kosong

berfikir untuk hidup yang lebih baik , dan beriman untuk tuhan yang benar

Archive for the ‘diskusi bebas’ Category

ESA dan EKA , ahad dan wahid, echad dan yakhid

Posted by kosongan pada | 3 |Februari| 2014 |

pagi ini saya di berikan kata “Sh’ma Yis’ra’eil Adonai Eloheinu Adonai echad” dalam trade ini saya jadi teringat di indonesia masih sering rancu antara esa dan eka , ahad dan wahid, echad dan yakhid

sumber :http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20121127053923AASFg8v

Esa adalah bahasa jawa kuno[bahasa KAWI]berarti tunggal atau satu,yang hanya digunakan pada penyebutan Allah tuhan yang esa””
Eka adakah bahasa sansekerta juga berarti satu namun eka dapat digunakan pada banyak kalimat atau juga berfungsi kata ganti”

sumber : http://oktavianipratama.wordpress.com/matakuliah-umum/kewarganegaraan/arti-dan-makna-sila-ketuhanan-yang-maha-esa/

Kata Maha berasal dari bahasa Sansekerta atau Pali yang bisa berarti mulia atau besar( bukan dalam pengertian bentuk). Kata Maha bukan berarti sangat. Kata “esa” juga berasal dari bahasa Sansekerta atau Pali. Kata “esa” bukan berarti satu atau tunggal dalam jumlah. Kata “esa” berasal dari kata “etad” yang lebih mengacu pada pengertian keberadaan yang mutlak atau mengacu pada kata “ini” (this- Inggris). Sedangkan kata “satu” dalam pengertian jumlah dalam bahasa Sansekerta  atau bahasa Pali adalah kata “eka”. Jika yang dimaksud dalam sila pertama adalah jumlah Tuhan yang satu, maka kata yang seharusnya digunakan adalah “eka” bukan kata “esa”.

dari ke dua hal tersebut kita bisa memulai dari kebanggaan kita dasar negara kita pancasila ^^
dalam sebuah lambang tersebut ada sila pertama “ketuhanan yang maha esa” dan menggenggam pita dengan tulisan “bhineka tunggal ika” berarti disana membicarakan hal selaras
Tuhan = tuhhyang sumber : http://filsafat.kompasiana.com/2011/01/16/definisi-tuhan-335016.html
Tuhan, serapan dari sansekerta Tuh (kepala) Hyang (dewa), yg berati kepala para dewa meskipun bisa di artikan dari pengembangan kata tuan yang berarti atasan/penguasa/pemilik (Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ (1976))
dengan pemahaman ini kita bisa menyimpulkan kata esa disana adalah kata serapan dari bahasa sansekerta pula yang sudah diadaptasi oleh jawa … maka hal ini menggugurkan pernyataan yang saya ambil dari yahoo di atas karena masih bisa di cari lebih dalam
selain karena dari bahasanya kita bisa melihat dari bentuk negara indonesia sendiri yang mengakui 5 agama dimana selain agama islam agama lainnya dianggap memiliki tuhan2 yang lebih dari 1

sumber : http://salafyitb.wordpress.com/2007/02/02/beda-antara-kata-ahad-dan-wahid/

Beda antara kata “ahad” dan “wahid”

Abu Shalih Al-Lamfunji (TI 2002)

Dalam pembahasan ini, ana banyak mengambil faidah tentang pembahasan ini dari kitab yang sarat faidah karya Al Imam Al hafidz AsSuyuti, rahimahullah berjudul “ Al Itqon fi Ulumil Quran” ana tambahkan dari beberapa referensi bermanfaat lainnya.

Pertama yang perlu ditetapkan adalah keduanya merupakan 2 nama Allah ‘azza wajalla.

Allah berfirman dalam surat Al Ikhlas :

قل هو الله أحد

Katakanlah “Dialah Allah yang maha tunggal (ahad)”( Al Ikhlas , 1)

Dan Ia juga berfirman:

لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

Tidak ada yang tersembunyi di sisi Allah, milik siapakah kerajaan pada hari ini ? milik Al Wahid Al Qohhar (Ghofir : 16)

Lalu apa perbedaan antara ahad dan wahid ?

 

Bedanya :

1. Ahad bisa dijama’, sedangkan wahid tidak

Jamak ahad adalah ahaduuna أحدون, dan Aahadحد آ

Sedangkan wahid tidak ada jamaknya, tidak dikatakan : wahidun atau yang lainnya.

Pernah kita dengar : syubhat hadits âhad dari HT, tapi tidak pernah kita dengar syubhat hadits wâhidin, Cuma pernah denger aja nama mas wahidin :p

2. Ahad bisa dipakai untuk mufrad dan jama’, contohnya pada

Surat Al Haqqoh:

فما منكم من أحد عنه حاجزين

Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalanginya( Al Haqqah, 47)

3. Ahad mencakup untuk muannats (perempuan) dan mudzakkar (laki-laki)

Oleh sebab itu oleh berfirman:

لستن كأحد من النساء

Dan tidaklah kalian (para istri nabi) seperti wanita-wanita mukminah lainnya (Al Ahzab: 33)

Sementara untuk wahid, harus menggunakan wahidah-واحدة – bila yang dimaksud/disandarkan adalah muannats, misalnya sebagaimana sering kita dengar dalam bagian khutbatul hajah:

ياأيهاالناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة

Wahai manusia, bertaqwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu. (An Nisa’ : 1)

Nafs adalah jenis kata muannats.

Contoh lain, yang terdapat pada ayat favorit para ikhwan…katanya,

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim , maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil , maka wahidah (seorang) saja (An Nisa’ : 3)

dan masih banyak contoh lainnya

4. Ahad untuk yang ‘Aqil (berakal) sedangkan wahid bisa untuk yang berakal dan tidak berakal,

Sebagai contoh :

ليس في البيت أحد

Tidak ada seorangpun (ahad) dirumah

Maka ini khusus, yakni untuk orang

Sedangkan bila kita berkata:

ليس في البيت واحد

Tidak ada “wahid”pun di dalam rumah,

Maka maksudnya bisa untuk manusia, ternak, burung dll…

5. Dalam beberapa keadaan, makna ahad lebih sempurna dari pada wahid, contohnya:

فلان لا يقوم له أحد

Fulan, tidak ada yang berdiri untuknya seorangpun,

Maka maknanya adalah tidak ada yang berdiri satu, demikian pula dua, tiga dan seterusnya.

Tetapi bila redaksinya..

فلان لا يقوم له و احد

Artinya, fulan tidak ada yang berdiri untuknya satu,

Maka maknanya bisa ada yang berdiri untuk si fulan dua orang, tiga orang dan seterusnya…

6. Umumnya, ahad digunakan dalam kalimat yang redaksinya berbentuk nafyi (pengingkaran) atau larangan.

Bila kita melihat ayat-ayat dalam Al Quran, bentuk nafynya menggunakan ahad bukan wahid, contohnya:

وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى

Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya, Al Lail : 19

أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ

Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?

Al Balad (7)

أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ

Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun (ahad) yang berkuasa atasnya?

Al balad : 5

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ (25) وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ (26)

Maka pada hari itu tiada seorang(ahad)pun yang menyiksa seperti siksa-Nya (25)

dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.(26)

Al fajr: 25-26

ولا بصل على أحد منهم مات أبدا

dan janganlah kamu sekali-kali mensholati salah seorang(ahad) yang mati di antara mereka..(At Taubah: 84)

silakan cari ayat-ayat yang lainnya, niscaya yang ketemu adalah ahad bukan wahid.

7. namun ada juga ahad dalam redaksi penetapan (itsbat), dan ini jarang:

contohnya:

قل هو الله أحد

Dalam surat Al Ikhlas,

Berkata fairuz Abadi bahwa ahad dalam surat al ikhlas di atas asalanya adalah wahadun, demikian juga Al imam As suyuti berpendapat seperti ini dalam Al Itqon.

Yakni hamzah pada أحد adalah gantian dari wawu, hal ini banyak terjadi pada kalimat-kalimat yang berawalan wawu, contohnya :

امرأة أناة ووناة

Imroatun Anatun dan wanatun (wanita yang lambat gerakannya)

وإشاح ووشاح،

Isyah dan wisyah (pedang)

bentuk itsbat yang lain..

فابعثوا أحدكم بورقكم هذه إلى المدينة

Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini (Al Kahfi: 19)

Itsbat lainnya

Dalam bilangan sebelas, dua puluh satu dan seterusnya

أحد عشر, أحد و عشرون

Ulama mengatakan bahwa ahad bila dalam siyaq itsbat, maka maknanya bisa berarti “ awal” (yang pertama), contohnya pada “yaumul ahad” yakni hari pertama, bukan hari satu. Dan sebagian dari mereka menafsirkan dengan ini, misalnya pada ayat dalam surat yusuf :

أما أحدكما فيسقي ربه خمرا

Adapun yang pertama dari kalian berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar (Yusuf : 41)

8. Allah tidak menggunakan kata ahad sebagai sifat dalam Al Quran kecuali untuk diri-Nya yakni pada surat Al Ikhlas sementara wahid digunakan untuk mensifati makhluq-Nya

Allah ta’ala berfirman :

وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama(satu)

Ar Ra’du : 4

Sehingga dari sini ulama ada yang berkata bahwa sifat ahad adalah sifat mutlak yang kembali kepadaNya dan tidak boleh pada makhluqNya, tidak boleh dikatakan huwa ahad atau Al malik Al ahad dan seterusnya.

9. Orang-orang lebih suka pake nama Abdul Wahid dari pada Abdul Ahad, setidaknya di negeri ini, pernahkah kita mendapati orang yang namanya Abdul Ahad, atau ahad saja ? Allahu a’lam

Demikian pembahasan ini, semoga dapat memberikan faidah, terutama menumbuhkan kecintaan untuk mempelajari Al Lughoh Al ‘Arobiyah sebagai bahasa yang Ia pilih untuk berbicara dengan makhluqNya dalam kitab-Nya yang mulia.

Wallahu ta’ala A’lam
Abu Shalih

Maaf, kata2 “keduanya merupakan 2 nama Allah ‘azza wajalla” itu kurang tepat… al-Wahid memang asma Allah… tapi “ahad” bukan asma Allah. Kata “ahad” dalam surat al-ikhlash itu merupakan isim ‘adad yang berkedudukan menjadi khobar kata “Allah”. Cuman dalam surat al-Ikhlash, isim ‘adad “ahad” digunakan untuk menjelaskan atau menta’kidi bahwa Allah itu satu.
Biasanya Asmaul-khusna itu menjadi na’at bukan sbgai khobar ato yg lain. Saya tidak yakin klo ada kitab yg menerangkan bahwa “ahad” itu asma Allah. kecuali mungkin kitab terjemahan yang disitu kurang tepat dalam mengartikan….

sumber : http://www.sarapanpagi.org/ekhad-dan-yakhid-ahad-dan-wahid-esa-dan-tunggal-vt22.html

‘EKHAD DAN YAKHID, AHAD DAN WAHID, ESA DAN TUNGGAL
Baik kata Ibrani ” אחד – ‘EKHAD”, “esa”, “pertama”, “satu”, maupun YAKHID, “tunggal”, “satu-satunya”, “tunggal”, “saja”, “hanya”, “sendiri”, berasal dari akar kata induk ” ח – KHET” dan ” ד -DALET”. Aksara KHET dalam tulisan proto-sinaistik — Ibrani Kuno — merupakan gambar “tembok” atau “dinding”; sedangkan aksara DALET, Ibrani Kuno: DAL, merupakan gambar “pintu”.

Gabungan kedua aksara yang merupakan simbol itu bermakna “kesatuan”. Tembok atau dinding memisahkan bagian dalam dari bagian luar kemah atau rumah. Hanya melalui pintu, seseorang dapat masuk atau keluar, thus bagian luar dan bagian dalam dipersatukan oleh pintu.

Gabungan aksara ” ח – KHET” dan ” ד -DALET”, yaitu ” חד – KHAD” , baik dalam bahasa Ibrani maupun Aram, diterjemahkan menjadi “satu”.

Bahasa Ibrani:

* Yehezkiel 33:30,
LAI TB, Dan engkau anak manusia, teman-temanmu sebangsa bercakap-cakap mengenai engkau dekat tembok-tembok dan di pintu rumah-rumah dan berkata satu (KHAD) sama lain, masing-masing kepada temannya. Silakan datang dan dengar, apa yang difirmankan oleh TUHAN!
KJV, Also, thou son of man, the children of thy people still are talking against thee by the walls and in the doors of the houses, and speak one to another, every one to his brother, saying, Come, I pray you, and hear what is the word that cometh forth from the LORD.
Hebrew,
וְאַתָּה בֶן־אָדָם בְּנֵי עַמְּךָ הַנִּדְבָּרִים בְּךָ אֵצֶל הַקִּירֹות וּבְפִתְחֵי הַבָּתִּים וְדִבֶּר־חַד אֶת־אַחַד אִישׁ אֶת־אָחִיו לֵאמֹר בֹּאוּ־נָא וְשִׁמְעוּ מָה הַדָּבָר הַיֹּוצֵא מֵאֵת יְהוָה׃
Translit. interlinear, VE’ATAH {dan engkau} VEN-‘ADAM {anak manusia} BENEY {anak-anak dari} ‘AMEKHA {umatmu} HANIDBARIM {ia dibicarakan} BEKHA {padamu} ‘ETSEL {oleh} HAQIROT {tembok-tembok itu} UVEFITKHEY {dan pada pintu-pintu dari} HABATIM [rumah-rumah itu} VEDIBER-KHAD {dan mereka berkata — satu} ‘ET-‘AKHAD {kepada satu} ‘ISY {orang} ‘ET-‘AKHIV {kepada saudaranya} LE’MOR {berkata} BO’U-NA’
{datanglah] VESYIM’U {dan dengarlah} MAH {apa} HADAVAR {firman itu} HAYOTSE’ {yang keluar} ME’ET {dari} YEHOVAH {TUHAN}

Note:
“satu sama lain” diterjemahkan dari kata ” חד את־אחד ; KHAD ‘ET-‘AKHAD”, harfiah “satu kepada satu”.
Bahasa Aram:
* Ezra 4:8
LAI TB, [color=green]Rehum, bupati, dan Simsai, panitera, telah menulis surat terhadap Yerusalem kepada raja Artahsasta, yang isinya sebagai berikut.
KJV, Rehum the chancellor and Shimshai the scribe wrote a letter against Jerusalem to Artaxerxes the king in this sort:
Hebrew,
רְחוּם בְּעֵל־טְעֵם וְשִׁמְשַׁי סָפְרָא כְּתַבוּ אִגְּרָה חֲדָה עַל־יְרוּשְׁלֶם לְאַרְתַּחְשַׁשְׂתְּא מַלְכָּא כְּנֵמָא׃
Translit. interlinear, REKHUM {Rehum} BE’EL-TE’EM {majikan pemberi perintah} VESYIMSYAY {dan Simsai} SOFRA’ {juru tulis} KETAVU {mereka menulis} ‘IGERAH {surat} KHADAH {satu} ‘AL-YERUSYELEM {kepada Yerusalem} LE’ARTAKHSYASTE’ {kepada Artahsasta} MALKA’ {raja} KENEMA’ {bunyinya}
—–
Image

Kata ” אחד – ‘EKHAD” (Arab: ‘AHAD), “esa”, adalah kata ” חד – KHAD” yang dibubuhi aksara ‘ALEF di mukanya. Aksara ” א – ‘ALEF” dalam bahasa Ibrani Kuno merupakan gambar kepala kerbau yang melambangkan kekuatan, kekuasaan, kepemimpinan.
” אחד – ‘EKHAD” adalah kesatuan dari yang jamak, seorang manusia adalah kesatuan dari tubuh, nafas, jiwa, pikiran, perasaan. Suatu keluarga adalah kesatuan dari ayah, ibu, anak. Suatu pohon adalah kesatuan dari akar, batang, cabang, dahan, ranting, daun. Inilah makna kata ‘EKHAD yang diterjemahkan menjadi “esa”, “pertama”, “satu”, yaitu kesatuan yang kompleks, bukan kesatuan yang absolut.

* Kejadian 1:5
LAI TB, Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama (‘EKHAD).
KJV, And God called the light Day, and the darkness he called Night. And the evening and the morning were the first day.
Hebrew,
וַיִּקְרָא אֱלֹהִים לָאֹור יֹום וְלַחֹשֶׁךְ קָרָא לָיְלָה וַיְהִי־עֶרֶב וַיְהִי־בֹקֶר יֹום אֶחָד׃ ף
Translit. interlinear, VAYIQRA’ {dan Dia memanggil, menamakan} ‘ELOHIM {Allah} LA’OR {kepada terang} YOM {hari, siang} VELAKHOSYEKH {dan kepada kegelapan} QARA’ {Dia memanggil, menamakan} LAYELAH {malam} VAYHI-‘EREV {dan ia menjadi petang} VAYHI-VOQER {dan ia menjadi pagi} YOM {hari} ‘EKHAD {satu, pertama}

* Kejadian 1:9
LAI TB, Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu (‘EKHAD) tempat, sehingga kelihatan yang kering.’ Dan jadilah demikian.” –
KJV, [color=green]And God said, Let the waters under the heaven be gathered together unto one place, and let the dry land appear: and it was so.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים יִקָּווּ הַמַּיִם מִתַּחַת הַשָּׁמַיִם אֶל־מָקֹום אֶחָד וְתֵרָאֶה הַיַּבָּשָׁה וַיְהִי־כֵן׃
Translit. interlinear, VAYO’MER {dan Dia berfirman} ‘ELOHIM {Allah} YIQAVU {mereka akan berkumpul} HAMAYIM {air itu} MITAKHAT {di bawah} HASYAMAYIM {langit itu} ‘EL-MAQOM {pada tempat} ‘EKHAD {satu} VETERA’EH {dan ia kelihatan} HAYABASYAH {tanah kering} VAYHI-KHEN {dan ia menjadi demikian}

* Ulangan 6:4
LAI-TB, Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa (‘EKHAD)!
KJV, Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD:
Hebrew,
שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָֽד ׃
Translit interlinear, SYEMA’ {dengarlah} YISRA’EL {Israel} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} ‘ELOHEINÛ {Allah kita} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} EKHAD {esa}
——–

Image

Kata ” יחיד – YAKHID” (Arab: WAHID), “tunggal”, berasal dari kata YAKHAD, yaitu kata ” חד – KHAD” yang dibubuhi aksara YOD di mukanya. Dalam bahasa Ibrani Kuno, aksara YOD merupakan gambar telapak tangan yang menggenggam. Kata ” יחד – YAKHAD ini pun berarti “satu”, “kesatuan”; satu dalam genggaman.

* Kejadian 49:6
LAI-TB, Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permupakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu (YAKHAD) dengan perkumpulan mereka, sebab dalam kemarahannya mereka telah membunuh orang dan dalam keangkaraannya mereka telah memotong urat keting
lembu.
KJV, O my soul, come not thou into their secret; unto their assembly, mine honor, be not thou united: for in their anger they slew a man, and in their self-will they digged down a wall.
Hebrew,
בְּסֹדָם אַל־תָּבֹא נַפְשִׁי בִּקְהָלָם אַל־תֵּחַד כְּבֹדִי כִּי בְאַפָּם הָרְגוּ אִישׁ וּבִרְצֹנָם עִקְּרוּ־שֹׁור׃
Translit interlinear, BESODAM {pada permufakatan mereka} ‘AL-TAVO’ {tidak ia akan datang} NAFSYI {nafasku, jiwaku} BIQHALAM {pada perkumpulan mereka} ‘AL-TEKHAD {tidak ia akan dipersatukan} KEVODI {kehormatanku} KI {karena} VE’APAM {pada murka mereka} HAREGU {mereka membunuh} ‘ISY {orang} UVIRTSONAM {dan pada kesenangan mereka} ‘IQERU-SYOR {mereka memotong urat keting lembu}

Kata ” יחד – YAKHAD juga ditemukan dalam Mazmur 86:11 (“bulatkanlah”) dan Yesaya 14:20 (“bersama-sama”).

” יחד – YAKHAD adalah ” חד – KHAD” dalam genggaman tangan, diterjemahkan dengan “satu-satunya”, “tunggal”, “hanya”, “saja”, “sebatang kara”, sering dihubungkan dengan anak “tunggal”.

Jika ” אחד – ‘EKHAD” merujuk kepada
kesatuan yang kompleks, maka ” יחיד – YAKHID” berhubungan dengan kesatuan yang absolut.

* Kejadian 22:2
LAI-TB, Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal (YAKHID) itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”
KJV,
And he said, Take now thy son, thine only son Isaac, whom thou lovest, and get thee into the land of Moriah; and offer him there for a burnt offering upon one of the mountains which I will tell thee of.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר קַח־נָא אֶת־בִּנְךָ אֶת־יְחִידְךָ אֲשֶׁר־אָהַבְתָּ אֶת־יִצְחָק וְלֶךְ־לְךָ אֶל־אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה וְהַעֲלֵהוּ שָׁם לְעֹלָה עַל אַחַד הֶהָרִים אֲשֶׁר אֹמַר אֵלֶיךָ׃
Translit interlinear, VAYO’MER {dan Dia berfirman} QAKH-NA’ {ambillah} ‘ET-BINKHA {anakmu} ‘ET-YEKHIDKHA {satu-satunya darimu} ‘ASYER-‘AHAVTA {yang engkau mengasihi} ‘ET-YITSKHAQ {Ishak} VELEKH-LEKHA {berjalanlah engkau} ‘EL-‘ERETS {pada bumi} HAMORIAH {Moria itu} VEHA’ALEHU {dan persembahkanlah ia} SYAM {di sana} LE’OLAH {sebagai korban bakaran} ‘AL {di atas} ‘AKHAD {satu} HEHARIM {gunung-gunung} ‘ASYER {yang} ‘OMAR {Aku akan berfirman} ‘ELEYKHA {kepadamu}

Sumber : Yohannes/ Biblika

Iklan

Posted in agama & kepercayaan, diskusi bebas, indonesia ku | Leave a Comment »

PEWAHYUAN AL-QURAN : ANTARA BUDAYA DAN SEJARAH (tanggapan)

Posted by kosongan pada | 16 |Februari| 2009 |

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2009/02/12/salahkah-islam/#comment-10184

Assalamu alaikum Wr Wb…

Misi Kang Wedhul……

Kemaren saya menemukan artikel tulisan Sdr. Mohamad Guntur Romli di website kebohongandariislam.wordpress.com. Artikel itu pada dasarnya ingin menafikan kepercayaan dunia Muslim bahwa Alquran adalah kalam Illahi. situs tersebut sengaja menurunkan artikel Romli ini dg tujuan untuk menghancurkan mental Muslim. Pada bagian komentar, Sdr. MG Romli -himself- menulis bahwa dia sangat keberatan jika artikelnya ditayangkan di situs tersebut dan meminta spy pemilik situs tersebut menghapusnya. Saya pribadi sempat menyalinnya ke PC saya untuk saya pelajari sebelum artikel tersebut benar-benar dihapus dari situs tersebut oleh pemiliknya atas permintaan Sdr. MG Romli.

Berkenaan dengan itu, ijinkan saya meng-upload artikel Sdr MG Romli tsb ke situs ini, kemudian saya sertakan jawaban / sanggahan saya atas artikel tersebut. Muhdah-mudahan bermanfaat bagi kita semua…..

Terima kasih.

************************
PEWAHYUAN AL-QURAN : ANTARA BUDAYA DAN SEJARAH

Oleh Mohamad Guntur Romli

Pewahyuan adalah proses kolektif, baik sumber maupun proses kreatifnya. Ia bukanlah proses yang tunggal. Al-Quran sendiri menegaskan gagasan ini. Ketika Al-Quran berbicara tentang pewahyuan, baik dengan kata “mewahyukan” (awha) maupun “menurunkan” (anzala, nazzala) Al-Quran, digunakan kata nahnu : Berarti kami -sebagai subyek- seperti dalam awhayna (kami telah mewahyukan) ataupun anzalna, nazzalna (kami telah menurunkan). Dalam Al-Mu’jam al-Mufahhras li Alfadzil Qur’an, kata awhaytu (aku mewahyukan) hanya dipakai delapan kali, sedangkan awhayna (kami mewahyukan) digunakan lebih dari 30 kali.

Kata “kami” adalah bentuk plural. Pertanyaannya, siapakah yang disebut “kami” dalam ayat-ayat itu? Para mufasir klasik yang berkeras pada doktrin ketunggalan dalam pewahyuan menolak memahami “kami” sebagai pluralitas dalam pewahyuan. Menurut mereka, meskipun “kami” bentuknya plural, konotasinya pada Dia Yang Tunggal, kata “kami” bertujuan lit ta’dzîm (memuliakan) “si pembicara”.

Namun, pendapat ini, menurut hemat saya, rancu. Kata “kami”, bila digunakan sebagai pengganti “saya” atau “aku” untuk memuliakan “lawan bicara”, bukan “si pembicara”. Misalnya, seorang menteri tidak akan menggunakan kata “aku/saya telah melakukan” di depan presidennya, tapi mengatakan “kami telah melakukan”. Sebab, selain menunjukkan penghormatan terhadap lawan bicara, menandakan pengakuan, karena apa yang telah ia lakukan bukanlah hasil kerjanya sendiri, melainkan kerja kolektif.
Dalam tradisi tafsir klasik, menafsirkan istilah “kami” yang merujuk kepada Allah, Roh Kudus Jibril dan Muhammad lazim kita temukan. Dalam pandangan ini, Al-Quran secara “maknawi” bersumber dari Tuhan, tapi secara “lughawi ” (redaksi bahasa) disusun oleh Malaikat Jibril atau Nabi Muhammad : Al-Quran adalah “karya bersama” Allah, Jibril dan Nabi Muhammad. Kelompok rasional Islam Muktazilah adalah pelopor pemahaman ini.

Pendapat ini berdasarkan sambungan sebaris ayat yang berbicara tentang turunnya Al-Quran : wa inna lahu lahafidzûn, “dan sesungguhnya kami pula yang akan menjaganya (Al-Quran)”. Di sini proses turunnya Al-Quran, sebagaimana proses penjagaannya, melibatkan “kerja kolektif” antara Tuhan dan manusia. Proses penjagaan (autentisitas) Al-Quran oleh manusia berbentuk hafalan dan tulisan.

Pewahyuan yang plural itu bisa ditegaskan lebih lanjut dengan menggunakan kajian sejarah yang melibatkan konteks sejarah, masyarakat, tradisi dan lingkungan. Pewahyuan dari konteks ini, menurut saya, bisa lebih menegaskan klaim Al-Quran sendiri, yang menggunakan kata “kami” yang plural, bukan “aku” yang tunggal.

Kisah dalam Al-Quran
—————————-

Saya akan mengambil contoh kisah-kisah yang banyak dimuat Al-Quran. Dua pertiga isi Al-Quran adalah tentang kisah yang bersumber dari konteks tempat wahyu itu turun : kisah-kisah yang diperbincangkan di pasar-pasar, di sela-sela transaksi dan safari perniagaan, ataupun dongeng yang diwariskan secara turun-temurun.
Dari kajian sejarah ini, Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya. Dalam ranah ini, pendapat Nashr Hamir Abu-Zayd bahwa al-nash muntaj tsaqafi (Al-Quran merupakan produk budaya) adalah sahih. Al-Quran adalah produk rangkaian proses kreatif-kolektif manusia yang disebut budaya. Wahyu tidak bisa lepas dari dua faktor yang membentuknya : sejarah (al-tarikh) dan konteks (al-waqi’).

Kisah-kisah Al-Quran yang dipercaya sebagai mukjizat hakikatnya merupakan kisah-kisah yang sudah populer pada zaman itu. Al-Quran tidak pernah menghadirkan kisah-kisah yang benar-benar baru. Misalnya saja kita tidak menemukan kisah tentang masyarakat Cina atau India, yang waktu itu telah memiliki peradaban yang luar biasa. Hal itu terjadi karena kisah-kisah tersebut tidak pernah sampai atau kurang populer ataupun tidak memiliki dampak ideologis dan politis terhadap masyarakat Arab. Berbeda dengan kisah-kisah yang berasal dari kawasan yang disebut “Bulan Sabit Subur”. Kawasan ini menjadi “mata air” yang mengalirkan kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Quran.

Kisah Nabi Isa
——————-

Bukti lain bahwa Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya adalah kisah tentang Nabi Isa (Yesus Kristus). Sekilas kita melihat bahwa kisah Nabi Isa dalam Al-Quran berbeda dengan versi Kristen. Dalam Al-Quran, Isa (Yesus) hanyalah seorang Rasul, bukan anak Allah, dan akhir hayatnya tidak disalib. Sementara itu, dalam doktrin Kristen, akhir hidup Yesus itu disalib, yang diyakini untuk menebus dosa umatnya.
Ternyata kisah tentang tidak disalibnya Nabi Isa juga dipengaruhi oleh keyakinan salah satu kelompok Kristen minoritas yang berkembang saat itu, yakni sekte Ebyon. Bagi kelompok Kristen mayoritas yang menyatakan Isa (Yesus) mati disalib, sekte Ebyon adalah sekte Kristen yang bidah.

Saya menjumpai adanya sekte Ebyon ini dalam buku Dinasti Yesus (2007) karya James D. Tabor. Menurut Tabor, sekte ini memiliki keyakinan yang mirip dengan keyakinan Islam dan berbeda dari Gereja Roma (lihat di bagian Konklusi di buku Tabor). Malah, menurut Tabor, sekte inilah ahli waris ajaran-ajaran kuno Yesus sebelum bercampur baur dengan ajaran Paulus. Tabor juga berasumsi bahwa Ebyon inilah yang memiliki kontak dengan Islam dan Nabi Muhammad.

Namun, dalam konklusi yang sangat pendek itu, Tabor tidak mengulas secara detail persamaan keyakinan Ebyon dan Islam, khususnya dalam peristiwa yang sangat krusial, yaitu penyaliban Yesus. Bagi para peneliti Yesus Sejarah, penyaliban Yesus adalah fakta sejarah, sedangkan bagi Ebyon -sepanjang pengetahuan saya terhadap akidah sekte ini dari beberapa literatur sejarah Arab dan Kristen- memang mirip dengan akidah Islam serta menolak cerita penyaliban Yesus.

Sejarah dan doktrin sekte Ebyon di Arab ini bisa ditemukan dalam buku Dr. Jawwad Ali, Al-Mufashshal Fi Tarîkh Al-’Arab Qablal Islâm (Sejarah Bangsa Arab Sebelum Islam) dalam empat jilid dan buku Al-Nashrâniyah wa Âdâbuha Bayna ‘Arab al-Jâhiliyah (Sejarah dan Sastra Kristen di Era Arab Jahiliyah) dalam dua jilid, karya Al-Abb Luwis Syaikhu Al-Yasû’i, seorang Romo Katolik Jesuit. Demikian juga dalam Al-Mawsû’ah Tarîkh Aqbâth Mishr (Ensiklopedi Sejarah Koptik Mesir).

Pada zaman Nabi Muhammad tidak hanya sekte Ebyon yang tersebar di Jazirah Arab. Ada dua sekte Kristen lain yang jauh lebih besar : Manofisit dan Nestorian, sebagai kelompok terbesar Gereja Timur yang berlawanan dengan Gereja Roma. Namun, kedua sekte itu (Manofisit dan Nestorian) tetap memiliki pandangan bahwa Yesus mati disalib. Hanya, keyakinan Ebyonlah yang benar-benar berbeda : Isa bukan anak Tuhan, ia hanya Rasul, dan matinya tidak disalib.

Pengaruh Ebyon dan Waraqah Bin Naufal
—————————————————-

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Al-Quran lebih memilih pandangan Ebyon yang minoritas dan keyakinannya dianggap bidah oleh mayoritas Kristen waktu itu? Saya memiliki dua asumsi. Pertama, karena pandangan Ebyon ini lebih dekat dengan akidah ketauhidan Islam. Kedua, sepupu Khadijah bernama Waraqah bin Naufal adalah seorang rahib sekte Ebyon. Kedekatan Waraqah dengan pasangan Muhammad-Khadijah diakui oleh sumber-sumber Islam, baik dari buku-buku Sirah (Biografi Nabi Muhammad), seperti Sirah Ibn Ishaq dan Ibn Hisyam, ataupun buku-buku hadis standar : Bukhari, Muslim, dan lain-lain.
Waraqah adalah wali Khadijah yang menikahkannya dengan Muhammad. Seorang perempuan kali itu -yang kemudian dilanjutkan oleh syariat Islam- tidak bisa menikah tanpa seorang wali laki-laki. Bisa dibayangkan kedekatan Waraqah dengan Khadijah dan Muhammad. Pun Waraqah orang pertama yang mengakui bahwa Muhammad memiliki tanda-tanda kenabian. Ia juga bernubuat, “nasib Muhammad seperti nabi-nabi sebelumnya, dia akan diusir oleh kaumnya”.

Al-Quran juga mengisahkan mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak, membuat burung-burung dari tanah, kemudian menghidupkannya. Kisah ini memang tidak ada dalam empat Injil (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes), tapi bukan berarti Al-Quran adalah sumber tersendiri. Kisah mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak ini ada dalam tradisi Gnostik Kristen : Injil masa kanak-kanak Yesus menurut Tomas.

Kesimpulan saya sementara -yang tentu saja bisa didebat dan dibantah- kisah Isa (Yesus) dalam Al-Quran, yang menegaskan bahwa Isa “hanyalah” seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen : Ebyon. Alasan Al-Quran menggunakan kisah Yesus versi ini, seperti yang telah saya kemukakan : akidah sekte ini sesuai dengan tauhid dan misi Islam, pun sepupu mertua Muhammad : Waraqah bin Naufal, adalah seorang rahib dari sekte Ebyon yang pertama kali “meyakini” Muhammad sebagai nabi.
Kajian-kajian tadi, baik terhadap teks-teks Al-Quran maupun kajian sejarahnya, menyatakan bahwa pewahyuan Al-Quran berasal dari sumber dan konteks yang plural : konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup, baik sebelum maupun setelah ia menerima wahyu. Malah “proses kreatif” itu lebih kuat sebelum Muhammad menerima wahyu, hanya periode itu adalah “tahun-tahun yang hilang” ataupun tidak menjadi pusat perhatian dalam studi Islam klasik, yang tujuannya untuk menegaskan pewahyuan yang tunggal dari Tuhan serta menafikan pengaruh konteks dan sejarah.

Al-Quran sebagai “kitab-keimanan” sah-sah saja bila diyakini memiliki sumber tunggal : ia adalah mukjizat, melalui proses yang menakjubkan, hingga di luar nalar manusia. Namun, Al-Quran dalam kajian kesejarahan tidak bisa dipandang seperti itu. Dalam ranah ini, Al-Quran tetap memiliki banyak sumber dan “proses kreatif” yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Quran adalah “suntingan” dari “kitab-kitab” sebelumnya, yang disesuaikan dengan “kepentingan penyuntingnya”. Al-Quran tidak bisa melintasi “konteks” dan “sejarah”, karena ia adalah “wahyu” budaya dan sejarah.

Pewahyuan Al-Quran : Antara Budaya Dan Sejarah
Oleh Mohamad Guntur Romli
/////////////////////////////////////////-\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\
papahmamah // Februari 14, 2009 pada 5:06 pm

Komentar dari Papahmamah:

Kajian terhadap artikel
“Pewahyuan Al-Quran : Antara Budaya Dan Sejarah
Oleh Mohamad Guntur Romli”
Oleh Papahmamah.

Dari membaca artikel yang ditulis oleh sdr. Mohamad Guntur Romli, saya menangkap isyarat yang ‘tidak pada tempatnya’. Oleh karena itu saya ingin membantu Sdr Romli dan juga lainnya (yang mana itu adalah tanggung-jawab saya sebagai Muslim untuk saling mengingatkan) dalam memahami beberapa hal yang terkandung dalam artikel tersebut.

Yang pertama saya ingin memberikan asistensi kepada Sdr. Romli dalam menjelaskan arti kata ‘KAMI’ dalam Alquran.

Memang, kata / tafsir yang ‘available’ pada saat ini yang disediakan oleh semua para ahli tafsir Alquran adalah, bahwa kata KAMI menyiratkan kebesaran Illahi semata, “saking” besarnya Allah, maka Ia “harus” menggunakan kata Kami untuk memanggil diriNya sendiri. Dan pada paragraph berikutnya, justru sdr. Romli membantah tafsir tersebut dengan menyebutkan, bahwa justru ‘tradisi’ menggunakan kata ‘kami’ adalah untuk memuliakan lawan bicara. Jadi, menurut Romli, Allah ‘terpaksa’ menggunakan kata KAMI karena Ia merasa harus menghormati oknum lain yang ada dalam lingkungan ciptaanNya sendiri. Benarkah demikian?

Untuk membahas mengapa Allah menggunakan kata “kami” dalam AlquranNya, maka mau tidak mau kita harus memulainya dari Bible.

Percayakah Anda, bahwa sejak awal, sejak jaman Bible pun, Allah tetap dan selalu memanggil diriNya dengan kata “KAMI” ketika Dia berbicara dengan Nabi-Nabi? Tidak pernah ada satu detik pun ketika Allah berbicara dengan para Nabi, Allah memanggil diriNya dengan kata AKU.

Masalahnya kemudian adalah, mengapa justru dalam Bible, baik di Perjanjian Lama mau pun Perjanjian Baru, Allah selalu memanggil diriNya dengan kata “Aku”? Dan kemudian, Allah memanggil diriNya dengan kata KAMI dalam Alquran?

Kunci perbedaan antara Bible dan Alquran dalam hal memanggil Tuhan ini terletak pada “siapa” yang bertanggung-jawab dalam me-redaksi-kan kata-kata Tuhan (pembicaraan antara para Nabi itu dengan Tuhan) itu ketika akan disampaikan kepada umat Dunia.

Pada masa pra Muhammad, semua ayat Tuhan (atau dengan kata lain, semua (hasil) pembicaraan antara Tuhan dengan para Nabi) diredaksikan oleh Nabi yang bersangkutan. Jadi, semua “kesan” yang muncul dari pembicaraan seorang Nabi dengan Tuhan, diredaksikan oleh Nabi tersebut ke dalam kata-kata manusia. Oleh karena itu, posisi Tuhan akan tetap dilihat melalui posisi seorang manusia yang dhaif. Maka, jadilah redaksi ayat tersebut seperti ini, “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

Ingat, phrase “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”., adalah redaksi sang Nabi, entah dia Daniel, Amos, Musa dan lain lain. Dalam phrase ini, Daniel misalnya, melihat Tuhan melalui posisinya sebagai manusia yang lemah; maka ia menulisnya begitu, “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

Daniel menggunakan kata AKU dalam melukiskan Tuhan. Padahal, sebenarnya Allah selalu memanggil diriNya dengan kata KAMI ketika pembicaraan antara diriNya dengan Daniel berlangsung. Masalahnya adalah, ketika meredaksikan ayat tersebut, tentu saja Daniel ‘tidak berani’ untuk menulis “apa adanya” yaitu “KAMI Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

Sebenarnya, Nabi mana pun tidak akan berani untuk meredaksikan ayat itu “apa adanya”, yaitu dengan bunyi “KAMI Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”. Mengapa tidak beani? Seperti yang sudah saya tulis tadi, semua Nabi itu adalah orang orang yang merasa dhaif di depan Tuhan mereka, atau, mereka selalu melihat posisi Tuhan melalui posisi seorang manusia yang dhaif.

Itulah mengapa sebabnya dalam Bible, Tuhan selalu menyebut diriNya dengan kata AKU. Tidak lain adalah karena semua ayat Bible itu DIREDAKSIKAN oleh manusia belaka.

Bagaimana dengan Alquran?
Muhammad adalah satu-satunya Nabi y-a-n-g tidak MEMPUNYAI, DIBERI, MENDAPATKAN tanggung-jawab untuk meredaksikan pembicaraan Tuhan dengan dirinya. Jadi, semua pembicaraan antara Allah dengan Muhammad, yang mana pembicaraan itu akan dijadikan ayat yang akan dimasukkan ke dalam Alquran, adalah Allah sendiri Yang meredaksikannya. Alhasil, semua ‘occurrence’ Allah selalu diganti dengan kata KAMI, apa adanya.

Mari dibalik. Allah berkata kepada Muhammad, “KAMI, Allah Tuhan Alam, berkata begini…” (ini adalah bunyi apa adanya).

Kalaulah pembicaraan itu diredaksikan oleh Muhammad ke dalam Alquran (seperti Nabi-Nabi Perjanjian Lama lainnya), pastilah bunyinya begini, “AKU, Allah Tuhan Alam, berkata begini…”

Namun karena Muhammad ‘tidak kebagian peran untuk meredaksikan ayat tersebut’, dan hanya Allah lah yang meredaksikan ayat tersebut, maka ayat itu lahir ke Dunia sesuai dengan apa adanya, “KAMI, Allah Tuhan Alam, berkata begini…”.

Berikutnya yang harus kita bahas adalah, istilah “apa adanya” yang selalu saya gunakan.

Allah berbicara kepada para Nabi, dan juga Muhammad yang mana pembicaraan itu kelak akan menjadi ayat. Semua Nabi itu mendapatkan hak dari Allah untuk meredaksikan semua pembicaraan itu menurut “suka-suka” sang Nabi. Dengan kata lain, semua Nabi itu diberi hak untuk menggunakan kata-kata mereka sendiri dalam menyusun ulang hasil pembicaraan mereka dengan Tuhan. TAPI, hak itu tidak diberikan kepada Muhammad. Dengan kata lain, seperti apa pembicaraan itu terjadi, maka seperti itu juga lah pembicaraan itu kelak ditulis dalam Alquran. Hal ini seperti Allah MENARUH kata-kataNya di atas lisan Muhammad. Kata MENARUH, tentu saja konotasinya adalah, bahwa yang DITARUH itu tidak akan berubah, tidak boleh diubah-ubah, tidak bisa diubah-ubah, jadi apa adanya saja, dan seterusnya.

Kitab Ulangan menulis demikian,

Ulangan 18:18, seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan MENARUH FIRMAN-KU DALAM MULUTNYA, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

Orang Christians mengklaim bahwa “ia” dalam ayat di atas adalah Jesus, sedangkan Muslims mengklaim bahwa “ia” adalah Muhammad.

Kita sudah dapat menebak, “ia” dalam ayat di atas adalah hanya untuk Muhammad, mengingat Muhammad tidak pernah MEREDAKSIKAN pembicaraan Tuhan menurut kata-kata Muhammad sendiri. Sementara Jesus adalah termasuk para Nabi yang meredaksikan pembicaraan Tuhan menurut kata-kata Jesus sendiri.

Di manakah indikasinya? Indikasinya terlihat dalam penggunaan kata “KAMI” dalam Alquran, sementara Bible selalu memanggil Allah dengan kata “AKU”.

KESIMPULANNYA adalah, bahwa kata KAMI dalam Alquran, hanya memberi SATU PESAN kepada kita semua, baik Muslims mau pun Christians, bahwa itu adalah CARA ALLAH meng-signify-kan betapa firman Allah kepada Muhammad tidak pernah diubah-ubah oleh redaksi Muhammad, seperti janjiNya dalam Ulangan 18.

Mungkin pertanyaan berikutnya adalah, “lantas mengapa Allah selalu memanggil diriNya dengan kata KAMI, ketika Dia berbicara dengan para Nabi pada masa kapan pun?”. Jawabannya adalah, mengapa itu kita permasalahkan? Apakah kita berhak untuk mendikte Allah bagaimana Dia harus memanggil diriNya sendiri? Setidaknya, apakah salah kalau Allah (selalu) memanggil diriNya dengan kata KAMI?
Point berikutnya, Sdr. Romli menyebutkan, bahwa ada keterlibatan Jibril dan Muhammad dalam penulisan wahyu dalam Alquran, seperti kata-kata Anda dalam artikel Anda tersebut, “Al-Quran adalah “karya bersama” Allah, Jibril dan Nabi Muhammad. Kelompok rasional Islam Muktazilah adalah pelopor pemahaman ini.”
Sebenarnya Anda keliru besar. Kalau kita tilik permasalahan “KAMI” menurut apa yang sudah saya jelaskan di atas, maka tidak perlu lagi ada perdebatan mengapa Alquran menggunakan kata KAMI untuk memanggil Allah – tidak perlu lagi kita berprasangka bahwa kata KAMI menyiratkan pluralitas. Dengan kata lain, kelompok Mutalizah BELUM SAMPAI pada pemahaman seperti yang saya jelaskan tersebut. Kita harus dapat memaklumi kekurangan si Muktalizah ini, mengingat pada masa itu belum berkembang ilmu perbandingan antara Alquran dan Bible.

Lebih lanjut lagi, kalau kita tetap berprasangka bahwa kata KAMI menyiratkan adanya pluralitas (Allah – Muhammad – Jibril), maka kita butuh kepastian yang lebih keras lagi, seperti pada ayat ini,

[2:34] Dan (ingatlah) ketika KAMI berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Ayat ini melukiskan saat terciptanya Adam. Pada masa itu tentu saja Muhammad “belum” ada. Jibril kemungkinan besar pun juga belum ada. Lantas, kata KAMI merujuk kepada siapa saja? Kombinasi Allah Muhammad Jibril tentunya akan membuat khalayak Muslims lebih bingung lagi, mengingat, kalau Muhammad dan Jibril tidak ada, maka apakah itu berarti Allah tidak akan KUASA untuk membuat ayat atau Alquran? Apakah ini berarti bahwa Allah membutuhkan makhlukNya ketika Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu yang lain?

Sebenarnya masih banyak ayat lain dalam Alquran yang tetap memanggil Allah dengan kata AKU seperti,

[2:33] Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya AKU mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ”

Lantas mengapa Anda ingin memperjuangkan prasangka Anda bahwa kata KAMI dalam Alquran merujuk kepada pluralitas? Kalau boleh jujur, sebenarnya Allah itu dalam Alquran “agak membingungkan juga”, mengingat, tempo-tempo Dia memanggil diriNya dengan kata AKU, dan tempo-tempo Dia memanggil diriNya dengan kata KAMI. Maksud saya berkata seperti ini adalah, kalau kata KAMI merujuk kepada PLURALITAS, maka bagaimana dengan kata AKU? Anda jangan melupakan juga peran kata AKU yang benar-benar merujuk kepada SINGULARITAS TULEN.

Kemudian Anda menulis,
“…….Dari kajian sejarah ini, Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya. Dalam ranah ini, pendapat Nashr Hamir Abu-Zayd bahwa al-nash muntaj tsaqafi (Al-Quran merupakan produk budaya) adalah sahih. Al-Quran adalah produk rangkaian proses kreatif-kolektif manusia yang disebut budaya. Wahyu tidak bisa lepas dari dua faktor yang membentuknya : sejarah (al-tarikh) dan konteks (al-waqi’)….”

Pendapat tokoh yang Anda gunakan pada paragraph tersebut memang menarik. Namun tolong perhitungkan saran saya. Orang yang bernama Nashr Hamir Abu Zayd ini dengan “titahnya”, apakah memang diterima secara luas di kalangan intelektual Muslims Dunia? Siapa sajakah pendukungnya? Siapa sajakah kawan seperjuangannya? Siapakah gurunya? Dan siapakah musuh-musuhnya? Jangan – jangan, Anda hanya mengambil / “mencomot” pendapat-pendapat yang berseliweran di Dunia ini yang sesuai dengan fikiran Anda saja, dan pendapat lain yang bertentangan dengan Anda tidak Anda masukkan di artikel Anda. Satu hal yang harus Anda ingat, Nashr Hamir Abu Zayd bukanlah seorang Nabi, bukan pula seseorang yang mengklaim memperoleh cahaya penerangan dari Surga. Ia bisa salah, dan bisa saja sekarang orang yang bersangkutan sudah bertaubat kepada Allah. Pernahkah Anda berfikir demikian?
Terus terang, saya tidak mengenal dengan baik siapa Nashr Hamir Abu Zayd ini. Dan saya rasa saya tidak berkewajiban untuk mempelajari buku-bukunya.

Kemudian Anda menulis,
“…….Kisah-kisah Al-Quran yang dipercaya sebagai mukjizat hakikatnya merupakan KISAH-KISAH YANG SUDAH POPULER PADA ZAMAN ITU. AL-QURAN TIDAK PERNAH MENGHADIRKAN KISAH-KISAH YANG BENAR-BENAR BARU. Misalnya saja kita tidak menemukan kisah tentang masyarakat Cina atau India, yang waktu itu telah memiliki peradaban yang luar biasa. Hal itu terjadi karena kisah-kisah tersebut tidak pernah sampai atau kurang populer ataupun tidak memiliki dampak ideologis dan politis terhadap masyarakat Arab. Berbeda dengan kisah-kisah yang berasal dari kawasan yang disebut “Bulan Sabit Subur”. Kawasan ini menjadi “mata air” yang mengalirkan kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Quran…..(capital emphasize mine)”.

Dalam upayanya untuk menjatuhkan Alquran, orang orang Christians sering berkata, “tidak ada yang baru pada Alquran. Semua yang ada dalam Alquran berasal dari kitab sebelumnya yaitu Bible..”

Klaim tersebut memang benar, 100% benar. Sebenarnya klaim tersebut diajukan pihak Christians untuk menimbullkan kesan bahwa Muhammad hanya meniru-niru Bible, namun satu hal yang kaum Christians tidak menyangka. Islam adalah kelanjutan dari agama sebelumnya, oleh karena itu Alquran harus mengemban (lagi) apa yang dikandung Bible. Akhirnya klaim tersebut hanya kembali memperkuat posisi Islam dan Alquran.

Begitu juga dengan paragraph Anda di atas. Klaim Anda memang benar, Alquran tidak pernah menghadirkan kisah-kisah yang baru. Alquran harus mengulang apa yang sudah menjadi isu / wacana masyarakat manusia kala itu, hanya saja lebih benar dan lebih jernih.
Kalau Anda mau jujur, mana ada sih kitab lain yang menghadirkan kisah-kisah baru yang jauh melampaui konteksnya? Apakah kitab Hindu, Buddha, Bible, Konghucu dan seterusnya mempunyai segudang informasi yang jauh melampaui konteks dan masanya? Tolong perkaya pengetahuan saya dari Anda dengan memberi saya jawaban yang enak atas pertanyaan ini. Mudah-mudahan Allah membantu Anda.

Alquran dan Jesus.

Dalam artikel Anda, tertulis kesan bahwa kontak antara Muhammad dengan kaum Christians Ebyon MENDAHULUI tertulisnya ayat-ayat Alquran yang menjelaskan bahwa Jesus bukan anak Tuhan, dan Jesus tidak mati disalib. Anda ingin mengedepankan “maksud” Alquran bahwa Jesus bukan anak Tuhan, karena Muhammad mempunyai kontak yang amat personal dengan kaum Ebyon, dan kemudian karena misi Islam amat berbeda dengan misi Kristen pada umumnya.

Namun Anda belum menjelaskan, kalau Islam tidak ingin dibilang “mengcopy – paste” ajaran-ajaran yang sudah ada lebih dulu (dalam hal ini Ebyon), maka Islam harus bilang apa? Apakah Islam harus menyatakan, Jesus adalah wanita? Apakah Alquran harus menyatakan bahwa Jesus adalah “Malaikat salah bikin”? Apakah itu semua harus dinyatakan Islam demi agar supaya tidak ada orang yang bisa berkata bahwa Alquran mengcopy paste ajaran sebelumnya?
Atau, Islam / Alquran tetap berkata bahwa Jesus bukan anak Tuhan dan dia tidak mati disalib, dan kemudian Islam harus melakukan sesuatu yang kelewat fundamental demi tidak ada orang yang bisa menuduh bahwa Alquran hanya mengcopy paste?

Keadaannya tetap saja RUNYAM kalau kita harus mengikuti cara Anda berfikir. Misalnya Alquran “mengcopy paste” ajaran Kristen Roma di mana Jesus adalah anak Tuhan dan mati disalib, nah nanti Anda akan berkata,

1. Alquran mengcopy paste ajaran Roma ketimbang ajaran Ebyon –
2. karena Ebyon kala itu adalah bidah
3. dan minoritas,
4. dan Muhammad “ambil muka” orang Roma karena Muhammad ingin sekali menjadi paus Roma (namun tidak kesampaian juga sampai sekarang karena Muhammadnya keburu mati).

Jadi, Islam harus pilih yang mana? Bukankah keempat tuduhan di atas amat mengerikan bagi siapa pun? Apakah Anda dapat menjamin bahwa kalau Islam mengambil / “menyadur” ajaran Roma (bukan Ebyon), maka Anda tidak akan mengeluarkan 4 tuduhan tersebut?
Menurut saya Anda harus adil dan bijaksana, jangan sampai Anda hanya mempersulit Islam. Islam kan juga ingin survive, seperti Kristen Roma itu. Anda setuju?

Kemudian Anda menulis,

“……..Kesimpulan saya sementara -YANG TENTU SAJA BISA DIDEBAT DAN DIBANTAH- kisah Isa (Yesus) dalam Al-Quran, yang menegaskan bahwa Isa “hanyalah” seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen : Ebyon…..(capital emphasize mine)”.

Anda benar. Kesimpulan Anda, tentu saja dapat dibantah dan didebat – dengan sendirinya. “Saduran”. “Saduran” dari mana? Kalau dari Roma, Anda akan berkata apa? Kalau saduran dari orang Hindu, Anda akan berkata apa? Kalau saduran dari Talmud, Anda akan bilang apa? Islam harus bilang apa supaya tidak dituduh menyadur pekerjaan orang lain? Apakah demi tidak dituduh menyadur maka Allah harus berdiam diri saja melihat kesalahan berfikir?

Seperti yang Anda katakan,

“…….Kajian-kajian tadi, baik terhadap teks-teks Al-Quran maupun kajian sejarahnya, menyatakan bahwa pewahyuan Al-Quran berasal dari sumber dan konteks yang plural : konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup, baik sebelum maupun setelah ia menerima wahyu…..:”.

Pernyataan itu tentu saja tidak berdasar. Pewahyuan Alquran TIDAK berasal dari sumber dan konteks yang plural. Alquran berasal dari sesuatu Yang Singular, Allah, Laa Syarikalahu, tidak ada serikat bagiNya. Perkataan KAMI dalam Alquran adalah cara Allah meng-signify-kan betapa Muhammad tidak mempunyai peran dalam meredaksikan kalimat Allah – seperti yang sudah saya jelaskan di sini. Kemudian lanjut pada bagian, “….konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup”, ini pun juga merupakan statement Anda yang salah. Tolong tunjukkan kitab lain yang kodratnya amat khas, yaitu jauh melampaui konteks dan sejarah di mana kitab itu ditulis. Bisakah Anda?

Kemudian Anda menulis,

“……Al-Quran sebagai “kitab-keimanan” sah-sah saja bila diyakini memiliki sumber tunggal : ia adalah mukjizat, melalui proses yang menakjubkan, hingga di luar nalar manusia. Namun, Al-Quran dalam kajian….”
Anda keliru besar. Alquran bukan saja kitab keimanan, namun ia juga merupakan kitab yang di dalamnya terkandung bayangan-bayangan Ilmu Pengetahuan yang amat kental. Alquran sudah mengungkap fakta sejarah dan ilmiah di mana kala itu umat manusia belum mempunyai teknologi dan metode berfikir yang handal untuk mencapainya. Lebih lanjut lagi Anda menulis, “namun Alquran dalam ……”, saya tegaskan, tidak ada “namun-namunan” dalam hal Alquran ini. Tidak ada proses kreatif-kolektif atau apa pun itu namanya. Alquran ADALAH KALIMAT ALLAH SEMATA dan semua manusia di Bumi ini dari segala jaman sudah gagal untuk membuktikan sebaliknya. You try you will lose – like others have and had. Sudahkah Anda melihat dan belajar berapa banyak individu di dalam sejarah yang mencoba menjatuhkan Alquran namun pada akhirnya gagal total? Anda bukanlah orang pertama, dan untuk tujuan menghancurkan Alquran ini, saya rasa Anda tidak akan pernah bisa menjadi pahlawan penghancur Alquran yang mereka dambakan.

Tentang Bible

Anda mengkonfrontirkan antara Alquran dan Bible (dan juga Christianity), dan pada banyak waktu sepertinya Anda justru lebih memihak kepada eksistensi / kemuliaan Bible, terlihat dari bagaimana Anda ingin selalu menjatuhkan dan mendeskreditkan Alquran. Ada satu kesan yang saya peroleh dari paragraph Anda di atas. Anda ingin menimbulkan kesan bahwa Alquran “bikinan” manusia semata. Coba renungkan beberapa item di bawah ini.

1. Bible adalah suatu kitab yang di dalamnya terkandung begitu banyak pertentangan. Bahkan semua / kebanyakan orang Christians mengakui hal tersebut.

2. Bible adalah kitab yang di dalamnya terkandung begitu banyak warta pornografi. Semua orang Christians tidak dapat menghindari diskusi tersebut.

3. Bible adalah suatu kitab yang di dalamnya terdapat PERTENTANGAN yang amat radikal terhadap azas – azas keilmuan / Ilmu Pengetahuan. Semua orang Kristen tidak dapat menghindari kenyataan tersebut.

4. Perjanjian Lama sudah menghinakan Nabi – Nabi Tuhan seperti Lut, Daud, Yakub dan lain lain. Benarkah berita-berita itu datang dari Tuhan Surgawi?

5. Banyak ramalan – ramalan dalam Bible tidak terbukti sama sekali HINGGA HARI INI.

6. Semua sarjana Muslims “sudah terlalu lengkap” dalam mengkritik betapa Bible sudah tidak lagi otentik, dan itu sesuai dengan dasar – dasar fakta dan sejarah.

7. Semua sarjana sekuler “sudah terlalu lengkap” dalam mengkritik betapa Bible sudah tidak lagi otentik, dan itu sesuai dengan dasar – dasar fakta dan sejarah.

8. Baru-baru ini sejarah mengungkapkan bahwa Jesus HIDUP BERKAWIN bahkan berpoligami yaitu dengan Magdalena dan Marta dan melahirkan beberapa anak. Ini sudah membuktikan bahwa Christianity harus bubar karena ternyata Jesus bukanlah anak Tuhan. (Namun tentunya gereja menolaknya, yang jelas mereka berdiam diri sama sekali karena kehabisan kata-kata untuk menghindarinya).

9. Banyak Gospel yang ditolak oleh gereja, dan hanya sebagian kecil Gospel yang diterima oleh gereja. Atas dasar apa gereja (yang isinya manusia manusia berdosa belaka seperti kita-kita) menentukan “criteria” diterima atau tidak diterimanya suatu Injil?

10. Semua Injil di Dunia ini bernenek moyang ke Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus yang bertahun 300an M. Sebelum 300M, pengikut Almasih membaca apa?

11. Pada Katakombe di bawah kota Roma yang berasal dari abad pertama Masehi tidak ditemukan adanya satu pun tanda salib. Ini menandakan bahwa pengikut Almasih pada masa itu tidak menggunakan salib sebagai tanda keimanan mereka. Kalau pada masa itu mereka tidak menggunakan tanda salib, maka konsekwensi logisnya adalah, bahwa pada masa itu mereka tidak mengenal istilah “anak Tuhan”, trinitas dan penebusan dosa. Tak ayal lagi, tidak perlu bagi siapa pun (khususnya kaum Muslims) untuk mencoba-coba membela Christianity dan atau Bible.

“…….As a matter of interest, Bamber Gascoigne, of Oxford University, UK, draws one’s attention in his book “The Christians” to the fact that none of the early Christian catacombs / tombs were engraved with the sign of the cross. The engraving of the cross on the tombs was introduced much later on in the history of Christianity…..”

12. Sahadat Bapa – Anak “ditemukan” baru pada tahun 300an M. Jadi, sebelum bilangan tahun tersebut, tidak ada pengikut Almasih yang menyatakan Iman mereka dengan cara meresapi Trinitas.

13. Sahadat Bapa – Anak dirancang oleh manusia, bukan datang dan berasal dari kitab suci mereka. Sahadat ini adalah hasil voting dan perdebatan belaka.

14. Ketika Muhammad Saw membersihkan Ka’bah, banyak dijumpai di dalamnya icon-icon semua agama termasuk Yahudi dan Kristen. Muhammad Saw tidak menemukan satu pun tanda salib di dalam Ka’bah tersebut. Muhammad hanya menemukan “patung” Bunda Maria sedang menggendong anaknya. Berarti pada masa Muhammad Saw pun (yang lahir pada tahun 571M) orang Kristen belum menggunakan salib sebagai tanda / dasar Iman mereka.

“……….[After the conquest of Mecca] “Apart from the icon of the Virgin Mary and the child Jesus, and a painting of an old man, said to be Abraham, the walls inside [Ka’bah] had been covered with pictures of pagan deities. Placing his hand protectively over the icon, the Prophet told `Uthman to see that all other paintings, except that of Abraham, were effaced.”.
(Martin Linggs, “Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources” p.300, ref: al-Waqidi, Kitab al-Maghazi 834, and Azraqi, Akhbar Makkah vol. 1, p. 107. Martin Linggs is a practicing Muslim.) …..”

15. Petrus dan Paulus adalah tokoh penting dalam Bible Perjanjian Baru. Perlu Anda (dan semua orang Christians) ketahui bahwa kedua orang ini adalah “korban” / bukti dari JANJI KUTUKAN Tuhan dalam Kitab Ulangan pasal 18. Petrus membawa pesan yang bukan datang dari Tuhan, dan Paulus mengaku-ngaku sebagai Rasul. Petrus MATI TERHUKUM dengan disalib terbalik, dan Paulus MATI TERHUKUM dipenggal oleh Kaisar Nero (dengan kata lain, keduanya MATI TIDAK WAJAR).

DARI PADA Anda mendeskreditkan agama Islam / Muhammad, mengapa Anda tidak mencoba untuk mempelajari betapa Christianity adalah suatu kesalahan FATAL yang amat besar (ke 15 point di atas adalah beberapa input dari sekian banyak untuk tujuan tersebut) yang hanya mempermalu species Manusia di mata Illahi?

Mungkin Anda justru akan berdalih, bahwa 15 point tersebut hanya akan memperuncing hubungan kedua agama, karena sejatinya Anda hanya menginginkan “MEMBANGUN DIALOG ANTARAGAMA, MELAWAN FANATISME DAN KEBENCIAN….”.

Apakah saya tidak salah baca? Apakah dialog antaragama dan melawan fanatisme kebencian harus dimulai dengan cara mendeskreditkan Islam / Muhammad / Alquran / Jibril begitu rupa? Apakah dengan cara:

1. Mendeskreditkan Islam / Allah / Muhammad / Jibril,

2. Dan TIDAK mendengung – dengungkan ke 15 point tersebut

Maka kita dapat dikatakan ingin membangun dialog antar agama? Dan untuk lebih jelas lagi, kita akan dapat dikatakan ingin membangun dialog antara agama dan menentang fanatisme dan kebencian agamis HANYA KALAU kita mendeskreditkan Islam / Allah / Muhammad / Jibril / Alquran? Mental seperti apa itu?

Setidaknya, Anda harus ingat, bahwa JAUH LEBIH MUDAH mendeskreditkan Christianity dari pada Islam. Namun sekarang Anda justru lebih memilih untuk bersusah payah untuk mendeskreditkan Islam yang sebenarnya sudah tidak dapat lagi untuk dideskreditkan oleh siapa pun.

Dalam surat Anda, Anda mengutarakan misi Anda untuk mencari titik temu antara Islam dan Kristen. Penting untuk Anda ketahui, bahwa Islam dan ajaran Al Masih mempunyai 100% kesamaan, asalkan ajaran itu belum bercampur dengan kehendak tangan keji pada masa-masa lanjut. Saya sudah membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (di luar risalah Paulus). Semua ayat-ayat di sana membuat saya menitiskan air mata karena terharu, betapa Isa Almasih “masih satu perguruan” dengan Muhammad Saw. Tak satu pun dari perkataan Isa yang menjelaskan bahwa ia adalah anak Tuhan dan harus disembah. Islam tentu saja tidak dapat dicarikan titik temunya dengan kekristenan yang sekarang ini.
Kemudian, kalau memang Anda ingin menemukan titik temu antara kedua agama, maka mengapa Anda tidak juga mendeskreditkan Christianity sedemikian rupa, seperti yang baru saja Anda lakukan terhadap Islam dan Alquran? Di mana letak keadilan Anda? Apakah Anda berfikir Islam dan Christianity dapat dipertemukan dengan damai kalau Islam sudah dideskreditkan sedemikian rupa? Jadi, Islam seperti yang Anda inginkan supaya dapat dipertemukan dengan Christianity? Apakah Anda berfikir bahwa Islam dan Christianity dapat dipertemukan kalau Christianity Anda agung-agungkan sedemikian rupa dan Islamnya Anda deskreditkan sedemikian rupa? Tidakkah itu aneh –untuk ukuran orang Indonesia seperti Anda?

Lebih lanjut, Anda menulis dalam surat Anda, “Saya mencintai agama saya (Islam) maka saya mengkritiknya”.

Apakah saya tidak salah baca? Mengapa Anda berfikir bahwa Islam pantas untuk dikritik? Bukankah Islam adalah agama yang sempurna? Dan bukankah Allah sendiri Yang menyatakan demikian dalam surat Al Maidah ayat 3? Kalau Anda berdalih bahwa firman Allah dalam surah Almaidah 3 tersebut tidak dapat dijadikan rujukan, maka berarti Anda bukan Islam dan bukan Islam SEPENUHNYA. Berarti Anda orang di luar Islam. Bukankah salah satu rukun Iman adalah bahwa Anda harus percaya kepada Alquran (beserta semua ayat di dalamnya)? Kalau ada seseorang yang merasa Islam pantas untuk dikritik, maka biasanya orang itulah yang harus dikritik. Anda setuju? Kalau Anda memang benar-benar cinta Islam, tentunya Anda akan memilih untuk membela Islam, bukan untuk mengkritiknya. Kritik akan berarti cinta kalau yang dikritik adalah anak asuh seperti dalam hubungan seorang guru dengan muridnya. Masalahnya Islam bukanlah murid Anda. Islam bukanlah anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Sebuah film pasti akan dikritisi. Namun yang mengkritisi film tersebut pastilah manusia-manusia yang sebelumnya sudah terlibat pada aktivitas pembuatan film seperti produser film, actor, sutradara, wartawan khusus film dan seterusnya. Tidak pernah seorang Jenderal TNI tiba-tiba menjadi kritikus film. Masalahnya, apakah Anda ‘berpengalaman’ dalam penciptaan agama-agama? Apakah Anda termasuk dalam jajaran pada dewa yang memproduksi dan mengatur lalu lintas agama – agama sepanjang masa?

Kemudian kalau Anda berfikir bahwa Islam adalah pantas untuk dikritik, maka bagaimana dengan Kristen? Apakah dari semua agama di Dunia ini, hanya Islam yang dapat dikritik habis-habisan? Apakah Kristen tidak layak untuk dikritik? Kalau Kristen tidak layak untuk dikritik, berarti Anda mulai berfikir bahwa Kristen adalah agama Tuhan yang benar; agama yang sempurna. Kalau sudah begitu, maka berarti Anda MURTAD dari Islam. Pantas, semua perkataan Anda cenderung membela Kristen dan menghina Islam. Kalau Anda juga mengkritik Kristen dan agama lain di samping Islam, ya oke lah. Namun kenyataannya Anda hanya mengkritik Islam. Apakah Anda sadari hal itu?

Kalau Anda mengkritisi adat Minangkabau, ya okelah. Kalau Anda mengkritik kebiasaan orang Badui, masih bisa diterima. Masalahnya Islam bukanlah bikinan manusia seperti yang Anda duga selama ini.

Anda menulis, “Saya menolak fanatisme dan fundamentalisme dalam setiap agama”. Masalahnya Anda terlanjur memberi pengertian negative tentang fanatisme dan fundamentalisme. Banyak Muslims (dan juga di lingkungan agama lainnya) yang sukses besar lantaran mereka mempunyai kedua hal tersebut. Hanya saja Anda tidak menyadarinya. Imam Bonjol dan Pangeran Dipenogoro adalah contoh dari jiwa fanatisme dan fundamentalisme. Kalau tidak ada mereka, tidak akan pernah ada yang namanya NKRI. Mahatma Gandhi tidak akan muncul dalam sejarah kalau ia tidak berjiwa fanatisme dan fundamentalisme tersebut. Mereka yang sangat kejawaan, pastilah kejawaannya itu dilandasi oleh fanatisme dan fundamentalisme. Mereka yang kesundaan, pastilah demikian juga keadaannya. Mengapa Anda tidak pernah mengutuki mereka? Bukankah mereka yang menjadi pilar pelestarian budaya? Ya okelah kita harus memberangus fanatisme dan fundamentalisme. Namun apakah dengan cara mendeskreditkan Islam dan memuliakan Kristen?

Yang harus Anda berangus adalah rasa kebencian. Dan mereka yang mempunyai kebencian terhadap agama lain belum tentu didasari oleh fanatisme dan fundamentalisme. Banyak sekali unaware Muslims (Muslim yang kurang pemahamannya terhadap Islam) justru mempunyai kebencian yang luar biasa terhadap agama lain. Begitu juga dengan di lingkungan Kristen, Hindu dan seterusnya. Anda harus pahami itu.

Kemudian, dari 10 Muslims Jakarta, apakah kesepuluhnya mempunyai rasa kebencian terhadap agama lain? Apakah dari 100 Muslims Jakarta, kesemuanya mempunyai kebencian terhadap Kristen misalnya? Begitu juga di lingkungan Kristen. Tanyakan pada santriwan dan santriwati. Apakah mereka didoktrin untuk membenci Kristen? Lantas mengapa hanya kalangan Muslims saja yang Anda kritisi? Sedikit, sedikit sekali dari kalangan penganut agama tertentu yang mempunyai rasa kebencian terhadap agama lain. Namun satu hal yang harus Anda ingat. Yang harus Anda tangani bukan Islamnya, namun ORANGnya. Yang harus Anda kritik (dan kutuk) adalah ORANG yang mempunyai jiwa kebencian terhadap agama lain. Islam tidak mempunyai hubungan apa pun dengan individu individu seperti itu. Saya rasa Anda salah dalam memilih bidang pekerjaan yang pas untuk latar belakang pendidikan Anda. Nah apalagi sekarang Anda berusaha untuk mencari titik temu antara Islam dan Kristen sambil menghinakan agama Islam di depan jemaat Kristen. Saya pastikan, Anda tidak akan berhasil dengan tanggung-jawab tersebut.

Sebelum terlambat, ingin saya tegaskan bahwa Islam TIDAK PERNAH BERHUTANG BESAR kepada Kristen dan Yahudi. Pernyataan Anda memang benar-benar bernada bahwa Kristen dan Yahudi amat mulia. Islam datang dari Allah Swt, bukan dari kedua agama tersebut. Anda hanya ingin menegaskan bahwa tidak ada yang diperbuat Muhammad kecuali mendompleng kemasyhuran Kristen dan Yahudi (oleh karena itu Islam harus berhutang besar kepada 2 agama tersebut). Bagaimana saya harus menyikapi pernyataan Anda tersebut secara proporsional?

Anda berkata tentang permusuhan antara pemeluk agama, dengan kata lain Anda ingin mempromosikan toleransi yang indah dan harmonis antara penganut agama, khususnya di Indonesia ini. Mungkin pemahaman Anda masih kurang, maka saya ingin membantu Anda dalam menyelesaikan masalah ini.

Sejak jaman pembangunan Borobudur, kerukunan antar umat beragama sudah tercipta. Sejak berakhirnya masa pra-sejarah Indonesia yaitu tahun 400M dengan ditemukannya prasasti Kerajaan Kutai di Kalimantan, kerukunan multi agama sudah terbukti dengan indahnya. Pada masa colonial Belanda, si pribumi yang Muslims dengan si Belanda yang Kristen tidak pernah terjadi kerusuhan agamis. Tidak pernah ada berita dari masa itu di mana si Belanda yang Kristen dilanda kepanikan luar biasa karena Natal mereka diobrak-abrik oleh pribumi yang Muslims. Begitu juga sebaliknya, tidak pernah Masjid Masjid dibakar Belanda ketika berlangsungnya shalat Idul Fitri. Tidak pernah terjadi pejabat colonial Belanda menyiksa pribumi supaya si pribumi itu murtad. Nenek moyang “Belanda Depok” adalah individu individu pribumi yang masuk Kristen secara sukarela, sama sekali Chastellin tidak memaksa mereka.

Tiba-tiba muncul seseorang yang bernama Mohamad Guntur Romli yang mengusahakan untuk pemberangusan kebencian terhadap agama lain sambil ia menghinakan Islam di depan jemaat agama lain – dalam hal ini agama Kristen. Perlu Anda ketahui, tanpa bantuan Anda dan tanpa cara berfikir Anda yang aneh tersebut., toh kerukunan antar umat beragama tetap exist di muka Bumi ini. Singkat kata, kontribusi Anda dalam isu ini benar-benar dapat DITIADAKAN.

Nenek moyang kita, tanpa harus menjelek-jelekkan suatu agama pun, dapat menciptakan kerukunan umat beragama. Dengan kata lain, kerukunan umat beragama dapat tercipta tanpa harus menjelek-jelekkan suatu agama. Maka sekarang di mana posisi Anda? Di mana posisi Anda, di mana Anda berkata, bahwa dari semua agama Dunia ini, hanya Islamlah yang paling dapat dikritik habis-habisan? Di manakah posisi Anda, di mana Anda berkata, bahwa semua agama kecuali Islam tidak dapat dikritik sama sekali alias sempurna? Kalau Anda membantah pernyataan saya ini, maka buktikanlah bahwa Anda pun berminat untuk mengkritik Kristen, buatlah essay yang panjang untuk menjelaskan betapa Kristen memiliki ketimpangan yang amat memalukan. Pernahkah Anda menghasilkan essay seperti itu? Apakah masuk akal, Anda ingin mendamaikan antara si A dan si B dengan cara Anda menjelek-jelekkan si A di depan si B?

Secara garis besar Anda harus ingat. Kerukunan antar umat beragama yang sudah tercipta di Bumi Nusantara selama berabad-abad ini tercipta tanpa bantuan dari orang orang seperti Anda, tanpa buah fikiran seperti Anda.

Pada akhirnya, mengapa Anda berandai-andai Anda dapat menciptakan kerukunan antar umat beragama dengan cara menghinakan Islam di depan jemaat agama lain? Mengapa Anda berfikir tanpa ‘jerih payah’ Anda maka kerukunan itu tidak akan pernah tercipta? Anda bisa lahir dengan selamat pun karena sudah tercipta kerukunan antar umat beragama tersebut. Ketika ibunda Anda berada di ruang persalinan untuk kelahiran Anda, salah satu perawat yang membantu persalinan Anda adalah non Muslim. Namun semua perawat itu saling bahu membahu, saling membutuhkan, saling memakai tanpa membawa-bawa perbedaan agama. Kerukunan sudah tercipta mengawali kelahiran Anda. Tidakkah Anda sadari hal itu?
Kalau Anda tidak pernah menyadari hal itu, maka apa saja yang Anda sadari di kehidupan Dunia yang singkat ini? Mungkin Anda akan berdalih, bahwa artikel Anda tersebut sama sekali tidak mempunyai tujuan untuk mendeskreditkan / menjelek-jelekkan Islam. Namun bukankah Anda sendiri yang terang-terangan berkata bahwa Anda ingin mengkritik Islam? Kalau bukan mendeskreditkan dan atau menjelek-jelekkan Islam, maka apa lagi definisi dari “mengkritik” itu? Akhirnya kembali saya ingin katakan, “Kalau Anda tidak pernah menyadari hal itu, maka apa saja yang Anda sadari di kehidupan Dunia yang singkat ini?”.

Dalam komentar Anda, tertulis, “Saya ingin terus mencari titik-temu di antara agama-agama, mendekatkan perbedaan, bukan memperluaskannya hingga bisa lahir KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN (-capital emphasize mine).”

Apakah saya tidak salah baca?
Dengan tegas Anda menyatakan bahwa Anda ingin mengkritik Islam (karena alasan cinta, kata Anda). Mengkritik Islam berarti Anda melancarkan kata-kata tidak pantas, menjelek-jelekkan yang diarahkan kepada Islam, mendeskreditkan Islam sedemikian rupa. Bahkan dalam paragraph terakhir Anda menulis, “yang disesuaikan dengan “KEPENTINGAN PENYUNTINGNYA” (-capital emphasize mine)”. Anda dengan terang-terangan menegaskan SESUAI DENGAN KEPENTINGAN PENYUNTINGNYA. Bukankah ini berarti bahwa dalam fikiran Anda Alquran semata-mata adalah karya Muhammad – bukan karya Illahi? Kalau ini tidak dikatakan sebagai serangan, menjelek-jelekkan Alquran, maka disebut apa lagi?
Dan tanpa Anda sadari, mudahnya Anda melancarkan kritikan terhadap Alquran, sebenarnya itu terlahir dari KEBENCIAN Anda terhadap Alquran dan Islam. Anda harus membuka mata Anda, bahwa jika seorang individu mencintai Alquran, maka ia akan selalu membangga-banggakan Alquran, memuja Alquran dan membela Alquran, apa pun ceritanya. Maksudnya, tidak mungkin ada seorang individu yang amat mencintai Islam dan atau Alquran, maka cintanya itu menyebabkan ia mengatakan hal-hal yang menjelek-jelekkan Alquran tersebut. Tiba-tiba Anda mengaku Anda sangat mencintai Islam (dan Alquran) namun dengan cara mengkritik Alquran sedemikian rupa. Tidak ada satu pun individu di Alam ini yang dapat memahami pendirian Anda.
Singkat kata, siapakah di sini sebenarnya yang MENYEBARKAN KEBENCIAN dan permusuhan? Sadarkah Anda bahwa tulisan Anda itu justru menimbulkan “serangan balik” dari kalangan aktivis Masjid, santriwan – santriwati dan semua kalangan Muslims yang lebih luas pada umumnya? Apakah Anda mengharap mereka semua berdiam diri saja melihat Alquran mereka Anda deskreditkan demikian rupa? Apakah Anda mengklaim, dengan artikel Anda tersebut maka Anda sedang menyebarkan damai ke seluruh umat Muslims di Indonesia?

Anda menyatakan cintanya kepada Islam dengan cara mengkritik (dengan demikian, menjelek-jelekkan dan mendeskreditkan) Alquran. Harus Anda ketahui, tanpa cinta Anda terhadap Alquran, Islam akan tetap jaya di Bumi ini. Tanpa orang seperti Anda dengan cinta Anda, Islam tidak akan bangkrut. Masih begitu banyak Muslims yang mencintai Alquran yang justru mengagung-agungkan Alquran dan membangga-banggakan Alquran.

Tolong renungi kembali pertanyaan saya. Siapakah di sini sebenarnya yang menyebakan kebencian terhadap Islam dan Muhammad dan Alquran? Apakah mungkin ada seseorang yang amat mencintai Islam dan Alquran justru ia mendeskreditkan Alquran tersebut di depan jemaat agama lain? Apalagi sambil mengisyaratkan bahwa Alquran itu sebenarnya bukanlah kalimat Tuhan, namun “hanya sebatas” pekerjaan si penyuntingnya yang tidak lain adalah Muhammad.

PENUTUP.

Percayalah, bahwa:

1. Kata KAMI dalam Alquran adalah cara Allah Swt untuk men-signify-kan betapa Muhammad tidak mempunyai peran untuk meredaksikan pembicaraan Tuhan – karena hal itu adalah janji Allah dalam Perjanjian Lama kitab Ulangan pasal 18.

2. Kata KAMI dalam Alquran Anda “USAHAKAN / PAKSAKAN” untuk berarti dan berperan sebagai “Trinitas” dalam Islam: Allah – Muhammad – Jibril. Teman saya yang Muslims akhirnya bersedia murtad ke Christianity karena panggilan jiwanya sangat mendambakan Trinitas, ia justru tidak memaksakan Islam supaya memiliki Trinitas. Saya menilai bahwa teman saya itu sudah menggunakan hak azasinya dengan baik yaitu memilih agama yang sesuai dengan panggilan jiwanya, dan di lain pihak ia tidak memaksakan Islam untuk mempunyai Trinitas seperti Christianity – karena tidak ada seorang pun yang BERHAK untuk memaksa Islam untuk mempunyai Trinitas versinya sendiri. Faham maksud saya?

3. Anda memaksakan Islam untuk mempunyai Trinitas melalui ‘kontroversial’ kata KAMI dalam Alquran. Tanpa sadar Anda sudah menempatkan Christianity dan Trinitasnya sebagai suatu AKSIOMA (suatu hal yang kebenarannya tidak lagi perlu diuji). Kalau Anda SUDI dan DAPAT menempatkan Christianity dan Trinitasnya sebagai suatu aksioma, mengapa Anda tidak melakukan hal yang sama terhadap Islam dan Alqurannya?

4. Apakah Anda menempatkan Islam dan Alqurannya sebagai sesuatu yang kebenarannya masih bisa diuji?

5. MENGAPA BISA SAMPAI TERJADI di mana Anda menempatkan Christianity dan Trinitasnya sebagai suatu aksioma, sementara Anda yang Muslims tidak menempatkan Islam dan Alqurannya sebagai aksioma bagi kehidupan Anda? Apakah Anda tidak dapat mengatasi masalah Anda sendiri?

6. Anda dengan tegas ingin mengkritik Alquran karena cinta Anda kepada Islam. Anda harus ingat mengkritik Islam berarti Anda mendeskreditkannya. Islam tidak diturunkan untuk dikritik. Islam diturunkan untuk dipatuhi.

7. Islam tidak butuh cinta Anda. Seluruh manusia di Bumi ini tidak mencintai Islam, Islam tidak akan bangkrut.

8. Anda mengkritik Alquran bahwa Alquran tidak pernah bisa jauh melampaui konteks dan masa ketika Alquran itu ditulis. Tunjukkan kepada saya ada kitab lain di Dunia ini yang content nya jauh melampaui konteks dan masanya.

9. Saya dan Muslims lain melihat dengan kecerdasan rohaniah bahwa Alquran (dan Alhadith) adalah suatu mahakarya yang contentnya jauh melampaui konteks dan masanya. Mengapa Anda tidak melihat hal demikian? Apakah Anda tidak pernah surfing di internet?

10. Kalau Anda berfikir bahwa ISLAM / ALQURAN PANTAS UNTUK DIKRITIK, maka agama lain pun juga pantas untuk dikritik

11. TIDAK MUNGKIN BENAR jika ada seseorang berkata, dari semua agama di Dunia yang fana ini, Islam adalah satu-satunya agama yang pantas dan bisa untuk dikritik habis-habisan.

12. Kalau Anda tidak sadar bahwa agama lain (dalam hal ini Christianity) selain Islam tidak pantas untuk dikritik, maka apa sajakah yang Anda dapatkan / sadari selama Anda hidup di Dunia fana ini?

13. Dan kalau Anda setuju bahwa CHRISTIANITY PUN PANTAS UNTUK DIKRITIK, maka turunkanlah artikel-artikel dari Anda untuk menjelaskan betapa Christianity adalah pantas untuk ditinjau ulang. Anda harus adil.

14. Dan kalau memang Anda setuju bahwa Christianity pantas untuk dikritik, maka sebaiknya Anda FOKUS SAJA untuk mengkritik agama tersebut habis-habisan. Itu LEBIH MASUK AKAL dari pada Anda menjelek-jelekkan agama Anda sendiri.

15. Christianity jauh lebih tepat untuk Anda kritik habis-habisan. Kalau Anda tidak dapat melihat potensi – potensi kebobrokan Christianity, maka Anda sebaiknya tidak usah menulis artikel di sana sini. Kaum awam pun akan dapat menemukan kejanggalan dalam agama Christianity tersebut dengan mudahnya. Mengapa Anda tidak?

16. Kalau memang Anda tidak dapat menemukan kebobrokan Christianity namun Anda justru dapat menemukan “kebobrokan” Islam, maka berarti Anda bukanlah Muslims, dan BERARTI ANDA TIDAK MENCINTAI ISLAM. Logika ini amat mudah bahkan bagi anak TK sekali pun!

17. Kalau Anda memang menemukan kebobrokan Christianity namun Anda tidak bersedia menuliskannya dalam artikel Anda, bahkan Anda lebih suka menulis artikel tentang kebobrokan Islam, maka atas dasar apa Anda memutuskan demikian? Keadilan? Kasih sayang kepada Islam?

18. Anda dengan sadar atau tidak sadar hanya ingin membuat ALQURAN SERBA SALAH. Jika Alquran menyatakan bahwa Jesus adalah anak Tuhan dan mati di kayu salib, maka Anda akan mehnuduh bahwa Muhammad menyadur pekerjaan orang Roma dengan tujuan agar Muhammad bisa menjadi paus di Vatican city. Jika Alquran menyatakan bahwa Jesus bukan anak Tuhan dan tidak mati disalib, maka Anda akan menuduh bahwa Muhammad menyadur pekerjaan orang Ebyon yang minoritas di kalangan Kristen. Jadi, Alquran harus bicara apa supaya tuduhan Anda tidak keluar?

19. Anda mempunyai misi untuk menghilangkan fanatisme dan fundamentalisme. Anda salah, dan usaha Anda itu akan gagal total. Fanatisme dan fundamentalisme adalah sesuatu yang positif.

20. Anda mempunyai misi untuk memberangus kebencian terhadap agama lain, Anda ingin membangun kerukunan antar umat beragama. Saya mendukung. Namun bukan agamanya yang Anda pelintir dan deskreditkan habis-habisan. ORANG nya yang harus Anda tangani. Anda kurang tepat dalam menentukan pekerjaan yang pas dengan latar belakang pendidikan Anda.

21. Anda mempunyai misi untuk menolak kebencian terhadap suatu agama. Justru Anda sendiri TELAH TERMAKAN oleh kebencian tersebut terhadap salah satu agama di Indonesia ini. Bagaimana Anda akan dapat berhasil?

22. Anda mempunyai misi untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Tanpa Anda dengan usaha Anda yang mendeskreditkan Islam itu, TOH kerukunan sudah lama tercipta di Bumi nusantara ini. Anda adalah pahlawan kesiangan. Jangan pernah berfikir bahwa tanpa “bantuan” Anda, tidak akan pernah ada kerukunan beragama di Indonesia ini.

KESIMPULAN.

Anda butuh bantuan. Mengapa saya berkata demikian? Saya percaya tidak ada satu pun dari point di atas yang dapat Anda sikapi dengan memuaskan dan gentlemen.

Apakah Anda berdomisili di Jawa Timur? Ketahuilah, di Jawa Timur banyak Ulama yang bersedia memberi Anda asistensi untuk dapat memahami Islam secara lebih baik. Apakah Anda berdomisili di Kalimantan? Di Kalimantan banyak Alim Ulama yang bersedia membantu mengeluarkan Anda dari masalah keislaman. Jangan segan – segan untuk meminta bantuan kepada mereka. Mereka adalah individu – individu yang mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk membantu umat Muslims dari semua masalah. Mereka tidak akan meminta bayaran dari Anda. Perlu Anda ketahui, bahwa Alim Ulama di seluruh Nusantara itu adalah junjungan semua kaum Muslims di Indonesia. Saya harap Anda pun menjunjung mereka juga.

Kalau Anda justru mengambil sikap berseberangan dengan mereka (Alim Ulama, MUI, DDI, LDI, Majlis Taklim seluruh Indonesia, ikatan remaja Muslims, ikatan remaja Masjid, dan seterusnya) maka memang ternyata Andalah yang punya masalah. Harus Anda ketahui, kesemua lembaga tersebut (dan masih banyak lagi yang lain) TIDAK PERNAH MENYEBARKAN KEBENCIAN TERHADAP AGAMA LAIN. Bagaimana dengan Anda? Kalau memang Anda tidak pernah menyebarkan kebencian terhadap suatu agama mana pun, maka seharusnya Anda sudah menganggap kesemua lembaga Muslims tersebut sebagai asisten Anda dalam memahami Islam. Faham maksud saya?

Wassalam.

Papahmamah

nologicology@gmail.com

tanggapan lain dari haniifa

(Kami) Jamak := Bismillahir Rahmaanir Rahim
(Kami) Asma := Allah and or Rahmaan and or Rahiim

Trinitas == Tiga sekaligus Asma “Allah” dalam Satu kesatuan.

and or….

Qulhu Wa Allahu Ahad

untuk Mohamad Guntur Romli : maaf saya tidak tahu web anda jadi saya ambil dari blog yang sudah disadur lengkap dengan komentarnya

komentar awal saya …… orang yang dipercaya untuk mengulang kata2 dan yang hanya untuk menyampaikan kata2 ….  manakah yang anda pilih ???? <<<<< ingatlah yang memberi kata2 itu adalah maha tahu …. lebih dekat mana orang yang menyebutkan gelar keagungan dengan yang menyebut nama dekat ?? jawaban ada pada pandangan anda masing2

Posted in diskusi bebas, islam, kristen | 21 Comments »

Untuk Yang Belum Pernah Ke Israil

Posted by kosongan pada | 30 |Januari| 2009 |

sumber : http://myrazano.com/untuk-yang-belum-pernah-ke-israil/

Untuk Yang Belum Pernah Ke Israil. Tulisan ini merupakan kiriman seorang sahabat saya yang bernama Nanda Aminudin yang dikirim via email malam ini ( sebetulnya sakarang sudah pagi sih ). Melihat isinya yang sangat menarik hati dan sangat menggugah naluri kemanusiaan saya serta rasa keadilan, tanpa berpikir panjang saya langsung mengangkat telepon menghubungi sang sahabat yang ternyata baru mau tidur ( malam jumat lagi .. emangnya kenapa ?.. .. mau membunuh yahudi kall..li … atau mau memerangi setan malam jumat… maklum suasana dan aroma penganten baru empat bulan lalu masih terasa … iya deh saya doakan semoga pernikahannya awet dalam keluarga yang penuh berkah dan hidayah dari Allah swt … amin )

Mungkin fakta yang diungkap dalam email sahabat saya yang bernama Nanda Aminudin tersebut bagi sebagian orang bukanlah hal yang baru. Terutama bagi orang-orang yang pernah menjejakkan kakinya di negara yang bernama Israil. itu  Apalagi sahabat saya itu mengatakan bahwa, informasinya diambil dari Badan Waqaf Al-Quran ( BWA ). Tapi bagi saya informasinya masih baru karena sebelumnya tidak pernah tahu informasi yang sangat menarik ini.

Bila ada teman-teman yang sama dengan saya. Terutama yang belum pernah ke Israil tentunya saya pikir informasi dalam postingan ini sangat menarik untuk membuka mata serta wawasan kita tentang perseteruan antara bangsa Palestina dan dan monster-monster yahudi yang selalu mendapat dukungan bangsa-bangsa predator seperti bangsa Amerika yang dijuluki sebagai predator pemusnah dan bangsa Inggris sebagai negara pulau penghasil monster serta bangsa Australia sebagai bangsa budak yang ikut-ikutan meniru tuannya. Sehingga saya beri judul postingan ini dengan “ Untuk Yang Belum Pernah Ke Israil “

Apabila anda suatu saat pergi ke Israil. Anda tidak perlu kaget dengan beberapa fakta dan realitas yang terjadi disana. Karena apa yang akan anda temui disana akan sangat berbeda dengan apa yang anda bayangkan sebelumnya. Berikut ini adalah 32 hal yang menarik dari perdaban bangsa yahudi yang tidak anda bayangkan

01. Tahukah anda bahwa selain ras yahudi, dilarang membeli atau menyewa tanah di Israel ?..

02. Tahukah anda bahwa setiap ras yahudi yang ada di setiap Negara di seluruh dunia menjadi warga Negara Israel secara otomatis ?.. Sementara warga Palestina yang terlahir di tanah negerinya sendiri sejak puluhan abad yang lalu terus diusir ke luar Palestina ?..

03. Tahukah anda bahwa penduduk Palestina yang menetap di kawasan Israel harus menggunakan kendaraan uadengan cat dan warna khusus untuk membedakan antara ras yahudi dan non yahudi ?..

04. Tahukah anda bahwa Yerusalem bagian timur, Tepi Barat, Gaza dan dataran tinggi Golan dianggap oleh masyarakat internasional khususnya barat dan Amerika sebagai kawasan yang dijajah Israel dan bukan merupakan bagian dari Israel ?..

05. Tahukah anda bahwa Israel mengalokasikan 85% air bersih hanya untuk ras yahudi dan membagikan 15% sisanya untuk seluruh penduduk Palestina yang menetap di kawasan Israel ?.. Secara realitas, Israel mengalokasikan 85% air bersih hanya untuk 400 penduduk yahudi di Hebron, sementara 15% sisanya alokasikan kepada 120 ribu penduduk Palestina di daerah itu ?..

06. Tahukah anda bahwa Amerika mengalolasikan 5 milyad US$ dari penghasilan pajaknya setiap tahunnya untuk menyumbang Israel ?..

07. Tahukah anda bahwa Amerika terus memberikan bantuan militer kepada Israel sebesar 1,8 milyard US$ setiap tahunnnya ?.. Dan tahukah anda bahwa jumlah sebesar itu sama dengan sumbangan Amerika kepada seluruh Negara di benua benua Afrika ?..

08. Tahukah anda bahwa Israel juga menunggu bantuan perang tambahan sebesar 4 milyard US$ dari Amerika yang terdiri dari pesawat tempur F 16, Apache dan Blackhawk ?.. Dan karena Amerika merupakan Negara koalisi utama bagi Israel, maka ia wajib memberikan semua fasilitas yang diminta Israel untuk menjamin eksistensinya.

09. Tahukah anda bahwa pemerintah Amerika telah menekan Konggres tentang pelanggaran Israel dalam penggunaan senjata yang mereka sumbangkan ?..Khususny a pada tahun 1978, 1979 dan tahun 1982 pada perang di Lebanon dan penggunaan senjata nuklir pada tahun 1981.

10. Tahukah anda bahwa Israel adalah satu-satunya Negara di Timur Tengah yang menolak menandatangani larangan pengembangan senjata nuklir ?.. Dan menolak Tim Investigasi PBB untuk memeriksa tempat persembunyian nuklirnya ?..

11. Tahukah anda bahwa sebelum berdirinya Israel pada tahun 1948, sudah memiliki pabrik pengembangan senjata nuklir ?..

12. Tahukah anda bahwa Perwira Tinggi Israel di Departemen Perang mengakui secara terang-terangan bahwa militer Israel membunuh semua tahanan perang Palestina tanpa proses pengadilan ?..

13. Tahukah anda bahwa Israel meledakan tempat kediaman Diplomat Amerika dan menyerang kapal perang Amerika Liberty di perairan internasional pada tahun 1967 ?.. Walaupun serangan itu menewaskan 33 tentara Amerika dan melukai 177 lainnya, tetapi Amerika sama sekali tidak melakukan tindakan apapun terhadap Israel ?.. Hanya dengan alasan bahwa tentara Israel salah sasaran ?.. Bayangkan kalau serangan itu dilakukan oleh Negara Islam ?..

14. Tahukah anda bahwa Israel merupakan Negara yang paling banyak mengabaikan resolusi DK PBB ?.. Jumlah resolusi yang diabaikan oleh Israel mencapai 69 buah. Bayangkan seandainya satu Negara Islam mengabaikan 1 resolusi PBB, apa yang akan dilakukan oleh Amerika ?..

15. Tahukah anda bahwa pemerintah Israel menggunakan system politik konservasi terhadap identitas ras yahudi agar tetap menjadi warga Negara itu ?..

16. Tahukah anda bahwa Mahkamah Agung Israel telah menetapkan Perdana Menteri Ariel Sharon sebagai tersangka dalam kasus pembantaian Shabra dan Syatilla pada 16 September 1982 di Lebanon yang menewaskan lebih dari 1000 orang Palestina terdiri dari anak-anak, wanita dan orang tua ?..

17. Tahukah anda bahwa pada tanggal 20 Mei 1990, seorang tentara Israel menyuruh para buruh Palestina yang sedang menunggu bus di sebuah halte untuk duduk berbaris di atas tanah, setelah itu ia menembaki mereka dari jarah setengah meter ?.. Tahu pulakah anda bahwa pemerintah Israel menyatakan tentara itu tidak bersalah dan bahkan mendapat penghargaan khusus dari pemerintah Israel ?..

18. Tahukah anda bahwa sampai tahun 1988, semua pabrik dan kantor di Israel hanya boleh menempelkan keterangan lowongan kerja dengan perkataan: “lowongan kerja hanya untuk ras yahudi”, “dicari seorang karyawan dengan syarat ras yahudi” ?..

19. Tahukah anda bahwa Departmen Luar Negeri Israel membayar 6 peruhaan media Amerika untuk memunculkan image positif Israel kepada masyarakat Amerika dan Eropa ?..

20. Tahukah anda bahwa Sharon mengajak Partai radikal Molodeit untuk menjadi koalisi utama dalam kabinetnya ?.. Padahal partai itu beridiologi radikal dengan persepsi pokok membesihkan Israel dari non ras yahudi dan pengusiran secara paksa seluruh warga Palestina dari Israel ?..

21. Tahukah anda bahwa Perdana Menteri Israel pertama David ben Gorion sepakat dengan langkah pengusiran secara paksa seluruh ras arab dari Israel ?..

22. Tahukah anda bahwa Rahib besar di Israel Ofadya Yosef yang juga pendiri Partai Syas (partai terbesar ketiga di Israel) mendukung aksi militer Israel untuk menghabisi warga Palestina ?.. bahkan ia mengeluarkan fatwa radikal pada hari raya paskah yang lalu dalam wawancaranya di sebuah jaringan radio terbesar di Israel: “Tuhan akan membalas semua kejahatan warga arab, Tuhan akan menghancurkan keturunannya, menghabisinya dan menghancurkan tanahnya dan Tuhan akan membalas mereka dengan siksaan yang pedih. Karenanya dilarang semua ras yahudi untuk memberikan rasa kasih saying kepada warga arab, dan wajib bagi setiap yahudi untuk menembakan rudal dan senjatanya ke arah dada dan kepala setiap warga arab untuk menghabisinya, karena mereka itu makhluq yang jahat dan terkutuk”..

23. Tahukah anda bahwa pengungsi Palestina terbesar di dunia ?..

24. Tahukah anda bahwa penduduk Kristen Palestina bersatu dengan penduduk Palestina muslim untuk melawan penjajah yahudi ?..

25. Tahukah anda, walaupun Mahkamah Agung Israel sudah mengeluarkan keputusan pelarangan penyiksaan dalam proses pemeriksaan, tetapi Shinbet (Badan Intelejen Israel) tetap terus menyiksa setiap pejuang Palestina dalam proses pemeriksaannya ?..

26. Tahukah anda bahwa walaupun Israel terus mengganggu proses belajar mengajar dan merusak seluruh sarana dan prasara pendidikan penduduk Palestina, tetapi penduduk Palestina tetap menjadi Negara terbesar di dunia yang penduduknya bergelar doctor (S3) ?.. Hal ini apabila dilihat dari jumlah prosentase penduduknya.

27. Tahukah anda bahwa setiap manusia mempunyai hak yang sama yang dijamin oleh undang-undang HAM internasional yang diterbitkan pada tanggal 10 Desember 1948 ?.. Tetapi tahukah anda bahwa undang-undang itu sama sekali tidak berlaku bagi penduduk Palestina ?.. karena dihalangi dengan ditandatanganinya kesepatakan OSLO ?..

28. Tahukah anda bahwa mayoritas buku sejarah di dunia mengatakan Negara-negara arab yang menyerang Israel terlebih dahulu pada perang tahun 1967 ?.. Padahal faktanya, justru Israel yang menyerang Negara-negara arab terlebih dahulu kemudian mereka merebut kota Al Quds dan Tepi Barat ?.. Tetapi mereka mengatakan bahwa serangannya itu adalah serangan untuk menjaga diri dan antisipasi ?..

29. Tahukah anda bahwa Israel sebagai Negara penjajah sama sekali tidak terikat dengan konsvensi Jenewa untuk menjaga hak-hak dan keselamatan warga sipil Palestina ?..

30. Tahukah anda bahwa perintah Perdana Menteri Israel Ariel Sharon sudah tidak dituruti lagi oleh militer Israel ?.. Salah satu contohnya adalah ketika ia melarang militer Israel untuk melakukan genjatan senjata dan dilarang menembak, tetapi militer Israel terus menyerang, menembaki rakyat sipil Palestina dan menghancurkan tempat tinggal mereka. Insiden paling memilukan andalah pembantaian tiga wanita Palestina, padahal mereka sedang berada dalam tenda pengungsiannya ?..

31. Tahukah anda bahwa Israel terus melakukan berbagai usaha untuk menghancurkan Masjid Al Aqsha dan Qubah Shakhrah sejak 50 tahun yang lalu dengan menggali bawah tanah masjid tersebut agar runtuh dengan sendirinya ?..

32. Tahukah anda bahwa Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela mengatakan bahwa Israel adalah Negara rasisme dan apartheid seperti kondisi Afrika Selatan sebelum ia pimpin ?..

Demikianlah kondisi peradaban bangsa yahudi yang selalu dibela mati-matian oleh bangsa barat dan Amerika. Masih pantaskah kita menjadikan negara-negara yang katanya mempelopori demokrasi dan Hak Azazi Manusia ( HAM ) sebagai ikutan. Kenapa kita tidak kembali saja menjadi diri kita sendiri yang masih memiliki sisa-sisa perdaban yang lebih mulia dari mereka.

Ayo… Mulai dari diri kita masing-masing menabuh genderang perang dengan segala produk dan pemikiran dari bangsa-bangsa predator tersebut. Karena kiyai dan para ustadz kita masih larut dalam zikir panjangnya, sehingga belum tahu apa yang terjadi diluar sana.   Save Palestine !!

Posted in diskusi bebas, interntional | 4 Comments »

MUHAMMAD DALAM AGAMA ZOROASTER & BUDHA

Posted by kosongan pada | 20 |Januari| 2009 |

sumber :http://suakahati.wordpress.com/2008/01/02/agama-zoroaster-budha-meramalkan-muhammad

Utusan yang paling akhir dan paling baru adalah Nabi Muhammad. Demikian pula ajaran beliau adalah ajaran yang termuda dari semua ajaran dalam agama-agama besar di dunia. Ajaran Ibrahim sekitar tahun 3000 SM, Musa 2000 SM, Budha 2200-an SM, Yesus 1 M, baik TAO dan Konfusius diperkirakan sejaman dengan Musa/Budha bahkan lebih tua lagi. Islam ada sejak Nabi adam dan Ajaran terlengkap dan sempurna adalah ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Boleh dibilang ajaran Muhammad adalah yang terlengkap, tersempurna dan termuda.

Sebelum menulis artikel ini, saya mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama atau ejaan. Karena artikel ini saya tulis berdsarkan apa yang saya dengar (ada yang kurang jelas saya dengar) dari VCD tentang “Muhammad dalam berbagai agama” oleh Dr. Zakir Naik.

MUHAMMAD DALAM AGAMA ZOROASTER

Nabi Zoroaster, Nabi dalam agama Zoroaster atau Persi-isme,  merupakan pendiri agama yang dikenal dengan agama “Zoroaster” yang juga dikenal sebagai agama yang menjadikan api sebagai focus penyembahan (paganisme) yang entah api tersebut digunakan untuk alat konsentrasi dalam menyembah Tuhan yang sebenarnya atau memang mereka menganggap api adalah Tuhan Pencipta Alam. Keyakinan ini lahir sekitar 2.500 tahun yang lalu di Persia.

Mereka memiliki 2 kitab suci yaitu “Dasatir” dan “Avesta”. Dasatir dibagi dua menjadi “Khurda-dasatir” dan Kalan-dasatir”. Sedangkan Avesta dibagi menjadi “Khurda-avesta” dan “Kalan-awesta” serta “Zend avesta (Maha Zen)”. Kitab mereka ditulis dalam “pahlawi” dan “Zendi” yang mana sedikit dari mereka yang memiliki kesamaan bahasa. Dalam Zen-Avesta Farvardin Yasht  Bab 28 ayat 129, Buku Keramat Timur  volume 23, Zen-Awesta bagian 2 Hal. 220 mengatakan : “ Ia adalah pemenang, ia adalah Soeshyant, namanya “Astvat-ereta”. Soeshyant berarti sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Dalam Al-Quran Surat 21 (Al-Anbya) : 107 Allah Berfirman : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin)”. Soeshyant juga berarti ia yang berdoa (Muhammad dalam bahasa Arab berarti yang berdoa).  Astvad-ereta adalah sebuah makhluk yang berperang melawan Iblis dalam kehidupan manusia dan ia akan melawan terhadap pemujaan benda-benda”. Nabi Muhammad adalah pemenang dalam perebutan kota Mekah.

Astvad ereta berasal dari kata Astu yang berarti orang yang berdoa (seorang pemimpin agama), sesuai dengan kata “Ahmad” (nama lain Muhammad) yang berarti seseorang yang berdoa”. Dalam Zend-Avesta jika dibaca lebih jauh dalam “Zamyad Yasht” Bab 16 ayat 95 Buku Keramat Timur  Volume 23 bagian 2 Hal. 308  dikatakan bahwa Teman dari Astaved-eresta, mereka akan bertempur melawan Iblis, mereka akan memiliki pemikiran, pendengaran dan penglihatan yang bagus serta berbudi tinggi. Mereka tidak akan tergoyahkan keyakinannya karena hal-hal tersebut. Jika kita telaah Umat terbaik adalah yang sejaman dengan Nabi Muhammad beserta sahabat-sahabat beliau (para Khalifah & Tabi’in).

Dalam Dasatir dikatakan bahwa saat “Zoroastir” (pengikut Zoroaster) ketika mereka melakukan perjalanan untuk melakukan pelajaran kemudian menjadi banyak, ada seseorang yang muncul bersama kawan-kawannya yang akan menaklukkan dan mengalahkan kesombongan Persia dan para pengikutnya, dan mereka tidak menyembah api namun mereka berkiblat ke Ka’bah yang dibangun oleh Ibrahim, yang akan membersihkan pulau itu dan mereka ini akan menjadi rahmat bagi seluruh manusia, mereka akan memerintah daratan rahasia di Persia kecuali Antalkan dan orang-orang ini akan memilih raja yang murah hati. Dalam Kitab Bundanish  ayat 6 sampai 27 dikatakan bahwa Sosiath akan menjadi nabi yang terakhir. Dalam Al-Quran Surat 33:40 Allah berfirman : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

LINK TERKAIT :

Muhammad_prophesised-Parsis

MUHAMMAD DALAM AGAMA BUDHA

Dalam Cakrawati, Senasutana D.III, 76 yang menyampaikan ramalan tentang Mitri dan ramalan ini di ulang kembali dalam sebagian kitab Agama Budha yang mengatakan bahwa akan datang Budha yang bernama “Mitri” yang berarti yang suci, yang terutama, yang bersinar dan penuh dengan pengetahuan, bijaksana, kecerdikan pengetahuan yang menyeluruh  akan menerima wahyu, pengetahuan yanag utama dan ia akan mengajarkan permulaan untuk mencapai tujuannya dan ia akan mengajarkan agama kebenaran. Hal ini berarti akan sama dengan apa yang dikatakan oleh Budha. Namun sang Mitri ini akan memiliki ribuan pengikut sementara sang Budha hanya memiliki ratusan pengikut. Dalam “Buku Buddha oleh Carus-dari sumber Ceylon” Halaman 217 & 218 dikatakan, jika Mitri ini dianalisa berarti sesuatu yang bermanfaat yang memberikan rahmat yang memiliki rasa cinta kasih dalam dirinya. Jadi Mitri berarti “Rahmat” dalam bahasa Arab. Dalam Al-Quran Surat 21 (Al-Anbya) : 107 Allah Berfirman : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta  alam (rahmatan lil alamin)”.

Dalam “Buku Keramat Timur, Volume 11 Hal 36 Mahaparinabana Sutta” Bab 2, Ayat 32, menyatakan bahwa Sang Budha tidak akan membedakan pengajarannya kedalam Isoterik dan Esoterik. Budha akan selalu menyatakan kebenaran dan sebagai sang guru pengetahuannya pasti tidak akan disembunyikan, apa yang Budha ajarkan waktu itu bukanlah sesuatu yang sebagian terbuka dan sebagian tertutup. Isi dan kandungan Al-Quran diajarkan oleh Nabi Muhammad di depan Umum dan terbuka dan melarang menyembunyikannya. Dalam Bab 5 Ayat 36 hal 97, dikatakan , seperti halnya Budha yang memiliki “Sarvito” dengan nama “Ananda”  demikian juga Budha Mitri yang akan datang mempunyai “Sarvito”. Sarvito dari Nabi Muhammad adalah seseorang bernama “Anas” , yang diberikan oleh orang tuanya, ayah dan ibunya pada nabi yang mulia di usia 8 tahun dan sang nabi menyebutnya sebagai anak yang tercinta, sikecil tersayang. Dan Anas dikirim oleh Nabi Muhammad saat perang dan damai, saat yang baik dan buruk hingga akhir hidupnya. Bahkan dalam perang Uhud dalam usianya yang ke 11 dia berdiri di depan Nabi dan melindungi beliau saat beliau terkepung oleh Musuh. Bahkan dalam perang Hunain hujan panah menerjang nabi dan Anas berdiri melindungi beliau. Ananda juga melindungi 11 terjangan pada Budha dan ia berdiri didepan Budha. Dalam Buku Buddha oleh Carus  Hal 214 ada 6 kriteria dari Mitri, keenam kriteria menunjuk pada Nabi Muhammad, antara lain yaitu :

  1. Ia akan menerima cahaya petunjuk pada malam hari
  2. Saat menerima pencerahan ia akan bercahaya
  3. Ia akan meninggal dengan cara yang alami dan baik
  4. Saat sang Mitri akan meninggal ia akan kembali bercahaya (bersinar)
  5. Meninggal di malam hari (sesuai Nabi yang ketika meninggal saat malam hari)
  6. Saat meninggal bentuk fisik tidak akan nampak kembali (setelah Nabi Muhammad wafat, gambar/wujud fisik beliau tidak ada, karena Islam melarang wujud Nabi digambar )

Sumber : Secuil dari Dr. Zakir Naik.

LINK TERKAIT :

Muhammad_prophesised Buddhists

ARTIKEL SEBELUMNYA :

masihkah ada nabi baru setelah nabi muhammad

mahabaratha dan kisah perjuangan nabi muhammad

By MAGE
tanggapan

Siswa Sang Buddha // Juni 28, 2008 pada 9:57 am

Sedikit memberikan pencerahan mengenai ajaran Sang Buddha:

1. Sang Buddha tidak disembah tapi di Puja (dihormati). Jangan samakan pengertian sujud dalam Buddhist dengan sujud dalam Islam.

2. Sang Buddha bukan utusan Tuhan. Tapi orang biasa yang karena melihat penderitaan orang lain kemudian mengumpulkan parami (kebajikan dan pengetahuan) dalam banyak kehidupan hingga akhirnya mencapai Penerangan Sempurna dan mengajarkannya kepada yang lain bagaimana cara membebaskan diri dari penderitaan.

3. Sang Buddha tidak pernah mengajarkan agar umatnya memuja apalagi menyembah arca Buddha. Adanya pemujaan terhadap arca Sang Buddha dikarenakan ketika Alexander Agung melakukan ekspansi ke timur, dan mencapai India, ketika orang2 Yunani pulang mereka ikut membawa ajaran Buddha ke negara mereka. Orang Yunani punya tradisi untuk membuat arca dari orang-orang yang dianggap Istimewa. Karena orang-orang Yunani dulu pernah menganut ajaran Buddha, akhirnya kebiasaan ini kemudian ditiru oleh umat Buddha dinegara-negara lain.

Sesuai dengan sabda Sang Buddha :

“Janganlah percaya terhadap suatu berita hanya karena kamu telah mendengarnya.

Janganlah percaya terhadap suatu tradisi hanya karena telah dilakukan turun-temurun.

Janganlah percaya terhadap sesuatu hanya karena hal ini sesuai dengan pemikiranmu atau logika.

Janganlah percaya terhadap sesuatu hanya kerena dikatakan oleh para tetua.

Janganlah percaya terhadap sesuatu hanya karena dikatakan oleh seorang guru agama ternama.

Janganlah percaya terhadap sesuatu hanya karena tertulis dalam kitab suci.

Janganlah percaya terhadap sesuatu biarpun seorang Tathagata [Sang Buddha] yang mengatakannya kepadamu.

Tetapi jika setelah melakukan observasi yang mendalam dan diketahui bahwa sesuatu itu bertentangan dengan hal yang baik, melanggar norma, menimbulkan penderitaan/merugikan jika dilakukan, dicela oleh para bijaksana maka sudah selayaknya hal itu tidak dilakukan.

Tetapi jika setelah melakukan observasi yang mendalam dan diketahui bahwa sesuatu itu berhubungan dengan hal yang baik, tidak melanggar norma, membawa kebahagiaan jika dilakukan, dipuji oleh para bijaksana maka sudah selayaknya hal itu dilakukan.”

berdasarkan sabda Sang Buddha diatas oleh sebab itu, Puja terhadap arca Sang Buddha sebagai objek pengganti Sang Buddha tetap dilakukan. Dalam hal ini tolong jangan disamakan dengan tradisi Tionghoa.

Menanggapi artikel diatas :
Secara pribadi saya menolak kalo Muhammad itu adalah Bodhisatva (Calon Buddha) Maitreya. Alasannya :
1. Di dalam Sutta, Bodhisatva Maitreya lahirnya di Jambudvipa (Wilayah India).
2. Buddha itu tidak dilahirkan, tapi dicapai, yang dilahirkan itu Bodhisatva.
3. Seorang yang telah mencapai Kebuddhaan tidak akan mungkin beristri, karena nafsunya sudah lenyap, Dia tidak akan melakukan hubungan seksual. Dia hanya beristri sewaktu masih Bodhisatva (belum mencapai kebuddhaan). Sedangkan Muhammad pada masa2 dimana dia disebut Nabi dia kan mengambil istri. Dan katanya punya anak lagi (mengenai anak, tolong dikoreksi kalo salah)
4. Seorang yang telah mencapai Kebuddhaan tidak akan mungkin ikut/pergi berperang apapun alasannya.
5. Seorang yang telah mencapai Kebuddhaan akan menjauhkan hidupnya dari hal-hal duniawi seperti kekuasaan/jabatan dalam pemerintahan.Dia akan menghabiskan hidupnya sebagai seorang Pertapa.
6. Maitreya baru lahir setelah ajaran Sang Buddha Gotama dilupakan orang.
7. Maitreya lahir pada zaman ketika umur manusia rata-rata 80.000 tahun. Hal ini disebabkan Maitreya adalah seorang Bodhisatva yang menonjol dalam Cinta Kasih (Metta/Maitri = > Maitteya/Maitreya [Pali/Sangsekerta]), sesuai dengan Hukum Kamma, orang-orang seperti itu akan lahir dalam keadaan dan lingkungan yang baik.
8. Seorang yang disebut Sang Buddha, hanya akan muncul ketika usia manusia rata-rata berada dalam range 100-80.000 tahun. Seorang Buddha tidak akan muncul ketika usia manusia rata-rata dibawah 100 atau diatas 100.000 tahun. Pada satu masa hanya ada 1 Buddha yang muncul (berhubungan dengan point 6)

Masih ada banyak lagi, tapi saya rasa ini sudah cukup.

Untuk yang menulis artikel :
Bro anda orang pertama yang saya ketahui yang mengatakan Islam itu ajaran terlengkap. Perlu diketahui bro, Kitab Suci paling tebal didunia itu Kitab Sucinya ajaran Buddha. Berdasarkan dari aliran Mahayana itu tebalnya sekitar 70x Alkitab (dengan tebal kertas dan ukuran huruf seperti Alkitab) sedangkan dari Theravada sekitar 11x Alkitab. Tapi itupun gak pernah dibilang lengkap. Didalam ajaran Buddhist, Hindu, Jain, Khrisnamurti (India), Tao (China), Socrates (Yunani) ada disinggung kelahirkembali (reinkarnasi), emang Islam ada??? ajaran Buddha (mungkin Hindu juga) mengajarkan kalo manusia bukan hanya dibumi ini saja, bagaimana dengan Islam???. Lalu apa artinya “Terlengkap” yang dimaksud?? tolong pencerahannya )

Menanggapi pernyataan enryo :
Bro, Yahudi, Kristen and Islam itu munculnya diwilayah yang sama yaitu Timur Tengah belum lagi dari garis keturunan yang sama. Jadi apa anehnya kalo masing – masing saling menyatakan?? Bagi penganut Hindu, Sang Buddha itu dianggap Inkarnasinya Dewa Siva.

Menanggapi pernyataan adi_isa :
Bro, seumur hidup, saya gak pernah mengetahui, mendengar, melihat kalo ada umat Buddha yang bilang/menganggap bahwa Sang Buddha itu Tuhan. Sampai detik ini hanya ada dua orang yang saya ketahui menafsir Sang Buddha Sebagai Tuhan, yaitu anda dan guru sejarah saya waktu SLTP.

Menanggapi pernyataan prisoner :
orang2 makrifat ??? buku2 tasawuf??? bro kalo anda mau belajar ajaran Buddha belajarlah berdasarkan paham Buddhist, kalo anda mau belajar ajaran Kristen belajarlah berdasarkan paham Kristen, kalo mau belajar ajaran Hindu belajarlah berdasarkan paham Hindu, begitu juga kalo ada orang mau belajar ajaran Islam
belajarlah berdasarkan paham Islam. Kalo anda mau belajar ajaran lain berdasarkan sudut pandangan Islam sudah pasti gak nyambung begitu sebaliknya.

Menanggapi pernyataan Walika :
Kalo dibaca dari tulisan anda, sepertinya anda itu sudah tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar!!!! sehingga anda berani bilang ajaran ini itu tidak punya dasar. oleh sebab itu saya ingin mengajukan pertanyaan :

Ada seorang wanita sewaktu hendak pulang dia diculik oleh sekawanan penjahat dan akhirnya diperkosa.

(1). Pertanyaan saya apakah anda percaya dengan yang nama rencana Tuhan (Takdir)???

Jika tidak (1), pertanyaannya berhenti sampai disini.

(2) Kalo ya(1), bagaimana dengan cerita diatas, apakah juga termasuk rencana Tuhan (Takdir)???

(3) Jika Ya(2), bagaimana dengan pemerkosanya apakah berdosa atau tidak???

jika berdosa(3), bagaimana mungkin bisa berdosa padahal Tuhan yang rencanain.

Jika tidak(3). wah saya jadi pemerkosa deh D

(4) Jika Tidak(2), Kekuatan apakah didunia ini yang bisa menciptakan rencana(pemerkosaan) yang melampaui rencana (Kuasa) Tuhan???

Jika tidak ada(4), kenapa pemeroksaan bisa terjadi????

Terlepas dari semua komentar saya diatas, saya ingin bertanya sama umat Islam khususnya (soalnya belum pernah betul2 belajar paham Islam ) menurut yang kalian pahami atau ketahui Tuhan (Alllah) itu seperti apa????
1. Apakah berwujud / tidak berwujud???
2. Berdiam disuatu tempat / tidak??? (Kalo di Kristen kan berdiam di Surga)
3. Suatu Makhluk / Bukan Suatu Makhluk?
4. Mana yang lebih besar Muhammad atau Jibril???
5. Bagaimana Surga menurut Islam???
6. Sebutkan Alam2 kehidupan apa saja yang diajarkan Islam, selain setan, jin, surga, neraka???

Ini dulu deh udah panjang sih. Sorry bro yang ini bukan untuk diperdebatkan, saya cuma ingin tahu saja, jadi tuliskan semua yang kalian pahami.

tanggapan 2

  • wisdomgod // Januari 20, 2009 pada 11:42 am

    Muhammad bukanlah Maitreya, part 1
    Klaim bahwa Muhammad adalah Maitreya didasarkan pada beberapa kesamaan antara ramalan Buddha Gautama dengan kehidupan Muhammad. Tetapi klaim ini kebanyakan hanya mengada-ada dan menghubung-hubungkan dengan tidak logis. Bahkan klaim ini tidak mempedulikan aspek-aspek dari ramalan Buddha Gautama yang dengan jelas menyebutkan kapan dan dalam kondisi seperti apa seperti apa keadaan Buddha Maitreya muncul. Selain itu, ketidaksesuaian ajaran antara Buddha Gautama dengan ajaran Muhammad dalam hal-hal yang mendasar patut dipertanyakan karena seharusnya ajaran Buddha dari masa ke masa adalah sama.

    Tulisan ini bukan bertujuan untuk menjelek-jelekkan agama lain, tetapi untuk memberi penjelasan berdasarkan kitab-kitab suci Buddhis kenapa Muhammad tidak mungkin adalah Maitreya. Fokus tulisan ini karena itu adalah perbedaan fakta sejarah kehidupan Muhammad dengan ramalan Buddha Gautama dan perbedaan ajaran antara Islam dan Buddhisme yang sangat mendasar.

    A. Ketidakcocokan dengan ramalan
    Buddha Maitreya akan datang setelah ajaran Buddha Gautama dilupakan

    Suatu hari ketika Buddha Gotama tinggal di hutan Banyan di Kapilavastu, Bhikkhu Sariputta mendekati beliau dan mengajukan pertanyaan kepada Buddha tentang Buddha yang akan datang. Dia berkata:

    “Pahlawan yang akan mengikuti Anda sebagai Buddha, seperti apakah Dia?

    Berdasarkan catatan semata, aku tidak dapat memahami. Nyatakanlah kepadaku, Yang Mahatahu.”

    Buddha kemudian menyatakan :

    “… siklus Kami adalah siklus yang bahagia.

    Ketiga pemimpin Buddha sudah pernah hidup

    Pemimpin Buddha Kakusandha, Konagamana dan Kassapa

    Buddha sekarang adalah Aku

    Namun setelah Aku, Maitreya akan datang

    Sementara siklus yang bahagia ini masih berlangsung…”

    (Anagata-vamsa, Chronicles of Future Buddhas)

    “Setelah kepergianku, lebih dahulu akan ada kemerosotan dan pelenyapan ajaranKu. Ini akan terjadi dalam 5 tahap:

    Lenyapnya pencapaian. Ketika tidak ada lagi bhikkhu yang mencapai tingkat kesucian
    Lenyapnya metode. Ketika tidak ada lagi Bhikkhu yang menjalankan peraturan para Bhikkhu yang berjumlah 227. Jumlah peraturan yang diikuti akhirnya hanya akan ada 4 (4 parajika, peraturan yang paling dasar) dan setelah tidak ada bhikkhu yang menjalankan 4 parajika, metode lenyap.
    Lenyapnya ajaran. Ketika Tripitaka lenyap dari dunia dan manusia tidak mampu mengingat 4 baris syair Dharma:

    Jangan berbuat jahat

    Sempurnakan kebajikan

    Sucikan hati dan pikiran

    Itulah ajaran para Buddha
    Lenyapnya simbol-simbol. Ketika Bhikkhu-bhikkhu merosot cara hidupnya, menanggalkan jubah dan memakai carikan kain kuning. Mereka akan berdagang dan menikah. Ketika mereka membuang carikan kain kuning dan mulai melakukan pembunuhan terhadap binatang, simbol telah lenyap.
    Lenyapnya relik-relik. Setelah 5000 tahun, relik-relik Buddha akan gagal mendapatkan penghormatan yang semestinya. Relik-relik tersebut tidak akan dihormati dimanapun. Relik-relik itu akan terbakar dengan sendirinya tanpa meninggalkan sisa setelah melakukan keajaiban-keajaiban yang disaksikan oleh para dewa.

    Yang dapat dilihat secara jelas adalah bahwa saat ini Para anggota sangha, para bhikkhu masih memakai jubah dan menjalankan peraturan-peraturan kebhikkhuan secara lengkap, ajaran Buddha dalam tripitaka masih lengkap, dan relik-relik Buddha masih dihormati di banyak tempat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masa kedatangan Buddha Maitreya masih sangat lama.

    Siapapun yang mengklaim dirinya atau orang lain sebagai Maitreya pada saat ini jelas tidak dapat dipercaya. Muhammad lahir pada tahun 570 Masehi, sekitar 1000 tahun setelah Buddha Gautama. Sedangkan Ajaran Buddha baru akan hilang 5000 tahun setelah Buddha.

    Buddha Maitreya akan datang setelah masa kegelapan berlalu

    Menurut Cakkavati Sihanada Sutta, disebutkan bahwa setelah Ajaran Buddha hilang dari dunia, akan terjadi masa kegelapan dimana umur manusia semakin berkurang karena moral manusia menurun:

    “Para bhikkhu, demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang miskin maka kemelaratan meluas… mencuri… kekerasan… pembunuhan… berdusta… memfitnah… perzinahan… kata-kata kasar dan membual… iri hati dan dendam … pandangan sesat… berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu… hingga kurang berbakti kepada orang tua, kurang hormat kepada para samana dan pertapa dan kurang patuh kepada pemimpin masyarakat berkembang dan meluas. Karena hal-hal ini berkembang dan meluas maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 250 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 100 tahun.

    Para bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia itu akan mempunyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun. Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun, umur lima tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee), mentega, minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Bagi mereka ini, biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan yang terbaik. Seperti pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan makanan yang terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa bagi mereka. Pada masa orang-orang itu, sepuluh macam cara melakukan perbuatan baik akan hilang, sedangkan sepuluh macam cara melakukan perbuatan jahat akan berkembang dengan cepat, di antara mereka tidak ada lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik — Siapa yang akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka tidak ada lagi rasa berbakti kepada orang tua, tidak ada lagi rasa menghormat kepada para samana dan pertapa serta tidak ada lagi kepatuhan kepada para pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang orang-orang masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada para samana dan pertapa serta patuh kepada para pemimpin, namun pada masa orang-orang… yang batas usia kehidupan mereka hanya 10 tahun, rasa berbakti, hormat dan patuh tidak ada lagi.

    Para bhikku, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun tidak akan ada lagi (pikiran yang membatasi untuk kawin dengan) ibu, bibi dari pihak ibu, bibi dari pihak ayah, bibi dari pihak ayah yang merupakan istri dari kakak ayah atau istri guru. Dunia akan diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagaikan kambing, domba, burung, babi, anjing dan srigala.
    Di antara orang-orang ini saling bermusuhan yang kuat akan menjadi hukum, perasaaan yang benci yang hebat, dendam yang kuat serta keinginan membunuh dari ibu terhadap anaknya, anak terhadap ibunya, ayah terhadap anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya dan seterusnya… Hal ini terjadi bagaikan pikiran dari para olahragawan yang menghadiri pertandingan, begitulah pikiran mereka.

    Para bhikku, bagi orang-orang yang batas kehidupan mereka 10 tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang selama seminggu. Selama masa ini mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar: pedang tajam akan nampak selalu tersedia di tangan mereka dan mereka berpikir: ‘Individu ini adalah binatang liar.’ Dengan pedang mereka saling membunuh.
    Sementara itu ada orang-orang tertentu yang berpikir: ‘Sebaiknya kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh kita. Marilah kita menyembunyikan diri ke dalam belukar, ke dalam hutan, ke cekungan di tepi sungai, ke dalam gua gunung dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di hutan.’ Mereka akan melaksanakan hal ini selama seminggu. Pada hari ke tujuh mereka keluar dari belukar, hutan, cekungan dan gua, mereka akan saling berangkulan dan akan saling membantu, dengan berkata: ‘O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih hidup!’
    Para bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul keinginan-keinginan sebagai berikut : ‘Karena kita melakukan cara-cara yang jahat, maka kita kehilangan banyak sanak saudara. Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan. Sekarang, kebajikan apakah yang dapat kita lakukan? Marilah kita berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Itu merupakan perbuatan baik yang dapat kita lakukan.’ Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh, hal yang baik ini mereka laksanakan terus. Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya batas usia kehidupan dan kecantikan mereka bertambah. Bagi mereka yang batas usia hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 20 tahun.

    Para bhikkhu, hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun: ‘Sekarang, karena kita mengikuti dan melaksanakan kebajikan maka batas usia kehidupan dan kecantikan kita bertambah. Marilah kita meningkatkan kebajikan kita. Marilah kita berusaha untuk tidak mengambil apa yang tidak diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita berusaha untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak memfitnah, kita berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar, kita berusaha untuk tidak membual, kita berusaha untuk tidak serakah, kita berusaha untuk tidak membenci, kita berusaha untuk tidak berpandangan sesat, kita berusaha untuk tidak melakukan tiga hal berikut, yaitu: tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri, tidak tamak dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepada orang tua kita, kita menghormati para samana dan pertapa serta kita patuh kepada pemimpin masyarakat. Marilah kita selalu melaksanakan kebajikan-kebajikan ini.’
    Demikianlah mereka akan selalu melaksanakan kebajikan: tidak mengambil apa yang tidak diberikan… berbakti kepada ke dua orang tua, menghormat para samana dan pertapa serta patuh kepada pemimpin masyarakat. Karena mereka melaksanakan kebajikan-kebajikan itu, maka batas usia kehidupan anak-anak dan kecantikan manusia bertambah, sehingga mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 40 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 80 tahun; …. anak-anak mereka mencapai 160 tahun;… anak-anak mereka mencapai 320 tahun;… anak-anak mereka mencapai 640 tahun;… anak-anak mereka mencapai 2.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai 8.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai 20.000 tahun; anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun; dan mereka yang pada masa itu hanya berbatas usia kehidupan 40.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka akan mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun.”

    Jadi sebelum Budha Maitreya datang, akan ada masa kegelapan dimana usia manusia sangat rendah, ketidakbajikan merajalela, incest tidak dilarang, dan terjadi pemusnahan besar manusia karena mereka saling membunuh.

    Karena masa kegelapan ini belum datang, maka jelas bahwa kedatangan Buddha Maitreya masih sangat jauh.

    Buddha Maitreya akan datang dalam masa kemakmuran

    “Para bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 80.000, maka usia perkawinan bagi wanita adalah pada usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini hanya akan ada tiga macam penyakit — keinginan, lupa makan dan ketuaan. Pada masa kehidupan orang-orang ini Jambudipa akan makmur dan jaya, desa-desa, kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan akan berdekatan satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat terbang dari satu kota ke kota yang lain. Pada masa kehidupan orang-orang ini, Jambudipa — bagaikan avici — akan penuh dengan penduduk bagaikan hutan yang dipenuhi semak belukar. Pada masa kehidupan orang-orang ini, kota Baranasi yang kita kenal sekarang akan bernama Ketumati yang merupakan kota kerajaan yang besar dan makmur, berpenduduk banyak dan padat serta berpangan cukup. Pada masa kehidupan orang-orang ini, di Jambudipa akan terdapat 84.000 kota dengan Ketumati sebagai ibu kota.

    Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini di Ketumati, ibu kota kerajaan, akan muncul seorang raja Cakkavatti bernama Sankha, yang jujur, memerintah berdasarkan kebenaran, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyatnya dan pemilik tujuh macam permata, yaitu: cakka, gajah, kuda, permata, wanita (istri), kepala rumah tangga dan panglima perang. Ia akan memiliki keturunan lebih dari 1000 orang yang merupakan ksatriya-ksatriya digjaya, penakluk musuh-musuh. Ia akan menguasai dunia sampai ke batas lautan, tetapi ia menguasai dunia ini bukan dengan kekerasan atau dengan pedang melainkan dengan kebenaran.

    Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam dunia akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasambuddha bernama Metteyya (Maitreya), yang sempurna dalam pengetahuan dan pelaksanaannya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, yang sadar serta yang patut dimuliakan, yang sama seperti saya sekarang. Ia, dengan dirinya sendiri akan mengetahui dengan sempurna dan melihat dengan jelas alam semesta bersama alam-alam kehidupan para dewa, brahma, mara, serta para samana, para pertapa, para pangeran dan orang-orang lainnya, seperti apa yang saya tahu dengan sempurna dan lihat dengan jelas sekarang. Dhamma kebenaran yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhir akan dibabarkan dalam kata-kata dan semangat, kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang saya lakukan sekarang. Ia akan diikuti oleh beberapa ribu bhikkhu sangha, seperti saya sekarang ini yang diikuti oleh beberapa ratus bhikkhu sangha.”

    Bisa dilihat bahwa pada saat ini,

    – Tidak ada raja yang sangat berkuasa bernama Sankha yang memerintah dengan adil. Di zaman Nabi Muhammad juga tidak ada raja seperti itu

    – Usia manusia belum mencapai 80.000 tahun

    – Kehidupan manusia belum semakmur seperti yang diceritakan dalam Cakkavati Sihanada Sutta, dimana tidak ada perang dan kebanyakan penyakit hilang.

    Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedatangan Buddha Maitreya tidak mungkin terjadi sekarang.

    Apalagi umur Nabi Muhammad SAW tidak sampai 80.000 tahun. Padahal Buddha Gautama mengatakan:

    “Usia Buddha Maitreya adalah 80.000 tahun. Berada di dunia, beliau akan membawa banyak orang menyebrang”

    Seorang Buddha mempunyai 32 tanda manusia besar.

    Seorang Buddha di masa lalu maupun masa yang akan datang akan memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Ciri-ciri ini berjumlah 32, dan terdapat dalam kitab-kitab Veda agama Hindu sebagai Maha Purisa Lakkhana (Tanda-tanda manusia agung). Buddha Gautama menjelaskan tentang hal ini dalam Lakkhana Sutta (Sutta Pitaka,Digha Nikaya):

    “Para bhikkhu, apakah 32 Maha Purisa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain, jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), … maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha; yaitu:

    1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado). Ini merupakan satu lakkhana dari Maha Purissa.

    2. Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.

    3. Tumit yang bagus (ayatapanhi).

    4. Jari-jari panjang (digha-anguli)

    5. Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).

    6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).

    7. Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).

    8. Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)

    9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.

    10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).

    11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno)

    12. Kulitnya sangat lembut dan halus / sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit

    13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.

    14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.

    15. Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).

    16. Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.

    17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).

    18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).

    19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigroda.

    20. Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).

    21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).

    22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).

    23. Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).

    24. Gigi-geligi rata (sama-danto).

    25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).

    26. Gigi putih bersih (susukka-datho).

    27. Lidah panjang (pahuta-jivha).

    28. Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.

    29. Mata biru (abhinila netto).

    30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).

    31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.

    32. Kepala bagaikan berserban (unhisasiso).”

    Seseorang yang ingin mengklaim bahwa dirinya adalah Buddha, harus mempunyai 32 tanda ini. Muhammad tidak pernah disebutkan memiliki tanda-tanda tersebut. Kita memang tidak dapat membuktikan apakah Muhammad mempunyai ciri-ciri tersebut karena tidak ada gambaran fisik tentang Muhammad yang dilestarikan oleh umat Islam.

    Proklamasi kedatangan Buddha Maitreya

    Sebelum Bodhisattva Maitreya lahir terakhir kalinya sebagai manusia, para dewa dan Brahma akan mengumumkan kedatangannya 1000 tahun sebelumnya. Umat manusia yang pada saat itu masa hidupnya berusia 80.000 tahun akan hidup dalam penantian 1000 tahun lamanya sebelum Buddha Maitreya benar-benar lahir.

    (Seorang Calon Buddha disebut Bodhisattva sebelum mencapai pencerahan sempurna)
    Buddha Maitreya dilahirkan dan dibesarkan dalam beberapa kondisi

    · Boddhisattva akan menjadi anak dari Kepala Pendeta Kerajaan, yang bernama Subrahma, dan ibunya akan bernama Brahmavati (disebutkan dalam Visudhi Magga Bab XIII, 127)

    · Beliau akan dinamai Ajita, dan akan memiliki 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan yang biasa dimiliki oleh Raja Dunia dan Buddha (daftar 80 tanda minor ada dalam pendahuluan Dasabodhisattuppattikatha/ The Birth-stories of the Ten Bodhisattas)

    · Kondisi kelahiran yang menakjubkan:

    Ibunya melahirkan Beliau dalam keadaan berdiri dan di dalam hutan. Bodhisattva akan dilahirkan di taman rusa Isipatana…Ia dilahirkan tanpa noda…Segera setelah lahir beliau akan berjalan ke utara, memeriksa empat penjuru, dan mengumumkan bahwa beliau adalah yang termulia di dunia…tujuh hari setelah Bodhisattva dilahirkan, ibunya meninggal dan terlahir di alam dewa Tusita.

    · Beliau akan menjalani kehidupan sebagai perumah tangga selama 8000 tahun.

    · Beliau akan mempunyai empat istana yang bernama Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha, and Candaka. Ia akan mempunyai 100.000 gadis penari.

    · Istrinya akan bernama Candamukhi (Dasavatthuppakarana) dan anaknya bernama Brahmavaddhana

    Jelas sekali Muhammad tidak memenuhi semua ramalan di atas.
    Muhammad tidak mungkin lahir di hutan. Di Arab tidak ada hutan
    Muhammad tidak bernama Ajita. Ia bukan anak kepala pendeta kerajaan
    Semua Buddha segera setelah lahir langsung dapat berjalan dan berbicara, sementara tidak ada catatan Muhammad melakukan hal yang sama.
    Ibunya meninggal pada waktu Muhammad berusia 6 tahun, bukan 7 hari
    Muhammad tidak punya istana dan gadis penari, nama istri dan anaknya juga beda.

    Bandingkan dengan fakta historis Muhammad di bawah:

    Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hâsyim bin ‘Abd al-Manâf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b.[1]

    Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin ‘Abd Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’b.[1]

    Istrinya bernama Khadijah (dan lain-lain) dan anaknya bernama Fatimah.

    Buddha Maitreya dan pengikutnya meninggalkan keduniawian

    “He will become averse to sensual pleasures. Not looking for the unsurpassed, great happiness and bliss in seeking honour, he will go forth.”

    (Anagata-vamsa)

    “kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang saya lakukan sekarang”

    (Cakkavati Sihanada Sutta)

    Semua Bodhisattva memutuskan untuk meninggalkan keduniawian setelah mereka melihat empat tanda (orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa), dan setelah mereka mendapatkan seorang putra. Cerita Bodhisattva Ajita secara detil diceritakan dalam Dasabodhisatta- uddesa:

    Pada umur delapan ribu tahun, Bodhisattva akan mengendarai kereta yang mirip istana dewa dan ketika beliau pergi ke taman istana, beliau akan melihat empat tanda. Beliau akan mengembangkan perasaan tidak puas pada dunia, dan melepaskan keduniawian.

    Beliau akan mencukur rambut dan memakai jubah kuning. Bodhisattva kemudian akan pergi ke salah satu istananya. Diikuti oleh para pengikutnya (yang mencontoh beliau meninggalkan keduniawian), beliau akan duduk di bawah pohon Naga dan bermeditasi selama 7 hari sebelum mencapai pencerahan sempurna.

    Seperti Buddha Gautama yang meninggalkan keduniawian, meninggalkan anak dan istri dan menjadi pertapa, begitu pulalah yang dilakukan oleh Buddha Maitreya.

    Disini terlihat perbedaan yang sangat mencolok karena seperti yang kita tahu bahwa:

    · Muhammad tidak meninggalkan keluarganya sewaktu mendapatkan wahyu pertama

    · Muhammad tidak hidup selibat, ataupun memakai jubah pertapa, dll

    · Muhammad malah kawin lagi, mengambil 9 istri (minimal) setelah kematian istri pertamanya.

    · Muhammad mendapat wahyu di dalam gua, bukan di bawah pohon.

    · Muhammad menjadi pemimpin politik dan menguasai daerah-daerah. Hal ini juga terus dilakukan oleh penerusnya, para kalifah.

    Hal ini sangatlah berbeda dengan ramalan Buddha Gautama yang mendeskripsikan Maitreya sebagai penerusnya yang akan hidup dengan cara yang mirip dan mengajarkan ajaran yang sama.

    Satu dari teks awal yang menyebutkan Maitreya adalah teks Sansekerta, Maitreyavyakaraṇa (The Prophecy of Maitreya), yang menyatakan bahwa dewa, manusia, dan makhluk lain akan memuja Maitreya dan:

    “akan hilang rasa ragunya, dan arus nafsu keinginan mereka akan terpotong; bebas dari penderitaan mereka akan menyebrang lautan kelahiran kembali; dan, sebagai hasil dari ajaran Maitreya, mereka akan menjalani kehidupan suci. Tak akan lagi mereka menganggap apapun sebagai milik mereka, mereka tidak akan mempunyai kepemilikan, tak ada emas atau perak, tak ada rumah, tak ada keluarga! Tapi mereka akan menjalankan kehidupan suci selibat di bawah petunjuk Maitreya. Mereka akan merobek jaring nafsu, mereka akan dapat memasuki samadhi, dan mereka akan mendapat banyak kebahagiaan karena mereka menjalankan kehidupan suci di bawah bimbingan Maitreya. (Trans. in Conze 1959:241)

    http://id.wikipedia.org/wiki/maitreya
    Buddha Maitreya datang pada saat keadaan dunia berubah

    Kedatangan Maitreya ditandai oleh beberapa kejadian fisik. Lautan diprediksi akan berkurang ukurannya, yang membuat Maitreya dapat menyebrang secara bebas.

    Di dalam Buddhavacana Maitreya Bodhisattva Sutra disebutkan:

    “O, Arya Sariputra! Pada saat Buddha baru tersebut dilahirkan di dunia Jambudvipa. Situasi dan kondisi dunia Jambudvipa ini jauh lebih baik daripada sekarang! Air laut agak susut dan daratan bertambah. Diameter permukaan laut dari keempat lautan masing-masing akan menyusut kira-kira 3000 yojana, Bumi Jambudvipa dalam 10.000 yojana persegi, persis kaca dibuat dari permata lazuardi dan permukaan buminya demikian rata dan bersih”

    Buddha Maitreya memiliki fisik yang berbeda dengan manusia masa kini.

    Dikisahkan bahwa karena kebajikan mereka, manusia di masa depan akan berkembang tubuhnya. Badan mereka akan menjadi sangat besar. Badan manusia masa sekarang kecil karena banyak melakukan ketidakbajikan.

    Many details are given about the physical appearance of Buddha Metteyya. He will be eighty-eight cubits high. His chest will be twenty-five cubits in diameter. There will be twenty-two cubits from the soles of his feet to the knees, from the knees to the navel, from the navel to the collar bone, and from the collar bone to the apex of his head. His arms will be twenty-five cubits long. The collar bones will be five cubits. Each finger will be four cubits. Each palm will be five cubits. The circumference of the neck will be five cubits. Each lip will be five cubits. The length of his tongue will be ten cubits. His elevated nose will be seven cubits. Each eye socket will be seven cubits. The eyes themselves will be five cubits. The Anagatavamsa says his eyelashes will be thick, that the eyes will be broad and pure, not winking day or night; and that with his physical eye, he will be able to see large and small things all around for ten leagues without obstruction. The space between the eyebrows will be five cubits.(126) The eyebrows will be five cubits. Each ear will be seven cubits. The circumference of his face will be twenty-five cubits. The spiral of the protuberance on his head will be twenty-five cubits.

    10. Maitreya bukanlah yang terakhir

    Muslim percaya bahwa Muhammad adalah nabi terakhir bagi dunia. Hal ini ditegaskan oleh Muhammad sendiri. Namun menurut Buddhis, Maitreya bukanlah yang terakhir karena masih akan ada Buddha yang lain.

    Uttamo Metteyyo Ramo Pasenadi Kosalo ca

    Abhibhu Dighasoni ca Candani ca Subo Todeyyabrahmano

    Nalagiri Palaleyyo bodhisatta anukkamena

    Sambodhim labhanti anagate.

    Buddha Gotama predicted as follows:

    In the future (ten) Bodhisattas will attain full awakening in the following order:

    the most honourable (Ariya) Metteyya,(King) Rama, (King) Pasenadi of Kosala, (the Deva) Abhibhu, (the Asura Deva) Dighasoni, (theBrahman) Candani, (the young man) Subha, the Brahman Todeyya, (theelephant) Nalagiri, and (the elephant) Palaleya.(Anagatavamsa, bait pertama)

  • Ketidakcocokan ajaran

    1.Kelahiran kembali dan karma

    Salah satu perbedaan besar ajaran Buddha dan ajaran Muhammad adalah mengenai masalah kelahiran kembali dan Karma. Buddha Gautama dengan sangat spesifik menyatakan bahwa kelahiran kembali adalah pasti, dan lebih jauh menceritakan banyak kelahiran-Nya yang terdahulu.

    Catatan mengenai kelahiran terdahulu Siddharta Gautama ini terkumpul di banyak tempat di Tripitaka. Contohnya:
    Jataka (Theravada). Kitab yang menceritakan kisah 547 kelahiran Bodhisattva yang terdahulu.
    Jatakamala (Mahayana). Kitab Jataka versi Mahayana dengan cerita yang lebih sedikit tetapi lebih mudah dimengerti dan lebih menekankan aspirasi pencapaian KeBuddhaan.
    Sutra Tentang Yang Bijak dan Yang Dungu (Mahayana). Menceritakan banyak cerita kelahiran kembali dan hukum sebab akibat (karma) yang dialami oleh Bodhisattva maupun murid-murid Buddha pada kelahiran sebelumnya.

    Semua kitab di atas menceritakan kisah yang sama, yaitu bagaimana seorang Bodhisattva harus berjuang melalui banyak kelahiran untuk menyempurnakan kualitas-kualitas baik dan perbuatan bajiknya. Perbuatan bajik yang tidak mungkin dapat disempurnakan dalam satu kelahiran. Kesempurnaan (Paramita) yang disempurnakan melalui kelahiran yang tak terhitung jumlahnya. Kesempurnaan Berdana (Perfection of giving) misalnya, dicapai ketika Bodhisattva memberikan:

    a. Hartanya, anak-anaknya, dan istrinya (Vessantara Jataka)

    b. Organ tubuhnya (Maitribhala Jâtaka – Kisah Tentang Kekuatan Belas kasih)

    c. Hidupnya. (contoh: Vyaghri Jataka)

    Muhammad tidak pernah memberikan ajaran tentang bagaimana tidak mementingkan diri sendiri dan memberikan hidup sendiri untuk kebahagiaan orang lain.

    Apa yang diajarkan Muhammad sangatlah berbeda. Ia mengajarkan akhir jaman (kiamat) yang serupa dengan agama Kristen dan Yahudi dimana semua orang akan diadili sesuai perbuatannya pada masa hidupnya. Manusia hanya hidup satu kali. Tak ada hukum karma yang berlanjut di kehidupan mendatang.

    2. Beliau akan menceritakan Buddha Gautama secara jelas dan mendetil

    Buddha Maitreya akan secara jelas menceritakan kisah-kisah mengenai Buddha sebelumnya, termasuk Buddha Gautama. Seperti juga Buddha Gautama yang telah menceritakan secara jelas 24 Buddha sebelum Beliau.

    “He will tell the story of one of his past lives (Jataka) whenever necessary, and he will teach the Buddhavamsa (The Chronicle of Buddhas) to a gathering of his relatives.”

    Para bhikkhu, berdasarkan pengertiannya yang sempurna tentang Dhamma-dhatu, maka Tathagata dapat mengingat kembali para Buddha yang lampau. Karena ia telah mencapai kesempurnaan, telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah menghancurkan semua rintangan, telah memutuskan lingkaran kehidupan dan terbebas dari penderitan. Demikianlah, sehingga ia dapat mengingat kelahiran para Buddha, nama mereka, keturunan mereka, keluarga mereka, panjang usia kehidupan mereka, pasangan murid utama mereka, bhikkhu pembantu mereka, kelompok bhikkhu yang datang berkumpul; maka ia dapat berkata: “Demikian itulah kelahiran dari para Bhagava, nama mereka, keturunan mereka, keluarga mereka, sila (moral) mereka, Dhamma mereka, kebijaksanaan mereka, bagaimana mereka hidup dan bagaimana mereka mencapai kesucian.”

    (Mahapadana Sutta, Digha Nikaya)

    Kenapa Buddha Maitreya menceritakan secara detil tentang Buddha Gautama? Karena mereka pernah bertemu secara langsung dalam beberapa kehidupan. Salah satu pertemuan tersebut diceritakan dalam Vyaghri Jataka, dimana Buddha Maitreya waktu itu adalah siswa senior pertapa yang merupakan kelahiran terdahulu Buddha Gautama. (At different stages of perfection two Bodhisattas may happen to be reborn at the same vicinity at some very rare moments in their life’s journey).

    Nah, Muhammad tidak pernah menceritakan Buddha Gautama dan Buddha-Buddha sebelumnya yang telah diceritakan oleh Buddha Gautama. Maka, sangatlah diragukan apakah Muhammad adalah penerus Buddha Gautama. Padahal Buddha Maitreya dengan sangat jelas diramalkan sebagai penerus garis sislsilah Buddha.

    3. Ahimsa dan cinta terhadap semua makhluk

    Nama Maitreya (sansekerta, bahasa pali: Metteya) berasal dari kata Maitri (pali: Metta) yang artinya cinta kasih. Maitreya berarti `Ia yang memiliki cinta kasih’. Seorang yang diklaim sebagai Maitreya seharusnya mempunyai cinta kasih yang sangat istimewa.

    Dikatakan bahwa ajaran Buddha Gautama menekankan pada pengembangan kebijaksanaan dan ajaran Buddha Maitreya akan menekankan pada cinta kasih. Bukan berarti Maitreya memiliki cinta kasih yang lebih daripada Buddha Gautama dan Buddha Gautama lebih bijaksana. Cinta kasih dan kebijaksanaan semua Buddha adalah sama, yang berbeda hanyalah pada penekanan ajaran.

    Tidaklah cukup mengatakan bahwa Muhammad dan ajarannya, Islam, memiliki cinta kasih, atau Tuhan agama mereka adalah Maha-Pengasih, dll, untuk menyamakan Muhammad dan Maitreya. Masalahnya cinta kasih yang dimengerti dalam ajaran Buddha tidaklah sama dengan cinta kasih yang dimengerti pada umumnya.

    Cinta kasih dalam ajaran Buddha berarti cinta kasih pada semua makhluk di dunia, bahkan terhadap serangga terkecil sekalipun.

    “Tak berbuat kesalahan walaupun kecil

    Yang dapat dicela oleh para bijaksana

    Hendaklah ia berpikir

    Semoga semua makhluk berbahagia dan tentram

    Semoga semua makhluk berbahagia

    Makhluk hidup apa pun juga,

    Yang lemah dan kuat tanpa kecuali

    Yang panjang atau besar,

    Yang sedang, pendek, kecil, atau gemuk

    Yang tampak atau tak tampak,

    Yang jauh atau pun dekat

    Yang telah lahir atau akan lahir

    Semoga semua makhluk berbahagia

    ….

    Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan jiwanya

    Melindungi anaknya yang tunggal

    Demikianlah terhadap semua makhluk

    Dipancarkankannya pikiran kasih sayangnya tanpa batas

    (Karaniya Metta Sutta – Khotbah tentang pengembangan cinta kasih)

    Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Muhammad bukanlah Maitreya penerus Buddha Gautama. Kenapa? Karena Buddha Maitreya seharusnya mengajarkan praktek pengembangan cinta kasih yang minimal sama dengan Buddha Gautama. Sehingga Maitreya juga akan mengajarkan cinta pada semua makhluk dan mengajarkan ahimsa (tanpa kekerasan). Pembunuhan makhluk lain akan dicela sebagai perbuatan buruk dan mengakibatkan karma negatif.

    Sementara Muhammad tidak mengajarkan hal tersebut. Bahkan membunuh manusia dan perang dalam kondisi tertentu diperbolehkan, apalagi membunuh binatang. Muhammad dikatakan menyukai beberapa binatang (contohnya Unta) dan melarang mereka dibunuh. Tetapi beberapa binatang dibunuh dengan sengaja. Contohnya, dalam Islam, ada upacara kurban yang membunuh banyak ternak yang merupakan upacara religius wajib.

    Upacara kurban sangat bertentangan dengan konsep cinta kasih kepada semua makhluk. Upacara kurban juga secara spesifik ditentang/dikritik oleh Buddha Gautama. Buddha berkata bahwa upacara kurban yang benar dan mulia adalah:

    “Brahmana, dalam pelaksanaan upacara tidak ada sapi, kambing, unggas, babi yang dibunuh atau tidak ada makhluk hidup mana pun yang dibunuh. Tidak ada pohon yang ditebang untuk dijadikan tiang, tidak ada rumput ‘Dabba’ yang disabit dan diletakkan di sekeliling tiang. Para pekerja dan pembantu atau pekerja yang bekerja, tidak ada yang diancam dengan cambuk atau tongkat, sehingga tidak ada tangisan maupun air mata bercucuran di wajah mereka. Siapa yang ingin membantu, ia bekerja; ia yang tidak mau membantu, tidak bekerja. Setiap orang melakukan sesuai apa yang ia inginkan; melakukan atau tidak melakukan. Upacara dilaksanakan dengan hanya menggunakan ghee, minyak, mentega, susu, madu dan gula.

    (Kutadanta Sutta –Sutta Pitaka Digha Nikaya)

    Dalam salah satu kisah jataka juga disinggung tentang upacara kurban dimana upacara pengorbanan hewan dikatakan sebagai hal yang sia-sia.

    4. Tentang Tuhan

    Buddhisme jelas-jelas menolak ide tentang Tuhan Pencipta. Hal ini telah berkali-kali ditegaskan oleh Buddha Gautama dalam banyak khotbah. Buddha dengan sendirinya juga menolak metode-metode agama lain yang menawarkan penyatuan dengan Tuhan. Tuhan di India waktu itu dipanggil dengan nama Brahma. Contoh hal ini ada di Tevijja Sutta (khotbah tentang tiga pengetahuan) dimana Buddha mengkritik metode-metode Hindu yang dikatakan dapat membawa penyatuan dengan Brahma. Definisi Buddhism tentang Tuhan sama sekali berbeda dengan definisi agama lain

Posted in buddha, diskusi bebas, islam | 118 Comments »

Setelah Dibunuh, Tubuh Mereka Dimakan Anjing

Posted by kosongan pada | 17 |Januari| 2009 |

sumber : http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/3061/setelah-dibunuh-tubuh-mereka-dimakan-anjing

Sungguh biadab yang dilakukan tentara zionis Israel, laknatullah, setelah mereka membunuh orang-orang yang tidak berdosa, mereka melemparkan tubuh-tubuh tersebut ke arah anjing-anjing yang tengah kelaparan.

“Ya Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan yang mengerikan seperti ini,” jerit Kayed Abu Aukal. Dokter tersebut tak percaya dan tak tahu lagi kata-kata apa yang bisa diungkapkan untuk menggambarkan kekejian Israel. Dia tak percaya, dirinya sendiri telah melihat sisa Jenazah balita Shahd. Tubuh anak kecil perempuan yang berumur 4 tahun itu terkoyak-koyak dimakan anjing-anjing Israel.

Shahd tewas dan telah menjadi syuhada cilik ketika peluru kendali Israel ditembakkan ke belakang rumahnya di Kamp Pengungsian Jabaliya sebelah Utara Jalur Gaza. Saat itu, gadis cilik yang lucu tersebut tengah bermain.

Orangtua Shahd mencoba menyelamatkan putri kesayangannya yang telah bersimbah darah itu. Ketika ia mencoba mengambil jasad Shahd, pasukan teroris Israel menghujaninya dengan tembakan dari kejauhan.

Selama lima hari berkutnya jasad gadis balita itu telah terkoyak-koyak dirobek anjing yang dilepaskan oleh tentara Israel. “Anjing-anjing itu tidak menyisakan satu bagian pun dari tubuh anak kecil itu,” kata Abu Aukal.

“Kami telah melihat pemandangan yang menyayat hati selama 18 hari ini. Kami telah mengambil jasad anak-anak yang tubuhnya robek atau terbakar, tetapi belum pernah kami melihat hal seperti ini,” katanya lagi.

Melihat jenazah adik perempuannya yang masih balita menjadi santapan anjing-anjing tentara Israel, saudara laki-laki Shahd bernama Matar dan sepupunya bernama Muhammad, nekad mendekati jenazah Shahd. Keduanya pun dihujani peluru Israel sebelum keduanya dapat mencapai tubuh Shahd. Matar dan Muhammad pun menjadi syuhada, menambah daftar warga palestina yang syahid yang hingga hari ini telah mencapai 1.001 orang syahid sejak pembantaian 27 Desember lalu.

Sengaja

Omran Zayda, seorang tetangga Shahd, mengatakan, orang Israel mengetahui apa yang mereka lakukan itu. “Mereka memburu keluarga Shahd dan mencegahnya untuk sampai ke tubuh Shahd, dan mereka tahu bahwa anjing-anjing itu akan memakannya,” kata Zayda.

“Mereka tidak hanya membunuh anak-anak kami, mereka sengaja melakukannya dengan cara yang paling kejam dan biadab,” Zayda mengungkapkan perasaannya, bahkan kamera, tidak dapat menggambarkan pemandangan yang mengerikan itu.

“Kalian tidak akan pernah membayangkan apa yang telah dilakukan oleh anjing-anjing itu terhadap tubuh Shahd yang tak berdosa itu,” katanya sambil terisak dan mencucurkan air matanya.

Sejumlah warga palestina mengungkapkan, apa yang menimpa Shahd bukanlah yang pertama. Banyak warga mereka mengalami hal yang sama dengan Shahd. Di Jabaliya, saat keluarga Abd Rabbu sedang memakamkan tiga anggota keluarganya yang telah syahid, pasukan biadab Israel menembaki mereka, kata saksi mata.

Orang-orang pun berlarian mencari perlindungan dari tembakan brutal itu. Tentara-tentara Israel kemudian melepaskan anjing-anjingnya ke arah jenazah anggota keluarga Abdu Rabbu yang belum sempat dimakamkan itu. “Apa yang terjadi kemudian sangat mengerikan dan tidak bisa dibayangkan,” kata Saad Abd Rabu, pamanya.

“Anak-anak kami tewas di depan mata kami dan kami dicegah untuk memakamkannya. Orang-orang Israel hanya melepaskan anjing-anjing mereka ke arah jenazah itu, bahkan seakan-akan mereka tidak cukup dengan kekejaman yang telah mereka lakukan itu,” jeritnya.

Biadab

Benar-benar biadab apa yang telah dilakukan oleh teroris Israel itu. Bahkan kekejian di atas benar-benar biadab. Hingga hari ini para penguasa negeri-negeri Muslim masih diam bahkan bersekongkol dengan membiarkan pembantaan terus terjadi.

Media dunia yang dikuasai Israel, menggiring opini seolah-olah tindakan Israel itu wajar. Padahal, lihatlah betap kekejaman mereka lebih dari serangan teroris yang tak beradab. Bohong, jika teroris Israel itu hanya memburu Hamas. Yang terjadi adalah tindakan brutal dan biadab terhadap warga sipil yang kebanyakan mereka anak-anak kecil dan perempuan. Tak puas hanya membunuh warga Gaza, teroris Israel itu juga melepaskan anjing-anjingnya untuk memakan jenazah syuhada Gaza. Biadab!

Sampai kapan kebiadaban Israel ini terhenti? Lalu di manakah para pelindung anak-anak Palestina? Dimanakah tentara-tentara Muslim yang akan menyelamatkan anak-anak Gaza itu? Di manakah tentara-tetara negeri Islam yang akan menyelamatkan ayah dan ibu mereka? Di manakah Amir umat ini?

Sungguh hanya orang yang biadab saja, yang membiarkan Israel membantai Gaza. Lalu mereka menyibukkan diri dengan perundingan sementara mereka memiliki pasukan dan perlengkapan perang. Mereka enggan untuk menyelamatkan Gaza dengan mengerahkan pasukan yang akan menghancurkan penjajah Israel itu! Nasionalisme dan cengkraman PBB telah membuat mereka diam. (Hanin Mazaya/syabab/arrahmah.com)

komentar saya

1. berhati2lah dengan headlinenya … coba lihat kronologinya ….. pertama anak itu bermain … lalu ada serangan kapal di kamp pengungsian … lalu anak shahd kena efek dari serangan itu dan mati … lalu anjing2 penjaga memakannya …. coba lihat kronologi diatas …. tidak di katakan disana kalau orang israel memberikan anak si shahd seperti kata2 tertulis di headline yang jelas2 memfitnah “mereka melemparkan tubuh-tubuh tersebut ke arah anjing-anjing yang tengah kelaparan.” mengapa anda membela orang yang suka membesar2kan dan membuat anda sakit hati ???? nih jeritan disana “Orang-orang Israel hanya melepaskan anjing-anjing mereka ke arah jenazah itu,” sebagai bukti kalau orang israel tidak melemparkan jenasah….
2. coba lihat yang diserang … bagaimana letak geografisnya ??? mungkinkah kam pengungsian berada di daerah perbatasan ??? hingga dekat dengan jarak tembak ??? dan mengapa membiarkan anaknya bermain di jarak tembak orang israel ???
3. dalam keadaan normal saja kalau anda mau melintasi perbatasan tanpa izin sudah jelas akan di tembak … apalagi itu dalam keadaan perang ….
4. pernyataan orang2 disana cenderung suka memprofokasi …. coba lihat kata2 omran zayda … “mereka memburu keluarga shahd” disitu keanehannya adalah di jelaskan dalam kata2 sebelumnya bahwa .. “ketika orang tua shadh mencoba menyelamatkan putrinya , israel menghujai peluru “…… dari situ kita tahu kalau israel diam di tempat dan mempertahankan tempatnya dengan tidak memperbolehkan orangtua shadh untuk mendekat…. bukan memburu
5. “Sampai kapan kebiadaban Israel ini terhenti? Lalu di manakah para pelindung anak-anak Palestina? Dimanakah tentara-tentara Muslim yang akan menyelamatkan anak-anak Gaza itu? Di manakah tentara-tetara negeri Islam yang akan menyelamatkan ayah dan ibu mereka? Di manakah Amir umat ini?” inikah bukti kesatrianya hammas ???

Posted in diskusi bebas, interntional | 8 Comments »

zionisme

Posted by kosongan pada | 15 |Januari| 2009 |

secara umum :  http://id.wikipedia.org/wiki/Zionisme

Zionisme adalah sebuah gerakan kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion, bukit di mana kota Yerusalem berdiri. Gerakan yang muncul di abad ke-19 ini ingin mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah yang kala itu dikuasai Kekaisaran Ottoman (Khalifah Ustmaniah) Turki.

Zionisme merupakan gerakan Yahudi Internasional. Istilah zionis pertama kali dipakai oleh perintis kebudayaan Yahudi, Mathias Acher (1864-1937), dan gerakan ini diorganisasi oleh beberapa tokoh Yahudi antara lain Dr. Theodor Herzl dan Dr. Chaim Weizmann. Dr. Theodor Herzl menyusun doktrin Zionisme sejak 1882 yang kemudian disistematisasikan dalam bukunya “Der Judenstaat” (Negara Yahudi) (1896). Doktrin ini dikonkritkan melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, tahun 1897. Setelah berdirinya negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, maka tujuan kaum zionis berubah menjadi pembela negara baru ini.

Rapat Dewan Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379 tanggal 10 Desember 1975, yang menyamakan Zionisme dengan diskriminasi rasial. Akan tetapi pada 16 Desember 1991, resolusi tersebut dicabut kembali.

sumber :

ZIONISME: SEBUAH NASIONALISME SEKULER YANG MENGKHIANATI YUDAISME

Zionisme dibawa ke dalam agenda dunia di akhir-akhir abad ke sembilan belas oleh Theodor Herzl (1860-1904), seorang wartawan Yahudi asal Austria. Baik Herzl maupun rekan-rekannya adalah orang-orang yang memiliki keyakinan agama yang sangat lemah, jika tidak ada sama sekali. Mereka melihat “Keyahudian” sebagai sebuah nama ras, bukan sebuah masyarakat beriman. Mereka mengusulkan agar orang-orang Yahudi menjadi sebuah ras terpisah dari bangsa Eropa, yang mustahil bagi mereka untuk hidup bersama, dan bahwa penting artinya bagi mereka untuk membangun tanah air mereka sendiri. Mereka tidak mengandalkan pemikiran keagamaan ketika memutuskan tanah air manakah itu seharusnya. Theodor Herzl, sang pendiri Zionisme, suatu kali memikirkan Uganda, dan ini lalu dikenal sebagai “Uganda Plan.” Sang Zionis kemudian memutuskan Palestina. Alasannya adalah Palestina dianggap sebagai “tanah air bersejarah bagi orang-orang Yahudi”, dibandingkan segala kepentingan keagamaan apa pun yang dimilikinya untuk mereka.


Petani dan Tembok Ratapan di depannya, yang menggambarkan pemimpin Zionis Max Nordau, Theodor Herzl, dan Prof. Mandelstamm, melukiskan “Impian Zionis.”

Sang Zionis melakukan upaya-upaya besar untuk mengajak orang-orang Yahudi lainnya menerima gagasan yang tak sesuai agama ini. Organisasi Zionis Dunia yang baru melakukan upaya propaganda besar di hampir semua negara yang berpenduduk Yahudi, dan mulai berpendapat bahwa Yahudi tidak dapat hidup dengan damai dengan bangsa-bangsa lainnya dan bahwa mereka adalah “ras” yang terpisah. Oleh karena itu, mereka harus bergerak dan menduduki Palestina. Sebagian besar orang Yahudi mengabaikan himbauan ini.

Menurut negarawan Israel Amnon Rubinstein: “Zionisme (dulu) adalah sebuah pengkhianatan atas tanah air mereka (Yahudi) dan sinagog para Rabbi”.15 Oleh karena itu banyak orang-orang Yahudi yang mengkritik ideologi Zionisme. Rabbi Hirsch, salah satu pemimpin keagamaan terkemuka saat itu berkata, “Zionisme ingin menamai orang-orang Yahudi sebagai sebuah lembaga nasional…. yang merupakan sebuah penyimpangan.”16

Pemikir Islam Prancis yang terkenal Roger Garaudy melukiskan hal ini dalam sebuah pembahasan:

Musuh terburuk keyakinan Yahudi yang jauh ke depan adalah logika para nasionalis, rasis, dan kolonialis dari Zionisme kebangsaan, yang dilahirkan dari nasionalisme, rasisme, dan kolonialisme abad ke-19 di Eropa. Logika ini, yang menginspirasi semua penjajahan Barat dan semua perang antara satu nasionalisme dengan nasionalisme lainnya, adalah sebuah logika yang membunuh diri sendiri. Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada keamanan di Timur Tengah kecuali jika Israel meninggalkan paham Zionismenya dan kembali ke agama Ibrahim, yang adalah warisan bersama, bersifat keagamaan, dan persaudaraan dari tiga agama wahyu: Yudaisme, Nasrani, dan Islam.17

Dengan cara ini, Zionisme memasuki politik dunia sebagai sebuah ideologi rasis yang menganut paham bahwa Yahudi seharusnya tidak hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain. Pertama-tama, ini adalah gagasan yang keliru yang menciptakan masalah parah bagi dan tekanan atas orang-orang Yahudi yang hidup dalam belenggu ini. Kemudian, bagi orang-orang Islam di Timur Tengah, paham ini membawa kebijakan Israel tentang pendudukan dan perebutan wilayah bersama-sama dengan kemiskinan, teror, pertumpahan darah, dan kematian.

Pendeknya, Zionisme sebenarnya adalah sebuah bentuk nasionalisme sekuler yang berasal dari filsafat sekuler, bukan dari agama. Akan tetapi, seperti dalam bentuk nasionalisme lainnya, Zionisme juga berusaha menggunakan agama untuk tujuannya sendiri.

Kesalahan Penafsiran Taurat oleh Para Zionis

Taurat adalah sebuah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Musa. Allah berkata dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)…” (Al-Qur’an, 5:44). Al-Qur’an juga berkata bahwa Taurat kemudian akan dikotori oleh perkataan manusia di dalamnya. Inilah kenapa apa yang kita miliki saat ini adalah “Taurat yang menyimpang.”

Akan tetapi, sebuah penelitian lebih dekat mengungkap adanya kebanyakan kebenaran agama yang terkandung dalam Kitab yang pernah diwahyukan ini, seperti keimanan kepada Allah, penghambaan diri kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, takut kepada Allah, cinta kepada Allah, keadilan, kasih sayang, cinta kasih, melawan kekejaman dan ketidakadilan, yang semuanya ditemukan di seluruh Taurat dan kitab lainnya dari Perjanjian Lama.

Terlepas dari ini, perang yang terjadi dalam sejarah dan pembunuhan yang terjadi karenanya juga disebutkan di dalam Taurat. Jika manusia ingin menemukan sebuah dasar, meskipun dengan memutarbalikkan kenyataan, untuk kekejaman, pembantaian, dan pembunuhan, mereka bisa menjadikan bab-bab dalam Taurat tersebut sebagai acuan. Zionisme memilih cara mutlak yang mengesahkan terorismenya, yang sebenarnya adalah sebuah terorisme fasis. Dan, ini sangat berhasil. Misalnya, Zionisme menggunakan bab-bab (dari Taurat) yang terkait dengan perang dan pembantaian untuk mengesahkan pembantaian orang-orang Palestina yang tak berdosa. Padahal, ini adalah sebuah penafsiran menyimpang yang disengaja. Zionisme menggunakan agama untuk mengesahkan fasismenya dan ideologi rasisnya.

Para Zionis juga mendasarkan pernyataan mereka pada penafsiran mereka tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan “orang pilihan” yang pernah dikaruniakan Allah kepada orang Yahudi suatu kali. Beberapa ayat Al-Qur’an berhubungan dengan persoalan ini:

Hai Bani Israil, ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat45. (Qur’an, 2:47)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Qur’an, 45:16)

Al-Qur’an menerangkan bagaimana pada suatu kali Allah memberkati orang-orang Yahudi, dan bagaimana pada kali lainnya Dia menjadikan mereka berkuasa atas bangsa-bangsa lain. Namun ayat-ayat ini tidaklah menyiratkan “orang pilihan” seperti apa yang dipahami orang-orang Yahudi radikal. Ayat-ayat tersebut menunjukkan kenyataan bahwa banyak nabi-nabi yang datang dari keturunan ini, dan bahwa orang-orang Yahudi memerintah di daerah yang luas pada saat itu. Ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa dengan berkat kedudukan kekuasaan mereka, mereka “lebih diutamakan di atas semua manusia lain.” Ketika mereka menolak Isa, ciri ini pun berakhir.

Al-Qur’an menyatakan bahwa orang yang terpilih tersebut adalah para nabi dan orang-orang beriman yang Allah tunjuki kepada kebenaran. Ayat-ayat ini menyebutkan bahwa para nabi itu telah dipilih, ditunjuki jalan yang benar, dan diberkati. Berikut ini adalah beberapa ayat yang terkait dengan persoalan ini:

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya90 di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Qur’an, 2: 130)

Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. (Qur’an, 6:87-89)

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Qur’an, 19:58)

Namun orang-orang Yahudi radikal, yang mempercayai keterangan menyimpang, melihat “orang yang terpilih” sebagai ciri kebangsaan sehingga mereka menganggap setiap orang Yahudi terlahir unggul dan bahwa Bani Israil selamanya dianggap unggul dari semua manusia lainnya.

Penyimpangan kedua yang terbesar dari sudut pandang ini menampilkan anggapan keunggulan ini sebagai “suatu perintah untuk melakukan kekejaman atas bangsa lain.” Untuk tujuan ini, para Zionis membenarkan perilaku mereka melalui kebencian-kebencian turun-temurun yang bisa ditemukan dalam beberapa hal pada Yudaisme Talmud. Menurut pandangan ini, hal yang lumrah bagi orang-orang Yahudi untuk menipu orang-orang non-Yahudi, untuk merampas hak milik dan bangunan mereka, dan, ketika diperlukan bahkan membunuh mereka, termasuk wanita dan anak-anak.18 Kenyataan menunjukkan, semua ini adalah kejahatan yang melecehkan agama sejati, karena Allah memerintahkan kita untuk melestarikan keadilan, kejujuran, dan hak orang-orang tertindas, dan hidup dalam kedamaian dan cinta.

Lebih jauh lagi, pernyataan anti-non-Yahudi ini bertentangan dengan Taurat itu sendiri, seperti ayat-ayat yang mengutuk penindasan dan kekejaman. Akan tetapi, ideologi rasis Zionisme mengabaikan ayat-ayat seperti itu untuk menciptakan sistem kepercayaan berdasarkan amarah dan kebencian. Tanpa mempedulikan pengaruh ideologi Zionis, beberapa orang Yahudi yang benar-benar percaya pada Allah akan mengetahui bahwa agama mereka mengajarkan mereka untuk tunduk pada ayat-ayat lainnya ini yang memuji perdamaian, cinta, kasih, dan perilaku etis, seperti:

Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah Tuhan. Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. (Perjanjian Lama, Imamat, 19:15-17)

Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Perjanjian Lama, Mikha, 6:8)

Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamamu … (Perjanjian Lama, Keluaran, 20:13-17)

Menurut Al-Qur’an pun, perang hanyalah khusus sebagai sarana mempertahankan diri. Bahkan jika perang akan diumumkan dalam suatu masyarakat, kehidupan orang-orang tak berdosa dan aturan hukum harus dilindungi. Suatu perintah untuk membunuh wanita, anak-anak, dan orang-orang tua tidak dapat disampaikan oleh agama manapun, kecuali hanya oleh tipu-daya yang berkedok agama. Dalam Al-Qur’an, Allah tidak hanya mengutuk jenis kebencian seperti ini namun juga menyatakan bahwa semua manusia sama dalam pandangan-Nya dan bahwa kelebihan seseorang itu tidaklah didasarkan pada ras, keturunan, atau segala kelebihan keduniaan lainnya, melainkan pada ketakwaan – cinta bagi dan kedekatan kepada Allah.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qur’an, 49:13)

Terlepas dari kedok agamanya yang palsu, alasan sesungguhnya dari ketidakmanusiawian dan kekejaman Zionisme adalah hubungannya dengan mentalitas penjajahan Eropa di abad kesembilan belas. Penjajahan bukan semata sebuah sistem politik atau ekonomi; penjajahan juga sekaligus sebuah ideologi. Zionisme, yang percaya bahwa negara-negara industri Barat mempunyai hak untuk menjajah dan menduduki bangsa-bangsa terkebelakang di wilayah ini, melihat ini sebagai akibat alami dari sebuah proses “seleksi alam” internasional. Dengan kata lain, Zionisme adalah sebuah produk Darwinisme Sosial. Dalam kerangka ideologi ini, Inggris menjajah India, Afrika Selatan, dan Mesir. Prancis menjajah Indocina, Afrika Utara, dan Guyana. Karena terinspirasi oleh contoh-contoh ini, para Zionis memutuskan untuk menjajah Palestina bagi orang-orang Yahudi.

Kolonialisme Zionis menjadi jauh lebih buruk dibanding “rekan-rekannya” Inggris dan Prancis, karena paling tidak mereka (Inggris dan Prancis) mengizinkan daerah pendudukan mereka untuk hidup (setelah menyerah) dan bahkan memberi sumbangan kepada negara pendudukan dengan pendidikan, pemerintahan yang adil, dan prasarana. Namun, seperti yang akan kita lihat nanti, para Zionis tidak mengakui hak-hak orang Palestina untuk hidup; mereka melakukan pembersihan etnis, dan tidak memberi apa pun kepada orang-orang yang mereka jajah. Anda mungkin bahkan berkata mereka tidak memberi satu batu bata pun bagi orang-orang Palestina.

Pertentangan Zionisme dengan Yahudi

Sifat lainnya dari Zionisme adalah kepercayaannya kepada tema-tema propaganda palsu, mungkin yang paling penting adalah semboyan “sebuah tanah tanpa manusia untuk seorang manusia tanpa tanah.” Dengan kata lain, Palestina, “tanah tanpa manusia” harus diberikan kepada orang-orang Yahudi, “manusia tanpa tanah.” Dalam 20 tahun pertama abad kedua puluh, Organisasi Zionis Dunia menggunakan semboyan ini dengan sepenuh hati untuk meyakinkan pemerintahan Eropa, khususnya Inggris dan rakyatnya bahwa Palestina harus diserahkan kepada orang-orang Yahudi. Pada tahun 1917, akibat kampanye persuasifnya, Inggris mengumumkan Deklarasi Balfour bahwa “Pemerintahan Yang Mulia memandang pentingnya pendirian di Palestina sebuah tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi… di Palestina.”

Kenyataan menunjukkan, semboyan “tanah tanpa manusia untuk manusia tanpa tanah” ini tidaklah benar. Ketika gerakan Zionis dimulai, orang-orang Yahudi tidaklah “tanpa tanah” dan Palestina pun bukannya tanpa manusia…

Orang-orang Yahudi tidaklah tanpa tanah karena sebagian besar mereka hidup di berbagai negara dengan damai dan aman. Khususnya di negara-negara industri Barat, persekutuan ibadat Yahudi tidak punya keluhan apa pun tentang kehidupan mereka. Bagi sebagian besar mereka, gagasan meninggalkan negara mereka untuk pindah ke Palestina tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Kenyataan ini akan muncul belakangan ketika ajakan Zionis untuk “Pindah ke Palestina” secara luas diabaikan. Dalam tahun-tahun berikutnya, orang-orang Yahudi anti-Zionis yang kita bicarakan ini secara aktif menolak gerakan Zionis melalui ikatan-ikatan yang mereka dirikan sendiri.

Menerima dukungan resmi dengan Deklarasi Balfour, para Zionis merasakan dirinya berada dalam keadaan yang sulit ketika banyak saudara-saudara Yahudinya menolak pindah. Dalam hal ini, pernyataan Chaim Weizman sangat menohok:

Deklarasi Balfour pada 1917 diputuskan di awang-awang… setiap hari dan setiap jam dalam 10 tahun terakhir ini, ketika membuka surat kabar, saya berpikir: kapan hembusan angin surga lainnya datang? Saya terguncang karena takut Pemerintah Inggris akan memanggil saya dan bertanya: “Beritahu kami, apakah Organisasi Zionis ini? Di manakah mereka, para Zionismu?”… Orang-orang Yahudi, mereka tahu, menentang kami; kami berdiri sendiri di sebuah pulau kecil, sebuah kelompok Yahudi yang amat kecil dengan masa lalu yang asing.19


Surat yang dikirim oleh Menteri Luar Negeri Inggris Sir Arthur Balfour pada Lord Rothschild yang dikenal sebagai “Deklarasi Balfour.” Kanan: gambar surat aslinya; Atas: Sir Balfour.

Oleh karena itu para Zionis mulai terlibat dalam “kegiatan-kegiatan khusus” untuk “mendorong” pindahnya orang Yahudi ke Palestina, bahkan memaksa jika diperlukan, seperti mengganggu orang-orang Yahudi di negara-negara asalnya dan bekerja sama dengan para anti-Semit untuk meyakinkan bahwa pemerintah akan mengusir orang-orang Yahudi. (Lihat Harun Yahya, Soykirim Vahseti (The Holocaust Violence,), Vural Yayincilik, Istambul, 2002). Dengan demikian, Zionisme mengembangkannya sebagai gerakan yang mengganggu dan menteror rakyatnya sendiri.

Sekitar 100.000 orang Yahudi pindah ke Palestina antara tahun 1920-1929.20 Jika kita merenungkan bahwa ada 750.000 orang Palestina pada saat itu, maka 100.000 pasti bukanlah jumlah yang kecil. Organisasi Zionis memegang kendali penuh atas perpindahan ini. Orang-orang Yahudi yang menginjakkan kaki di Palestina ditemui oleh kelompok Zionis, yang menentukan di mana mereka akan tinggal dan pekerjaan apa yang akan mereka lakukan. Perpindahan ini didorong oleh pemimpin-pemimpin Zionis dengan berbagai imbalan. Akibat upaya yang giat di seluruh Palestina, Eropa, dan Rusia, penduduk Yahudi di Palestina mencatat pertumbuhan yang pesat dalam hal jumlah dan tempat tinggalnya. Bersamaan dengan adanya peningkatan kekuasaan Partai Nazi, orang-orang Yahudi di Jerman menghadapi tekanan yang semakin meningkat, suatu perkembangan yang semakin mendorong perpindahan mereka ke Palestina. Kenyataan Zionis mendukung penindasan Yahudi ini adalah sebuah fakta, dan masih menjadi salah satu rahasia sejarah yang paling terpendam. (Lihat Harun Yahya, Soykirim Vahseti (The Holocaust Violence), Vural Yayincilik, Istanbul, 2002)

Pertentangan Zionisme dengan Masyarakat Arab

Para Zionis tidak diragukan lagi telah melakukan kekejaman terburuk kepada orang-orang yang memiliki “sebuah tanah tanpa manusia”: orang-orang Palestina. Semenjak hari ketika Zionisme memasuki Palestina, para pengikutnya telah berusaha untuk menghancurkan orang-orang Palestina. Untuk memberi ruang bagi para imigran Yahudi, baik dipengaruhi oleh gagasan Zionis maupun takut pada anti-Semitisme, orang-orang Palestina terus ditekan, diasingkan, dan diusir dari rumah-rumah dan tanah mereka. Gerakan untuk menduduki dan mengasingkan ini, yang didorong oleh didirikannya Israel pada tahun 1948, menghancurkan kehidupan ratusan ribu orang-orang Palestina. Hingga hari ini, sekitar 3,5 juta orang Palestina masih berjuang untuk kehidupannya sebagai pengungsi dalam keadaan yang paling sulit.

Semenjak 1920an, perpindahan orang Yahudi yang diorganisir oleh Zionis telah dengan mantap mengubah keadaan demografi Palestina dan telah menjadi sebab terpenting berkepanjangannya pertentangan. Statistik yang terkait dengan peningkatan penduduk Yahudi ini secara langsung membuktikan kenyataan ini. Angka-angka ini adalah petunjuk penting tentang bagaimana sebuah kekuatan penjajahan dari luar negeri, kekuatan tanpa hak hukum atas tanah tersebut datang untuk merampok hak-hak penduduk asli.

Menurut catatan-catatan resmi, jumlah imigran Yahudi ke Palestina meningkat dari 100.000 pada tahun 1920an menjadi 232.000 pada tahun 1930an.21 Hingga 1939, penduduk Palestina yang jumlahnya 1,5 juta jiwa telah termasuk 445.000 orang Yahudi. Jumlah mereka, yang hanya 10% saja dari jumlah penduduk 20 tahun sebelumnya, sekarang menjadi 30% dari seluruh penduduk. Pemukiman Yahudi juga berkembang pesat, dan per 1939 orang-orang Yahudi memiliki dua kali dari jumlah tanah yang mereka miliki pada tahun 1920an.

TAHUN
JUMLAH ORANG YAHUDI YANG PINDAH
1920 (September-Oktober)
5.514
1921
9.149
1922
7.844
1923
7.421
1924
12.856
1925
33.801
1926
13.081
1927
2.713
1928
2.178
1929
5.249

Pengumuman resmi Deklarasi Balfour menandai awal perpindahan Yahudi besar-besaran dan cepat ke Palestina. Tabel di kiri memperlihatkan jumlah orang Yahudi yang pindah ke Palestina antara 1920 dan 1929. Selama masa ini, sekitar 100.000 orang Yahudi memasuki Palestina.

British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, Palestine Royal Commision Report, Cmd. 5479, 1937, hlm. 279

Per 1947, ada 630.000 orang Yahudi di Palestina dan 1,3 juta orang Palestina. Antara 29 November 1947, ketika Palestina diberi dinding pembatas oleh PBB, dengan 15 Mei 1948, organisasi teroris Zionis mencaplok tiga perempat Palestina. Selama masa itu, jumlah orang-orang Palestina yang tinggal di 500 kota besar, kota kecil, dan desa turun drastis dari 950.000 menjadi 138.000 akibat serangan dan pembantaian. Beberapa di antaranya terbunuh, beberapa terusir.22

Dalam menjelaskan kebijakan pendudukan yang diterapkan Isrel pada tahun 1948, revisionis Israel yang terkenal, Ilan Pappe membuka sebuah rahasia, rencana tak tertulis untuk mengusir orang-orang Arab dari Palestina. Menurut rencana ini, setiap desa atau pemukiman Arab yang tidak menyerah kepada kekuatan Yahudi, yang tidak akan mengibarkan bendera putih, akan dibumihanguskan, dihancurkan, dan orang-orangnya diusir. Setelah keputusan ini dilaksanakan, hanya empat desa yang mengibarkan bendera putih; kota-kota dan desa-desa lainnya pasti akan menjadi sasaran pengusiran.23

Dengan cara ini, 400 desa Palestina terhapus dari peta selama 1949-1949. Hak milik yang ditinggalkan orang-orang Palestina dikuasai oleh orang-orang Yahudi, atas dasar Hukum Hak Milik Tak Ditempati. Hingga tahun 1947, kepemilikan tanah orang-orang Yahudi di Palestina adalah sekitar 6%. Pada saat negara Israel resmi didirikan, kepemilikan itu telah mencapai 90% dari seluruh tanah.24


Kelompok imigran ilegal yang diorganisir oleh pemimpin Zionis berhasil mencapai Palestina meski
menghadapi hambatan serius.

Setiap kedatangan orang Yahudi yang baru berarti kekejaman, tekanan, dan kekerasan baru terhadap orang-orang Palestina. Untuk memberi tempat tinggal bagi pendatang baru, organisasi Zionis menggunakan tekanan dan kekuatan untuk mengusir orang-orang Palestina dari tanahnya, yang telah mereka tempati selama berabad-abad, dan pindah ke padang pasir. Joseph Weitz, kepala komite transfer pemerintah Israel pada tahun 1948 menuliskan dalam buku hariannya pada 20 Desember 1940:

Pasti telah jelas bahwa tidak ada ruang untuk dua rakyat dalam negara ini. Tidak ada perkembangan yang akan membawa kita semakin dekat dengan tujuan kita, untuk menjadi rakyat merdeka dalam negara kecil ini. Setelah orang-orang Arab dipindahkan, negara ini akan terbuka luas bagi kita; dengan masih adanya orang Arab yang tinggal, negara ini akan tetap sempit dan terbatas. Satu-satunya jalan adalah memindahkan orang-orang Arab dari sini ke negara-negara tetangga. Semua mereka. Tidak ada satu desa pun, atau satu suku pun yang harus tertinggal.25

TAHUN
JUMLAH ORANG YAHUDI YANG PINDAH
1930
4.944
1931
4.075
1932
9.553
1933
30.327
1934
42.359
1935
61.854
1936
29.727
1937
10.536
1938
12.868
1939
16.405

Gelombang perpindahan orang-orang Yahudi tetap tak surut selama Palestina ditangani Inggris. Akibat upaya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Zionis, sebanyak 232.000 orang Yahudi bermukim di Palestina antara 1930-1939.

British British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, Palestine Royal Commision Report, Cmd. 5479, 1937, hlm. 279

Heilburn, ketua komite pemilihan kembali Jenderal Shlomo Lahat, walikota Tel Aviv, menyatakan pandangan Zionis tentang orang-orang Palestina dalam kata-kata berikut: “Kita harus membunuh semua orang-orang Palestina kecuali mereka tunduk tinggal di sini sebagai budak.”26 Banjir kedatangan imigran yang disebabkan oleh pecahnya Perang Dunia II membuat orang-orang Palestina sadar akan apa yang terjadi, sehingga mulai menolak tindakan-tindakan yang tidak adil. Namun, setiap gerakan penolakan dihentikan dengan paksa oleh kekuatan Inggris. Orang-orang Palestina merasakan dirinya berada di bawah tekanan organisasi teroris Zionis di satu sisi, dan tentara-tentara Inggris di sisi lain. Dengan kata lain, mereka menjadi sasaran kepungan dua musuh.


Gambar di kiri menunjukkan orang-orang Yahudi yang pindah ke Palestina pada 1930. Gambar di atas memperlihatkan Yahudi yang tiba pada tahun 1947. Sebelum orang-orang Palestina mengerti apa arti perpindahan ini untuk masa depan mereka, perbandingan penduduk di daerah ini bergeser untuk keuntungan Yahudi.

1) Negara tempat perpindahan di mulai
2) Jumlah Imigran Yahudi
3) Akhir perpindahan
Program perpindahan yang diorganisir oleh para pemimpin Zionis diejawantahkan dengan kecepatan mengejutkan, dimulai pada awal 1900an. Orang-orang Yahudi yang pindah dari Afrika Utara, Uni Soviet, dan berbagai negara Timur Tengah menggeser perbandingan penduduk di Palestina untuk keuntungan orang-orang Yahudi.

Selama kekuasaan Inggris, lebih dari 1500 orang Palestina yang berjuang untuk kemerdekaannya terbunuh dalam pertempuran yang dilakukan oleh tentara-tentara Inggris. Di samping itu, ada pula beberapa orang Palestina yang ditahan oleh Inggris karena menentang pendudukan Yahudi. Tekanan pemerintah Inggris menyebabkan kekerasan serius terhadap mereka. Namun, terorisme Zionis tak terbandingkan kekejamannya. Kekejaman Zionis, yang pecah begitu berakhirnya Kekuasaan Inggris, meliputi pembakaran desa-desa, penembakan wanita, anak-anak, dan orang tua seolah sebuah hukuman mati; penyiksaan korban-korban tak berdosa,; dan pemerkosaan wanita-wanita dewasa dan remaja.

Sekitar 850.000 orang Palestina yang tidak tahan akan kekejaman dan penindasan ini meninggalkan tanah dan rumah mereka dan tinggal di Tepi Barat, Jalur Gaza, serta di sepanjang perbatasan Libanon dan Yordania. Sekitar satu juta orang Palestina masih tinggal di kamp-kamp pengungsian ini, sementara 3,5 juta lainnya tinggal sebagai pengungsi-pengungsi jauh dari tanah air mereka.

Tanah Palestina Dibagi


1) Wilayah Inggris
2) Wilayah Arab
3) Wilayah Yahudi
4) Wilayah Internasional
Ketika Palestina berada di bawah kendali Inggris setelah Perang Dunia I, gelombang besar perpindahan Yahudi ke daerah ini dimulai. Perpindahan ini lambat laun mulai meningkat pesat. Selama masa ini, beberapa badan didirikan untuk menentukan bagaimana orang Yahudi dan Palestina berbagi tanah. Badan yang terkenal adalah the Peel Commission, yang dikepalai oleh bekas Menteri Luar Negeri Inggris untuk India Lord Earl Peel, dan Komisi Morrison-Grady, yang dibentuk melalui kemitraan Amerika-Inggris. The Peel Commission mengusulkan agar pengawasan Inggris ditingkatkan dan daerah ini dibagi antar kedua kelompok, hanya Yerusalem dan Haifa yang tetap di bawah kendali Inggris dan akan terbuka untuk pengamat internasional. Morrison-Grady Plan mengusulkan agar Palestina dibagi atas empat daerah kantong terpisah. Namun, anggota badan ini tidak memperhitungkan bahwa tanah yang sedang mereka bagi ini dimiliki oleh orang-orang Palestina selama berabad-abad, dan tak seorang pun punya hak untuk memaksa mereka membaginya bertentangan dengan kehendak mereka.


Polisi Inggris ikut campur dengan paksa ketika orang-orang Palestina memprotes meningkat pesatnya perpindahan Yahudi. Akibat bentrokan di Jaffa pada 1933, sebanyak 30 orang Palestina tewas dan lebih dari 200 orang terluka.

Orang-orang Palestina yang hidup di kamp-kamp pengungsian hari ini menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar sekalipun. Mereka hanya bisa menggunakan air dan listrik jika orang Israel mengizinkannya, dan berjalan bermil-mil untuk bekerja demi upah yang amat rendah. Bagi mereka yang pergi bekerja atau mengunjungi kerabat yang tinggal di dekat kamp pengungsian, perjalanan itu seharusnya tidak lebih dari 15 menit saja. Akan tetapi, kejadiannya sering berubah menjadi mimpi buruk karena pemeriksaan identitas di tempat-tempat pemeriksaan yang sering dilakukan, di mana para tentara yang bertugas melakukan kepada mereka pelecehan, penghinaan, dan perendahan. Mereka tidak dapat berpindah dari tempat A ke tempat B tanpa passport. Dan karena tentara-tentara Israel sering menutup jalan untuk alasan “keamanan,” orang-orang Palestina sering tidak dapat pergi bekerja, pergi ke tempat yang ingin mereka tuju, atau bahkan untuk menuju rumah sakit ketika mereka jatuh sakit. Bahkan, orang-orang yang hidup di kamp-kamp pengungsian tiap hari hidup dalam rasa takut akan dibom, dibunuh, dilukai, dan ditahan, karena pemukiman orang-orang Yahudi fanatik di sekitar kamp menjadi ancaman sesungguhnya mengingat pelecehan dan serangan yang dilancarkan oleh penduduk Yahudi fanatiknya.

Tentu, diusir dari rumah dan dipaksa meninggalkan tanah asal seseorang mengakibatkan banyak kesulitan. Namun, inilah takdir Allah. Sepanjang sejarah, masyarakat Muslim telah terusir dari rumah mereka dan menghadapi berbagai jenis tekanan, penyiksaan, dan ancaman oleh orang-orang yang tak beriman. Para pemimpin yang kejam atau orang-orang yang menggunakan kekuasaan sering mengusir orang-orang yang tak berdosa dari tanah mereka hanya karena keturunan atau keyakinan mereka. Apa yang diderita oleh orang-orang Islam di banyak negara, juga orang-orang Palestina, telah diwahyukan di dalam Al-Qur’an. Namun Allah membantu semua orang yang tetap sabar, menunjukkan akhlak terpuji, dan menolak menakut-nakuti orang laii meskipun mengalami kekerasan. Seperti yang Allah nyatakan dalam Al-Qur’an:

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain259. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (Qur’an, 3:195)

Dengan demikian, akan datang suatu hari ketika semua orang-orang Palestina akan hidup dalam kedamaian, keamanan, dan persaudaraan. Tapi ini hanya dimungkinkan dengan menyebarluaskan akhlak Al-Qur’an antar manusia, karena akhlak seperti itu bersifat memaafkan dan toleran; mempertahankan kedamaian; menekankan pada cinta kasih; rasa hormat, dan kasih sayang; dan pengikutnya saling berlomba untuk beramal saleh. Ketika akhlak yang baik mengemuka, penindasan dan gangguan tidak dapat hidup. Dan lebih jauh lagi, ketika akhlak ini ditunjukkan dengan sepenuh hati, persaudaraan Muslim akan meningkat dan mereka akan mendapatkan kekuatan untuk melakukan sebuah perjuangan intelektual melawan kekejaman. Oleh karena itu, menerapkan sistem tata prilaku Qurani akan membawa kita menuju akhir dari kekejaman tidak hanya di Palestina, melainkan juga di seluruh dunia. Kewajiban umat Islam adalah menyebarluaskan tata prilaku tersebut.


Imigran Yahudi yang diajarkan dengan semboyan “Setiap orang harus bekerja dengan satu tangan, dan memegang senjata di tangan lainnya” segera mengambil bagian dalam gerakan Zionis. Sementara beberapa orang mengorganisir demonstrasi dengan spanduk bertuliskan “Yerusalem adalah Milik Kami,” lainnya mengebom desa-desa Palestina.

Dalam bab-bab berikut, kita akan membahas lebih dekat rasa sakit dan kesulitan yang dialami selama bertahun-tahun oleh para pengungsi Palestina. Namun sebelum kita ke sana, kita akan melihat teror Zionis dan teknik yang digunakannya untuk mengusir orang-orang Palestina dari rumah-rumah mereka.


Akibat kepungan selama 3 tahun oleh kekuatan Israel, kamp pengungsian Bourj al-Barajneh di dekat Beirut hancur total. Foto ini menggambarkan keadaan kamp pada tahun 1988.

Orang-orang Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsian di Libanon dan Yordania masih berjuang mengatasi kesulitan besar selama bertahun-tahun. Kelaparan, wabah penyakit, cuaca buruk, dan berlanjutnya rasa takut akan serangan baru Israel menjadi kenyataan hidup mereka. Pemandangan barak yang didirikan oleh PBB menunjukkan parahnya kemiskinan mereka.

15- Amnon Rubinstein, The Zionist Dream Revisited, hlm. 19
16- Washington Post, Oktober 3, 1978
17- Roger Garaudy, “Right to Reply: Reply to the Media Lynching of Abbe Pierre and Roger Garaudy”, Samizdat, Juni 1996
18- For Talmud’s anti-gentile remarks, see Israel Shahak, Jewish History, Jewish Religion:, The Weight of Three Thousand Years (AMEU: 1994)
19- United Nations Report, “The Origins and Evolution of the Palestine Problem 1917-1988,” New York, 1990, tanda penegasan ditambahkan.
20- British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, (Memorandum to the United Nations Special Committee on Palestine) Jerusalem, 1947, hlm. 279.
21- Royal Institute of International Affairs, Great Britain and Palestine, (London, Chatham House: 1946), hlm. 61.
22- Ralph Schoenman, The Hidden History of Zionism, (Veritass Press: 1988), tanda penegasan ditambahkan
23- Baudouin Loos, “An Interview of Ilan Pappe,” November 29 1999, http://msanews.mynet.net/Scholars/Loos/pappe.html.
24- Weite Diary, A 24617, entry dated 20 December 1940, Central Zionist Archives, Jerusalem, hlm. 1090-1091.

25. Uri Davis, Israel: An Apartheid State (London and New Jersey, Zed Books: 1987), Introduction, tanda penegasan ditambahkan.
26. Schoenman, The Hidden History of Zionism, tanda penegasan ditambahkan.

Posted in diskusi bebas, islam, kristen | 2 Comments »

3 ALASAN KENABIAN PINDAH DARI BANGSA ISRAEL KE ARAB

Posted by kosongan pada | 15 |Januari| 2009 |

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2007/11/29/3-alasan-kenabian-pindah-dari-bangsa-israel-ke-arab/

Bapak agama Tauhid adalah nabi Ibrahim. Dialah yang meletakkan dasar-dasar agama Monoteisme pertama kali. Nabi Ibrahim dipilih karena ketakwaannya yang tinggi.

QURAN SURAT 2 : 124 : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”.

Ibrahim berdoa agar seluruh keturunannya menjadi Imam dan pemimpin dalam mengajarkan agama Tauhid. Nabi Ibrahim memiliki 2 orang garis keturunan yaitu Ishak dan Ismail. Garis keturunan Ishak mengalir ke Bangsa Israel dan garis keturunan Ismail mengalir ke garis keturunan Arab. Memang saat itu, Allah memilih Bangsa Israel untuk menyebarkan Firman-friman-Nya. Untuk itulah Allah pernah melebihkan Bangsa Israel dari bangsa lain pada jaman yang lalu. Boleh dibilang kelebihan Israel masih kita jumpai saat ini. Yaitu bahwa mereka dapat menguasai Amerika melalui Ekonomi, Media dll.

QURAN SURAT 2 : 147 : ‘Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat”

QURAN SURAT 2 : 122 : ‘Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat”.

QURAN SURAT 2 : 40 : “Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)”.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa garis kenabian beralih dari garis keturunan Ishak ke garis keturunan Ismail. Ada beberapa sebab yang mendasarinya, diantaranya bahwa Bangsa Israel memiliki beberapa sifat yang kurang disenangi Allah, diantaranya yaitu :

SUKA MENGINGKARI DAN MEMBUNUH SEBAGIAN NABI

Tetapi ternyata bangsa Israel adalah bangsa yang paling keras kepala didunia. Berbagai Nabi diutus Allah kepada bangsa yang satu ini dengan harapan, jika Bangsa Israel yang dilebihkan ini semuanya bisa ber-tauhid kepada Allah, maka dari Bangsa Israel-lah Agama Allah akan menyebar ke seluruh dunia. Tetapi ternyata hal itu tidak menjadi seperti yang diharapkan Allah. Salah Satu keingkaran mereka yaitu sifat suka mencelakai bahkan membunuh sebagian nabi seperti “Yesus” yang dikabarkan telah mereka bunuh.

QURAN SURAT 5 : 70 : “Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh”.

QURAN SURAT 2 : 61 : “……….. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”.

QURAN SURAT 2 : 85 : “Kemudian kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”.

Para Nabi yang diutus oleh Allah pun bahkan melaknati sifat Bangsa Israel ini, Mereka (semua Nabi) merasa bahwa umat yang mereka pimpin adalah umat yang susah diatur.

QURAN SURAT 5 : 78 : “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam (Yesus). Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

QURAN SURAT 3 : 52 : “Maka tatkala Isa (Yesus) mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”.

SELALU INGKAR PADA ALLAH DAN BERPIKIRAN MATERIALISTIK

Bangsa Israel adalah bangsa yang cenderung berfikir secara materialistik daripada ruhiyah. Mereka selalu ingin bukti bahwa Tuhan itu ada, dan baru percaya jika Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka meyakini yang terlihat dan Tuhan bagi mereka harus dapat dilihat biar mereka yakin. Makanya mereka menjadi Musyrik dengan mengangkat anak lembu sebagai sembahan. Saat Yesus ada pun mereka meminta bukti dari Yesus, dalam Yohanes 10 : 24 “ Lalu orang-orang Yahudi mengelilingi Dia (Yesus) serta bertanya kepadanya “Jikalau engkau ini Kristus, Katakanlah kepada kami dengan terus terang”. Lalu Yesus menjawab dalam Yohanes 10 : 25 “ Maka jawab Yesus kepada mereka, “Aku sudah katakan itu kepadamu, tiada kamu percaya; segala perbuatan yang aku lakukan atas nama Bapaku, Ia itulah yang menyaksikan dari halku”.Umat Yahudipun meminta bukti yang sama dari Musa. Dalam QURAN SURAT 2 : 55 Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.

Keingkaran Bangsa yahudi dapat dilihat pada QURAN SURAT 2 : 83 “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Dalam QURAN SURAT 2 : 51 juga disebutkan : “Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang lalim”.

SUKA MERUBAH-UBAH KITAB ALLAH

Mungkin anda akan bertanya mengapa harus banyak kitab dari agama samawi dari Zabur, Taurat, Injil dan Al-Quran. Hal itu terjadi karena mereka (kaum Yahudi) suka merubah-ubah kitab Allah. Seandainya tidak pernah dirubah-ubah, tentu Kitab Allah hanya satu saja. Alhamdulillah Al-Quran sebagai Kitab penyempurna dan terakhir selalu gagal dirubah oleh orang-orang yang ingin merubahnya.

Dalam QURAN SURAT 2 : 79 Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.

Dalam QURAN SURAT 3 :78 disebutkan : “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui”.

BY MAGE

Posted in diskusi bebas, islam, kristen | 22 Comments »

mencari,memilih dan menguji ayat dan tuhan

Posted by kosongan pada | 15 |Januari| 2009 |

TIPS MENCARI TUHAN YANG BENAR-2 TUHAN
&
MEMILIH AGAMA YANG DIRIDHOINYA (DIBENARKAN OLEHNYA)

sumber :
http://suakahati.wordpress.com/2007/07/06/trinitas-sebuah-asal-usul/#comment-3879
1. Sadari mengapa kita perlu mencari Tuhan ? agar kita bisa memahami untuk apa kita ada (hidup) di Dunia ini yang ujung-2-nya sakit, tua, atau akhirnya mati juga, harta kita ditinggal untuk yang masih hidup, kok enak yah !.
2. Bagaimana cara yang benar mencarinya ? (buku-2, diskusi, logical, bukti-3 sejarah).
3. Ada “filosofi” atau hukum alam yang kita harus terima, dan bisa digunakan untuk mencarinya, antara lain;
a. Sesuatu mesti ada yang menciptakannya ? (yakini dulu !), seperti mobil, rumah, baju, dll..
b. Pencipta mestinya harus ada dulu dari pada yang diciptakan ? (Tuhan lebih dulu ada sebelum adanya Manusia, bumi, jagad raya), tidak setelah ada manusia (+ nabi-2) tiba-2 turun ke bumi dan menampakan atau menjelma menjadi Manusia ?
c. Pencipta mestinya tidak sama dengan yang diciptakannya (Manusia membuat mobil, tentunya mobil tidak sama dengan Manusia, baik bentuk dan kelakuannya), terima dulu logical ini !.
d. Jadi Tuhan tidak akan menyerupai yang diciptakannya (sama dengan manusia) ?
e. Manusia dan semua ciptaannya akan tunduk atau mengikuti HUKUM ALAM, yaitu menempati (ber dimensi) ruang, akan rusak karena waktu (umur) atau mati, dapat dilihat, diraba, atau dirasakan, dan difoto kemudian di up load di WWW).
f. Jadi Tuhan tidak akan mungkin berwujud sama dengan ciptaannya (Manusia). Atau mempunyai sifat-2 yang akan tunduk terhadap HUKUM ALAM tadi.
g. Tuhan tidak bisa dikategorikan jenis kelaminnya (Gender laki-2 atau perempuan ?), Tuhan Bapak, atau Bapa di Surga ?, Walaupun sebatas sebutan saja, atau dibayangkan seperti Bapak baiknya (kelakuannya).
h. Tuhan karena tidak berdimensi waktu atau ruang, maka Tuhan tidak tinggal di syurga ? atau dimana tempatnya ?, terus siapa yang akan menunggu (tinggal) Neraka mengawasi orang-2 yang disiksa ? dan di Bumi ? (walo hanya sebutan saja Bapaku di kerajaan Syurga).
i. Tuhan juga tidak menyerupai Manusia yang mempunyai tangan atau kaki, jadi tidak akan “CAMPUR TANGAN” sebagaima Manusia ? dalam kehidupan kita.
j. Tuhan itu maha kuasa sekali, sehingga tidak perlu membutuhkan bantuan seperti menjadi “PELAYAN TUHAN”.
k. Tuhan itu tidak akan seperti perasaan dan pikiran kita, sehingga Roh Kudus (Tuhan) tidak akan memimpin kemana arah pikiran, hati, dan tindakan kita, yang ada adalah bagaimana pikiran, hati, dan tindakan kita semata-mata hanya untuk Tuhan (sesuai petunjuknya).
l. Secara nalar (logical) setiap siapa yang berbuat seharusnya Dia yang bertanggungjawab, mau Dosa atau Pahala, dan tidak mungkin dialihkan kepada Tuhan yg se-akan-2 si PENEBUS DOSA, atau dihapus dengan dengan pengakuan Dosa melalui Pastor, atau diwariskan kepada anak cucu, jadi Pernyataan “PENEBUS DOSA” apa itu bukan sbg proganda (iklan terselubung) agar menarik Orang mengikuti ajaran.
m. Jangan mengandalkan kemampuan logical (otak), panca indra (mata dll), maupun perasaan kita dalam mencari Tuhan, karena Organ kita mempunyai keterbatasan, sepertinya halnya MATA, mata memandang langit itu berwarna biru padahal langit itu tidak berwarna dan merupakan ruangan yang bolong tidak berbatas dengan benda atau layar, atau seperti hal perasaan bahwa kita, bahwa kita ini tinggal pada permukaan bumi yang datar dan tidak mungkin kita berada di atas kulit bumi yang bundar, padahal kalau kita terbang antar benua baru melihat bahwa kulit bumi itu melengkung, sepertinya sepandai-pandai manusia, manusia tidak pernah mampu melihat bentuk (wujud) ROHnya sendiri seperti apa dan dimana keberadaannya di tubuh kita ?,
n. Jadi jangan sampai kita memaksakan TUHAN, bahwa Tuhan itu harus nampak wujudnya seperti halnya Manusia atau menyamakan bahwa Tuhan itu juga seperti Manusia, walupun sebagai Anak Tuhan atau Tuhan anak, ada ibunya, Tuhan itu seolah-olah seperti BAPA di kerajaan syurga, walaupun itu mungkin sekedar imajinasi saja untuk memudahkan kita membayangkan atau mempercayainya.
4. Terus bagaimana Tuhan yang sesungguhnya itu ?
5. Tentunya Tuhan itu tidak akan menampakan dirinya dan memperlihat pisiknya kepada Manusia (bikin penasaran saja Tuhan ini), logical kita Dunia bisa heboh ? kalo Tuhan sampai menampakan DIRInya.
6. Seperti Hanyal Roh, setiap Orang pasti (100 prosen) percaya bahwa setiap Orang yang hidup pasti ada Roh di dalam tubuhnya, dan kita tidak pernah tahu bagaimana wujud dan letaknya, walaupun seorang dokter ahlipun.
7. Tetapi Tuhan telah memberikan Tanda-2 keberadaannya kalo kita mau peduli terhadap Tanda-2 kebesarannya (ke Maha’an nya) dan asal kita mau mencari melalui cara yang dibenar atau diridhoinya..
8. Bagaimana cara mencari Tuhan yang benar ?
9. Silahkan baca Al Qur`an dan dalami Maknanya, disitu jelas-2 sekali bahwa Tuhan ALLAH itu adalah Tuhan Kita semuanya (Bule, Cina, Negro, Arab, Melanesia, Mongol) dan Al Qur`an diturunkan untuk semua Manusia di Dunia (bukan hanya untuk orang Moeslem atau Islam saja atau orang Arab saja).
10. Bandingkan dengan kitab-2 Agama lainnya, betul-2 isinya ber beda sekali dan proses turunnya ayat juga juga jauh betrbeda, mohon jangan antipati (or negative thinking before) dulu, sebelum membaca dan mendalami maknanya (anggap sbg ilmu pengetahuan aja dulu).
11. Inilah pengalaman spiritual saya, mudah-2-an Saudara-2-ku memperoleh manfaat dan hikmahnya, amien yah ROBBAL ALLAHMIEN.

Semoga Allah merachmati kita semua, amien.
Wassalam

Ridhawati
Flexi; 022 7204941
E-mail; ridha@telkom.co.id

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2007/11/23/anda-mengaku-tuhan-anda-harus-lulus-tes-ini

ANDA MENGAKU TUHAN (?), ANDA HARUS LULUS TES INI (!)

Didunia ini banyak yang mengaku Tuhan atau diakui oleh pemeluknya sebagai Tuhan. Antara lain :

  1. Yesus
  2. Budha
  3. Syech Siti Jenar
  4. Al-Halaj
  5. Begawan Rajnees

Semuanya adalah berbentuk manusia, tetapi diakui atau mengaku sebagai Tuhan. Apakah mereka itu Tuhan yang sebenarnya. Untuk mengetahuinya Islam mempunyai suatu alat test untuk membuktikannya.

Dalam Al-Quran (QS 112: 1-4) dikatakan : “Katakanlah : “Dia-lah Allah; Yang Maha Esa (1), Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu (2). Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (3), dan tidak ada seorangpun/sesuatupun yang setara dengan Dia” (4).

MARI KITA UJI

QS 112 : 1: Dia-lah Allah; Yang Maha Esa

Apakah Yesus satu-satunya yang dianggap Tuhan?. Ternyata ada yang lain yaitu Budha, Syech Siti Jenar, Al-Halaj dan Rajnees. Tapi seupama anda keberatan dan anda merasa manusia yang anda anggap Tuhan adalah satu-satunya, mari kita ke test yang ke-2

QS 112 : 2 : Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu.

Apakah semua manusia saat Yesus hidup bergantung sama Yesus???. Yesus saat itu ada di Yerusalem di Israel. Apakah saat itu orang Jepang bergantung pada Yesus???. Demikin juga berlaku buat Budha, Syech Siti Jenar dll. Okelah mungkin kita akan meloloskan mereka pada test ke-2 ini. Mari ke test yang ke-3

QS 112 : 3 : Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan

Bukankah semua yang disebutkan diatas (Yesus, Budha, Syech Siti Jenar, Rajnees, Al-Halaj dll) mempunyai awal dan akhir. Dilahirkan dari seorang wanita dan mengalami kematian nantinya. Begawan Rajnees saat ke Amerika tahun 1981 pernah melakukan serangkaian workshop keagamaan. Di Oregon dia membangun Rajness Furm. Kemudian dia ditangkap di Amerika dan menaruhnya di Furmbash, disana dia mengaku sebagai Tuhan. Di dalam penjara dia meminta rokok (Tuhan merokok). Tahun 1985 dia kembali ke India. Di kota Puna dia membuat markas yang dikenal sebagai masyarakat Osho. Disana tertera tulisan di nisannya “Rajnees tidak pernah lahir dan mati, pernah singgah di planet Bumi pada tanggal 11 Des 1931-19 Jan 1990”. Mereka lupa menulis dalam batu nisannya bahwa Rajnees pernah ditolak masuk ke 21 negara karena tidak punya Visa (bayangkan ada Tuhan mengemis Visa). Dan kepala Uskup Agung Grees mengatakan “kalau pemerintah tidak mengusirnya, saya akan membakar rumahnya dan semua pengikutnya”. Rajness yang mengaku Tuhan ternyata amat menderita dengan penyakit asma, menderita penyakit gula dan nyeri punggung kronis. Bayangkan ada Tuhan yang mempunyai penyakit Kompleks. Tapi okelah mereka lolos pada ujian yang ke-3. Mari kita ke Ujian yang ke-4

QS 112 : 4 : Dan tidak ada seorangpun/sesuatupun yang setara dengan Dia

Kalau ada Tuhan yang kekuatannya diperbandingkan dengan sesuatu berarti dia bukan Tuhan. Kalau ada yang mengatakan Tuhan kekuatannya 100 ribu kali Arnold Swarzeneger atau 1 juta kali kekuatan Arnold Swarzeneger berarti dia bukan Tuhan. Tuhan tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu. Yesus, Rajnees, Budha, Syekh Siti Jenar, Al-Halaj bukankah semuanya berbentuk manusia, yang makan, minum, tidur, dan disusui saat masih bayi. Waktu masih kecil semuanya bermain-main layaknya anak-anak kecil dll. Semuanya setara sebagai manusia (bermata, bertangan dan kaki) yang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Kesimpulan : Dari semua nama yang tercantum diatas dan yang belum tersebutkan, tidak satupun yang lulus dari test surat Al-Ikhlas 112 : 1-4. Jadi kalau anda mengaku sebagai Tuhan, anda harus lulus dari Tes ini. Jika tidak, maka anda adalah Tuhan gadungan. Mungkin anda bertanya jika Tuhan itu hanya Allah, mengapa di dunia ini banyak manusia yang tidak ber-Tuhan kepada Allah, tetapi mereka tetap hidup, kaya, banyak anak, dll. Sedangkan yang ber-Tuhan pada Allah banyak yang miskin. Jawabannya dapat anda lihat pada Hewan. Bukankah mereka tidak ber-Tuhan sama sekali bahkan tidak berakal, tetapi toh mereka bisa hidup, berkembang biak dan bahagia dalam kapasitas hewan. Maksudnya bahwa Allah di dunia ini tidak pilih-pilih siapa yang akan diberi rezeki, siapa yang berusaha dialah yang mendapatkan rezekinya entah itu caranya baik atau buruk, toh nanti ada perhitungannya di akhirat.. Apakah dia beriman atau Kafir. Tapi Allah memberi tahu bahwa Surga hanya untuk orang-orang yang beriman dan Neraka untuk orang-orang yang Kafir terhadap Allah. Jadi Allah adil di dunia dan adil di akhirat!.

BY MAGE (dari berbagai sumber)

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2008/08/06/pengujian-terhadap-ayat-ayat-tuhan-islam-kristen/

PENGUJIAN TERHADAP AYAT-AYAT TUHAN (ISLAM-KRISTEN)

Sekiranya manusia sudah tahu segala isi dari seluruh alam semesta, lalu untuk apa manusia berfikir???. Bagaimanapun manusia tidak akan tahu semua itu bahkan tahu tentang Tuhan selain dari apa yang diwahyukan Tuhan. Sekiranya manusia sudah tahu segalanya lalu haruskah manusia perlu berfikir???. Tentu hidup jadi tidak menarik lagi jika manusia berhenti berfikir!.

Jadi memang kita tidak akan tahu Tuhan itu seperti apa kecuali sebatas yang Tuhan wahyukan kepada kita melalui para nabi-NYA. Tuhan mengenalkan diri-NYA melalui ayat-ayat-NYA. Manusia tidak akan bisa mengetahui/melihat Tuhan kecuali Tuhan sendiri yang mengijinkannya.

Jadi jika kita ingin mengetahui Tuhan, kita harus mempelajari dari wahyu-wahyu Tuhan yang diberikan kepada para nabi. Tetapi sejauh mana kita yakin bahwa itu adalah wahyu Tuhan. Jawabannya tentu saja sebesar tingkat kebenaran. Kebenaranlah yang jadi acuannya.

Paulus telah menulis ayat dalam Perjanjian Baru sebagai berikut : “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (Injil – 2 Timotius 3: 16-17).

Inilah tulisan Paulus. Tentu tulisan itu sangat berarti, karena tulisan itu digunakan untuk menguji apakah Injil Sekarang (Bible) adalah wahyu Tuhan yang masih otentik. Intinya yaitu bahwa ayat 2 Timotius 3 :16-17 digunakan untuk menguji kegunaan Injil sekarang (Bible) dalam hal-hal sebagai berikut :

  1. Apakah untuk Doktrin: Pengajaran
  2. Apakah untuk Teguran: Untuk menghukum, memarahi, untuk menunjukkan kepada umat apa yang salah dalam hidup mereka.
  3. Apakah untuk Koreksi: Berguna untuk memperbaiki kesalahan.
  4. Apakah untuk Instruksi kepada kebenaran: untuk melatih dan mengajarkan kita bagaimana hidup secara benar.

Kita tidak usah menutup-nutupi apa yang ada dan tertulis dalam ayat-ayat Injil sekarang (Bible). Didalamnya ada ayat-ayat yang dinilai masih murni tetapi ada juga yang “terkesan Porno” dan tidak masuk diakal. Dan mari kita nilai kira-kira contoh ayat-ayat dibawah ini digunakan untuk tujuan apa?. Apakah untuk pengajaran (1), Teguran (2), Koreksi (3), atau Instruksi kepada kebenaran (4).

Dalam Link inilah sebagian Ayat-ayat Injil sekarang (Bible) yang perlu dikaji dengan 2 Timotius 3 :16-17 :

Injil-atau-Al-Quran-sesuai-ilmu-pengetahuan

Apakah ayat-ayat Injil ini firman Allah?

Lalu bagaimana dengan Al-Quran ?, untuk menguji ayat-ayat Al-Quran kita terlebih dahulu harus melakukan “Falsification test”, yaitu dasar menemukan kesalahan sampai mendapatkan kebenaran. Dalam artikel ini akan kita contohkan beberapa ayat, tidak akan dibeberkan semuanya karena terlalu banyak, anda bisa mencarinya sendiri.

Falsification Test 1

Kita sebagai Muslim tentu mengenal seseorang yang bernama Abu Lahab. Dia adalah orang yang selalu menghujat dan mencerca Nabi Muhammad sepanjang hidupnya. 10 tahun sebelum Abu Lahab mati, turunlah ayat yang bernama Al-Lahab (111), isi suratnya sbb :

[111.1] Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

[111.2] Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

[111.3] Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

[111.4] Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.

[111.5] Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Menurut anda bagaimanakah anda tahu tentang keistimewaan ayat ini. Keistimewaannya adalah sebagai berikut: Abu Lahab adalah sebagian orang-orang Kafir yang ingin menghancurkan Islam. 10 tahun sebelum Abu Lahab mati, turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa Abu Lahab tidak akan pernah masuk Islam. Tentu jika Abu Lahab ingin menghancurkan islam, saat itu juga dia bisa melakukannya. Bisa saja Abu Lahab masuk Islam di tahun1,2,3….dst, sehingga Abu Lahab bisa menunjukkan kepada orang-orang bahwa apa yang diucapkan oleh Muhammad adalah dusta. Tetapi apa yang terjadi?. Abu Lahab tetap kafir sampai dia mati. Tentu itu semua sudah kehendak dari yang menurunkan ayat diatas yaitu Allah.

Falsification Test 2

1400 Tahun yang lalu Nabi Muhammad telah membacakan ayat-ayat yang menurut masyarakat saat itu tidak masuk akal, bahkan sebagian ayat-ayat Al-Quran sampai sekarang masih ada yang belum diketahui tafsirnya. Saat itu ketika ayat-ayat Al-Quran dibacakan, belum ada pesawat ruang angkasa, belum ada teknologi atom dll. Tetapi bagaimana mungkin seseorang yang buta huruf bisa memberikan informasi yang kini diketahui kebenarannya?. Tentu hal itu karena yang menciptakan jagad raya yang menurunkan ayatnya yaitu Allah. Ayat-ayat tersebut antara lain sbb :

SURAT AL-ANBIYA[21.30] Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

SURAT YUNUS [10.61] Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).

Falsification Test 3

Injil berbahasa Arab belum ada pada abad ke 6, yaitu sat Muhammad lahir, dan juga Nabi Muhammad adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis. Dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang menyinggung tentang Maryam (ibu Yesus-Isa), kelahiran Yesus (Isa) sampai akhir hayat Yesus (Isa). Tentu hal itu bisa menjadi renungan bagaimana mungkin Muhammad tahu yang terjadi pada Yesus (Isa) jika bukan karena Allah yang menginformasikan pada beliau.

SURAT ALI IMRAN [3.44] Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.

Banyak pendapat tentang Al-Quran dan semuanya akan membuat anda bingung jika anda membaca tanpa berfikir. Ingat Kebenaran adalah kunci jawabnya. Anda bisa saja menemukan Al-Quran dengan isi yang berbeda dengan Al-Quran lainnya. Disini anda harus mengambil kesimpulan mana yang terbenar. Karena Al-Quran adalah bahasa yang mudah dikoreksi. Sebagian dari kalangan ada yang menterjemahkan Al-Quran dengan pengartian yang salah. Pelu kita ketahui bahwa Ayat-ayat Al-Quran terutama yang berhubungan dengan ilmu bengetahuan selalu Up to Date. Bisa saja terjemahan tentang ilmu pengetahuan sekarang ada yang lebih bagus/benar daripada terjemahan dahulu. Jadi kebenaran akan selalu mengikuti. Al-Quran Tulisan Arab ibarat kode rahasia yang harus dipecahkan artinya. Dan tentu perlu pengetahuan bahasa Arab yang bagus untuk mengoreknya. Itulah mengapa Terjemahan Al-Quran tidaklah mati dan akan selalu hidup sesuai dengan akal dan hati nurani manusia. Misalkan saja terjemahan AlQuran dibawah ini :

Al-Qur’an -Surat Ar-Ruum (30) ayat 21,

  1. “Dengan tanda yang lain Dia memberikan untukmu istri-istri dari antaramu sendiri, supaya kamu dapat hidup dalam kesenangan dengan mereka, dan Dia menanamkan rasa cinta dan kebaikan ke dalam hatihati kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfkir” (Terjemahan oleh N.J. Dawood, ditambah penekanan)
  2. “Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan istri-istri untukmu dari antaramu sendiri, Supaya kamu berhubungan seks dengan mereka, dan meletakkan rasa cinta dan kasih di antaramu.” (Terjemahan Sale ditambah penekanan)
  1. “Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari antaramu sendiri, supaya kamu tinggal dalam ketenangan dengan mereka. Dan, Dia meletakkan rasa cinta dan sayang di antaramu (hati). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Terjemah-an oleh A. Yusuf Ali, ditambah penekanan)
  2. “Dan satu dari tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan istri-istri untukmu atau jenismu sendiri, supaya kamu dapat tinggal dengan mereka, dan Dia memberikan rasa cinta dan kelembutan diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Terjemahan oleh Pendeta J.M. Rodwell, M.A., ditambah penekanan)

Terjemahan diatas hampir mirip tetapi mempunyai makna yang berbeda-beda. Mana yang perlu kita pakai tentu yang sesuai dengan fitrah dan norma manusia. Jika kita menemukan terjemahan Al-Quran yang salah kita tidak bisa menyamaratakan bahwa semua terjemahan Al-Quran adalah seperti itu, tidak. Tiap-tiap buku Al-Quran yang kita beli bisa saja berbeda dalam terjemahannya. Tetapi biasanya sama dalam maknanya. Sekiranya kita menemukan makna yang berbeda dan tidak bisa diterima dari segi norma, bisa saja ada orang yang ingin menghancurkan Al-Quran itu sendiri.

Memang seorang muslim yang baik harus tahu bahasa Arabnya, tetapi tentu tidak semua umat Muslim punya keahlian seperti itu. Kalau begitu tentu kita berpedoman pada terjemahan, dan tentu kita harus memilih terjemahan yang betul menurut logika dan norma. Kita kadang tidak menyadari bahwa ada juga orang yang bisa berbahasa Arab dan dia lagi mengajari kita, tetapi jika apa yang diajarkannya (meski pandai bahasa Arab) ternyata tidak sesuai dengan kaidah tauhid, akal dan norma tetap saja kita tidak bisa mengikutinya. Banyak umat muslim yang tergelincir pada stigma bahwa orang yang bisa bahasa Arab berarti mengerti Islam. Sehingga apa yang dikatakan orang itu diikuti begitu saja tanpa ada pengkajian lebih lanjut.

Pengujian ayat-ayat Tuhan tidak hanya dari penjelasan dari segi isi dan makna seperti diatas, tetapi juga bisa dari Gaya Bahasanya. Dalam Injil King James Version (KJV) banyak ayat-ayat yang dimulai dengan kata-kata “Pada suatu ketika, pada mulanya, dll” tentu gaya bahasa ini bukanlah bahasa dari Tuhan tetapi mungkin manusia. Memang tidak semua versi Injil memuat kata-kata sperti itu.Misalnya

dalam Injil yang diterbitkan oleh Jehovah’s Witnesses (Saksi-saksi Yehovah) —Sekte Kristen yang paling cepat tumbuhnya dalam umat Kristen dan “Young’s Analytical Con-cordance to the Bible.” Kedua indeks ini masing-masingnya lebih dari 300.000 judul. Terakhir tidak kurang dari 277 daftar baru, tetapi tidak terdapat sebuah kata “Saat ini” (pada suatu ketika) dari contoh-contoh yang diberikan di atas

Bagaimana dengan gaya bahasa Al-Quran :

Contoh dalam QS Al-Alag 1-5 :

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,

3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.

5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Tentu yang menjadi perhatian adalah dari sekian banyak ayat Al-Quran, sejarah turunnya Al-Quran pada saat diterima nabi tidak tertuang dalam Al-Quran itu sendiri. Kita tidak akan menemukan dalam teks atau terjemahan bahwa Nabi Muhammad pada saat berusia 40 tahun ketika menerima seruan pertamanya (ayat diatas).” kita tidak akan menemukan bahwa “ia di dalam gua gunung Hira.” Kita tidak akan menemukan bahwa “ia melihat malaikat Jibril” atau bahwa “ia ketakutan,” atau bagaimana reaksi dan tanggapannya terhadap perintah “Iqra (bacalah)’!” Bahwa ketika malaikat tersebut pergi setelah melengkapi 5 ayat pertama tersebut, “Muhammad berlari ke rumahnya sekitar 3 mil sebelah selatan Makkah menemui istri tercinta Khadijah dan mengatakan apa yang telah terjadi dan meminta sang istri menyelimutinya, menyelimutinya!” Semua ini apa yang saya namakan gaya bahasa “pada suatu ketika!” Kitab suci Al-Qur’an tidak menggambarkan apapun tentang ini, benar-benar sebuah narasi dan pemeliharaan yang unik. Singkatnya ini mu’jizat!

Semua ayat dalam Al-Quran ada asbabun nuzulnya (sebab-sebab turunnya) tetapi semua keterangan itu tidaklah termuat dalam Al-Quran itu sendiri. Kita hanya bisa membacanya dalam suatu riwayat yang shahih. .

Jadi itulah beda Al-Quran dengan Injil sekarang (Bible). Dalam Bible hampir semua sejarah (asbabun nuzul) dari ayat-ayat ditampilkan tetapi sayangnya banyak yang tidak sinkron dengan inti dari ajaran ke-Tuhan-an. Sedangkan dalam Al-Quran gaya bahasanya sedemikian ringkas tapi padat dan jauh dari gaya bahasa yang biasa diucapkan manusia.

Bagaimanapun juga Al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang dari segi Tauhid paling sempurna. Penghargaan Spontan terhadap Al-Quran dari berbagai Kalangan :

  1. “Sebuah mu’jizat dari kemurnian gaya bahasa, kebijaksanaan dan kebenaran.” (Pendeta R. Bosworth-Smith, Mohammed and Mohammedanism)
  2. “Setiap saya mendengar Al-Qur’an dibacakan, sepertinya saya sedang mendengarkan musik. Dalam alunan melodi, selama itu terdapat suara yang terus-menerus memukul sebuah drum, seperti memukul-mukul hati saya.” (A.J Arberry)
  1. “Simfoni yang tak ada bandingnya, suara yang benar-benar dapat menggerakkan manusia menangis dan luar biasa gembira.” (Marmaduke Picktall)
  2. “Setelah Injil, Al-Qur’an adalah kitab agama yang paling mulia dan paling mempunyai kekuatan di dunia” (J. Christy Wilson dalam Introducing lslam, New York 1950.).
  3. “Al-Qur’an adalah Injil kepunyaan Mohammedan, dan lebih dihormati daripada kitab suci lainnya, lebih dari Perjanjian Lama orang Yahudi atau Perjanjian Baru orang Kristen.” (J. Shillidy, D.D. dalam The Lord: Jesus in the Ko-ran, Surat 1913, p.111).

Sumber : Ahmed Deedat, Gary Miller

BY MAGE

pertanyaan yang timbul adalah mengapa mencari tuhan harus dengan salah satu agama ??? lalu mengapa yang menjadi pembenarnya adalah salah satu kitab saja dan dokrin didalamnya ????

Posted in agama & kepercayaan, diskusi bebas, islam, kristen | Leave a Comment »

sejarah trinitas

Posted by kosongan pada | 15 |Januari| 2009 |

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2007/07/06/trinitas-sebuah-asal-usul/

KONSILI NIKEA

1. Menetapkan hari kelahiran Dewa Matahari (Sol Invictus) dalam ajaran pagan, tanggal 25 Desember, sebagai hari kelahiran Yesus.
2. Hari Matahari Roma menjadi hari Sabbath bagi umat Kristen, dengan nama Sun-Day, Hari Matahari (Sunday).
3. Mengadopsi lambang silang cahaya yang kebetulan berbentuk salib menjadi lambang kekristenan, dan
4. Mengambil semua ritual ajaran paganisme Roma ke dalam ritual atau upacara-upacara kekristenan.

Konsili Nikea diadakan pada saat Roma diperintah oleh Kaisar Konstantin, tepatnya tiga belas tahun setelah Lucian dibunuh. Dr. Muhammad Ataur Rahim yang meneliti sejarah kekristenan dan Yesus selama 30 tahun menyatakan bahwa pada abad pertama sepeninggal Yesus, murid-murid Yesus masih tetap mempertahankan Keesaan Tuhan secara murni.

“Hal ini dapat dibuktikan dalam naskah The Shepherd (Gembala) karya Hermas, yang ditulis sekitar tahun 90 Masehi. Menurut Gereja, naskah itu termasuk kitab kanonik (yang dianggap suci). Diantara isi dari naskah tersebut berbunyi ‘Pertama, percayalah bahwa Allah itu Esa. Dialah yang menciptakan dan mengatur segalanya. Dia menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Dia meliputi segala sesuatu, tetapi Dia tidak diliputi oleh apa pun…’’’2. Bahkan menurut Theodore Zahn, sebagaimana dikutip EJ GoodSpeed di dalam Apostolic Father, sampai dengan sekitar tahun 250 Masehi, kalimat keimanan umat Kristen masih berbunyi, ‘Saya percaya kepada Allah yang Maha Kuasa”.

Tapi antara tahun 180 sampai dengan 210 Masehi, memang ada upaya-upaya untuk menambahkan kata “Bapa”didepan kata “Yang Maha Kuasa”. Uskup Victor dan Zephysius mengutuk penambahan kata tersebut dan menganggapnya sebagai pencemaran kemurnian kitab suci. Di Yunani, ajaran Kristen mengalami metamorfosa dengan kebudayaan politheisme setempat (misalnya  Kisah Hercules dengan Zeus). Yunani mempunyai andil  dalam perumusan konsep Trinitas dan Paulus dari Tarsus-lah yang menciptakannya.

Salah satu penentang Gereja Paulus adalah Uskup Diodorus dari Tarsus. Lucian, seorang pakar Injil merevisi kitab’Septuaginta’sebuah Injil berbahasa Yunani, dan memisahkan  segala  hal yang diyakini tidak benar. Setelah bekerja keras, akhirnya Lucian menghasilkan empat buah Injil yang benar-benar bersih dan dapat dipercaya. Namun dalam Konsili Nikea 325 Masehi, keempat Injilnya itu ternasuk dalam kelompok Injil yang dimusnahkan. Tapi Lucian dapat melakukan kaderisasi, salah satu muridnya yang bernama Arius menjadi tokoh terkemuka dalam mempertahankan kemurnian ajaran Yesus dari serangan Gereja Paulus. Menurut Arius, umat keristen seharusnya mengikuti ajaran sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus, bukan Paulus. Yesus diutus oleh Tuhan untuk melengkapi dan meluruskan kembali Taurat nabi Musa, hanya itu. Guru Arius, Lucian, dieksekusi mati oleh Gereja Paulus pada tahun 312 Masehi.

Secara resmi keputusan tentang dimenangkannya Konsep Gereja Paulus dalam Konsili Nikea memang tidak disebutkan, namun bukan berarti tidak ada. Dengan pertimbangan menjaga stabilitas keamanan kerajaan, maka yang satu ini dibiarkan dulu. Selepas Konsili Nikea, antara Athanasius yang mewakili kubu Trinitas masih saja berhadapan dengan Arius yang mewakili kubu Unitarian. Namun dengan adanya kompromi politik dan juga ancaman dari konstantin, maka Arius dan pengikutnya pun dikalahkan. Ketika itu ratusan Injil yang tidak sesuai dengan konsep Trinitas  dibakar dan dimusnahkan. Bahkan Gereja mengancam, siapa pun yang masih menyimpan Injil yang dilarang maka mereka akan dikenai hukuman mati. Suatu ancaman yang tidak main-main. Konsili Nikea menjadi ‘Kemenangan besar’ bagi Gereja Paulus.

Kisah yang banyak orang tidak tahu adalah bahwa Athanasius sendiri sebenarnya juga meragukan konsep Trinitas. Ia dengan tegas menyatakan ,”Setiap berusaha memaksakan diri untuk memahami dan merenungkan konsep Ketuhanan Yesus, saya merasa keberatan dan sia-sia. Hingga makin banyak menulis untuk mengungkapkan hal itu, ternyata hal ini tidak mampu dilakukan. Saya sampai pada kata akhir, Tuhan itu bukanlah tiga oknum melainkan satu. Kepercayaan kepada doktrin Trinitas itu sebenarnya bukan suatu keyakinan, tetapi hanya disebabkan oleh kepentingan politik dan penyesuaian keadaan di waktu itu.

Ditahun 335 Masehi diadakan lagi Konsili di Tyre (sekarang masuk Lebanon). Disini terjadi antiklimaks dimana Anthanasius dikutuk dan disingkirkan ke Gaul. Sedangkan Arius diangkat menjadi Uskup Konstantinopel, Dua tahun setelah Konsili Tyre, Konstantin meninggal dunia. Setelah meninggalnya Konstantin, diadakan lagi dua Konsili : Konsili Antiokia tahun 351 Masehi dan Konsili Sirmium tahun 359 Masehi. Kedua Konsili ini mengakui Keesaan Tuhan dan tidak mengakui Konsep Trinitas.

Tetapi  Gereja Paulus sudah berkembang dengan cepat di seluruh eropa dan masyarakat eropa sudah tidak menghiraukan lagi hasil dari dua Konsili tersebut. Tahun 387 Masehi, Santo Jerome (dalam bahasa latin disebut sebagai Eusebius Hieronymus) menyelesaikan penulisan ulang Bibel Vulgate, Injil berbahasa latin pertama dan terlengkap, yang mencakup Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bibel Vulgate inilah yang menjadi dasar penulisan  bagi penulisan-penulisan Injil lainnya di Barat dan Dunia hingga hari ini. Secara diam-diam, Vatikan menghancurkan kembali semua Injil yang bukan berasal dari Jerome.

Dalam rentang waktu yang panjang Ordo Kabbalah (Baca tentang Ksatria Templar di Link Penting) telah mengawal Gereja sehingga  hanya Gereja Paulus saja yang berkembang. Namun  Ordo Kabbalah ini juga bermain di sisi yang berlainan. Saat Martin Luther dan gerakan protesnya mencuat, ordo ini menungganginya, juga dengan Calvinisme. Patut dicatat, kedua gerakan reformasi gereja ini sebenarnya tidak menyentuh akar kekristenan Gereja Paulus dan tetap menerima konsep Trinitas sebagai dasar keimanannya.

2) Dr. M Athaur Rahim ; Misteri Yesus Dalam Sejarah; Pustaka Da’i cet. 1 nop 1994 hal 36
3) Hal 37

sumber :  Rizki Ridyasmara; Pidato Jihad Paus Benecditus XVI dan Gerakan Zionis-Kristen; Pustaka-Al-Kautsar hal 64-68

by : mage

sumber : http://media.isnet.org/kristen/Sejarah/Asal-usul.html

ASAL USUL DAN SEJARAH KRISTEN

Pendiri agama Kristen adalah seorang Yahudi bernama Yesus, yang lahir di Betlehem, Palestina, antara tahun 8 hingga 4 SM. Tradisi biasanya menyebutkan bahwa dia lahir dalam bulan Desember tahun pertama era Kristen yaitu, tahun 1 M, akan tetapi telah diketahui sekarang bahwa hal ini salah. Dalam catatan-catatan yang menyangkut Yesus -yakni Injil, empat di antaranya terdapat dalam perjanjian baru yang ditulis Matius, Markus, Lukas, dan Yahya- kita diberi tahu bahwa dia lahir selama berkuasanya Raja Herodes dan pada saat Kerajaan Romawi melaksanakan sensus penduduk. Kerajaan Romawi melaksanakan sensus penduduk empat belas tahun sekali.

Sensus pertama berlangsung tahun 6 M; ini berarti bahwa sensus sebelumnya dimulai tahun 8 SM, selama pemerintahan Kaisar Augustus dan tanah Judea diperõntah Kerenius yang dapat kita baca dalam Lukas 2:1-5. Kita juga diberi tahu tentang bintang yang menuntun orang Majus ke tempat Yesus berada, dan astronom Keppler, menghitung bahwa timbul konjungsi antara Saturnus, Jupiter, dan Mars kira-kira tahun 7 SM yang menampakkan kesan sebagai bintang baru yang terang benderang. Semua data ini mendukung kesimpulan bahwa Yesus lahir antara tahun 8 hingga 4 SM. Kita juga dapat menentang pendapat bahwa Yesus lahir bulan Desembers karena dalam Injil Lukas terdapat gembala yang menggembalakan ternaknya pada malam hari (2:8). Namun di Palestina pun cuaca dingin dan turun sadju, jadi saat kelahiran itu pastilah di luar musim dingin karena para gembala tidak akan keluar pada saat tersebut. Musim yang lebih mungkin adalah musim semõ atau musim rontok.

Penganut ajaran Kristen percaya bahwa ibu Yesus, yakni Maria, melahirkan Yesus dalam keadaan masih perawan dan belum bersetubuh dengan suaminya yaitu Yusuf. Anak tersebut lahir karena kekuasaan Tuhan melalui roh kudus. Kaum Katolik bahkan berkeyakinan bahwa Maria tetap perawan setelah kelahiran Yesus. Saudara laki-laki dan perempuan Yesus yang disebutkan dalam Markus 6:1-6 adalah anak-anak Yusuf dari perkawinannya yang terdahulu. Tidak banyak yang kita ketahui tentang Yesus di masa kanak-kanak; kisahnya mulai banyak diungkapkan untuk perjalanan hidupnya setelah berusia tigapuluhan, saat dibaptis oleh Yahya. Yahya membaptis manusia sebagai persiapan mereka untuk menerima kedatangan “juru selamat;” pada waktu Yesus datang, dia menolak membaptis Yesus dengan menyatakan bahwa Yahya tidak pantas membaptis Yesus, bahkan sebaliknya dialah yang pantas dibaptis. Namun Yesus tetap meminta Yahya membaptis dirinya; setelah dibaptis dia mengasingkan diri selama 40 hari dan memikirkan “juru selamat” yang bagaimanakah sebenarnya. Selama itu iblis menggoda dia, membujuk Yesus agar menjadi pahlawan bagi bangsa Yahudi, atau memenangkan dukungan bangsanya lewat perbuatan kegaiban atau dengan memenuhi kepuasan material bangsa Yahudi. Yesus menolak godaan ini, karena Dia sadar bahwa Dia haruslah “juru selamat” yang menderita, yang akan mati demi bangsanya.

Setelah meninggalkan gurun, dia memilih dua belas orang sebagai teman dan muridnya. Murid-murid ini mempunyai latar belakang yang beragam: Petrus dan Andreas adalah bersaudara dan nelayan miskin; Yacob dan Yahya, juga bersaudara, adalah nelayan juga, namun lebih makmur; Matius (atau Levi) adalah pengumpul pajak yang bekerja bagi orang Romawi; ada anggota kelompok Zealot yang fanatik; dan Yudas Iskariot, orang yang pada akhirnya mengkhianati Yesus dan menyerahkannya kepada musuhnya. Dari kedua belas muridnya, Petrus, Yacob dan Yahya merupakan teman Yesus yang paling dekat. Dalam Markus 6:1-6 Yesus disebut “tukang kayu,” dan dari sini diasumsikan bahwa sebelum terkenal, Yesus meneruskan profesi ayahnya sebagai tukang kayu. Kita tidak mengetahui latar belakang pendidikannya walaupun mungkin dia memperoleh pendidikan dari cendekiawan monastik Yahudi, yakni kaum Essenes, yang ajarannya banyak mirip dengan ajaran Kristen.

Namun dari kitab-kitab Injil dapat kita lihat bahwa dia adalah manusia yang cerdas, arif dan penuh humor. Ajarannya dia sampaikan lewat perumpamaan, dongeng, kisah-kisah pendek yang mengandung makna mendalam. Teknik pengajaran seperti inilah yang ditempuh para rabbi karena lebih mudah menangkap makna lewat kisah-kisah pendek dibandingkan lewat kisah-kisah panjang, atau lewat diskusi formal yang panjang.

Kisah-kisah atau perumpamaan Yesus adalah sederhana dan langsung kena, kisah yang mudah disimak oleh siapa pun. Akan tetapi, dia juga menggunakan kotbah, dan kotbah yang terkenal adalah kotbah bukit (kotbah ini bukanlah satu kotbah panjang, melainkan adalah intisari yang diambil dari ucapan-ucapan Yesus dalam berbagai kejadian).

Di samping memberikan ajaran, Yesus juga menyembuhkan banyak penyakit dan bahkan menghidupkan kembali orang mati. Perlahan-lahan namanya termasyhur ke seluruh negeri dan orang mulai berbisik-bisik mempersoalkan siapakah dia.

Pertama kali Yesus mengaku sebagai “juru selamat” yang telah lama dinanti-nantikan di Caesarea Phillippi. Setelah dia menanyakan kepada murid-muridnya tentang siapakah dia disebut khalayak ramai, dia bertanya tentang siapakah dia di mata para muridnya? Petrus, yang merupakan orang pemberani, menjawab, “Engkau adalah juru selamat.” Semenjak itu Yesus mulai memperkenalkan ajaran-ajaran dan perintah-perintahnya kepada kedua belas muridnya tentang tujuan kedatangannya.

Lalu dia diberi nama Kristus yang berarti “orang yang diurapi.” Segera setelah pengakuan oleh Petrus tentang dia (Yesus) sebagai “juru selamat,” dia mengajak Petrus, Yahya dan Yacob ke suatu bukit, di mana pakaian dan wajah Yesus menjadi bercahaya putih mengkilap dan dia berkomune dengan Nabi Elisa dan Musa. Peristiwa ini disebut Transfigurasi (perubahan tubuh).

Namun selama tiga tahun misi Yesus, tantangan terhadap ajarannya meningkat terutama dari pihak Parisi dan Saduki. Kaum Saduki adalah kelompok kecil aristokrat yang sangat berpengaruh yang mengaku sebagai keturunan Sulaiman.

Kelompok Parisi terbentuk pada saat Kekaisaran Yunani ingin menanamkan pengaruhnya di Palestina, dan Kaum Parisilah yang sangat menentang pengaruh (Helenisasi) ini. Kedua kelompok ini, dengan alasan yang berbeda, memusuhi Yesus; kaum Parisi menolak karena ajaran-ajaran Yesus menentang sikap kaum Parisi. Kita tahu orang Yahudi sangat berpegang erat kepada 10 perintah Allah, sementara Yesus memperbaharui penafsiran tentang makna kesepuluh perintah tersebut. Selama bertahun-tahun hukum itu berubah menjadi doktrin yang mendasari ajaran Yudaisme, yang menjadi dasar bagi orang Yahudi untuk mengasihi Tuhan dan sesamanya. Bagi kebanyakan orang Parisi, tradisi lebih penting daripada hukum, dan Yesus sangat lantang menentang sikap orang Parisi ini. Kaum Saduki menentang Yesus karena mereka bekerja sama dengan bangsa Romawi, dan karena itu mereka sangat berpengaruh dan menikmati hak-hak istimewa. Mereka khawatir Yesus bisa menimbulkan kesulitan yang berakhir pada situasi yang mengancam pada prestise dan kekuasaan mereka.

Setelah kira-kira tiga tahun, Yesus pergi ke Yerusalem menunggang keledai dan disambut sebagai pembebas dan “juru selamat,” karena saat itu bertepatan dengan berlangsungnya pesta paskah dan Yerusalem dipadati oleh banyak manusia. Paskah adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi kedatangan “juru selamat” bangsa Yahudi, sehingga suasana saat Yesus memasuki kota amatlah eksplosif. Lalu dia masuk ke Bait Allah dan mengusir semua pedagang, pembunga uang dan orang-orang lain yang dia anggap mengotori tempat suci tersebut. Penduduk menunggu tindakannya yang selanjutnya, yakni hal mengumumkan dirinya sebagai Raja yang akan mengusir penjajah Romawi; namun tindakan yang ditunggu-tunggu itu tidak pernah muncul. Sebaliknya Yesus mengadakan perjamuan dengan murid-muridnya, yang dinamakan perjamuan terakhir (sebagian cendekiawan menyebutnya perjamuan paskah), sesudah itu dia pergi ke Taman Getsemane. Di sana dia ditangkap serdadu yang dipimpin oleh Yudas Iskariot.

Pertama kali setelah ditangkap, Yesus diajukan ke hadapan para imam dan dituduh menghujat Allah, suatu kejahatan besar dalam hukum Yahudi, namun karena mereka tidak dapat menjatuhkan hukuman mati, keputusan mereka harus disahkan oleh penguasa Romawi. Lalu Yesus dihadapkan kepada penguasa, Pontius Pilatus, dan dituduh melakukan pemberontakan subversi dan menghindari pajak; Pilatus tidak ingin menghukum orang yang tidak bersalah, namun disebabkan tekanan para imam dan amarah bangsa Yahudi -yang merasa tertipu kalau Yesus tidak memperlihatkan dirinya sebagai “juru selamat” dalam arti penuh kemenangan dalam peperangan- dia terpaksa membuat keputusan yang tidak menyenangkan dan Yesus dihukum dengan penyaliban. Putusan itu dilaksanakan, dan Yesus mati setelah penuh penderitaan selama tiga jam di kayu salib.

Akan tetapi, bagi Gereja Kristen, itu bukanlah akhir, melainkan adalah awal. Tiga hari kemudian Yesus bangkit dari kematian (tiga hari berdasarkan perhitungan Yahudi -Yesus meninggal hari Jumat dan bangkit hari Minggu). Para wanita yang pergi ke makamnya pada Minggu pagi menemukan makamnya sudah kosong, namun pakaiannya masih terlipat di dalam kubur. Kemudian Yesus sendiri menampakkan dirinya kepada mereka; kemudian mereka berlari untuk memberitahukan hal itu kepada murid-murid Yesus yang sebelumnya meragukan kebangkitan Yesus; namun kemudian mempercayainya. Beberapa saat kemudian Yesus mengajak mereka ke suatu bukit, memberkati mereka lalu mereka terangkat ke surga. Semenjak itu Yesus tidak pernah menampakkan diri lagi di bumi ini.

Sementara itu murid-murid Yesus tidak bisa menentukan langkah-langkah mereka seterusnya. Namun pada hari Pantekosta, pada saat mereka semua berkumpul di Yerusalem, Roh Kudus turun dari surga dan hinggap pada masing-masing mereka. Sejak itu mereka diubahkan, tidak lagi cemas dan takut, melainkan sudah menjadi rasul-rasul yang berani yang menjelajahi dunia ini untuk menyampaikan kabar gembira tentang Tuhan Yesus Kristus. Pada awalnya mereka berharap Yesus segera muncul kembali, namun hal itu tidak terjadi demikian. Iman baru ini segera menyebar di seluruh dunia lama.

Hebatnya, misi penyebaran Injil yang paling spektakuler bukanlah oleh salah satu murid Yesus melainkan adalah oleh Saul (Paulus) dari Tarsus, yang mengalami pertobatan pada saat dia dalam perjalanan ke Damascus untuk menangkapi orang-orang Kristen; sebagai hasil pertobatan ini, dia banyak melakukan perjalanan untuk pekabaran Injil, mengalami penderitaan yang berat, bahkan mati martir demi imannya Dia menuliskan banyak surat nasihat dan penguatan iman kepada gereja-gereja baru yang dia dirikan, dan dokumen-dokumen ini, yang terdapat dalam PerjanJian Baru, sangat penting karena merupakan salah satu tulisan Kristen pertama yang kita miliki.

Pada tahun-tahun awal tersebut, ajaran baru ini masih dianut orang Yahudi, namun ternyata agama baru ini segera menghilang dari antara orang-orang Yahudi dan dianut oleh orang-orang di luar Yahudi. Pemisahan antara ajaran Yahudi dan Kristen mulai nyata dan akhirnya tak dapat dihindarkan;

para penganut Kristen tidak lagi merayakan hari-hari besar Yahudi serta tidak mempertahankan tradisi dan budaya Yahudi. Pemisahan ini diakui pada Dewan Yerusalem pada tahun 48 M, pada saat pembatasan-pembatasan Yudaistis terhadap orang-orang Kristen yang bukan Yahudi diberlakukan.

Mula-mula dengan enggan diberi toleransi oleh Kerajaan Romawi, faham Kristen di bawah masa pemerintahan Kaisar Nero yang sangat membenci ajaran Kristen. Nero berusaha memojokkan orang Kristen dengan menuduh bahwa kebakaran besar kota Roma disebabkan oleh orang Kristen (64 M), serta membunuh orang-orang Kristen, di antaranya Petrus dan Paulus. Banyak orang Kristen berkeyakinan bahwa dengan kematian rasul-rasul ini, dan kematian orang-orang yang secara pribadi mengenai Kristus, perlu dibuat rekaman tertulis tentang kehidupan Kristus. Selama empat puluh tahun berikutnya masih banyak tulisan tentang Yesus, namun hanya empat di antaranya diakui dalam Perjanjian Baru. Akan tetapi tindakan pembunuhan ini bukanlah yang terakhir, bahkan meningkat selama pemerintahan Kaisar Domitian (81-96 M).

Selama dua ratus tahun ajaran Kristen merupakan doktrin yang ilegal hingga akhirnya Kaisar Konstantin, setelah melihat cahaya terang di malam hari sebelum melakukan suatu pertempuran, yang meliputi salib dengan tulisan “dengan tanda ini kamu ditaklukkan,” memberikan hak legal kepada orang-orang Kristen pada tahun 313 M dan menjadikan agama Kristen sebagai agama negara Kekaisaran Romawi.

Apa yang terjadi kepada gereja muda ini selama masa yang penuh kesulitan tersebut? Tantangan muncul dari berbagai arah, namun penyebarannya makin pesat. Walaupun pada mulanya Yerusalem dianggap sebagai pusat suci, namun sikap permusuhan yang diperlihatkan orang-orang Yahudi yang menguasai Yerusalem mendorong pemindahan pusat Kristen;

mula-mula ke Antiokia, bergeser ke Roma. Selama periode Konstantine, Agama Kristen makin kuat dan melembaga.

Salah satu masalah pertama yang harus dipecahkan adalah masalah Trinitas, keyakinan umat Kristen akan Bapak, Anak, dan Roh Kudus, yang pada hakikatnya identik namun terpisah satu sama lain. Banyak pendapat yang berbeda diajukan untuk menjawab masalah Trinitas, dan tahun 325 Konstantin meminta Dewan Pertama Nicaea untuk membahas masalah ini dengan saksama, yakni ‘Aryan Heresy’ yang menyatakan bahwa Kristus diciptakan Tuhan untuk membantu dalam penciptaan dunia ini, dan menerima status ketuhanan dari Tuhan, jadi tidak sama esensinya dengan Tuhan. Status ketuhanannya dapat dicabut Tuhan. Dewan ini melahirkan Nicene Creed suatu bentuk yang digunakan hingga dewasa ini dan mencakup kata-kata:

– Kami percaya akan satu Tuhan, Tuhan Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.

– Kami percaya akan Yesus Kristus, anak tunggal Allah, yang diturunkan oleh Allah Bapak, bukan diciptakan, yang satu dengan Allah Bapak.

– Kami percaya akan Roh Kudus, Tuhan, pemberi kehidupan, yang diturunkan dari Allah Bapak dan anak. Lalu gereja dihadapkan dengan sekumpulan masalah, terutama masalah intern. Romawi Barat dan Timur mulai terpisah semakin jauh dan akhirnya benar-benar terpisah. Memang sebab pemisahan ini bukan hanya hal di atas, karena masih banyak titik-titik perpecahan antara Barat dan Timur. Dibandingkan dengan Kristen Barat, Kristen Timur lebih menekankan ikon-ikon. Ikon merupakan gambar flat pada kayu, gading atau bahan-bahan lain, yang memperlihatkan Yesus, Perawan Maria, atau orang suci yang lain dan melembaga dalam Gereja Yunani.

Selama abad kedelapan, ikon-ikon dilarang oleh Kaisar Leo III, namun protes keras menyebabkan larangan ini dicabut pada Sidang Umum ketujuh yang berlangsung di Nicaea tahun 787. Ini tampaknya merupakan kemenangan Gereja Timur. Namun perpecahan di antara keduanya tidak akan diatasi oleh sidang tersebut dan masalah ini mengemuka pada abad ke 11 pada waktu Roma menerima pemberian suatu tambahan ke dalam Nicene Creed, suatu hal yang tidak disetujui Gereja Timur. Tambahan itu adalah “dan anak” setelah frasa “kami percaya dalam Roh Kudus, Tuhan pemberi kehidupan, yang diturunkan dari Allah Bapak …” Jadi, Gereja-gereja Timur tidak menerima bahwa Roh Kudus diturunkan dari Allah Bapak dan Anak, melainkan hanya dari Allah Bapak. Tentang masalah ini Timur dan Barat sama sekali tidak mempunyai titik temu dan menimbulkan pemisahan tahun 1054, karena wakil Paus menempatkan surat-surat ekskomunikasi pada altar St. Sophia di Konstantinopel. Sejak itulah muncul Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Yunani. Unsur-unsur doktrinal membuat mereka tetap terpisah: Gereja Katolik dipimpin oleh satu tampuk pimpinan yang disebut Paus, sementara Gereja Ortodoks menyerahkan kepemimpinan di tangan para bishop atau patriark; pandangan tentang Roh Kudus juga berbeda, Gereja Ortodoks tetap memberikan kedudukan penting bagi ikon-ikon dalam pemujaan, para pelayan gerejanya dibolehkan menikah, dan lain-lain. Segera kemudian, yakni tahun 1096, Paus Urbanus II mengorganisasi Gereja Katolik ke dalam satu pola seragam yang bertahan selama hampir 200 tahun -tentara salib.

Mula-mula dibentuk untuk dua tujuan, yakni mengurangi tekanan Turki atas Kekaisaran Timur dan untuk menjamin keamanan para peziarah yang berkunjung ke Yerusalem, tentara salib segera mengalami degradasi cita-cita; mereka ingin membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Muslim.

Gereja Katolik tetap berperan penting hingga abad pertengahan. Berpusat di Roma, Paus memegang kekuasaan tertinggi, yang melampaui kekuasaan raja dan ratu. Namun sejak akhir abad keempat belas mulailah timbul tantangan terhadap kekuasaan Paus yang begitu besar. Timbullah gerakan reformasi yang dimulai Lollards dan Hussites; gerakan ini berubah menjadi ancaman serius terhadap supremasi Gereja Katolik ketika tahun 1617, seorang imam bernama Martin Luther menentang keras penjualan surat aflat oleh gereja.

Dia lalu menolak supremasi Paus, menyangkal transubstantiation, serta mendorong para bangsawan Jerman untuk memberontak dan memisahkan kekuasaan mereka. Para bangsawan, yang sebelumnya terdisilusi dengan kontrol oleh Gereja dan Paus, membutuhkan sedikit dorongan dan banyak di antara mereka segera bergabung dengan Martin Luther.

Tindakan Luther merupakan awal tumbuhnya berbagai sekte yang didasari kepada doktrin pokok Luther namun berkembang sesuai dengan jalan yang ditempuh masing-masing sekte. Pandangan Luther mendapat formalisasi dalam Gereja Lutheran yang tumbuh subur di Jerman, Skandinavia dan Amerika. Namun Luther pun bertentangan dengan bekas sekutunya menentang Paus. Salah satu bekas pendukungnya, Zwingli, mengembangkan pandangan Eukaristi yang menyebabkan Luther dan Zwingli berpisah.

Pengaruh Reformasi menyebar ke seluruh Eropa. Pembaharu yang lain, John Calvin, memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma tahun 1533. Pandangannya hampir sama dengan Luther, namun dia yakin akan adanya karunia tertentu untuk kelompok tertentu. Pengikut Calvin menyebar di Jerman, Negeri Belanda, Skotlandia, Swiss, Amerika Utara dan cukup berpengaruh di Inggris.

Inggris juga mengikuti anjuran para pembaharu namun dengan motif yang agak berbeda. Tahun 1521 Raja Henry VIII telah mengeluarkan suatu traktat yang menyerang Luther yang menyebabkan dia mendapat titel ‘Pembela Iman” dari Paus. Akan tetapi Raja Henry VIII sangat ingin menikahi putri Anne Boleyn namun sebelum bisa menikahi Anne, dia harus menceraikan Catherine of Aragon. Sayangnya Paus tidak merestui perceraian itu (Roma dipengaruhi oleh saudara-saudara Catherine yang ada di Spanyol, negeri asal Catherine) dan Henry terpaksa mengabaikan kekuasaan Paus pada tahun 1534. Lalu dia menyatakan dirinya sebagai kepala Gereja Inggris, dan dapat membatalkan perkawinannya dengan Catherine. Ajaran “Tiga puluh sembilan pasal,” yang menyangkut hal-hal yang kontroversial serta mengungkapkan bagaimana kedudukan Gereja Inggris mengenai masalah perceraian tersebut, dikeluarkan tahun 1571 selama pemerintahan Ratu Elizabeth I, anak perempuan Henry. Gereja Inggris mengakui kerajaan sebagai kepala gereja, bukan Paus, juga menolak transubstantiation, meniadakan biara serta menggantikan bahasa Latin dengan bahasa Inggris untuk dipakai di Gereja.

Tetapi reaksi terhadap Roma masih belum mencapai bentuknya yang paling ekstrim. Dalam abad ketujuh belas, George Fox, dari Leicestershire (Inggris), mulai menyebarkan ajaran bahwa manusia dapat berhubungan dengan Tuhan tanpa melakukan suatu ‘hiasan’ (upacara) ritualis yang ditetapkan oleh gereja-gereja Katolik, dan bahwa gereja-gereja yang telah diperbaharui belum cukup jauh melangkah dalam penolakan mereka terhadap upacara dan hierarki gerejawi. Seorang kristen, menurut George Fox tidak membutuhkan imam atau pendeta/pastor, dan juga tidak membutuhkan bait suci. Tidak ada gunanya ketujuh sakramen Gereja Katolik; tidak dibutuhkan suatu sakramen apa pun. Fox lalu mulai menyebarkan ajarannya dan melakukan berbagai perjalanan ke daerah-daerah pedalaman. Pada umumnya, saat berdirinya gerakan Fox ini dianggap terjadi pada tahun 1652, yakni saat terjadinya kebaktiannya yang sangat berhasil untuk pertama kalinya. Pengikutnya disebut “Quakers,” atau “Perkumpulan Sahabat-sahabat.” Sampai sekarang juga mereka tidak mempunyai bait suci kecuali rumah-rumah kebaktian, dan dalam kebaktian mereka tidak ada liturgy, tetapi sebaliknya, setiap orang dapat berbicara bila mereka merasa bahwa mereka mempunyai sesuatu yang bermanfaat untuk diutarakan, tanpa memperhatikan atau mempedulikan berapa usia yang mau berbicara tersebut dan apa kedudukannya dalam masyarakat.

Berbagai perkembangan baru telah terjadi di Inggris pada periode setelah Perang Saudara. Banyak orang merasa tidak senang dengan penyatuan gereja dan negara yang dilakukan oleh Henry VIII, tetapi selama periode persemakmuran (Commonwealth period) di Inggris, mereka menjadi lega melihat bahwa kedua hal tersebut (gereja dan negara) telah dipisahkan kembali. Akan tetapi, dengan naiknya Charles II menjadi pangeran, Undang-undang Uniformitas dikeluarkan pada tahun 1662 yang memulihkan status quo tersebut dan memerintahkan semua pastor untuk menerima “Buku Doa Bersama.” Imam-imam yang menolak untuk menerima (oleh karena itu disebut Non-Conformis) ketentuan-ketentuan Undang-undang ini akan dikeluarkan dari Jemaah mereka dan dianiaya. Hal ini berlangsung sampai dengan keluarnya Undang-undang Toleransi pada tahun 1689 yang memberikan mereka beberapa hak hukum (legal). Akibatnya, perkembangan Gereja Baptis dan Gereja Reformasi bersatu mengalami perkembangan cepat.

Gereja Baptis, yang didirikan oleh John Smith, menganggap bahwa pembaptisan bayi adalah melawan perintah Alkitab.

Hanya orang dewasa yang telah mengerti makna sumpah yang diucapkannyalah yang dapat dibaptis. Mereka juga mencoba untuk meyakinkan bahwa jemaat ikut aktif dalam perjalanan Gereja, dan mencontoh Kisah rasul-rasul dengan mengangkat deakonis dari antara jemaatnya (lihat Kisah Rasul-Rasul 6: 1-6) untuk membantu mengarahkan dan menuntun gereja tersebut. Gereja Reformasi Bersama adalah suatu koalisi dari GereJa Presbiterian Inggris (yang dikembangkan dari ajaran Calvin) dan gereja-gereja Jemaat Inggris dan Wales yang didasarkan pada ajaran-ajaran dari tokoh pembaharu lainnya yang telah menyebarkan ajarannya pada zaman Calvin, yakni Robert Browne (1550-1633). Terlepas dari pandangan-pandangan mereka yang sangat sama, tetapi usaha-usaha untuk menyatukan kelompok-kelompok ini barulah berhasil pada tahun 1972 dengan pembentukan Gereja Reformasi Bersatu.

Gereja Metodis pada mulanya adalah merupakan suatu gerakan dalam Gereja Inggris. Pendirinya, John Wesley (1703-1791), tetap menolak untuk berpisah dari gereja induknya. Akan tetapi, setelah kematiannya, disadari bahwa Gereja Metodis tidak dapat lagi dimasukkan dalam Gereja Inggris, dan lalu memisahkan diri pada tahun 1795. John Wesley dan saudaranya Charles, melalui studi mereka yang ketat dan metodis terhadap InJil (sehingga mereka disebut dengan nama Metodis), merasa bahwa keselamatan diperoleh hanya karena kasih dan karunia Tuhan, bukan karena suatu perbuatan atau kebaikan manusia.

Menjelang akhir abad kesembilan belas, ada gelombang atau kegairahan lain mengenai perhatian keagamaan. Hal ini sebagian disebabkan penemuan-penemuan ilmiah dalam abad tersebut yang mengancam berbagai keyakinan yang hingga waktu itu telah diterima sebagai kebenaran religius yang tidak dapat dibantah (misalnya, mengenai taman firdaus dan masalah penciptaan). Dalam hal ini, reaksi dari Pencerahan (Enlightement) dalam tahun-tahun sebelumnya turut berperan.

Akibatnya adalah bermunculannya banyak sekte yang memisahkan diri dari gereja induk mereka, sebagaimana yang terjadi dalam Reformasi yang memunculkan gereja-gereja yang diperbaharui yang memisahkan diri dari iman Katolik. Di Inggris, Bala Keselamatan berkembang sebagai suatu kekuatan besar, bukan saja karena ketaatan beragamanya, tetapi juga karena reformasi dan bantuan sosialnya. Di bawah kepemimpinan William Booth (1829-1912), Bala Keselamatan tersebut memisahkan diri dari gereja Metodis dalam tahun 1865 dan membentuk sendiri suatu organisasi yang bergaya militer karena kelompok tersebut menganggap dirinya sebagai laskar perang Tuhan dan memerangi ketidakadilan sosial.

Dibandingkan dengan kebanyakan sekte Gereja, mereka sangat sedikit memperhatikan sakramen, walaupun mereka menerima bahwa beberapa orang Kristen mungkin melihat sakramen itu merupakan pertolongan dan bantuan.

Di Amerika juga terjadi suatu gejolak keagamaan yang demikian. Pada tahun 1830, Mormon, atau Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Hari Terakhir, dibentuk oleh Joseph Smith (1805-1844) yang mengklaim telah mengalami suatu wahyu Tuhan, menemukan tablet-tablet emas yang tertulis dalam Buku Mormon, yakni yang merupakan kitab suci penganut Mormon.

Pada mulanya ajaran Mormon ini terlarang karena pandangan-pandangan mereka yang menyimpang dari ajaran Kristen dan praktek poligami mereka, tetapi Mormon ini merayap ke seluruh Amerika dan akhirnya menetap di Salt Lake City, tempat markas mereka terletak hingga kini.

Aliran spiritual mulai ada tahun 1848 ketika dua orang perempuan, yakni saudara perempuan Fox yang berumur dua belas dan lima belas tahun, menyebabkan suatu kegemparan di antara, penduduk kota mereka, Arcadia, New York State, dengan mengklaim bahwa mereka telah dapat berkomunikasi dengan roh-roh. Walaupun ada yang menyatakan bahwa suara-suara gaduh tersebut adalah suara gabungan dari suara kedua anak perempuan tersebut, tetapi mereka (penduduk kota tersebut) berkumpul sedemikian banyak mendukung supaya Gereja Spiritual didirikan. Penganut aliran Spiritual yakin, selain pada pandangan-pandangan Kristen biasa, bahwa, melalui mereka, nasihat dan tuntunan dapat diperoleh.

Advent Hari Ketujuh juga mulai ada di Amerika, yang membangun reputasinya dalam tahun 1860, dan setelah itu sekte ini cepat menyebar ke seluruh dunia. Berbeda dengan sekte-sekte Kristen lainnya, mereka membuat hari ketujuh sebagai Sabat (yaitu, mereka menjalankannya seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi, dimulai dari saat matahari terbenam pada hari Jumat sampai matahari terbenam hari Sabtu). Sama seperti Gereja Baptis, mereka hanya membaptis orang-orang dewasa, dan juga membuat pembatasan-pembatasan mengenai apa yang dapat dimakan dan diminum oleh jemaatnya. Misalnya, mereka tidak boleh minum alkohol dan memakan makanan kerang-kerangan.

Sebelum mengakhiri ulasan ini, tiga kelompok Kristen lainnya harus disebut yakni: Christian Science, Saksi Jehova, dan gerakan Pantekosta.

Christian Science didirikan oleh Mrs. Mary Baker Eddy pada tahun 1879, yang mempertahankan bahwa satu-satunya realitas hanyalah pikiran dan semua yang lainnya adalah illusi.

Oleh karena itu penyakit jangan dirawat dengan obat, tetapi harus disembuhkan dengan mempraktekkan pemikiran yang benar.

Saksi Jehova, yang didirikan oleh C.T. Russell, yakin bahwa kedatangan kedua kalinya Yesus serta akhir dunia ini akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi, dan bila hal itu terjadi maka hanya suatu kelompok elit saja yang selamat, yaitu kelompok Saksi Jehova itu sendiri. Mereka mempunyai Al-Kitab dengan terjemahan mereka sendiri dan mereka menyisihkan banyak waktu, usaha, dan uang untuk kegiatan-kegiatan missionaris.

Yang terakhir, yakni gerakan Pantekosta, yang bermula dari suatu missi di Los Angeles dalam tahun 1906 yang dilakukan oleh W.J. Seymour, mengajarkan bahwa setiap orang Kristen dapat mengalami kehadiran Rohul Kudus dalam diri mereka sendiri dan menerima hadiah-hadiah roh. Oleh karena itu kebaktian Pantekosta adalah merupakan upacara yang sangat emosional, di mana jemaatnya menjadi dirasuki oleh Roh Kudus dan tampak berbicara dalam lidah (berbahasa roh), sebagaimana yang dilakukan oleh murid-murid Yesus yang pertama. Walaupun gerakan Pantekosta telah mempunyai gereja sendiri, tetapi gerakan ini telah juga mempengaruhi aspek-aspek lain dari Gereja (Kristen), dan dalam GereJa Katolik gerakan tersebut juga berpengaruh dengan munculnya apa yang disebut gerakan Karismatik, orang-orang Katolik bermaksud menerima Roh Kudus dalam diri mereka sendiri.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas secara mendalam sekte-sekte Kristen, bahkan tulisan ini tidak menyebut semua sekte yang ada, karena ada banyak gerakan-gerakan dan aliran-aliran pemikiran yang berbeda dalam Gereja Kristen. Penulis hanya mencoba untuk menempatkan dalam latar belakang historis dan teologis sekte yang paling menyebar.

oleh L. Berkhof

Diterjemahkan oleh:

Drs. H. Thoriq A. Hindun

sumber :

Paham Trinitas berasal dari pengalaman batin orang Kristen pengikut Yesus di zaman awal akan perjumpaan dengan yang ilahi. Pada saat itu belum ada paham Trinitas sebagaimana dirumuskan belakangan. Pengalaman batin itu mendahului paham teologisnya. Para pengikut Yesus itu mengalami Keilahian dalam tiga bentuk atau modalitas:

(1) mengalami Keilahian sebagaimana mereka pahami dari kitab-kitab Yahudi (Perjanjian Lama): sebagai Pencipta, Tuhan dari sejarah penyelamatan, Bapa, dan Hakim;

(2) mengalami Keilahian di dalam diri Yesus, yang hidup di tengah manusia, sebagai “Yang Telah Bangkit Kembali”;

(3) mengalami Keilahian sebagai Roh Kudus yang memberi kekuatan bagi hidup baru, kuasa bagi Kerajaan Allah, sebagaimana misalnya dialami oleh para murid pada peristiwa Pentakosta.

Sepanjang sejarah Kristen, masalah bagaimana mempertemukan pengalaman akan Keilahian dalam tiga bentuk/modalitas ini dengan prinsip keesaan Tuhan (monoteisme) telah menjadi bahan kajian dan perenungan yang sangat mendalam bagi orang Kristen yang saleh. Ini menjadi pendorong pula bagi berkembangnya suatu teologi spekulatif yang mengilhami metafisika Barat selama berabad-abad. Namun, selama dua abad pertama Masehi, terdapat berbagai jawaban terhadap masalah ini yang berdiri berdampingan dan berhadap-hadapan. Pada mulanya para ahli teologi Kristen itu belum mengkajinya secara spekulatif. Perbedaan paham seputar tokoh Yesus

Berbagai paham tentang Trinitas itu berpusat pada perbedaan paham tentang tokoh Yesus. Menurut Injil Yohanes, keilahian Yesus adalah titik awal untuk memahami pribadi dan karyanya. Yesus adalah keilahian yang telah ada sebelum ruang dan waktu ini tercipta, dan yang turun ke dunia (berinkarnasi) untuk menebus manusia yang berdosa. Di lain pihak, Injil Markus tidak berangkat dari teologi inkarnasi, melainkan memahami baptisan Yesus di sungai Yordan sebagai pengangkatan manusia Yesus ke dalam kedudukan Putra Allah [Sonship of God], yang terjadi dengan turunnya Roh Kudus dalam wujud burung merpati. Jadi sampai di sini sudah ada dua pendekatan yang berbeda.

Situasinya menjadi makin rumit ketika muncul konsep tentang pribadi ilahi kedua yang khas sebagaimana terlihat dalam diri Yesus; sedangkan Roh Kudus tidak dilihat sebagai tokoh berpribadi, melainkan sebagai kuasa/kekuatan, dan digambarkan hanya dalam wujud burung merpati atau lidah api. Dengan demikian, Roh Kudus untuk sebagian besar terdorong ke belakang di dalam kesadaran dan liturgi Kristen sehari-hari.

Masuknya tema-tema Neoplatonik

Di dalam Injil Yohanes terdapat petunjuk-petunjuk awal dari konsep Kristus sebagai Logos, “Sabda”, yang sudah ada pada awal segala zaman. Di bawah pengaruh filsafat Neoplatonisme yang datang belakangan, tradisi ini menjadi sentral di dalam teologi spekulatif. Orang memikirkan bagaimana mempertemukan prinsip “keesaan Allah” dengan “triplisitas” (rangkap tiga) manifestasi keilahian. Masalah ini dijawab dengan menggunakan metafisika keberadaan [being] dari filsafat Neoplatonisme.

Menurut filsafat Neoplatonisme, Allah yang transenden, yang berada di atas segala keberadaan, di atas segala rasionalitas, dan di atas segala konseptualitas, berangsur-angsur melepaskan transendensi keilahiannya. Pada tindakan awal dari proses sadar-diri, Logos menyadari dirinya sebagai batin ilahi (Yunani: nous). (Bandingkan ini dengan ta =ayyun awwal dari Ibn Arabi, dan alam wahdatiyah [#2] dari Mas Winarno.) Batin ilahi, yang juga disebut akal budi semesta yang bersifat ilahi, ini oleh filsuf Neoplatonik, Plotinus, dinamakan “Putra” yang muncul (datang) dari Bapa.

Langkah berikut dari proses Allah-transenden menjadi sadar-diri adalah munculnya alam ilahi [divine world] di dalam batin ilahi [nous], yakni ide tentang alam semesta dengan wujud-wujud individualnya sebagai isi kesadaran ilahi. (Bandingkan ini dengan ta =ayyun tsani dari Ibn Arabi, dan alam wahidiyah [#3] dari Mas Winarno.)

Di dalam filsafat Neoplatonisme, baik nous maupun ide alam semesta disebut hipostasis (emanasi, pembabaran, pengejawantahan ke “bawah”) dari Allah yang transenden. Teologi Kristen belakangan meminjam dari filsafat Neoplatonik ini – metafisika substansi serta doktrin hipostasis- sebagai titik tolak untuk memahami hubungan antara “Allah Bapa” dan “Allah Putra”. Hubungan itu ditafsirkan menurut doktrin hipostasis Neoplatonik. Di sini juga terkandung tafsiran Kristologi spekulatif yang paralel dengan spekulasi Neoplatonik tentang Logos.

Kesulitan dengan Neoplatonisme

Kesulitan bagi orang Kristen dalam meminjam dari Neoplatonisme ialah karena dalam doktrin hipostatisasi tersirat adanya sesuatu yang “berkurang” dari Allah yang transenden ketika beremanasi menjadi Logos dan seterusnya ke bawah; ada sesuatu yang “melemah”, yang inheren di dalam proses yang berlangsung secara hirarkis itu. Derajat keilahian itu makin lama makin berkurang dengan makin mendekatnya keberadaan ilahi itu kepada materi. (Di dalam filsafat Neoplatonisme, materi di anggap sebagai bukan-keberadaan [nonbeing].)

Jadi, dengan mencangkokkan doktrin hipostasis Neoplatonik kepada tafsiran Kristiani tentang Trinitas, terdapat bahaya bahwa berbagai manifestasi Allah itu – sebagaimana dirasakan dalam pengalaman batin Kristen sebagai:

Bapa, Putra dan Roh Kudus- berubah menjadi hirarki tuhan-tuhan yang bertingkat-tingkat, menjadi politeisme.

Sekalipun bahaya ini dengan sadar dihindari, dan “berangkat dari Kristologi Logos” kesamaan esensi sepenuhnya dari ketiga manifestasi Allah itu ditekankan, ada bahaya lain yakni munculnya kembali triplisitas, yakni tuhan-tuhan yang setara, yang bertentangan dengan prinsip monoteisme murni.

Upaya merumuskan Trinitas: “kontroversi Arius”

Pada abad ke-3 M orang mulai sadar bahwa upaya memahami misteri Trinitas menurut teori hipostasis Neoplatonik tidak memuaskan dan malah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Puncak di mana kesulitan dasar itu mencuat secara teologis dan eklesiastik (kelembagaan gereja) ke permukaan secara mencolok adalah apa yang disebut “kontroversi Arius”.

Arius termasuk aliran teologi Antiokhia, yang menekankan historisitas dari manusia Yesus. Dalam teologinya, Arius mempertahankan pemahaman formal tentang keesaan Allah, persis seperti ditekankan oleh doktrin Tauhid dalam Islam, dan deklarasi “Shema” dalam agama Yahudi.

Di dalam mempertahankan keesaan Allah itu, Arius terpaksa menyanggah kesamaan antara hakikat Putra dan Roh Kudus di satu pihak dengan hakikat Allah Bapa di lain pihak. Paham ini ditekankan oleh para pemikir dari aliran teologi Aleksandria yang dipengaruhi filsafat Neoplatonisme.

Dari sejak awal, kontroversi antara kedua kelompok ini bertumpu pada konsep metafisikal mengenai substansi dari Neoplatonisme -konsep itu sendiri asing bagi Perjanjian Baru- yakni pertanyaan: apakah esensi itu? Tidak heran bahwa kemudian kontroversi ini dirumuskan dalam slogan: “kesamaan esensi [dan oleh karena itu setara]” [homoousion] vs. “kemiripan esensi [dan oleh karena itu, tak sama dan tak setara]” [homoiousion] di antara berbagai pribadi ilahi itu. (Orang-orang yang sinis-macam Gibbon- berkata bahwa orang Kristen menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat tentang sebuah huruf hidup: “i” [iota] dalam “ou” vs. “iou”. Dari sinilah asal ungkapan populer dalam bahasa Inggris: “It makes not one iota of difference.” 🙂 Tapi bagi penganut kental Kristen perbedaan satu huruf itu berarti sangat penting.)

Kristologi-malaikat

Posisi dasar dari Arius adalah menyanggah kesamaan esensi dari Putra (dan Roh Kudus) dengan esensi Allah Bapa, untuk mempertahankan keesaan Allah. Dengan demikian menurut Arius, Putra menjadi “Allah kedua, di bawah Allah Bapa [subordinated]”- artinya, ia adalah Allah dalam arti kiasan belaka, oleh karena dalam dikotomi Pencipta-Ciptaan, posisi Putra berada di pihak Ciptaan, sekalipun berada pada puncak Ciptaan (merupakan ciptaan tertinggi).

Di sini Arius bergabung dengan suatu tradisi Kristologi yang lebih tua, yang telah menyebar di Roma pada awal abad ke-2 M. Menurut tradisi yang disebut “Kristologi-malaikat” ini, turunnya Putra ke bumi dipahami sebagai turunnya pemimpin malaikat ke bumi, yang menjelma menjadi manusia Yesus; dia pernah pula diidentifikasikan dengan malaikat Mikail.

Dalam Kristologi-malaikat kuno ini telah ditampilkan tekad untuk mempertahankan keesaan Allah, yang membedakan iman Yahudi dan Kristiani dari iman-iman pagan di sekitarnya. Putra bukanlah Allah itu sendiri, melainkan sebagai yang tertinggi di antara makhluk-makhluk spiritual yang tercipta; dengan demikian dia ditempatkan sedekat mungkin dengan Allah. Arius bergabung dengan tradisi kuno ini dengan tujuan yang sama: yakni mempertahankan prinsip monoteisme Kristiani terhadap segala tuduhan bahwa agama Kristen menampilkan suatu bentuk politeisme baru yang lebih halus. Kalau Yesus ciptaan juga, bagaimana dia bisa menebus ciptaan? — Athanasius Tidak ayal lagi, upaya yang dipelopori Arius untuk mempertahankan keesaan Allah membawa orang Kristen kepada suatu dilema: kalau di dalam dikotomi Pencipta-Ciptaan, Yesus berada di pihak Ciptaan, padahal Ciptaan itu memerlukan penebusan, bagaimana Yesus bisa menebus dunia? Jadi, secara keseluruhan Gereja Kristen menolak upaya formal untuk mempertahankan keesaan Allah yang dipelopori Arius itu sebagai serangan terhadap realitas penebusan. Juru bicara utama dari pihak ortodoksi gereja adalah Athanasius dari Aleksandria. Bagi dia, titik tolaknya bukanlah suatu prinsip filosofis-spekulatif, melainkan realitas penebusan, kepastian keselamatan. Menurut dia, penebusan umat manusia dari dosa dan maut hanya bisa dijamin jika Yesus adalah Allah sepenuhnya dan sekaligus manusia sepenuhnya, jika esensi Allah meresapi manusia sampai lapisan terdalam dari sumsum tulangnya. Hanya apabila Allah dalam makna esensi ilahi sepenuhnya menjadi manusia di dalam Yesus maka dapat dijamin pengilahian [deification] manusia dalam makna penaklukan dosa dan maut sebagai kebangkitan daging kembali.

Konsili Nikea (325 M)

Pada konsili Nikea, 20 Mei 35 M, tidak banyak uskup menganut pandangan Athanasius ini. Kebanyakan mengambil sikap di tengah-tengah antara Athanasius dan Arius. Namun dengan dukungan Kaisar Konstantin dan rekayasa Athanasius.(DR. Hudoyo Hupudio, M.Ph)

sumber : http://forumkristen.com/index.php?topic=5120.0

by : ariel

Selama bertahun-tahun, ada banyak tentangan terhadap gagasan yang makin berkembang bahwa Yesus adalah Allah. Dalam upaya untuk mengakhiri pertikaian itu, penguasa Roma Konstantin memanggil semua uskup ke Nicea. Yang hadir kira-kira 300, sebagian kecil dari jumlah keseluruhan.

Konstantin bukan seorang Kristen. Menurut dugaan, ia belakangan ditobatkan, tetapi baru dibaptis pada waktu sedang terbaring sekarat. Mengenai dirinya, Henry Chadwick mengatakan dalam The Early Church: “Konstantin, seperti bapanya, menyembah Matahari Yang Tidak Tertaklukkan;… pertobatannya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai pengalaman kerelaan yang datang dari batin… Ini adalah masalah militer. Pengertiannya mengenai doktrin Kristen tidak pernah jelas sekali, tetapi ia yakin bahwa kemenangan dalam pertempuran bergantung pada karunia dari Allah orang-orang Kristen.”

Peranan apa yang dimainkan oleh kaisar yang tidak dibaptis ini di Konsili Nicea? Encyclopaedia Britannica menceritakan: “Konstantin sendiri menjadi ketua, dengan aktif memimpin pertemuan dan secara pribadi mengusulkan… rumusan penting yang menyatakan hubungan Kristus dengan Allah dalam kredo yang dikeluarkan oleh konsili tersebut, `dari satu zat dengan Bapa’… Karena sangat segan terhadap kaisar, para uskup, kecuali dua orang saja, menandatangani kredo itu, kebanyakan dari mereka dengan sangat berat hati.”

Karena itu, peran Konstantin penting sekali. Setelah dua bulan debat agama yang sengit, politikus kafir ini campur tangan dan mengambil keputusan demi keuntungan mereka yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi mengapa? Pasti bukan karena keyakinan apapun dari Alkitab. “Konstantin pada dasarnya tidak mengerti apa-apa tentang pertanyaan pertanyaan yang diajukan dalam teologi Yunani,” kata A Short History of Christian Doctrine. Yang ia tahu adalah bahwa perpecahan agama merupakan ancaman bagi kekaisarannya, dan ia ingin memperkuat wilayah kekuasaannya.

Namun, tidak seorang uskup pun di Nicea mengusulkan suatu Tritunggal. Mereka hanya memutuskan sifat dari Yesus tetapi bukan peranan roh kudus. Jika suatu Tritunggal merupakan kebenaran Alkitab yang jelas, tidakkah mereka seharusnya mengusulkannya pada waktu itu?

Perkembangan Selanjutnya

Setetlah Konsili Nicea, perdebatan mengenai pokok ini terus berlangsung selama puluhan tahun. Mereka yang percaya bahwa Yesus tidak setara dengan Allah bahkan mendapat angin lagi untuk beberapa waktu. Namun belakangan, Kaisar Theodosius mengambil keputusan menentang mereka. Ia meneguhkan kredo dari Konsili Nicea sebagai standar untuk daerahnya dan mengadakan Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M. untuk menjelaskan rumus tersebut.

Konsili tersebut menyetujui untuk menaruh roh kudus pada tingkat yang sama dengan Allah dan Kristus. Untuk pertama kali, Tritunggal Susunan Kristen mulai terbentuk dengan jelas. Tetapi, bahkan setelah Konsili Konstantinopel, Tritunggal tidak menjadi kredo yang diterima secara luas. Banyak orang menentangnya dan karena itu mengalami penindasan yang kejam.

Baru pada abad-abad belakangan, Tritunggal dirumuskan dalam kredo-kredo yang tetap. The Encyclopedia Americana mengatakan : “Perkembangan penuh dari ajaran Tritunggal terjadi di Barat, pada pengajaran dari Abad Pertengahan, ketika suatu penjelasan dari segi filsafat dan psikologi disetujui.” Tritunggal mungkin sekali diterima oleh mereka yang menerima teori filsafat Plato.

Kredo Athanasia

Tritunggal didefinisikan lebih lengkap dalam Kredo Athanasia. Athanasius adalah seorang pendeta yang mendukung Konstantin di Nicea. Kredo yang memakai namanya berbunyi: “Kami menyembah satu Allah dalam Tritunggal… sang Bapa adalah Allah, sang Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; namun mereka bukan tiga allah, tetapi satu Allah.”

Tetapi, para sarjana yang mengetahui benar masalahnya setuju bahwa Athanasius tidak menyusun kredo ini. The New Encyclopedia Britannica mengomentari: “Kredo itu baru dikenal oleh Gereja Timur pada abad ke-12. Sejak abad ke-17, para sarjana pada umumnya setuju bahwa Kredo Athanasia tidak ditulis oleh Athanasius (meninggal tahun 373) tetapi mungkin disusun di Perancis Selatan pada abad ke-5… Pengaruh kredo itu tampaknya terutama ada di Perancis Selatan dan Spanyol pada abad ke-6 dan ke-7. Ini digunakan dalam liturgi gereja di Jerman pada abad ke-9 dan kira-kira tidak lama setelah itu di Roma.”

Jadi dibutuhkan waktu berabad-abad sejak zaman Kristus bagi Tritunggal untuk dapat diterima secara luas dalam Susunan Kristen. Dan dalam semua hal tersebut, apa yang membimbing keputusan-keputusannya? Apakah Firman Allah, atau apakah pertimbangan para pendeta dan politik? Dalam Origin and Evolution of Religion, E. W. Hopkins menjawab: “Definisi ortodoks yang terakhir dari tritunggal sebagian besar adalah masalah politik gereja.”

Kemurtadan Dinubuatkan

Sejarah yang tidak baik dari Tritunggal ini cocok dengan apa yang Yesus dan rasul-rasulnya nubuatkan akan terjadi setelah zaman mereka. Mereka mengatakan bahwa akan ada kemurtadan, penyelewengan, penyimpangan dari ibadat sejati sampai kembalinya Kristus, yaitu saat ibadat sejati akan dipulihkan sebelum hari manakala Allah membinasakan sistem perkara-perkara ini tiba.

Mengenai “Hari” itu, rasul Paulus mengatakan: “Sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka. ” (2 Tesalonika 2: 3, 7)

Belakangan, ia menubuatkan: “Sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.” (Kisah 20:29, 30) Murid-murid Yesus yang lain juga menulis mengenai kemurtadan ini dengan golongan pendetanya yang “durhaka.”-Lihat, misalnya, 2 Petrus 2: 1; 1 Yohanes 4:1-3; Yudas 3, 4.

Paulus juga menulis: “Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” -2 Timotius 4:3, 4.

Yesus sendiri menjelaskan siapa yang ada di balik kemurtadan dari ibadat sejati. Ia mengatakan bahwa ia telah menabur benih yang baik tetapi musuhnya, Setan, akan menabur lalang di ladang. Maka ketika muncul tunas pertama dari gandum, muncul juga lalang. Jadi, penyimpangan dari Kekristenan sejati harus diharapkan terjadi sampai tiba musim menuai, pada waktu Kristus akan membereskan perkara-perkara. (Matius 13:24-43) The Encyclopedia Americana mengomentari: “Ajaran Tritunggal dari abad ke-4 tidak dengan saksama mencerminkan ajaran Kristen yang mula-mula mengenai sifat Allah; sebaliknya, ini adalah penyimpangan dari ajaran tersebut.”

sumber :

1. Latar Belakang

Kontroversi Trinitas, yang menimbulkan pertentangan pendapat antara Arius dan Athanasius berakar pada masa lampau. Seperti diketahui bahwa para Bapak Gereja dulu, tidak mempunyai konsepsi yang jelas tentang Trinitas. Sebagian di antara mereka membenarkan Logos sebagai “akal nonmanusiawi” (impersonal reason), yang menjadi manusiawi pada saat penciptaan, sementara yang lain memandang Dia sebagai manusia yang ko-eternal dengan Bapak yang memiliki sifat esensi kekekalan, dan sebagian lagi memandangnya sebagai suruhan (subordination) atau kedudukannya di bawah Bapak Roh Kudus tidak mendapat tempat penting dalam pembicaraan mereka. Mereka membicarakan Dia (Yesus Kristus) dalam kaitannya dengan pekerjaan penebusan jiwa dan hidup manusia. Sebagian orang memandang Dia sebagai “yang tunduk” bukan hanya kepada Bapak tetapi juga kepada Anak. Tertullian adalah orang pertama yang secara gamblang menyatakan tri-personalitas Tuhan serta mempertahankan pendapat tentang keesaan substansial ketiga oang (person) tersebut. Namun dia belum mampu menerangkan dengan jelas tentang doktrin Trinitas.
Sementara itu muncullah aliran Monarkianisme yang menekankan keesaan Tuhan dan sifat ketuhanan Kristus, yang meliputi penyangkalan Trinitas (jadi Trinitas tidak diartikan seperti yang terkandung dalam arti kata tersebut). Tertullian dan Hippolytus memperjuangkan pandangan-pandangan mereka di Barat sementara Origen menentangnya habis-habisan di Timur. Mereka membela kedudukan kaum trinitarian sebagaimana diperlihatkan dalam keyakinan rasul (Kisah Rasul). Walaupun demikian, pandangan Origen tentang Trinitas tidak seluruhnya memuaskan. Dia berkeyakinan kuat bahwa baik Bapak maupun anak merupakan hipostases abadi (kekal) atau personal subsistence di dalam Tuhan. Sementara dia adalah orang pertama yang menerangkan hubungan Bapak dengan anak dengan menggunakan ide eternaI generation, dia menganggap hal ini meliputi subordinasi orang kedua (second person) terhadap orang pertama (first person) dalam kaitannya dengan esensi. Bapak berkomunikasi dengan anak dan anak adalah sebagai spesies sekunder kekekalan, yang dinamakan Theos, tetapi bukan Ho Theos. Bahkan anak kadang-kadang dipanggil sebagai Theos Deuteros. Ini merupakan cacat paling radikal dalam doktrin Origen tentang Trinitas dan memberikan batu loncatan bagi Arius. Cacat lain yang terdapat dalam pendapatnya bahwa, penciptaan anak bukanlah perbuatan perlu (necessary act) dari Bapak tetapi bersumber pada kehendak-Nya yang berdaulat. Akan tetapi dia tidak melontarkan ide suksesi temporal. Dalam doktrinnya tentang Roh Kudus dia masih mengesampingkan representasi Kitab Injil. Dia bukan nanya menempatkan Roh Kudus sebagai “bawahan” terhadap anak, tetapi dia juga mengartikannya sebagai ciptaan anak. Bahkan salah satu pernyataannya berimplikasi bahwa Dia hanyalah sebagai suata ciptaan belaka.

2. Hakikat Kontroversi

Arius dan Arianisme

Perselisihan pendapat terbesar di kalangan pemikir Trinitas adalah kontroversi pandangan Arius, karena pandangan-pandangan “anti-trinitas” yang dilontarkan Arius, seorang presbyter Alexandrux yang daya debatnya besar walaupun jiwanya atau imannya diragukan. Ide dominan Arius adalah asas monoteistis aliran Monarkianisme bahwa hanya ada satu Tuhan (tidak mempunyai anak). Ada yang tidak mempunyai asal usul, tanpa keberadaan sebelumnya. Dia membedakan antara Logos yang tetap ada di dalam Tuhan, yang merupakan kekuatan yang kekal dengan Anak atau Logos yang pada akhirnya berinkarnasi. Anak atau Logos terakhir ini diciptakan oleh Bapak yang dalam pandangan Arius berarti bahwa dia diciptakan. Dia diciptakan sebelum alam semesta ini diciptakan, dan dengan alasan ini berarti dia bukanlah esensi yang kekal. Dia hanyalah yang terbesar dan pertama di antara ciptaan-ciptaan lainnya dan melalui dialah alam semesta ini diciptakan. Karena itu dia dapat diganti, tetapi dia dipilih Tuhan demi keselamatan umat manusia, dan dia dinamakan anak Tuhan. Dalam pengangkatannya sebagai anak dialah yang disembah oleh manusia.

Dalam mendukung pandangan-pandangannya, Arius mendapatkan sejumlah ayat Alkitab yang memperlihatkan anak berkedudukan di bawah atau inferior terhadap Bapak seperti Matius 28:18, Markus 13:32, Lukas 18:19, Johannes 5:19;14:28,1.

Bantahan terhadap Arianisme

Arius mendapat bantahan pertama dari bishop Alexander yang meyakini sifat ketuhanan yang sesungguhnya dimiliki anak dan dalam waktu yang sama mempertahankan doktrin anak kekal yang diciptakan. Akan tetapi sesuai dengan perjalanan waktu, penentangnya ternyata adalah uskup Alexandria sendiri, yakni Athanasius, yang dalam sejarah dikenal sebagai tokoh kebenaran yang tegar, kukuh, dan tidak pernah ragu-ragu, Seeberg mengemukakan tiga kekuatan atau kelebihan utama Athanasius, yakni:

1. Keteguhan dan keaslian atau kemurnian karakternya;
2. Landasannya yang pasti di atas mana dia susun konsepsi tentang keesaan Tuhan;
3. Kebijaksanaannya dalam menerangkan kepada umatnya agar mengakui hakikat dan makna Kristus.

Dia berpendapat bahwa memandang Kristus sebagai ciptaan sama dengan menyangkal pandangan bahwa iman terhadap dia membawa keselamatan bagi umat manusia.

Dia sangat menekankan keesaan Tuhan dan mau mengakui doktrin Trinitas yang tidak membahayakan konsep keesaan ini. Sementara bapak dan anak sama-sama memiliki sifat atau esensi kekekalan yang sama, sesungguhnya tidak ada pembagian atau pemisahan dalam The essential being of God, dan adalah salah bila disebutkan Theos Deuteros. Tetapi di samping menekankan keesaan Tuhan, dia juga mengakui adanya tiga hipostases dalam Tuhan. Dia menolak untuk meyakini “Anak yang diciptakan sebelum yang lain diciptakan” seperti yang dianut Arius dan mempertahankan eksistensi kekal dan independen anak. Dalam waktu yang sama dia berpendapat bahwa ketiga hipostases dalam Tuhan jangan dilihat sebagai hal yang sendiri-sendiri, karena jika demikian, bisa bermuara kepada politeisme. Menurut dia, keesaan Tuhan maupun perbedaan-perbedaan dalam keberadaan-Nya paling tepat dinyatakan dengan “keesaan esensi.” Ini berarti bahwa anak mempunyai substansi sama dengan substansi Bapak, tetapi juga berarti bahwa keduanya bisa berbeda dalam aspek lain, misalnya dalam personal subsistensinya. Seperti Origen, dia mengajarkan bahwa anak adalah hasil penciptaan (begotten by generation), tetapi berbeda dari Origen, dia menerangkannya penciptaan ini merupakan tindakan kerahasiaan Tuhan, bukan sebagai tindakan yang semata-mata bergantung kepada kedaulatan Tuhan.

3. Dewan Nicaea (325 Masehi)

Dewan Nicaea dibentuk tahun 325 Masehi untuk memecahkan pertentangan pandangan ini. Persoalan atau kontroversi ini diperjelas agar pembahasannya lebih mudah. Pengikut Arius menolak pandangan tentang penciptaan eternal (penciptaan yang bebas dari dimensi waktu), sementara Athanasius mempertahankannya. Pengikut Arius mengatakan bahwa anak diciptakan dari tidak ada, sementara Athanasius mengatakan bahwa dia diciptakan dari esensi Bapak. Pengikut Arius berpendapat bahwa anak tidak sama substansinya dengan Bapak sementara Athanasius berpendapat bahwa anak adalah homoousios dengan Bapak.

Di samping kedua pihak yang bertentangan itu masih ada pihak tengah yang merupakan mayoritas yang dipimpin oleh ahli sejarah gereja, yakni Eusebius dari Caesarea, dan juga dikenal sebagai pihak Origenistik dan landasan pandangannya adalah asas-asas yang dikemukakan Origen. Pihak ini condong kepada pihak Arius dan menentang doktrin bahwa anak sama substansinya dengan Bapak (homoousios). Pihak ini mengajukan suatu pernyataan yang telah diketengahkan Eusebius, yang menyerahkan segala sesuatunya kepada pihak Alexander dan Athanasius dengan satu pengecualian yakni doktrin di atas; dan menyatakan bahwa istilah homoousios hendaknya diganti dengan homoiousios; jadi mereka mengajarkan bahwa anak sama substansinya dengan Bapak. Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya pihak Athanasius berhasil memenangkannya. Dewan Nicaea akhirnya mengeluarkan pernyataan: Kita percaya kepada Tuhan Yang Esa, Bapak yang Mahabisa, Pencipta yang tampak maupun tidak tampak. Dan percaya pada satu tuhan Yesus Kristus yang sama substansinya (homoousios) dengan Bapak dan seterusnya. Ini merupakan pernyataan yang tegas, dimana esensi anak dinyatakan identik dengan esensi Bapak;sama tingginya dengan Bapak serta mengakui Kristus sebagai autotheos.

4. Akibat-akibatnya

Dampak negatif keputusan tersebut

Keputusan yang dihasiIkan Dewan Nicaea tidak menyelesaikan kontroversi Trinitas, bahkan ternyata merupakan awal dari kontroversi tersebut. Penyelesaian yang diberlakukan Gereja dengan dukungan kerajaan tidaklah memuaskan dan juga diragukan tidak akan bertahan lama. Hal ini berakibat penentuan keimanan orang Kristen bergantung kepada pandangannya atau kekuasaan kerajaan dan bahkan bergantung kepada intrik-intrik pengadilan. Athanasius sendiri, walaupun memenangkan perdebatan, tidak puas dengan cara atau metode pemecahan masalah kegerejaan atau kerohanian seperti itu. Dia cenderung berusaha meyakinkan para penentangnya dengan kekuatan argumen-argumen yang diajukan karena dari kenyataan di atas nyatalah bahwa pergantian kaisar atau raja, perubahan suasana, bisa mengubah seluruh aspek kontroversi tersebut. Pihak yang dimenangkan sekarang bisa menjadi pihak yang dikalahkan atau dipersalahkan di kemudian hari oleh kerajaan. Dan inilah yang sering terjadi dalam sejarah selanjutnya.

Para penganut temporer semi-arianisme dalam Gereja Timur

Figur sentral terbesar dalam masalah kontroversi Trinitas pasca-Nicaea adalah Athanasius. Dia merupakan tokoh terbesar pada zaman tersebut; dia seorang cendekiawan yang pintar, karakternya teguh, dan teguh terhadap keyakinannya, serta rela mati atau menderita demi kebenaran. Gereja semakin cenderung menerima pandangan Arianisme, tetapi masih didominasi pandangan semi-arianisme, dan penguasa (kerajaan) biasanya berpihak kepada pandangan kaum mayoritas, sehingga akibatnya timbullah pernyataan atau desas-desus Unus Athanasius contra orbem yang artinya “Satu Athanasius melawan dunia.” Lima kali hamba Tuhan ini mendapat hukuman pengasingan serta mendapat perlakuan-perlakuan buruk, serta dikucilkan dari gereja.

Tantangan terhadap Pernyataan Nicaea (Nicene Creed) berasal dari beberapa pihak yang berbeda. Ujar Cunningham: “Para pengikut Arius yang lebih ekstrim mengatakan bahwa anak adalah heteroousios, substansinya tidak sama dengan substansi Bapak; yang lain menyatakan bahwa anak adalah anomoios, tidak seperti Bapak, dan sebagian lagi, yang biasanya dinamakan semi-arianisme menyatakan bahwa: dia adalah homoiousios, artinya substansinya mirip substansi Bapak; tetapi mereka semuanya menolak fraseologi Nicaea karena mereka menentang doktrin Nicaea tentang ketuhanan anak dan mereka melihat serta berkeyakinan bahwa fraseologi tersebut secara akurat dan tegas menyatakan hal itu, walaupun mereka kadang-kadang menambah-nambahkan keberatan lain terhadap pemakaian fraseologi tersebut (lihat Historical Theology I halaman 290). Aliran semi-arianisme mendapat pengikut di daerah Timur wilayah Gereja. Akan tetapi, daerah Barat mempunyai pandangan yang berbeda tentang masalah tersebut, dan mereka setia kepada Dewan Nicaea. Hal ini terutama dapat kita lihat dari kenyataan bahwa sementara Gereja Timur didominasi oleh pandangan Origen bahwa anak lebih rendah daripada Bapak, Gereja Barat sebagian besar dipengaruhi oleh pandangan Tertullian serta mengembangkan suatu jenis teologi yang lebih serasi dengan pandangan-pandangan yarg diperjuangkan oleh Athanasius. Akan tetapi, di samping itu persaingan atau rivalitas antara Roma dan Konstantinopel hendaknya diperhitungkan juga. Pada waktu Athanasius diusir dari Timur, dia diterima dengan tangan terbuka di Barat; dan Dewan Roma (341) dan Sardica (343) secara tanpa syarat mengesahkan doktrin yang diperjuangkan oleh Athanasius.

Akan tetapi, kehadirannya di Barat diperlemah serta dihambat oleh naiknya posisi Marcellus dan Ancyra dalam tokoh-tokoh teologi Nicaea. Dia kembali meyakini perbedaan antara eternal Logos dan impersonal Logos yang terdapat dalam hakikat Tuhan, yang menyatakan diri di dalam bentuk kekuatan kekal (divine energy) dalam pekerjaan penciptaan, dan Logos menjadi personal pada saat reinkarnasi; menyangkal bahwa istilah generation (kelahiran) dapat diterapkan terhadap Logos yang tidak ada sebelumnya (pre-existent Logosi) dan karena itu membatasi penggunaan nama “Anak Tuhan” hanya kepada Logos yang berinkarnasi; dan berkeyakinan bahwa pada akhir masa hidup inkarnasinya, Logos akan kembali kepada hubungan premundanenya (premundane relation) dengan Bapak. Teorinya ini jelas membenarkan tindakan para pengikut atau penganut paham Origenis atau Eusebius dalam menghadapi pandangan sabellianisme, dan karena itu juga merupakan faktor yang memperlebar perbedaan antara Barat (Roma) dengan Timur (Konstantinopel).

Ada berbagai usaha yang telah dilakukan untuk menyelesaikan perbedaan pendapat atau perselisihan tersebut. Berbagai Dewan telah mengadakan persidangan di Antiokia; yaitu dewan-dewan yang mengakui definisi-definisi yang dikeluarkan Dewan Nicaea, walaupun dengan dua pengecualian penting. Mereka mengakui konsepsi homoiousios dan kelahiran anak sebagai perbuatan kehendak Bapak. Hal ini, sudah tentu tidak memuaskan pihak Barat. Sinode-sinode dan Dewan-dewan lain mengikut, di mana pengikut Eusebius mencari pengakuan Barat akan deposisi Athanasius, dan membentuk mazhab-mazhab lain sebagai perantara. Tetapi, semua usaha ini sia-sia sampai naiknya Constantius sebagai kaisar tunggal dan dengan berbagai taktik cerdik dalam menarik para bishop Barat ke garis Eusebius pada Sinode di Arles dan Milan (355).

Pembalikan pasang

Sekali lagi terbukti bahwa kemenangan adalah hal yang berbahaya jika landasan kemenangan itu adalah keburukan. Ternyata hal serupa merupakan sinyal atau pertanda bagi kekacauan pihak anti-Nicene (penentang doktrin Nicaea). Unsur-unsur heterogen yang membentuk pihak ini, dipersatukan oleh sikap menentang mereka terhadap pihak Nicene (Nicaea). Tetapi, segera setelah tekanan-tekanan dari luar mereda, kelemahannya; yakni tidak adanya kesatuan intern menjadi semakin nyata dan menonjol. Penganut paham Arianisme dan semi-arianisme mulai berselisih, sementara kelompok terakhir ini sendiri tidak mampu bersatu. Pada Dewan Sirmium (357) ada usaha untuk mempersatukan semua pihak dengan mengesampingkan masalah-masalah penggunaan istilah-istilah tertentu seperti ousia, homoousios, dan homoiousios, dengan menyatakannya sebagai di luar jangkauan pengetahuan manusia.
Tetapi perpecahan sudah terlanjur terjadi. Para penganut Arianisme sejati mulai memperlihatkan belangnya, dan mereka memaksa penganut semi-arianisme yang paling konservatif ke dalam kamp Nicene.

Sementara itu muncullah suatu pihak baru di Nicene, yang terdiri atas orang-orang yang merupakan murid Mazhab Origenis, tetapi cenderung dikelompokkan sebagai pengikut Athanasius dan Nicene Creed (Pernyataan Nicaea) karena mereka mempunyai interpretasi yang lebih sempurna tentang kebenaran. Tokoh-tokohnya antara lain adalah Tiga Bersaudara yaitu: Cappadocians, Basil yang Agung, Gregory dari Nyssa, dan Gregory dari Nazianzus. Mereka melihat sumber kesalahpahaman di dalam pemakaian istilah hipostases; istilah ini dianggap sinonim dengan ousia (esensi) maupun prosopon (person), dan karena itu mereka membatasi penggunaan istilah ini hanya untuk arti personal subsistence dari Bapak dan anak (personal subsistence of Father and Son). Tidak seperti Athanasius yang mengambil titik tolak keesaan ousia abadi dari Tuhan (one divine ousia of God), mereka mencari titik tolak dari ketiga hipostases (person) dalam ada-kekal (divine being), dan mereka berusaha memasukkannya di dalam konsepsi ousia kekal atau ousia abadi (divine ousia). Gregory memperbandingkan hubungan ketiga person dalam Godhead dengan ada-kekal dengan hubungan ketiga orang tersebut dan dengan humanitasnya.

Dengan penekanan mereka terhadap ketiga hipostases dalam ada-kekal nyatalah bahwa mereka membebaskan doktrin Nicaea dari noda Sabellianisme di mata pengikut Eusebius, dan bahwa personalitas Logos adalah cukup jelas. Bersamaan dengan itu dipertegas dan dipertahankannya ide keesaan ketiga person tersebut di dalam Godhead serta mengilustrasikan pengertian ini dengan berbagai cara.

Perselisihan tentang roh kudus

Hingga kini, roh kudus belum banyak mendapat perhatian dan pembahasan, walaupun telah muncul berbagai opini yang simpang-siur tentang subyek tersebut. Arius berpendapat bahwa roh kudus adalah sesuatu yang pertama diciptakan oleh anak, suatu pendapat yang dalam banyak hal sesuai dengan pandangan Origen. Athanasius berpendapat bahwa esensi roh kudus sama dengan esensi Bapak tetapi pernyataan Nicene hanya mengeluarkan satu pernyataan yang tidak pasti tentang hal ini, “Dan (saya percaya) di dalam roh kudus.” Kelompok Cappadocian mengikuti atau menganut opini atau pandangan Athanasius dan dengan penuh semangat mempertahankan opini
yang menyatakan homoousios roh kudus. Hilary dari Poitiers di Barat berpendapat bahwa roh kudus sebagai pencarian ke dalam Tuhan, bukanlah sesuatu yang di luar esensi kekal (divine essence). Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Macedonius, bishop Kota Konstantinopel, yang menyatakan bahwa roh kudus adalah suatu ciptaan yang lebih rendah (subordinate) daripada anak (tunduk terhadap anak), akan tetapi pendapat ini pada umumnya dianggap heretik (berbau murtad), dan para pengikutnya digelari aliran Pneumatokis (pneuma = spirit, machomai = ucapan iblis). Pada waktu Dewan Umum Konstantinopel mengadakan pertemuan pada tahun 381, dewan ini mengumumkan bahwa mereka mengakui pernyataan Nicaea, yang dipimpin Gregory dari Nazianzus menerima perumusan berikut tentang roh kudus: “Dan kami percaya di dalam roh kudus, Tuhan Pemberi Kehidupan, yang berasal dari Bapak yang akan dimenangkan oleh Bapak dan anak, dan yang berbicara melalui para nabi.”

Penyempurnaan doktrin Trinitas

Pernyataan Dewan Konstantinopel ternyata tidak lengkap dalam dua hal: pertama, istilah homoousios tidak digunakan, sehingga konsubstansialitas roh dengan Bapak tidak dipastikan secara langsung; kedua, hubungan roh kudus dengan kedua person lain tidak didefinisikan. Pernyataan ini berimplikasi bahwa roh kudus berasal dari Bapak, sementara tidak ada sangkalan maupun pembenaran bahwa dia (roh kudus) juga berasal dari anak. Tidak ada kesepakatan pendapat tentang masalah ini. Mengatakan bahwa roh kudus berasal dari Bapak saja, seakan-akan menyangkal keesaan anak dengan Bapak; dan mengatakan roh kudus juga berasal dari anak, bagaikan menempatkan roh kudus pada kedudukan yang lebih dependen daripada kedudukan anak dan sekaligus merupakan
sangkalan akan sifat ketuhanan roh kudus itu sendiri. Athanasius, Basil dan Gregory dari Nyssa meyakini keberasalan roh kudus dari Bapak tanpa menentang doktrin bahwa roh itu juga berasal dari anak. Tetapi Epiphanius dan Marcellus dari Ancyra secara positif membenarkan doktrin ini.

Ahli-ahli teologi Barat meyakini bahwa roh kudus berasal dari Bapak dan anak; dan pada sinode di Toledo pada tahun 589, filioque yang terkenal itu ditambahkan ke dalam lambang aliran Konstantinopel (Constantinopolitan Symbol). Di Timur, perumusan akhir doktrin itu dibuat oleh Johannes dari Damascus (John of Damascus). Menurut dia, hanya ada satu esensi kekal (divine essence), tetapi ada tiga person atau hipostases. Ketiga hipostases atau person ini dipandang sebagai realitas dalam ada-kekal (divine being), tetapi satu sama lain berhubungan tidak seperti tiga orang. Mereka (ketiga orang) tersebut adalah satu dalam segala hal, kecuali dalam cara penampakannya (pola eksistensinya). Bapak dicirikan oleh non-generation, anak dicirikan oleh generation dan roh kudus dicirikan oleh prosesi (procession). Hubungan antarperson itu disebutkan sebagai satu mutual interprenetation (circumincession). Dengan tidak menyangkal penolakannya atas pandangan subordinasionisme, Johannes dari Damaskus masih menyebutkan Bapak sebagai sumber Godhead, dan menggambarkan roh kudus sebagai yang dianugerahkan Bapak melalui Logos. Ini masih tetap merupakan subordinasionisme dalam tafsir Yunani. Gereja Timur tidak pernah memberlakukan filioque Sinode Toledo. Inilah sumber perbedaan pandangan antara gereja Timur dan Barat.

Konsepsi Barat tentang Trinitas mencapai fase akhir di tangan Augustine melalui karya besarnya yang berjudul De Trinitate. Dia juga menekankan atau menitikberatkan keesaan esensi dan trinitas person tersebut. Masing-masing person tersebut memiliki esensi keseluruhan dan sebegitu jauh identik dengan esensi person lainnya. Mereka tidak seperti tiga manusia, karena masing-masing manusia hanya memiliki sebagian dari sifat generik manusia. Lebih lanjut, satu person tidak, dan tidak akan pernah terpisah dari person yang lain; hubungan kebergantungan di antara ketiga person tersebut adalah hubungan mutual. Esensi kekal dimiliki ketiga person itu dilihat dari sudut yang berbeda; yakni sebagai yang menimbulkan, yang ditimbulkan, atau yang diberi jiwa. Di antara ketiga hipostases tersebut terjalin suatu hubungan interpenetrasi dan saling-pendiaman mutual. Istilah person menurut Augustine tidak cocok untuk menyatakan hubungan di mana ketiga person itu ada saling menempati; dia tetap menggunakan istilah itu bukan untuk menggambarkan hubungan itu, tetapi untuk tidak berdiam. Dalam konsepsi ini tentang Trinitas, roh kudus diakui sebagai berasal (proceeding) bukan hanya dari Bapak, tetapi juga dari anak

Tahukah anda ayat 1 Yohanes 5:7 yang sangat terkenal? Tahukah anda bahwa itu adalah ayat palsu yang sengaja disisipkan oleh kaum Kristen Trinitarian. Bila tidak simak keterangan dibawah ini.

1. “Emphatic Dialott” karangan Benyamin Wilson
Teks yang berkaitan dengan saksi sorga (I John 5:6-…) ini tidak terdapat dalam naskah-naskah Yunani yang ditulis sebelum abad ke-15. Ia tidak ditulis oleh tokoh gereja Yunani, juga tidak ditulis oleh para pendahulu gereja latin.

2. B.M. Metzger & M.D. Coogan “The Oxford Companion to the Bible” Oxford univ press,1993, page 101-102

Erasmus menerbitkan Perjanjian Baru nya yang pertama kali dalam bahasa Yunani pada thn 1516 dan edisi ke2 tiga thn berikutnya. Diantara beberapa kritik yang sangat serius yang dialamatkan pada Bible ini adalah bahwa ia tidak memuat pernyataan Trinitas pada akhir I John yang berbunyi bahwa the Father, the Word, and the Holy Ghost: and these three are one (I John 5:7). Erasmus bersikukuh bahwa ia tidak menemukan kata2 itu dalam manuskrip Yunani manapun yang ia periksa, meskipun pada akhirnya dia menyerah dan setuju untuk menambahComma Johanneum (demikian ia dikenal) jika memang ditemukan manuskrip Yunani yang memuat itu. Tidak lama kemudian manuskrip seperti ini benar-benar diberikan kpadanya. Besar kemudian itu adalah pemalsuan, ditulis oleh biarawan Fransiscan di Oxford sekitar tahun 1520. Meskipun Erasmus kemudian benar-benar memasukkan bagian Bible itu kedalam edisi ke-3 nya, dia merasa perlu membubuhkan sebuah catatan panjang yang mengekspresikan kecurigaannya bahwa manuskrip itu adalah palsu. Semenjak masa Erasmus hanya ada 3 manuskrip Yunani yang ditemukan memuat Comma Johanneum; yang paling tua diantaranya berasal dari abad ke-12, namun kemudian bagian ini berhasil dimasukkan dalam pinggirannya oleh sebuah tangan pada abad ke-17.

Lantas bagaimana sejarah nasib ayat palsu 1 Yohanes 5:7 ini? Dalam bahasa Inggris ayat-ayat ini berhasil masuk kedalam Authorized King James Version Bible yang dicetak pada tahun 1611; tidak ada revisi kritis yang diupayakan terhadap terjemahan populer ini sampai pada tahun 1881. Edisi Authorized Version Bible edisi 1983 pun masih mencantumkan ayat palsu trinitas.

Menariknya Revised Standard Version (RSV) yang merupakan revisi Bible tahun 1946 terhadap versi Amerika 1901 yang juga merupakan edisi perbaikan 1881 dari King James Version 1611 menghapis beberapa ayat palsu Trinitas yang sangat penting bagi kaum Kristen Trinitarian.

Anda umat Kristen akan menemukan bahwa satu-satunya ayat palsu Trinitas yakni 1 Yohanes 5:7 tidak lagi mencantumkan kalimat ” the Father , the Word, and the Holy Ghost: and these three are one.”

sumber :http://www.ladangtuhan.com/komunitas/index.php?topic=5371.0;wap2

Yohaneas Christanto:

Sebuah Tinjauan Sejarah Asal Muasal Doktrin Trinitas

Pada dasarnya Kekristenan tidak dapat dipisahkan dalam sejarah dengan perjalanan bangsa Israel (Yahudi). Yesus Kristus sendiri menyatakan :

Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Yohanes 4:22)

Maka ketika menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat, Yesus Kristus menyatakan konsep keimanan yang sangat monoteis :

Jawab Yesus : “Hukum yang terutama ialah : dengarlah hai orang Israel, Tuhan (TUHAN, YHWH) Allah kita, Tuhan (TUHAN, YHWH) itu esa” (Markus 12:29)

Inilah konsep keimanan yang diajarkan kepada orang Israel sejak semula dan dituliskan oleh Musa sebagai hukum yang utama : “Shema” (Dengarlah). “Dengarlah hai orang Israel : YHWH itu Allah kita, YHWH itu esa” (Ulangan 6:4).

Dalam upaya untuk melindungi konsep Allah yang satu dari segala jenis penggandaan (multiplication), penurunan nilai (watering down), atau pencampuran adukan (amalgamation) dengan ibadah-ibadah lain diseluruh dunia, orang Israel memilih bagi dirinya sendiri ayat Kitab Suci (Ulangan 6:4) untuk menjadi pernyataan iman (credo) yang sampai hari ini menjadi bagian liturgi harian di sinagog-sinagog yang juga ditanamkan sebagai kalimat pertama yang harus dihafal oleh anak sekolah berusia lima tahun. Inilah pengakuan yang oleh Yesus dianggap sebagai “yang paling utama dari semua perintah” (Pinchas Lapide, Jewish Monotheism and Christian Trinitarian Doctrine, 1981:27)

Konsep keimanan ini pulalah yang dipahami oleh para rasul, murid-murid Yesus :

Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa … dan satu tu(h)an saja yaitu Yesus Kristus …. (1Korintus 8:6)

Oleh sebab itu pada dasarnya Kekristenan adalah agama monoteis yang sama seperti agama Yahudi, sebab Kekristenan mengakui Bapa, yaitu yang disebut Allah oleh orang Yahudi (Yohanes 8:54).

Yudaisme, lingkungan di dalam mana orang-orang Kristen purba hidup dan berasal, senantiasa merupakan agama monoteisme yang kuat. Dari Yudaisme inilah Kekristenan mewarisi monoteisme (Lohse, 1994:47)

Apa yang disebut sebagai doktrin Trinitas hingga hari ini, merupakan satu doktrin yang peristilahannya tidak dapat ditemukan di dalam Alkitab. Bahkan perdebatan awal yang sangat panas antara kaum Athanasius dan Arius (Konsili Nicea, 325) tidaklah menyinggung mengenai ketritunggalan melainkan hanya mendebatkan tentang posisi Yesus terhadap Bapa. Doktrin Trinitas sendiri belum menemukan bentuknya yang utuh hingga abad ke-5 setelah disusunnya Kredo Athanasius di Perancis Selatan (bukan disusun oleh Athanasius dari Alexandria, hanya diambil dari nama yang sama).

Tidak ada indikasi dalam Perjanjian Lama tentang pemisahan keAllahan. Ini merupakan salah tempat untuk menemukan doktrin Inkarnasi Allah atau tentang hal-hal Trinitas dalam halaman-halamannya (Encyclopedia of Religion and Ethics, Clark, 1913, jilid 6:254).

Kaum teolog hari ini telah setuju bahwa Kitab-kitab orang Ibrani tidak berisikan doktrin Trinitas (The Encyclopedia of Religion, Eliade, 1987, 15:54).

Doktrin trinitas tidak diajarkan dalam Perjanjian Lama (New Catholic Encyclopedia, Pub. Guild, 1967:306)

Sejarah teologi dan dogma Kristen mengajar kita untuk menghargai Trinitas sebagai elemen khas dari ide Kekristenan tentang Allah. Tapi di sisi lain, kita harus jujur mengakui bahwa doktrin Trinitas tidak terbentuk sebagai bagian dari orang-orang Kristen mula-mula yang menuliskan Perjanjian Baru. Tidak ada jejak dari ide seperti ini dalam Perjanjian Baru. “Mysterium logicum” (pemikiran yang misterius) ini, bahwa Allah itu tiga tetapi satu, berada sepenuhnya diluar pesan dari Alkitab. Ini adalah misteri yang Gereja letakkan dalam keimanan, tetapi tidak ada hubungan dengan ajaran Yesus dan para Rasul. Tidak ada satupun Rasul yang pernah bermimpi memikirkan bahwa ada tiga pribadi ilahi yang hubungan mutualnya dan kesatuannya menciptakan paradoks (pertentangan) yang di luar pengertian kita (Emil Brunner, Christian Doctrine of God, Dogmatics, 1950:205,226,238)

Menuju ke Doktrin Trinitas
Kekristenan mengalami aniaya yang hebat oleh para penguasa Romawi. Penganiayaan hebat terjadi pada jaman Kaisar Nero sampai Kaisar Diocletian. Tetapi setelah Kaisar Diocletian muncul seorang Kaisar baru yaitu Kaisar Konstantin Agung yang menyadari bahwa Kekristenan telah merasuk masuk ke dalam kerajaannya dan akan sangat berbahaya untuk bermusuhan dengan Kekristenan. Maka pada tahun 314, Kaisar mengeluarkan Dekrit Toleransi Milan yang mengatur tentang agama Kristen sebagai agama resmi negara. Konstantin ingin menggunakan kekuatan agama Kristen untuk secara politis menyatukan Romawi. Pengaruh budaya Yunani (Helenisme) sangat kuat masuk ke dalam dunia Kekristenan.

Maka refleksi dua tiga generasi Kristen pertama atas “fenomena” Yesus dan pengalaman umat sendiri terjadi dalam rangka alam pikir dan tradisi religius Yahudi, yang hanya sedikit terpengaruh oleh alam pikiran Yunani. Tetapi lama-kelamaan pengaruh alam pikiran Yunani bertambah besar. Sarana pemikiran yang mula-mula Yahudi semakin menjadi Yunani. Maka iman kepercayaan Kristen yang mula-mula ditampung dalam gagasan dan istilah Yahudi lama-kelamaan dipindahkan kepada gagasan Yunani. Ada bentrokan antara alam pikiran Yahudi Kristen semula dengan alam pikiran Yunani Kristen kemudian, dan antara iman kepercayaan Kristen dan alam pikiran Yahudi dan Yunani (Groenen, 1987:36-37)

Meski demikian, Kekristenan saat itu masih sangat didominasi oleh kaum Kristen unitarian yang “sampai awal abad ketiga masih merupakan mayoritas yang besar” (Encylopedia Britannica, Edisi 11, Vol 23, Hal 963).
Kaisar Konstantin yang ingin menggunakan Kekristenan sebagai pemersatu politis Romawi merasa resah melihat perdebatan teologis yang telah mencapai rakyat jelata. Perdebatan besar terutama terjadi di gereja-gereja Mesir yang berpusat di kota Alexandria yaitu antara Uskup Agung Alexander dari Alexandria dan penerusnya Uskup Athanasius melawan Uskup Arius dari Alexandria yang didukung oleh Uskup Agung Eusebius dari Nicomedia. Maka Kaisar memutuskan diadakannya satu Konsili besar untuk memutuskan masalah-masalah teologis ini.
Pada saat itu terdapat setidaknya 1800 orang Uskup Kristen, 1000 orang di wilayah Romawi Timur dan 800 orang di wilayah Romawi Barat. Tetapi apa yang dikatakan sebagai Konsili Ekumene Pertama di Nicea tahun 325 itu hanya dihadiri oleh 250 – 318 orang Uskup saja. Eusebius mencatat 250 Uskup, Athanasius mencatat 318 Uskup, dan Eusthatius dari Antiokia mencatat kehadiran 270 Uskup. Artinya jumlah yang sama sekali jauh dari jumlah keseluruhan Uskup yang ada.
Uskup-uskup yang hadir terpecah dalam tiga golongan pemikiran yaitu kelompok homoousian yang menyatakan bahwa Yesus memiliki substansi yang sama (the same substance) dengan Bapa yang dipimpin oleh Uskup Alexander dari Alexandria, kelompok Arian yang menyatakan bahwa Yesus tidak mungkin sama substansinya, sekalipun sangat mulia, tetapi tetap adalah ciptaan Bapa dipimpin oleh Arius, dan kelompok yang ingin mencapai kompromi dengan menyatakan bahwa Yesus dan Bapa adalah berbeda tetapi mirip (similar) disebut kelompok homoiousians.
Pertemuan yang berlangsung sejak 20 Mei 325 itu baru dapat menghasilkan kesimpulan pada tanggal 19 Juni 325 setelah Kaisar Konstantin sendiri datang pada tanggal 14 Juni 325. Kaisar datang dengan membawa satu cohort (setara brigade) tentara Romawi. Konstantin kemudian menangkap Arius, dan kedua sahabatnya Theonas dan Secundus, para Uskup dari Libya dan mengasingkan mereka. Semua tulisan Arius dikabarkan dibakar, sekalipun tidak ada catatan resmi tentang pembakaran ini. Kesimpulan yang diambil pada tanggal 19 Juni 325 diikuti dengan kutukan (anatema) terhadap Arius dan para pendukungnya.

Kaisar nekad. Rapat itu mesti meredakan ketegangan dan menghentikan pertikaian serta menghasilkan semacam asas tunggal yang harus diterima semua pihak berselisih …. Keputusan Konsili menjadi hukum negara. Arius dan uskup-uskup pembangkang dipecat dan dibuang ke pedalaman. Tulisan-tulisan Arius dibakar dan siapa yang mempunyai tetapi tidak menyerahkan terancam hukuman mati (Groenen, 1992:131)

Kesimpulan konsili dibacakan oleh Hosius dari Cordoba yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah “Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah sebenarnya dari yang sebenarnya”. Bahwa Yesus Kristus bukan diciptakan tetapi sama kekalnya dengan bapa (co-substantial) dan berasal dari substansi yang sama (homoousius). Konsili juga memutuskan untuk mengganti perayaan Paskah dari Passover Yahudi kepada Easter. Motivasinya menurut catatan Theodoret adalah pendapat Kaisar untuk menjauhkan perayaan dari tradisi Paskah Yahudi yang telah menyalibkan Yesus Kristus pada hari raya mereka itu. Hal tentang Roh Kudus sama sekali tidak dibicarakan oleh Konsili.

Konsili diakhiri dengan “pesta” bersama Kaisar Konstantin pada tanggal 25 Agustus 325. Tiga bulan kemudian dua uskup yang menyampaikan ide kompromi dan tidak sepenuh hati mendukung kredo Nicea yaitu Eusebius dari Nicomedia dan Theognius dari Nicea diasingkan juga.
Tetapi Kaisar rupanya menyadari bahwa kaum Athanasian tidak mendapat simpatik penuh. Maka pada tahun 328, Kaisar mengijinkan pulang para uskup Unitarian (Arian dan Eusebian) yang diasingkan. Tahun 336 di kota Konstantinopel diadakan pertemuan Uskup se Romawi Timur yang memutuskan bahwa ajaran Arius benar dan ortodoks. Tahun 337, Kaisar Konstantin yang banyak bermain dalam penentuan keputusan di Konsili Nicea baru dibaptis menjelang ajalnya, bahkan Kaisar dibaptis oleh seorang uskup Unitarian yaitu Eusebius dari Nicomedia. Sungguh ironi.
Athanasius yang menyadari bahwa sekarang dirinya berposisi kalah, melarikan diri dari Alexandria, Mesir ke Roma di kawasan Barat yang cenderung lebih mendukung konsep homoousius pada tahun 339. Tahun 341 di Antiokia disusunlah dokumen kredo Arian untuk menangkal kredo Nicea. Pada pertemuan tahun 343 di Sardica, uskup-uskup gereja di Romawi Timur menghendaki penyingkiran selamanya Athanasius dari kedudukan Uskup Alexandria. Tetapi Athanasius justru berhasil memainkan peran politisnya dan kembali menguasai Keuskupan Alexandria tahun 346. Keadaan belumlah tenang bagi kaum Athanasian ketika dalam pertemuan di Sirmium (357) dihasilkan kesimpulan bahwa Bapa lebih besar daripada Anak, dan dalam pertemuan di Antiokia (361) kesimpulan Arian dianggap benar.
Keadaan baru benar-benar mantap bagi kaum pendukung ide homoousius ketika Kaisar Theodius I naik tahta dan mengadakan Konsili Konstantinopel tahun 381. Di bawah pengaruh Basil dari Kapadokia, Gregory dari Nissa, dan Gregory dari Naziansus maka Konsili memutuskan untuk merevisi kredo Nicea. Mereka memasukkan Roh Kudus sebagai “sang Tuhan, Pemberi Hidup, Yang ada dari Bapa, dan bersama dengan Bapa dan Anak, Dia harus disembah dan dimuliakan”. Kaisar kemudian mengeluarkan dekrit bahwa doktrin Trinitas ini adalah doktrin sah dari agama resmi Kekaisaran dan semua penjelasan harus mengacu daripadanya. Dekrit ini diikuti dengan kutukan terhadap semua penganut Arian dan penentang kepribadian Roh Kudus.
Kenyataannya suku-suku di perbatasan wilayah Romawi masih menganut paham Unitarian. Orang-orang Gothic yang telah mencetak Alkitab mereka tahun 351, bersama dengan suku Heruli, Vandal, Suevi (Swiss) demikian juga dengan suku-suku Teutonic dan Jerman. Inilah yang akan memicu perang penyerbuan suku-suku “barbar” ke wilayah-wilayah Romawi.
Doktrin trinitas belum benar-benar diterima secara luas, hingga akhirnya diadakan Konsili Kalkedon (451) untuk menekankan kembali keimanan kepada Trinitas dan dalam Konsili inilah ditetapkan bahwa Yesus adalah “impersonal human nature”. Yesus adalah Allah yang tinggal dalam tubuh manusia. Maka Trinitas menjadi iman sah agama negara Romawi, yaitu Kekristenan.

Mencari Kembali Akar Iman Kita
Dengan melihat bahwa untuk menjadikan Yesus, Allah yang setara dengan Bapa dibutuhkan waktu hingga tahun 325 di bawah kekuatan cohort Romawi yang dipimpin Kaisar Konstantin; dan bahwa untuk menjadikan Roh Kudus, Allah ketiga yang setara dengan Bapa dan Anak dibutuhkan waktu hingga tahun 381 di bawah ancaman Dekrit Kaisar Theodius I; dan bahkan untuk memantapkan Trinitas diperlukan waktu hingga tahun 451, yang itupun masih disertai dengan gempuran suku-suku barbar Unitarian yang memberontak terhadap Romawi; Maka kita perlu sungguh melacak akar iman Kekristenan kita yang sesungguhnya.

Ketika pikiran Yunani dan Romawi, bukannya alam pikir Yahudi, yang mendominasi Gereja, maka terjadilah bencana yang oleh karenanya Gereja tidak pernah pulih baik dalam pengajaran maupun praktek-prakteknya (H.L. Goudge, Judaism and Christianity)

Seorang penulis yang lain Macculay menyatakan : “Di abad kelima masehi, Kekristenan telah menaklukkan kekafiran, dan kekafiran meracuni (menginfeksi) Kekristenan”.

Sungguh merupakan pekerjaan rumah yang besar bagi kita untuk menemukan kembali apa yang Yesus maksudkan dengan menyatakan : “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3). Ini adalah pernyataan iman yang murni dari Sang Mesias, dan bukan pernyataan iman yang dituliskan oleh para Teolog ratusan tahun setelah Yesus, yang sebenarnya mereka tidak pernah melihat Allah (Yohanes 1:18).

Satu hal yang harus kita pahami adalah bahwa tidak ada sumber lain yang dapat membantu kita untuk memahami pemahaman yang benar akan Allah dan akan Yesus Kristus selain daripada Alkitab sendiri. “… FirmanMu adalah kebenaran” (Yohanes 17:17) adalah ajaran yang datang dari Sang Guru Agung, Yesus Kristus. Alkitab ini bukanlah buku misterius yang hanya dapat dipahami oleh para Teolog, tetapi merupakan kebenaran sederhana yang Yesus Kristus sendiri katakan : “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Matius 11:25).

Selamat mencari akar iman kita yang sebenarnya.

Posted in diskusi bebas, kristen | Leave a Comment »

pengetauan dibalik AQ

Posted by kosongan pada | 30 |Desember| 2008 |

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2007/08/29/injil-atau-al-quran-sesuai-ilmu-pengetahuan/

1). ASTRONOMY

1. QS 21 : 30,33

Dikatakan bahwa bumi dan langit pernah bersatu dan kemudian terbelah. Ini sesuai dengan pendapat para ahli bahwa alam semesta terbentuk dari suatu ledakan besar. Ada satu nebula utama yang terpecah karena ada ledakan besar yang menyebabkan terbentuknya Bintang, Matahari & Bumi tempat kita berpijak. 1400 tahun sebelum para ahli menemukan, Al-Quran sudah mengatakan.

2.  QS 51 : 47

Bahwa Matahari dan Bulan beredar menurut garis edarnya

3. QS 10 : 5

“Dialah (Allah) yang menciptakan Matahari bersinar terang dan Bulan bercahaya. Dan yang menentukan perjalanannya, supaya kamu bisa mengetahui bilangan tahun dan dapat menghitung (waktu). Allah tidak menciptakan itu semua kecuali dengan kebenaran.. Dia bermaksud hendak menerangkan tanda-tanda (Kekuasaan-Nya) kepada kaum yang mau mengetahui”.

### Maksud dari ayat ini bahwa Matahari menghasilkan (memproduksi) cahaya dan Bulan hanya memantulkan cahaya dari matahari. Matahari dan Bulan digunakan untuk Kalender ###

4. QS 32 : 5

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu”

###Orang Islam melakukan perhitungan waktu dengan hitungan bulan [moon]. Satu tahun menurut perhitunganmu terdiri atas 12 bulan [month], dengan
setiap bulan [month] menunjukkan satu kali revolusi bulan [moon] terhadap bumi.

Selama ini kita menganggap kala revolusi bulan adalah 29.53 hari, yaitu waktu antara fase sinar matahari yang sama pada bulan. Padahal selang waktu itu dipengaruhi juga oleh bergeraknya bumi mengitari matahari. Kala revolusi bulan sendiri, yaitu waktu berputarnya bulan tepat 360 derajat mengelilingi bumi, adalah 27.321661 hari, atau 655.71986 jam. Kala rotasi bumi juga bukan 24 jam [yang juga dihitung berdasarkan fase sinar matahari], melainkan 23 jam 56 menit 4.0906 detik, atau
86164.0906 detik.

Sekarang, kalau “satu hari” bagi “Sang Urusan” itu sama dengan “seribu tahun” bagi “perhitungan bulan”, maka perbandingan kecepatan sang urusan dengan kecepatan bulan adalah 1000 kali 12, jadi 12000 bulan lamanya.

C t = 12000 x L

C = kecepatan sang urusan
t = kala rotasi bumi = 86164.0906 detik
L = jarak yang ditempuh bulan dalam satu revolusi

Kalau kecepatan bulan kita notasikan dengan V,
maka :

V = 2 x π x R / T

R = jejari lintasan bulan terhadap bumi = 384264 km
T = kala revolusi bulan = 655.71986 jam

V = 3682.07 km/jam –> disetujui oleh NASA

Ada hal lain yang harus kita hitung. Menuruti Einstein, kita harus mengeliminasi faktor gravitasi matahari. Gravitasi matahari membuat bumi mengelilingi matahari dengan kala revolusi 365.25636 hari. Satu
kali revolusi bulan, 27.321661 hari, telah membuat bumi berputar sebesar α = 27.321661/365.25636360 derajat = 26.92848 derajat. Putaran ini harus dieliminasi. Kecepatan bulan tanpa putaran terhadap matahari bukan lagi V, melainkan (V X cos α)

L = V x cos α x T

Tapi :

C t = 12000 x L

Maka :

C = 12000 x V x α x T / t
= 12000 x 3682.07 km/jam x 0.89157 x 655.71986 jam / 86164.0906 detik
= 299792.5 km/detik

Artinya Al-Quran mengatakan bahwa kecepatan cahaya itu = 299792.5 km/detik.

———————————————————————-

Untuk perbandingan :
1. Hasil hitung kita : C = 299792.5 km/detik
2. US National Bureau of Standards: C =
299792.4574 + 0.0011 km/detik
3. British National Physical Lab: C = 299792.4590 +
0.0008 km/detik
4. General Conf on Measures: 1 m = jarak cahaya
selama 1/299792458 detik

———————————————————————-

Formulasi ini diturunkan dari wahyu yang diterima manusia, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, yang hidup di tengah masyarakat ummi di gurun pasir sekitar 1400 tahun yang lalu. Jadi, sungguh tidak wajar kalau sebagian dari kita masih bisa beranggapan bahwa Ia (Muhammad saw) mengada-adakannya.###

2) PENCIPTAAN MANUSIA

QS 96 : 2, QS 23 : 12-14, QS 22 : 5, QS 32 : 8, QS 76 :

Dikatakan bahwa manusia diciptakan dari sari pati tanah, lalu menjadi air mani yang bercampur dengan telur dalam rahim wanita, lalu menjadi seperti lintah (sesuatu yang lengket), lalu menjadi segumpal darah, lalu menjadi sepotong daging, lalu dalam sepotong daging diberi tulang, tulang dibungkus daging menjadi makhluk hidup (manusia)

#  Orang barat menuduh Al-Quran meniru dari Hipocrates tentang Embryology. Perlu diketahui bahwa Embryologi menurut Hipocrates tidak ada proses seperti lintah dan gumpalan darah. Boleh dibilang apa yang dikatakan Hipocrates ada yang betul tapi banyak juga yang salah  #

3). HIDROLOGY

1. QS 86 : 11, QS 30 : 48

Dikatakan tentang proses Epavorasi (proses hujan). Bahwa Allah mengutus angin, lalu angin itu menghalau awan, sehingga terkembang diatas langit sebagaimana yang Ia kehendaki dan menjadikannya kepingan terpisah-pisah, lalu turunlah hujan dari celah-celah awan.

2. QS 39 : 21, QS 23 : 18, QS 30 : 24, QS 86 : 11, QS 15 : 22, QS 7 : 57, QS 13 :17, QS 25 : 48-49, QS 36 : 34, QS 45 : 5, QS 50 : 9, QS 56 : 68-70, QS 67 : 30, QS 25 : 61

Dikatakan bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu dialirkan didalam bumi menjadi sumber-sumber air. Dan dengan air hujan dan tanah disuburkannya bumi dan juga menjadi air minum.

4). AYAT-AYAT LAINNYA

1. QS 31 : 10

Bahwa Allah menciptakan langit tanpa tiang.

2. QS 78 : 6-7, QS 88 : 19, QS 79 : 32, QS 21 : 31, qs 16 : 15

Bumi dijadikan hamparan dengan gunung-gunung sebagai pancangnya. Gunung-gunung ditegakkan sebagai pasak dengan teguh untuk menstabilkan bumi untuk mencegah dari goncangan.

(Perlu diketahui bahwa gunung yang menjulang itu hanya ujungnya, bagian dasarnya (akarnya) adalah pasak yang sangat dalam yang mencegah daratan bergeser-geser. Bahwa bumi kita dulu pernah satu benua terus terpecah-pecah jadi benua-benua dan pulau-pulau)

3. QS 25 : 53

Dikatakan bahwa Allah-lah Zat yang membuat dua samudra mengalir dengan bebas, yang satu (bengawan/sungai) airnya tawar dan segar dan yang lain (lautan) airnya asin lagi pahit. Dan diantara dua samudra itu, Dia membuat penghalang dan batasan yang tidak bisa ditembus.

4. QS 55 : 19-20

Dikatakan bahwa Allah telah membuat dua samudra (laut dan sungai) mengalir dengan bebas dan dua-duanya bertemu. Diantara keduanya terdapat tabir atau penghalang sehingga tidak bisa bercampur.

5. QS 4 : 56

Bahwa kulit bisa merasakan rasa sakit meski otak sebagai pusat perasa

Oleh : Dokter Zakir Naik dan sumber lainnya.

BESI —————————————————————-

sumber : http://www.keajaibanalquran.com/physics_iron.html

Besi adalah salah satu unsur yang dinyatakan secara jelas dalam Al Qur’an. Dalam Surat Al Hadiid, yang berarti “besi”, kita diberitahu sebagai berikut:

“…Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ….” (Al Qur’an, 57:25)

Kata “anzalnaa” yang berarti “kami turunkan” khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah kata ini, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit”, kita akan menyadari bahwa ayat ini memiliki keajaiban ilmiah yang sangat penting.

Ini dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar.

Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova”. Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.

Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut: Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al Qur’an diturunkan.

Posted in diskusi bebas, islam | Leave a Comment »