kebenaran dan sebagai sang guru pengetahuannya pasti tidak akan disembunyikan, apa yang Budha ajarkan waktu itu bukanlah sesuatu yang sebagian terbuka dan sebagian tertutup. Isi dan kandungan Al-Quran diajarkan oleh Nabi Muhammad di depan Umum dan terbuka dan melarang menyembunyikannya. Dalam Bab 5 Ayat 36 hal 97, dikatakan , seperti halnya Budha yang memiliki “Sarvito” dengan nama “Ananda”  demikian juga Budha Mitri yang akan datang mempunyai “Sarvito”. Sarvito dari Nabi Muhammad adalah seseorang bernama “Anas” , yang diberikan oleh orang tuanya, ayah dan ibunya pada nabi yang mulia di usia 8 tahun dan sang nabi menyebutnya sebagai anak yang tercinta, sikecil tersayang. Dan Anas dikirim oleh Nabi Muhammad saat perang dan damai, saat yang baik dan buruk hingga akhir hidupnya. Bahkan dalam perang Uhud dalam usianya yang ke 11 dia berdiri di depan Nabi dan melindungi beliau saat beliau terkepung oleh Musuh. Bahkan dalam perang Hunain hujan panah menerjang nabi dan Anas berdiri melindungi beliau. Ananda juga melindungi 11 terjangan pada Budha dan ia berdiri didepan Budha. Dalam Buku Buddha oleh Carus  Hal 214 ada 6 kriteria dari Mitri, keenam kriteria menunjuk pada Nabi Muhammad, antara lain yaitu :

  1. Ia akan menerima cahaya petunjuk pada malam hari
  2. Saat menerima pencerahan ia akan bercahaya
  3. Ia akan meninggal dengan cara yang alami dan baik
  4. Saat sang Mitri akan meninggal ia akan kembali bercahaya (bersinar)
  5. Meninggal di malam hari (sesuai Nabi yang ketika meninggal saat malam hari)
  6. Saat meninggal bentuk fisik tidak akan nampak kembali (setelah Nabi Muhammad wafat, gambar/wujud fisik beliau tidak ada, karena Islam melarang wujud Nabi digambar )

Sumber : Secuil dari Dr. Zakir Naik.

LINK TERKAIT :

Muhammad_prophesised Buddhists

ARTIKEL SEBELUMNYA :

masihkah ada nabi baru setelah nabi muhammad

mahabaratha dan kisah perjuangan nabi muhammad

By MAGE
tanggapan

Siswa Sang Buddha // Juni 28, 2008 pada 9:57 am

Sedikit memberikan pencerahan mengenai ajaran Sang Buddha:

1. Sang Buddha tidak disembah tapi di Puja (dihormati). Jangan samakan pengertian sujud dalam Buddhist dengan sujud dalam Islam.

2. Sang Buddha bukan utusan Tuhan. Tapi orang biasa yang karena melihat penderitaan orang lain kemudian mengumpulkan parami (kebajikan dan pengetahuan) dalam banyak kehidupan hingga akhirnya mencapai Penerangan Sempurna dan mengajarkannya kepada yang lain bagaimana cara membebaskan diri dari penderitaan.

3. Sang Buddha tidak pernah mengajarkan agar umatnya memuja apalagi menyembah arca Buddha. Adanya pemujaan terhadap arca Sang Buddha dikarenakan ketika Alexander Agung melakukan ekspansi ke timur, dan mencapai India, ketika orang2 Yunani pulang mereka ikut membawa ajaran Buddha ke negara mereka. Orang Yunani punya tradisi untuk membuat arca dari orang-orang yang dianggap Istimewa. Karena orang-orang Yunani dulu pernah menganut ajaran Buddha, akhirnya kebiasaan ini kemudian ditiru oleh umat Buddha dinegara-negara lain.

Sesuai dengan sabda Sang Buddha :

“Janganlah percaya terhadap suatu berita hanya karena kamu telah mendengarnya.

Janganlah percaya terhadap suatu tradisi hanya karena telah dilakukan turun-temurun.

Janganlah percaya terhadap sesuatu hanya karena hal ini sesuai dengan pemikiranmu atau logika.

Janganlah percaya terhadap sesuatu hanya kerena dikatakan oleh para tetua.

Janganlah percaya terhadap sesuatu hanya karena dikatakan oleh seorang guru agama ternama.

Janganlah percaya terhadap sesuatu hanya karena tertulis dalam kitab suci.

Janganlah percaya terhadap sesuatu biarpun seorang Tathagata [Sang Buddha] yang mengatakannya kepadamu.

Tetapi jika setelah melakukan observasi yang mendalam dan diketahui bahwa sesuatu itu bertentangan dengan hal yang baik, melanggar norma, menimbulkan penderitaan/merugikan jika dilakukan, dicela oleh para bijaksana maka sudah selayaknya hal itu tidak dilakukan.

Tetapi jika setelah melakukan observasi yang mendalam dan diketahui bahwa sesuatu itu berhubungan dengan hal yang baik, tidak melanggar norma, membawa kebahagiaan jika dilakukan, dipuji oleh para bijaksana maka sudah selayaknya hal itu dilakukan.”

berdasarkan sabda Sang Buddha diatas oleh sebab itu, Puja terhadap arca Sang Buddha sebagai objek pengganti Sang Buddha tetap dilakukan. Dalam hal ini tolong jangan disamakan dengan tradisi Tionghoa.

Menanggapi artikel diatas :
Secara pribadi saya menolak kalo Muhammad itu adalah Bodhisatva (Calon Buddha) Maitreya. Alasannya :
1. Di dalam Sutta, Bodhisatva Maitreya lahirnya di Jambudvipa (Wilayah India).
2. Buddha itu tidak dilahirkan, tapi dicapai, yang dilahirkan itu Bodhisatva.
3. Seorang yang telah mencapai Kebuddhaan tidak akan mungkin beristri, karena nafsunya sudah lenyap, Dia tidak akan melakukan hubungan seksual. Dia hanya beristri sewaktu masih Bodhisatva (belum mencapai kebuddhaan). Sedangkan Muhammad pada masa2 dimana dia disebut Nabi dia kan mengambil istri. Dan katanya punya anak lagi (mengenai anak, tolong dikoreksi kalo salah)
4. Seorang yang telah mencapai Kebuddhaan tidak akan mungkin ikut/pergi berperang apapun alasannya.
5. Seorang yang telah mencapai Kebuddhaan akan menjauhkan hidupnya dari hal-hal duniawi seperti kekuasaan/jabatan dalam pemerintahan.Dia akan menghabiskan hidupnya sebagai seorang Pertapa.
6. Maitreya baru lahir setelah ajaran Sang Buddha Gotama dilupakan orang.
7. Maitreya lahir pada zaman ketika umur manusia rata-rata 80.000 tahun. Hal ini disebabkan Maitreya adalah seorang Bodhisatva yang menonjol dalam Cinta Kasih (Metta/Maitri = > Maitteya/Maitreya [Pali/Sangsekerta]), sesuai dengan Hukum Kamma, orang-orang seperti itu akan lahir dalam keadaan dan lingkungan yang baik.
8. Seorang yang disebut Sang Buddha, hanya akan muncul ketika usia manusia rata-rata berada dalam range 100-80.000 tahun. Seorang Buddha tidak akan muncul ketika usia manusia rata-rata dibawah 100 atau diatas 100.000 tahun. Pada satu masa hanya ada 1 Buddha yang muncul (berhubungan dengan point 6)

Masih ada banyak lagi, tapi saya rasa ini sudah cukup.

Untuk yang menulis artikel :
Bro anda orang pertama yang saya ketahui yang mengatakan Islam itu ajaran terlengkap. Perlu diketahui bro, Kitab Suci paling tebal didunia itu Kitab Sucinya ajaran Buddha. Berdasarkan dari aliran Mahayana itu tebalnya sekitar 70x Alkitab (dengan tebal kertas dan ukuran huruf seperti Alkitab) sedangkan dari Theravada sekitar 11x Alkitab. Tapi itupun gak pernah dibilang lengkap. Didalam ajaran Buddhist, Hindu, Jain, Khrisnamurti (India), Tao (China), Socrates (Yunani) ada disinggung kelahirkembali (reinkarnasi), emang Islam ada??? ajaran Buddha (mungkin Hindu juga) mengajarkan kalo manusia bukan hanya dibumi ini saja, bagaimana dengan Islam???. Lalu apa artinya “Terlengkap” yang dimaksud?? tolong pencerahannya )

Menanggapi pernyataan enryo :
Bro, Yahudi, Kristen and Islam itu munculnya diwilayah yang sama yaitu Timur Tengah belum lagi dari garis keturunan yang sama. Jadi apa anehnya kalo masing – masing saling menyatakan?? Bagi penganut Hindu, Sang Buddha itu dianggap Inkarnasinya Dewa Siva.

Menanggapi pernyataan adi_isa :
Bro, seumur hidup, saya gak pernah mengetahui, mendengar, melihat kalo ada umat Buddha yang bilang/menganggap bahwa Sang Buddha itu Tuhan. Sampai detik ini hanya ada dua orang yang saya ketahui menafsir Sang Buddha Sebagai Tuhan, yaitu anda dan guru sejarah saya waktu SLTP.

Menanggapi pernyataan prisoner :
orang2 makrifat ??? buku2 tasawuf??? bro kalo anda mau belajar ajaran Buddha belajarlah berdasarkan paham Buddhist, kalo anda mau belajar ajaran Kristen belajarlah berdasarkan paham Kristen, kalo mau belajar ajaran Hindu belajarlah berdasarkan paham Hindu, begitu juga kalo ada orang mau belajar ajaran Islam
belajarlah berdasarkan paham Islam. Kalo anda mau belajar ajaran lain berdasarkan sudut pandangan Islam sudah pasti gak nyambung begitu sebaliknya.

Menanggapi pernyataan Walika :
Kalo dibaca dari tulisan anda, sepertinya anda itu sudah tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar!!!! sehingga anda berani bilang ajaran ini itu tidak punya dasar. oleh sebab itu saya ingin mengajukan pertanyaan :

Ada seorang wanita sewaktu hendak pulang dia diculik oleh sekawanan penjahat dan akhirnya diperkosa.

(1). Pertanyaan saya apakah anda percaya dengan yang nama rencana Tuhan (Takdir)???

Jika tidak (1), pertanyaannya berhenti sampai disini.

(2) Kalo ya(1), bagaimana dengan cerita diatas, apakah juga termasuk rencana Tuhan (Takdir)???

(3) Jika Ya(2), bagaimana dengan pemerkosanya apakah berdosa atau tidak???

jika berdosa(3), bagaimana mungkin bisa berdosa padahal Tuhan yang rencanain.

Jika tidak(3). wah saya jadi pemerkosa deh D

(4) Jika Tidak(2), Kekuatan apakah didunia ini yang bisa menciptakan rencana(pemerkosaan) yang melampaui rencana (Kuasa) Tuhan???

Jika tidak ada(4), kenapa pemeroksaan bisa terjadi????

Terlepas dari semua komentar saya diatas, saya ingin bertanya sama umat Islam khususnya (soalnya belum pernah betul2 belajar paham Islam ) menurut yang kalian pahami atau ketahui Tuhan (Alllah) itu seperti apa????
1. Apakah berwujud / tidak berwujud???
2. Berdiam disuatu tempat / tidak??? (Kalo di Kristen kan berdiam di Surga)
3. Suatu Makhluk / Bukan Suatu Makhluk?
4. Mana yang lebih besar Muhammad atau Jibril???
5. Bagaimana Surga menurut Islam???
6. Sebutkan Alam2 kehidupan apa saja yang diajarkan Islam, selain setan, jin, surga, neraka???

Ini dulu deh udah panjang sih. Sorry bro yang ini bukan untuk diperdebatkan, saya cuma ingin tahu saja, jadi tuliskan semua yang kalian pahami.

tanggapan 2

  • wisdomgod // Januari 20, 2009 pada 11:42 am

    Muhammad bukanlah Maitreya, part 1
    Klaim bahwa Muhammad adalah Maitreya didasarkan pada beberapa kesamaan antara ramalan Buddha Gautama dengan kehidupan Muhammad. Tetapi klaim ini kebanyakan hanya mengada-ada dan menghubung-hubungkan dengan tidak logis. Bahkan klaim ini tidak mempedulikan aspek-aspek dari ramalan Buddha Gautama yang dengan jelas menyebutkan kapan dan dalam kondisi seperti apa seperti apa keadaan Buddha Maitreya muncul. Selain itu, ketidaksesuaian ajaran antara Buddha Gautama dengan ajaran Muhammad dalam hal-hal yang mendasar patut dipertanyakan karena seharusnya ajaran Buddha dari masa ke masa adalah sama.

    Tulisan ini bukan bertujuan untuk menjelek-jelekkan agama lain, tetapi untuk memberi penjelasan berdasarkan kitab-kitab suci Buddhis kenapa Muhammad tidak mungkin adalah Maitreya. Fokus tulisan ini karena itu adalah perbedaan fakta sejarah kehidupan Muhammad dengan ramalan Buddha Gautama dan perbedaan ajaran antara Islam dan Buddhisme yang sangat mendasar.

    A. Ketidakcocokan dengan ramalan
    Buddha Maitreya akan datang setelah ajaran Buddha Gautama dilupakan

    Suatu hari ketika Buddha Gotama tinggal di hutan Banyan di Kapilavastu, Bhikkhu Sariputta mendekati beliau dan mengajukan pertanyaan kepada Buddha tentang Buddha yang akan datang. Dia berkata:

    “Pahlawan yang akan mengikuti Anda sebagai Buddha, seperti apakah Dia?

    Berdasarkan catatan semata, aku tidak dapat memahami. Nyatakanlah kepadaku, Yang Mahatahu.”

    Buddha kemudian menyatakan :

    “… siklus Kami adalah siklus yang bahagia.

    Ketiga pemimpin Buddha sudah pernah hidup

    Pemimpin Buddha Kakusandha, Konagamana dan Kassapa

    Buddha sekarang adalah Aku

    Namun setelah Aku, Maitreya akan datang

    Sementara siklus yang bahagia ini masih berlangsung…”

    (Anagata-vamsa, Chronicles of Future Buddhas)

    “Setelah kepergianku, lebih dahulu akan ada kemerosotan dan pelenyapan ajaranKu. Ini akan terjadi dalam 5 tahap:

    Lenyapnya pencapaian. Ketika tidak ada lagi bhikkhu yang mencapai tingkat kesucian
    Lenyapnya metode. Ketika tidak ada lagi Bhikkhu yang menjalankan peraturan para Bhikkhu yang berjumlah 227. Jumlah peraturan yang diikuti akhirnya hanya akan ada 4 (4 parajika, peraturan yang paling dasar) dan setelah tidak ada bhikkhu yang menjalankan 4 parajika, metode lenyap.
    Lenyapnya ajaran. Ketika Tripitaka lenyap dari dunia dan manusia tidak mampu mengingat 4 baris syair Dharma:

    Jangan berbuat jahat

    Sempurnakan kebajikan

    Sucikan hati dan pikiran

    Itulah ajaran para Buddha
    Lenyapnya simbol-simbol. Ketika Bhikkhu-bhikkhu merosot cara hidupnya, menanggalkan jubah dan memakai carikan kain kuning. Mereka akan berdagang dan menikah. Ketika mereka membuang carikan kain kuning dan mulai melakukan pembunuhan terhadap binatang, simbol telah lenyap.
    Lenyapnya relik-relik. Setelah 5000 tahun, relik-relik Buddha akan gagal mendapatkan penghormatan yang semestinya. Relik-relik tersebut tidak akan dihormati dimanapun. Relik-relik itu akan terbakar dengan sendirinya tanpa meninggalkan sisa setelah melakukan keajaiban-keajaiban yang disaksikan oleh para dewa.

    Yang dapat dilihat secara jelas adalah bahwa saat ini Para anggota sangha, para bhikkhu masih memakai jubah dan menjalankan peraturan-peraturan kebhikkhuan secara lengkap, ajaran Buddha dalam tripitaka masih lengkap, dan relik-relik Buddha masih dihormati di banyak tempat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masa kedatangan Buddha Maitreya masih sangat lama.

    Siapapun yang mengklaim dirinya atau orang lain sebagai Maitreya pada saat ini jelas tidak dapat dipercaya. Muhammad lahir pada tahun 570 Masehi, sekitar 1000 tahun setelah Buddha Gautama. Sedangkan Ajaran Buddha baru akan hilang 5000 tahun setelah Buddha.

    Buddha Maitreya akan datang setelah masa kegelapan berlalu

    Menurut Cakkavati Sihanada Sutta, disebutkan bahwa setelah Ajaran Buddha hilang dari dunia, akan terjadi masa kegelapan dimana umur manusia semakin berkurang karena moral manusia menurun:

    “Para bhikkhu, demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang miskin maka kemelaratan meluas… mencuri… kekerasan… pembunuhan… berdusta… memfitnah… perzinahan… kata-kata kasar dan membual… iri hati dan dendam … pandangan sesat… berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu… hingga kurang berbakti kepada orang tua, kurang hormat kepada para samana dan pertapa dan kurang patuh kepada pemimpin masyarakat berkembang dan meluas. Karena hal-hal ini berkembang dan meluas maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 250 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 100 tahun.

    Para bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia itu akan mempunyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun. Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun, umur lima tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee), mentega, minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Bagi mereka ini, biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan yang terbaik. Seperti pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan makanan yang terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa bagi mereka. Pada masa orang-orang itu, sepuluh macam cara melakukan perbuatan baik akan hilang, sedangkan sepuluh macam cara melakukan perbuatan jahat akan berkembang dengan cepat, di antara mereka tidak ada lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik — Siapa yang akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka tidak ada lagi rasa berbakti kepada orang tua, tidak ada lagi rasa menghormat kepada para samana dan pertapa serta tidak ada lagi kepatuhan kepada para pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang orang-orang masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada para samana dan pertapa serta patuh kepada para pemimpin, namun pada masa orang-orang… yang batas usia kehidupan mereka hanya 10 tahun, rasa berbakti, hormat dan patuh tidak ada lagi.

    Para bhikku, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun tidak akan ada lagi (pikiran yang membatasi untuk kawin dengan) ibu, bibi dari pihak ibu, bibi dari pihak ayah, bibi dari pihak ayah yang merupakan istri dari kakak ayah atau istri guru. Dunia akan diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagaikan kambing, domba, burung, babi, anjing dan srigala.
    Di antara orang-orang ini saling bermusuhan yang kuat akan menjadi hukum, perasaaan yang benci yang hebat, dendam yang kuat serta keinginan membunuh dari ibu terhadap anaknya, anak terhadap ibunya, ayah terhadap anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya dan seterusnya… Hal ini terjadi bagaikan pikiran dari para olahragawan yang menghadiri pertandingan, begitulah pikiran mereka.

    Para bhikku, bagi orang-orang yang batas kehidupan mereka 10 tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang selama seminggu. Selama masa ini mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar: pedang tajam akan nampak selalu tersedia di tangan mereka dan mereka berpikir: ‘Individu ini adalah binatang liar.’ Dengan pedang mereka saling membunuh.
    Sementara itu ada orang-orang tertentu yang berpikir: ‘Sebaiknya kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh kita. Marilah kita menyembunyikan diri ke dalam belukar, ke dalam hutan, ke cekungan di tepi sungai, ke dalam gua gunung dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di hutan.’ Mereka akan melaksanakan hal ini selama seminggu. Pada hari ke tujuh mereka keluar dari belukar, hutan, cekungan dan gua, mereka akan saling berangkulan dan akan saling membantu, dengan berkata: ‘O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih hidup!’
    Para bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul keinginan-keinginan sebagai berikut : ‘Karena kita melakukan cara-cara yang jahat, maka kita kehilangan banyak sanak saudara. Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan. Sekarang, kebajikan apakah yang dapat kita lakukan? Marilah kita berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Itu merupakan perbuatan baik yang dapat kita lakukan.’ Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh, hal yang baik ini mereka laksanakan terus. Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya batas usia kehidupan dan kecantikan mereka bertambah. Bagi mereka yang batas usia hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 20 tahun.

    Para bhikkhu, hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun: ‘Sekarang, karena kita mengikuti dan melaksanakan kebajikan maka batas usia kehidupan dan kecantikan kita bertambah. Marilah kita meningkatkan kebajikan kita. Marilah kita berusaha untuk tidak mengambil apa yang tidak diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita berusaha untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak memfitnah, kita berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar, kita berusaha untuk tidak membual, kita berusaha untuk tidak serakah, kita berusaha untuk tidak membenci, kita berusaha untuk tidak berpandangan sesat, kita berusaha untuk tidak melakukan tiga hal berikut, yaitu: tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri, tidak tamak dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepada orang tua kita, kita menghormati para samana dan pertapa serta kita patuh kepada pemimpin masyarakat. Marilah kita selalu melaksanakan kebajikan-kebajikan ini.’
    Demikianlah mereka akan selalu melaksanakan kebajikan: tidak mengambil apa yang tidak diberikan… berbakti kepada ke dua orang tua, menghormat para samana dan pertapa serta patuh kepada pemimpin masyarakat. Karena mereka melaksanakan kebajikan-kebajikan itu, maka batas usia kehidupan anak-anak dan kecantikan manusia bertambah, sehingga mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 40 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 80 tahun; …. anak-anak mereka mencapai 160 tahun;… anak-anak mereka mencapai 320 tahun;… anak-anak mereka mencapai 640 tahun;… anak-anak mereka mencapai 2.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai 8.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai 20.000 tahun; anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun; dan mereka yang pada masa itu hanya berbatas usia kehidupan 40.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka akan mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun.”

    Jadi sebelum Budha Maitreya datang, akan ada masa kegelapan dimana usia manusia sangat rendah, ketidakbajikan merajalela, incest tidak dilarang, dan terjadi pemusnahan besar manusia karena mereka saling membunuh.

    Karena masa kegelapan ini belum datang, maka jelas bahwa kedatangan Buddha Maitreya masih sangat jauh.

    Buddha Maitreya akan datang dalam masa kemakmuran

    “Para bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 80.000, maka usia perkawinan bagi wanita adalah pada usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini hanya akan ada tiga macam penyakit — keinginan, lupa makan dan ketuaan. Pada masa kehidupan orang-orang ini Jambudipa akan makmur dan jaya, desa-desa, kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan akan berdekatan satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat terbang dari satu kota ke kota yang lain. Pada masa kehidupan orang-orang ini, Jambudipa — bagaikan avici — akan penuh dengan penduduk bagaikan hutan yang dipenuhi semak belukar. Pada masa kehidupan orang-orang ini, kota Baranasi yang kita kenal sekarang akan bernama Ketumati yang merupakan kota kerajaan yang besar dan makmur, berpenduduk banyak dan padat serta berpangan cukup. Pada masa kehidupan orang-orang ini, di Jambudipa akan terdapat 84.000 kota dengan Ketumati sebagai ibu kota.

    Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini di Ketumati, ibu kota kerajaan, akan muncul seorang raja Cakkavatti bernama Sankha, yang jujur, memerintah berdasarkan kebenaran, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyatnya dan pemilik tujuh macam permata, yaitu: cakka, gajah, kuda, permata, wanita (istri), kepala rumah tangga dan panglima perang. Ia akan memiliki keturunan lebih dari 1000 orang yang merupakan ksatriya-ksatriya digjaya, penakluk musuh-musuh. Ia akan menguasai dunia sampai ke batas lautan, tetapi ia menguasai dunia ini bukan dengan kekerasan atau dengan pedang melainkan dengan kebenaran.

    Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam dunia akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasambuddha bernama Metteyya (Maitreya), yang sempurna dalam pengetahuan dan pelaksanaannya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, yang sadar serta yang patut dimuliakan, yang sama seperti saya sekarang. Ia, dengan dirinya sendiri akan mengetahui dengan sempurna dan melihat dengan jelas alam semesta bersama alam-alam kehidupan para dewa, brahma, mara, serta para samana, para pertapa, para pangeran dan orang-orang lainnya, seperti apa yang saya tahu dengan sempurna dan lihat dengan jelas sekarang. Dhamma kebenaran yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhir akan dibabarkan dalam kata-kata dan semangat, kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang saya lakukan sekarang. Ia akan diikuti oleh beberapa ribu bhikkhu sangha, seperti saya sekarang ini yang diikuti oleh beberapa ratus bhikkhu sangha.”

    Bisa dilihat bahwa pada saat ini,

    – Tidak ada raja yang sangat berkuasa bernama Sankha yang memerintah dengan adil. Di zaman Nabi Muhammad juga tidak ada raja seperti itu

    – Usia manusia belum mencapai 80.000 tahun

    – Kehidupan manusia belum semakmur seperti yang diceritakan dalam Cakkavati Sihanada Sutta, dimana tidak ada perang dan kebanyakan penyakit hilang.

    Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedatangan Buddha Maitreya tidak mungkin terjadi sekarang.

    Apalagi umur Nabi Muhammad SAW tidak sampai 80.000 tahun. Padahal Buddha Gautama mengatakan:

    “Usia Buddha Maitreya adalah 80.000 tahun. Berada di dunia, beliau akan membawa banyak orang menyebrang”

    Seorang Buddha mempunyai 32 tanda manusia besar.

    Seorang Buddha di masa lalu maupun masa yang akan datang akan memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Ciri-ciri ini berjumlah 32, dan terdapat dalam kitab-kitab Veda agama Hindu sebagai Maha Purisa Lakkhana (Tanda-tanda manusia agung). Buddha Gautama menjelaskan tentang hal ini dalam Lakkhana Sutta (Sutta Pitaka,Digha Nikaya):

    “Para bhikkhu, apakah 32 Maha Purisa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain, jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), … maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha; yaitu:

    1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado). Ini merupakan satu lakkhana dari Maha Purissa.

    2. Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.

    3. Tumit yang bagus (ayatapanhi).

    4. Jari-jari panjang (digha-anguli)

    5. Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).

    6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).

    7. Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).

    8. Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)

    9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.

    10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).

    11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno)

    12. Kulitnya sangat lembut dan halus / sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit

    13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.

    14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.

    15. Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).

    16. Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.

    17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).

    18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).

    19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigroda.

    20. Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).

    21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).

    22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).

    23. Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).

    24. Gigi-geligi rata (sama-danto).

    25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).

    26. Gigi putih bersih (susukka-datho).

    27. Lidah panjang (pahuta-jivha).

    28. Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.

    29. Mata biru (abhinila netto).

    30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).

    31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.

    32. Kepala bagaikan berserban (unhisasiso).”

    Seseorang yang ingin mengklaim bahwa dirinya adalah Buddha, harus mempunyai 32 tanda ini. Muhammad tidak pernah disebutkan memiliki tanda-tanda tersebut. Kita memang tidak dapat membuktikan apakah Muhammad mempunyai ciri-ciri tersebut karena tidak ada gambaran fisik tentang Muhammad yang dilestarikan oleh umat Islam.

    Proklamasi kedatangan Buddha Maitreya

    Sebelum Bodhisattva Maitreya lahir terakhir kalinya sebagai manusia, para dewa dan Brahma akan mengumumkan kedatangannya 1000 tahun sebelumnya. Umat manusia yang pada saat itu masa hidupnya berusia 80.000 tahun akan hidup dalam penantian 1000 tahun lamanya sebelum Buddha Maitreya benar-benar lahir.

    (Seorang Calon Buddha disebut Bodhisattva sebelum mencapai pencerahan sempurna)
    Buddha Maitreya dilahirkan dan dibesarkan dalam beberapa kondisi

    · Boddhisattva akan menjadi anak dari Kepala Pendeta Kerajaan, yang bernama Subrahma, dan ibunya akan bernama Brahmavati (disebutkan dalam Visudhi Magga Bab XIII, 127)

    · Beliau akan dinamai Ajita, dan akan memiliki 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan yang biasa dimiliki oleh Raja Dunia dan Buddha (daftar 80 tanda minor ada dalam pendahuluan Dasabodhisattuppattikatha/ The Birth-stories of the Ten Bodhisattas)

    · Kondisi kelahiran yang menakjubkan:

    Ibunya melahirkan Beliau dalam keadaan berdiri dan di dalam hutan. Bodhisattva akan dilahirkan di taman rusa Isipatana…Ia dilahirkan tanpa noda…Segera setelah lahir beliau akan berjalan ke utara, memeriksa empat penjuru, dan mengumumkan bahwa beliau adalah yang termulia di dunia…tujuh hari setelah Bodhisattva dilahirkan, ibunya meninggal dan terlahir di alam dewa Tusita.

    · Beliau akan menjalani kehidupan sebagai perumah tangga selama 8000 tahun.

    · Beliau akan mempunyai empat istana yang bernama Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha, and Candaka. Ia akan mempunyai 100.000 gadis penari.

    · Istrinya akan bernama Candamukhi (Dasavatthuppakarana) dan anaknya bernama Brahmavaddhana

    Jelas sekali Muhammad tidak memenuhi semua ramalan di atas.
    Muhammad tidak mungkin lahir di hutan. Di Arab tidak ada hutan
    Muhammad tidak bernama Ajita. Ia bukan anak kepala pendeta kerajaan
    Semua Buddha segera setelah lahir langsung dapat berjalan dan berbicara, sementara tidak ada catatan Muhammad melakukan hal yang sama.
    Ibunya meninggal pada waktu Muhammad berusia 6 tahun, bukan 7 hari
    Muhammad tidak punya istana dan gadis penari, nama istri dan anaknya juga beda.

    Bandingkan dengan fakta historis Muhammad di bawah:

    Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hâsyim bin ‘Abd al-Manâf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b.[1]

    Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin ‘Abd Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’b.[1]

    Istrinya bernama Khadijah (dan lain-lain) dan anaknya bernama Fatimah.

    Buddha Maitreya dan pengikutnya meninggalkan keduniawian

    “He will become averse to sensual pleasures. Not looking for the unsurpassed, great happiness and bliss in seeking honour, he will go forth.”

    (Anagata-vamsa)

    “kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang saya lakukan sekarang”

    (Cakkavati Sihanada Sutta)

    Semua Bodhisattva memutuskan untuk meninggalkan keduniawian setelah mereka melihat empat tanda (orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa), dan setelah mereka mendapatkan seorang putra. Cerita Bodhisattva Ajita secara detil diceritakan dalam Dasabodhisatta- uddesa:

    Pada umur delapan ribu tahun, Bodhisattva akan mengendarai kereta yang mirip istana dewa dan ketika beliau pergi ke taman istana, beliau akan melihat empat tanda. Beliau akan mengembangkan perasaan tidak puas pada dunia, dan melepaskan keduniawian.

    Beliau akan mencukur rambut dan memakai jubah kuning. Bodhisattva kemudian akan pergi ke salah satu istananya. Diikuti oleh para pengikutnya (yang mencontoh beliau meninggalkan keduniawian), beliau akan duduk di bawah pohon Naga dan bermeditasi selama 7 hari sebelum mencapai pencerahan sempurna.

    Seperti Buddha Gautama yang meninggalkan keduniawian, meninggalkan anak dan istri dan menjadi pertapa, begitu pulalah yang dilakukan oleh Buddha Maitreya.

    Disini terlihat perbedaan yang sangat mencolok karena seperti yang kita tahu bahwa:

    · Muhammad tidak meninggalkan keluarganya sewaktu mendapatkan wahyu pertama

    · Muhammad tidak hidup selibat, ataupun memakai jubah pertapa, dll

    · Muhammad malah kawin lagi, mengambil 9 istri (minimal) setelah kematian istri pertamanya.

    · Muhammad mendapat wahyu di dalam gua, bukan di bawah pohon.

    · Muhammad menjadi pemimpin politik dan menguasai daerah-daerah. Hal ini juga terus dilakukan oleh penerusnya, para kalifah.

    Hal ini sangatlah berbeda dengan ramalan Buddha Gautama yang mendeskripsikan Maitreya sebagai penerusnya yang akan hidup dengan cara yang mirip dan mengajarkan ajaran yang sama.

    Satu dari teks awal yang menyebutkan Maitreya adalah teks Sansekerta, Maitreyavyakaraṇa (The Prophecy of Maitreya), yang menyatakan bahwa dewa, manusia, dan makhluk lain akan memuja Maitreya dan:

    “akan hilang rasa ragunya, dan arus nafsu keinginan mereka akan terpotong; bebas dari penderitaan mereka akan menyebrang lautan kelahiran kembali; dan, sebagai hasil dari ajaran Maitreya, mereka akan menjalani kehidupan suci. Tak akan lagi mereka menganggap apapun sebagai milik mereka, mereka tidak akan mempunyai kepemilikan, tak ada emas atau perak, tak ada rumah, tak ada keluarga! Tapi mereka akan menjalankan kehidupan suci selibat di bawah petunjuk Maitreya. Mereka akan merobek jaring nafsu, mereka akan dapat memasuki samadhi, dan mereka akan mendapat banyak kebahagiaan karena mereka menjalankan kehidupan suci di bawah bimbingan Maitreya. (Trans. in Conze 1959:241)

    http://id.wikipedia.org/wiki/maitreya
    Buddha Maitreya datang pada saat keadaan dunia berubah

    Kedatangan Maitreya ditandai oleh beberapa kejadian fisik. Lautan diprediksi akan berkurang ukurannya, yang membuat Maitreya dapat menyebrang secara bebas.

    Di dalam Buddhavacana Maitreya Bodhisattva Sutra disebutkan:

    “O, Arya Sariputra! Pada saat Buddha baru tersebut dilahirkan di dunia Jambudvipa. Situasi dan kondisi dunia Jambudvipa ini jauh lebih baik daripada sekarang! Air laut agak susut dan daratan bertambah. Diameter permukaan laut dari keempat lautan masing-masing akan menyusut kira-kira 3000 yojana, Bumi Jambudvipa dalam 10.000 yojana persegi, persis kaca dibuat dari permata lazuardi dan permukaan buminya demikian rata dan bersih”

    Buddha Maitreya memiliki fisik yang berbeda dengan manusia masa kini.

    Dikisahkan bahwa karena kebajikan mereka, manusia di masa depan akan berkembang tubuhnya. Badan mereka akan menjadi sangat besar. Badan manusia masa sekarang kecil karena banyak melakukan ketidakbajikan.

    Many details are given about the physical appearance of Buddha Metteyya. He will be eighty-eight cubits high. His chest will be twenty-five cubits in diameter. There will be twenty-two cubits from the soles of his feet to the knees, from the knees to the navel, from the navel to the collar bone, and from the collar bone to the apex of his head. His arms will be twenty-five cubits long. The collar bones will be five cubits. Each finger will be four cubits. Each palm will be five cubits. The circumference of the neck will be five cubits. Each lip will be five cubits. The length of his tongue will be ten cubits. His elevated nose will be seven cubits. Each eye socket will be seven cubits. The eyes themselves will be five cubits. The Anagatavamsa says his eyelashes will be thick, that the eyes will be broad and pure, not winking day or night; and that with his physical eye, he will be able to see large and small things all around for ten leagues without obstruction. The space between the eyebrows will be five cubits.(126) The eyebrows will be five cubits. Each ear will be seven cubits. The circumference of his face will be twenty-five cubits. The spiral of the protuberance on his head will be twenty-five cubits.

    10. Maitreya bukanlah yang terakhir

    Muslim percaya bahwa Muhammad adalah nabi terakhir bagi dunia. Hal ini ditegaskan oleh Muhammad sendiri. Namun menurut Buddhis, Maitreya bukanlah yang terakhir karena masih akan ada Buddha yang lain.

    Uttamo Metteyyo Ramo Pasenadi Kosalo ca

    Abhibhu Dighasoni ca Candani ca Subo Todeyyabrahmano

    Nalagiri Palaleyyo bodhisatta anukkamena

    Sambodhim labhanti anagate.

    Buddha Gotama predicted as follows:

    In the future (ten) Bodhisattas will attain full awakening in the following order:

    the most honourable (Ariya) Metteyya,(King) Rama, (King) Pasenadi of Kosala, (the Deva) Abhibhu, (the Asura Deva) Dighasoni, (theBrahman) Candani, (the young man) Subha, the Brahman Todeyya, (theelephant) Nalagiri, and (the elephant) Palaleya.(Anagatavamsa, bait pertama)

  • Ketidakcocokan ajaran

    1.Kelahiran kembali dan karma

    Salah satu perbedaan besar ajaran Buddha dan ajaran Muhammad adalah mengenai masalah kelahiran kembali dan Karma. Buddha Gautama dengan sangat spesifik menyatakan bahwa kelahiran kembali adalah pasti, dan lebih jauh menceritakan banyak kelahiran-Nya yang terdahulu.

    Catatan mengenai kelahiran terdahulu Siddharta Gautama ini terkumpul di banyak tempat di Tripitaka. Contohnya:
    Jataka (Theravada). Kitab yang menceritakan kisah 547 kelahiran Bodhisattva yang terdahulu.
    Jatakamala (Mahayana). Kitab Jataka versi Mahayana dengan cerita yang lebih sedikit tetapi lebih mudah dimengerti dan lebih menekankan aspirasi pencapaian KeBuddhaan.
    Sutra Tentang Yang Bijak dan Yang Dungu (Mahayana). Menceritakan banyak cerita kelahiran kembali dan hukum sebab akibat (karma) yang dialami oleh Bodhisattva maupun murid-murid Buddha pada kelahiran sebelumnya.

    Semua kitab di atas menceritakan kisah yang sama, yaitu bagaimana seorang Bodhisattva harus berjuang melalui banyak kelahiran untuk menyempurnakan kualitas-kualitas baik dan perbuatan bajiknya. Perbuatan bajik yang tidak mungkin dapat disempurnakan dalam satu kelahiran. Kesempurnaan (Paramita) yang disempurnakan melalui kelahiran yang tak terhitung jumlahnya. Kesempurnaan Berdana (Perfection of giving) misalnya, dicapai ketika Bodhisattva memberikan:

    a. Hartanya, anak-anaknya, dan istrinya (Vessantara Jataka)

    b. Organ tubuhnya (Maitribhala Jâtaka – Kisah Tentang Kekuatan Belas kasih)

    c. Hidupnya. (contoh: Vyaghri Jataka)

    Muhammad tidak pernah memberikan ajaran tentang bagaimana tidak mementingkan diri sendiri dan memberikan hidup sendiri untuk kebahagiaan orang lain.

    Apa yang diajarkan Muhammad sangatlah berbeda. Ia mengajarkan akhir jaman (kiamat) yang serupa dengan agama Kristen dan Yahudi dimana semua orang akan diadili sesuai perbuatannya pada masa hidupnya. Manusia hanya hidup satu kali. Tak ada hukum karma yang berlanjut di kehidupan mendatang.

    2. Beliau akan menceritakan Buddha Gautama secara jelas dan mendetil

    Buddha Maitreya akan secara jelas menceritakan kisah-kisah mengenai Buddha sebelumnya, termasuk Buddha Gautama. Seperti juga Buddha Gautama yang telah menceritakan secara jelas 24 Buddha sebelum Beliau.

    “He will tell the story of one of his past lives (Jataka) whenever necessary, and he will teach the Buddhavamsa (The Chronicle of Buddhas) to a gathering of his relatives.”

    Para bhikkhu, berdasarkan pengertiannya yang sempurna tentang Dhamma-dhatu, maka Tathagata dapat mengingat kembali para Buddha yang lampau. Karena ia telah mencapai kesempurnaan, telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah menghancurkan semua rintangan, telah memutuskan lingkaran kehidupan dan terbebas dari penderitan. Demikianlah, sehingga ia dapat mengingat kelahiran para Buddha, nama mereka, keturunan mereka, keluarga mereka, panjang usia kehidupan mereka, pasangan murid utama mereka, bhikkhu pembantu mereka, kelompok bhikkhu yang datang berkumpul; maka ia dapat berkata: “Demikian itulah kelahiran dari para Bhagava, nama mereka, keturunan mereka, keluarga mereka, sila (moral) mereka, Dhamma mereka, kebijaksanaan mereka, bagaimana mereka hidup dan bagaimana mereka mencapai kesucian.”

    (Mahapadana Sutta, Digha Nikaya)

    Kenapa Buddha Maitreya menceritakan secara detil tentang Buddha Gautama? Karena mereka pernah bertemu secara langsung dalam beberapa kehidupan. Salah satu pertemuan tersebut diceritakan dalam Vyaghri Jataka, dimana Buddha Maitreya waktu itu adalah siswa senior pertapa yang merupakan kelahiran terdahulu Buddha Gautama. (At different stages of perfection two Bodhisattas may happen to be reborn at the same vicinity at some very rare moments in their life’s journey).

    Nah, Muhammad tidak pernah menceritakan Buddha Gautama dan Buddha-Buddha sebelumnya yang telah diceritakan oleh Buddha Gautama. Maka, sangatlah diragukan apakah Muhammad adalah penerus Buddha Gautama. Padahal Buddha Maitreya dengan sangat jelas diramalkan sebagai penerus garis sislsilah Buddha.

    3. Ahimsa dan cinta terhadap semua makhluk

    Nama Maitreya (sansekerta, bahasa pali: Metteya) berasal dari kata Maitri (pali: Metta) yang artinya cinta kasih. Maitreya berarti `Ia yang memiliki cinta kasih’. Seorang yang diklaim sebagai Maitreya seharusnya mempunyai cinta kasih yang sangat istimewa.

    Dikatakan bahwa ajaran Buddha Gautama menekankan pada pengembangan kebijaksanaan dan ajaran Buddha Maitreya akan menekankan pada cinta kasih. Bukan berarti Maitreya memiliki cinta kasih yang lebih daripada Buddha Gautama dan Buddha Gautama lebih bijaksana. Cinta kasih dan kebijaksanaan semua Buddha adalah sama, yang berbeda hanyalah pada penekanan ajaran.

    Tidaklah cukup mengatakan bahwa Muhammad dan ajarannya, Islam, memiliki cinta kasih, atau Tuhan agama mereka adalah Maha-Pengasih, dll, untuk menyamakan Muhammad dan Maitreya. Masalahnya cinta kasih yang dimengerti dalam ajaran Buddha tidaklah sama dengan cinta kasih yang dimengerti pada umumnya.

    Cinta kasih dalam ajaran Buddha berarti cinta kasih pada semua makhluk di dunia, bahkan terhadap serangga terkecil sekalipun.

    “Tak berbuat kesalahan walaupun kecil

    Yang dapat dicela oleh para bijaksana

    Hendaklah ia berpikir

    Semoga semua makhluk berbahagia dan tentram

    Semoga semua makhluk berbahagia

    Makhluk hidup apa pun juga,

    Yang lemah dan kuat tanpa kecuali

    Yang panjang atau besar,

    Yang sedang, pendek, kecil, atau gemuk

    Yang tampak atau tak tampak,

    Yang jauh atau pun dekat

    Yang telah lahir atau akan lahir

    Semoga semua makhluk berbahagia

    ….

    Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan jiwanya

    Melindungi anaknya yang tunggal

    Demikianlah terhadap semua makhluk

    Dipancarkankannya pikiran kasih sayangnya tanpa batas

    (Karaniya Metta Sutta – Khotbah tentang pengembangan cinta kasih)

    Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Muhammad bukanlah Maitreya penerus Buddha Gautama. Kenapa? Karena Buddha Maitreya seharusnya mengajarkan praktek pengembangan cinta kasih yang minimal sama dengan Buddha Gautama. Sehingga Maitreya juga akan mengajarkan cinta pada semua makhluk dan mengajarkan ahimsa (tanpa kekerasan). Pembunuhan makhluk lain akan dicela sebagai perbuatan buruk dan mengakibatkan karma negatif.

    Sementara Muhammad tidak mengajarkan hal tersebut. Bahkan membunuh manusia dan perang dalam kondisi tertentu diperbolehkan, apalagi membunuh binatang. Muhammad dikatakan menyukai beberapa binatang (contohnya Unta) dan melarang mereka dibunuh. Tetapi beberapa binatang dibunuh dengan sengaja. Contohnya, dalam Islam, ada upacara kurban yang membunuh banyak ternak yang merupakan upacara religius wajib.

    Upacara kurban sangat bertentangan dengan konsep cinta kasih kepada semua makhluk. Upacara kurban juga secara spesifik ditentang/dikritik oleh Buddha Gautama. Buddha berkata bahwa upacara kurban yang benar dan mulia adalah:

    “Brahmana, dalam pelaksanaan upacara tidak ada sapi, kambing, unggas, babi yang dibunuh atau tidak ada makhluk hidup mana pun yang dibunuh. Tidak ada pohon yang ditebang untuk dijadikan tiang, tidak ada rumput ‘Dabba’ yang disabit dan diletakkan di sekeliling tiang. Para pekerja dan pembantu atau pekerja yang bekerja, tidak ada yang diancam dengan cambuk atau tongkat, sehingga tidak ada tangisan maupun air mata bercucuran di wajah mereka. Siapa yang ingin membantu, ia bekerja; ia yang tidak mau membantu, tidak bekerja. Setiap orang melakukan sesuai apa yang ia inginkan; melakukan atau tidak melakukan. Upacara dilaksanakan dengan hanya menggunakan ghee, minyak, mentega, susu, madu dan gula.

    (Kutadanta Sutta –Sutta Pitaka Digha Nikaya)

    Dalam salah satu kisah jataka juga disinggung tentang upacara kurban dimana upacara pengorbanan hewan dikatakan sebagai hal yang sia-sia.

    4. Tentang Tuhan

    Buddhisme jelas-jelas menolak ide tentang Tuhan Pencipta. Hal ini telah berkali-kali ditegaskan oleh Buddha Gautama dalam banyak khotbah. Buddha dengan sendirinya juga menolak metode-metode agama lain yang menawarkan penyatuan dengan Tuhan. Tuhan di India waktu itu dipanggil dengan nama Brahma. Contoh hal ini ada di Tevijja Sutta (khotbah tentang tiga pengetahuan) dimana Buddha mengkritik metode-metode Hindu yang dikatakan dapat membawa penyatuan dengan Brahma. Definisi Buddhism tentang Tuhan sama sekali berbeda dengan definisi agama lain

Posted in buddha, diskusi bebas, islam | 118 Comments »