kosong

berfikir untuk hidup yang lebih baik , dan beriman untuk tuhan yang benar

Archive for the ‘kristen’ Category

Apologetika Terhadap Perayaan Natal

Posted by kosongan pada | 23 |April| 2013 |

Updated 26 Desember 2011

Tulisan yang dicetak miring, dibold dan berwarna merah adalah tulisan yang berjudul Sejarah Natal, oleh Herbert W. Armstrong. Berikut ini adalah apologi [pembelaan iman] atas tulisan tersebut.

Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran “Yesus”. Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katholik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu ? Sebab Natal itu bukan ajaran Bibel (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katholik Roma pada abad ke-4 ini berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.

Iman Katolik tidak hanya didasarkan pada kitab suci saja. Karena itu tidak masalah apabila perayaan Natal tidak terdapat di Kitab Suci, dan tentu saja perayaan Natal tidak berasal dari upacara adat penyembah berhala.

Terdapat tiga teori mengapa hari Natal dirayakan tanggal 25 Desember.

The first theory is the simplest. An old story says that, in about the year 350, Pope Julius I looked up the date of Jesus’ birth in the census records. Certainly there is nothing outlandish in the idea of census records holding that information even three and a half centuries later. We know from Luke’s Gospel that Jesus was born during a census. The Romans, with their almost compulsive love of order, might well have kept those records forever in some bureaucratic hole in Rome.

The second theory has it that Christians, unable to stamp out a pagan midwinter celebration, simply took it over. Throughout history, people have celebrated the passing of the shortest day in the year, the solstice. When the days begin to lengthen again, it means that the death of winter will certainly pass, and the world will be reborn in spring.

The third theory to account for the specific date December 25 is that it corresponded with the early Church’s notion of Jesus’ perfect life. Tradition had it that Jesus died on March 25. In order for His life to be appealingly perfect, the theologians reasoned, He must also have been conceived on March 25, then born exactly nine months later – (Source)

 

Update :

Penjelasan Paus Benediktus XVI bahwa 25 Desember adalah tanggal historis kelahiran Yesus Kristus :

Tahun 2000, Joseph Cardinal Ratzinger menulis dalam bukunya The Spirit of the Liturgy bahwa tradisi Yahudi menganggap bahwa Abraham hampir mengurbankan Ishak di gunung Moriah pada 25 Maret. Gunung Moriah berada di Yerusalam (lih. 2 Chron 3:1), dan 25 Maret adalah tanggal dimana Kristus disalib pada kalender  solar (Paskah seperti Paskah Mosaic dikalkulasi oleh fenomena lunar). Anda bisa melihat bahwa ada hubungan geografis dan temporal disini. Kita memahami bahwa Bapa dengan rela mempersembahkan Putra-Nya yang tunggal.

Kardinal Ratzinger juga mencatat bahwa 25 Maret merupakan hari pertama penciptaan. Karenanya, 25 Maret memiliki makna kosmis.  Hal yang penting adalah bahwa 25 Maret adalah tanggal tradisional untuk penciptaan dunia, untuk kurban Abraham, dan untuk kurban Allah Putra.

Pada halaman 107-108, Kardinal Ratzinger membuat observasi bahwa kematian Kristus juga dianggap sebagai hari dimana Ia dikandung oleh Roh Kudus dalam rahim Perawan Maria. 25 Maret, adalah hari dimana Malaikat Gabriel memberi kabar sukacita pada Bunda Maria. Tambah 9 bulan maka anda akan tiba pada 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus.

Ratzinger juga membuang apa yang ia sebut “teori-teori lama” yang mengajarkan bahwa 25 Desember dipilih untuk menggantikan hari raya pagan. Namun Bapa Suci mengakui 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus Tuhan yang sebenarnya. Ia mengembangkan bahwa kesejajaran makna ini memiliki makna liturgis.

Paus St. Leo Agung berbicara tentang makna kelahiran Kristus pada musim salju :

Tapi kelahiran Yesus ini yang disembah di surga dan diatas bumi ditunjukkan bagi kita pada hari ini, dengan terang awal yang masih memancarkan sinarnya di alam, [terang] ini memperlihatkan bagi indra kita kegemilangan misteri yang menakjubkan ini (St. Leo Magnus, Sermo 26)


Argumen Berdasarkan Tulisan Bapa Gereja
Kutipan paling eksplisit berasal dari St. Agustinus, yang menunjukkan bahwa Yesus lahir pada 25 Desember :

For Christ is believed to have been conceived on the 25th of March, upon which day also he suffered; so the womb of the Virgin, in which he was conceived, where no one of mortals was begotten, corresponds to the new grave in which he was buried, wherein was never man laid, neither before him nor since. But he was born, according to tradition, upon December the 25th.” 

“Karena Kristus dipercaya bahwa Ia dikandung pada tanggal 25 Maret, juga pada tanggal itu Ia menderita; sehingga rahim sang Perawan, dimana Ia diakndung, dimana tidak ada manusia lain yang dilahirkan dari rahim tersebut, berhubungan dengan makam baru dimana Ia dikubur, tempat dimana tidak pernah manusia dibaringkan, tidak sebelum Ia juga sejak itu. Tapi Ia lahir, menurut Tradisi, pada 25 Desember” –

– Saint Augustine, De trinitate, Book 4, 5.


Berikut ini kutipan dari Bapa Gereja yang menyatakan bahwa kelahiran Kristus dirayakan tanggal 25 Desember (dikutip dari Indonesian-Papist) : 

Bapa Gereja Teofilus, Uskup Caesarea di Palestina (115-181 M), yang hidup dalam masa pemerintahan Kaisar Commodus mungkin adalah orang pertama yang secara eksplisit memberikan pernyataan mengenai Natal:

“Kita harus merayakan hari kelahiran Tuhan kita pada tanggal 25 Desember yang akan berlangsung.” [Magdeurgenses, Cent. 2.c.6. Hospinian, de Origin Festorum Christianorum]

Sextus Julius Africanus
 (220 AD), walau tidak berbicara mengenai adanya perayaan Natal, ia secara implisit menyatakan bahwa 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Kristus. Dalam bukunya Chronographia, ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tanggal 25 Maret berdasarkan kronologi Yahudi dan sejarah Kristen Perdana. Ia mengatakan bahwa pada tanggal 25 Maret ini, Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia; hal ini membuat sense simbolis yang sempurna karena pada saat Penjelmaan ini, penciptaan yang baru dimulai. Berdasarkan Julius Africanus, karena Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia sejak masa Dia dikandung oleh Perawan Maria, hal ini berarti setelah 9 bulan, Sang Firman Allah yang telah menjadi manusia itu lahir pada tanggal 25 Desember.

St. Hipolitus dari Roma
, pentobat yang dulunya seorang anti-Paus pada masa penggembalaan Paus St. Zephyrinus, Paus St. Kallistus I, Paus St. Urbanus I dan Paus St. Pontianus, secara eksplisit juga menyatakan bahwa Yesus Kristus lahir pada tanggal 25 Desember:
Untuk kedatangan pertama Tuhan kita dalam daging, [terjadi] ketika Ia lahir di Betlehem,eight days before the kalends of January (25 Desember), hari keempat (Rabu) dalam minggu ketika Augustus (kaisar Romawi) dalam 42 tahun [pemerintahannya] tetapi dari Adam 5500 tahun. Ia (Yesus) menderita pada [usia] 33 tahun, eight days before the kalends of April(25 Maret), tahun kelimabelas Kaisar Tiberius ketika Rufus dan Roubellion dan Gaius Caesar, untuk keempat kalinya, dan Gaius Cestius Saturninus menjadi konsul [di Roma]. (St. Hippolytus of Rome (c. 225 AD), Commentary on Daniel 4.23.3)
Sedangkan, Bapa Gereja Yohanes, Uskup Nicea, memberitahu kita bahwa Paus St. Julius I (336-352)dengan bantuan tulisan-tulisan dari sejarawan Yahudi,Josephus, telah memastikan bahwa Kristus lahir pada tanggal 25 Desember.
Pada akhir abad keempat, Uskup Epifanius dari Salamis (salah satu sejarahwan Gereja) memberikan kronologi kehidupan Tuhan Yesus Kristus di mana menurut Kalender Julian (saat ini Gereja Katolik Roma menggunakan Kalender Gregorian) tanggal 6 Januari adalah hari kelahiran Tuhan dan 8 November adalah hari pembaptisan Tuhan di Sungai Yordan.
Pada permulaan abad kelima, biarawan terpelajar, St. Yohanes Kassianus dari Konstantinopel, pergi ke Mesir untuk mempelajari peraturan-peraturan biara di sana. Antara tahun 418 hingga 425, St. Yohanes Kassianus menulis laporan pengamatannya. Dia memberitahukan kita bahwa uskup-uskup di wilayah itu, pada masa tersebut, menganggap Pesta Epifani (Penampakan Tuhan) sebagai hari kelahiran Tuhan dan tidak ada perayaan terpisah dalam menghormati kelahiran Tuhan. Dia menyebut hal ini “tradisi kuno”. Kebiasaan lama ini segera memberi jalan bagi tradisi baru. Sementara mengunjungi St. Sirillus, Patriark Alexandria;

Uskup Paulus dari Emesa
 berkhotbah pada perayaan kelahiran Tuhan Yesus pada 25 Desember tahun 432 M. Natal telah diperkenalkan kepada Mesir sebelum waktu kunjungan ini, dapat dikatakan sekitar 418 dan 432 M dan peristiwa ini menjadi bukti kuat berdasarkan kalender yang telah ada.

St. Gregorius dari Nazianzus,
 Bapa Gereja dan Uskup, selama tinggal di daerah Seleucia di Isauria (Turki sekarang) merayakan Natal untuk pertama kalinya di Konstantinopel pada tanggal 25 Desember 379.

St. Yohanes Krisostomos
, Bapa Gereja dan Uskup, berkhotbah di Antiokia pada tanggal 20 Desember 386 dan karena kefasihan pewartaannya, ia berhasil mengajak umat beriman untuk menghadiri Natal 25 Desember 386. Sejumlah besar umat beriman hadir di Gereja ketika Natal dirayakan. Kita memiliki salinan khotbah St. Yohanes Krisostomos. Pada Pengantar khotbah, ia berkata bahwa ia berharap dapat berbicara kepada mereka mengenai perayaan Natal yang telah menjadi kontroversi besar di Antiokia. Dia mengusulkan kepada para pendengarnya untuk menghormati dan merayakan Natal dengan tiga dasar: Pertama, karena Natal telah menyebar dengan cepat dan pesat dan telah diterima dengan baik di berbagai daerah. Kedua, karena waktu pelaksanaan sensus pada tahun kelahiran Yesus dapat ditentukan dari berbagai dokumen kuno yang tersimpan di Roma; Ketiga, waktu kelahiran Tuhan Yesus dapat dihitung dari peristiwa penampakan malaikat kepada Zakarias, ayah Yohanes Pembaptis, di Bait Allah. Zakarias, sebagai Imam Agung, masuk ke dalam Tempat Mahakudus pada Hari Penebusan Dosa Yahudi (The Jewish Day of Atonement). Hari tersebut jatuh pada bulan September menurut kalender Gregorian. Enam bulan sesudah peristiwa ini, malaikat Gabriel datang kepada Maria dan enam bulan kemudian Yesus Kristus lahir, yaitu pada bulan Desember. St. Yohanes Krisostomos menyimpulkan khotbahnya dengan sanggahan telak terhadap orang-orang yang menolak bahwa Sang Allah telah menjadi manusia dan tinggal di dunia. St. Yohanes Krisostomos, dengan mengacu pada khotbah di atas, mengatakan dengan jelas bahwa pada masa tersebut, ketika perayaan Natal diperkenalkan di Timur, Natal telah dirayakan di Roma lebih dulu.(Sumber)


Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katholik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katholik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul : Christmas, Anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut :

”Christmas was not among the earliest festivals of Church…the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to Christmas”.

Artinya : “Natal bukanlah upacara Gereja yang pertama….melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus” [selesai].

Mari kita melihat apa yang dikatakan Catholic Encylopedia : Christmas

Early celebration

Christmas was not among the earliest festivals of the Church.Irenaeus and Tertullian omit it from their lists of feasts; Origen, glancing perhaps at the discreditable imperial Natalitia, asserts (in Lev. Hom. viii in Migne, P.G., XII, 495) that in the Scriptures sinners alone, not saints, celebrate their birthday; Arnobius (VII, 32 in P.L., V, 1264) can still ridicule the “birthdays” of the gods.

Alexandria

The first evidence of the feast is from Egypt. About A.D. 200, Clement of Alexandria (Stromata I.21) says that certain Egyptian theologians “over curiously” assign, not the year alone, but the day of Christ’s birth, placing it on 25 Pachon (20 May) in the twenty-eighth year of Augustus. [Ideler (Chron., II, 397, n.) thought they did this believing that the ninth month, in which Christ was born, was the ninth of their own calenda.]…

Ini adalah kutipan yang lebih lengkap pada kalimat pertama dan kalimat kedua (lihat yang dibold). Sang penulis hanya mengutip sebagian, sehingga mengaburkan makna yang sesungguhnya. Terkesan bahwa karena Natal itu berasal dari Mesir, maka pasti berasal dari kaum pagan.

Dari kutipan diatas, memang dikatakan bahwa Natal [tidak ada] diantara festival pada masa awal Gereja. Irenaeus dan Tertullian mengabaikan dari daftar pesta mereka. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, terlihat bahwa kutipan tersebut memiliki makna yang berbeda dari yang dimaksudkan. Juga bila kita membaca kutipan Bapa Gereja diatas, paling awal perayaan Natal mungkin dirayakan sekitar tahun 100 AD.

Kalimat kedua bisa dibaca lebih lengkap di link CE. Konteks kalimat tersebut berbeda dan tampaknya penulis sengaja menggabungkan bagian kalimat tersebut untuk mendukung pernyataannya (i.e. bahwa Natal berasal dari perayaan pagan)

Liturgy and custom

Cards and presents

Pagan customs centering round the January calends gravitated to Christmas.Tiele (Yule and Christmas, London, 1899) has collected many interesting examples. The strenæ (eacute;trennes) of the Roman 1 January (bitterly condemned by Tertullian, de Idol., xiv and x, and by Maximus of Turin, Hom. ciii, de Kal. gentil., in P.L., LVII, 492, etc.) survive as Christmas presents, cards, boxes.

Kutipan diatas tepatnya membicarakan tentang budaya hadiah, natal, kartu (mungkin maksudnya kartu natal). Lalu terjemahan yang diberikan dalam kutipan tadi rasanya tidak tepat, jadi silakan bandingkan sendiri dengan bahasa inggrisnya.

Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul Natal Day; Bapak Katholik pertama mengakui bahwa :

”In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world”.

Artinya : “Di dalam kitab suci, tidak ada seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Fir’aun dan Herodes) yang berpesta-pora merayakan hari kelahirannya di dunia ini” [selesai].

Mari kita lihat kutipan dari Origen :

of all the holy people in the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day on which they were born into this world below” (Origen, in Levit., Hom. VIII, in Migne P.G., XII, 495)

Kalimat “merayakan hari kelahiran Yesus” adalah terjemahan yang keliru dari “held a great banquet on his birthday” karena hari kelahiran yang dimaksud tidak ditujukan kepada hari kelahiran Yesus.

Dulu, orang-orang lebih merayakan hari kematian mereka daripada hari kelahiran mereka di dunia ini. Nah, hari kematian tersebut merupakan hari kelahiran mereka di dunia yang baru. Silakan dibaca kutipan dari Catholic Encyclopedia : Natal Day dibawah ini

In Greek genesia came to be frequently used in connection with the annual commemoration of a dead person by sacrifices and other rites (cf. Herodotus IV, 26). This commemoration is said to have taken place not upon the anniversary of the day of death but upon the actual birthday of the defunct person (C.I.G. 3417, and Rhode, Psyche, 4th ed., I, 235). When, therefore, the Christians of Smyrna about A.D. 150 write to describe how they took up the bones of St. Polycarp, “which are more valuable than precious stones and finer than refined gold and laid them in a suitable place, where the Lord will permit us to gather ourselves together, as we are able, in gladness and joy and to celebrate the birthday of his martyrdom” (epitelein ten tou martyriou autou hemeran genethlion), it is not easy to say how far they were influenced by pre-existing pagan usages. This phrase “the birthday of his martyrdom” certainly seems to indicate the commemoration of the day on which he died, and all the subsequent history of the Church confirms the practice of keeping this as the usual feast of any saint or martyr.

None the less a certain stress was often laid in Christian sermons and in mortuary inscriptions upon the idea that the day of a man’s death was his birthday to a new life. Thus St. Ambrose (Serm. 57, de Depos. St. Eusebii) declares that “the day of our burial is called our birthday (natalis), because, being set free from the prison of our crimes, we are born to the liberty of the Saviour”, and he goes on “wherefore this day is observed as a great celebration, for it is in truth a festival of the highest order to be dead to our vices and to live to righteousness alone.” And we find such inscriptions as the following

PARENTE FILIO MERCURIO FECE
RUNT QUI VIXIT ANN V ET MENSES VIII
NATUS IN PACE ID FEBR

Where “natus in pace” clearly refers to eternal rest. So again Origen had evidently some similar thought before him when he insists that “of all the holy people in the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day on which they were born into this world below” (Origen, in Levit., Hom. VIII, in Migne P.G., XII, 495)

Jadi kutipan dari Origen tersebut mendukung pemikiran dari St. Amborse : the day of our burial is called our birthday dan all the subsequent history of the Church confirms the practice of keeping this as the usual feast of any saint or martyr. Karena itu tepatlah apa yang dikatakan Bapa Gereja Origen. Artikel dari Catholic Encyclopedia diatas sama sekali tidak membahas tentang kelahiran Kristus yang dihubungkan dengan paganisme, melainkan lebih kepada sejarah bagaimana umat Kristen merayakan hari raya martir-martir tertentu ataupun orang yang sudah meninggal pada hari kematiannya.

Encyclopedia Britanica yang terbit tahun 1946 menjelaskan sebagai berikut :

”Christmas was not among the earliest festival of the church…. It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority, it was picked up afterward from paganism”.

Artinya : “Natal bukanlah upacara gereja abad pertama. Hal ini tidak pernah diselenggarakan oleh Yesus atau para muridnya, ataupun otoritas Bibel. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan penyembah berhala” [selesai].

Semua benar kecuali kalimat yang terakhir

Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan berikut :

”Christmas…. It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…” (The “Communion”, which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ). “…A feast was established in memory of this event [Christ’s birth] in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the da of Christ’s birth existed”.

Artinya : “Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh gereja Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan harikelahrian orang tersebut…”. (”Perjamuan Suci” yang tertera dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang hari kematian Yesus). ”…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Dan pada abad kelima Masehi, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Romawi yang merayakan hari Kelahiran Sol (Dewa Matahari). Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus” [selesai].

Kutipan yang sepotong-sepotong seperti ini bisa diambil keluar dari konteksnya (seperti yang dilakukan pada kutipan dari Catholic Encyclopedia), lalu dijadikan satu kesatuan untuk mendukung posisi penulis. Lebih baik hadirkan kutipan yang secara utuh beserta link ke referensi tersebut (bila ada).

Update : Mengenai argumen “Tanggal 25 Desember adalah perayaan kelahiran Kristus yang menggantikan perayaan “Natalis Solis Invicti” (“Birthday of the Unconquered Sun”). Perlu diingat bahwa perayaan tersebut diperkenalkan oleh Kaisar Aurelian di Roma tahun 274 AD.  

Hal terpenting, tidak ada catatan sejarah untuk peryaan Sol Invictus pada 25 Desember sebelum 354 AD. Bahkan pada 354 AD, tanggal tersebut hanya menunjuk pada “Invictus” tanpa menyebutkan hari kelahirannya. Tanggal tersebut secara eksplisit menjadi ”Birthday of the Unconquered Son” dibawah pemerintahan Kaisar Yulian Si Murtad (The Apostate), yang sebelumnya beragama Kristen namun pindah menjadi paganisme romawi. Sejarah menunjkkan bahwa Mantan Kaisar Kristen (yang membenci Kristus) yang mendirikan hari libur pagan pada 25 Desember.

Mengapa hal ini penting? Karena artinya bahwa “the Unconquered Son” mungkin bukanlah dewa yang populer di kekaisaran Romawi. Hal ini menunjukkan bahwa rakyat Romawi kuno tidak perlu memikirkan hari libur the Unconquered Son” tersebut. Terlebih, tradisi perayaan 25 Desember tidak ditemukan dalam kalender Romawi sampai setelah Kristenisasi Roma. Hari kelahiran the Unconquered Son” bukan perayaan tradisional dan hampir tidak populer. Saturnalia justru lebih populer, tradisional dan menyenangkan. Hal tersebut malah menunjukkan bahwa Kaisar Julian berupaya untuk mengenalkan hari raya Pagan untuk menggantikan hari Raya Kristen pada 25 Desember! (Sumber)

Sekarang perhatikan ! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian – jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat – upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Kristen Barat, Kristen Roma, dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakan sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.

Menurut Catholic Encyclopedia, pesta Natal pertama kali di sebut dalam “Depositio Martyrum” dalam Roman Chronograph 354 [edisi Valentini-Zucchetti (Vatican City, 1942) 2:17). Dan karena Depositio Marrtyrum ditulis sekitar tahun 336, maka disimpulkan bahwa perayaan Natal dimulai sekitar pertengahan abad ke-4. Kita juga tidak tahu secara persis tanggal kelahiran Kristus, yang diperkirakan sekitar 8-6 BC. St. Yohanes Chrysostom berargumentasi bahwa Natal memang jatuh pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria adalah iman agung dan hari Atonement jatuh pada tanggal 24 September, maka Yohanes lahir tanggal 24 Juni dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember. (sumber: New Catholic Encyclopedia, Vol. 3: Can-Col, 2nd ed. (Gale Cengage, 2002), p.655-656.) (Jawaban dikutip dari katolisitas.org)

YESUS TIDAK LAHIR PADA TANGGAL 25 DESEMBER

Sungguh sangat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin [1]. Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut :

“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka : ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa : Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Kristus, di kota Daud” [selesai].

Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya, mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kitab Kidung Agung 2; dan Ezra 10:9,13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin para gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.

Adam Clarke mengatakan :

”It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain” [Adam Clarke Commentary, Vol. 5, Page 370, New York].

Artinya : “Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama” [selesai].

Adam Clarke melanjutkan :

“During the time they were out, the shepherds watch them night and day. As….the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometimes in October), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these shepherd had not yet brought home their flocks, it is presumptive argument that October had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact… See the quotations from the Talmudists in the Lightfoot”.

Artinya : “Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan Nopember, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba yang berkeliaran di padang terbuka. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan September inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti yang ada, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malan hari di padang gembalaan adalah fakta sejarah….sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud dalam bab ”Ringan Kaki” [selesai].

Ah..Adam Clarke adalah seorang methodis yang mengidentifikasi Gereja Katolik = anti Kristus. Silakan cari sumber lain yang lebih kredibel. Lalu pernyataan tentang para gembala dan ternak tidak mungkin berada diluar pada musim dingin di malam hari, sudah terjawab di artikel yang diberikan, terutama di bagian ini yang menunjukkan hal yang bertentangan dari yang dikatakan Herbert W. Armstrong :

As for the objection, “Jesus couldn’t have been born in the winter, since the shepherds were watching their flocks, which they couldn’t have done in winter”: This is really no objection. Palestine has a very mild climate, and December 25 is early enough in winter for the flocks and the shepherds to be out. The superior of our monastery, Brother Francis Maluf, grew up 30 miles from Beirut, which has the same climate as Bethlehem, both being near the Mediterranean coast, and he has personally testified to this fact.

Dan sebagai tambahan :

It is very true that December is winter time in Bethlehem or in Jerusalem. In fact, John 10:22 says that it was winter during the Feast of Dedication or Feast of the Light. The said feast is celebrated by the Jews during the 25th day of Chislev or December (1 Macc. 5:52); it marks the cleansing of the temple under the Maccabees and re-dedicating it to God and hence, it coincides with Christmas. But the problem with our Protestant friends is that, when they read that it was winter, they immediately concluded that the place must have been covered with snow! In logic, this fallacy is called the Confusion of the Absolute and Qualified Statement, that is, using a principle that is restricted in its applicability as though it were absolutely universal principle, and thus applying it to cases for which it was not intended [1] In America for example, though it is winter time during December, there are places which do not experience snow such as California. The same thing can be said about Bethlehem that although it is winter and cold, there is no snow covering the area during December. According to the International Station Meteorological Climate Summary (ISMCS,) the average temperature in Bethlehem is 49 Fahrenheit[2]. The average low i.e. during nighttime is 43 Fahrenheit[3] Therefore it is a mild winter, and not an icy winter, that occurs in Bethlehem during the month of December; so to our dearly separated brethren, the HALO-HALO argument is now a melted argument!

The issue that it is too cold for shepherds to go out during December night is partially addressed above. The temperature, as mentioned earlier, is tolerable for shepherds to withstand the coldness of the night. Moreover, Harper’s Encyclopedia of Bible Life [(C) 1971, pg. 7] explains that what is unique about Israel’s weather is that, winter season is NOT the “dead” season when plants die because of low temperature. On the contrary, it is the time of year when dormant vegetations are revived after the “dead” season of summer by the intermittent winter rains starting in mid-October and ending in mid-March. This being the case, and considering that the surrounding land just went through the dry season, depriving the sheep of sufficient food for months, it is very likely and logical that the shepherds would let their sheep out in the field during this season of revived vegetation so as to feed their flock. – (Source)


Intinya, musim dingin di Bethlehem masih memungkinkan bagi hewan-hewan untuk berada diluar. Superior Brother Andre Marie,  penulis artikel In Defense of Christmas, yaitu Brother Francis Maluf, memberi kesaksian terhadap hal ini seperti yang bisa dibaca di paragraf terakhir artikel teresbut.

Dalam ensiklopedi manapun atau juga dalam kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopdia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.]

Namun dari Catholic Encyclopedia kita juga dapat mempelajari bagaimana tanggal 25 Desember dijadikan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur – yang diperkirakan jatuh pada bulan September – atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah

Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya Dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.

Silakan baca dan pelajari semua link yang diberikan

Proses Natal Masuk ke Gereja

NewSchaff – Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang berjudul “Christmas” menguraikan dengan jelas sebagai berikut :

“How much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec. 25) following the Saturnalia (Dec. 17-24), and celebrating the shortest day of the year and ‘the new sun’…can not be accurately determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by Christian influence… The pagan festival with its riot and marrymaking was so popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ’s birthday was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival”.

Artinya : “Sunguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan pagan/penyembah berhala Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17 – 24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta perayaan menyambut kelahiran matahari baru….tidak dapat ditentukan secara pasti (jumlahnya). Adat kepercayaan pagan Brumalia dan Saturnalia sudah berurat berakar dan populer tersebut dalam adat istiadat tersebut diambil oleh Kristen. Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu, Kristen Mesopotamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan terhadap dewa Matahari” [selesai].

Perayaan Natal tidak diperoleh dan berakar dari Saturnalia

Catholic Encylopedia : Christmas

Other theories of pagan origin

The origin of Christmas should not be sought in the Saturnalia (1-23 December)nor even in the midnight holy birth at Eleusis (see J.E. Harrison, Prolegom., p. 549) with its probable connection through Phrygia with the Naasene heretics, or even with the Alexandrian ceremony quoted above; nor yet in rites analogous to the midwinter cult at Delphi of the cradled Dionysus, with his revocation from the sea to a new birth (Harrison, op. cit., 402 sqq.).

Baca juga Catholic Encyclopedia : Mithraism terutama bagian Relation to Christianity.

Update : Perayaan Natal bukan berasal dari Saturnalia (Saturnalia diarayakan pada tanggal 1-23 Desember untuk memperingati winter soltice, yang tepatnya jatuh pada 22 Desember, sedangkan Natal pada 25 Desember. Kita bisa melihat bahwa terdapat ketidakcocokan tanggal disini.)

Perlu diingat ! Menjelang abad pertama sampai abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad keempat Masehi, dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.

Pertobatan Constantine menjadi Kristen mendorong pertobatan banyak rakyatnya menjadi Kristen. Tentu saja ini dikarenakan Constantine adalah seorang Kaisar yang disegani dan dipanuti oleh rakyat. Tidaklah aneh, bahkan sangat wajar, bila rakyat satu pemerintahan mengikuti perpindahan agama dari pemimpin mereka.

Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dansangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu.

Ini didapat dari mana?

Di dalam artikel yang sama – New Schaff – Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari “Sunday” sebagai hari kelahiran dewa matahari. Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan ”Matahari”. Kemudian pada abad keempat masehi, kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-God (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan – yaitu Yesus).

Konstantin baru dibaptis menjelang kematiannya.

Catholic Encyclopedia : Constantine

When at last he felt the approach of death he received baptism, declaring to the bishops who had assembled around him that, after the example of Christ, he had desired to receive the saving seal in the Jordan, but that God had ordained otherwise, and he would no longer delay baptism.

Karena itu semasa hidupnya adalah wajar bila konstantin merayakan kelahiran dewa matahari karena saat itu ia belum menjadi Kristen. Agamanya saat itu sama dengan ayahnya.

THE CHURCH IN CRISIS: A History of the General Councils: 325-1870

CHAPTER 1.

The First General Council of Nicaea, 325

His own personal religion at the time was that of his pagan father, the cult suddenly promoted to the supreme place as the official religion about the time that Constantine was born, by the then emperor, Aurelian (269-75). This was the cult of Sol Invictus (the Unconquered Sun),

… Constantine’s father remained faithful to this cult of Sol Invictus even when his seniors, Diocletian and Maximian, reverted to the old cults of Jupiter and Hercules – (Source)

Demikianlah asal-usul ”Christmas” atau Natal yang dilestarikan oleh dunia barat sampai sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-Day, Son of God, Christmas, dan Natal; pada hakekatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa matahari. Sebagai contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi bagaimanapun juga fisiknya tetap kelinci.

Perayaan Natal tidak sama dengan Peryaan hari kelahiran dewa matahari. Kristus juga tidak sama dengan dewa matahari. Bahkan Bapa Gereja pun sepakat dengan hal ini.Tertullian (Apol., 16; cf. Ad. Nat., I, 13; Orig. c. Cels., VIII, 67, etc) had to assert that Sol was not the Christians’ God; Augustine (Tract xxxiv, in Joan. In P.L., XXXV, 1652) denounces the heretical identification of Christ with Sol.

Marilah kita kembali membaca Encyclopedia of Brittanica yang mengatakan sebagai berikut :

“Certain Latins, as early as 354, may have transferred the birthday from January 6th to December 25, which was then a Mithraic feast….. or birthday of the unconquered Sun… The Syrians and Armenians, who clung to January 6th, accused the Romans of suns worship and idolatry, contending…that the feast of December 25th, had been invented by disciples of Cerinthus…”.

Artinya : “Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354 telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan dari kelahiran anak dewa Mitra atau kelahiran dewa Matahari yang tidak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus” [selesai].

Silakan baca ini :

Catholic Encyclopedia : Epiphany

The reason why our fathers changed the solemnity celebrated on 6 January, and transferred it to 25 December follows: it was the custom of the heathens to celebrate the birthday of the sun on this very day, 25 December, and on it they lit lights on account of the feast. In these solemnities and festivities the Christians too participated. When, therefore, the teachers observed that the Christians were inclined to this festival, they took counsel and decided that the true birth-feast be kept on this day, and on 6 Jan., the feast of the Epiphanies. Simultaneously, therefore, with this appointment the custom prevailed of burning lights until the sixth day.”

Tentang Cerinthus, menurut Catholic Encyclopedia : Cerinthus, ia adalah A Gnostic-Ebionite heretic

Cerinthus was an Egyptian, and if not by race a Jew, at least he was circumcised. The exact date of his birth and his death are unknown. In Asia he founded a school and gathered disciples. No writings of any kind have come down to us. Cerinthus’s doctrines were a strange mixture of Gnosticism, Judaism, Chiliasm, and Ebionitism. He admitted one Supreme Being; but the world was produced by a distinct and far inferior power. He does not identify this Creator or Demiurgos with the Jehovah of the Old Testament. Not Jehovah but the angels have both made the world and given the law. These creator-angels were ignorant of the existence of the Supreme God. The Jewish law was most sacred, and salvation to be obtained by obedience to its precepts. Cerinthus distinguished between Jesus and Christ…..

Scarcely anything is known of Cerinthus’s disciples; they seem soon to have fused with the Nazareans and Ebionites and exercised little influence on the bulk of Christendom, except perhaps through the Pseudo-Clementines, the product of Cerinthian and Ebionite circles. They flourished most in Asia and Galatia.

Terlihat bahwa Cerinthus bukanlah orang Kristen, melainkan seorang gnostic-ebionite. Dan tidak ada sumber (sejauh yang aku cari) yang mengatakan bahwa the feast of December 25th, had been invented by disciples of Cerinthus

Referensi lain :

In Defense of Christmas http://luxveritatis7.wordpress.com

Calculating Christmas

Catholic Encyclopedia : Christmas

The Sense of Christmas

Asal Usul Perayaan Natal

Was Jesus Really Born on Dec 25? Yes – A Biblical Argument for the Birth of Christ in Late December

sumber : http://luxveritatis7.wordpress.com/2011/12/26/apologetika-terhadap-perayaan-natal

 

Posted in kristen | Leave a Comment »

REKONSTRUKSI KEMATIAN YESUS (ISA)

Posted by kosongan pada | 9 |Juni| 2010 |

sumber : http://vilaputih.wordpress.com/2009/09/01/rekonstruksi-kematian-yesus-isa/

REKONSTRUKSI KEMATIAN YESUS (ISA)

1 September 2009 · 629 Komentar

js

(Qs. An Nisa 4:157)

“Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti prasangka belaka mereka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa”

M.H.SHAKIR: And their saying: Surely we have killed the Messiah, Isa son of Marium, the messenger of Allah; and they did not kill him nor did they crucify him, but it appeared to them so (like Isa) and most surely those who differ therein are only in a doubt about it; they have no knowledge respecting it, but only follow a conjecture, and they killed him not for sure.

Sebagian umat Islam termasuk di Indonesia mengartikan surah An-nisa 4 : 157 dimana kematian Isa (Yesus) sebagai orang lain yang diserupakan dengan Yesus. Dan sebagian Muslim menganggap bahwa orang yang diserupakan itu adalah Yudas. Dilain sisi ada juga sebagian muslim yang menterjemahkan surah diatas sebagai berikut :

ABDLH.YUSUF ALI: That they said (in boast), “We killed Christ Jesus the son of Mary, the Messenger of Allah”;- but they killed him not, nor crucified him, but so it was made to appear to them, and those who differ therein are full of doubts, with no (certain) knowledge, but only conjecture to follow, for of a surety they killed him not:-

MUHD M.W.PICKTHALL: And because of their saying: We slew the Messiah, Jesus son of Mary, Allah’s messenger – they slew him not nor crucified him, but it appeared so unto them; and lo! those who disagree concerning it are in doubt thereof; they have no knowledge thereof save pursuit of a conjecture; they slew him not for certain.

Tahukah anda dimana perbedaannya?. Dalam 2 ayat pertama dikatakan bahwa “yang dibunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa (Yesus)”. Dalam dua ayat yang berikutnya dikatakan bahwa “ditampakkan Yesus seolah-olah tersalib”. Kita sebagai muslim tentu bertanya-tanya mana arti yang benar?. Setelah dikaji dengan mendalam dapat disimpulkan bahwa 2 ayat terakhirlah yang kemungkinan benar dalam pengartian surah An-nisa 4 : 157, yang mana dikatakan bahwa “ditampakkan Yesus seolah-olah tersalib”. Kebenaran pengartian ini dapat kita lihat dalam beberapa argumen berikut ini :

Surah Al-Anbya 21 :68-69: Mereka berkata: Bakarlah dia (Ibrahim) dan bantulah ilah-ilah kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.

Dalam ayat diatas tampak bahwa Ibrahim dibakar hidup-hidup. Saat Ibrahim dibakar yang mereka lihat adalah Ibrahim terbakar, tetapi nabi Ibrahim tidak merasa terbakar. Seperti halnya Yesus (Isa) saat disalib. Orang-orang melihat Yesus tersalib padahal Yesus tidak merasa disalib, itulah mengapa Yeus (Isa) sebenarnya tidak mati (dogma Kristen mengaggap Yesus mati). Bukti Yesus tidak mati bisa dilihat dalam kisah nabi Yunus (Jonah).

MATIUS12:38-40 : Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.

JONAH/YUNUS 1:15-17 Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk. 1:16 Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar. 1:17 Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.

JONAH/YUNUS 2:1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu.

JONAH/YUNUS 2:10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

KESIMPULAN : Yang disalib kemungkinan Yesus dengan mukjizat seperti nabi Ibrahim itulah mengapa saat dikubur masih hidup, karena saat keluar dari kubur Yesus menyamar menjadi tukang kebun karena takut akan ditangkap lagi oleh kaum Yahudi.

Yoh 20:14-16 ” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”  Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru.

By Wedul Sherenian

Posted in islam, kristen | 11 Comments »

sejarah israel dan zionis

Posted by kosongan pada | 4 |Juni| 2010 |

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan nama Israel. Terutama setelah penyerangan besar-besaran. Sebenarnya siapa bangsa Israel itu?

Nama Yahudi barangkali diambil dari Yehuda. Yehuda adalah salah seorang putra nabi Yakub (Kejadian 29: 22) yang kemudian hari dijadikan nama salah satu kerajaan Israel yang pecah menjadi dua, setelah Solomon (Sulaiman) meninggal (1 Raja-Raja 12). Sedangkan nama Israel adalah nama yang diberikan Tuhan kepada Yakub, setelah Yakub memenangkan pergulatan melawan Tuhan (Kejadian 32:28). Karena dosa-dosanya yang sudah tidak termaafkan lagi, bangsa Israel ini dihukum oleh Tuhan dengan menghancurkan kerajaan yang mereka miliki (2 Raja-Raja 17:7-23).

Bangsa Yahudi sangat terobsesi oleh kitab suci mereka, bahwa hanya merekalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Tuhan untuk menguasai dunia ini. Bukankah Tuhan juga yang menyatakan kepada nenek moyang mereka Ibrahim, bahwa dari keturunan Ibrahimlah Tuhan akan menurunkan raja-raja didunia ini. Bagi mereka, keturunan Ibrahim hanyalah anak cucu yang lahir dari Sarah, isteri pertama Ibrahim, sehingga keberadaan Ismael anak sulung Ibrahim dari Hajar, dianggap tidak ada. Atas kecongkakkan dan kesombongan ini, Tuhan murka kepada bani Israel. Beratus-ratus tahun mereka menjadi warga negara kelas kambing yang tertindas di negeri Firaun. Setelah Musa berhasil membawa mereka keluar dari Mesir, bangsa Israel sempat mempunyai kerajaan yang dibangun oleh Daud dan mencapai masa keemasannya ditangan Solomon. Kerajaan yang kemudian pecah menjadi dua karena intrik anak-anak Solomon, lalu menjadi lemah dan akhirnya mereka dijajah oleh Firaun Nekho (2 Raja-Raja 23:31-35). Diusir sebagai orang buangan oleh Nebukadnezar bangsa Babilonia (2 Raja-Raja 25:1-21). Dijajah oleh Romawi. Dimusnahkan oleh Nazi, Jerman. Kesemuanya itu adalah hukuman Tuhan, kepada bangsa yang oleh Yesus (Isa al Masih) disebut sebagai keturunan bangsa ular beludak (Matius 23:33). Hukuman tersebut tidak membuat mereka jera, dan bertobat. Malah menjadikan dendam kesumat dihati bangsa ini untuk melawan Tuhan, Allah Maha Pencipta.

Kecongkakkan mereka dengan menganggap diri sebagai bangsa pilihan Tuhan satu-satunya yang berhak memerintah dunia ini, membuat mereka dengan sombongnya bersumpah, untuk memerangi agama lain selain agama mereka dengan segala cara, persis ketika Iblis bersumpah kepada Tuhan untuk memperdayai anak cucu Adam, sampai dunia kiamat nanti. Tuhanpun memperingatkan ummat Islam, melalui Al-Quran untuk berhati-hati terhadap tipu daya Yahudi ini.

Pegangan mereka adalah kitab Talmud. Yang merupakan kitab setan, karena sangat jauh menyimpang, bahkan mungkin bertolak belakang dengan ajaran Taurat.

Nabi Daud AS, yang juga raja, menaklukkan bukit Zion yang merupakan benteng dari kaum Yabus. Nabi Daud AS tinggal di benteng itu dan diberinya nama: “bandar Daud” (Samuel II 5:7-9)

Sejak itu maka Zion menjadi tempat suci, dikeramatkan orang-orang Yahudi yang mereka percayai bahwa Tuhan tinggal di tempat itu: “Indahkanlah suaramu untuk Tuhan Yang menetap di Zion” (Mazmur 9:11).

Zionisme ialah gerakan orang-orang Yahudi yang bersifat ideologis untuk menetap di Palestina, yakni di bukit Zion dan sekitarnya. Walaupun Nabi Musa AS tidak sampai pernah menginjakkan kaki beliau di sana, namun orang-orang Yahudi menganggap Nabi Musa AS adalah pemimpin pertama kaum Zionis.

Untuk mencapai cita-citanya, Zionisme membangkitkan fanatisme kebangsaan (keyahudian), keagamaan dengan mempergunakan cara kekerasan untuk sampai kepada tujuannya. Zionisme memakai beberapa tipudaya untuk mengurangi dan menghilangkan sama sekali penggunaan kata “Palestina”, yakni mengganti dengan perkataan-perkataan lain yang berkaitan dengan sejarah bangsa Yahudi di negeri itu. Digunakanlah nama “Israel” untuk negara yang telah didirikan oleh mereka, sebab Zionisme di Palestina identik dengan kekerasan, kezaliman dan kehancuran. Kaum Zionis mengambil nama Israel adalah untuk siasat guna mengelabui dan menipu publik, bahwa negara Israel itu tidak akan menggunakan cara-cara yang biasa digunakan oleh kaum Zionis. Pada hal dalam hakikatnya secra substansial tidaklah ada perbedaan sama sekali antara Israel dengan Zionisme. Israel sendiri berasal dari dua kata, isra mempunyai arti hamba, dan ell berarti Allah.

Secara substansial protokol Zionisme adalah suatu konspirasi jahat terhadap kemanusiaan. Protokol berarti pernyataan jika dinisbatkan kepada para konseptornya, dan berarti laporan yang diterima serta didukung sebagai suatu keputusan jika dikaitkan pada muktamar di Bale, Switzerland, tahun 1897, yang diprakarsai oleh Teodor Herzl.

Protokol-protokol itu yang sebagai dokumen rahasia disimpan di tempat rahasia, namun beberapa diantaranya dibocorkan oleh seorang nyonya berkebangsaan Perancis yang beragama Kristen dalam tahun 1901. Dalam perjumpaan nyonya itu dengan seorang pemimpin teras Zionis di rumah rahasia golongan Mesonik di Paris, nyonya itu sempat melihat sebagian dari protokol-protokol itu. Nyonya itu sangat trperanjat setelah membaca isinya. Ia berhasil mencuri sebagian dari dokumen rahasia itu, yang disampaikannya kepada Alex Nikola Nivieh, ketua dinas rahasia Kekaisaran Rusia Timur.

Sebagian kecil dari protokol-protokol Zionisme itu akan disampaikan seperti berikut:

  1. Manusia terbagi atas dua bagian, yaitu Yahudi dan non-Yahudi yang disebut Joyeem, atau Umami. Jiwa-jiwa Yahudi dicipta dari jiwa Tuhan, hanya mereka sajalah anak-anak Tuhan yang suci-murni. Kaum Umami berasal-usul dari syaithan, dan tujuan penciptan Umami ini untuk berkhidmat kepada kaum Yahudi. Jadi kaum Yahudi merupakan pokok dari anasir kemanusiaan sedangkan kaum Umami adalah sebagai budak Yahudi. Kaum Yahudi boleh mencuri bahkan merampas harta benda kaum Umami, boleh menipu mereka, berbohong kepada mereka, boleh menganiaya, boleh membunuh serta memperkosa mereka. Sesungguhnya tabiat asli kaum Yahudi ini bukan hanya ada disebutkan dalam protokol dokumen rahasia Zionis tersebut, melainkan ini adalah warisan turun temurun sejak cucu Nabi Ibrahim AS dari jalur Nabi Ishaq AS ini mulai mengalami dekadensi (baca: busuk ke dalam), yaitu sepeninggal Nabi Sulaiman AS. Ini diungkap dalam Al Quran (transliterasi huruf demi huruf): QALWA LYS ‘ALYNA FY ALAMYN SBYL (S. AL ‘AMRAN, 75), dibaca: qa-lu- laysa ‘alayna- fil ummiyyi-na sabi-l (s. ali ‘imra-n), artinya: mereka berkata tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (3:75).
  2. Protokol Zionisme tentang faham jiwa-jiwa Yahudi dicipta dari jiwa Tuhan, hanya mereka sajalah anak-anak Tuhan yang suci-murni, sangatlah menyimpang dari syari’at yang dibawakan oleh Nabi Musa AS. Mereka yang menyimpang inilah yang dimaksud dengan almaghdhu-b, artinya yang dimurkai dalam Surah Al Fa-tihah ayat 7.
  3. Protokol-protokol Zionisme itu merancang juklatnya dengan menye-barkan faham-faham yang bermacam-macam. Faham yang mereka tebarkan berbeda dari masa ke masa. Suatu waktu mempublikasikan sekularisme kapitalisme, suatu waktu menebar atheisme komunisme, suatu waktu berse-lubung agnostik sosialisme. Untuk menebarkan pengaruh internasional, protokol-protokol itu antara lain berisikan perencanaan keuangan bagi kerajaan Yahudi Internasional yang menyangkut mata uang, pinjaman-pinjaman, dan bursa. Media surat kabar adalah salah satu kekuatan besar dan melalui jalan ini akan dapat memimpin dunia. Manusia akan lebih mudah ditundukkan dengan bencana kemiskinan daripada ditundukkan oleh undang-undang.

Pada tahun 1902 dokumen rahasia Zionis itu diterbitkan dalam bentuk buku berbahasa Rusia oleh Prof. Nilus dengan judul ‘PROTOKOLAT ZIONISME’. Dalam kata pengantarnya Prof. Nilus berseru kepada bangsanya agar berhati-hati akan satu bahaya yang belum terjadi. Dengan seruan itu terbongkarlah niat jahat Yahudi, dan hura-hura pun tak bisa dikendalikan lagi, dimana saat itu telah terbantai lebih kurang 10.000 orang Yahudi. Theodor Herzl, tokoh Zionis Internasional berteriak geram atas terbongkarnya Protokolat mereka yang amat rahasia itu, karena tercuri dari pusat penyim-panannya yang dirahasiakan, dan penyebar-luasannya sebelum saatnya akan membawa bencana. Peristiwa pembantaian atas orang-orang Yahudi itu mereka rahasiakan. Lalu mereka ber-gegas membeli dan memborong habis semua buku itu dari toko-toko buku. Untuk itu, mereka tidak segan-segan membuang beaya apa saja yang ada, seperti ; emas, perak, wanita, dan sarana apa saja, asal naskah-naskah itu bisa disita oleh mereka.

Mereka menggunakan semua pengaruhnya di Inggris, supaya Inggris mau menekan Rusia untuk menghentikan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi di sana. Semua itu bisa terlaksana setelah usaha yang amat berat.

Pada tahun 1905 kembali Prof. Nilus mencetak ulang buku itu dengan amat cepat dan mengherankan. Pada tahun 1917 kembali dicetak lagi, akan tetapi para pendukung Bolshvic menyita buku protokolat itu dan melarangnya sampai saat ini. Namun sebuah naskah lolos dari Rusia dan diselun-dupkan ke Inggris oleh seorang wartawan surat kabar Inggris ‘The Morning Post’ yang bernama Victor E.Mars dan dalam usahanya memuat berita revolusi Rusia. Ia segera mencarinya di perpustakaan Inggris, maka didapatinya estimasi tentang akan terjadinya revolusi komunis. Ini sebelum lima belas tahun terjadi, yakni di tahun 1901. Kemudian wartawan itu menterjemahkan Protokolat Zionis itu ke dalam bahasa Inggris dan dicetak pada tahun 1912.

Hingga kini tidak ada satu pun penerbit di Inggris yang berani mencetak Protokolat Zionis itu, karena kuatnya pengaruh mereka di sana. Demikian pula terjadi di Amerika. Kemudian buku itu muncul dicetak di Jerman pada tahun 1919 dan tersebar luas ke beberapa negara. Akhirnya buku itu diterjemah-kan ke dalam bahasa Arab, antara lain oleh Muhammad Khalifah At-Tunisi dan dimuat dalam majalah Mimbarusy-Syarq tahun 1950. Perlu diketahui, bahwa tidak ada orang yang berani mempublikasikan Protokolat itu, kecuali ia berani menghadapi tantangan dan kritik pedas pada koran-koran mereka, sebagaimana yang dialami oleh penerjemah ke dalam bahasa Arab yang dikecam dalam dua koran berbahasa Perancis yang terbit di Mesir.

Setelah melalui proses yang amat panjang akhirnya pada 14 Mei 1948 silam, kaum Yahudi memproklamirkan berdirinya negara Israel. Dengan kemerdekaan ini, cita-cita orang orang Yahudi yang tersebar di berbagai belahan dunia untuk mendirikan negara sendiri, tercapai. Mereka berhasil melaksanakan “amanat” yang disampaikan Theodore Herzl dalam tulisannya Der Judenstaat (Negara Yahudi) sejak 1896. Tidaklah mengherankan jika di tengah-tengah negara-negara Timur Tengah yang mayoritas menganut agama Islam, ada sekelompok manusia yang berkebudayaan dan bergaya hidup Barat. Mereka adalah para imigran Yahudi yang didatangkan dari berbagai negara di dunia karena mengalami pembantaian oleh penguasa setempat.

Sejak awal Israel sudah tidak diterima kehadirannya di Palestina, bahkan di daerah mana pun mereka berada. Karena merasa memiliki keterikatan historis dengan Palestina, akhirnya mereka berbondong-bondong datang ke Palestina. Imigrasi besar-besaran kaum Yahudi ini terjadi sejak akhir tahun 1700-an. Akibat pembantaian diderita, maka mereka merasa harus mencari tempat yang aman untuk ditempati. Oleh Inggris mereka ditawarkan untuk memilih kawasan Argentina, Uganda, atau Palestina untuk ditempati, tapi Herzl lebih memilih Palestina.

Herzl adalah The Founding Father of Zionism. Dia menggunakan zionisme sebagai kendaraan politiknya dalam merebut Palestina. Kemampuannya dalam melobi para penguasa dunia tidak diragukan lagi. Sederetan orang-orang terkenal di dunia seperti Paus Roma, Kaisar Wilhelm Jerman, Ratu Victoria Inggris, dan Sultan Turki di Istambul telah ditaklukkannya. Zionisme adalah otak dalam perebutan wilayah Palestina dan serangkaian pembantaian yang dilakukan Yahudi.

Dengan berdatangannya bangsa Yahudi ke Palestina secara besar-besaran, menyebabkan kemarahan besar penduduk Palestina. Gelombang pertama imigrasi Yahudi terjadi pada tahun 1882 hingga 1903. Ketika itu sebanyak 25.000 orang Yahudi berhasil dipindahkan ke Palestina. Mulailah terjadi perampasan tanah milik penduduk Palestina oleh pendatang Yahudi. Bentrokan pun tidak dapat dapat dihindari. Kemudian gelombang kedua pun berlanjut pada tahun 1904 hingga 1914. Pada masa inilah, perlawanan sporadis bangsa Palestina mulai merebak.

Berdasarkan hasil perjanjian Sykes Picot tahun 1915 yang secara rahasia dan sepihak telah menempatkan Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris. Dengan berlakunya sistem mandat atas Palestina, Inggris membuka pintu lebar-lebar untuk para imigran Yahudi dan hal ini memancing protes keras bangsa Palestina.

Aksi Inggris selanjutnya adalah memberikan persetujuannya melalui Deklarasi Balfour pada tahun 1917 agar Yahudi mempunyai tempat tinggal di Palestina. John Norton More dalam bukunya The Arab-Israeli Conflict mengatakan bahwa Deklarasi Balfour telah menina-bobokan penguasa Arab terhadap pengkhiatan Inggris yang menyerahkan Palestina kepada Zionis.

Pada tahun 1947 mandat Inggris atas Palestina berakhir dan PBB mengambil alih kekuasaan. Resolusi DK PBB No. 181 (II) tanggal 29 November 1947 membagi Palestina menjadi tiga bagian. Hal ini mendapat protes keras dari penduduk Palestina. Mereka menggelar demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan PBB ini. Lain halnya yang dilakukan dengan bangsa Yahudi. Dengan suka cita mereka mengadakan perayaan atas kemenangan besar ini. Bantuan dari beberapa negara Arab dalam bentuk persenjataan perang mengalir ke Palestina. Saat itu pula menyusul pembubaran gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan pembunuhan terhadap Hasan al-Banna yang banyak berperan dalam membela Palestina dari cengkraman Israel.

Apa yang dilakukan Yahudi dalam merebut Palestina tidaklah terlepas dari dukungan Inggris dan Amerika. Berkat dua negara besar inilah akhirnya Yahudi dapat menduduki Palestina secara paksa walaupun proses yang harus dilalui begitu panjang dan sulit. Palestina menjadi negara yang tercabik-cabik selama 30 tahun pendudukan Inggris. Sejak 1918 hingga 1948, sekitar 600.000 orang Yahudi diperbolehkan menempati wilayah Palestina. Penjara-penjara dan kamp-kamp konsentrasi selalu dipadati penduduk Palestina akibat pemberontakan yang mereka lakukan dalam melawan kekejaman Israel.

Tahun 1956, Gurun Sinai dan Jalur Gaza dikuasai Israel, setelah gerakan Islam di kawasan Arab dipukul dan Abdul Qadir Audah, Muhammad Firgholi, dan Yusuf Thol’at yang terlibat langsung dalam peperangan dengan Yahudi di Palestina dihukum mati oleh rezim Mesir. Dan pada tahun 1967, semua kawasan Palestina jatuh ke tangan Israel. Peristiwa itu terjadi setelah penggempuran terhadap Gerakan Islam dan hukuman gantung terhadap Sayyid Qutb yang amat ditakuti kaum Yahudi. Tahun 1977, terjadi serangan terhadap Libanon dan perjanjian Camp David yang disponsori oleh mendiang Anwar Sadat dari Mesir

Akhirnya pada Desember 1987, perjuangan rakyat Palestina terhimpun dalam satu kekuatan setelah sekian lama melakukan perlawanan secara sporadis terhadap Israel. Gerakan Intifadhah telah menyatukan solidaritas rakyat Palestina. Intifadhah merupakan aksi pemberontakan massal yang didukung massa dalam jumlah terbesar sejak tahun 1930-an. Sifat perlawanan ini radikal revolusioner dalam bentuk aksi massal rakyat sipil.

Adanya kehendak kolektif untuk memberontak sudah tidak dapat ditahan lagi. Untuk tetap bertahan dalam skema transformasi masyarakat yang menghindari aksi kekerasan, maka atas prakarsa Syekh Ahmad Yassin dibentuklah HAMAS (Harakah al-Muqawwah al-Islamiyah) pada bulan Januari 1988, sebagai wadah aspirasi rakyat Palestina yang bertujuan mengusir Israel dari Palestina, mendirikan negara Islam Palestina, dan memelihara kesucian Masjid Al-Aqsha. HAMAS merupakan “anak” dari Ikhwanul Muslimin karena para anggotanya berasal dari para pengikut gerakan Ikhwanul Muslimin. Perlawanan terhadap Israel semakin gencar dilakukan dan mengakibatkan kerugian material bagi Israel berupa kehancuran pertumbuhan ekonomi, penurunan produksi industri dan pertanian, serta penurunan investasi. Kerugian lainnya yaitu hilangnya ketenangan dan rasa aman bangsa Israel.

Tidak ada manipulasi sejarah yang lebih dahsyat dari pada yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Kongres Zionis I di Basle merupakan titik balik dari sejarah usaha perampasan tanah Palestina dari bangsa Arab. Namun hebatnya, para perampas ini tidak dianggap sebagai ”perampok” tetapi malahan dipuja sebagai ”pahlawan” dan bangsa Arab yang melawannya dianggap sebagai ”teroris” dan penjahat yang perlu dihancurkan.

Salah satu kunci untuk memahami semua ini ialah karena sejak Kongres I kaum Zionis sudah mengerti kunci perjuangan abad XX yakni: diplomasi, lobi, dan penguasaan media massa. Herzl sebagai seorang wartawan yang berpengalaman dengan tangkas memanfaatkan tiga senjata andal dalam perjuangan politik abad modern ini. Sejak Kongres I, dia sangat rajin melobi para pembesar di Eropa, mendekati wartawan, dan melancarkan diplomasi ke berbagai negara. Hasilnya sungguh luar biasa. Zionisme lantas diterima sebagai gerakan politik yang sah bagi usaha merampas tanah Palestina untuk bangsa Yahudi.

Tokoh-tokoh Yahudi banyak terjun ke media massa, terutama koran dan industri film. Hollywood misalnya didirikan oleh Adolf Zuckjor bersaudara dan Samuel-Goldwyn-Meyer (MGM). Dengan dominasi yang luar biasa ini, mereka berhasil mengubah bangsa Palestina yang sebenarnya adalah korban kaum Zionis menjadi pihak ”penjahat”.

Apakah anda tau siapa yang menguasai kantor-kantor berita seperti Reuter, Assosiated Press, United Press International, surat kabar Times dan jaringan telivisi terkenal dunia serta perusahaan film di Holywood? Semuanya adalah bangsa Yahudi. Reuter didirikan oleh Yahudi Jerman, Julius Paul Reuter yang bernama asli Israel Beer Josaphat. Melalui jaringan informasi dan media komunikasi massa inilah mereka menciptakan image negatif terhadap Islam, seperti Islam Fundamentalis, Islam Teroris, dan lain sebagainya. Demikian gencarnya propaganda ini, sampai-sampai orang Islam sendiri ada yang phobi Islam.

Edward Said, dalam bukunya Blaming The Victims secara jitu mengungkapkan bagaimana media massa Amerika menciptakan gambaran negatif bangsa Palestina. Sekitar 25 persen wartawan di Washington dan New York adalah Yahudi, sebaliknya hampir tidak ada koran atau TV Amerika terkemuka yang mempunyai wartawan Arab atau Muslim. Kondisi ini berbeda dengan media Eropa yang meskipun dalam jumlah terbatas masih memiliki wartawan Arab atau muslim. Dengan demikian laporan tentang Palestina di media Eropa secara umum lebih ”fair” daripada media Amerika.

Edward Said yang terkenal dengan bukunya Orientalism (Verso 1978), menguraikan apa yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina merupakan praktik kaum Orientalis yang sangat nyata. Pertama, sejarah ditulis ulang, yakni Palestina sebelum berdirnya Israel ialah: wilayah tanpa bangsa untuk bangsa yang tidak mempunyai tanah air. Kedua, bangsa Palestina yang menjadi korban dikesankan sebagai bangsa biadab yang jadi penjahat. Ketiga, tanah Palestina hanya bisa makmur setelah kaum Zionis beremigrasi ke sana.

Penulis :
Agam Rosyidi
URL : http://agam.rosyidi.com/sejarah-bangsa-israel/

Referensi:
swaramuslim
Hidayatullah Mei 2002
H.Muh.Nur Abdurrahman Makassar
mowen1id@yahoo.com

Posted in interntional, islam, kristen | 1 Comment »

Ten Commandements versi Al Qur`an

Posted by kosongan pada | 3 |April| 2009 |

sumber : http://salam-shalom.blogspot.com/2009/01/ten-commandements-versi-al-quran.html

Ten Commandements versi Al Qur`an

1. “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”(Sefer Shemot 20:3)

sejalan dgn :
QS Al isra 17:22
‘janganlah kamu adakan tuhan lain d samping Allah, agar kamu tidak jad tercela dan d tinggalkan’

2.”Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu.”( Sefer Shemot 20:4-6)

sejalan dgn :
QS Al isra 17:22
”janganlah kamu adakan tuhan lain d samping Allah, agar kamu tidak jad tercela dan ditinggalkan”

3.Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan (Sefer Shemot 20:7)

sejalan dgn :
QS al isra 17:3
katakanlah, ‘serulah Allah atau Arrahman, dengan nama mana saja yang kamu seru, hanya bgINYA lah al-asma al-husna, dan janganlah kamu keraskan suaramu dlm shalatmu dan janganlah merendahknya dan carilah jalan tengah antara keduanya ‘

4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. (Sefer Shemot 20:8-11)

hari sabbath sebenarnya hanyalah utk umat israel umat nabi Musa pada jamanya, sdang muslim (umat nabi Muhammad) wajib mensucikan hr jum’at

QS Al jumuah 62:9
‘hai orang2 yang beriman, bila kamu diseru utk melaksanakan shalat (hari) jumat, maka segralah kamu pada mengingat Allah dan tinggalknlah jual beli, yang demikian lebih baik bagimu bila kamu mengetahui’

pelanggaran pd hr sabath : hukuman mati ,trnyata tidak separah hukum meninggalkn 3 kali berturut2 shalat jumat, yaitu KAFIR.

5. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tahan yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu (Sefer Shemot 20:12)

sejalan dgn :
QS 31:14
‘Dan Kami perintahkan pada manusia (berbuat baik) pada 2 orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandngnya dlm keadaan lemah yg bertambah2 dan menyapihnya dlm 2 tahun, bersyukurlah padaKU dan kedua ibu bapakmu dan hanya padaKU lah kembalimu’

6. Jangan membunuh (Sefer Shemot 20:13)

sejalan dgn :
QS al ìsra 17:33
‘Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah ,melainkan dgn (alasan) yang benar… ‘

7. Jangan berzinah (Sefer Shemot 20:14)

sejalan dgn :
QS Al isra 17:32
‘Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungghnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk ‘

8. Jangan mencuri (Sefer Shemot 20:15)

sejalan dgn :
”laki laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri , potonglah tangan keduanya, (sebagai) pembalasn bagi apa yang mrka kerjakan dan sebgai siksa darg Allah, dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana ‘

9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu (Sefer Shemot 20:16)
sejalan dgn :
QS Al baqarah 283
‘Dan janganlah kamu menyembunyikn persaksian, dan barang siapa menyembunyikanya maka sesngguhnya ia adalah seorang yg berdosa hatinya dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan ‘

10.Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu (Sefer Shemot 20:17)

sejalan dgn :
QS As syura 26:183
‘Dan janganlah kamu rugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dgn membuat kerusakan ‘

Diposkan oleh Ni’matullah Bouthros El Souryani

tanggapan saya :

perintah pertama
musa >>>> dihadapan
AQ >>>> disamping
bukankah jelas beda … karena dihadapan berarti menghalangi, sedangkan disamping jelas kedudukannya seimbang …. maap saya lihat dari surat ini terkesan justru lebih tegas musa

perintah ke dua
musa >>>> sujut menyembah dan beribadah pada patung >>> tuhan pencemburu dan penuh kasih
AQ >>>> menyembah tuhan lain >>> kamu dicela dan ditinggalkan
dari ayat yang ada berbeda makna dimana musa berbicara tuhan maha pencemburu, sedangkan AQ berbicara cela dan ditinggalkan tuhan

perintah ke3
musa >>> jangan menyebut yhwh ellohimmu >>> sembarangan >>>> salah
AQ >>>> serulah Allah atau Arrahman,al-asma al-husna >>>> jangan dikeraskan,jangan rendah >> dalam shalat
kedua hal itu berbeda karena musa bilang jangan nyebut sembarangan, sedangkan AQ bilang jangan keras jangan rendah, selain itu musa bilang untuk konteks diluar ibadah jelasnya, sedangkan AQ bilang waktu shalat

perintah ke 4
saya rasa yang ini memang tampaknya senada, sayangnya dari sudut pandang musa menjelaskan hari istirahat dari bekerja yang dikuduskan , sedangkan shalat hanya untuk mengingat tuhan saja

masalah pelanggaran itu hukum mati itu hanyalah aturan sedangkan kafir adalah suatu pengkucilan oleh golongan ….. memang lebih parah

perintah ke 5
musa >>>> hormati supaya panjang umur
AQ >>> berbuat baik dan bersyukur, kembali pada tuhan
disini jelas berbeda musa menyuruh menghormati …(bukan memuliakan orangtua)agar umurnya ditahan, sedangkan berbuat baik  tapi tidak ada imbalannya,justru dengan bersyukur karena kembalinya pada tuhan

perintah ke 6
musa >>>jangan membunuh
AQ>>>>janagn membunuh jiwa yang diharamkan
jelas versi musa melarang untuk membunuh … titik, sedangkan AQ boleh membunuh asal yang benar

perintah ke 7
musa >>> jangan zinah
AQ>>>>>jangan mendekati zinah
musa melarang tindakan, sedangkan AQ mendekati aja tidak boleh …hehehe yang ini AQ lebih keren … tapi sayangnya tidak terdeteksi untuk dijadikan perintah yang berupa aturan… pertanyaannya seberapa dekat ????

perintah ke 8
senada, hanya saja AQ lebih lengkap dengan hukumannya , tetapi untuk musa berlaku untuk manusia, sedangkan AQ itu berlaku untuk 2 orang manusia saja… karena disambung dengan kata (dan), selain itu AQ hanya untuk laki2 dan perempuan, lalu trans gender tidak ada hukumannya, laki2 aja, atau perempuan aja juga tidak ada… dari ayat yang ada

perintah ke 9
musa >>> jangan saksi dusta
AQ >>>>> jangan menyembunyikn persaksian
terlihat senada memang tapi berbeda, musa bilang saksi dusta … baik kurang maupun tambahkan…..dimana saksi yang tidak sesuai dengan kenyataan, sedangkan AQ menyembunyikan kenyataan itu dosa hati, tapi bila menambahkan tidak ada hukumnya

perintah 10
musa >>>>jangan mengingini milik sesama manusia
AQ >>merugikan hak manusia,dan merajarela dengan merusak di muka bumi
disini berbeda … musa berbicara mengingini materi atau apapun milik sesama, sedangkan AQ berbicara merugikan hak manusia saja dan tidak semena2

Posted in islam, kristen | 28 Comments »

PEWAHYUAN AL-QURAN : ANTARA BUDAYA DAN SEJARAH (tanggapan)

Posted by kosongan pada | 16 |Februari| 2009 |

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2009/02/12/salahkah-islam/#comment-10184

Assalamu alaikum Wr Wb…

Misi Kang Wedhul……

Kemaren saya menemukan artikel tulisan Sdr. Mohamad Guntur Romli di website kebohongandariislam.wordpress.com. Artikel itu pada dasarnya ingin menafikan kepercayaan dunia Muslim bahwa Alquran adalah kalam Illahi. situs tersebut sengaja menurunkan artikel Romli ini dg tujuan untuk menghancurkan mental Muslim. Pada bagian komentar, Sdr. MG Romli -himself- menulis bahwa dia sangat keberatan jika artikelnya ditayangkan di situs tersebut dan meminta spy pemilik situs tersebut menghapusnya. Saya pribadi sempat menyalinnya ke PC saya untuk saya pelajari sebelum artikel tersebut benar-benar dihapus dari situs tersebut oleh pemiliknya atas permintaan Sdr. MG Romli.

Berkenaan dengan itu, ijinkan saya meng-upload artikel Sdr MG Romli tsb ke situs ini, kemudian saya sertakan jawaban / sanggahan saya atas artikel tersebut. Muhdah-mudahan bermanfaat bagi kita semua…..

Terima kasih.

************************
PEWAHYUAN AL-QURAN : ANTARA BUDAYA DAN SEJARAH

Oleh Mohamad Guntur Romli

Pewahyuan adalah proses kolektif, baik sumber maupun proses kreatifnya. Ia bukanlah proses yang tunggal. Al-Quran sendiri menegaskan gagasan ini. Ketika Al-Quran berbicara tentang pewahyuan, baik dengan kata “mewahyukan” (awha) maupun “menurunkan” (anzala, nazzala) Al-Quran, digunakan kata nahnu : Berarti kami -sebagai subyek- seperti dalam awhayna (kami telah mewahyukan) ataupun anzalna, nazzalna (kami telah menurunkan). Dalam Al-Mu’jam al-Mufahhras li Alfadzil Qur’an, kata awhaytu (aku mewahyukan) hanya dipakai delapan kali, sedangkan awhayna (kami mewahyukan) digunakan lebih dari 30 kali.

Kata “kami” adalah bentuk plural. Pertanyaannya, siapakah yang disebut “kami” dalam ayat-ayat itu? Para mufasir klasik yang berkeras pada doktrin ketunggalan dalam pewahyuan menolak memahami “kami” sebagai pluralitas dalam pewahyuan. Menurut mereka, meskipun “kami” bentuknya plural, konotasinya pada Dia Yang Tunggal, kata “kami” bertujuan lit ta’dzîm (memuliakan) “si pembicara”.

Namun, pendapat ini, menurut hemat saya, rancu. Kata “kami”, bila digunakan sebagai pengganti “saya” atau “aku” untuk memuliakan “lawan bicara”, bukan “si pembicara”. Misalnya, seorang menteri tidak akan menggunakan kata “aku/saya telah melakukan” di depan presidennya, tapi mengatakan “kami telah melakukan”. Sebab, selain menunjukkan penghormatan terhadap lawan bicara, menandakan pengakuan, karena apa yang telah ia lakukan bukanlah hasil kerjanya sendiri, melainkan kerja kolektif.
Dalam tradisi tafsir klasik, menafsirkan istilah “kami” yang merujuk kepada Allah, Roh Kudus Jibril dan Muhammad lazim kita temukan. Dalam pandangan ini, Al-Quran secara “maknawi” bersumber dari Tuhan, tapi secara “lughawi ” (redaksi bahasa) disusun oleh Malaikat Jibril atau Nabi Muhammad : Al-Quran adalah “karya bersama” Allah, Jibril dan Nabi Muhammad. Kelompok rasional Islam Muktazilah adalah pelopor pemahaman ini.

Pendapat ini berdasarkan sambungan sebaris ayat yang berbicara tentang turunnya Al-Quran : wa inna lahu lahafidzûn, “dan sesungguhnya kami pula yang akan menjaganya (Al-Quran)”. Di sini proses turunnya Al-Quran, sebagaimana proses penjagaannya, melibatkan “kerja kolektif” antara Tuhan dan manusia. Proses penjagaan (autentisitas) Al-Quran oleh manusia berbentuk hafalan dan tulisan.

Pewahyuan yang plural itu bisa ditegaskan lebih lanjut dengan menggunakan kajian sejarah yang melibatkan konteks sejarah, masyarakat, tradisi dan lingkungan. Pewahyuan dari konteks ini, menurut saya, bisa lebih menegaskan klaim Al-Quran sendiri, yang menggunakan kata “kami” yang plural, bukan “aku” yang tunggal.

Kisah dalam Al-Quran
—————————-

Saya akan mengambil contoh kisah-kisah yang banyak dimuat Al-Quran. Dua pertiga isi Al-Quran adalah tentang kisah yang bersumber dari konteks tempat wahyu itu turun : kisah-kisah yang diperbincangkan di pasar-pasar, di sela-sela transaksi dan safari perniagaan, ataupun dongeng yang diwariskan secara turun-temurun.
Dari kajian sejarah ini, Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya. Dalam ranah ini, pendapat Nashr Hamir Abu-Zayd bahwa al-nash muntaj tsaqafi (Al-Quran merupakan produk budaya) adalah sahih. Al-Quran adalah produk rangkaian proses kreatif-kolektif manusia yang disebut budaya. Wahyu tidak bisa lepas dari dua faktor yang membentuknya : sejarah (al-tarikh) dan konteks (al-waqi’).

Kisah-kisah Al-Quran yang dipercaya sebagai mukjizat hakikatnya merupakan kisah-kisah yang sudah populer pada zaman itu. Al-Quran tidak pernah menghadirkan kisah-kisah yang benar-benar baru. Misalnya saja kita tidak menemukan kisah tentang masyarakat Cina atau India, yang waktu itu telah memiliki peradaban yang luar biasa. Hal itu terjadi karena kisah-kisah tersebut tidak pernah sampai atau kurang populer ataupun tidak memiliki dampak ideologis dan politis terhadap masyarakat Arab. Berbeda dengan kisah-kisah yang berasal dari kawasan yang disebut “Bulan Sabit Subur”. Kawasan ini menjadi “mata air” yang mengalirkan kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Quran.

Kisah Nabi Isa
——————-

Bukti lain bahwa Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya adalah kisah tentang Nabi Isa (Yesus Kristus). Sekilas kita melihat bahwa kisah Nabi Isa dalam Al-Quran berbeda dengan versi Kristen. Dalam Al-Quran, Isa (Yesus) hanyalah seorang Rasul, bukan anak Allah, dan akhir hayatnya tidak disalib. Sementara itu, dalam doktrin Kristen, akhir hidup Yesus itu disalib, yang diyakini untuk menebus dosa umatnya.
Ternyata kisah tentang tidak disalibnya Nabi Isa juga dipengaruhi oleh keyakinan salah satu kelompok Kristen minoritas yang berkembang saat itu, yakni sekte Ebyon. Bagi kelompok Kristen mayoritas yang menyatakan Isa (Yesus) mati disalib, sekte Ebyon adalah sekte Kristen yang bidah.

Saya menjumpai adanya sekte Ebyon ini dalam buku Dinasti Yesus (2007) karya James D. Tabor. Menurut Tabor, sekte ini memiliki keyakinan yang mirip dengan keyakinan Islam dan berbeda dari Gereja Roma (lihat di bagian Konklusi di buku Tabor). Malah, menurut Tabor, sekte inilah ahli waris ajaran-ajaran kuno Yesus sebelum bercampur baur dengan ajaran Paulus. Tabor juga berasumsi bahwa Ebyon inilah yang memiliki kontak dengan Islam dan Nabi Muhammad.

Namun, dalam konklusi yang sangat pendek itu, Tabor tidak mengulas secara detail persamaan keyakinan Ebyon dan Islam, khususnya dalam peristiwa yang sangat krusial, yaitu penyaliban Yesus. Bagi para peneliti Yesus Sejarah, penyaliban Yesus adalah fakta sejarah, sedangkan bagi Ebyon -sepanjang pengetahuan saya terhadap akidah sekte ini dari beberapa literatur sejarah Arab dan Kristen- memang mirip dengan akidah Islam serta menolak cerita penyaliban Yesus.

Sejarah dan doktrin sekte Ebyon di Arab ini bisa ditemukan dalam buku Dr. Jawwad Ali, Al-Mufashshal Fi Tarîkh Al-’Arab Qablal Islâm (Sejarah Bangsa Arab Sebelum Islam) dalam empat jilid dan buku Al-Nashrâniyah wa Âdâbuha Bayna ‘Arab al-Jâhiliyah (Sejarah dan Sastra Kristen di Era Arab Jahiliyah) dalam dua jilid, karya Al-Abb Luwis Syaikhu Al-Yasû’i, seorang Romo Katolik Jesuit. Demikian juga dalam Al-Mawsû’ah Tarîkh Aqbâth Mishr (Ensiklopedi Sejarah Koptik Mesir).

Pada zaman Nabi Muhammad tidak hanya sekte Ebyon yang tersebar di Jazirah Arab. Ada dua sekte Kristen lain yang jauh lebih besar : Manofisit dan Nestorian, sebagai kelompok terbesar Gereja Timur yang berlawanan dengan Gereja Roma. Namun, kedua sekte itu (Manofisit dan Nestorian) tetap memiliki pandangan bahwa Yesus mati disalib. Hanya, keyakinan Ebyonlah yang benar-benar berbeda : Isa bukan anak Tuhan, ia hanya Rasul, dan matinya tidak disalib.

Pengaruh Ebyon dan Waraqah Bin Naufal
—————————————————-

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Al-Quran lebih memilih pandangan Ebyon yang minoritas dan keyakinannya dianggap bidah oleh mayoritas Kristen waktu itu? Saya memiliki dua asumsi. Pertama, karena pandangan Ebyon ini lebih dekat dengan akidah ketauhidan Islam. Kedua, sepupu Khadijah bernama Waraqah bin Naufal adalah seorang rahib sekte Ebyon. Kedekatan Waraqah dengan pasangan Muhammad-Khadijah diakui oleh sumber-sumber Islam, baik dari buku-buku Sirah (Biografi Nabi Muhammad), seperti Sirah Ibn Ishaq dan Ibn Hisyam, ataupun buku-buku hadis standar : Bukhari, Muslim, dan lain-lain.
Waraqah adalah wali Khadijah yang menikahkannya dengan Muhammad. Seorang perempuan kali itu -yang kemudian dilanjutkan oleh syariat Islam- tidak bisa menikah tanpa seorang wali laki-laki. Bisa dibayangkan kedekatan Waraqah dengan Khadijah dan Muhammad. Pun Waraqah orang pertama yang mengakui bahwa Muhammad memiliki tanda-tanda kenabian. Ia juga bernubuat, “nasib Muhammad seperti nabi-nabi sebelumnya, dia akan diusir oleh kaumnya”.

Al-Quran juga mengisahkan mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak, membuat burung-burung dari tanah, kemudian menghidupkannya. Kisah ini memang tidak ada dalam empat Injil (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes), tapi bukan berarti Al-Quran adalah sumber tersendiri. Kisah mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak ini ada dalam tradisi Gnostik Kristen : Injil masa kanak-kanak Yesus menurut Tomas.

Kesimpulan saya sementara -yang tentu saja bisa didebat dan dibantah- kisah Isa (Yesus) dalam Al-Quran, yang menegaskan bahwa Isa “hanyalah” seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen : Ebyon. Alasan Al-Quran menggunakan kisah Yesus versi ini, seperti yang telah saya kemukakan : akidah sekte ini sesuai dengan tauhid dan misi Islam, pun sepupu mertua Muhammad : Waraqah bin Naufal, adalah seorang rahib dari sekte Ebyon yang pertama kali “meyakini” Muhammad sebagai nabi.
Kajian-kajian tadi, baik terhadap teks-teks Al-Quran maupun kajian sejarahnya, menyatakan bahwa pewahyuan Al-Quran berasal dari sumber dan konteks yang plural : konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup, baik sebelum maupun setelah ia menerima wahyu. Malah “proses kreatif” itu lebih kuat sebelum Muhammad menerima wahyu, hanya periode itu adalah “tahun-tahun yang hilang” ataupun tidak menjadi pusat perhatian dalam studi Islam klasik, yang tujuannya untuk menegaskan pewahyuan yang tunggal dari Tuhan serta menafikan pengaruh konteks dan sejarah.

Al-Quran sebagai “kitab-keimanan” sah-sah saja bila diyakini memiliki sumber tunggal : ia adalah mukjizat, melalui proses yang menakjubkan, hingga di luar nalar manusia. Namun, Al-Quran dalam kajian kesejarahan tidak bisa dipandang seperti itu. Dalam ranah ini, Al-Quran tetap memiliki banyak sumber dan “proses kreatif” yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Quran adalah “suntingan” dari “kitab-kitab” sebelumnya, yang disesuaikan dengan “kepentingan penyuntingnya”. Al-Quran tidak bisa melintasi “konteks” dan “sejarah”, karena ia adalah “wahyu” budaya dan sejarah.

Pewahyuan Al-Quran : Antara Budaya Dan Sejarah
Oleh Mohamad Guntur Romli
/////////////////////////////////////////-\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\
papahmamah // Februari 14, 2009 pada 5:06 pm

Komentar dari Papahmamah:

Kajian terhadap artikel
“Pewahyuan Al-Quran : Antara Budaya Dan Sejarah
Oleh Mohamad Guntur Romli”
Oleh Papahmamah.

Dari membaca artikel yang ditulis oleh sdr. Mohamad Guntur Romli, saya menangkap isyarat yang ‘tidak pada tempatnya’. Oleh karena itu saya ingin membantu Sdr Romli dan juga lainnya (yang mana itu adalah tanggung-jawab saya sebagai Muslim untuk saling mengingatkan) dalam memahami beberapa hal yang terkandung dalam artikel tersebut.

Yang pertama saya ingin memberikan asistensi kepada Sdr. Romli dalam menjelaskan arti kata ‘KAMI’ dalam Alquran.

Memang, kata / tafsir yang ‘available’ pada saat ini yang disediakan oleh semua para ahli tafsir Alquran adalah, bahwa kata KAMI menyiratkan kebesaran Illahi semata, “saking” besarnya Allah, maka Ia “harus” menggunakan kata Kami untuk memanggil diriNya sendiri. Dan pada paragraph berikutnya, justru sdr. Romli membantah tafsir tersebut dengan menyebutkan, bahwa justru ‘tradisi’ menggunakan kata ‘kami’ adalah untuk memuliakan lawan bicara. Jadi, menurut Romli, Allah ‘terpaksa’ menggunakan kata KAMI karena Ia merasa harus menghormati oknum lain yang ada dalam lingkungan ciptaanNya sendiri. Benarkah demikian?

Untuk membahas mengapa Allah menggunakan kata “kami” dalam AlquranNya, maka mau tidak mau kita harus memulainya dari Bible.

Percayakah Anda, bahwa sejak awal, sejak jaman Bible pun, Allah tetap dan selalu memanggil diriNya dengan kata “KAMI” ketika Dia berbicara dengan Nabi-Nabi? Tidak pernah ada satu detik pun ketika Allah berbicara dengan para Nabi, Allah memanggil diriNya dengan kata AKU.

Masalahnya kemudian adalah, mengapa justru dalam Bible, baik di Perjanjian Lama mau pun Perjanjian Baru, Allah selalu memanggil diriNya dengan kata “Aku”? Dan kemudian, Allah memanggil diriNya dengan kata KAMI dalam Alquran?

Kunci perbedaan antara Bible dan Alquran dalam hal memanggil Tuhan ini terletak pada “siapa” yang bertanggung-jawab dalam me-redaksi-kan kata-kata Tuhan (pembicaraan antara para Nabi itu dengan Tuhan) itu ketika akan disampaikan kepada umat Dunia.

Pada masa pra Muhammad, semua ayat Tuhan (atau dengan kata lain, semua (hasil) pembicaraan antara Tuhan dengan para Nabi) diredaksikan oleh Nabi yang bersangkutan. Jadi, semua “kesan” yang muncul dari pembicaraan seorang Nabi dengan Tuhan, diredaksikan oleh Nabi tersebut ke dalam kata-kata manusia. Oleh karena itu, posisi Tuhan akan tetap dilihat melalui posisi seorang manusia yang dhaif. Maka, jadilah redaksi ayat tersebut seperti ini, “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

Ingat, phrase “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”., adalah redaksi sang Nabi, entah dia Daniel, Amos, Musa dan lain lain. Dalam phrase ini, Daniel misalnya, melihat Tuhan melalui posisinya sebagai manusia yang lemah; maka ia menulisnya begitu, “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

Daniel menggunakan kata AKU dalam melukiskan Tuhan. Padahal, sebenarnya Allah selalu memanggil diriNya dengan kata KAMI ketika pembicaraan antara diriNya dengan Daniel berlangsung. Masalahnya adalah, ketika meredaksikan ayat tersebut, tentu saja Daniel ‘tidak berani’ untuk menulis “apa adanya” yaitu “KAMI Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

Sebenarnya, Nabi mana pun tidak akan berani untuk meredaksikan ayat itu “apa adanya”, yaitu dengan bunyi “KAMI Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”. Mengapa tidak beani? Seperti yang sudah saya tulis tadi, semua Nabi itu adalah orang orang yang merasa dhaif di depan Tuhan mereka, atau, mereka selalu melihat posisi Tuhan melalui posisi seorang manusia yang dhaif.

Itulah mengapa sebabnya dalam Bible, Tuhan selalu menyebut diriNya dengan kata AKU. Tidak lain adalah karena semua ayat Bible itu DIREDAKSIKAN oleh manusia belaka.

Bagaimana dengan Alquran?
Muhammad adalah satu-satunya Nabi y-a-n-g tidak MEMPUNYAI, DIBERI, MENDAPATKAN tanggung-jawab untuk meredaksikan pembicaraan Tuhan dengan dirinya. Jadi, semua pembicaraan antara Allah dengan Muhammad, yang mana pembicaraan itu akan dijadikan ayat yang akan dimasukkan ke dalam Alquran, adalah Allah sendiri Yang meredaksikannya. Alhasil, semua ‘occurrence’ Allah selalu diganti dengan kata KAMI, apa adanya.

Mari dibalik. Allah berkata kepada Muhammad, “KAMI, Allah Tuhan Alam, berkata begini…” (ini adalah bunyi apa adanya).

Kalaulah pembicaraan itu diredaksikan oleh Muhammad ke dalam Alquran (seperti Nabi-Nabi Perjanjian Lama lainnya), pastilah bunyinya begini, “AKU, Allah Tuhan Alam, berkata begini…”

Namun karena Muhammad ‘tidak kebagian peran untuk meredaksikan ayat tersebut’, dan hanya Allah lah yang meredaksikan ayat tersebut, maka ayat itu lahir ke Dunia sesuai dengan apa adanya, “KAMI, Allah Tuhan Alam, berkata begini…”.

Berikutnya yang harus kita bahas adalah, istilah “apa adanya” yang selalu saya gunakan.

Allah berbicara kepada para Nabi, dan juga Muhammad yang mana pembicaraan itu kelak akan menjadi ayat. Semua Nabi itu mendapatkan hak dari Allah untuk meredaksikan semua pembicaraan itu menurut “suka-suka” sang Nabi. Dengan kata lain, semua Nabi itu diberi hak untuk menggunakan kata-kata mereka sendiri dalam menyusun ulang hasil pembicaraan mereka dengan Tuhan. TAPI, hak itu tidak diberikan kepada Muhammad. Dengan kata lain, seperti apa pembicaraan itu terjadi, maka seperti itu juga lah pembicaraan itu kelak ditulis dalam Alquran. Hal ini seperti Allah MENARUH kata-kataNya di atas lisan Muhammad. Kata MENARUH, tentu saja konotasinya adalah, bahwa yang DITARUH itu tidak akan berubah, tidak boleh diubah-ubah, tidak bisa diubah-ubah, jadi apa adanya saja, dan seterusnya.

Kitab Ulangan menulis demikian,

Ulangan 18:18, seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan MENARUH FIRMAN-KU DALAM MULUTNYA, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

Orang Christians mengklaim bahwa “ia” dalam ayat di atas adalah Jesus, sedangkan Muslims mengklaim bahwa “ia” adalah Muhammad.

Kita sudah dapat menebak, “ia” dalam ayat di atas adalah hanya untuk Muhammad, mengingat Muhammad tidak pernah MEREDAKSIKAN pembicaraan Tuhan menurut kata-kata Muhammad sendiri. Sementara Jesus adalah termasuk para Nabi yang meredaksikan pembicaraan Tuhan menurut kata-kata Jesus sendiri.

Di manakah indikasinya? Indikasinya terlihat dalam penggunaan kata “KAMI” dalam Alquran, sementara Bible selalu memanggil Allah dengan kata “AKU”.

KESIMPULANNYA adalah, bahwa kata KAMI dalam Alquran, hanya memberi SATU PESAN kepada kita semua, baik Muslims mau pun Christians, bahwa itu adalah CARA ALLAH meng-signify-kan betapa firman Allah kepada Muhammad tidak pernah diubah-ubah oleh redaksi Muhammad, seperti janjiNya dalam Ulangan 18.

Mungkin pertanyaan berikutnya adalah, “lantas mengapa Allah selalu memanggil diriNya dengan kata KAMI, ketika Dia berbicara dengan para Nabi pada masa kapan pun?”. Jawabannya adalah, mengapa itu kita permasalahkan? Apakah kita berhak untuk mendikte Allah bagaimana Dia harus memanggil diriNya sendiri? Setidaknya, apakah salah kalau Allah (selalu) memanggil diriNya dengan kata KAMI?
Point berikutnya, Sdr. Romli menyebutkan, bahwa ada keterlibatan Jibril dan Muhammad dalam penulisan wahyu dalam Alquran, seperti kata-kata Anda dalam artikel Anda tersebut, “Al-Quran adalah “karya bersama” Allah, Jibril dan Nabi Muhammad. Kelompok rasional Islam Muktazilah adalah pelopor pemahaman ini.”
Sebenarnya Anda keliru besar. Kalau kita tilik permasalahan “KAMI” menurut apa yang sudah saya jelaskan di atas, maka tidak perlu lagi ada perdebatan mengapa Alquran menggunakan kata KAMI untuk memanggil Allah – tidak perlu lagi kita berprasangka bahwa kata KAMI menyiratkan pluralitas. Dengan kata lain, kelompok Mutalizah BELUM SAMPAI pada pemahaman seperti yang saya jelaskan tersebut. Kita harus dapat memaklumi kekurangan si Muktalizah ini, mengingat pada masa itu belum berkembang ilmu perbandingan antara Alquran dan Bible.

Lebih lanjut lagi, kalau kita tetap berprasangka bahwa kata KAMI menyiratkan adanya pluralitas (Allah – Muhammad – Jibril), maka kita butuh kepastian yang lebih keras lagi, seperti pada ayat ini,

[2:34] Dan (ingatlah) ketika KAMI berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Ayat ini melukiskan saat terciptanya Adam. Pada masa itu tentu saja Muhammad “belum” ada. Jibril kemungkinan besar pun juga belum ada. Lantas, kata KAMI merujuk kepada siapa saja? Kombinasi Allah Muhammad Jibril tentunya akan membuat khalayak Muslims lebih bingung lagi, mengingat, kalau Muhammad dan Jibril tidak ada, maka apakah itu berarti Allah tidak akan KUASA untuk membuat ayat atau Alquran? Apakah ini berarti bahwa Allah membutuhkan makhlukNya ketika Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu yang lain?

Sebenarnya masih banyak ayat lain dalam Alquran yang tetap memanggil Allah dengan kata AKU seperti,

[2:33] Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya AKU mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ”

Lantas mengapa Anda ingin memperjuangkan prasangka Anda bahwa kata KAMI dalam Alquran merujuk kepada pluralitas? Kalau boleh jujur, sebenarnya Allah itu dalam Alquran “agak membingungkan juga”, mengingat, tempo-tempo Dia memanggil diriNya dengan kata AKU, dan tempo-tempo Dia memanggil diriNya dengan kata KAMI. Maksud saya berkata seperti ini adalah, kalau kata KAMI merujuk kepada PLURALITAS, maka bagaimana dengan kata AKU? Anda jangan melupakan juga peran kata AKU yang benar-benar merujuk kepada SINGULARITAS TULEN.

Kemudian Anda menulis,
“…….Dari kajian sejarah ini, Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya. Dalam ranah ini, pendapat Nashr Hamir Abu-Zayd bahwa al-nash muntaj tsaqafi (Al-Quran merupakan produk budaya) adalah sahih. Al-Quran adalah produk rangkaian proses kreatif-kolektif manusia yang disebut budaya. Wahyu tidak bisa lepas dari dua faktor yang membentuknya : sejarah (al-tarikh) dan konteks (al-waqi’)….”

Pendapat tokoh yang Anda gunakan pada paragraph tersebut memang menarik. Namun tolong perhitungkan saran saya. Orang yang bernama Nashr Hamir Abu Zayd ini dengan “titahnya”, apakah memang diterima secara luas di kalangan intelektual Muslims Dunia? Siapa sajakah pendukungnya? Siapa sajakah kawan seperjuangannya? Siapakah gurunya? Dan siapakah musuh-musuhnya? Jangan – jangan, Anda hanya mengambil / “mencomot” pendapat-pendapat yang berseliweran di Dunia ini yang sesuai dengan fikiran Anda saja, dan pendapat lain yang bertentangan dengan Anda tidak Anda masukkan di artikel Anda. Satu hal yang harus Anda ingat, Nashr Hamir Abu Zayd bukanlah seorang Nabi, bukan pula seseorang yang mengklaim memperoleh cahaya penerangan dari Surga. Ia bisa salah, dan bisa saja sekarang orang yang bersangkutan sudah bertaubat kepada Allah. Pernahkah Anda berfikir demikian?
Terus terang, saya tidak mengenal dengan baik siapa Nashr Hamir Abu Zayd ini. Dan saya rasa saya tidak berkewajiban untuk mempelajari buku-bukunya.

Kemudian Anda menulis,
“…….Kisah-kisah Al-Quran yang dipercaya sebagai mukjizat hakikatnya merupakan KISAH-KISAH YANG SUDAH POPULER PADA ZAMAN ITU. AL-QURAN TIDAK PERNAH MENGHADIRKAN KISAH-KISAH YANG BENAR-BENAR BARU. Misalnya saja kita tidak menemukan kisah tentang masyarakat Cina atau India, yang waktu itu telah memiliki peradaban yang luar biasa. Hal itu terjadi karena kisah-kisah tersebut tidak pernah sampai atau kurang populer ataupun tidak memiliki dampak ideologis dan politis terhadap masyarakat Arab. Berbeda dengan kisah-kisah yang berasal dari kawasan yang disebut “Bulan Sabit Subur”. Kawasan ini menjadi “mata air” yang mengalirkan kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Quran…..(capital emphasize mine)”.

Dalam upayanya untuk menjatuhkan Alquran, orang orang Christians sering berkata, “tidak ada yang baru pada Alquran. Semua yang ada dalam Alquran berasal dari kitab sebelumnya yaitu Bible..”

Klaim tersebut memang benar, 100% benar. Sebenarnya klaim tersebut diajukan pihak Christians untuk menimbullkan kesan bahwa Muhammad hanya meniru-niru Bible, namun satu hal yang kaum Christians tidak menyangka. Islam adalah kelanjutan dari agama sebelumnya, oleh karena itu Alquran harus mengemban (lagi) apa yang dikandung Bible. Akhirnya klaim tersebut hanya kembali memperkuat posisi Islam dan Alquran.

Begitu juga dengan paragraph Anda di atas. Klaim Anda memang benar, Alquran tidak pernah menghadirkan kisah-kisah yang baru. Alquran harus mengulang apa yang sudah menjadi isu / wacana masyarakat manusia kala itu, hanya saja lebih benar dan lebih jernih.
Kalau Anda mau jujur, mana ada sih kitab lain yang menghadirkan kisah-kisah baru yang jauh melampaui konteksnya? Apakah kitab Hindu, Buddha, Bible, Konghucu dan seterusnya mempunyai segudang informasi yang jauh melampaui konteks dan masanya? Tolong perkaya pengetahuan saya dari Anda dengan memberi saya jawaban yang enak atas pertanyaan ini. Mudah-mudahan Allah membantu Anda.

Alquran dan Jesus.

Dalam artikel Anda, tertulis kesan bahwa kontak antara Muhammad dengan kaum Christians Ebyon MENDAHULUI tertulisnya ayat-ayat Alquran yang menjelaskan bahwa Jesus bukan anak Tuhan, dan Jesus tidak mati disalib. Anda ingin mengedepankan “maksud” Alquran bahwa Jesus bukan anak Tuhan, karena Muhammad mempunyai kontak yang amat personal dengan kaum Ebyon, dan kemudian karena misi Islam amat berbeda dengan misi Kristen pada umumnya.

Namun Anda belum menjelaskan, kalau Islam tidak ingin dibilang “mengcopy – paste” ajaran-ajaran yang sudah ada lebih dulu (dalam hal ini Ebyon), maka Islam harus bilang apa? Apakah Islam harus menyatakan, Jesus adalah wanita? Apakah Alquran harus menyatakan bahwa Jesus adalah “Malaikat salah bikin”? Apakah itu semua harus dinyatakan Islam demi agar supaya tidak ada orang yang bisa berkata bahwa Alquran mengcopy paste ajaran sebelumnya?
Atau, Islam / Alquran tetap berkata bahwa Jesus bukan anak Tuhan dan dia tidak mati disalib, dan kemudian Islam harus melakukan sesuatu yang kelewat fundamental demi tidak ada orang yang bisa menuduh bahwa Alquran hanya mengcopy paste?

Keadaannya tetap saja RUNYAM kalau kita harus mengikuti cara Anda berfikir. Misalnya Alquran “mengcopy paste” ajaran Kristen Roma di mana Jesus adalah anak Tuhan dan mati disalib, nah nanti Anda akan berkata,

1. Alquran mengcopy paste ajaran Roma ketimbang ajaran Ebyon –
2. karena Ebyon kala itu adalah bidah
3. dan minoritas,
4. dan Muhammad “ambil muka” orang Roma karena Muhammad ingin sekali menjadi paus Roma (namun tidak kesampaian juga sampai sekarang karena Muhammadnya keburu mati).

Jadi, Islam harus pilih yang mana? Bukankah keempat tuduhan di atas amat mengerikan bagi siapa pun? Apakah Anda dapat menjamin bahwa kalau Islam mengambil / “menyadur” ajaran Roma (bukan Ebyon), maka Anda tidak akan mengeluarkan 4 tuduhan tersebut?
Menurut saya Anda harus adil dan bijaksana, jangan sampai Anda hanya mempersulit Islam. Islam kan juga ingin survive, seperti Kristen Roma itu. Anda setuju?

Kemudian Anda menulis,

“……..Kesimpulan saya sementara -YANG TENTU SAJA BISA DIDEBAT DAN DIBANTAH- kisah Isa (Yesus) dalam Al-Quran, yang menegaskan bahwa Isa “hanyalah” seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen : Ebyon…..(capital emphasize mine)”.

Anda benar. Kesimpulan Anda, tentu saja dapat dibantah dan didebat – dengan sendirinya. “Saduran”. “Saduran” dari mana? Kalau dari Roma, Anda akan berkata apa? Kalau saduran dari orang Hindu, Anda akan berkata apa? Kalau saduran dari Talmud, Anda akan bilang apa? Islam harus bilang apa supaya tidak dituduh menyadur pekerjaan orang lain? Apakah demi tidak dituduh menyadur maka Allah harus berdiam diri saja melihat kesalahan berfikir?

Seperti yang Anda katakan,

“…….Kajian-kajian tadi, baik terhadap teks-teks Al-Quran maupun kajian sejarahnya, menyatakan bahwa pewahyuan Al-Quran berasal dari sumber dan konteks yang plural : konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup, baik sebelum maupun setelah ia menerima wahyu…..:”.

Pernyataan itu tentu saja tidak berdasar. Pewahyuan Alquran TIDAK berasal dari sumber dan konteks yang plural. Alquran berasal dari sesuatu Yang Singular, Allah, Laa Syarikalahu, tidak ada serikat bagiNya. Perkataan KAMI dalam Alquran adalah cara Allah meng-signify-kan betapa Muhammad tidak mempunyai peran dalam meredaksikan kalimat Allah – seperti yang sudah saya jelaskan di sini. Kemudian lanjut pada bagian, “….konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup”, ini pun juga merupakan statement Anda yang salah. Tolong tunjukkan kitab lain yang kodratnya amat khas, yaitu jauh melampaui konteks dan sejarah di mana kitab itu ditulis. Bisakah Anda?

Kemudian Anda menulis,

“……Al-Quran sebagai “kitab-keimanan” sah-sah saja bila diyakini memiliki sumber tunggal : ia adalah mukjizat, melalui proses yang menakjubkan, hingga di luar nalar manusia. Namun, Al-Quran dalam kajian….”
Anda keliru besar. Alquran bukan saja kitab keimanan, namun ia juga merupakan kitab yang di dalamnya terkandung bayangan-bayangan Ilmu Pengetahuan yang amat kental. Alquran sudah mengungkap fakta sejarah dan ilmiah di mana kala itu umat manusia belum mempunyai teknologi dan metode berfikir yang handal untuk mencapainya. Lebih lanjut lagi Anda menulis, “namun Alquran dalam ……”, saya tegaskan, tidak ada “namun-namunan” dalam hal Alquran ini. Tidak ada proses kreatif-kolektif atau apa pun itu namanya. Alquran ADALAH KALIMAT ALLAH SEMATA dan semua manusia di Bumi ini dari segala jaman sudah gagal untuk membuktikan sebaliknya. You try you will lose – like others have and had. Sudahkah Anda melihat dan belajar berapa banyak individu di dalam sejarah yang mencoba menjatuhkan Alquran namun pada akhirnya gagal total? Anda bukanlah orang pertama, dan untuk tujuan menghancurkan Alquran ini, saya rasa Anda tidak akan pernah bisa menjadi pahlawan penghancur Alquran yang mereka dambakan.

Tentang Bible

Anda mengkonfrontirkan antara Alquran dan Bible (dan juga Christianity), dan pada banyak waktu sepertinya Anda justru lebih memihak kepada eksistensi / kemuliaan Bible, terlihat dari bagaimana Anda ingin selalu menjatuhkan dan mendeskreditkan Alquran. Ada satu kesan yang saya peroleh dari paragraph Anda di atas. Anda ingin menimbulkan kesan bahwa Alquran “bikinan” manusia semata. Coba renungkan beberapa item di bawah ini.

1. Bible adalah suatu kitab yang di dalamnya terkandung begitu banyak pertentangan. Bahkan semua / kebanyakan orang Christians mengakui hal tersebut.

2. Bible adalah kitab yang di dalamnya terkandung begitu banyak warta pornografi. Semua orang Christians tidak dapat menghindari diskusi tersebut.

3. Bible adalah suatu kitab yang di dalamnya terdapat PERTENTANGAN yang amat radikal terhadap azas – azas keilmuan / Ilmu Pengetahuan. Semua orang Kristen tidak dapat menghindari kenyataan tersebut.

4. Perjanjian Lama sudah menghinakan Nabi – Nabi Tuhan seperti Lut, Daud, Yakub dan lain lain. Benarkah berita-berita itu datang dari Tuhan Surgawi?

5. Banyak ramalan – ramalan dalam Bible tidak terbukti sama sekali HINGGA HARI INI.

6. Semua sarjana Muslims “sudah terlalu lengkap” dalam mengkritik betapa Bible sudah tidak lagi otentik, dan itu sesuai dengan dasar – dasar fakta dan sejarah.

7. Semua sarjana sekuler “sudah terlalu lengkap” dalam mengkritik betapa Bible sudah tidak lagi otentik, dan itu sesuai dengan dasar – dasar fakta dan sejarah.

8. Baru-baru ini sejarah mengungkapkan bahwa Jesus HIDUP BERKAWIN bahkan berpoligami yaitu dengan Magdalena dan Marta dan melahirkan beberapa anak. Ini sudah membuktikan bahwa Christianity harus bubar karena ternyata Jesus bukanlah anak Tuhan. (Namun tentunya gereja menolaknya, yang jelas mereka berdiam diri sama sekali karena kehabisan kata-kata untuk menghindarinya).

9. Banyak Gospel yang ditolak oleh gereja, dan hanya sebagian kecil Gospel yang diterima oleh gereja. Atas dasar apa gereja (yang isinya manusia manusia berdosa belaka seperti kita-kita) menentukan “criteria” diterima atau tidak diterimanya suatu Injil?

10. Semua Injil di Dunia ini bernenek moyang ke Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus yang bertahun 300an M. Sebelum 300M, pengikut Almasih membaca apa?

11. Pada Katakombe di bawah kota Roma yang berasal dari abad pertama Masehi tidak ditemukan adanya satu pun tanda salib. Ini menandakan bahwa pengikut Almasih pada masa itu tidak menggunakan salib sebagai tanda keimanan mereka. Kalau pada masa itu mereka tidak menggunakan tanda salib, maka konsekwensi logisnya adalah, bahwa pada masa itu mereka tidak mengenal istilah “anak Tuhan”, trinitas dan penebusan dosa. Tak ayal lagi, tidak perlu bagi siapa pun (khususnya kaum Muslims) untuk mencoba-coba membela Christianity dan atau Bible.

“…….As a matter of interest, Bamber Gascoigne, of Oxford University, UK, draws one’s attention in his book “The Christians” to the fact that none of the early Christian catacombs / tombs were engraved with the sign of the cross. The engraving of the cross on the tombs was introduced much later on in the history of Christianity…..”

12. Sahadat Bapa – Anak “ditemukan” baru pada tahun 300an M. Jadi, sebelum bilangan tahun tersebut, tidak ada pengikut Almasih yang menyatakan Iman mereka dengan cara meresapi Trinitas.

13. Sahadat Bapa – Anak dirancang oleh manusia, bukan datang dan berasal dari kitab suci mereka. Sahadat ini adalah hasil voting dan perdebatan belaka.

14. Ketika Muhammad Saw membersihkan Ka’bah, banyak dijumpai di dalamnya icon-icon semua agama termasuk Yahudi dan Kristen. Muhammad Saw tidak menemukan satu pun tanda salib di dalam Ka’bah tersebut. Muhammad hanya menemukan “patung” Bunda Maria sedang menggendong anaknya. Berarti pada masa Muhammad Saw pun (yang lahir pada tahun 571M) orang Kristen belum menggunakan salib sebagai tanda / dasar Iman mereka.

“……….[After the conquest of Mecca] “Apart from the icon of the Virgin Mary and the child Jesus, and a painting of an old man, said to be Abraham, the walls inside [Ka’bah] had been covered with pictures of pagan deities. Placing his hand protectively over the icon, the Prophet told `Uthman to see that all other paintings, except that of Abraham, were effaced.”.
(Martin Linggs, “Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources” p.300, ref: al-Waqidi, Kitab al-Maghazi 834, and Azraqi, Akhbar Makkah vol. 1, p. 107. Martin Linggs is a practicing Muslim.) …..”

15. Petrus dan Paulus adalah tokoh penting dalam Bible Perjanjian Baru. Perlu Anda (dan semua orang Christians) ketahui bahwa kedua orang ini adalah “korban” / bukti dari JANJI KUTUKAN Tuhan dalam Kitab Ulangan pasal 18. Petrus membawa pesan yang bukan datang dari Tuhan, dan Paulus mengaku-ngaku sebagai Rasul. Petrus MATI TERHUKUM dengan disalib terbalik, dan Paulus MATI TERHUKUM dipenggal oleh Kaisar Nero (dengan kata lain, keduanya MATI TIDAK WAJAR).

DARI PADA Anda mendeskreditkan agama Islam / Muhammad, mengapa Anda tidak mencoba untuk mempelajari betapa Christianity adalah suatu kesalahan FATAL yang amat besar (ke 15 point di atas adalah beberapa input dari sekian banyak untuk tujuan tersebut) yang hanya mempermalu species Manusia di mata Illahi?

Mungkin Anda justru akan berdalih, bahwa 15 point tersebut hanya akan memperuncing hubungan kedua agama, karena sejatinya Anda hanya menginginkan “MEMBANGUN DIALOG ANTARAGAMA, MELAWAN FANATISME DAN KEBENCIAN….”.

Apakah saya tidak salah baca? Apakah dialog antaragama dan melawan fanatisme kebencian harus dimulai dengan cara mendeskreditkan Islam / Muhammad / Alquran / Jibril begitu rupa? Apakah dengan cara:

1. Mendeskreditkan Islam / Allah / Muhammad / Jibril,

2. Dan TIDAK mendengung – dengungkan ke 15 point tersebut

Maka kita dapat dikatakan ingin membangun dialog antar agama? Dan untuk lebih jelas lagi, kita akan dapat dikatakan ingin membangun dialog antara agama dan menentang fanatisme dan kebencian agamis HANYA KALAU kita mendeskreditkan Islam / Allah / Muhammad / Jibril / Alquran? Mental seperti apa itu?

Setidaknya, Anda harus ingat, bahwa JAUH LEBIH MUDAH mendeskreditkan Christianity dari pada Islam. Namun sekarang Anda justru lebih memilih untuk bersusah payah untuk mendeskreditkan Islam yang sebenarnya sudah tidak dapat lagi untuk dideskreditkan oleh siapa pun.

Dalam surat Anda, Anda mengutarakan misi Anda untuk mencari titik temu antara Islam dan Kristen. Penting untuk Anda ketahui, bahwa Islam dan ajaran Al Masih mempunyai 100% kesamaan, asalkan ajaran itu belum bercampur dengan kehendak tangan keji pada masa-masa lanjut. Saya sudah membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (di luar risalah Paulus). Semua ayat-ayat di sana membuat saya menitiskan air mata karena terharu, betapa Isa Almasih “masih satu perguruan” dengan Muhammad Saw. Tak satu pun dari perkataan Isa yang menjelaskan bahwa ia adalah anak Tuhan dan harus disembah. Islam tentu saja tidak dapat dicarikan titik temunya dengan kekristenan yang sekarang ini.
Kemudian, kalau memang Anda ingin menemukan titik temu antara kedua agama, maka mengapa Anda tidak juga mendeskreditkan Christianity sedemikian rupa, seperti yang baru saja Anda lakukan terhadap Islam dan Alquran? Di mana letak keadilan Anda? Apakah Anda berfikir Islam dan Christianity dapat dipertemukan dengan damai kalau Islam sudah dideskreditkan sedemikian rupa? Jadi, Islam seperti yang Anda inginkan supaya dapat dipertemukan dengan Christianity? Apakah Anda berfikir bahwa Islam dan Christianity dapat dipertemukan kalau Christianity Anda agung-agungkan sedemikian rupa dan Islamnya Anda deskreditkan sedemikian rupa? Tidakkah itu aneh –untuk ukuran orang Indonesia seperti Anda?

Lebih lanjut, Anda menulis dalam surat Anda, “Saya mencintai agama saya (Islam) maka saya mengkritiknya”.

Apakah saya tidak salah baca? Mengapa Anda berfikir bahwa Islam pantas untuk dikritik? Bukankah Islam adalah agama yang sempurna? Dan bukankah Allah sendiri Yang menyatakan demikian dalam surat Al Maidah ayat 3? Kalau Anda berdalih bahwa firman Allah dalam surah Almaidah 3 tersebut tidak dapat dijadikan rujukan, maka berarti Anda bukan Islam dan bukan Islam SEPENUHNYA. Berarti Anda orang di luar Islam. Bukankah salah satu rukun Iman adalah bahwa Anda harus percaya kepada Alquran (beserta semua ayat di dalamnya)? Kalau ada seseorang yang merasa Islam pantas untuk dikritik, maka biasanya orang itulah yang harus dikritik. Anda setuju? Kalau Anda memang benar-benar cinta Islam, tentunya Anda akan memilih untuk membela Islam, bukan untuk mengkritiknya. Kritik akan berarti cinta kalau yang dikritik adalah anak asuh seperti dalam hubungan seorang guru dengan muridnya. Masalahnya Islam bukanlah murid Anda. Islam bukanlah anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Sebuah film pasti akan dikritisi. Namun yang mengkritisi film tersebut pastilah manusia-manusia yang sebelumnya sudah terlibat pada aktivitas pembuatan film seperti produser film, actor, sutradara, wartawan khusus film dan seterusnya. Tidak pernah seorang Jenderal TNI tiba-tiba menjadi kritikus film. Masalahnya, apakah Anda ‘berpengalaman’ dalam penciptaan agama-agama? Apakah Anda termasuk dalam jajaran pada dewa yang memproduksi dan mengatur lalu lintas agama – agama sepanjang masa?

Kemudian kalau Anda berfikir bahwa Islam adalah pantas untuk dikritik, maka bagaimana dengan Kristen? Apakah dari semua agama di Dunia ini, hanya Islam yang dapat dikritik habis-habisan? Apakah Kristen tidak layak untuk dikritik? Kalau Kristen tidak layak untuk dikritik, berarti Anda mulai berfikir bahwa Kristen adalah agama Tuhan yang benar; agama yang sempurna. Kalau sudah begitu, maka berarti Anda MURTAD dari Islam. Pantas, semua perkataan Anda cenderung membela Kristen dan menghina Islam. Kalau Anda juga mengkritik Kristen dan agama lain di samping Islam, ya oke lah. Namun kenyataannya Anda hanya mengkritik Islam. Apakah Anda sadari hal itu?

Kalau Anda mengkritisi adat Minangkabau, ya okelah. Kalau Anda mengkritik kebiasaan orang Badui, masih bisa diterima. Masalahnya Islam bukanlah bikinan manusia seperti yang Anda duga selama ini.

Anda menulis, “Saya menolak fanatisme dan fundamentalisme dalam setiap agama”. Masalahnya Anda terlanjur memberi pengertian negative tentang fanatisme dan fundamentalisme. Banyak Muslims (dan juga di lingkungan agama lainnya) yang sukses besar lantaran mereka mempunyai kedua hal tersebut. Hanya saja Anda tidak menyadarinya. Imam Bonjol dan Pangeran Dipenogoro adalah contoh dari jiwa fanatisme dan fundamentalisme. Kalau tidak ada mereka, tidak akan pernah ada yang namanya NKRI. Mahatma Gandhi tidak akan muncul dalam sejarah kalau ia tidak berjiwa fanatisme dan fundamentalisme tersebut. Mereka yang sangat kejawaan, pastilah kejawaannya itu dilandasi oleh fanatisme dan fundamentalisme. Mereka yang kesundaan, pastilah demikian juga keadaannya. Mengapa Anda tidak pernah mengutuki mereka? Bukankah mereka yang menjadi pilar pelestarian budaya? Ya okelah kita harus memberangus fanatisme dan fundamentalisme. Namun apakah dengan cara mendeskreditkan Islam dan memuliakan Kristen?

Yang harus Anda berangus adalah rasa kebencian. Dan mereka yang mempunyai kebencian terhadap agama lain belum tentu didasari oleh fanatisme dan fundamentalisme. Banyak sekali unaware Muslims (Muslim yang kurang pemahamannya terhadap Islam) justru mempunyai kebencian yang luar biasa terhadap agama lain. Begitu juga dengan di lingkungan Kristen, Hindu dan seterusnya. Anda harus pahami itu.

Kemudian, dari 10 Muslims Jakarta, apakah kesepuluhnya mempunyai rasa kebencian terhadap agama lain? Apakah dari 100 Muslims Jakarta, kesemuanya mempunyai kebencian terhadap Kristen misalnya? Begitu juga di lingkungan Kristen. Tanyakan pada santriwan dan santriwati. Apakah mereka didoktrin untuk membenci Kristen? Lantas mengapa hanya kalangan Muslims saja yang Anda kritisi? Sedikit, sedikit sekali dari kalangan penganut agama tertentu yang mempunyai rasa kebencian terhadap agama lain. Namun satu hal yang harus Anda ingat. Yang harus Anda tangani bukan Islamnya, namun ORANGnya. Yang harus Anda kritik (dan kutuk) adalah ORANG yang mempunyai jiwa kebencian terhadap agama lain. Islam tidak mempunyai hubungan apa pun dengan individu individu seperti itu. Saya rasa Anda salah dalam memilih bidang pekerjaan yang pas untuk latar belakang pendidikan Anda. Nah apalagi sekarang Anda berusaha untuk mencari titik temu antara Islam dan Kristen sambil menghinakan agama Islam di depan jemaat Kristen. Saya pastikan, Anda tidak akan berhasil dengan tanggung-jawab tersebut.

Sebelum terlambat, ingin saya tegaskan bahwa Islam TIDAK PERNAH BERHUTANG BESAR kepada Kristen dan Yahudi. Pernyataan Anda memang benar-benar bernada bahwa Kristen dan Yahudi amat mulia. Islam datang dari Allah Swt, bukan dari kedua agama tersebut. Anda hanya ingin menegaskan bahwa tidak ada yang diperbuat Muhammad kecuali mendompleng kemasyhuran Kristen dan Yahudi (oleh karena itu Islam harus berhutang besar kepada 2 agama tersebut). Bagaimana saya harus menyikapi pernyataan Anda tersebut secara proporsional?

Anda berkata tentang permusuhan antara pemeluk agama, dengan kata lain Anda ingin mempromosikan toleransi yang indah dan harmonis antara penganut agama, khususnya di Indonesia ini. Mungkin pemahaman Anda masih kurang, maka saya ingin membantu Anda dalam menyelesaikan masalah ini.

Sejak jaman pembangunan Borobudur, kerukunan antar umat beragama sudah tercipta. Sejak berakhirnya masa pra-sejarah Indonesia yaitu tahun 400M dengan ditemukannya prasasti Kerajaan Kutai di Kalimantan, kerukunan multi agama sudah terbukti dengan indahnya. Pada masa colonial Belanda, si pribumi yang Muslims dengan si Belanda yang Kristen tidak pernah terjadi kerusuhan agamis. Tidak pernah ada berita dari masa itu di mana si Belanda yang Kristen dilanda kepanikan luar biasa karena Natal mereka diobrak-abrik oleh pribumi yang Muslims. Begitu juga sebaliknya, tidak pernah Masjid Masjid dibakar Belanda ketika berlangsungnya shalat Idul Fitri. Tidak pernah terjadi pejabat colonial Belanda menyiksa pribumi supaya si pribumi itu murtad. Nenek moyang “Belanda Depok” adalah individu individu pribumi yang masuk Kristen secara sukarela, sama sekali Chastellin tidak memaksa mereka.

Tiba-tiba muncul seseorang yang bernama Mohamad Guntur Romli yang mengusahakan untuk pemberangusan kebencian terhadap agama lain sambil ia menghinakan Islam di depan jemaat agama lain – dalam hal ini agama Kristen. Perlu Anda ketahui, tanpa bantuan Anda dan tanpa cara berfikir Anda yang aneh tersebut., toh kerukunan antar umat beragama tetap exist di muka Bumi ini. Singkat kata, kontribusi Anda dalam isu ini benar-benar dapat DITIADAKAN.

Nenek moyang kita, tanpa harus menjelek-jelekkan suatu agama pun, dapat menciptakan kerukunan umat beragama. Dengan kata lain, kerukunan umat beragama dapat tercipta tanpa harus menjelek-jelekkan suatu agama. Maka sekarang di mana posisi Anda? Di mana posisi Anda, di mana Anda berkata, bahwa dari semua agama Dunia ini, hanya Islamlah yang paling dapat dikritik habis-habisan? Di manakah posisi Anda, di mana Anda berkata, bahwa semua agama kecuali Islam tidak dapat dikritik sama sekali alias sempurna? Kalau Anda membantah pernyataan saya ini, maka buktikanlah bahwa Anda pun berminat untuk mengkritik Kristen, buatlah essay yang panjang untuk menjelaskan betapa Kristen memiliki ketimpangan yang amat memalukan. Pernahkah Anda menghasilkan essay seperti itu? Apakah masuk akal, Anda ingin mendamaikan antara si A dan si B dengan cara Anda menjelek-jelekkan si A di depan si B?

Secara garis besar Anda harus ingat. Kerukunan antar umat beragama yang sudah tercipta di Bumi Nusantara selama berabad-abad ini tercipta tanpa bantuan dari orang orang seperti Anda, tanpa buah fikiran seperti Anda.

Pada akhirnya, mengapa Anda berandai-andai Anda dapat menciptakan kerukunan antar umat beragama dengan cara menghinakan Islam di depan jemaat agama lain? Mengapa Anda berfikir tanpa ‘jerih payah’ Anda maka kerukunan itu tidak akan pernah tercipta? Anda bisa lahir dengan selamat pun karena sudah tercipta kerukunan antar umat beragama tersebut. Ketika ibunda Anda berada di ruang persalinan untuk kelahiran Anda, salah satu perawat yang membantu persalinan Anda adalah non Muslim. Namun semua perawat itu saling bahu membahu, saling membutuhkan, saling memakai tanpa membawa-bawa perbedaan agama. Kerukunan sudah tercipta mengawali kelahiran Anda. Tidakkah Anda sadari hal itu?
Kalau Anda tidak pernah menyadari hal itu, maka apa saja yang Anda sadari di kehidupan Dunia yang singkat ini? Mungkin Anda akan berdalih, bahwa artikel Anda tersebut sama sekali tidak mempunyai tujuan untuk mendeskreditkan / menjelek-jelekkan Islam. Namun bukankah Anda sendiri yang terang-terangan berkata bahwa Anda ingin mengkritik Islam? Kalau bukan mendeskreditkan dan atau menjelek-jelekkan Islam, maka apa lagi definisi dari “mengkritik” itu? Akhirnya kembali saya ingin katakan, “Kalau Anda tidak pernah menyadari hal itu, maka apa saja yang Anda sadari di kehidupan Dunia yang singkat ini?”.

Dalam komentar Anda, tertulis, “Saya ingin terus mencari titik-temu di antara agama-agama, mendekatkan perbedaan, bukan memperluaskannya hingga bisa lahir KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN (-capital emphasize mine).”

Apakah saya tidak salah baca?
Dengan tegas Anda menyatakan bahwa Anda ingin mengkritik Islam (karena alasan cinta, kata Anda). Mengkritik Islam berarti Anda melancarkan kata-kata tidak pantas, menjelek-jelekkan yang diarahkan kepada Islam, mendeskreditkan Islam sedemikian rupa. Bahkan dalam paragraph terakhir Anda menulis, “yang disesuaikan dengan “KEPENTINGAN PENYUNTINGNYA” (-capital emphasize mine)”. Anda dengan terang-terangan menegaskan SESUAI DENGAN KEPENTINGAN PENYUNTINGNYA. Bukankah ini berarti bahwa dalam fikiran Anda Alquran semata-mata adalah karya Muhammad – bukan karya Illahi? Kalau ini tidak dikatakan sebagai serangan, menjelek-jelekkan Alquran, maka disebut apa lagi?
Dan tanpa Anda sadari, mudahnya Anda melancarkan kritikan terhadap Alquran, sebenarnya itu terlahir dari KEBENCIAN Anda terhadap Alquran dan Islam. Anda harus membuka mata Anda, bahwa jika seorang individu mencintai Alquran, maka ia akan selalu membangga-banggakan Alquran, memuja Alquran dan membela Alquran, apa pun ceritanya. Maksudnya, tidak mungkin ada seorang individu yang amat mencintai Islam dan atau Alquran, maka cintanya itu menyebabkan ia mengatakan hal-hal yang menjelek-jelekkan Alquran tersebut. Tiba-tiba Anda mengaku Anda sangat mencintai Islam (dan Alquran) namun dengan cara mengkritik Alquran sedemikian rupa. Tidak ada satu pun individu di Alam ini yang dapat memahami pendirian Anda.
Singkat kata, siapakah di sini sebenarnya yang MENYEBARKAN KEBENCIAN dan permusuhan? Sadarkah Anda bahwa tulisan Anda itu justru menimbulkan “serangan balik” dari kalangan aktivis Masjid, santriwan – santriwati dan semua kalangan Muslims yang lebih luas pada umumnya? Apakah Anda mengharap mereka semua berdiam diri saja melihat Alquran mereka Anda deskreditkan demikian rupa? Apakah Anda mengklaim, dengan artikel Anda tersebut maka Anda sedang menyebarkan damai ke seluruh umat Muslims di Indonesia?

Anda menyatakan cintanya kepada Islam dengan cara mengkritik (dengan demikian, menjelek-jelekkan dan mendeskreditkan) Alquran. Harus Anda ketahui, tanpa cinta Anda terhadap Alquran, Islam akan tetap jaya di Bumi ini. Tanpa orang seperti Anda dengan cinta Anda, Islam tidak akan bangkrut. Masih begitu banyak Muslims yang mencintai Alquran yang justru mengagung-agungkan Alquran dan membangga-banggakan Alquran.

Tolong renungi kembali pertanyaan saya. Siapakah di sini sebenarnya yang menyebakan kebencian terhadap Islam dan Muhammad dan Alquran? Apakah mungkin ada seseorang yang amat mencintai Islam dan Alquran justru ia mendeskreditkan Alquran tersebut di depan jemaat agama lain? Apalagi sambil mengisyaratkan bahwa Alquran itu sebenarnya bukanlah kalimat Tuhan, namun “hanya sebatas” pekerjaan si penyuntingnya yang tidak lain adalah Muhammad.

PENUTUP.

Percayalah, bahwa:

1. Kata KAMI dalam Alquran adalah cara Allah Swt untuk men-signify-kan betapa Muhammad tidak mempunyai peran untuk meredaksikan pembicaraan Tuhan – karena hal itu adalah janji Allah dalam Perjanjian Lama kitab Ulangan pasal 18.

2. Kata KAMI dalam Alquran Anda “USAHAKAN / PAKSAKAN” untuk berarti dan berperan sebagai “Trinitas” dalam Islam: Allah – Muhammad – Jibril. Teman saya yang Muslims akhirnya bersedia murtad ke Christianity karena panggilan jiwanya sangat mendambakan Trinitas, ia justru tidak memaksakan Islam supaya memiliki Trinitas. Saya menilai bahwa teman saya itu sudah menggunakan hak azasinya dengan baik yaitu memilih agama yang sesuai dengan panggilan jiwanya, dan di lain pihak ia tidak memaksakan Islam untuk mempunyai Trinitas seperti Christianity – karena tidak ada seorang pun yang BERHAK untuk memaksa Islam untuk mempunyai Trinitas versinya sendiri. Faham maksud saya?

3. Anda memaksakan Islam untuk mempunyai Trinitas melalui ‘kontroversial’ kata KAMI dalam Alquran. Tanpa sadar Anda sudah menempatkan Christianity dan Trinitasnya sebagai suatu AKSIOMA (suatu hal yang kebenarannya tidak lagi perlu diuji). Kalau Anda SUDI dan DAPAT menempatkan Christianity dan Trinitasnya sebagai suatu aksioma, mengapa Anda tidak melakukan hal yang sama terhadap Islam dan Alqurannya?

4. Apakah Anda menempatkan Islam dan Alqurannya sebagai sesuatu yang kebenarannya masih bisa diuji?

5. MENGAPA BISA SAMPAI TERJADI di mana Anda menempatkan Christianity dan Trinitasnya sebagai suatu aksioma, sementara Anda yang Muslims tidak menempatkan Islam dan Alqurannya sebagai aksioma bagi kehidupan Anda? Apakah Anda tidak dapat mengatasi masalah Anda sendiri?

6. Anda dengan tegas ingin mengkritik Alquran karena cinta Anda kepada Islam. Anda harus ingat mengkritik Islam berarti Anda mendeskreditkannya. Islam tidak diturunkan untuk dikritik. Islam diturunkan untuk dipatuhi.

7. Islam tidak butuh cinta Anda. Seluruh manusia di Bumi ini tidak mencintai Islam, Islam tidak akan bangkrut.

8. Anda mengkritik Alquran bahwa Alquran tidak pernah bisa jauh melampaui konteks dan masa ketika Alquran itu ditulis. Tunjukkan kepada saya ada kitab lain di Dunia ini yang content nya jauh melampaui konteks dan masanya.

9. Saya dan Muslims lain melihat dengan kecerdasan rohaniah bahwa Alquran (dan Alhadith) adalah suatu mahakarya yang contentnya jauh melampaui konteks dan masanya. Mengapa Anda tidak melihat hal demikian? Apakah Anda tidak pernah surfing di internet?

10. Kalau Anda berfikir bahwa ISLAM / ALQURAN PANTAS UNTUK DIKRITIK, maka agama lain pun juga pantas untuk dikritik

11. TIDAK MUNGKIN BENAR jika ada seseorang berkata, dari semua agama di Dunia yang fana ini, Islam adalah satu-satunya agama yang pantas dan bisa untuk dikritik habis-habisan.

12. Kalau Anda tidak sadar bahwa agama lain (dalam hal ini Christianity) selain Islam tidak pantas untuk dikritik, maka apa sajakah yang Anda dapatkan / sadari selama Anda hidup di Dunia fana ini?

13. Dan kalau Anda setuju bahwa CHRISTIANITY PUN PANTAS UNTUK DIKRITIK, maka turunkanlah artikel-artikel dari Anda untuk menjelaskan betapa Christianity adalah pantas untuk ditinjau ulang. Anda harus adil.

14. Dan kalau memang Anda setuju bahwa Christianity pantas untuk dikritik, maka sebaiknya Anda FOKUS SAJA untuk mengkritik agama tersebut habis-habisan. Itu LEBIH MASUK AKAL dari pada Anda menjelek-jelekkan agama Anda sendiri.

15. Christianity jauh lebih tepat untuk Anda kritik habis-habisan. Kalau Anda tidak dapat melihat potensi – potensi kebobrokan Christianity, maka Anda sebaiknya tidak usah menulis artikel di sana sini. Kaum awam pun akan dapat menemukan kejanggalan dalam agama Christianity tersebut dengan mudahnya. Mengapa Anda tidak?

16. Kalau memang Anda tidak dapat menemukan kebobrokan Christianity namun Anda justru dapat menemukan “kebobrokan” Islam, maka berarti Anda bukanlah Muslims, dan BERARTI ANDA TIDAK MENCINTAI ISLAM. Logika ini amat mudah bahkan bagi anak TK sekali pun!

17. Kalau Anda memang menemukan kebobrokan Christianity namun Anda tidak bersedia menuliskannya dalam artikel Anda, bahkan Anda lebih suka menulis artikel tentang kebobrokan Islam, maka atas dasar apa Anda memutuskan demikian? Keadilan? Kasih sayang kepada Islam?

18. Anda dengan sadar atau tidak sadar hanya ingin membuat ALQURAN SERBA SALAH. Jika Alquran menyatakan bahwa Jesus adalah anak Tuhan dan mati di kayu salib, maka Anda akan mehnuduh bahwa Muhammad menyadur pekerjaan orang Roma dengan tujuan agar Muhammad bisa menjadi paus di Vatican city. Jika Alquran menyatakan bahwa Jesus bukan anak Tuhan dan tidak mati disalib, maka Anda akan menuduh bahwa Muhammad menyadur pekerjaan orang Ebyon yang minoritas di kalangan Kristen. Jadi, Alquran harus bicara apa supaya tuduhan Anda tidak keluar?

19. Anda mempunyai misi untuk menghilangkan fanatisme dan fundamentalisme. Anda salah, dan usaha Anda itu akan gagal total. Fanatisme dan fundamentalisme adalah sesuatu yang positif.

20. Anda mempunyai misi untuk memberangus kebencian terhadap agama lain, Anda ingin membangun kerukunan antar umat beragama. Saya mendukung. Namun bukan agamanya yang Anda pelintir dan deskreditkan habis-habisan. ORANG nya yang harus Anda tangani. Anda kurang tepat dalam menentukan pekerjaan yang pas dengan latar belakang pendidikan Anda.

21. Anda mempunyai misi untuk menolak kebencian terhadap suatu agama. Justru Anda sendiri TELAH TERMAKAN oleh kebencian tersebut terhadap salah satu agama di Indonesia ini. Bagaimana Anda akan dapat berhasil?

22. Anda mempunyai misi untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Tanpa Anda dengan usaha Anda yang mendeskreditkan Islam itu, TOH kerukunan sudah lama tercipta di Bumi nusantara ini. Anda adalah pahlawan kesiangan. Jangan pernah berfikir bahwa tanpa “bantuan” Anda, tidak akan pernah ada kerukunan beragama di Indonesia ini.

KESIMPULAN.

Anda butuh bantuan. Mengapa saya berkata demikian? Saya percaya tidak ada satu pun dari point di atas yang dapat Anda sikapi dengan memuaskan dan gentlemen.

Apakah Anda berdomisili di Jawa Timur? Ketahuilah, di Jawa Timur banyak Ulama yang bersedia memberi Anda asistensi untuk dapat memahami Islam secara lebih baik. Apakah Anda berdomisili di Kalimantan? Di Kalimantan banyak Alim Ulama yang bersedia membantu mengeluarkan Anda dari masalah keislaman. Jangan segan – segan untuk meminta bantuan kepada mereka. Mereka adalah individu – individu yang mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk membantu umat Muslims dari semua masalah. Mereka tidak akan meminta bayaran dari Anda. Perlu Anda ketahui, bahwa Alim Ulama di seluruh Nusantara itu adalah junjungan semua kaum Muslims di Indonesia. Saya harap Anda pun menjunjung mereka juga.

Kalau Anda justru mengambil sikap berseberangan dengan mereka (Alim Ulama, MUI, DDI, LDI, Majlis Taklim seluruh Indonesia, ikatan remaja Muslims, ikatan remaja Masjid, dan seterusnya) maka memang ternyata Andalah yang punya masalah. Harus Anda ketahui, kesemua lembaga tersebut (dan masih banyak lagi yang lain) TIDAK PERNAH MENYEBARKAN KEBENCIAN TERHADAP AGAMA LAIN. Bagaimana dengan Anda? Kalau memang Anda tidak pernah menyebarkan kebencian terhadap suatu agama mana pun, maka seharusnya Anda sudah menganggap kesemua lembaga Muslims tersebut sebagai asisten Anda dalam memahami Islam. Faham maksud saya?

Wassalam.

Papahmamah

nologicology@gmail.com

tanggapan lain dari haniifa

(Kami) Jamak := Bismillahir Rahmaanir Rahim
(Kami) Asma := Allah and or Rahmaan and or Rahiim

Trinitas == Tiga sekaligus Asma “Allah” dalam Satu kesatuan.

and or….

Qulhu Wa Allahu Ahad

untuk Mohamad Guntur Romli : maaf saya tidak tahu web anda jadi saya ambil dari blog yang sudah disadur lengkap dengan komentarnya

komentar awal saya …… orang yang dipercaya untuk mengulang kata2 dan yang hanya untuk menyampaikan kata2 ….  manakah yang anda pilih ???? <<<<< ingatlah yang memberi kata2 itu adalah maha tahu …. lebih dekat mana orang yang menyebutkan gelar keagungan dengan yang menyebut nama dekat ?? jawaban ada pada pandangan anda masing2

Posted in diskusi bebas, islam, kristen | 21 Comments »

Sakramen Pengakuan Dosa

Posted by kosongan pada | 19 |Januari| 2009 |

sumber :http://www.st-andreas.or.id/content/view/366/1/

Oleh Romo Richard Lonsdale *

* Dipersembahkan dengan penuh kasih kepada Theresa dan William Lonsdale,
yang kini telah menikmati sukacita surgawi, dari ananda yang mengasihimu.

Image

MENGAPA MENGAKU DOSA ITU BAIK?

Dikatakan bahwa “Orang Katolik tidak perlu membayar biaya Psikiater (= dokter ahli jiwa) seperti orang lain, sebab kita memperolehnya secara gratis setiap hari Sabtu dalam Kamar Pengakuan.” Yah, pernyataan itu tidak sepenuhnya benar – hanya sedikit saja imam yang memang seorang psikiater – tetapi sungguh benar bahwa kamu mempunyai seorang penolong yang hebat untuk memberimu nasehat serta penyembuhan dalam Sakramen Rekonsiliasi (atau Sakramen Pengakuan Dosa) yang kamu terima secara teratur. LAGIPULA – dan ini sesungguhnya yang lebih penting – kamu memperoleh kuasa Sakramen untuk melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan dalam hidupmu agar memperoleh damai.

Dikatakan juga bahwa “Pengakuan Dosa itu baik bagi jiwa.” Memang benar demikian. Berbahaya sekali memendam persoalan-persoalan di dalam hati kita sendiri. Seringkali, hal terbaik yang dapat kita lakukan ialah membicarakannya dengan seseorang yang kita percaya. Dengan siapakah kita dapat melakukannya lebih baik daripada dengan seorang imam Katolik?

APA ITU DOSA?

PADA DASARNYA, DOSA IALAH SESUATU YANG KITA LAKUKAN YANG MENYAKITI ORANG LAIN. Jika kita menyakiti orang lain, kita bersalah. Mungkin tampaknya terlalu “Katolik” untuk merasa khawatir akan kesalahan kita, tetapi kesalahan sebenarnya adalah masalah tanggung-jawab. Jika kita menyakiti orang lain, kita harus merasa bersalah karena kita bertanggung jawab atas penderitaan orang itu.

Tentu saja, ada sebagian orang yang khawatir akan kesalahan mereka secara berlebihan. Mereka mempunyai skrupul batin (skrupul: sangat teliti, bahkan kadang berlebihan, pada hal yang sekecil-kecilnya) dan merasa berdosa dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Tetapi hal seperti itu sudah tidak lazim lagi di abad ke-21 ini!

Kebanyakan orang tidak lagi peduli akan akibat-akibat dari perbuatan mereka. Mereka hidup hanya untuk saat ini. Sesungguhnya, segala sesuatu yang kita lakukan membawa akibat bagi orang lain, kadang-kadang akibat baik, tetapi seringkali akibat buruk. Akibat itu disebut “Efek Domino” – yaitu serentetan akibat yang dapat menimbulkan masalah selama bertahun-tahun.

Biasanya ada tiga pihak yang menderita karena dosa: orang yang kamu sakiti, kamu sendiri, dan Tuhan. Mengapa Tuhan? Karena Tuhan adalah Bapa semua orang. Semua Bapa menderita jika anak-anak mereka disakiti. Tuhan itu penuh belas kasih. “Belas Kasih” artinya ikut merasa menderita dengan penderitaan orang lain. Tuhan sungguh-sungguh merasakan penderitaan kita, seolah-olah penderitaan itu menimpa Tuhan sendiri.

UNTUNGNYA, KITA DAPAT MELAKUKAN SESUATU

Begitu kita sadar bahwa kita menyakiti orang lain, saatnyalah bagi kita untuk berubah. Itulah alasan utama Pengakuan Dosa. Tuhan mengampuni kita DAN memberi kita pertolongan untuk berubah.

MENGAPA SAYA HARUS MENGAKUKAN DOSA-DOSA SAYA KEPADA SEORANG MANUSIA?

Sebagian orang mengatakan bahwa mereka tidak perlu mengakukan dosa-dosa mereka kepada seorang manusia. Mereka mengatakan bahwa mereka dapat mengatakan kepada Tuhan bahwa mereka menyesal dan Tuhan akan mengampuni mereka, di mana saja, dan kapan saja. Tetapi Sakramen Pengakuan Dosa (atau Rekonsiliasi) lebih dari hanya sekedar pengampunan dosa. Jika kita sungguh-sungguh menyesal, kita perlu berubah, berhenti berbuat dosa.

Imam adalah penasehat yang dapat menjelaskan mengapa kita bersalah dan bagaimana kita dapat berubah. Imam tidak berada di sana untuk menghakimi atau pun menghukum kita. Imam berada di sana untuk menganalisa masalah serta menyarankan penyembuhannya. Ia dapat menjelaskan segala sesuatunya dan bahkan akan mengatakan kepadamu jika kamu memang tidak bersalah.

Penitensi adalah bagian dari penyembuhan. Penitensi merupakan suatu langkah kecil awal untuk mengubah cara hidup kita. Kita tidak harus mengubah cara hidup kita saat itu juga, tetapi kita harus berubah. Sakramen Pengakuan Dosa memberi kita kekuatan untuk melakukan perubahan.

DARIMANAKAH SAKRAMEN PENGAKUAN DOSA BERASAL?

Yesus-lah yang memulai Sakramen Rekonsiliasi. Pada hari raya Paskah, Ia bersabda kepada para murid-Nya: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:21-23)

Kuasa ini diwariskan selama berabad-abad. Sakramen adalah semacam bahasa isyarat dari Tuhan. Sakramen berbicara langsung kepada jiwa. Tidak seperti bahasa isyarat lainnya, bahasa isyarat Tuhan memiliki kuasa untuk melakukan apa yang dikatakannya. Isyarat dalam Sakramen Pengakuan adalah absolusi (=pengampunan dosa) oleh imam. Gereja melaksanakan apa yang diperintahkan Yesus kepada kita, “mengampuni dosa orang.”

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16)

PENITENSI

Absolusi adalah langkah awal dari proses perubahan. Penitensi (= denda dosa) adalah langkah selanjutnya. Penitensi bukanlah suatu hukuman atas dosa-dosa yang kita akukan. Penitensi adalah langkah untuk menyembuhkan. Penitensi yang terbaik bukanlah setumpuk doa-doa belaka, tetapi tindakan-tindakan nyata untuk mengatasi dosa. Misalnya, jika seseorang mengaku dosa karena marah kepada sahabatnya, penitensinya kemungkinan adalah berlaku lebih lembut dan sabar kepada sahabatnya itu. Memang suatu hukuman yang berat, tetapi dapat menghasilkan mukjizat.

BAGAIMANA SAYA DAPAT MENGAKU DOSA DENGAN BAIK?

Selalu mulai dengan mengingat. Pikirkan orang-orang yang ada di sekitarmu. Mungkin diawali dengan keluargamu. Kemudian yang lainnya juga: sanak saudara, tetangga, rekan sekerja, teman sekolah, orang yang kamu potong jalannya di jalan raya minggu lalu, dan sebagainya, dan sebagainya.

Pikirkan tentang kejadian-kejadian baru-baru ini dalam hidupmu yang melibatkan orang-orang tersebut. Pengaruh apakah yang kamu berikan kepada mereka? Apakah, jika ada, yang kamu lakukan sehingga menyakiti mereka? Juga, apakah yang seharusnya kamu lakukan, tetapi tidak kamu lakukan? Adakah seseorang yang  membutuhkan pertolongan dan kamu tidak menawarkan pertolonganmu?

Sekarang tarik mundur ingatanmu agak sedikit jauh ke belakang. Kemungkinan kamu tidak melakukan suatu dosa besar atau “dosa berat”, tetapi adakah dosa-dosa yang merupakan kebiasaan, yang kamu lakukan dan lakukan lagi. Setetes air hujan mungkin tidak berarti, tetapi jika tetesan-tetesan itu ditampung untuk jangka waktu yang lama, maka tetesan hujan itu dapat mengakibatkan banjir! Suatu ejekan, yang kecil dan sepele – jika diulang dan diulang- dapat menjadi gunung kebencian.

PEMERIKSAAN BATIN

Kecuali jika kamu mempunyai ingatan yang luar biasa, pada umumnya kamu lupa akan sebagian besar perkara yang kamu lakukan. Oleh karena itulah suatu sarana sederhana diperlukan untuk membantumu. Sarana itu disebut “Pemeriksaan Batin” yaitu suatu daftar pertanyaan untuk diajukan kepada dirimu sendiri sebelum kamu mengaku dosa. (lihat Lembar Pemeriksaan Batin)

Suara Batin atau Hati Nurani adalah kesadaran moral atau etik atas kelakuanmu dengan dorongan untuk memilih yang baik dari yang jahat. Suara batin haruslah dibentuk dalam terang Sabda Allah, yaitu melalui Gereja.

MENGAKU DOSA

Pelaksanaan Sakramen Pengakuan dapat berbeda dari tempat yang satu dengan tempat yang lain. Di beberapa tempat, pengakuan dilaksanakan dalam Kamar Pengakuan. Di tempat lainnya, dibuat suatu tempat pengakuan khusus.

Kamu boleh berlutut di balik sekat atau boleh juga berlutut berhadapan muka dengan imam. Secara pribadi, saya lebih menyukai posisi berlutut menghadap imam, sebab imam berada di sana untuk menjadi penasehatmu. Jika ia dapat melihat ke dalam matamu, ia dapat mempunyai gambaran yang lebih baik bagaimana menasehatimu. Matamu berbicara banyak tentang kamu! Imam tidak berada di sana untuk memarahimu atau menghakimimu. Imam juga seorang yang berdosa seperti semua orang lain. Imam harus mengaku dosa juga!

APA YANG SAYA KATAKAN?

Tata cara Sakramen Pengakuan dapat berbeda-beda, tetapi biasanya imam akan menyambutmu. Mungkin imam akan berbincang sejenak denganmu, atau memulai dengan sebuah doa. Terkadang imam membacakan suatu perikop dari Kitab Suci tentang belas kasih Tuhan.

Sungguh, kamu tidak perlu khawatir tentang rumusan-rumusan atau doa-doa tertentu. Memang mungkin ada suatu rumusan standard di tempatmu, tetapi yang terbaik adalah menjadikan segala sesuatunya praktis. Sebaiknya kamu merasa santai dan mengatakan kepada imam sudah berapa lamakah sejak pengakuanmu yang terakhir, atau menjawab pertanyaan yang mungkin diajukan oleh imam.

Yang terpenting adalah meminta pertolongan. Jika kamu terbiasa tanpa pikir panjang mengucapkan suatu daftar panjang tentang hal-hal yang sama, mungkin kamu dapat mencoba untuk berkonsentrasi pada beberapa di antaranya, daripada menyebutkan semua yang biasa kamu katakan.

Imam mungkin akan meminta keterangan lebih lanjut, tetapi hal itu hanya dimaksudkan agar ia dapat memberikan nasehat yang terbaik bagimu. Hal utama yang perlu diingat adalah bahwa pengakuanmu itu sifatnya pribadi dan hanya dimaksudkan untuk menolongmu. Kamu berada di sana untuk didamaikan kembali dengan Tuhan. Pastilah Tuhan merindukan untuk bersahabat kembali denganmu!

SESUDAH PENGAKUAN DOSA

Kamu akan keluar dari Kamar Pengakuan dengan perasaan lega! Cobalah untuk melaksanakan penitensi penyembuhanmu sesegera mungkin. Kamu telah diampuni, disembuhkan serta dipulihkan sepenuhnya persahabatanmu dengan Tuhan. Salah satu hal terindah tentang pengampunan dosa adalah bahwa Tuhan mengampuni dan melupakan! Begitu dosa-dosamu telah diampuni, kamu diperbaharui dalam rahmat Tuhan. Kamu harus mempunyai niat yang kuat untuk menghindari dosa di masa mendatang. Tetapi jika kamu tergelincir atau melakukan kesalahan, ingatlah TUHAN SENANTIASA ADA DI SANA DENGAN KASIH-NYA!

sumber : News For Kids, Rm Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; http://www.catholic1.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.”

Posted in kristen | Leave a Comment »

sejarah israel 1

Posted by kosongan pada | 18 |Januari| 2009 |

sumber : http://gbu-best.org/?p=37

Abraham hidup pada tahun +/- 2000 SM (SM=sebelum Masehi atau BCE (Before Christ) artinya sebelum Yesus lahir). Yesus disalibkan dan bangkit serta naik ke sorga pada tahun 30 M (M=Masehia atau AD (After Christ) artinya 30 tahun setelah Yesus lahir, kita ini masuk tahun masehi/2008). Kelahiran Yesus menjadi batas antara SM dan M. Dari SM ke M hitungannya mundur seperti: Zaman Abraham +/- 2000 SM, dan zaman Musa 1300 SM-1200 SM, zaman Yosua 1200 SM-1100 SM.

1020 SM – 1000 SM : Raja Saul . (Saul memerintah selama 20 tahun)

1000 SM – 961 SM : Raja Daud.

961 SM – 924 SM : Raja Salomo.

626 SM :Dinasti Babelonia berperang dg dinasti Assyria dan menang, Raja Nebukadnezar II menjadi raja 605 SM/Dinasti Neo-Babbelonia (mati 562 SM), kerajaan Babel dan penghancuran bait Allah dan Yerusalem pertama. Mimpi Nebukadnezar tentang sebuah patung yang diartikan oleh Daniel adalah 5 kerajaan besar yang akan muncul (Babel, Media-Persia, Yunani, Romawi dan ? mungkin Romawi baru/USA dan UE) setelah itu Yesus akan datang ke 2 kalinya dalam kitab Islam disebut Imam Mahdi Isa Almasih. Bukankah Tuhan sudah menetapkan kerajaan dan sejarah? Daniel dibuang 604 SM dan mati 536 SM. Yerusalem dan bait Allah diruntuhkan 587 SM.

539 SM :Dinasti Persia dimulai dengan mengalahkan Media dan menyerang Babelonia dengan menyerang pada malam hari melalui saluan air pada saat raja Belsyazar berpesta dan mabuk=mabukan serta mengambil perkakas bait Allah untuk perjamuan pesta, maka ada tulisan di dinding ‘mene-mene tekel urfasin’.

536 SM :Zerubabel membangun Bait Allah (515 SM selesai).

445 SM :Nehemia dipercaya menjadi gubernur Yerusalem dan membangun tembok Yeusalem dan bersamaan dengan zamannya Ezra (ahli kitab yg kemudian melayani di Bait Allah).

336 SM – 323 SM : Raja Alexander the Great, kerajaan Yunani (disebutkan juga zaman Helenis).

510 SM :Roma menjadi republik disebut kerajaan Romawi dan mengalahkan Kartago (264 SM – 146 SM) lalu Yunani (215 SM – 150 SM).

58 SM : Israel direbut oleh Romawi dengan jenderal Pompey.

58 – 52 SM : Yulius Caesar merebut Roma (44 SM dibunuh Brutus).

27 SM : Augustus menjadi kaisar pertama kerajaan Romawi.

22 SM : Bait Allah direnovasi oleh Herodes Agung, dibawah kerajaan Romawi, ia memerintah sebagai raja(gubernur) di Yudea sejak 44 SM.

(M) Masehi : Yesus Kristus Tuhan lahir di Betlehem.

70 M : Bait Allah diruntuhkan oleh jenderal Titus, anak raja Vespasianus kerajaan Romawi.

326 M : Ratu Helena (Kristen) berziarah ke Israel (2 tahun sampai 328 M) dan membangun gereja di Betlehem, Yerusalem dll, ia adalah isteri dari raja Konstatinus Khlorus (gubernur) yang mempunyai anak bernama Konstantinus Agung (Konstantinus I) dan kemudian menjadi raja tunggal Roma, karena sebelumnya Roma terpecahmenjadi 2 kerajaan Roma Barat dan Roma Timur.

312 M : Konstantinus Agung (I) menjadi raja dan 324-327 M menjadi raja tunggal yang menyatukan Roma Timur dan Barat, dan tahun 327 M ia memindahkan ibukota pemerintahannnya di Konstantinopel (setelah direbut oleh Turki tahun 1453 M, diganti nama Istanbul). Di zamannya hari minggu menjadi hari libur yaitu hari ibadah umat Kristen, mengadakan konsili gereja (Konsili Nicea), membangun banyak gereja dan memberikan kebebasan bagi umat Kristen serta menyalin kitab suci dalam bahasa Yunani.

380  5 M :Flavius Theodosius menetapkan Kristen menjadi agama Negara Roma/Byzantium (368-383 M)

527 – 565 M: Raja Byzantium Yustinus Agung membangun gereja Hagia Spohia di Konstantinopel (Istanbul) dan St John Basilika di Efesus (gereja rasul Yohanes) dll.

614 613 M :Persia merebut Israel dan sekitarnya dari kerajaan Byzantium.

629 629 M :Raja Byzantium Heraklios merebut Israel dan sekitarnya kembali dari tangan Persia.

622-630 M : Islam mulai berkembang di Arab Saudi dan Muhammad (nabi) meninggal 632 M, penggantinya adalah kalib (khalifah) Abu Bakar (632 – 634 M), kemudian diganti oleh kalib Umar 634 M.

634 M : Israel diancam akan diserang oleh Umar, sehingga gubernur (Patriach) Yerusalem Sophronios/Byzantium menyerah tanpa perang, dan Israel dibawah kekuasaan Umar (Islam). Kemudian Umar mendirikan masjid Al Aqsa di atas reruntuhan Bait Allah (634 M). 644 M Umar mati dibunuh oleh pengikutnya pada saat dia sedang Shalat dan digantikan oleh Ustman (644-659 M) dan terbunuh di Medinah oleh beberapa orang pengikutnya. Diganti oleh Ali yang menjadi kalib ke 4 (khalifah ke 4) yang memerintah (656-661 M), dan ia dibunuh pada saat melakukan shalat oleh pengikutnya (Abdur Rahman bin Muljam). Digantikan oleh Hasan hanya memerintah sebagai khalifah selama 6 bulan dan menyerahkannya pada Muawiyah yang mendirikan dinasti Umayyah (661-749 M), kemudian dikalahkan oleh dinasti Abbasiyah (749-1200 M), kemudian dikalahkan dinasti Ayyubiyah (1171-1250 M) disamping dinasti Seljuk Turki (Kurdi) dan dinasti Ayyubiyah dikalahkan oleh dinasti Mamluks 1250-1517 M (Mamluk berarti para budak, yang dibeli dan ditawan oleh sultan dari menang perang untuk dijadikan prajurit dalam peperangan: Turki, Kurdi, Afrika, Eropah), Dinasti Mongol berakhir pada dinasti Ottoman (Turki) 1300 – 1924 M.

Abd al Malik membangun masjid Dome of the Rock di atas bukit Moria di tempat Abraham mempersembahkan Ishak juga di atas reruntuhan Bait Allh, yang kemudian disalut emas oleh raja Husein dari Yordania (abad ke 20):

712 M Islam menyerang dan merebut Spanyol, 756 M sultan Abd al Rahman menjadi sultan Kordoba di Spanyol, setelah ia berhasil meloloskan diri dari Suriah/Damaskus ketika dinasti Abbasiyah mengalahkan Umayyah. Tahun 717-719 M pasukan Islam menyerang Prancis dan dikalahkan di Toulouse (Perancis), namun tahun 721 Tuolouse berhasil direbut. Dan tahun 732 M Islam menyerang Perancis dan merebut Bordeaux. Tahun 732 M Islam menyerang kembali Perancis sampai di tengah daratan Perancis yaitu Tours (150 km dari Paris) dekat Poiters dengan jumlah pasukan yang sangat besar, kemudian raja Charles Martel dari Perancis berhasil mengalahkan dan mendesak Islam kembali ke Perancis Selatan (Pyreness). Pemimpin pasukan Islam dan pasukannya banyak mati terbunuh. Edward Gibbons dalam bukunya menuliskan seandainya Charles Martel kalah, mungkin tafsir al-Quran akan diajarkan di sekolah2 Oxford dan para pendakwa Islam akan menunjukkan kesucian dan kebenaran wahyu Muhammad.

1071 M : Israel direbut oleh Seljuk Turki (Kurdi/Islam Sunni) dari tangan Abbasiyah dinasti, dan banyak gereja dihancurkan dan perampokan serta penganiyaan, termasuk pembunuhan terhadap para peziarah Kristen serta menyerang kerajaan Byzantium dan Spanyol Utara. Sebagai akibatnya terjadilah peperangan untuk merebut kembali tanah suci dari tangan Seljuk Turki (Kurdi) dan tempat lainnya serta membangun kembali gereja-gereja yang dihancurkan, perang ini disebut perang salib (Kristen Eropah/Katolik). Perang adalah salah satu yang tidak disukai oleh Tuhan Yesus dan Ia mengajarkan agar berdamai dan menjadi pendamai.

1096 M : Perang salib pertama dan tahun 1099 M, Yerusalem berhasil direbut oleh pasukan dari Eropah (pasukan salib) dan mendirikan 4 kerajaan Kristen Latin yaitu: Antiokhia yang direbut tahun 1097 M dan 1099 M diresmikan sebagai kerajaan Latin. Tahun 1098 M – kerajaan Edessa (berhasil direbut dari Armenia-Kristen). Tahun 1099 M – kerajaan Yerusalem

Tahun 1109 M – kerajaan Tripoli. Namun tahun 1144 kerajaan Edessa diserang dan berhasil direbut oleh Seljuk Turki (sultan Zengi – Kurdi), maka timbulllah perang salib ke 2 untuk merebut kerajaan Edessa, namun gagal dan tahun 1087 Yerusalem jatuh ditangan sultan Saladin, sehingga timbullah perang salib ke 3 yang hanya berhasil merebut Akro, Tiberias dll, kegagalan merebut Yerusalem, karena sultan Saladin mengajukan perdamaian dengan raja Inggris Richard (Loin Heart, pemimpin pasukan salib) dan Yerusalem terbuka bagi para peziarah Kristen tanpa gangguan serta menjamin tidak ada penghancuran gereja-gereja dan penganiyaan. Perang salib ini terjadi sebanyak 9 kali perang dan memakan waktu 195 tahun (1091 M – 1291 M). Di tengah perang salib muncul bergantian dinasti2 dari Islam (Ayyubiyah-Mamluks-Ottoman maupun Mongol/Genghis-khan sampai terakhir Timur Leng yang memusnahkan kekristenan di Timur Tengah).

Tahun 1453: kerajaan Byzantium raja Konstantin XI diserang dan direbut oleh sultan Mehmed II (Ottoman dinasti) dengan memakai meriam buatan insinyur Jerman yang dapat melontarkan batu seberat 600 kg sejauh 1,5 km didapat dari pembelian menang lelang, maka hancurlah kerajaan Byzantium dan kota Kostantinopel berubah nama Istanbul, serta gereja Hagia Spohia yang termasyur menjadi masjid.

Tahun 1917 : Israel direbut oleh pasukan gabungan Perancis dan Inggris serta Australia dari tangan dinasti Ottoman (Turki), Jenderal Allen By masuk Yerusalem dengan berjalan kaki, karena Yesus masuk dengan naik keledai, kota Bersyeba oleh pasukan Australia.

Tahun 1948 :Israel merdeka

Tahun 1967 :Perang 6 hari antara Israel dengan 6 negara Arab (Mesir, Yordania, Syria, Lebanon, Irak dan Saudi Arabia) dan dimenangkan oleh Israel sehingga kota Yerusalem menjadi milik Israel yang direbut oleh jenderal Ariel Sharon yang koma sampai sekarang (PM Israel yang menyetujui dan menukarkan tanah Israel pada Palestina sebagai Negara merdeka sebagai ganti perdamaian, bersama presiden Palestina Yaser Arafat mati dan George Bush, yang kemudian USA mengalami badai Katrina, badai Rita menurut sumber gereja di USA ini adalah hukuman dan peringatan Tuhan bagi mereka). Perang 6 hari yang dimenangkan oleh Israel sehingga Sinai direbut dari Mesir dan dikembalikan sebagai imbalan perdamaian Israel dan Mesir, dan dataran tinggi Golan diambil dari Suriah dan akan dikembalikan jika Suriah mau berdamai dan mengakui negara Israel. Tepi Barat dan jalur Gaza serta Yerusalem direbut dari Yordania, dan sekarang sedang negosiasi dengan Palestina sebagai imbalan perdamaian (Yordania berdamai dengan Israel saat ini).

<!http://content.answers.com/main/content/wp/en-commons/thumb/5/50/400px-1973_Yom_Kippur_War_-_Golan_heights_theater.jpg

Bangsa Israel sekarang menghadapi musuh besar yaitu bangsa Arab termasuk yang mendiami tanah Kanaan sejak zaman kerajaan Romawi dan ketika pasukan Islam menaklukkan Persia di Israel.

Konflik Israel dengan Filistin

Bangsa Filistin yang mendiami jalur Gaza dengan kota Asdod, Askelon, Gaza dan Ekron merupakan musuh bebuyutan bangsa Israel sejak zaman hakim-hakim sampai para raja Yehuda. Bangsa Filistin adalah suatu bangsa dari pulau Kreta atau Kaftor yang menyerang Mesir namun gagal sehingga mereka mendarat di tanah Kanaan yaitu sepanjang jalur Gaza dan tinggal di sana sebagai bangsa Filistin. Kepahlawanan Daud ketika melawan Goliat merupakan suatu kisah permusuhan sampai bangsa Filistin ini dimusnahkan oleh Tuhan karena mereka mentertawai kecelakaan bangsa Israel.

Yeh 25:15: “Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Oleh karena orang Filistin membalaskan dendam kesumat dan di dalam kegembiraannya atas kecelakaan Israel melakukan pembalasan dengan melakukan pembinasaan karena rasa permusuhan yang turun-temurun,

25:16: oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan orang Filistin dan melenyapkan orang Kreta dan membinasakan yang lain-lain di tepi pantai laut.

25:17: Aku akan melakukan pembalasan yang kejam terhadap mereka disertai penghajaran-penghajaran kemarahan. Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada waktu Aku melakukan pembalasan-Ku terhadap mereka.”

Banyak bangsa yang tidak mengetahui sejarah dan kebenarannya, bahwa bangsa Filistin sudah dimusnahkan Tuhan melalui penyerbuan bangsa yang dari utara yaitu kerajaan Babel, Media-Persia, Yunani sampai Romawi. Bangsa Palestina yang sekarang ada adalah bangsa campuran dari Arab dan lebih banyak berasal dari Yordania.

Seperti contoh kota Yerikho, ketika Israel menjadi negara merdeka dan memenangi perang 6 hari, maka sebagian bangsa Yordan yang tinggal di sana kembali ke Yordan. Israel mengajak mereka kembali dan mengajari cocok tanam di padang gurun. Proyeknya berhasil, namun kemudian mereka menyatakan diri sebagai penduduk asli, dimana kuburan lama dari nenek moyang mereka tidak ada. Kini Yerikho menjadi bagian dari Palestina otonomi (keluar masuknya harus melewati pemeriksaan paspor dan penjagaan)

Yes 14:29-31: “Janganlah bersukaria, hai segenap Filistea, karena walaupun gada orang yang memukul engkau sudah patah, tetapi dari keturunan ular itu akan keluar ular beludak, dan anaknya akan menjadi ular naga terbang. Yang paling hina dari umat-Ku akan mendapat makanan dan orang-orang miskin akan diam dengan tenteram, tetapi keturunanmu akan Kumatikan dengan kelaparan, dan sisa-sisamu akan Kubunuh. Merataplah, hai pintu gerbang! Berteriaklah, hai kota! Gemetarlah, hai segenap Filistea! Sebab di sebelah utara sudah mengepul asap perang, dan barisan musuh maju tanpa ada yang mundur.

Bangsa-bangsa yang mencoba untuk menghapuskan peta Israel dan mengaku sebagai keturnan Palestina telah menyatakan sbagai musuh Tuhan Allah. Dengan demikian mereka berdosa karena melawan Tuhan Allah yang hidup dan yang benar itu. Rasa kebencian dan permusuhan turun temurun sejak di zaman Simson dan Delila, Daud dan Goliat sampai ke zaman nabi Yehezkiel. Akhirnya Tuhan memusnahkan mereka (bangsa Filistin/Filistea), dan yang ada sekarang ada adalah bangsa Moab, Amon dan bangsa Arab lainnya yang tinggal di sana.

Yer 47:4: “oleh karena telah tiba harinya untuk membinasakan semua orang Filistin, dan melenyapkan bagi Tirus dan Sidon setiap penolong yang masih tinggal. Sungguh, TUHAN akan membinasakan orang Filistin, yakni sisa orang yang datang dari pulau Kaftor.

Tuhan Allah berjanji dengan suatu perjanjian dengan Abraham untuk memberikan tanah perjanjian yaitu Kanaan. Musa memimpin bangsa Israel untuk pulang kembali ke tanah perjanjian, dan kemudian Yosualah yang memasuki dan merebut tanah perjanjian tersebut.

Kej 26:3: “Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmmu.”

Tanah perjanjian adalah tanah yang yang telah diberikan oleh Tuhan melalui sumpah kepada bangsa Israel, dan dikatakan juga bahwa siapa yang mengutui Israel akan dikutuki, dan siapa yang memberkati Israel akan diberkati. Sebab dari Abraham semuabangsa akan mendapatkan berkat keselamatan di dalam Yesus Kristus dan pengenalan akan Tuhan yang benar.

Kej 12:3: “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.

komen saya … maap saya ambil sebuah sejarah tidak dari sumber yang netral, karena sumbernetral telah di manipulasi sehingga sejarah israel yang ada hanya dari sudut pandang menciptakan suasana negatif pada israel, sehingga mereka menghilangkan bagian sejarah sebelum pensusukan turki … sehingga tampak sekali kalau israellah yangmemiliki kekuasaan lemah , maka saya ambil sumber ini dengan perhitunggan tetap pada sejarah yang ada dengan tidak di kurangkan, bila memiliki sejarah yang lebih akurat silahkan di tambahkan

Posted in interntional, kristen | 7 Comments »

zionisme

Posted by kosongan pada | 15 |Januari| 2009 |

secara umum :  http://id.wikipedia.org/wiki/Zionisme

Zionisme adalah sebuah gerakan kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion, bukit di mana kota Yerusalem berdiri. Gerakan yang muncul di abad ke-19 ini ingin mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah yang kala itu dikuasai Kekaisaran Ottoman (Khalifah Ustmaniah) Turki.

Zionisme merupakan gerakan Yahudi Internasional. Istilah zionis pertama kali dipakai oleh perintis kebudayaan Yahudi, Mathias Acher (1864-1937), dan gerakan ini diorganisasi oleh beberapa tokoh Yahudi antara lain Dr. Theodor Herzl dan Dr. Chaim Weizmann. Dr. Theodor Herzl menyusun doktrin Zionisme sejak 1882 yang kemudian disistematisasikan dalam bukunya “Der Judenstaat” (Negara Yahudi) (1896). Doktrin ini dikonkritkan melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, tahun 1897. Setelah berdirinya negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, maka tujuan kaum zionis berubah menjadi pembela negara baru ini.

Rapat Dewan Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379 tanggal 10 Desember 1975, yang menyamakan Zionisme dengan diskriminasi rasial. Akan tetapi pada 16 Desember 1991, resolusi tersebut dicabut kembali.

sumber :

ZIONISME: SEBUAH NASIONALISME SEKULER YANG MENGKHIANATI YUDAISME

Zionisme dibawa ke dalam agenda dunia di akhir-akhir abad ke sembilan belas oleh Theodor Herzl (1860-1904), seorang wartawan Yahudi asal Austria. Baik Herzl maupun rekan-rekannya adalah orang-orang yang memiliki keyakinan agama yang sangat lemah, jika tidak ada sama sekali. Mereka melihat “Keyahudian” sebagai sebuah nama ras, bukan sebuah masyarakat beriman. Mereka mengusulkan agar orang-orang Yahudi menjadi sebuah ras terpisah dari bangsa Eropa, yang mustahil bagi mereka untuk hidup bersama, dan bahwa penting artinya bagi mereka untuk membangun tanah air mereka sendiri. Mereka tidak mengandalkan pemikiran keagamaan ketika memutuskan tanah air manakah itu seharusnya. Theodor Herzl, sang pendiri Zionisme, suatu kali memikirkan Uganda, dan ini lalu dikenal sebagai “Uganda Plan.” Sang Zionis kemudian memutuskan Palestina. Alasannya adalah Palestina dianggap sebagai “tanah air bersejarah bagi orang-orang Yahudi”, dibandingkan segala kepentingan keagamaan apa pun yang dimilikinya untuk mereka.


Petani dan Tembok Ratapan di depannya, yang menggambarkan pemimpin Zionis Max Nordau, Theodor Herzl, dan Prof. Mandelstamm, melukiskan “Impian Zionis.”

Sang Zionis melakukan upaya-upaya besar untuk mengajak orang-orang Yahudi lainnya menerima gagasan yang tak sesuai agama ini. Organisasi Zionis Dunia yang baru melakukan upaya propaganda besar di hampir semua negara yang berpenduduk Yahudi, dan mulai berpendapat bahwa Yahudi tidak dapat hidup dengan damai dengan bangsa-bangsa lainnya dan bahwa mereka adalah “ras” yang terpisah. Oleh karena itu, mereka harus bergerak dan menduduki Palestina. Sebagian besar orang Yahudi mengabaikan himbauan ini.

Menurut negarawan Israel Amnon Rubinstein: “Zionisme (dulu) adalah sebuah pengkhianatan atas tanah air mereka (Yahudi) dan sinagog para Rabbi”.15 Oleh karena itu banyak orang-orang Yahudi yang mengkritik ideologi Zionisme. Rabbi Hirsch, salah satu pemimpin keagamaan terkemuka saat itu berkata, “Zionisme ingin menamai orang-orang Yahudi sebagai sebuah lembaga nasional…. yang merupakan sebuah penyimpangan.”16

Pemikir Islam Prancis yang terkenal Roger Garaudy melukiskan hal ini dalam sebuah pembahasan:

Musuh terburuk keyakinan Yahudi yang jauh ke depan adalah logika para nasionalis, rasis, dan kolonialis dari Zionisme kebangsaan, yang dilahirkan dari nasionalisme, rasisme, dan kolonialisme abad ke-19 di Eropa. Logika ini, yang menginspirasi semua penjajahan Barat dan semua perang antara satu nasionalisme dengan nasionalisme lainnya, adalah sebuah logika yang membunuh diri sendiri. Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada keamanan di Timur Tengah kecuali jika Israel meninggalkan paham Zionismenya dan kembali ke agama Ibrahim, yang adalah warisan bersama, bersifat keagamaan, dan persaudaraan dari tiga agama wahyu: Yudaisme, Nasrani, dan Islam.17

Dengan cara ini, Zionisme memasuki politik dunia sebagai sebuah ideologi rasis yang menganut paham bahwa Yahudi seharusnya tidak hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain. Pertama-tama, ini adalah gagasan yang keliru yang menciptakan masalah parah bagi dan tekanan atas orang-orang Yahudi yang hidup dalam belenggu ini. Kemudian, bagi orang-orang Islam di Timur Tengah, paham ini membawa kebijakan Israel tentang pendudukan dan perebutan wilayah bersama-sama dengan kemiskinan, teror, pertumpahan darah, dan kematian.

Pendeknya, Zionisme sebenarnya adalah sebuah bentuk nasionalisme sekuler yang berasal dari filsafat sekuler, bukan dari agama. Akan tetapi, seperti dalam bentuk nasionalisme lainnya, Zionisme juga berusaha menggunakan agama untuk tujuannya sendiri.

Kesalahan Penafsiran Taurat oleh Para Zionis

Taurat adalah sebuah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Musa. Allah berkata dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)…” (Al-Qur’an, 5:44). Al-Qur’an juga berkata bahwa Taurat kemudian akan dikotori oleh perkataan manusia di dalamnya. Inilah kenapa apa yang kita miliki saat ini adalah “Taurat yang menyimpang.”

Akan tetapi, sebuah penelitian lebih dekat mengungkap adanya kebanyakan kebenaran agama yang terkandung dalam Kitab yang pernah diwahyukan ini, seperti keimanan kepada Allah, penghambaan diri kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, takut kepada Allah, cinta kepada Allah, keadilan, kasih sayang, cinta kasih, melawan kekejaman dan ketidakadilan, yang semuanya ditemukan di seluruh Taurat dan kitab lainnya dari Perjanjian Lama.

Terlepas dari ini, perang yang terjadi dalam sejarah dan pembunuhan yang terjadi karenanya juga disebutkan di dalam Taurat. Jika manusia ingin menemukan sebuah dasar, meskipun dengan memutarbalikkan kenyataan, untuk kekejaman, pembantaian, dan pembunuhan, mereka bisa menjadikan bab-bab dalam Taurat tersebut sebagai acuan. Zionisme memilih cara mutlak yang mengesahkan terorismenya, yang sebenarnya adalah sebuah terorisme fasis. Dan, ini sangat berhasil. Misalnya, Zionisme menggunakan bab-bab (dari Taurat) yang terkait dengan perang dan pembantaian untuk mengesahkan pembantaian orang-orang Palestina yang tak berdosa. Padahal, ini adalah sebuah penafsiran menyimpang yang disengaja. Zionisme menggunakan agama untuk mengesahkan fasismenya dan ideologi rasisnya.

Para Zionis juga mendasarkan pernyataan mereka pada penafsiran mereka tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan “orang pilihan” yang pernah dikaruniakan Allah kepada orang Yahudi suatu kali. Beberapa ayat Al-Qur’an berhubungan dengan persoalan ini:

Hai Bani Israil, ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat45. (Qur’an, 2:47)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Qur’an, 45:16)

Al-Qur’an menerangkan bagaimana pada suatu kali Allah memberkati orang-orang Yahudi, dan bagaimana pada kali lainnya Dia menjadikan mereka berkuasa atas bangsa-bangsa lain. Namun ayat-ayat ini tidaklah menyiratkan “orang pilihan” seperti apa yang dipahami orang-orang Yahudi radikal. Ayat-ayat tersebut menunjukkan kenyataan bahwa banyak nabi-nabi yang datang dari keturunan ini, dan bahwa orang-orang Yahudi memerintah di daerah yang luas pada saat itu. Ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa dengan berkat kedudukan kekuasaan mereka, mereka “lebih diutamakan di atas semua manusia lain.” Ketika mereka menolak Isa, ciri ini pun berakhir.

Al-Qur’an menyatakan bahwa orang yang terpilih tersebut adalah para nabi dan orang-orang beriman yang Allah tunjuki kepada kebenaran. Ayat-ayat ini menyebutkan bahwa para nabi itu telah dipilih, ditunjuki jalan yang benar, dan diberkati. Berikut ini adalah beberapa ayat yang terkait dengan persoalan ini:

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya90 di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Qur’an, 2: 130)

Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. (Qur’an, 6:87-89)

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Qur’an, 19:58)

Namun orang-orang Yahudi radikal, yang mempercayai keterangan menyimpang, melihat “orang yang terpilih” sebagai ciri kebangsaan sehingga mereka menganggap setiap orang Yahudi terlahir unggul dan bahwa Bani Israil selamanya dianggap unggul dari semua manusia lainnya.

Penyimpangan kedua yang terbesar dari sudut pandang ini menampilkan anggapan keunggulan ini sebagai “suatu perintah untuk melakukan kekejaman atas bangsa lain.” Untuk tujuan ini, para Zionis membenarkan perilaku mereka melalui kebencian-kebencian turun-temurun yang bisa ditemukan dalam beberapa hal pada Yudaisme Talmud. Menurut pandangan ini, hal yang lumrah bagi orang-orang Yahudi untuk menipu orang-orang non-Yahudi, untuk merampas hak milik dan bangunan mereka, dan, ketika diperlukan bahkan membunuh mereka, termasuk wanita dan anak-anak.18 Kenyataan menunjukkan, semua ini adalah kejahatan yang melecehkan agama sejati, karena Allah memerintahkan kita untuk melestarikan keadilan, kejujuran, dan hak orang-orang tertindas, dan hidup dalam kedamaian dan cinta.

Lebih jauh lagi, pernyataan anti-non-Yahudi ini bertentangan dengan Taurat itu sendiri, seperti ayat-ayat yang mengutuk penindasan dan kekejaman. Akan tetapi, ideologi rasis Zionisme mengabaikan ayat-ayat seperti itu untuk menciptakan sistem kepercayaan berdasarkan amarah dan kebencian. Tanpa mempedulikan pengaruh ideologi Zionis, beberapa orang Yahudi yang benar-benar percaya pada Allah akan mengetahui bahwa agama mereka mengajarkan mereka untuk tunduk pada ayat-ayat lainnya ini yang memuji perdamaian, cinta, kasih, dan perilaku etis, seperti:

Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah Tuhan. Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. (Perjanjian Lama, Imamat, 19:15-17)

Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Perjanjian Lama, Mikha, 6:8)

Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamamu … (Perjanjian Lama, Keluaran, 20:13-17)

Menurut Al-Qur’an pun, perang hanyalah khusus sebagai sarana mempertahankan diri. Bahkan jika perang akan diumumkan dalam suatu masyarakat, kehidupan orang-orang tak berdosa dan aturan hukum harus dilindungi. Suatu perintah untuk membunuh wanita, anak-anak, dan orang-orang tua tidak dapat disampaikan oleh agama manapun, kecuali hanya oleh tipu-daya yang berkedok agama. Dalam Al-Qur’an, Allah tidak hanya mengutuk jenis kebencian seperti ini namun juga menyatakan bahwa semua manusia sama dalam pandangan-Nya dan bahwa kelebihan seseorang itu tidaklah didasarkan pada ras, keturunan, atau segala kelebihan keduniaan lainnya, melainkan pada ketakwaan – cinta bagi dan kedekatan kepada Allah.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qur’an, 49:13)

Terlepas dari kedok agamanya yang palsu, alasan sesungguhnya dari ketidakmanusiawian dan kekejaman Zionisme adalah hubungannya dengan mentalitas penjajahan Eropa di abad kesembilan belas. Penjajahan bukan semata sebuah sistem politik atau ekonomi; penjajahan juga sekaligus sebuah ideologi. Zionisme, yang percaya bahwa negara-negara industri Barat mempunyai hak untuk menjajah dan menduduki bangsa-bangsa terkebelakang di wilayah ini, melihat ini sebagai akibat alami dari sebuah proses “seleksi alam” internasional. Dengan kata lain, Zionisme adalah sebuah produk Darwinisme Sosial. Dalam kerangka ideologi ini, Inggris menjajah India, Afrika Selatan, dan Mesir. Prancis menjajah Indocina, Afrika Utara, dan Guyana. Karena terinspirasi oleh contoh-contoh ini, para Zionis memutuskan untuk menjajah Palestina bagi orang-orang Yahudi.

Kolonialisme Zionis menjadi jauh lebih buruk dibanding “rekan-rekannya” Inggris dan Prancis, karena paling tidak mereka (Inggris dan Prancis) mengizinkan daerah pendudukan mereka untuk hidup (setelah menyerah) dan bahkan memberi sumbangan kepada negara pendudukan dengan pendidikan, pemerintahan yang adil, dan prasarana. Namun, seperti yang akan kita lihat nanti, para Zionis tidak mengakui hak-hak orang Palestina untuk hidup; mereka melakukan pembersihan etnis, dan tidak memberi apa pun kepada orang-orang yang mereka jajah. Anda mungkin bahkan berkata mereka tidak memberi satu batu bata pun bagi orang-orang Palestina.

Pertentangan Zionisme dengan Yahudi

Sifat lainnya dari Zionisme adalah kepercayaannya kepada tema-tema propaganda palsu, mungkin yang paling penting adalah semboyan “sebuah tanah tanpa manusia untuk seorang manusia tanpa tanah.” Dengan kata lain, Palestina, “tanah tanpa manusia” harus diberikan kepada orang-orang Yahudi, “manusia tanpa tanah.” Dalam 20 tahun pertama abad kedua puluh, Organisasi Zionis Dunia menggunakan semboyan ini dengan sepenuh hati untuk meyakinkan pemerintahan Eropa, khususnya Inggris dan rakyatnya bahwa Palestina harus diserahkan kepada orang-orang Yahudi. Pada tahun 1917, akibat kampanye persuasifnya, Inggris mengumumkan Deklarasi Balfour bahwa “Pemerintahan Yang Mulia memandang pentingnya pendirian di Palestina sebuah tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi… di Palestina.”

Kenyataan menunjukkan, semboyan “tanah tanpa manusia untuk manusia tanpa tanah” ini tidaklah benar. Ketika gerakan Zionis dimulai, orang-orang Yahudi tidaklah “tanpa tanah” dan Palestina pun bukannya tanpa manusia…

Orang-orang Yahudi tidaklah tanpa tanah karena sebagian besar mereka hidup di berbagai negara dengan damai dan aman. Khususnya di negara-negara industri Barat, persekutuan ibadat Yahudi tidak punya keluhan apa pun tentang kehidupan mereka. Bagi sebagian besar mereka, gagasan meninggalkan negara mereka untuk pindah ke Palestina tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Kenyataan ini akan muncul belakangan ketika ajakan Zionis untuk “Pindah ke Palestina” secara luas diabaikan. Dalam tahun-tahun berikutnya, orang-orang Yahudi anti-Zionis yang kita bicarakan ini secara aktif menolak gerakan Zionis melalui ikatan-ikatan yang mereka dirikan sendiri.

Menerima dukungan resmi dengan Deklarasi Balfour, para Zionis merasakan dirinya berada dalam keadaan yang sulit ketika banyak saudara-saudara Yahudinya menolak pindah. Dalam hal ini, pernyataan Chaim Weizman sangat menohok:

Deklarasi Balfour pada 1917 diputuskan di awang-awang… setiap hari dan setiap jam dalam 10 tahun terakhir ini, ketika membuka surat kabar, saya berpikir: kapan hembusan angin surga lainnya datang? Saya terguncang karena takut Pemerintah Inggris akan memanggil saya dan bertanya: “Beritahu kami, apakah Organisasi Zionis ini? Di manakah mereka, para Zionismu?”… Orang-orang Yahudi, mereka tahu, menentang kami; kami berdiri sendiri di sebuah pulau kecil, sebuah kelompok Yahudi yang amat kecil dengan masa lalu yang asing.19


Surat yang dikirim oleh Menteri Luar Negeri Inggris Sir Arthur Balfour pada Lord Rothschild yang dikenal sebagai “Deklarasi Balfour.” Kanan: gambar surat aslinya; Atas: Sir Balfour.

Oleh karena itu para Zionis mulai terlibat dalam “kegiatan-kegiatan khusus” untuk “mendorong” pindahnya orang Yahudi ke Palestina, bahkan memaksa jika diperlukan, seperti mengganggu orang-orang Yahudi di negara-negara asalnya dan bekerja sama dengan para anti-Semit untuk meyakinkan bahwa pemerintah akan mengusir orang-orang Yahudi. (Lihat Harun Yahya, Soykirim Vahseti (The Holocaust Violence,), Vural Yayincilik, Istambul, 2002). Dengan demikian, Zionisme mengembangkannya sebagai gerakan yang mengganggu dan menteror rakyatnya sendiri.

Sekitar 100.000 orang Yahudi pindah ke Palestina antara tahun 1920-1929.20 Jika kita merenungkan bahwa ada 750.000 orang Palestina pada saat itu, maka 100.000 pasti bukanlah jumlah yang kecil. Organisasi Zionis memegang kendali penuh atas perpindahan ini. Orang-orang Yahudi yang menginjakkan kaki di Palestina ditemui oleh kelompok Zionis, yang menentukan di mana mereka akan tinggal dan pekerjaan apa yang akan mereka lakukan. Perpindahan ini didorong oleh pemimpin-pemimpin Zionis dengan berbagai imbalan. Akibat upaya yang giat di seluruh Palestina, Eropa, dan Rusia, penduduk Yahudi di Palestina mencatat pertumbuhan yang pesat dalam hal jumlah dan tempat tinggalnya. Bersamaan dengan adanya peningkatan kekuasaan Partai Nazi, orang-orang Yahudi di Jerman menghadapi tekanan yang semakin meningkat, suatu perkembangan yang semakin mendorong perpindahan mereka ke Palestina. Kenyataan Zionis mendukung penindasan Yahudi ini adalah sebuah fakta, dan masih menjadi salah satu rahasia sejarah yang paling terpendam. (Lihat Harun Yahya, Soykirim Vahseti (The Holocaust Violence), Vural Yayincilik, Istanbul, 2002)

Pertentangan Zionisme dengan Masyarakat Arab

Para Zionis tidak diragukan lagi telah melakukan kekejaman terburuk kepada orang-orang yang memiliki “sebuah tanah tanpa manusia”: orang-orang Palestina. Semenjak hari ketika Zionisme memasuki Palestina, para pengikutnya telah berusaha untuk menghancurkan orang-orang Palestina. Untuk memberi ruang bagi para imigran Yahudi, baik dipengaruhi oleh gagasan Zionis maupun takut pada anti-Semitisme, orang-orang Palestina terus ditekan, diasingkan, dan diusir dari rumah-rumah dan tanah mereka. Gerakan untuk menduduki dan mengasingkan ini, yang didorong oleh didirikannya Israel pada tahun 1948, menghancurkan kehidupan ratusan ribu orang-orang Palestina. Hingga hari ini, sekitar 3,5 juta orang Palestina masih berjuang untuk kehidupannya sebagai pengungsi dalam keadaan yang paling sulit.

Semenjak 1920an, perpindahan orang Yahudi yang diorganisir oleh Zionis telah dengan mantap mengubah keadaan demografi Palestina dan telah menjadi sebab terpenting berkepanjangannya pertentangan. Statistik yang terkait dengan peningkatan penduduk Yahudi ini secara langsung membuktikan kenyataan ini. Angka-angka ini adalah petunjuk penting tentang bagaimana sebuah kekuatan penjajahan dari luar negeri, kekuatan tanpa hak hukum atas tanah tersebut datang untuk merampok hak-hak penduduk asli.

Menurut catatan-catatan resmi, jumlah imigran Yahudi ke Palestina meningkat dari 100.000 pada tahun 1920an menjadi 232.000 pada tahun 1930an.21 Hingga 1939, penduduk Palestina yang jumlahnya 1,5 juta jiwa telah termasuk 445.000 orang Yahudi. Jumlah mereka, yang hanya 10% saja dari jumlah penduduk 20 tahun sebelumnya, sekarang menjadi 30% dari seluruh penduduk. Pemukiman Yahudi juga berkembang pesat, dan per 1939 orang-orang Yahudi memiliki dua kali dari jumlah tanah yang mereka miliki pada tahun 1920an.

TAHUN
JUMLAH ORANG YAHUDI YANG PINDAH
1920 (September-Oktober)
5.514
1921
9.149
1922
7.844
1923
7.421
1924
12.856
1925
33.801
1926
13.081
1927
2.713
1928
2.178
1929
5.249

Pengumuman resmi Deklarasi Balfour menandai awal perpindahan Yahudi besar-besaran dan cepat ke Palestina. Tabel di kiri memperlihatkan jumlah orang Yahudi yang pindah ke Palestina antara 1920 dan 1929. Selama masa ini, sekitar 100.000 orang Yahudi memasuki Palestina.

British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, Palestine Royal Commision Report, Cmd. 5479, 1937, hlm. 279

Per 1947, ada 630.000 orang Yahudi di Palestina dan 1,3 juta orang Palestina. Antara 29 November 1947, ketika Palestina diberi dinding pembatas oleh PBB, dengan 15 Mei 1948, organisasi teroris Zionis mencaplok tiga perempat Palestina. Selama masa itu, jumlah orang-orang Palestina yang tinggal di 500 kota besar, kota kecil, dan desa turun drastis dari 950.000 menjadi 138.000 akibat serangan dan pembantaian. Beberapa di antaranya terbunuh, beberapa terusir.22

Dalam menjelaskan kebijakan pendudukan yang diterapkan Isrel pada tahun 1948, revisionis Israel yang terkenal, Ilan Pappe membuka sebuah rahasia, rencana tak tertulis untuk mengusir orang-orang Arab dari Palestina. Menurut rencana ini, setiap desa atau pemukiman Arab yang tidak menyerah kepada kekuatan Yahudi, yang tidak akan mengibarkan bendera putih, akan dibumihanguskan, dihancurkan, dan orang-orangnya diusir. Setelah keputusan ini dilaksanakan, hanya empat desa yang mengibarkan bendera putih; kota-kota dan desa-desa lainnya pasti akan menjadi sasaran pengusiran.23

Dengan cara ini, 400 desa Palestina terhapus dari peta selama 1949-1949. Hak milik yang ditinggalkan orang-orang Palestina dikuasai oleh orang-orang Yahudi, atas dasar Hukum Hak Milik Tak Ditempati. Hingga tahun 1947, kepemilikan tanah orang-orang Yahudi di Palestina adalah sekitar 6%. Pada saat negara Israel resmi didirikan, kepemilikan itu telah mencapai 90% dari seluruh tanah.24


Kelompok imigran ilegal yang diorganisir oleh pemimpin Zionis berhasil mencapai Palestina meski
menghadapi hambatan serius.

Setiap kedatangan orang Yahudi yang baru berarti kekejaman, tekanan, dan kekerasan baru terhadap orang-orang Palestina. Untuk memberi tempat tinggal bagi pendatang baru, organisasi Zionis menggunakan tekanan dan kekuatan untuk mengusir orang-orang Palestina dari tanahnya, yang telah mereka tempati selama berabad-abad, dan pindah ke padang pasir. Joseph Weitz, kepala komite transfer pemerintah Israel pada tahun 1948 menuliskan dalam buku hariannya pada 20 Desember 1940:

Pasti telah jelas bahwa tidak ada ruang untuk dua rakyat dalam negara ini. Tidak ada perkembangan yang akan membawa kita semakin dekat dengan tujuan kita, untuk menjadi rakyat merdeka dalam negara kecil ini. Setelah orang-orang Arab dipindahkan, negara ini akan terbuka luas bagi kita; dengan masih adanya orang Arab yang tinggal, negara ini akan tetap sempit dan terbatas. Satu-satunya jalan adalah memindahkan orang-orang Arab dari sini ke negara-negara tetangga. Semua mereka. Tidak ada satu desa pun, atau satu suku pun yang harus tertinggal.25

TAHUN
JUMLAH ORANG YAHUDI YANG PINDAH
1930
4.944
1931
4.075
1932
9.553
1933
30.327
1934
42.359
1935
61.854
1936
29.727
1937
10.536
1938
12.868
1939
16.405

Gelombang perpindahan orang-orang Yahudi tetap tak surut selama Palestina ditangani Inggris. Akibat upaya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Zionis, sebanyak 232.000 orang Yahudi bermukim di Palestina antara 1930-1939.

British British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, Palestine Royal Commision Report, Cmd. 5479, 1937, hlm. 279

Heilburn, ketua komite pemilihan kembali Jenderal Shlomo Lahat, walikota Tel Aviv, menyatakan pandangan Zionis tentang orang-orang Palestina dalam kata-kata berikut: “Kita harus membunuh semua orang-orang Palestina kecuali mereka tunduk tinggal di sini sebagai budak.”26 Banjir kedatangan imigran yang disebabkan oleh pecahnya Perang Dunia II membuat orang-orang Palestina sadar akan apa yang terjadi, sehingga mulai menolak tindakan-tindakan yang tidak adil. Namun, setiap gerakan penolakan dihentikan dengan paksa oleh kekuatan Inggris. Orang-orang Palestina merasakan dirinya berada di bawah tekanan organisasi teroris Zionis di satu sisi, dan tentara-tentara Inggris di sisi lain. Dengan kata lain, mereka menjadi sasaran kepungan dua musuh.


Gambar di kiri menunjukkan orang-orang Yahudi yang pindah ke Palestina pada 1930. Gambar di atas memperlihatkan Yahudi yang tiba pada tahun 1947. Sebelum orang-orang Palestina mengerti apa arti perpindahan ini untuk masa depan mereka, perbandingan penduduk di daerah ini bergeser untuk keuntungan Yahudi.

1) Negara tempat perpindahan di mulai
2) Jumlah Imigran Yahudi
3) Akhir perpindahan
Program perpindahan yang diorganisir oleh para pemimpin Zionis diejawantahkan dengan kecepatan mengejutkan, dimulai pada awal 1900an. Orang-orang Yahudi yang pindah dari Afrika Utara, Uni Soviet, dan berbagai negara Timur Tengah menggeser perbandingan penduduk di Palestina untuk keuntungan orang-orang Yahudi.

Selama kekuasaan Inggris, lebih dari 1500 orang Palestina yang berjuang untuk kemerdekaannya terbunuh dalam pertempuran yang dilakukan oleh tentara-tentara Inggris. Di samping itu, ada pula beberapa orang Palestina yang ditahan oleh Inggris karena menentang pendudukan Yahudi. Tekanan pemerintah Inggris menyebabkan kekerasan serius terhadap mereka. Namun, terorisme Zionis tak terbandingkan kekejamannya. Kekejaman Zionis, yang pecah begitu berakhirnya Kekuasaan Inggris, meliputi pembakaran desa-desa, penembakan wanita, anak-anak, dan orang tua seolah sebuah hukuman mati; penyiksaan korban-korban tak berdosa,; dan pemerkosaan wanita-wanita dewasa dan remaja.

Sekitar 850.000 orang Palestina yang tidak tahan akan kekejaman dan penindasan ini meninggalkan tanah dan rumah mereka dan tinggal di Tepi Barat, Jalur Gaza, serta di sepanjang perbatasan Libanon dan Yordania. Sekitar satu juta orang Palestina masih tinggal di kamp-kamp pengungsian ini, sementara 3,5 juta lainnya tinggal sebagai pengungsi-pengungsi jauh dari tanah air mereka.

Tanah Palestina Dibagi


1) Wilayah Inggris
2) Wilayah Arab
3) Wilayah Yahudi
4) Wilayah Internasional
Ketika Palestina berada di bawah kendali Inggris setelah Perang Dunia I, gelombang besar perpindahan Yahudi ke daerah ini dimulai. Perpindahan ini lambat laun mulai meningkat pesat. Selama masa ini, beberapa badan didirikan untuk menentukan bagaimana orang Yahudi dan Palestina berbagi tanah. Badan yang terkenal adalah the Peel Commission, yang dikepalai oleh bekas Menteri Luar Negeri Inggris untuk India Lord Earl Peel, dan Komisi Morrison-Grady, yang dibentuk melalui kemitraan Amerika-Inggris. The Peel Commission mengusulkan agar pengawasan Inggris ditingkatkan dan daerah ini dibagi antar kedua kelompok, hanya Yerusalem dan Haifa yang tetap di bawah kendali Inggris dan akan terbuka untuk pengamat internasional. Morrison-Grady Plan mengusulkan agar Palestina dibagi atas empat daerah kantong terpisah. Namun, anggota badan ini tidak memperhitungkan bahwa tanah yang sedang mereka bagi ini dimiliki oleh orang-orang Palestina selama berabad-abad, dan tak seorang pun punya hak untuk memaksa mereka membaginya bertentangan dengan kehendak mereka.


Polisi Inggris ikut campur dengan paksa ketika orang-orang Palestina memprotes meningkat pesatnya perpindahan Yahudi. Akibat bentrokan di Jaffa pada 1933, sebanyak 30 orang Palestina tewas dan lebih dari 200 orang terluka.

Orang-orang Palestina yang hidup di kamp-kamp pengungsian hari ini menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar sekalipun. Mereka hanya bisa menggunakan air dan listrik jika orang Israel mengizinkannya, dan berjalan bermil-mil untuk bekerja demi upah yang amat rendah. Bagi mereka yang pergi bekerja atau mengunjungi kerabat yang tinggal di dekat kamp pengungsian, perjalanan itu seharusnya tidak lebih dari 15 menit saja. Akan tetapi, kejadiannya sering berubah menjadi mimpi buruk karena pemeriksaan identitas di tempat-tempat pemeriksaan yang sering dilakukan, di mana para tentara yang bertugas melakukan kepada mereka pelecehan, penghinaan, dan perendahan. Mereka tidak dapat berpindah dari tempat A ke tempat B tanpa passport. Dan karena tentara-tentara Israel sering menutup jalan untuk alasan “keamanan,” orang-orang Palestina sering tidak dapat pergi bekerja, pergi ke tempat yang ingin mereka tuju, atau bahkan untuk menuju rumah sakit ketika mereka jatuh sakit. Bahkan, orang-orang yang hidup di kamp-kamp pengungsian tiap hari hidup dalam rasa takut akan dibom, dibunuh, dilukai, dan ditahan, karena pemukiman orang-orang Yahudi fanatik di sekitar kamp menjadi ancaman sesungguhnya mengingat pelecehan dan serangan yang dilancarkan oleh penduduk Yahudi fanatiknya.

Tentu, diusir dari rumah dan dipaksa meninggalkan tanah asal seseorang mengakibatkan banyak kesulitan. Namun, inilah takdir Allah. Sepanjang sejarah, masyarakat Muslim telah terusir dari rumah mereka dan menghadapi berbagai jenis tekanan, penyiksaan, dan ancaman oleh orang-orang yang tak beriman. Para pemimpin yang kejam atau orang-orang yang menggunakan kekuasaan sering mengusir orang-orang yang tak berdosa dari tanah mereka hanya karena keturunan atau keyakinan mereka. Apa yang diderita oleh orang-orang Islam di banyak negara, juga orang-orang Palestina, telah diwahyukan di dalam Al-Qur’an. Namun Allah membantu semua orang yang tetap sabar, menunjukkan akhlak terpuji, dan menolak menakut-nakuti orang laii meskipun mengalami kekerasan. Seperti yang Allah nyatakan dalam Al-Qur’an:

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain259. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (Qur’an, 3:195)

Dengan demikian, akan datang suatu hari ketika semua orang-orang Palestina akan hidup dalam kedamaian, keamanan, dan persaudaraan. Tapi ini hanya dimungkinkan dengan menyebarluaskan akhlak Al-Qur’an antar manusia, karena akhlak seperti itu bersifat memaafkan dan toleran; mempertahankan kedamaian; menekankan pada cinta kasih; rasa hormat, dan kasih sayang; dan pengikutnya saling berlomba untuk beramal saleh. Ketika akhlak yang baik mengemuka, penindasan dan gangguan tidak dapat hidup. Dan lebih jauh lagi, ketika akhlak ini ditunjukkan dengan sepenuh hati, persaudaraan Muslim akan meningkat dan mereka akan mendapatkan kekuatan untuk melakukan sebuah perjuangan intelektual melawan kekejaman. Oleh karena itu, menerapkan sistem tata prilaku Qurani akan membawa kita menuju akhir dari kekejaman tidak hanya di Palestina, melainkan juga di seluruh dunia. Kewajiban umat Islam adalah menyebarluaskan tata prilaku tersebut.


Imigran Yahudi yang diajarkan dengan semboyan “Setiap orang harus bekerja dengan satu tangan, dan memegang senjata di tangan lainnya” segera mengambil bagian dalam gerakan Zionis. Sementara beberapa orang mengorganisir demonstrasi dengan spanduk bertuliskan “Yerusalem adalah Milik Kami,” lainnya mengebom desa-desa Palestina.

Dalam bab-bab berikut, kita akan membahas lebih dekat rasa sakit dan kesulitan yang dialami selama bertahun-tahun oleh para pengungsi Palestina. Namun sebelum kita ke sana, kita akan melihat teror Zionis dan teknik yang digunakannya untuk mengusir orang-orang Palestina dari rumah-rumah mereka.


Akibat kepungan selama 3 tahun oleh kekuatan Israel, kamp pengungsian Bourj al-Barajneh di dekat Beirut hancur total. Foto ini menggambarkan keadaan kamp pada tahun 1988.

Orang-orang Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsian di Libanon dan Yordania masih berjuang mengatasi kesulitan besar selama bertahun-tahun. Kelaparan, wabah penyakit, cuaca buruk, dan berlanjutnya rasa takut akan serangan baru Israel menjadi kenyataan hidup mereka. Pemandangan barak yang didirikan oleh PBB menunjukkan parahnya kemiskinan mereka.

15- Amnon Rubinstein, The Zionist Dream Revisited, hlm. 19
16- Washington Post, Oktober 3, 1978
17- Roger Garaudy, “Right to Reply: Reply to the Media Lynching of Abbe Pierre and Roger Garaudy”, Samizdat, Juni 1996
18- For Talmud’s anti-gentile remarks, see Israel Shahak, Jewish History, Jewish Religion:, The Weight of Three Thousand Years (AMEU: 1994)
19- United Nations Report, “The Origins and Evolution of the Palestine Problem 1917-1988,” New York, 1990, tanda penegasan ditambahkan.
20- British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, (Memorandum to the United Nations Special Committee on Palestine) Jerusalem, 1947, hlm. 279.
21- Royal Institute of International Affairs, Great Britain and Palestine, (London, Chatham House: 1946), hlm. 61.
22- Ralph Schoenman, The Hidden History of Zionism, (Veritass Press: 1988), tanda penegasan ditambahkan
23- Baudouin Loos, “An Interview of Ilan Pappe,” November 29 1999, http://msanews.mynet.net/Scholars/Loos/pappe.html.
24- Weite Diary, A 24617, entry dated 20 December 1940, Central Zionist Archives, Jerusalem, hlm. 1090-1091.

25. Uri Davis, Israel: An Apartheid State (London and New Jersey, Zed Books: 1987), Introduction, tanda penegasan ditambahkan.
26. Schoenman, The Hidden History of Zionism, tanda penegasan ditambahkan.

Posted in diskusi bebas, islam, kristen | 2 Comments »

3 ALASAN KENABIAN PINDAH DARI BANGSA ISRAEL KE ARAB

Posted by kosongan pada | 15 |Januari| 2009 |

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2007/11/29/3-alasan-kenabian-pindah-dari-bangsa-israel-ke-arab/

Bapak agama Tauhid adalah nabi Ibrahim. Dialah yang meletakkan dasar-dasar agama Monoteisme pertama kali. Nabi Ibrahim dipilih karena ketakwaannya yang tinggi.

QURAN SURAT 2 : 124 : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”.

Ibrahim berdoa agar seluruh keturunannya menjadi Imam dan pemimpin dalam mengajarkan agama Tauhid. Nabi Ibrahim memiliki 2 orang garis keturunan yaitu Ishak dan Ismail. Garis keturunan Ishak mengalir ke Bangsa Israel dan garis keturunan Ismail mengalir ke garis keturunan Arab. Memang saat itu, Allah memilih Bangsa Israel untuk menyebarkan Firman-friman-Nya. Untuk itulah Allah pernah melebihkan Bangsa Israel dari bangsa lain pada jaman yang lalu. Boleh dibilang kelebihan Israel masih kita jumpai saat ini. Yaitu bahwa mereka dapat menguasai Amerika melalui Ekonomi, Media dll.

QURAN SURAT 2 : 147 : ‘Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat”

QURAN SURAT 2 : 122 : ‘Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat”.

QURAN SURAT 2 : 40 : “Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)”.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa garis kenabian beralih dari garis keturunan Ishak ke garis keturunan Ismail. Ada beberapa sebab yang mendasarinya, diantaranya bahwa Bangsa Israel memiliki beberapa sifat yang kurang disenangi Allah, diantaranya yaitu :

SUKA MENGINGKARI DAN MEMBUNUH SEBAGIAN NABI

Tetapi ternyata bangsa Israel adalah bangsa yang paling keras kepala didunia. Berbagai Nabi diutus Allah kepada bangsa yang satu ini dengan harapan, jika Bangsa Israel yang dilebihkan ini semuanya bisa ber-tauhid kepada Allah, maka dari Bangsa Israel-lah Agama Allah akan menyebar ke seluruh dunia. Tetapi ternyata hal itu tidak menjadi seperti yang diharapkan Allah. Salah Satu keingkaran mereka yaitu sifat suka mencelakai bahkan membunuh sebagian nabi seperti “Yesus” yang dikabarkan telah mereka bunuh.

QURAN SURAT 5 : 70 : “Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh”.

QURAN SURAT 2 : 61 : “……….. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”.

QURAN SURAT 2 : 85 : “Kemudian kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”.

Para Nabi yang diutus oleh Allah pun bahkan melaknati sifat Bangsa Israel ini, Mereka (semua Nabi) merasa bahwa umat yang mereka pimpin adalah umat yang susah diatur.

QURAN SURAT 5 : 78 : “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam (Yesus). Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

QURAN SURAT 3 : 52 : “Maka tatkala Isa (Yesus) mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”.

SELALU INGKAR PADA ALLAH DAN BERPIKIRAN MATERIALISTIK

Bangsa Israel adalah bangsa yang cenderung berfikir secara materialistik daripada ruhiyah. Mereka selalu ingin bukti bahwa Tuhan itu ada, dan baru percaya jika Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka meyakini yang terlihat dan Tuhan bagi mereka harus dapat dilihat biar mereka yakin. Makanya mereka menjadi Musyrik dengan mengangkat anak lembu sebagai sembahan. Saat Yesus ada pun mereka meminta bukti dari Yesus, dalam Yohanes 10 : 24 “ Lalu orang-orang Yahudi mengelilingi Dia (Yesus) serta bertanya kepadanya “Jikalau engkau ini Kristus, Katakanlah kepada kami dengan terus terang”. Lalu Yesus menjawab dalam Yohanes 10 : 25 “ Maka jawab Yesus kepada mereka, “Aku sudah katakan itu kepadamu, tiada kamu percaya; segala perbuatan yang aku lakukan atas nama Bapaku, Ia itulah yang menyaksikan dari halku”.Umat Yahudipun meminta bukti yang sama dari Musa. Dalam QURAN SURAT 2 : 55 Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.

Keingkaran Bangsa yahudi dapat dilihat pada QURAN SURAT 2 : 83 “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Dalam QURAN SURAT 2 : 51 juga disebutkan : “Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang lalim”.

SUKA MERUBAH-UBAH KITAB ALLAH

Mungkin anda akan bertanya mengapa harus banyak kitab dari agama samawi dari Zabur, Taurat, Injil dan Al-Quran. Hal itu terjadi karena mereka (kaum Yahudi) suka merubah-ubah kitab Allah. Seandainya tidak pernah dirubah-ubah, tentu Kitab Allah hanya satu saja. Alhamdulillah Al-Quran sebagai Kitab penyempurna dan terakhir selalu gagal dirubah oleh orang-orang yang ingin merubahnya.

Dalam QURAN SURAT 2 : 79 Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.

Dalam QURAN SURAT 3 :78 disebutkan : “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui”.

BY MAGE

Posted in diskusi bebas, islam, kristen | 22 Comments »

mencari,memilih dan menguji ayat dan tuhan

Posted by kosongan pada | 15 |Januari| 2009 |

TIPS MENCARI TUHAN YANG BENAR-2 TUHAN
&
MEMILIH AGAMA YANG DIRIDHOINYA (DIBENARKAN OLEHNYA)

sumber :
http://suakahati.wordpress.com/2007/07/06/trinitas-sebuah-asal-usul/#comment-3879
1. Sadari mengapa kita perlu mencari Tuhan ? agar kita bisa memahami untuk apa kita ada (hidup) di Dunia ini yang ujung-2-nya sakit, tua, atau akhirnya mati juga, harta kita ditinggal untuk yang masih hidup, kok enak yah !.
2. Bagaimana cara yang benar mencarinya ? (buku-2, diskusi, logical, bukti-3 sejarah).
3. Ada “filosofi” atau hukum alam yang kita harus terima, dan bisa digunakan untuk mencarinya, antara lain;
a. Sesuatu mesti ada yang menciptakannya ? (yakini dulu !), seperti mobil, rumah, baju, dll..
b. Pencipta mestinya harus ada dulu dari pada yang diciptakan ? (Tuhan lebih dulu ada sebelum adanya Manusia, bumi, jagad raya), tidak setelah ada manusia (+ nabi-2) tiba-2 turun ke bumi dan menampakan atau menjelma menjadi Manusia ?
c. Pencipta mestinya tidak sama dengan yang diciptakannya (Manusia membuat mobil, tentunya mobil tidak sama dengan Manusia, baik bentuk dan kelakuannya), terima dulu logical ini !.
d. Jadi Tuhan tidak akan menyerupai yang diciptakannya (sama dengan manusia) ?
e. Manusia dan semua ciptaannya akan tunduk atau mengikuti HUKUM ALAM, yaitu menempati (ber dimensi) ruang, akan rusak karena waktu (umur) atau mati, dapat dilihat, diraba, atau dirasakan, dan difoto kemudian di up load di WWW).
f. Jadi Tuhan tidak akan mungkin berwujud sama dengan ciptaannya (Manusia). Atau mempunyai sifat-2 yang akan tunduk terhadap HUKUM ALAM tadi.
g. Tuhan tidak bisa dikategorikan jenis kelaminnya (Gender laki-2 atau perempuan ?), Tuhan Bapak, atau Bapa di Surga ?, Walaupun sebatas sebutan saja, atau dibayangkan seperti Bapak baiknya (kelakuannya).
h. Tuhan karena tidak berdimensi waktu atau ruang, maka Tuhan tidak tinggal di syurga ? atau dimana tempatnya ?, terus siapa yang akan menunggu (tinggal) Neraka mengawasi orang-2 yang disiksa ? dan di Bumi ? (walo hanya sebutan saja Bapaku di kerajaan Syurga).
i. Tuhan juga tidak menyerupai Manusia yang mempunyai tangan atau kaki, jadi tidak akan “CAMPUR TANGAN” sebagaima Manusia ? dalam kehidupan kita.
j. Tuhan itu maha kuasa sekali, sehingga tidak perlu membutuhkan bantuan seperti menjadi “PELAYAN TUHAN”.
k. Tuhan itu tidak akan seperti perasaan dan pikiran kita, sehingga Roh Kudus (Tuhan) tidak akan memimpin kemana arah pikiran, hati, dan tindakan kita, yang ada adalah bagaimana pikiran, hati, dan tindakan kita semata-mata hanya untuk Tuhan (sesuai petunjuknya).
l. Secara nalar (logical) setiap siapa yang berbuat seharusnya Dia yang bertanggungjawab, mau Dosa atau Pahala, dan tidak mungkin dialihkan kepada Tuhan yg se-akan-2 si PENEBUS DOSA, atau dihapus dengan dengan pengakuan Dosa melalui Pastor, atau diwariskan kepada anak cucu, jadi Pernyataan “PENEBUS DOSA” apa itu bukan sbg proganda (iklan terselubung) agar menarik Orang mengikuti ajaran.
m. Jangan mengandalkan kemampuan logical (otak), panca indra (mata dll), maupun perasaan kita dalam mencari Tuhan, karena Organ kita mempunyai keterbatasan, sepertinya halnya MATA, mata memandang langit itu berwarna biru padahal langit itu tidak berwarna dan merupakan ruangan yang bolong tidak berbatas dengan benda atau layar, atau seperti hal perasaan bahwa kita, bahwa kita ini tinggal pada permukaan bumi yang datar dan tidak mungkin kita berada di atas kulit bumi yang bundar, padahal kalau kita terbang antar benua baru melihat bahwa kulit bumi itu melengkung, sepertinya sepandai-pandai manusia, manusia tidak pernah mampu melihat bentuk (wujud) ROHnya sendiri seperti apa dan dimana keberadaannya di tubuh kita ?,
n. Jadi jangan sampai kita memaksakan TUHAN, bahwa Tuhan itu harus nampak wujudnya seperti halnya Manusia atau menyamakan bahwa Tuhan itu juga seperti Manusia, walupun sebagai Anak Tuhan atau Tuhan anak, ada ibunya, Tuhan itu seolah-olah seperti BAPA di kerajaan syurga, walaupun itu mungkin sekedar imajinasi saja untuk memudahkan kita membayangkan atau mempercayainya.
4. Terus bagaimana Tuhan yang sesungguhnya itu ?
5. Tentunya Tuhan itu tidak akan menampakan dirinya dan memperlihat pisiknya kepada Manusia (bikin penasaran saja Tuhan ini), logical kita Dunia bisa heboh ? kalo Tuhan sampai menampakan DIRInya.
6. Seperti Hanyal Roh, setiap Orang pasti (100 prosen) percaya bahwa setiap Orang yang hidup pasti ada Roh di dalam tubuhnya, dan kita tidak pernah tahu bagaimana wujud dan letaknya, walaupun seorang dokter ahlipun.
7. Tetapi Tuhan telah memberikan Tanda-2 keberadaannya kalo kita mau peduli terhadap Tanda-2 kebesarannya (ke Maha’an nya) dan asal kita mau mencari melalui cara yang dibenar atau diridhoinya..
8. Bagaimana cara mencari Tuhan yang benar ?
9. Silahkan baca Al Qur`an dan dalami Maknanya, disitu jelas-2 sekali bahwa Tuhan ALLAH itu adalah Tuhan Kita semuanya (Bule, Cina, Negro, Arab, Melanesia, Mongol) dan Al Qur`an diturunkan untuk semua Manusia di Dunia (bukan hanya untuk orang Moeslem atau Islam saja atau orang Arab saja).
10. Bandingkan dengan kitab-2 Agama lainnya, betul-2 isinya ber beda sekali dan proses turunnya ayat juga juga jauh betrbeda, mohon jangan antipati (or negative thinking before) dulu, sebelum membaca dan mendalami maknanya (anggap sbg ilmu pengetahuan aja dulu).
11. Inilah pengalaman spiritual saya, mudah-2-an Saudara-2-ku memperoleh manfaat dan hikmahnya, amien yah ROBBAL ALLAHMIEN.

Semoga Allah merachmati kita semua, amien.
Wassalam

Ridhawati
Flexi; 022 7204941
E-mail; ridha@telkom.co.id

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2007/11/23/anda-mengaku-tuhan-anda-harus-lulus-tes-ini

ANDA MENGAKU TUHAN (?), ANDA HARUS LULUS TES INI (!)

Didunia ini banyak yang mengaku Tuhan atau diakui oleh pemeluknya sebagai Tuhan. Antara lain :

  1. Yesus
  2. Budha
  3. Syech Siti Jenar
  4. Al-Halaj
  5. Begawan Rajnees

Semuanya adalah berbentuk manusia, tetapi diakui atau mengaku sebagai Tuhan. Apakah mereka itu Tuhan yang sebenarnya. Untuk mengetahuinya Islam mempunyai suatu alat test untuk membuktikannya.

Dalam Al-Quran (QS 112: 1-4) dikatakan : “Katakanlah : “Dia-lah Allah; Yang Maha Esa (1), Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu (2). Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (3), dan tidak ada seorangpun/sesuatupun yang setara dengan Dia” (4).

MARI KITA UJI

QS 112 : 1: Dia-lah Allah; Yang Maha Esa

Apakah Yesus satu-satunya yang dianggap Tuhan?. Ternyata ada yang lain yaitu Budha, Syech Siti Jenar, Al-Halaj dan Rajnees. Tapi seupama anda keberatan dan anda merasa manusia yang anda anggap Tuhan adalah satu-satunya, mari kita ke test yang ke-2

QS 112 : 2 : Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu.

Apakah semua manusia saat Yesus hidup bergantung sama Yesus???. Yesus saat itu ada di Yerusalem di Israel. Apakah saat itu orang Jepang bergantung pada Yesus???. Demikin juga berlaku buat Budha, Syech Siti Jenar dll. Okelah mungkin kita akan meloloskan mereka pada test ke-2 ini. Mari ke test yang ke-3

QS 112 : 3 : Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan

Bukankah semua yang disebutkan diatas (Yesus, Budha, Syech Siti Jenar, Rajnees, Al-Halaj dll) mempunyai awal dan akhir. Dilahirkan dari seorang wanita dan mengalami kematian nantinya. Begawan Rajnees saat ke Amerika tahun 1981 pernah melakukan serangkaian workshop keagamaan. Di Oregon dia membangun Rajness Furm. Kemudian dia ditangkap di Amerika dan menaruhnya di Furmbash, disana dia mengaku sebagai Tuhan. Di dalam penjara dia meminta rokok (Tuhan merokok). Tahun 1985 dia kembali ke India. Di kota Puna dia membuat markas yang dikenal sebagai masyarakat Osho. Disana tertera tulisan di nisannya “Rajnees tidak pernah lahir dan mati, pernah singgah di planet Bumi pada tanggal 11 Des 1931-19 Jan 1990”. Mereka lupa menulis dalam batu nisannya bahwa Rajnees pernah ditolak masuk ke 21 negara karena tidak punya Visa (bayangkan ada Tuhan mengemis Visa). Dan kepala Uskup Agung Grees mengatakan “kalau pemerintah tidak mengusirnya, saya akan membakar rumahnya dan semua pengikutnya”. Rajness yang mengaku Tuhan ternyata amat menderita dengan penyakit asma, menderita penyakit gula dan nyeri punggung kronis. Bayangkan ada Tuhan yang mempunyai penyakit Kompleks. Tapi okelah mereka lolos pada ujian yang ke-3. Mari kita ke Ujian yang ke-4

QS 112 : 4 : Dan tidak ada seorangpun/sesuatupun yang setara dengan Dia

Kalau ada Tuhan yang kekuatannya diperbandingkan dengan sesuatu berarti dia bukan Tuhan. Kalau ada yang mengatakan Tuhan kekuatannya 100 ribu kali Arnold Swarzeneger atau 1 juta kali kekuatan Arnold Swarzeneger berarti dia bukan Tuhan. Tuhan tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu. Yesus, Rajnees, Budha, Syekh Siti Jenar, Al-Halaj bukankah semuanya berbentuk manusia, yang makan, minum, tidur, dan disusui saat masih bayi. Waktu masih kecil semuanya bermain-main layaknya anak-anak kecil dll. Semuanya setara sebagai manusia (bermata, bertangan dan kaki) yang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Kesimpulan : Dari semua nama yang tercantum diatas dan yang belum tersebutkan, tidak satupun yang lulus dari test surat Al-Ikhlas 112 : 1-4. Jadi kalau anda mengaku sebagai Tuhan, anda harus lulus dari Tes ini. Jika tidak, maka anda adalah Tuhan gadungan. Mungkin anda bertanya jika Tuhan itu hanya Allah, mengapa di dunia ini banyak manusia yang tidak ber-Tuhan kepada Allah, tetapi mereka tetap hidup, kaya, banyak anak, dll. Sedangkan yang ber-Tuhan pada Allah banyak yang miskin. Jawabannya dapat anda lihat pada Hewan. Bukankah mereka tidak ber-Tuhan sama sekali bahkan tidak berakal, tetapi toh mereka bisa hidup, berkembang biak dan bahagia dalam kapasitas hewan. Maksudnya bahwa Allah di dunia ini tidak pilih-pilih siapa yang akan diberi rezeki, siapa yang berusaha dialah yang mendapatkan rezekinya entah itu caranya baik atau buruk, toh nanti ada perhitungannya di akhirat.. Apakah dia beriman atau Kafir. Tapi Allah memberi tahu bahwa Surga hanya untuk orang-orang yang beriman dan Neraka untuk orang-orang yang Kafir terhadap Allah. Jadi Allah adil di dunia dan adil di akhirat!.

BY MAGE (dari berbagai sumber)

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2008/08/06/pengujian-terhadap-ayat-ayat-tuhan-islam-kristen/

PENGUJIAN TERHADAP AYAT-AYAT TUHAN (ISLAM-KRISTEN)

Sekiranya manusia sudah tahu segala isi dari seluruh alam semesta, lalu untuk apa manusia berfikir???. Bagaimanapun manusia tidak akan tahu semua itu bahkan tahu tentang Tuhan selain dari apa yang diwahyukan Tuhan. Sekiranya manusia sudah tahu segalanya lalu haruskah manusia perlu berfikir???. Tentu hidup jadi tidak menarik lagi jika manusia berhenti berfikir!.

Jadi memang kita tidak akan tahu Tuhan itu seperti apa kecuali sebatas yang Tuhan wahyukan kepada kita melalui para nabi-NYA. Tuhan mengenalkan diri-NYA melalui ayat-ayat-NYA. Manusia tidak akan bisa mengetahui/melihat Tuhan kecuali Tuhan sendiri yang mengijinkannya.

Jadi jika kita ingin mengetahui Tuhan, kita harus mempelajari dari wahyu-wahyu Tuhan yang diberikan kepada para nabi. Tetapi sejauh mana kita yakin bahwa itu adalah wahyu Tuhan. Jawabannya tentu saja sebesar tingkat kebenaran. Kebenaranlah yang jadi acuannya.

Paulus telah menulis ayat dalam Perjanjian Baru sebagai berikut : “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (Injil – 2 Timotius 3: 16-17).

Inilah tulisan Paulus. Tentu tulisan itu sangat berarti, karena tulisan itu digunakan untuk menguji apakah Injil Sekarang (Bible) adalah wahyu Tuhan yang masih otentik. Intinya yaitu bahwa ayat 2 Timotius 3 :16-17 digunakan untuk menguji kegunaan Injil sekarang (Bible) dalam hal-hal sebagai berikut :

  1. Apakah untuk Doktrin: Pengajaran
  2. Apakah untuk Teguran: Untuk menghukum, memarahi, untuk menunjukkan kepada umat apa yang salah dalam hidup mereka.
  3. Apakah untuk Koreksi: Berguna untuk memperbaiki kesalahan.
  4. Apakah untuk Instruksi kepada kebenaran: untuk melatih dan mengajarkan kita bagaimana hidup secara benar.

Kita tidak usah menutup-nutupi apa yang ada dan tertulis dalam ayat-ayat Injil sekarang (Bible). Didalamnya ada ayat-ayat yang dinilai masih murni tetapi ada juga yang “terkesan Porno” dan tidak masuk diakal. Dan mari kita nilai kira-kira contoh ayat-ayat dibawah ini digunakan untuk tujuan apa?. Apakah untuk pengajaran (1), Teguran (2), Koreksi (3), atau Instruksi kepada kebenaran (4).

Dalam Link inilah sebagian Ayat-ayat Injil sekarang (Bible) yang perlu dikaji dengan 2 Timotius 3 :16-17 :

Injil-atau-Al-Quran-sesuai-ilmu-pengetahuan

Apakah ayat-ayat Injil ini firman Allah?

Lalu bagaimana dengan Al-Quran ?, untuk menguji ayat-ayat Al-Quran kita terlebih dahulu harus melakukan “Falsification test”, yaitu dasar menemukan kesalahan sampai mendapatkan kebenaran. Dalam artikel ini akan kita contohkan beberapa ayat, tidak akan dibeberkan semuanya karena terlalu banyak, anda bisa mencarinya sendiri.

Falsification Test 1

Kita sebagai Muslim tentu mengenal seseorang yang bernama Abu Lahab. Dia adalah orang yang selalu menghujat dan mencerca Nabi Muhammad sepanjang hidupnya. 10 tahun sebelum Abu Lahab mati, turunlah ayat yang bernama Al-Lahab (111), isi suratnya sbb :

[111.1] Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

[111.2] Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

[111.3] Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

[111.4] Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.

[111.5] Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Menurut anda bagaimanakah anda tahu tentang keistimewaan ayat ini. Keistimewaannya adalah sebagai berikut: Abu Lahab adalah sebagian orang-orang Kafir yang ingin menghancurkan Islam. 10 tahun sebelum Abu Lahab mati, turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa Abu Lahab tidak akan pernah masuk Islam. Tentu jika Abu Lahab ingin menghancurkan islam, saat itu juga dia bisa melakukannya. Bisa saja Abu Lahab masuk Islam di tahun1,2,3….dst, sehingga Abu Lahab bisa menunjukkan kepada orang-orang bahwa apa yang diucapkan oleh Muhammad adalah dusta. Tetapi apa yang terjadi?. Abu Lahab tetap kafir sampai dia mati. Tentu itu semua sudah kehendak dari yang menurunkan ayat diatas yaitu Allah.

Falsification Test 2

1400 Tahun yang lalu Nabi Muhammad telah membacakan ayat-ayat yang menurut masyarakat saat itu tidak masuk akal, bahkan sebagian ayat-ayat Al-Quran sampai sekarang masih ada yang belum diketahui tafsirnya. Saat itu ketika ayat-ayat Al-Quran dibacakan, belum ada pesawat ruang angkasa, belum ada teknologi atom dll. Tetapi bagaimana mungkin seseorang yang buta huruf bisa memberikan informasi yang kini diketahui kebenarannya?. Tentu hal itu karena yang menciptakan jagad raya yang menurunkan ayatnya yaitu Allah. Ayat-ayat tersebut antara lain sbb :

SURAT AL-ANBIYA[21.30] Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

SURAT YUNUS [10.61] Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).

Falsification Test 3

Injil berbahasa Arab belum ada pada abad ke 6, yaitu sat Muhammad lahir, dan juga Nabi Muhammad adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis. Dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang menyinggung tentang Maryam (ibu Yesus-Isa), kelahiran Yesus (Isa) sampai akhir hayat Yesus (Isa). Tentu hal itu bisa menjadi renungan bagaimana mungkin Muhammad tahu yang terjadi pada Yesus (Isa) jika bukan karena Allah yang menginformasikan pada beliau.

SURAT ALI IMRAN [3.44] Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.

Banyak pendapat tentang Al-Quran dan semuanya akan membuat anda bingung jika anda membaca tanpa berfikir. Ingat Kebenaran adalah kunci jawabnya. Anda bisa saja menemukan Al-Quran dengan isi yang berbeda dengan Al-Quran lainnya. Disini anda harus mengambil kesimpulan mana yang terbenar. Karena Al-Quran adalah bahasa yang mudah dikoreksi. Sebagian dari kalangan ada yang menterjemahkan Al-Quran dengan pengartian yang salah. Pelu kita ketahui bahwa Ayat-ayat Al-Quran terutama yang berhubungan dengan ilmu bengetahuan selalu Up to Date. Bisa saja terjemahan tentang ilmu pengetahuan sekarang ada yang lebih bagus/benar daripada terjemahan dahulu. Jadi kebenaran akan selalu mengikuti. Al-Quran Tulisan Arab ibarat kode rahasia yang harus dipecahkan artinya. Dan tentu perlu pengetahuan bahasa Arab yang bagus untuk mengoreknya. Itulah mengapa Terjemahan Al-Quran tidaklah mati dan akan selalu hidup sesuai dengan akal dan hati nurani manusia. Misalkan saja terjemahan AlQuran dibawah ini :

Al-Qur’an -Surat Ar-Ruum (30) ayat 21,

  1. “Dengan tanda yang lain Dia memberikan untukmu istri-istri dari antaramu sendiri, supaya kamu dapat hidup dalam kesenangan dengan mereka, dan Dia menanamkan rasa cinta dan kebaikan ke dalam hatihati kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfkir” (Terjemahan oleh N.J. Dawood, ditambah penekanan)
  2. “Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan istri-istri untukmu dari antaramu sendiri, Supaya kamu berhubungan seks dengan mereka, dan meletakkan rasa cinta dan kasih di antaramu.” (Terjemahan Sale ditambah penekanan)
  1. “Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari antaramu sendiri, supaya kamu tinggal dalam ketenangan dengan mereka. Dan, Dia meletakkan rasa cinta dan sayang di antaramu (hati). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Terjemah-an oleh A. Yusuf Ali, ditambah penekanan)
  2. “Dan satu dari tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan istri-istri untukmu atau jenismu sendiri, supaya kamu dapat tinggal dengan mereka, dan Dia memberikan rasa cinta dan kelembutan diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Terjemahan oleh Pendeta J.M. Rodwell, M.A., ditambah penekanan)

Terjemahan diatas hampir mirip tetapi mempunyai makna yang berbeda-beda. Mana yang perlu kita pakai tentu yang sesuai dengan fitrah dan norma manusia. Jika kita menemukan terjemahan Al-Quran yang salah kita tidak bisa menyamaratakan bahwa semua terjemahan Al-Quran adalah seperti itu, tidak. Tiap-tiap buku Al-Quran yang kita beli bisa saja berbeda dalam terjemahannya. Tetapi biasanya sama dalam maknanya. Sekiranya kita menemukan makna yang berbeda dan tidak bisa diterima dari segi norma, bisa saja ada orang yang ingin menghancurkan Al-Quran itu sendiri.

Memang seorang muslim yang baik harus tahu bahasa Arabnya, tetapi tentu tidak semua umat Muslim punya keahlian seperti itu. Kalau begitu tentu kita berpedoman pada terjemahan, dan tentu kita harus memilih terjemahan yang betul menurut logika dan norma. Kita kadang tidak menyadari bahwa ada juga orang yang bisa berbahasa Arab dan dia lagi mengajari kita, tetapi jika apa yang diajarkannya (meski pandai bahasa Arab) ternyata tidak sesuai dengan kaidah tauhid, akal dan norma tetap saja kita tidak bisa mengikutinya. Banyak umat muslim yang tergelincir pada stigma bahwa orang yang bisa bahasa Arab berarti mengerti Islam. Sehingga apa yang dikatakan orang itu diikuti begitu saja tanpa ada pengkajian lebih lanjut.

Pengujian ayat-ayat Tuhan tidak hanya dari penjelasan dari segi isi dan makna seperti diatas, tetapi juga bisa dari Gaya Bahasanya. Dalam Injil King James Version (KJV) banyak ayat-ayat yang dimulai dengan kata-kata “Pada suatu ketika, pada mulanya, dll” tentu gaya bahasa ini bukanlah bahasa dari Tuhan tetapi mungkin manusia. Memang tidak semua versi Injil memuat kata-kata sperti itu.Misalnya

dalam Injil yang diterbitkan oleh Jehovah’s Witnesses (Saksi-saksi Yehovah) —Sekte Kristen yang paling cepat tumbuhnya dalam umat Kristen dan “Young’s Analytical Con-cordance to the Bible.” Kedua indeks ini masing-masingnya lebih dari 300.000 judul. Terakhir tidak kurang dari 277 daftar baru, tetapi tidak terdapat sebuah kata “Saat ini” (pada suatu ketika) dari contoh-contoh yang diberikan di atas

Bagaimana dengan gaya bahasa Al-Quran :

Contoh dalam QS Al-Alag 1-5 :

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,

3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.

5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Tentu yang menjadi perhatian adalah dari sekian banyak ayat Al-Quran, sejarah turunnya Al-Quran pada saat diterima nabi tidak tertuang dalam Al-Quran itu sendiri. Kita tidak akan menemukan dalam teks atau terjemahan bahwa Nabi Muhammad pada saat berusia 40 tahun ketika menerima seruan pertamanya (ayat diatas).” kita tidak akan menemukan bahwa “ia di dalam gua gunung Hira.” Kita tidak akan menemukan bahwa “ia melihat malaikat Jibril” atau bahwa “ia ketakutan,” atau bagaimana reaksi dan tanggapannya terhadap perintah “Iqra (bacalah)’!” Bahwa ketika malaikat tersebut pergi setelah melengkapi 5 ayat pertama tersebut, “Muhammad berlari ke rumahnya sekitar 3 mil sebelah selatan Makkah menemui istri tercinta Khadijah dan mengatakan apa yang telah terjadi dan meminta sang istri menyelimutinya, menyelimutinya!” Semua ini apa yang saya namakan gaya bahasa “pada suatu ketika!” Kitab suci Al-Qur’an tidak menggambarkan apapun tentang ini, benar-benar sebuah narasi dan pemeliharaan yang unik. Singkatnya ini mu’jizat!

Semua ayat dalam Al-Quran ada asbabun nuzulnya (sebab-sebab turunnya) tetapi semua keterangan itu tidaklah termuat dalam Al-Quran itu sendiri. Kita hanya bisa membacanya dalam suatu riwayat yang shahih. .

Jadi itulah beda Al-Quran dengan Injil sekarang (Bible). Dalam Bible hampir semua sejarah (asbabun nuzul) dari ayat-ayat ditampilkan tetapi sayangnya banyak yang tidak sinkron dengan inti dari ajaran ke-Tuhan-an. Sedangkan dalam Al-Quran gaya bahasanya sedemikian ringkas tapi padat dan jauh dari gaya bahasa yang biasa diucapkan manusia.

Bagaimanapun juga Al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang dari segi Tauhid paling sempurna. Penghargaan Spontan terhadap Al-Quran dari berbagai Kalangan :

  1. “Sebuah mu’jizat dari kemurnian gaya bahasa, kebijaksanaan dan kebenaran.” (Pendeta R. Bosworth-Smith, Mohammed and Mohammedanism)
  2. “Setiap saya mendengar Al-Qur’an dibacakan, sepertinya saya sedang mendengarkan musik. Dalam alunan melodi, selama itu terdapat suara yang terus-menerus memukul sebuah drum, seperti memukul-mukul hati saya.” (A.J Arberry)
  1. “Simfoni yang tak ada bandingnya, suara yang benar-benar dapat menggerakkan manusia menangis dan luar biasa gembira.” (Marmaduke Picktall)
  2. “Setelah Injil, Al-Qur’an adalah kitab agama yang paling mulia dan paling mempunyai kekuatan di dunia” (J. Christy Wilson dalam Introducing lslam, New York 1950.).
  3. “Al-Qur’an adalah Injil kepunyaan Mohammedan, dan lebih dihormati daripada kitab suci lainnya, lebih dari Perjanjian Lama orang Yahudi atau Perjanjian Baru orang Kristen.” (J. Shillidy, D.D. dalam The Lord: Jesus in the Ko-ran, Surat 1913, p.111).

Sumber : Ahmed Deedat, Gary Miller

BY MAGE

pertanyaan yang timbul adalah mengapa mencari tuhan harus dengan salah satu agama ??? lalu mengapa yang menjadi pembenarnya adalah salah satu kitab saja dan dokrin didalamnya ????

Posted in agama & kepercayaan, diskusi bebas, islam, kristen | Leave a Comment »